JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

Tingkah Laku Reproduksi Rusa Sambar (Cervus Unicolor Equinus ) Terhadap Usaha Konservasi Di Propinsi Bengkulu April 12, 2009

Filed under: Sumberdaya — Urip Santoso @ 2:06 am
Tags: , ,

Oleh; Berry Gibson

Abstrak

            Indonesia merupakan salah satu  negara yang mempunyai kekayaan alam yang tak ternilai harganya, dan Bengkulu merupakan salah satu propinsi yang mempunyai salah satu spesies hewan yang sekarang ini menjadi hewan yang dilindungi yaitu rusa sambar. Rusa sambar merupakan hewan endemik yang terdapat di kawasan  Taman Nasional Kerinci Seblat yang mana wilayah ini termasuk dalam wilayah propinsi Bengkulu yang populasinya terus menurun dan cendrung langka. Seperti yang kita ketahui, informasi tingkah laku reproduksi merupakan data fundamental yang sangat penting dalam upaya-upaya konservasi yang akan dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian yang spesifik mempelajari tingkah laku kawin rusa sambar dilapangan untuk tujuan konservasi. Penelitian ini menggunakan rusa dua ekor yang dipelihara dalam kandang khusus seluas 2 x 3 m2  dan memiliki akses bebas terhadap lapangan terbuka. Pengamatan penelitian difokuskan pada pengamatan gejala estrus dan siklus estrus betina serta tingkah laku kawin jantan – betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengamatan gejala eksternal esterus betina, durasi esterus dan  tingkah laku kawin rusa merupakan komponen penting dalam upaya konservasi. Rusa juga memiliki adaptasi yang tinggi dengan lingkungannya sehingga mudah untuk ditangkarkan. Rusa sambar memiliki reproduktifitas yang rendah rendah dan konservasi dapat berhasil apabila didukung oleh masyarakat. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa dengan pengamatan tingkah laku reproduksi dapat memberikan data fundamental yang nantinya menjadi landasan teknologi reproduksi selanjutnyadalam upaya konservasi.

Kata kunci : Cervus unicolor,  rusa sambar, tingkah laku kawin, konservasi, Propinsi Bengkulu.

 

I. Pendahuluan

1.1 Latar belakang      

            Indonesia merupakan salah satu  negara yang mempunyai kekayaan alam yang tak ternilai harganya. Di Indonesia terdapat sekitar 30-100 juta makhluk hidup yang terdiri dari berbagai spesies tumbuhan, satwa dan jasad renik (Conservation internasional, 1999), kekayaan ala m tersebut merupakan salah satu sumber daya nasional yang sangat penting, oleh karena itu dalam  pengelolaanya harus dapat memberikan sumbangan yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan (Iskandar, 1990).

            Bengkulu sebagai salah  satu  propinsi di indonesia merupakan  salah satu propinsi yang mempunyai jenis hewan mamalia yang merupakan hewan introduksi. Sebagian besar jenis hewan introduksi ini, umumnya dikembangkan menjadi ternak peliharaan. Akan tetapi ada beberapa hewan introduksi ini yang berkembang menjadi satwa liar, salah satunya rusa (Petocz, 1987). Rusa Sambar, Cervus unicolor Equinus, merupakan ruminansia endemik di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang 22,73% arealnya berada di wilayah propinsi Bengkulu yang populasinya terus menyusut dan cenderung langka, dibuktikan dengan sulit ditemukannya in situ (Putranto, 2008).

            Rusa merupakan jenis hewan yang termasuk jenis kelas mamalia, ordo yang berkuku genap, family Cervidae, sub familia ervidae. Jumlah spesies rusa yang tersebar  di seluruh dunia adalah kurang lebih 40 spesies (Ariantiningsih, 2000).  Jenis rusa yang terdapat di Indonesia terdiri dari Cervus unicolor, Cervus timorensis, Hyelaphus chili, dan Axis axis, Semiadi (1986).

