JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

Upaya Domestikasi Rusa Sambar Melalui Sistem Penangkaran April 11, 2009

Filed under: Sumberdaya — Urip Santoso @ 9:50 pm
Tags: , ,

Ahmad Zueni

Mahasiswa Program Studi PPs PSL FP Universitas Bengkulu

 

Abstrak

Rusa merupakan salah satu satwa liar yang banyak memberikan manfaat bagi manusia, dimana canggah/velvetnya dapat dimanfaatkan sebagai obat, kulit rusa digunakan dalam pembuatan souvenir dan sebagai hiasan dinding sedangkan tanduk rusa dapat digunakan sebagai obat. Pemanfaatan rusa yang berlebihan dan tidak terkendali dapat mengakibatkan penurunan populasi satwa tersebut di alam. Salah satu upaya konsevasi yang dapat dilakukan adalah dengan penangkaran (konservasi ex-situ). Rusa mempunyai adaptasi yang tinggi dengan lingkungannya sehingga mudah untuk ditangkarkan. Penangkaran dapat dilakukan dengan sistem kandang panggung dan sistem kandang ranch. Sistem kandang ranch lebih membuat rusa seperti berada di habitat aslinya. Untuk dapat membuat desain kandang penangkaran rusa sambar dengan baik haruslah diketahui terlebih dahulu aktivitas harian rusa sambar.

 

Kata kunci :   Rusa sambar, domestikasi, konservasi, penangkaran, Propinsi Bengkulu.

 

I.              Pendahuluan

1.1.       Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara didunia yang memiliki kekayaan alam yang tak ternilai harganya dan beraneka ragam. Kekayaan berupa sumber daya alam hayati meliputi ± 400.000 jenis fauna yang terdapat di daratan (Iskandar, 1990 disitasi Fransiska 2000).

Bengkulu sebagai salah satu propinsi di Indonesia, terkenal dengan kekayaan faunanya. Untuk jenis mamalia yang bersifat endemik terdapat lebih dari 100 jenis yang telah diketahui. Selain yang bersifat endemik terdapat pula beberap jenis mamalia yang merupakan hewan introduksi. Sebagian besar hewan introduksi ini umumnya dikembangkan menjadi hewan ternak/piara, seperti sapi (Boss spp), babi (Sus spp), kambing (Capra spp). Akan tetapi ada beberapa ada beberapa spesies introduksi yang berkembang menjadi satwa liar, salah satunya adalah rusa (Petocz, 1987).

Rusa merupakan salah satu satwa liar yang banyak memberikan manfaat bagi manusia, dimana canggah/velvetnya dapat dimanfaatkan sebagai obat, kulit rusa digunakan dalam pembuatan souvenir dan sebagai hiasan dinding sedangkan tanduk rusa dapat digunakan sebagai obat. Pemanfaatan rusa yang berlebihan dan tidak terkendali dapat mcngakibatkan penurunan populasi satwa tersebut di alam.

Rusa (Cervus spp) merupakan hewan yang dilindungi menurut undang-undang Ordonansi dan Peraturan Perlindungan Binatang Liar tahun 1931 No. 134 dan 266. Selanjutnya SK Mentcri Pertanian No 362/KPTS/TN/12/V/1990 pada tanggal 20 Mei 1990, memasukkan rusa ke dalam kelompok aneka ternak yang dapat dibudidayakan seperti ternak lainnya, termasuk di dalamnya mengatur tentang peraturan ijin usaha (Jacoeb dan Wiryosuhanto, 1994 disitasi Fransiska 2000). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, pada tanggal 27 Januari 1999 memasukkan semua jenis dan genus  Cervus kedalam Lampiran Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Selain itu Rusa termasuk hewan dalam kategori terancam punah dalam daftar Appendix I CITES, sehingga keberadaanya harus dijaga dan tidak dibenarkan melakukan perburuan apalagi memperjual belikan dagingnya (Anonima, 2008).

