JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

Manusia dan Lingkungan July 7, 2009

Filed under: Lingkungan Sosial — Urip Santoso @ 7:43 am
Tags: , ,

Oleh:

PENDAHULUAN

Dalam bab ini uraian akan difokuskan pada manusia dan lingkungan, yang didalamnya tercangkup juga tentang sejarah perubahan lingkungan hidup, perubahan lansekap, dan lansekap alami di daerah perkotaan. Pada prinsipnya, manusia itu hidup dari penyangga kehidupan mereka yang disebut biosfier. Budaya manusia ini berkembang dari masyarakat pemburu sejak jaman prasejarah, kemudian menjadi masyarakat pengumpul, dan kemudian menjadi peladang. Mereka mengerjakan pertanian dengan cara menetap dan selanjutnya masyarakat industri. Demikian pula populasi (jumlah) manusia terus bertambah dari waktu termasuk penyebarannya. Perubahan dan perkembangan manusia ini sangat berpengaruh terhadap biosfer, yakni sumberdaya alam dan penyangga kehidupannya.

a. Tujuan

1. Untuk menyusun Karya Tulis Ilmiah hasil pengkajian dengan Judul ”Manusia dan Lingkungan”.

2. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis dalam rangka proses penyelesaian tugas yang dibebankan kepada mahasiswanya.

b. Lingkup Bahasan

         Karya tulis ilmiah ini difokuskan pada Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan

A. SEJARAH PERUBAHAN LINGKUNGAN HIDUP.

Dengan pejalanan waktu, struktur tata lingkungan juga mengalami banyak perubahan, Adapun, urutan perubahan itu seperti berikut:

1. Tata Lingkungan Alami.

Mahluk hidup secara keseluruhan merupakan penyebab utama tejadinya berbagai perubahan dalam sistem kehidupan. sejakjaman dulu, kecuali manusia, mahluk hidup yang lain itu menjadi penyebab timbulnya perubahan alam yang tericikan, keseimbangan, dan keselarasan.

Tata lingkungan alami merupakan lingkungan yang belum tejamah oleh kehidupan manusia, struktur bentuk lingkungan alami masih ditentukan oleh faktor‑faktor alami itu sendiri seperti : Iklim, tanah, vegetasi jasad hidup, tumbuhan dan hewan. Karena, faktor‑faktor atau elemen‑eleman yang mempengaruhi struktur dari ekosistem tidak saina sifatnya, tidak mengherankan jika bumi terdapat ragam itu umumnya berubah sifat dan wajahnya disebabkan oleh bencana alam dan atau keran ulah manusia.

2. Tata Lingkungan Manusia sebagai Pemburu dan Pengumpul

Dalam perkembangan selanjutnya, pada masa manusia hidup sebagai pemburu dan pengumpul, manusia belum mengenal pertanian dan petemakan. Mereka belum memiliki tempat tinggal yang tetap. Mereka umunmya hidup berpindah­pindah dari satu tempat ke tempat yang lain secara berkelompok. Tumbuhan­tumbuhan dan biji‑bijian yang dapat dimakan, mereka kumpulkan dari hutan, rawa, padang rumput, atau hewan yang berhasil mereka buruh dihutan, didanau atau disungai.

3.Tata Lingkungan Masa Manusia Bertani Menetap

Pada fase ini manusia mulai melakukan aktivitas berladang tetapi masih berpindah‑pindah dengan bercocok tanam. Umumnya mereka telah menanwn jenis tanaman tertentu yang dapat dimanfaatkan untuk menompang hidup dan kehidupannya. Mereka juga telah bertemak jenis hewan tertentu, sehingga mereka dapat melakukan pembudidayaaan tumbuh‑tumbuhan dan hewan peliharaan. Peladangan berpindah pada dasamya terdiri dari atas mebuka sebidang tanah dihutan dan menanami lahan hutan yang telah dibuka itu selama dua atau tiga tahun. Kemudian lahan itu ditinggalkan dan membuka lahan hutan yang baru ditempat lain. Pada saatnya panen, mereka kembali utnuk memetik hasil tanaman tersebut, kemudian menanam kembali dan seterusnya. Pada dasamya mereka hidup berpindah‑pindah dan bergerombol.

4.        Tata Lingkungan Masa Manusia Bertani Menetap

Dalam fase (perkembangan) ini, cara bercocok tanam dengan pola pertanian menetap sudah dianggap sebagai tingkat evolusi tertinggi dalam perkembangan masayarakat agraris. Pertanian menetap dengan padi sawah sangat dimugkinkan, karena sistem sawah merupakan sistem yang terdukung keberlanjutannya (lesatri). Bertani secara menetap bisa dilakukan pada tanah kering atau tanah tergenang air atau tanah yang digenagi dengan air.