            Rusa merupakan salah satu satwa liar yang mempunyai banyak manfaatnya, dimana tanduknya dapat dijadikan sebagai obat dan kulitnya juga dapat dijadikan sourvenir dan hiasan dinding.

            Menurut peraturan pemerintah republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa mengingat undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nonior 49Tambahan Lembaran  Negara Nomor 3419) serta undang-undang ordonansi dan peraturan perlindunagan binatang liar tahun 1931no. 134 dan 266 rusa sambar (Cervus unicolor) merupakan hewan yang dilindungi.;. Selanjutnya SK Menteri pertanian No. 362/KPTS/TN/12/V/1990, menyatakan bahwa rusa masuk dalam kelompok ternak yang dapat dibudidayakan seperti ternak lainnya dan termasuk pula di dalamnya mengatur tentang peraturan izin usaha (Jacoeb dan Wiryosuhanto, 1994).

 

1.2 Tujuan

            Tujuan dari penelitian ini menjelaskan status dan deskripsi fisiologi reproduksi rusa Sambar melalui observasi visual dan pencatatan tingkah laku kawin di lapangan untuk upaya konservasi.

1.3 Manfaat

            Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai informasi dasar untuk menyusun program penggelolahan dan konservasi rusa, khususnya yang berada dalam kawasan propinsi Bengkulu.

II. Metode Penulisan

            Metode penulisan yang digunakan adalah dengan metode pengumpulan data-data dan informasi yang berbentuk buku-buku, jurnal dan hasil-hasil penelitian yang mana dengan data-data dan informasi yang telah dikumpulkan, yang nantinya ditemukan sebuah permasalahan. Berdasarkan pemasalahan yang telah ditemukan maka akan  menciptakan alternative pemecahan masalah dan pemecahan masalah yang digunakan dalam metode penulisan ini adalah dengan metode telaah pustaka.

III. Isi dan Pembahasan

3.1Rusa Sambar

            Rusa Sambar (Cervus unicolor) merupakan rusa terbesar untuk daerah tropik dengan sebaran di Indonesiaterbatas di pulau Sumatera, Kalimantan dan pulau kecil di sekitar Sumatera (Whitehead, 1994). Rusa sambar juga merupakan jenis rusa yang besar dan mempunyai  kaki yang panjang, warna kulit dan rambut coklat tua, bagian perut berwarna lebih gelap sampai kehitam-hitaman, rambut kaku, kasar dan pendek. Berat badan bervariasi antara 185 – 260 kg dengan tinggi badan 140 – 160 cm. Jantan dewasa memiliki rambut surai yang panjang dan lebat di bagian leher dan atas kepala. Rusa Sambar mencapai dewasa kelamin pada umur 8 bulan dan dapat hidup hingga umur 11 tahun. Periode gestasi 7 bulan dan interval gestasi mencapai 1,5 tahun (Jacoeb dan Wiryosuhanto, 1994). Ada kecenderungan anak jenis rusa sambar yang berasal dari India dan Sri langka merupakan yang terbesar dan tertinggi (Awal et al., 1992, Lewis et al., 1990). Pada linkungan  peternakan di Australia, rusa sambar betina dapat mencapai berat badan 228 kg (Anderson, 1984). Berdasarkan  daftar  merah  yang dikeluarkan IUCN tahun 2007, rusa Sambar berstatus Lower Risk/Least Concern dan termasuk dalam spesies yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia.

            Warna bulu rusa sambar umumnya coklat denganvariasinya yang agak kehitaman (gelap) pada yang jantan atau yang telah tua. Ekor agak pendek dan tertutup buluyang cukup panjang. Keadaan bulu termasuk kasar dantidak terlalu rapat. Pada daerah leher bagian lateral, bulu membentuk suatu surai/malai (mane). Perubahan warnabulu dari coklat cerah menjadi lebih gelap, khususnya padayang jantan dominan, sering terlihat bersamaan dengan

masuknya pejantan ke musim kawin (Semiadi, 2004pengamatan pribadi).