Rusa Sambar (Cervus unicolor ) adalah salah satu dari empat jenis rusa di Indonesia yang sudah dilindungi oleh undang-undang namun jumlah populasinya terus terus berkurang akibat perburuan liar dan semakin tingginya degradasi habitat aslinya (Ma’ruf, 2006). Untuk menjaga kelestarian populasi rusa di Propinsi Bengkulu maka diperlukan pengelolaan yang baik agar usaha-usaha pemanfaatan hasil tersebut dapat tetap berlangsung. Untuk menghindari kepunahan dan sekaligus memanfaatkan rusa secara optimal dan berkelanjutan dapat dilakukan melalui penangkaran (konservasi ex-situ). Penangkaran rusa mempunyai prospek karena rusa mudah beradaptasi dengan lingkungan di luar habitat alaminya, mempunyai tingkat produksi dan reproduksi yang tinggi. Dalam pembangunan penangkaran ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu komponen habitat yang terdiri dari pakan, air, naungan (cover), dan ruang (Garsetiasih, R dan Mariana 2007).

1.2.       Tujuan Penulisan

1.      Memberikan informasi tentang upaya konservasi dan domestikasi rusa sambar melalui sistem penangkaran

2.      Memberikan informasi tentang model penangkaran rusa sambar

1.3.       Manfaat Luaran Penulisan

Memberikan informasi pada masyarakat tentang upaya konservasi dan domestikasi rusa sambar yang merupakan salah satu satwa endemik di Propinsi Bengkulu melalui sistem penangkaran.

 

II.                Metodelogi Penulisan

Metode penulisan dilakukan dengan melakukan telaah pustaka. Pengumpulan pustaka/literatur dilakukan dengan melakukan searching, browsing buku, jurnal dan artikel di perpustakaan dan internet. Kemudian pustaka/literatur yang didapat dianalisis dan telaah untuk mendapatkan ragam informasi yang dibutuhkan yang selanjutnya mensintesisnya untuk mendapatkan sebuah informasi yang baru. Dalam menganalisa – sintesis pustaka/literatur yang ada digunakan metode induksi.

 

III.        Isi dan Pembahasan

3.1.       Rusa Sambar

Rusa sambar (Cervus unicolor Kerr) mempunyai warna bulu yang gelap ataupun hitam kemerahan. Bahagian bawahnya adalah lebih pucat. Rusa jantan mempunyai bulu leher yang pendek. Tinggi spesies ini adalah 1.35 m – 1.50 m dan mempunyai berat badan sehingga 300 kg. Umur spesies ini mencapai 16-20 tahun (Anonim, 2008). Umur hidup rusa sambar yang relatif lama ini memiliki potensi untuk didomestikasi. Selain upaya pelestarian, dapat juga dijadikan salah satu usaha masyrakat yang memiliki output sebagai jasa wisata, pemenuhan konsumsi protein hewani dan obat-obatan.

3.2.         Habitat

Habitat alami rusa terdiri atas beberapa tipe vegetasi seperti savana yang dimanfaatkan sebagai sumber pakan dan vegetasi hutan yang tidak terlalu rapat untuk tempat bernaung (istirahat), kawin, dan menghindarkan diri dari predator. Hutan sampai ketinggian 2.600 m diatas permukaan laut dengan padang rumput merupakan habitat yang paling disukai oleh rusa terutama jenis Cervus timorensis, kecuali Cervus unicolor yang sebagian besar aktivitas hariannya dilakukan pada daerah payau (Garsetiasih, dan Mariana 2007).

Habitat penangkaran berbeda dengan habitat alami. Berdasarkan ciri habitatnya, pada habitat penangkaran terdapat peningkatan nutrisi, bertambahnya persaingan intraspesifik untuk memperoleh makanan, berkurangnya pemangsaan oleh predator alami, berkurangnya penyakit dan parasit serta meningkatnya kontak dengan manusia (Grier dan Burk, 1992). Selain itu penangkaran juga dapat meningkatkan produktifitas dan reproduksi rusa sambar karena dengan penangkaran akan pengukuran-pengukuran terhadap nilai satuan produksi dan reproduksi satwa yang didomestikasi.