Berdasarkan perkembangan yang ada, pola pertanian yang awalnya dilakukan manusia ialah dengan bercocok tanam diatas tanah kering disekitar rumah yang dinamakan perkarangan. Tetapi dengan meningkatny7a jumlah anggota keluarga dan meningkatnya kebutuhan akan bahan makanan mereka, selanjutnya tanah pertanian semakin diperluas. Tanah tanah kering yang dijadikan daerah pertanian tetap ini dulunya, disebut tegalan. Disamping itu ada pertanian diatas tanah sawah, yakni tanah pertanian yang secara periodik atau terus menerus digenagi air dan ditanami padi atau tanaman pangan lainnya.

5. Tata  Lingkungan Pada Masa Industri

Peningkatan jumlah penduduk pada. negara, industri biasanya, disertai pula, dengan peningkatan kebutuhan hidup, baik secara. kuantitatif maupun kualitattif. Akbiat dari peningkatan kebutuhan hidup yang bemaekaragam. jumlah dan kualitasnya, menyebabkan terkurasnya. sumberdaya, alam. melalui berbagai cara. Perkembangan ini disesuaikan dengan kemajuan teklnologi yang ada, yang sudah dikuasai manusia. Beban atas sumberdaya, alam semakin hari semakin berat. Pada. negara maju (industri) terjadi perubahan struktur dan ekosistem yang meliputi:

1). Perubahan dalam bidang pertanian, seperti pengaturan hak‑hak atau tanah, sistem pertanian, mekanisasi dan perbaikanj keteknikan. perubahan struktur usaha. tani, penggunaan pupuk pabrik dan obat‑obatan.

2). Perkembangan kota‑kota, yang mendatangkan. timbulnya, urbanisasi

3). Perubahan yang sangat fundeamental seperti lahimya, ” Masyarakat Industri” disamping” Masyarakat Agraris, timbulnya manyarakat pengusaha, masayarakat tenaga kerja, dan masayarakat pelayan jasa.

4). Timbulnya, masalah‑masalah kota, besar seperti masalah “Human Ekologi”, sosial hygienis dan masalah sosial psychologis.

5). Pertumbuhan. penduduk yang menanjak dengan segala, akibatnya.

Kota industri temyata, memiliki pengaruh negatif pada, tumbuh‑tumbuhan dan hewan. Dengan menurunnya, permukaan air tanah, tertutupnya, sebgain besar permukaan tanah oleh rumah‑rumah, gedung gedung, tercemamya, tanah karena, masuknya, bahan‑bahan kimia, dan. sisa‑sisa, buangan dari industri, menyebabkan gangguan pertumbuhan tanaman.

Dengan adanya, indutrialisasi berubah pula stmktur dan lingkungan alami dari daerah pedesaaan. Dalam tahapan ini, yang paling menyolok adalah terjadinya urbanisasi tenaga‑tenaga di desa, semakin menyempitnya, lahan pertanian, semakin meluasnya daerah kota dan daerah industri serta masuknya teknologi modemt ke desa, semua itu mendorong munculnya urbanisasi. Wajah lahan pertanian dalam phase industri jauh berbeda dengan wajah sebelumnya. Yang sangat mencolok adalah perubahan‑perubahan berikut ini :

1). Keanekaragaman sistem pertanian dan wajah pertanian tidak tampak lagi, pertanian lebih banyak mononton dan menjemukan.

2). Hutan‑hutan kecil yang dulu tersebar merata, sudah tidak tampak lagi.

3). Sapi‑sapi penarik alat pertanian sudah diganti dengan mesin‑mesin dan trkator, demikian pula untuk memanen hasil bumi yang tadinya menggunakan tenaga manusia, diganti dengan tenaga mesin.

4). Pemberantasan hama yang dahulu banyak dilakukan secara mekanis, diganti dengan cara penyemporotan dengan obat‑obatan dan sebagainya.

Dengan adanya perubahan tersebut, pengaliran energi dan materi dalam ekosistem pertanian dalam phase indutri sangat berbeda dengan wajah pengaliran energi dan materi dari ekosistem pertanian pada phase sebelum industri. Perubahan struktur dan tata lingkungan dari daerah pedesaaan dinegara‑negara maju mendatangkan pula masalah yang, sifatnya lebih banyak sosial ‑ politik dan sosial ‑ ekonomi, yaitu : timbulnya perebutan lahan untuk keperluan industri, pertanian, perdagangan, pemukiman, dan relcreasi/wisata.