     Rusa sambar memperlihatkan masa reproduksinya  di tandai dengan tingkah laku yang lebih jinak dari pada  dalam keadaan biasanya. Masa reproduksi pada rusa sambar betina terlihat antara bulan Juli hingga Agustus (Imelda, 2004). Selang beranak antara yang pertama dan kedua berjarak satu tahun dua bulan, sedangkan lama kebuntingannya adalah  antara 250-285 hari (Ariantiningsih, 2000). Di zona temperate, musim kawin rusa white-tailed (Odocoileus virginianus) sangat dipengaruhi oleh iklim, akan tetapi ruminansia ini dapat kawin sepanjang tahun jika hidup di kawasan tropis (Li et al., 2001).

3.2 Habitat

     Habitat yang disukai adalah hutan yang terbuka atau padang rumput dan hidup pada berbagai ketinggian mulai dari dataran rendah sampai daerah pantai hingga ketinggian 2600 m di atas permukaan laut. Pada semak belukar yang rapat, biasanya di gunakan sebagai tempat untuk berlindung dan bersembunyi (Ariantiningsih, 2000).

 

3.3 Koservasi

     Konservasi sumber daya alam adalah kegiatan yang meliputi perlindungan, pengawetan, pemeliharaan, rehabilitas, introduksi, pelestarian, pemanfaatan dan pengembangan (Alikondra, 1990). Sedangkan menurut Salwasser (1994) konservasi yang paling sederhanaadalah menjaga dan melindungi sumberdaya alam untuk mencegah terjadinya kehilangan Suatu plasma nutfah. Pada perkembangan selanjunya, konservasi sumberdaya alam tidak hanya melindungi beberapa spesies hewan atau tumbuhan yang menghasilkan sesuatu bagi manusia, tetapi dilihat pula perbeda dan fungsi dari ekosistem yang ada, sehingga dapat melestarikan juga berbagai kehidupan yang lain, baik yang diketahui maupun yang dama sekali tidak diketahui (Meffe dan Caroll, 1994).

     Dalam undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam Hayati dan Ekosistemnya, telah ditetapkan tiga prinsip dasar konservasi sumberdaya alam dan ekosistemnya, yang isinya adalah sebagai berikut :

·        Perlindungan system penyangga kehidupan, yaitu dengan mengalokasikan kawasan konservasi baik pada pkawasan darat maupun kawasan peairan laut termasuk lahan basah.

·        Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, yaitu pemanfaatan berdasarkan rasionalisasi dengan tolok ukur terhadap kesembiangan ekologinya (Sugandhy, 1995).

Pengelolahan satwa liar merupakan bagian dari upaya konservasi satwaliar. Menurut Alikondra (1990), konservasi satwaliar merupakan proses social yang bertujuan untuk memanfaatkan satwaliar dan memilihara satwaliar serta kelestarian produktivitas habitatnya. Upaya keberhasilan konservasi ini sangat ditentukan oleh peran serta penggolahnya dalam berbagai kegiatan konservasi, keadaan organisasi dan adminitrasi pengelolaan, jumlah dan kualitas tugas, peran serta masyarakat serta peraturan perundang-undangan

Alikodra (1990) menyatakan bahwa konservasi satwaliar meliputi dua hal penting yang harus mendapat perhatian, yaitu pemanfaatan yang hati-hati dan pemanfaatan yang harmonis. Pemanfaatan yang hati-hati berarti mencegah terjadinya penurunan produktifitas, bahkan menghindari sama sekali terjadinya kepunahan spesies. Sedangkan pemanfaatan yang harmonis, bersrti mempertimbangkan dan memperhitungkan kepentingan-kepentingan pihak lain, sehingga terjadi keselarasan dan keserasian dengan seluruh kegiatan baik local, regional maupun nasional bahkan dalam kaitannya dengan kepentingan konservasi satwaliar secara internasional