Penelitian yang berkaitan dengan kehidupan Cervide khususnya Cervus elaphus telah berkembang di negara-negara maju (Sheely dan Vavra, 1996; Clarke et al., 1995; Homolka M., 1993; Langvatn dan Hanley, 1993 dan Bergstorm dan Donell, 1995). Sedangkan penelitian tentang rusa dalam penangkaran khususnya untuk jenis Cervus timorensis Lyd dan Cervus unicolor sebagai spesies tropis khususnya yang ada di Indonesia masih sangat terbatas. Untuk jenis Cervus timorensis Lyd telah dilakukan penelitian mengenai pola aktivitas harian selama 24 jam dan pola aktivitas makan oleh Lelono (1996 dan 2001). Sedangkan pada Cervus unicolor kajiannya berkisar pada pola aktivitas makan, merumput dan pemilihan makan (Semiadi et al., 1993, 1994; House et al.,1995 dan Barry et al., 1995).

Pakan merupakan komponen habitat yang paling penting, ketersediaan pakan berhubungan erat dengan perubahan musim, biasanya di musim hujan pakan berlimpah sedangkan di musim kemarau pakan berkurang. Makanan pokok rusa adalah hijauan berupa daun-daunan dan rumput-rumputan yang ketersediaannya kadang-kadang terbatas terutama di penangkaran sehingga dibutuhkan pakan tambahan (Garsetiasih, dan Mariana 2007). Namun guna mencapai produksi yang maksimal, penambahan konsentrat sebagai bentuk formulasi ransum pada makanan rusa merupakan satu usaha pemenuhan kebutuhan nutrisi yang berkorelasi pada peningkatan produksi dan juga satu bentuk usaha domestikasi rusa dari segi pakannya.

3.3.       Aktivitas Makan.

Menurut Semiadi et al., (1993) aktivitas makan pada rusa disebut grazing (merumput) didefinisikan sebagai aktivitas mencari dan memasukkan hijauan ke dalam mulut. Apabila diamati dari pola aktif makan harian selama hari terang terdapat fluktuasi yang mengikuti aktivitas harian kawanan (Lelono, 1996 dan 2001) dimana terlihat tiga puncak utama yaitu pada pagi hari antara pukul 07.00 sampai 09.00, siang antara pukul 11.00 sampai 14.00 dan sore mulai pukul 17.00 sampai 18.00. Menurut Clutton-Brook et al. (1982) dan Loudon dan Milne (1985) tingginya kebutuhan makan pada betina disebabkan karena betina yang merawat anak harus menyediakan air susu sebagai makanan pokok anak selain untuk kebutuhan metabolisme induk itu sendiri.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suttie dan Simpson (1985) dan House et al. (1995) pada proses pertumbuhan rangga rusa merah (Cervus elaphus) ditemukan bahwa tingginya kebutuhan makan diperlukan terutama untuk mengoptimalkan pertumbuhan rangga dan tersedianya cadangan makanan yang cukup dalam bentuk jaringan lemak. Cadangan lemak tersebut dimanfaatkan sebagai sumber energi yang penting selama masa kawin. Kondisi ini terjadi karena pada jantan yang sedang dalam masa berahi aktivitas makannya berkurang jauh dibanding sebelumnya.

3.4.       Aktivitas Istirahat

Aktivitas istirahat atau resting memiliki beberapa kategori. Menurut Semiadi et al. (1993) aktivitas istirahat adalah aktivitas selain makan dan memamah biak. Namun demikian definisi ini tidak menjelaskan pada posisi apa aktivitas iatirahat itu dilakukan. Bisa jadi berpindahnya seekor rusa dari satu tempat ketempat lain disebut istirahat karena tidak sedang melakukan aktivitas makan atau memamah biak (Lelono, 2003).

Aktivitas istirahat pada pagi hari lebih lama dan serentak dibandingkan sore hari, kondisi ini kemungkinan disebabkan cuaca yang terik oleh sinar matahari musim kemarau (Lelono, 2003). Perilaku yang sama ditunjukkan pula pada rusa sambar (Semiadi et al., 1993) dimana spesies yang berasal dari daerah tropis memiliki penyesuaian khusus untuk mengurangi tekanan suhu atau thermoregulatory stress dengan mengurangi aktivitas makan pada siang hari dan menggantinya pada malam hari.