B. PERUBARAN LANSEKAP

Lansekap secara terus‑menerus berubah, secara perlahan berdasarkan kurun waktu tertentu, dalam waktu geologis dan evolusi dengan proses geomorfologi. Seluruhnya berubah dengan lebih cepat dengan pertgantian spesies secara lokal atau regional. Suatu pendekatan lansekap regional terhadap pelestarian, menuntut suatu integrasi metodologi ekologi yang mengkoordinasikan data dari spesies individual yang terdapat pada pola‑pola lansekap regional.

Berapa spesies langica mungkin mempunyai arti elcologis yang penting terhadap fungsi ekosistem. Didadalam perencanaan lansekap regional, pelestarian lanselcap secara keseluruhan dengan kelengakapan keanekaragaman genetik asli adalah sangat ideal. Hal itu untuk mempertahanakan spesies dan proses ekologis dalam suatu lansekap. Degradasi terhadap lansekap yang terjadi pada umumnya disebabkan oleh aktivitas manusia, sehingga menyebabkan perubahan yang jauh berbeda bila dibandingkan dengan gangguan pada lansekap alamiah.

Perkembangan terhadap peruabahan lansekap dapat dibedakan menjadi 5 (lima) tipe, menurut Forman dan Gordon (1986) meliputi hal‑hal berikut:

1). Lansekap Alamiah

     Dalam lansekap alamiah perubahan yang mungkin te~adi disebabkan oleh alam dan bukan sebagai akbiat dan kegiatan manusia. Dalam matrik lensekap alamiah, bercak dan koridor yang tedadi relatif kecil. Secara spatial bentuk koridor umumnya berbentuk alamiah seperti sungai. Dan jumlah koridor yang ada memperlihatkan suatu kecenderungan semakin meningkat dari lansekap alamiah menuju arah lansekap perkotaan.

2). Lansekap Pengelolaaan

     Pada lansekap wilayah pengelolaan, kegiatan pembalakan hutan menyebabkan bentuk‑bentuk bercak yang berbeda dalam ukuran dan tingkat degradasi yang tedadi. Hal ini menyebabkan kerusakan dan terdegradasi lahan. Pada Matrik yang tersisia umumnya hanya dapat ditemukan dominasi beberapa jenis yang dicadangkan untuk diproduksi. Hara mineral menjadi terdegradasi, akibat dilarutkan oleh besaran laju air limpasan, terutama pada lahan‑lahan terbuka untuk pembukaaan lahan, pembukaaan wilayah Oalan), dan lokasi pembekalan.

3). Lansekap Budidaya

Perkembangan budidaya usaha tani merupakan tahap awal kegiatan manusia dalam pengelolaaan bentang alam, yang erat kaitannya dengan pengembangan wilayah dan transportasi. Karakteristik lansekap budidaya ada tiga tahapan dalam prosesnya yaitu : tradisionil budidaya usaha tani, kombinasi tradisionil dan modem dan modem. Bersamaan dengan dilakukannya kegiatan budidaya usaha tani tersebut, mulai tumbuh dan berkembang bentuk‑bentuk pemukiman terpencar, berangsur‑angsur mengelompok, dan pada akhimya mulai menyatu. Untuk selanjutnya membentuk perkemapungan kecil dan berubah menjadi pedesaaan dan atau perkotaan.

4). Lansekap Pedesaan

Pada lansekap ini masih ditemukan bercak asli, dimana jumlah ukuran dan bentuknya cukupnya bervariasi. Bentuk bereak lainnya merupakan hasil perubahan akibat gangguan aktifitas manusia, baik dlam bentuk kebun, ataupun perkarangan. Kelimpahan jenis dalam lansekap ini tinggi. Dibanding dengan bercak yang masih asli yang kehidupen liar seperti gulma, dan atau jenis‑jenis parasit. Pada lansekap ini juga dicirikan oleh jalur koridor sebagai penghubung cenderung meningkat. Perananan fungsi struktiur matrik sangat erat kaitannya dengan habitat dan sumber pakan satwa liar.

5). Lansekap Perkotaan

Pada saat perubahan karakteristik stmktur lansekap dalam bentuk alam terdegradasi menjadi bentuk alam perkotaaan, sebagai akbiat dari aktifitas manusia, disatu sisi cenderung menimbulkan bercak bercak baru yang berpengaruh terhadap perubahan lingkungannya. Pada sisi lain, jalur koridor menjadi meningkat, koridor periarian menjadi menurun yang diakibatkan karena kegiatan manusia dan gangguan alam, Proses perubahan bentuk pemukiman (Perkemapungan kearah perkotaaan), kadangkala terpusat dan pengembangannya diatur melalui bentuk‑bentuk kebiajakan.