            Rusa sambar (cervus unicolor) merupakan ruminansia endemik yang terdapat di propinsi Bengkulu yang populasinya terus cenderung menurun dan menjadi langka, ini dibuktikan dengan sulit ditemukannya spesies ini di daerah lain. Sebagaimana kita ketahui dengan terus meningkatnya penurunan populasi ini dan tanpa disertai upaya-upaya konservasi, maka akan menempatkan ruminansia endemik Bengkulu ini masuk dalam status terancam punah suatu saat nanti. Pada kawasan konservasi taman nasional kerinci seblat di propinsi Bengkulu rusa sambar menjadi ruminansia endemik yang dapat digolongkan sebagai plasma nutfah Indonesia yang populasinya terus menyusut dan cenderung langka (Putranto, 2008).

     Dengan memandang masalah yang telah dipaparkan  maka  Keutamaan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan status dan deskripsi fisiologi reproduksi rusa Sambar endemik Bengkulu yang hingga kini belum diketahui secara pasti. Untuk tujuan konservasi, informasi fisiologi reproduksi adalah data fundamental yang harus dikuasai sebelum dilanjutkan dengan aplikasi teknologi reproduksi lanjut seperti fertilisasi in vitro, embrio transfer ataupun kloning.

     Lebih lanjut, upaya domestikasi rusa Sambar di Indonesia khususnya propinsi Bengkulu belum populer, sehingga sistem manajemen domestikasi ruminansia ini belum jelas. Padahal rusa Sambar berpotensi didomestikasikan untuk tujuan konservasi dan menjadi alternatif sumber protein hewani masyarakat. Untuk itu perlu diketahui sistem manajemen domestikasi berupa sistem perkandangan, pemberian pakan serta perhitungan nilai ekonomis usaha domestikasi.

Minimnya kajian fisiologi reproduksi satwa langka Indonesia telah membuka kesempatan untuk melakukan penelitian bagi peneliti dan konservasionis (Putranto et al., 2007a,b,c). Terutama pada rusa Sambar endemik Bengkulu, yang sampai saat ini belum memiliki kajian spesifik tentang potensi fisiologi reproduksinya. Hal ini sangat merugikan dunia sains lokal Indonesia khususnya, dan dunia internasional umumnya. Kurangnya informasi fundamental ini akan menyebabkan tidak maksimalnya upaya konservasi satwa langka Indonesia yang sekaligus juga plasma nutfah dunia.

     Domestikasi rusa telah populer di kawasan Oseania dan Eropa (Gordon, 2004). Sedangkan di Indonesia khususnya propinsi Bengkulu, domestikasi atau penangkaran rusa belum populer. Pemeliharaan ruminansia ini di kota Bengkulu hanya bertujuan untuk koleksi dan bersifat non komersil (Imelda, 2004). Padahal ruminansia ini memiliki banyak keunggulan antara lain mampu beradaptasi pada berbagai habitat, efisien dalam penggunaan pakan untuk diubah menjadi daging, tahan terhadap penyakit, dagingnya memiliki kandungan lemak dan kalori yang rendah sehingga cocok dikonsumsi oleh orang yang diet kolesterol. Melalui penelitian ini, peneliti akan memformulasikan sistem manajemen domestikasi (tingkah laku reproduksi) yang tepat, prospektif dan berguna untuk penerapan ipteks domestikasi rusa Sambar endemik Bengkulu dimasa mendatang.

     Di China rusa mampu untuk beradaptasi pada habitat dengan iklim yang berubah-ubah (Li et al., 2001). Di zona temperate, musim kawin rusa white-tailed (Odocoileus virginianus) sangat dipengaruhi oleh iklim, akan tetapi ruminansia ini dapat kawin sepanjang tahun jika hidup di kawasan tropis. Hasil penelitian Imelda (2004) memperlihatkan bahwa tingkah laku kawin rusa Sambar muncul antara bulan Juni hingga Agustus. Peneliti menduga bahwa musim kawin rusa Sambar endemik Bengkulu dapat berlangsung sepanjang tahun tanpa ada pengaruh musim (hujan ataupun kemarau). Untuk mendukung hipotesa tersebut, maka gejala estrus dan siklus estrus betina harus diketahui secara tepat dan cepat disertai bukti ilmiah.