Aktivitas istirahat pada pagi hari (09.00-11.00) dilakukan di daerah padang rumput segera setelah melakukan aktivitas makan bersamasama. Kondisi ini ditandai dengan aktivitas istirahat bergerombol dengan jarak tiap individu yang tidak berjauhan. Aktivitas yang dilakukan selama istirahat seringkali adalah memamah biak. Hal ini berbeda pada sore hari (14.00-17.00) dimana individu-individu beristirahat dalam kelompok-kelompok kecil yang saling berjauhan satu sama lain selain memamah biak beberapa diantaranya tidur untuk satu atau dua jam. Pola aktivitas istirahat individual ini mengikuti pola umum kawanan dimana istirahat pagi dilakukan setelah aktivitas makan yaitu antara pukul 09.00 – 11.00 dan siang antara 14.00-17.00 (Lelono. 1996 dan 2001).

Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Semiadi et al. (1993) terhadap rusa sambar diketahui bahwa aktivitas istirahat dilakukan pada antara pukul 08.00-10.00 dan 13.00- 15.00. Perbedaan ini dapat terjadi karena perbedaan iklim antara tropis dan sub tropis (New Zealand), namun demikian aktivitas istirahat pada pagi hari menampakkan kesamaan yang jelas.

3.5.       Aktivitas Lainnya

Aktivitas lain didefinisikan sebagai aktivitas selain makan dan istirahat, misalnya berjalan, memelihara diri, merawat anak, bercumbu, bertarung, berlari dan lain-lain. Salah satu aktivitas menonjol adalah kegiatan yang berkaitan dengan perilaku berbiak pada jantan dewasa seperti bertarung, baik dengan sesame jantan maupun sekedar mengasah rangga di batang pohon (Lelono, 2003).

Berdasarkan pelelitian yang dilakukan oleh Rapley (1985), Semiadi et al. (1994) dan Suttie dan Simpson (1985) menunjukkan bahwa ada beberapa aktivitas penting yang dilakukan oleh jantan pada masa kawin seperti bercumbu, merawat diri, berlatih tanding, mengosokkan rangga ke batang kayu dan semak belukar, berjalan, berkelahi serta kawin. Penanganan terhadap individu jantan yang memasuki masa birahi cukup penting mengingat perilaku agresif yang seringkali berakibat fatal. Selama penelitian berlangsung diketahui adanya seekor jantan dewasa yang tewas ketika bertarung. Dari pengamatan pada jantan yang telah cukup lama memasuki masa rangga keras tampak adanya tanda-tanda luka pada sekujur tubuh akibat perkelahian.

3.6.       Model Penangkaran Rusa

3.6.1.      Pemilihan Lokasi

Lokasi penangkaran harus berada pada tempat yang tenang, aman dari gangguan predator, mudah dicapai, baik pada musim hujan maupun pada musim kemarau, tersedia air sepanjang tahun dan permukaan tanahnya tidak berbatu, akan lebih baik bila di sekitarnya terdapat lapangan perumputan, tersedia pohon-pohon peneduh atau semak-semak.

3.6.2.      Model Kandang

Pengelolaan rusa melalui penangkaran dapat menggunakan 2 model kandang. Kandang panggung dapat digunakan apabila lahan yang digunakan terbatas. Dinding dan lantai dapat menggunakan bahan dari bambu dan atap dari alang-alang. Sistem pemeliharaan dengan model kandang panggung biasanya digunakan untuk penangkaran/budidaya skala kecil. Sistem penangkaran yang ke dua dapat menggunakan sistem ranch yaitu rusa dilepas dalam areal terbuka yang sekelilingnya dipagari, luas areal tergantung ketersediaan lahan.

Di dalam ranch harus terdapat tempat bernaung, baik secara alami berupa pohon dan semak maupun naungan buatan seperti selter yang atapnya dapat terbuat dari injuk, alang-alang atau pun seng. Dengan luasan tersebut biasanya rusa tetap harus diberi rumput dari luar dan pakan tambahan terutama pada musim kemarau. Bila dalam ranch ketersediaan pakan cukup, rusa tidak usah diberi rumput dari luar tetapi pakan tambahan berupa konsentrat seperti jagung dan dedak tetap harus diberikan. Di dalam kandang ranch sebaiknya terdapat kandang individu yang berguna untuk pemisahan sex rusa pada malam hari sebagai salah satu usaha domestikasi rusa sambar. Kadang ranch didesain seperti habitat alami rusa sambar.

Selain kandang pemeliharaan di dalam penangkaran dibutuhkan juga kandang lain yang biasa disebut yard yang digunakan untuk perawatan rusa yang sedang bunting atau melahirkan, dan dapat juga digunakan sebagai kandang adaptasi.