Berdasarkan uraian diatas, dengan memperhatikan hamparan spatsial bentuk struktur lansekap dari pegunungan hingga lautan maka lansekap alamiah, lansekap pengelolaan, lansekap budidaya, lansekap pedesaan, dan lansekap perkotaaan, pada dasamya merupakan bercak. Fregmentasi habitat yang kini berlansung pada kawasan alami, biasanya dibebakan oleh ulah manusia. Seperd peralihan peruntukan lahan dari hutan menjadi area pertanian, area pertanian menjadi perkebunan atau pemukiman. Hal itu tentu saja bisa mengurangi peluang bagi satwa untuk hidup dan menjalankan kehidupannya, termasuk pengembangbiakan.

C. LANSEKAP ALAMI DI PERKOTAAN

Lingkungan kota sebagai penyangga kehidupan manusia merupakan pencampuran banyak habitat. Penyebaran Jumlah dan keanekargamanan fauna diberbagai kota sangat berhubungan dengan keanekaragaman dan struktur vegetasi yang selanjutnya akan menetukan kualitas habitat. Lingkungan kota secara cepat telah merubah habiat alami dan komunitas kehidupan liar menjadi unsur‑unsur buatan manusia (Man Made). Permukaaan berpaving dan lansekap buatan serta lahan rumput luas, memerikan sedikit tempat berlindung dan tempat berbiak bagi fauna.

Pertumbuhan dan perkembangan kota, telah memusnahkan banyak tempat yang diperlukan oleh satwa. Namun demikian masih banyak bagian kota yang menyimpan elemen, keanekaragaman , vegetasi, yarfg dapat ditemukan pada areal jurang, danau, kuburan, kampus yang luas dan hutan kota. Masalah yang paling utama adalah lingkungan yang tersisa itu terpisah‑pisah, sehingga membentuk pulau‑pulau yang terpisah seiring dengan berkembangnya kota. Untuk itu diperlukan koridor konservasi atau koridor perpindahan yang memungkinkan tumbuhan dan satwa, menyebar dari satu habitat ke habitat lain, sehingga memungkinkan aliran gen serta. kolonisasi lokasi yang sesuai.

Koridor konservasi adalah jalur‑jalur lahan yang dapat digunakan oleh kehidupan liar utnuk menghubungkan areal berhutang dengan areal hutan lainnya yang membentuk suatu sistem hutan yang besar (Spelberg & Sawyer, 1999). Dan unrtuk menciptakan hubungan antara lingkungan kota dengan. area pedesaan, dapat dilakukan melalui koridor‑k.oridor alami dan atau buatan. Koridor alami antara. lain berupa su’ngai, lereng yang curam. Sedangkan koridor buatan antara lain jalur kereta api, jalan raya, kanal, jalur tegangan tinggi. Koridor‑koridor ini sangat berpengaruh terhadap perpindahan dan penetapan kehidupan liar dikota/pedesaan).

Di dalam merencanakan ruang, terbuka jalur hijau perkotaaan, sumber perkotaaan yang mempunyai nilai spesial terhadap kehidupan liar harus diintegrasikan pada rencana (tata) ruang terbuka jalur hijau itu, Hal ini bukan hanya untuk tainan‑taman dan kawasan rekreasi belaka melainkan juga untuk hubungan antara lansekap alami dan buatan manusia sebagai ruang luar secara kesatauan.

PENUTUP

Tata lingkungan alami merupakan lingkungan yang belum te~amah oleh kehidupan manusia, struktur bentuk lingkungan alami masih ditentukan oleh faktor‑faktor alami itu sendiri seperti : Iklim, tanah, vegetasi jasad hidup, tumbuhan dan hewan. Karena faktor‑faktor atau elemen‑eleman yang mempengaruhi struktur dari ekosistem tidak sama sifatnya, tidak mengherankan jika bumi terdapat ragam itu umumnya berubah sifat dan wajahnya disebabkan oleh bencana alam dan atau keran ulah manusia.

Beban atas sumberdaya alam semakin hari semakin berat. Pada negara maju (industri) terjadi perubahan struktur dan ekosistem yang meliputi:

1).   Perubahan dalam bidang pertanian, seperti pengaturan hak‑hak atau tanah, sistem pertanian, mekanisasi dan perbaikanj keteknikan perubahan struktur usaha tani, penggunaan pupuk pabrik dan obat‑obatan. Perkembangan kota‑kota yang mendatangkan timbulnya urbanisasi. Perubahan yang sangat fundeamental seperti lahimya ” Masyarakat Industri” disamping” Masyarakat Agraris, timbulnya masyarakat pengusaha”, masayarakat tenaga kerja, dan masayarakat pelayan jasa.

2). Timbulnya masalah‑masalah kota besar seperti masalah “Human Ekologi”,sosial Hygienis dan masalah sosial psychologis.

3). Pertumbuhan penduduk yang menanjak dengan segala akibatnya.

Perubahan struktur dan tata lingkungan dari daerah pedesaaan  di negara‑negara maju mendatangkan pula masalah yang sifatnya lebih banyak sosial ‑ politik dan sosial ‑ ekonomi, yaitu timbulnya perebutan lahan untuk keperluan industri, pertanian, perdagangan, pemukiman, dan rekreasi/wisata.

Dari uraian‑uraian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa, struktur tata lingkungan juga mengalami banyak perubahan, adapun, urutan perubahan itu seperti berikut:

1). Lansekap Alamiah

     Dalam lansekap alamiah perubahan yang mungkin tedadi disebabkan oleh alam dan bukan sebagai akbiat dan kegiatan manusia.

2). Lansekap Pengelolaaan

     Pada lansekap wilayah pengelolaan, kegiatan pembalakan hutan menyebabkan bentuk‑bentuk bercak yang berbeda dalam ukuran dan tingicat degradasi yang terjadi. Hal ini menyebabkan kerusakan dan terdegradasi lahan.

3). Lansekap Budidaya

     Perkembangan budidaya usaha tani merupakan tahap awal kegiatan manusia dalam pengelolaaan bentang alam, yang erat kaitannya dengan pengembangan wilayah dan transportasi. Karakteristik lansekap budidaya ada tiga tahapan dalam prosesnya yaitu : tradisionil budidaya usaha tani, kombinasi tradisionil dan modem dan modem.

4). Lansekap Pedesaan

Pada lansekap ini masih ditemukan bercak asli, dimana jumlah ukuran dan bentuknya cukupnya bervariasi. Bentuk bercak lainnya merupakan hasil perubahan akibat gangguan aktifitas manusia, baik dlam bentuk kebun, ataupun perkarangan. Kelimpahan jenis dalam lansekap ini tinggi. Dibanding dengan bercak yang masih asli yang kehidupan liar seperti gulma, dan atau jenis‑jenis parasit.

5). Lansekap Perkotaan

Pada saat perubahan karakteristik struktur lansekap dalam bentuk alam terdegradasi menjadi bentuk alam perkotaaan, sebagai akbiat dari aktifitas manusia, disatu sisi cenderung menimbulkan bercak bercak baru yang berpengaruh terhadap perubahan lingkungannya.

Lingkungan kota sebagai penyangga kehidupan manusia merupakan pencampuran banyak habitat. Penyebaran Jumlah dan keanekargamanan fauna diberbagai kota sangat berhubungan dengan keanekaragaman dan struktur vegetasi yang selanjutnya akan menetukan kualitas habitat. Lingkungan kota secara cepat telah merubah habiat alami dan komunitas kehidupan liar menjadi unsur‑unsur buatan manusia (Man Made). Permukaaan. berpaving dan lansekap buatan serta lahan nnnput luas, memerikan sedikit tempat berlindung dan tempat berbiak bagi fauna.

DAFTAR PUSTAKA

Forman, R.T.T ang M. Gordon. 1986. Landscape ecologi. John Wiley & Sons.Inc

Soemarwoto, 0. 1989, Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Djambatan, Jakarta.

Soemarwoto, 0 1991, Indonesia dalam kancah 1su Lingkungan Global, Gramedia, Jakarta

Soeryani, M.R. Ahmad, R.Munir 1987. Lingkungan sumber daya alam dan kependudukan. Universitas Indonesia, Jakarta.

Spellerberg, I.E. and Sauryer, J., W.D. 1999. An Introduction to aplied biogeography, Cambridge Universitity Press.

Thohir, K.A. 1985. Butir‑buyir tata lingkungan. Bina Aksara Jakarta

About these ads
 

6 Responses to “Manusia dan Lingkungan”

  1. IIs Says:

    Izin Copy yaCh

  2. henryaja Says:

    artikel2 tntang lingkungannya istimewa pak….thks dah berbagi ilmunya…smga ga bosen2 dngn permasalahan lingkungan yg smkin kmpleks dan mmerlukan perhatian yg mendalam, btw bgaimana caranya untuk mewujdukan kota2 yng ramah lingkungan?apa yg perlu kita lakukan untuk mncapai itu?dan mulai dari mana?trims salam kenal,salam lestari…henry

  3. [...] Judul           : Manusia dan Lingkungan [...]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 64 other followers