Untuk mengatasi  masalah –masalah yang telah diutarakan maka peneliti mencari alternatif pemecahan masalah dengan metode penelitian yang digunakan adalah dengan cara domestikasi rusa Sambar ex situ, memformulasikan sistem manajemen domestikasi, pengamatan visual tingkah laku estrus dan tingkah laku kawin di lapangan. Beberapa hasil penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa dibutuhkan waktu minimal 1 tahun untuk menguak status reproduksi satwa langka harimau dan orangutan Sumatra betina (Putranto et al., 2007b,c). Untuk waktu  penelitian  pada penelitian ini, selama kurang lebih satu  tahun dan ini diharapkan cukup untuk mendapatkan informasi fisiologi reproduksi rusa jantan dan betina sekaligus.

Untuk perlakuan domestikasi, akan direncanakan  membangun kandang isolasi untuk tiap jenis seks dan memiliki akses bebas terhadap lapangan terbuka (open barn) di luar kandang untuk aktifitas sosialisasi di siang hari. Lapangan terbuka sebaiknya diberi pagar pengaman setinggi 2 meter (Cornwell-Smith, 1981). Peneliti memperkirakan pagar setinggi 2 meter ini belum memberikan jaminan tidak larinya rusa dari lapangan dan kandang domestikasi. Untuk itu, peneliti akan merekomendasikan pagar dengan ketinggian 2,4 – 2,5 meter dengan tujuan mencegah larinya rusa sambar. Objek penelitian diberikan akses bebas terhadap pakan, air minum, sinar matahari dan aktifitas sosialisasi di lapangan terbuka selama siang hari (9 jam per hari). Pada malam hari, rusa digiring masuk ke dalam kandang isolasi.

Kandang isolasi seluas 2 x 3 m2 untuk tiap jenis seks dan lapangan terbuka (open barn) seluas 5 x 5 m2 dibangun di lahan kandang milik Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Lapangan  terbuka akan diberikan pagar pengaman setinggi 2 – 2,5 meter untuk mencegah larinya rusa. Sebelum ditempati, maka kandang isolasi akan disucihamakan dengan penyemprotan antiseptik seminggu sebelumnya. Rusa diberi pakan berupa kombinasi antara rumput, daun-daun muda dan buah-buahan (pisang dan pepaya) dengan jumlah dan komposisi yang akan disesuaikan dengan bobot badan awal saat penelitian dilakukan dan preferensi makan rusa.

Jenis pengamatan yang akan dilakukan adalah beberapa pengamatan reproduksi yaitu pengamatan esterus, gejala dan siklus esterus betina serta tingkah laku kawin jantan-betina ini dilakukan melalui observsi visual di siang hari. Parameter fisiologi reproduksi rusa sambar yang akan di amati :

1.      Gejala/tanda-tanda eksternal estrus rusa betina.

Apabila tanda-tanda estrus ditemukan, dilanjutkan dengan pengamatan visual bentuk dan kondisi eksternal vulva seperti bengkak, warna kemerahan dan terasa hangatnya vulva bila disentuh atau tanda spesifik lainnya. Dan apabila tanda-tanda ini sudah terlihat maka rusa betina sudah mengalami esterus dan siap untuk dikawini.

2.      Durasi estrus rusa betina.

Dilakukan dengan cara menghitung jumlah hari dimulai dari saat munculnya gejala estrus di hari pertama sampai hari terakhir gejala estrus terlihat (Putranto, 2008). Parameter ini akan menunjukkan kemungkinan munculnya fenomena silent estrus pada rusa Sambar betina (jika ada). Apabila terjadi silent esterus itu berarti rusa telah di kawini.