3.6.3.      Bangunan Peneduh/Selter

Bangunan ini berfungsi sebagai tempat berteduh karena mempunyai atap dan dinding, dengan maksud untuk menghindari terpaan air hujan. Bangunan ini sangat diperlukan dalam penangkaran rusa sistem ranch, apalagi bila di dalam ranch tersebut vegetasi pohonnya tidak rapat atau jarang.

3.7.       Teknik Pemeliharaan

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penangkaran rusa antara lain pengelompokan rusa, penyapihan anak, kesehatan, dan penandaan/pemberian nomor/ tagging.

3.7.1.      Pengelompokan Rusa

Pemeliharaan rusa harus dikelompokkan berdasarkan status fisiologi yakni jantan dan betina yang telah siap kawin, jantan yang belum siap kawin (baru disapih), betina yang belum siap kawin (baru disapih), betina yang sedang bunting, betina yang melahirkan, dan rusa yang sakit.

Pengelompokan rusa bermanfaat untuk memudahkan dalam pemberian pakan sesuai kebutuhan, memudahkan dalam pengaturan perkawinan, menjaga pejantan agar tidak mengganggu rusa yang lain, keamanan bagi induk yang bunting dalam proses kelahiran, ketenangan bagi induk yang menyusui dalam merawat anak, menghindari perkawinan sebelum waktunya, memperoleh kesempatan makan bagi rusa yang baru disapih, dan memudahkan penanganan bagi rusa yang sakit.

3.7.2.      Penyapihan Rusa

Penyapihan anak rusa juga perlu diperhatikan yaitu di mana induk betina harus bersatu dengan anak sampai berumur 4 bulan, agar anak rusa mendapat air susu lebih banyak. Setelah disapih, pemeliharaan tetap terpisah antara jantan dan betina untuk menghindari kemungkinan terjadi perkawinan lebih awal.

3.7.3.      Kesehatan

Kesehatan rusa merupakan suatu hal yang perlu mendapat perhatian serius agar produktivitas rusa semakin meningkat. Berdasarkan pengalaman, kematian dalam penangkaran lebih banyak terjadi pada musim hujan yakni pada anak rusa (27 %) dan rusa dewasa (9%). Penyakit yang sering menyerang pada musim hujan adalah pneumonia (radang paru-paru) sebagai akibat kandang yang becek dan lembab. Sedangkan kematian pada rusa dewasa lebih banyak disebabkan oleh faktor makanan, lingkungan, dan stress akibat penanganan. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit dilakukan dengan beberapa cara, antara lain sanitasi lingkungan kandang, pemberian pakan yang memenuhi standar gizi, memperbaiki teknik penanganan, dan vaksinasi, serta pemberian obat sesuai jenis penyakit dan anjuran medis (Garsetiasih, dan Mariana 2007).

 

 

3.7.4.      Penandaan (Tagging)

Penandaan atau pemberian nomor pada rusa merupakan hal penting dalam manajemen penangkaran. Penandaan sebaiknya dilakukan sebelum anak rusa disapih. Tujuan penandaan atau pemberian nomor adalah untuk mengetahui silsilah (pedigree), umur, memudahkan dalam pengontrolan, memudahkan dalam pengenalan individu, dan untuk memudahkan pengaturan perkawinan. Cara pemberian nomor pada rusa dilakukan dengan cara nomor ditulis pada potongan plastik yang tebal atau papan dengan menggunakan paku/kawat agar tidak mudah hilang. Kemudian potongan tersebut digunting/dipotong, dan digantung pada leher rusa dengan menggunakan tali tambang berdiameter 5 mm lalu dimasukkan ke dalam selang berukuran 2 cm (Garsetiasih, dan Mariana 2007). Namun dapat juga menggunakan eartech yang biasa digunakan pada ternak sapi. Penggunaan eartech lebih baik daripada mengalungkan tanda/nomor pada leher rusa karena dapat penggunaan kalung dirasakan kurang efektif dan efisien karena akan mengikat leher rusa seiring bertambah besar leher rusa.