3.      Pencatatan tingkah laku estrus rusa betina.

Dilakukan dengan cara observasi visual tingkah laku estrus berupa vokalisasi, flehmen dan urinasi (Schmidt et al., 1988; Umaphaty et al., 2006) yang dilakukan siang hari antara pukul 08.00 hingga 17.00 setiap hari. Setiap tingkah laku estrus yang terlihat diberi skor satu (1) dan  nol (0) bila tidak ditemukan pada hari tersebut (Putranto, 2008). Total data skor tingkah laku estrus dinyatakan dalam frekuensi per 30 hari selama satu musim (hujan atau kemarau) dengan bulan sebagai ulangan.

4.      Pencatatan tingkah laku kawin rusa jantan – betina.

Dilakukan dengan observasi visual tingkah laku kawin berupa vokalisasi, tarian ataupun aktifitas fisik yang dilakukan rusa jantan dan betina serta kopulasi yang dilakukan siang hari antara pukul 08.00 hingga 17.00 setiap hari. Setiap tingkah laku kawin yang terlihat diberi skor satu (1) dan nol (0) bila tidak ditemukan pada hari tersebut (Putranto, 2008). Total data skor tingkah laku kawin dinyatakan dalam frekuensi per 30 hari selama satu musim (hujan atau kemarau) dengan bulan sebagai ulangan.

5.      Penimbangan berat badan hidup rusa jantan dan betina.

Rusa jantan dan betina akan ditimbang berat badan hidupnya pada tanggal 1 setiap bulannya. Unit pengukuran adalah kilogram.

 

3.4 Pembahasan

Parameter fisiologi reproduksi rusa sambar yang diamati dalam penelitian ini meliputi gejala/tanda-tanda eksternal estrus rusa betina, durasi sterus rusa betina, tingkah laku esterus betina, tingkah laku kawin jantan-betina dan penimbangan berat badan hidup rusa jantan dan betina.

Gejala/tanda-tanda eksternal esterus betina merupakan factor utama dalam proses siklus kawin rusa yang mana tanda ini sangat berpengaruh untuk memberikan sinyal terhadap pejantan bahwa rusa betina siap untuk dikawini. Apabila tanda-tanda tidak kelihatan ,maka kegiatan reproduksi rusa otomatis akan terhambat dikarenakan sang pejantan tidak tau kapan betina siap dikawini.

Durasi esterus betina merupakan juga factor penting dalam siklus kawin rusa karena dengan mengetahui berapa lama durasi esterus rusa betina maka kita dapat mempersiapkan pejantan untuk mengawini rusa betina, sehingga kita tidak kehilangan saat-saat dimana rusa betina sedang esterus.

Pencatatan tingkah laku kawin rusa juga merupakan komponen penting dalam penelitian ini karena apabila rusa jantan menunjukkan tanda-tanda yang aneh seperti mengeluarkan suara-suara atau berupa tari-tarian itu berarti rusa jantan tersebut ingin mengawini rusa betina.

Penimbangan berat badan merupakan salah satu yang menjadi factor penting dalam penelitian ini dikarenakan dengan bertambahnya berat badan rusa jantan maupun rusa betina berarti proses domestikasi dengan cara penangkaran ini dapat dikatakan berhasil dan dapat dikembangkan untuk upaya konservasi rusa sambar di propinsi Bengkulu.

Dari hasil penelitian-penelitian yang telah banyak dilakukan ternyata rusa sambar memiliki adaptasi yang tinggi dengan lingkungannya sehingga mudah untuk ditangkarkan. Rusa termasuk satwa yang produktif karena dapat bereproduksi setiap tahun dan mempunyai tingkat produksi yang tinggi dengan persentase karkas yang lebih tinggi dibanding satwa lain. Dilihat dari segi reproduksi, rusa termasuk satwa liar yang produktif, masa reproduksi rusa dimulai dari umur 1,5 tahun sampai 12 tahun, rusa dapat bertahan hidup antara umur 15-20 tahun (Garsetiasih, 2004).