3.7.5.      Pemeliharaan Kebun Pakan

Pemeliharaan pakan harus sering dilakukan agar memperoleh pakan yang baik dan selalu tersedia secara terus sepanjang musim, dengan cara pembersihan, pengolahan tanah, pemupukan, pendangiran, dan penyiraman. Pembersihan rumput liar dan pendangiran dilakukan 3 bulan sekali sedangkan pengolahan tanah dan pemupukan dilakukan 1 tahun sekali.

 

 

3.7.6.      Teknik Pemberian Pakan

Pemberian pakan segar (hijauan) pada rusa didasarkan pada bobot badan rusa, dengan perhitungan 10 % (seperti pada pemberian pakan ruminant lainnya) x bobot badan x 2. Maksud dikalikan 2 yakni diperhitungkan dengan jumlah hijauan yang tidak dimakan karena sudah tua, tidak disenangi, kotor karena terinjak-injak, dan telah bercampur dengan urine/faeces. Pemberian pakan dilakukan dengan cara pengaritan di mana hijauan dipotong lalu diberikan pada rusa dalam kandang, baik musim hujan maupun musim kemarau. Namun hal ini tergantung pada sistem penangkaran yang digunakan.

3.8.       Teknik Pemindahan

3.8.1.      Penangkapan Rusa

Cara menangkap rusa agar tidak menimbulkan cedera pada petugas dan rusa itu sendiri, antara lain dengan menjepit leher dengan tangan kanan, ke dua mata ditutup menggunakan tangan kiri agar dapat mengurangi stress; sementara petugas lainnya memegang kedua pangkal paha dari arah samping. Penangkapan ini membutuhkan tenaga 2-3 orang dan pada rusa jantan yang mempunyai tanduk kokoh atau sempurna, harus mendapat perhatian yang lebih serius karena sangat berbahaya dan liar.

3.8.2.      Pengangkutan Rusa

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengangkutan rusa adalah apabila jarak pengangkutan sangat jauh dan membutuhkan waktu yang lama, sebaiknya menggunakan peti/kandang berbentuk persegi empat. Peti/kandang terbuat dari kayu/ papan/triplek yang tertutup rapat agar rusa tidak stress tetapi harus mempunyai lubang udara. Pembuatan peti/kandang diusahakan agar rusa dapat berdiri tegak. Selama dalam perjalanan, rusa harus diberi makan dan minum, bila memungkinkan diberi obat anti stress. Sebaiknya pengangkutan rusa dilakukan pada sore atau malam hari, agar rusa tidak kepanasan dan menekan kondisi stress.

 

IV.  Kesimpulan

Rusa mempunyai adaptasi yang tinggi dengan lingkungannya sehingga mudah untuk ditangkarkan. Pembuatan kandang atau tempat penangkaran rusa sambar haruslah memperhatikan dan mengetahui terlebih dahulu pola aktivitas harian dari rusa sambar sehingga upaya penangkaran dapat menjadi salah satu usaha konservasi rusa sambar secara ex-situ. Model kandang dapat berupa kandang panggung maupun kandang ranch. Kandang ranch di desain untuk membuat rusa sambar untuk merasakan seperti hidup dihabitat alaminya.

 

Daftar Pustaka

Anonima. 2008. Daging Rusa Dijual Ilegal di Bengkulu. http : www.kompas.com.%20Internet%20Explore/Download/index.php.htm. 

 

Anonimb. 2008. Rusa sambar. http : http://www.wikipedia.co.id\Download\Rusa Sambar – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.mht

 

Ariantiningsih, F. 2000. Sistem perburuan dan sikap masyarakat tcrhadap usaha-usaha konservasi rusa di pulau Rumberpon Kecamatan Ransiki Kabupaten Manokwari. Skripsi Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih, Monokwari (tidak dipublikasikan).

 

Barry, T.N., Semiadi, G., Muir, P.D dan Hodgson, J. 1995. Dietary preferances of Sambar (Cervus univolor) and red deer (Cervus elaphus) offered browse, forage legume and grass species. J. Agric-sci. Cambridge. Cambrigde University Press v 125 pp 99-107.

 

Bergstorm.R. Danell.K. 1995. Effects on simulated summer browsing by moose on leaf and shoot biomase of birch, Betula Pendula. Oikos 72(1) pp 132-138.