Rusa sambar telah dikembangkan dalam penangkaran oleh Dinas Peternakan Kalimantan Timur dengan menggunakan menejemen peternakan yaitu teknologi pakan, menejemen petak dengan cara rotasi, penanganan kesehatan dan panen ranggah (Semiadi, 2001). Namun dari hasil penelitian oleh Puslit Biologi LIPI bahwa rusa tersebut mempunyai reproduktifitas yang rendah dan kematian pra sapih yang tinggi. Reproduktifitas rendah yaitu jumlah anak yang dilahirkan dari jumlah induk yaitu hanya mencapai  48,8%±16,24% (means ± SD) (Semiadi, 2001), dan kematian anak pra sapih sebesar 11,9% (Semiadi, 2001).

Kendala reproduktifitas tersebut disebabkan karena pola perkembang biakan rusa yang bersifat non seasonal polyoestrus yaitu tidak mempunyai musim perkawinan dan dapat menunjukkan birahi kembali dan berulang kapan saja kalau tidak bunting sepanjang tahun (Dradjat, 2000). Tetapi berbeda dengan Imelda (2004) yang menyatakan bahwa rusa memperlihatkan tingkah laku kawin antara bulan Juli hingga Agustus, di zona temperate musim kawin rusa sangat dipengaruhi, akan tetapi ruminansia ini dapat kawin sepanjang tahun jika hidup di kawasan tropis (Li et al., 2001).

Suatu keberhasilan suatu usaha konservasi ditentukan oleh sikap masyarakat yang ada di dalam  atau di sekitar tempat kegiatan (Soerianegara, 1997). Sikap penduduk yang positif dapat mempengaruhi tingkah dan tindakannya (Soekamto dan Winataputra, 1997).

3.5 Kesimpulan

            Dari penelitian telaah pustaka yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa dengan pengetahuan tentang tingkah laku reproduksi rusa pada saat musim kawin dapat memberikan informasi data fundamental yang nantinya akan menjadi landasan untuk teknologi reproduksi selanjutnya, dalam upaya-upaya domestikasi untuk tujuan konservasi.

Daftar Pustaka

Alikondra, S. 1990. Pengelolaan Satwa Liar, jilid I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati. Institut pertanian bogor.Bogor   

Anderson, R. 1984. Deer farming in Australia. In: Deer Refresher CourseProceedings no. 72. Sydney: University of Sydney.           

 

Ariantiningsih, F. 2000. System Perburuan dan Sikap Masyarakat Terhadap Usaha-Usaha Konservasi Rusa Dipulau Rumberpon Kecamatan Ransiki Kabupaten Manokwari (skripsi). Universitas Cendrawasih. Manokwari.

 

Awal. A, N.J sarker and K.Z Husain. 1992. Breeding Record of Sambar Deer (Cervus unicolor) in Captivity. Bangladesh jounal of zoology 20: 285-290.

 

Cornwell-Smith, M.J.  1981.  Farming deer in Britain and New Zealand.  Span Vol. 24.  hal: 12-15.

Conservation International, 1999. Mengenai Keanekaragaman Hayati. Irian jaya.

Garsetiasih, R., N. Herlina. 2004. Evaluasi Plasma Nutfah Rusa Totol (Axis axis) di Halaman Istana Bogor.

 

Imelda.  2004.  Tingkah Laku Sosial Rusa Sambar (Cervus unicolor Equinus) di Balai Raya Semarak Bengkulu.  Skripsi.  Program Studi Produksi Ternak Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.  96 hal.

Iskandar, T. 1990. Rusa bawean perlukah dibudidayakan. Poultry Indonesia No. 130/Th. XI Nopvember 1990. Jakarta.

Jacoeb, T.N. dan Wiryosuhanto, S.D.  1994.  Prospek Budidaya Ternak Rusa.  Kanisius, Yogyakarta.

Li, C., Jiang, Z., Jiang, G. dan Fang, J.  2001.  Seasonal changes of reproductive behavior and fecal steroid concentrations in Perè David`s deer.  Hormones and Behavior Vol. 40.  hal: 518-525.

Lewis, J.C., L.B. Flynn, R.L. Marchinton, S.M. Shea, and E.M.Marchinton.1990. Part I. Introduction, study area description and literature review.In: Ecology of sambar on St. Vincent National Wildlife Refugee. Florida.Tall Timbers Research Station. Tallahassee Bulletin 25: 1-12

 

Meffe, G. K. dan C. R. Carroll. 1994. What is Conservation Biology? : Principles Of Conservation Biology. Sinaver Associates, Inc. Publishers. Sunderland. Massachussetts.

 

 

Putranto, H.D.  2008.  Reproductive Physiological Studies for Conservation of Indonesian Endangered Animals by Non-Invasive Analysis of Sex Steroid Hormones.  Disertasi.  Gifu University, Japan.  134 hal.

Putranto, H.D., Kusuda, S., Inagaki, K., Kumagai, G., Ishii-Tamura, R., Uziie, Y. dan Doi, O.  2007a.  Ovarian activity and pregnancy in the Siberian tiger, Panthera tigris altaica, assessed by fecal gonadal steroid hormones analyses.  The Journal of Veterinary Medical Science Vol. 69 (5).  hal: 569-571.

Putranto, H.D., Kusuda, S., Hashikawa, H., Kimura, K., Naito, H. dan Doi, O.  2007b.  Fecal progestins and estrogens for endocrine monitoring of ovarian cycle and pregnancy in Sumatran orangutan (Pongo abelii).  Japanese Journal of Zoo and Wildlife Medicine Vol. 12 (2).  hal: 97-103.

Putranto, H.D., Kusuda, S., Ito, T., Terada, M., Inagaki, K. dan Osamu, D.  2007c.  Reproductive cyclicity based on fecal steroid hormones and behaviors in Sumatran tigers, Panthera tigris sumatrae.  Japanese Journal of Zoo and Wildlife Medicine Vol. 12 (2).  hal: 111-115.

Petoc, R. G. 1987. Konservasi alam dan pembangunan irian jaya. Graffiti press. Jakarta.

Salwasser, H. 1994. Corsevation Biology and Management of Natural Resources. In Meffe and Carrol. Principles of Conservation Biology. Sinaver Associates. Inc. Publishers. Sunderland. Massachussetts.

 

Semiadi, G. 1998. Pola kelahiran Rusa timorensis di Nusa Tenggara Timur. Hayati 5: 22-24.

 

Semiadi, G and R.T.P. Nugraha, 2004. Panduan Pemeliharaan Rusa Tropis. Bogor: Pusat Penelitian Biologi LIPI.

 

Schmitd, A.M., Hess, D.L., Schmidt, M.J., Smith, R.C. dan Lewis, C.R.  1988.  Serum concentrations of oestradiol and progesterone, and sexual behavior during the normal oestrous cycle in the leopard (Panthera pardus).  Journal of Reproduction and Fertility Vol. 82.  hal: 43-49.

Soerianegara, I. 1997. Pengelolaan Sumber Daya Alam (Buku I). Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Soekarnto, T. dan U. S. winataputra. 1997. Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instrusional. Direktur jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sugandhy, A. 1995. Bioteknologi dan keselamatan hayati : Mengatisipasi Dampak Bioteknologi Modern Terhadap Kehidupan Manusia dan Etika. Konphalindo. Jakarta.

 

 

Umapathy, G., Sontakke, D., Srinivasu, K., Kiran, T., Kholkute, S.D. dan Shivaji, S.  2006.  Estrus behavior and fecal steroid profiles in the Asiatic lion (Panthera leo persica) during natural and gonadotrophin-induced estrus.  Animal Reproduction Science Vol. 101 (3-4).  hal: 313-325.

About these ads
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 58 other followers