 

Clarke. J. L. Welch. D. Gordon, I. J. 1995. The influence of vegetation pattern on the grazing of heather moor land by red deer and sheep. Journal of Applied ecology 32(1) pp 177-186.

 

Clutton-Brook, T.H., Jason, G.R., Albon, S. D dan Guinness. F. E. 1982. Effects of lactation on feeding behaviour and habitat use in Wild Red deer hinds. J.Zool., Lond.(198): 227-236.

 

Garsetiasih, R dan Mariana. 2007. Model penangkaran rusa. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian. 2007.

 

Grier,J.W dan Burk.T. 1992. Biology of Animal Behavior. Mosby Year Book, Inc. New Wellington.

 

Homolka, M.1993. The food niches of three ungulate species in a woodland complex.Folia-Zoologica. 42(3) pp 193-203.

 

House. A. J., Semiadi, G., Stafford. K. J., Barry, T.N dan Muir, P. D. 1995. Digestion and chewing behaviour of young sambar and red deer consuming a low quality roughage. J.Agric-sci, Cambridge. Cambridge University Press. 125. pp 399-405.

 

Langvatn, R dan Hanley. T. A. 1993. Feed-patch choice by red deer in relation to foraging efficiency: an experiment. Oecologia 95 (2) pp 164-170.

 

Lelono. A. 1996. Ekologi perilaku makan rusa (Cervus timorensis Lyd) dalam penangkaran di Ranca Upas Ciwidey. Tesis Magister Sains (Biologi) Institut Teknologi Bandung

 

Lelono. A. 2001. Pola aktivitas makan harian rusa (Cervus timorensis) dalam penangkaran. Seminar Biologi Nasional I di Jurusan Biologi FMIPA Universitas Jember.

 

Loudon.A.S.I dan Milne.J.A. 1985. Nutrition and growth of young red deer. Ed. Fennessy & Dreew Buletin 22. New Zealand; 423-427.

 

Ma’ruf, A., Tri Atmoko dan Ismed Syahbani. 2006. Teknologi penangkaran rusa sambar (cervus unicolor) di Desa Api-Api Kabupaten Panajam Paser Utara Kalimantan Timur. Prosiding Gelar dan Dialog Teknologi 2005 : Halaman 57-68 , 2006

 

Petozc, R. G. 1987. Konservasi alam dan pembangunan Irian Jaya. Garfitti Press. Jakarta.

 

Rapley, M. D. 1985. Behavior of wapiti during the rut. Ed. Fennessy & Dreew Buletin 22. New Zealand; 357-362.

Semiadi, G., Muir, P. D., Barry. T. N. Veltman.1993. Grazing patterns of sambar deer (Cervus unicolor) and red deer (Cervus elaphus) in captivity. New Zealand Journal of Agricultural Research, Vol 36 pp 253-260.

 

Semiadi, G., Muir, P.D dan Barry, T.N.1994. General biology of sambar deer (Cervus unicolor) in captivity. New Zealand Journal of Agricultural Research, Vol 37 pp 79-85.

 

Sheely D.P. Vavra.M. 1996. Ungulate foraging areas on seasonal rangeland in northeastern oregon. J.Range-manage. Denver. Colo; Society for Range Management v 49(1) pp 16-23.

 

 

Suttie, J.M dan Simpson, A.M. 1985.Photoperiodic control of appetitie, growth, antlers and endocrine status of red deer. Ed. Fennessy & Dreew Buletin 22. New Zealand; 429-432.

About these ads
 

7 Responses to “Upaya Domestikasi Rusa Sambar Melalui Sistem Penangkaran”

  1. blissiose Says:

    Best reviews of the day about Watch sport, Monday night sport in, sport pics and Official sport sites http://facilmundo.com !
    Most actual news about Need car speed unleashed and Car dealers http://todostierra.com !!

  2. Hi, good post. I have been wondering about this issue,so thanks for posting. I’ll definitely be coming back to your site.

  3. Hi, cool post. I have been pondering this issue,so thanks for blogging. I’ll certainly be coming back to your blog. Keep up the good posts

  4. ranie Says:

    thank u

  5. Six Pack Says:

    Hi!I think this blog is good!I found it on Google,I will surely come back! :D

  6. awanbiru2007 Says:

    Artikel menarik, jangan lupa kunjungi juga saya ya di http://goo.gl/gGD4q


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers