JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

Fungsi Lahan Sawah Dalam Preservasi Air January 14, 2010

Filed under: lingkungan — Urip Santoso @ 11:03 pm
Tags: , ,

Agusman Yulianto

Abstrak

Salah satu fungsilahan sawah adalah kemampuannya untuk mempreservasi air (air yang sudah digunakan pada sawah dapat didaur ulang secara alami). Perkiraan jumlah air yang dipreservasi didasarkan pada neraca air yang ada pada system sawah. Lahan sawah menerima air dalam bentuk hujan serta irigasi, selanjut air yang keluar berbentuk aliran permukaan (run off), penguapan dan evapotranspirasi, serta perkolasi.air aliran permukaan dan aliran bawah permukaan (sub-surface flow) sebagiannya akan mencapai sungai serta bendungan dan dapat digunakan kembali untuk irigasi. Demikian pula air perkolasi mengisi kembali air tanah dan air tanah ini dapat digunakan kembali untuk berbagai keperluan. Metode Replacement Cost dipakai dalam peniaian fungsi sawah dalam preservasi air tanah. Luas lahan wilayah yang dinilai seluas 199.985 ha terletak didaerah aliran Sungai Citarum. Lahan sawah didaerah aliran sungai Citarum mempreservasi air tanah sebesar 169.937.254 m³/tahun,sebagian dapat digunakan untuk irigasi dan sebagian untuk air minum. Jumlah tersebut apabila dinilai secara ekonomi setara dengan US$ 5.098.000/tahun untuk irigasi dan US$ 8.744.680/tahun untuk air minum. Alih fungsi lahan sawah menyebabkan berkurangnya salah satu fungsi lingkungan yaitu fungsi preservasi air tanah.

Kata kunci : Preservasi, lahan sawah, irigasi, lingkungan.

I. PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Sebagai salah satu Negara tropis, air merupakan salah satu sumber daya alam penting walaupun terkadang tidak mendapat banyak perhatian, kecuali apabila terdapat kelangkaan atau kekeringan ataupun berlimpah (banjir). Kelangkaan air bagi pertanian dapat disebabkan antara lain karena menciutnya areal pertanian menjadi areal urban dan industri. Sumber daya air tanah berkurang dan upaya mendapatkan sumber daya air baru terhenti karena alasan biaya dan lingkungan. Situasi ini dimasa depan dapat merupakan ancaman serius bagi negara kita terutama bagi ketahanan pangan. Hal demikian sudah terjadi di Pakistan yang merupakan negara irigasi terbesar di dunia yang mengalami peningkatan kekeringan dari tahun ketahun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk (IWMI, 2001).

Bagi kehidupan makhluk, air bukan merupakan hal yang baru, karena kita ketahui bersama tidak satupun kehidupan di dunia ini dapat berlangsung tanpa adanya air. Oleh karena itu, air dikatakan sebagai benda mutlak yang harus ada dalam kehidupan manusia keberadaan air dimuka bumi diketahui menempati lebih kurang ¾ bagian  dari luas permukaan bumi. Dari seluruhan sumber di bumi, ternyata 97% lautan dan 3% sisanya merupakan air hujan, salju, dan air dalam tanah.

Kebijakan yang kurang tepat terutama dalam penempatan berbagai kawasan industri pada area pertanian yang subur khususnya dilahan sawah merupakan ancaman bagi produksi padi. Hal ini terutama disebabkan karena produksi padi umumnya berasal dari lahan sawah., sehingga perubahan fungsi lahan sawah akan berakibat nyata terhadap ketahanan pangan. Hasil penelitian Wahyunto et al. (2001) mendapatkan bahwa selama periode tahun 1969 sampai tahun 2000 lahan sawah di Sub DAS Citarik berkurang 3% atau seluas 787 ha. Selain itu, selama kurun waktu 30 tahun paling sedikit 8% atau seluas 2.079 ha lahan hutan berubah menjadi area pertanian lahan kering dan perkebunan. Dibandingkan dengan Sub DAS lainnya dari DAS Citarum, Sub DAS Citarik yang terdapat di Kabupaten Sumedang dan Bandung merupakan areal yang mengalami perubahan penggunaan lahan, baik karena tekanan penduduk maupun faktor lainnya seperti perkembangan industri, jasa dan properti.

Sungai Citarum merupakan sungai terbesar di Propinsi Jawa Barat, yang sebagian besar pemanfaatanya adalah untuk irigasi lahan sawah. Propinsi ini dihuni oleh sekitar 44 juta jiwa  yang sebagian besar penduduknya bergantung disektor pertanian dan merupakan salah satu daerah penghasil padi yang secara nyata berkontribusi sebagai pemasok padi Nasional (Biro Pusat Statistik, 2000).

Tiga buah waduk telah dibangun disepanjang Sungai Citarumyang mengalir dari Kabupaten Sumedang dibagian utara dan Kabupaten Bandung di selatan, bermuara kepantai utara pulau Jawa. Waduk pertama adalah Saguling, kedua Cirata dan yang ketiga Jatiluhur berada di Kabupaten Purwakarta merupakan salah satu sumber air minum bagi Propinsi DKI Jaya melalui saluran induk Tarum Barat.

Selain kemampuannya dalam menghasilkan bahan pangan dan serat, lahan sawah mempunyai fungsi atau manfaat. Fungsi lain lahan sawah yang akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian Internasional adalah kemampuannya untuk pencegahan banjir, konservasi sumber daya air, pencegahan terjadinya longsor dan kemampuannya untuk pemanfaatan rekreasi (Yoshida, 2001).

Peranan air terutama dalam produksi pertanian sudah banyak diketahui, khususnya penggunaan air untuk kepentingan irigasi. Demikian juga untuk kepentingan lainnya seperti rumaah tangga dan industri. Peran atau funsi laahan sawah daalam preservasi melalui proses infiltrasi dan perkolasi menyebabkan tersimpannya air dalam tanah. Pemanfaatan air tersebut belum banyak dievaluasi atau dinilai orang.

1.2. Tujuan Penulisan

Melakukan penilaian terhadap jumlah sumber daya air tanah di DAS Citarum sebagai akibat dari adanya lahan sawah dan selanjutnya di evaluasi secara ekonomi dengan menggunakan metode biaya pengganti (replacement cost method).

1.3. Manfaat luaran penulisan

Memberikan informasi tentang nilai ataupun harga dari fungsi lahan sawah dalam preservasi air dan kontribusinya dalam konservasi tanah, menahan banjir dan fungsi lainnya yang merupakan harga moneter nonmarket dari lahan sawah.

Selanjutnya dengan pertimbangan non market value, lahan sawah diharapkan memberikan apresiasi kepada pengguna khususnya penentu kebijakan untuk secara optimal memanfaatkan sumber daya alam yang ada sesuai dengan kemampuannya.

II. METODOLOGI PENULISAN

Metodologi penulisan dilakukan dengan melakukan telaah pustaka. Pengumpulan pustaka/literature dilakukan dengan searching, browsing buku, jurnal dan artikel diperpustakaan dan internet. Kemudian pustaka/literature yang didapat dianalisis dan ditelaah untuk mendapatkan ragam informasi yang dibutuhkan dan selanjutnya mensintesisnya untuk mendapatkan sebuah informasi yang baru. Dalam menganalisa-sintesis pustaka/literature yang ada digunakan  metode induksi.

III. ISI DAN PEMBAHASAN

3.1. Deskripsi Umum

Berdasarkan pada hukum alam yang berlaku, tidak semua air ada di bumi selalu mengikuti daur (cyclus) air. Beberapa diantaranya ada yang secara kekal menetap di alam  seperti air kutub, air dibawah lapisan tanah yang dalam dan berada ditempat tersebut sejak beberapa ribu yang silam. Waktu yang dibutuhkan oleh air permukaan untuk mengikuti siklus air secara lengkap (perkolasi-evaporasi dilaut  presipitasi) adalah selama kurang lebih tiga empat tahun tergantung lama nya air berada dipermukaan tanah seperti di danau rawa, bendung dan lain sebagainya. Bagi air yang mengalami siklus yang tidak lengkap (missal presipitasi-evaporasi-presipitasi) diperlukan waktu yang relative lebih singkat lagi, mungkin dalam hitungan harian atau bahkan dalam beberapa jam saja.

DAS Citarum dengan area sekitar 748.460 ha mempunyai tiga buah waduk, yaitu Saguling di selatan, Cirata dibagiann tengah, serta Jatiluhur dibagian utara. Ketiga waduk tersebut mempunyai peran yang sangat penting untuk industri karena merupakan sumber listrik bagi pulau Jawa dan Bali, selain untuk kepentingan perikanan dan pertanian. Bagian DAS yaitu di bagian hulu waduk Saguling mencakup area seluas 257.600 ha, bagian hulu waduk Cirata  termasuk bagian hulu Saguling seluas 415.700 ha serta bagian hulu sub DAS Jatiluhur seluas 456.900 ha (Wahyunto, et al., 2002). Penggunaan tanah bervariasi dan didominasi oleh pertanian campuran (mixed farming) yang merupakan kombinasi tanaman semusim dan tahunan, pertanian lahan kering serta sawah. Curah hujan tahunan di daerah hulu yaitu di dataran Bandung bervariasi dari sekitar 1.700 mm di tengah Bandung plateau sampai 3.600 mm di bagian utara, dan sekitar 3000 mm di bagian selatan. Berdasarkan data sepuluh tahunan (1989 – 1998), curah hujan rata-rata disekitar bagian Barat dataran Bandung mencapai 2097 mm (Pudjiadi, 1999).

Pengelolaan curah hujan dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama memandang hujan sebagai informasi dengan melakukan pengumpulan, analisis dan interpretasi data hujan dengan baik serta menggunakannya sesuai kebutuhan. Kedua adalah mengelola air hujan di tanah dan memanfaatkannya secara efisien dan efektif bagi peningkatan produksi tanaman.

Adapun dasar pemanfaatan curah hujan adalah dengan memperhitungkan keseimbangan antara air yang diterima dan dikeluarkan oleh suatu lahan pertanian atau lebih dikenal dengan istilah neraca air. Hasil perhitungan neraca air berupa berupa perubahan kadar air tanah, surplus dan deficit air serta limpasan.

Keseimbangan air ditanah pertanian tergantung pada air yang diterima dari air hujan dan pengairan dengan kehilangan air oleh limpasan (run off), rembesan (perkolasi), dan penguapan (evapotranspirasi) dari tanah yang bersangkutan.

Berdasarkan kesetimbangan, air yang tersedia dan dapat digunakan oleh tanaman hanya sedikit, sebab tanaman hanya menyerap air dari lapisan permukaan, yaitu sebatas jelajah akar tanaman. Laju kehilangan air dari tanah sedaalam jelajah akar tanaman, berbeda pada setiap jenis tanah, bahkan pada setiap lahan pertanian, hal mini tergantung pada kemampuan tanah untuk menahan air (water holding capacity), jenis tanaman dan fase pertumbuhan tanaman, serta perpaduan antara tanaman dan tanah.

3.2. Fungsi konservasi sumber daya air

Perhitungan serta prakiraan jumlah air yang dipreservasi didasarkan pada keseimbangan air yang ada di lahan sawah. Lahan sawah menerima air dalam bentuk hujan serta irigasi. Selanjutnya air yang keluar berbentuk aliran permukaan (run- off), penguapan dan transpirasi (evapotranspirasi) serta perkolasi.

Didalam DAS yang baik, air perkolasi tersebut secara kontinyu akan mengalir dan mengisi waduk waduk melalui aliran bawah tanah.

Air tanah yang dipreservasi ini merupakan salah satu fungsi eksternal dari sawah dan dapat dievaluasi menggunakan statistic dan penjelasan deskriftif. Beberapa metode yang digunakan untuk mengevaluasi fungsi eksternal yaitu : Damage Cost Avoided (DCA), Substitute Cost Method (SCM), dan Replacement Cost Method (RCM). Metode biaya pengganti digunakan untuk menaksir biaya pengganti yang disebabkan oleh lingkungan (ecosystems services) (Yabe, 2002; Matsumoto, 2002), termasuk diantaranya fungsi preservasi air.

Penilaian preservasi air menggunakan metode RCM dengan persamaan sebagai berikut :

WCr = (RO + LSS) x A x (Dc + Mc)

Dimana :

WCr = biaya pengganti  (replacement cost) dari irigasi dan hujan melalui sawah yang akhirnya mencapai sungai dan waduk (US$/tahun)

RO = jumlah air aliran permukaan tahunan berasal dari sawah dan berakhir di waduk (m³/tahun)

LSS = aliran air bawah tanah lateral (diasumsi 75%) sebagai bagian dari perkolasi dari sawah dan berakhir di waduk melalui aliran lateral (m³/tahun)

A =  luas sawah (m²)

Dc = biaya penyusutan waduk untuk setiap unit air yang disimpan   (US$/m³/tahun)

Mc = biaya pemelihaaraan waduk untuk setiap unit air yang disimpan (US$/m³/tahun)

Untuk mendapatkan data dan parameter-parameter yang digunakan dalam menilai preservasi air dari lahan sawah dilakukan melalui studi literature dan survey lapangan untuk memperkirakan nilai tersebut. Data serta metode/sumber data dalam perkiraan nilai preservasi air disajikan pada tabel 1.

Tabel 1. Data serta metode/sumber data dalam perkiraan nilai  preservasi air di DAS Citarum

Data yang diperlukan Sumber/metode perkiraan
Total volume air irigasi

Jumlah air yang melalui sawah dan akhirnya mengalir ke sungai

Jumlah air tanah yang diperlukan (pertanian)

Biaya perawatan dan depresiasi dari waduk

Dan bangunan irigasi

Studi literature, data statistic

Survei lapangan, studi literature

Survei lapangan dan/atau perkiraan

Perusahaan listrik tenaga air (PLTA)

Kebutuhan air irigasi padi sawah yang pernah dihitung oleh Fagi dan Sanusi (1983), berdasarkan rumus PB = ET + (S + P) – ER, dimana PB = kebutuhan air irigasi; ET = evapotranspirasi; S = limpasan air dibawah permukaan (seepage); P = perkolasi; ER = curah hujan efektif. Kebutuhan air irigasi padi sawah dari tanam sampai pengisian gabah rata-rata 13 mm/hari. Jumlah kebutuhan air ini lebih banyak dari hasil penelitian lainnya. Untuk keperluan irigasi, Didiek (1998) mendapatkan jumlah air antara 535,5 sampai 735,8 mm selama kurang lebih 70 hari. Umumnya Perum Otorita Jatiluhur menyediakan air irigasi selama 11  bulan. Sembilan bulan dari penyediaan air itu digunakan untuk pertanaman padi dua kali daalam setahun, sisa waktu yang ada umumnya untuk penanaman Palawija. Pola pertanaman padi dua kali dalam setahun dipilih untuk perhitungan penggunaan air untuk seluruh area DAS Citarum. Dengan asumsi ini, air irigasi yang tersedia  selama 120 hari dalam setahun. Selain dari irigasi, untuk perhitungan air yang masuk kelahan sawah berbentuk hujan diasumsikan  sebesar 2.500 mm/tahun.

Air perkolasi merupakan air yang terinfiltrasi kemudian dapat mengalir sebagai rembesan (seepage) ataupun mengalir kebagian bawah. Besarnya perkolasi menurut Fagi dan Sanusi (1993) adalah sebesar 10,3 mm/hari. Sedangkan evapotranspirasi sebesar 4 mm/hari.

Dari studinya didataran Bandung, Pudjiadi (1999) mendapatkankan jumlah evapotranspirasi yang dihitung berdasarkan  metode Penman, jumlah yang bervariasi  dari 2,71 mm/hari (Mei) sampai 3,80 mm/hari (September). Nilai evapotranspirasi  di Korea adalah sebesar 3,35 mm/hari (Eom and Kang, 2001) lebih kecil dibandingkan dengan asumsi nilai evapotranspirasi untuk perhitungan ini yaitu sebesar 4 mm/hari. Asumsi ini disebabkan antara lain tingginya temperature  serta lama penyinaran matahari di Indonesia. Lama perkolasi secara umum adalah 110 hari untuk setiap musim tanam, walaupun dibeberapa daerah terdapat padi yang dapat dipanen kurang dari 100 hari. Beberapa varietas padi dan umur panen nya antara lain Mamberamo 115 hari, Cisantana, Widas, dan Ciherang antara 118 – 125 hari.

Dari perkiraan jumlah air yang terinfiltrasi selanjutnya berperkolasi menjadi air tanah, Kyun (2001) serta Eom and Kang (2001) memperkirakan sejumlah 45%  yang menjadi air tanah. Pulawski (1974) dalam Pudjiadi (1999) dengan studi kapasitas infiltrasinya dibeberapa daerah di dataran Bandung memperkirakan 40 – 85% air hujan terinfiltrasi kedalam tanah. Untuk perhitungan ini persentase air yang terinfiltrasi tersebut sebagian besar (75%) mengalir kembali ke sungai. Sisanya sebanyak 25% merupakan bagian yang menjadi air tanah.

Data dan asumsi tersebut terlihat sederhana, walaupun dalam kenyataan dilapangan sangat kompleks dan merupakan suatu rangkaian yang saling berhubungan. Hal ini antara lain dikemukakan oleh Molden et al . (2001), cara penggunaan air disalah satu bagian dari DAS akan berakibat pada penggunaan air tersebut dibagian lain dari DAS. Oleh karena itu pengembangan dan pengolahan  DAS merupakan hal yang rumit. Walaupun demikian pendekatan asumsi-asumsi yang umum tersebut diharapkan mendekati nilai sebenarnya.

Berdasarkan asumsi tersebut diatas neraca air untuk sawah di DAS Citarum dihitung dan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Neraca air pada lahan sawah di DAS Citarum

Item Kecepatan Lama Jumlah
Input :

Irigasi

Hujan

Total

Output :

Perkolasi

Mengalir kembali kesungai

Air tanah

Evapotranspirasi

Run off

mm/hari

13

10,3

4

hari/tahun

120

220

365

mm/tahun

1.560

2.500

4.060

2.266

1.700

567

1.460

334

Selanjutnya biaya pengganti (replacement cost) untuk fungsi konservasi/preservasi air tanah dihitung dengan biaya depresiasi waduk sebesar US$ 0,003/m³/tahun. Biaya depresiasi dan pemeliharaan waduk berasal dari biaya rata-rata depresiasi dan pemeliharaan ketiga waduk. Asumsi harga air bersih dihitung dari harga air dibagi jumlah air yang disalurkan pada tahun 2000 di kota Bandung, yaitu sebesar US$ 0,1/m³ (Biro Pusat Statistik Kota Bandung, 2000) dengan kurs 1 US$ sebesar Rp. 10.000,-.

Luas lahan sawah di DAS Citarum sebesar 199.985 ha dan area ini memberikan kontribusi terhadap air tanah. Selanjutnya diperhitungkan pula jumlah air tanah yang di konsumsi oleh penduduk untuk keperluan sehari-hari. Total biaya keseluruhan setelah perhitungan neraca air dan luas area sawah diketahui, ditampilkan pada tabel 3.

Tabel 3. Jumlah air serta biaya pengganti (replacement cost) air tanah di DAS Citarum

Item Jumlah
Jumlah air yang mengalir dari sawah kembali ke sungai (m³/tahun

Jumlah air perkolasi yang menjadi air tanah (m³/tahun)

Luas lahan sawah (ha)

Volume air perkolasi yang menjadi air tanah (m³)

Volume air perkolasi yang mengalir ke sungai (m³)

Volume air tanah (m³/tahun)

Biaya depresiasi dam (US$/m³/tahun)

Biaya pemeliharaan dam (US$/m³/tahun)

Nilai konservasi air lahan sawah (US$/tahun)

Konsumsi domestic air di Saguling (m³/tahun)

Konsumsi domestic air di Jatiluhur (m³/tahun)

Penyimpanan air tanah total di Saguling (m³)

Asumsi total air tanah di Jatiluhur (m³)

Harga air minum (US$/m³)

20.340

5.670

199.985

169.937.254

4.066.694.975

169.937.254

0,045

0,003

5.098.118

49.300.000

87.446.800

339.680.000

602.513.773

0,10

Nilai konsumsi air perkolasi (US$/tahun)

Jumlah total konservasi air dari lahan sawah (US$/tahun)

8.744.680

13.842.798

Total nilai harga untuk fungsi konservasi air tanah setiap tahun adalah US$ 5.098.118. Dari jumlah ini ditambahkan penggunaan air untuk konsumsi penduduk sebesar US$ 8.744.680. Nilai ini akan bertambah apabila biaya keseluruhan dari instalasi air pompa atau sumur, saluran utama, dan saluran penyalur ke pengguna ikut di perhitungkan.

Pendekatan dalam pengelolaan sumber daya air adalah dengan melalui supply management dan demand management. Supply management adalah mempertahankan pasokan dan permintaan yang seimbang didalam suatu wilayah, atau satuan pengelolaan lainnya.

Dalam supply management lebih ditekankan kepada upaya peningkatan ketersediaan air melalui penyediaan prasarana fisik maupun non fisik.

Demand management adalah lebih menekankan pada upaya pengaturan permintaan. Pengaturan tersebut menjaga agar permintaan air tidak memuncak pada saat yang bersamaan dengan penjadwaalan dan upaya menekan permintaan. Pengelolaan yang diperlukan adalah menyimpan air pada waktu berlebihan dimusim penghujan dan memanfaatkannya pada waktu kekurangan dimusim kemarau. Lingkup penangnanan yang perlu ditingkatkan antara lain adalah pengelolaan data sumber daya air, pengalokasian air, pengelolaan kualitas, pengelolaan banjir, pemantapan operasi dan pemeliharaan.

IV. KESIMPULAN

Kebijakan penempatan berbagai kawasan industri pada areal pertanian yang subur khususnya lahan sawah merupakan ancaman bagi produksi padi dan berdampak negative bagi lingkungan. Alih fungsi lahan sawah menyebabkan berkurangnya salah satu fungsi lingkungan yaitu sebagai pendaur ulang air.

Lahan sawah seluas 199.985 ha di DAS Citarum  mempreservasi air tanah 169.937.254 m³/tahun. Nilai air tersebut dengan menggunakan replacement cost setara dengan US$ 5.098.000 untuk sebagian air yang digunakan kembali untuk irigasi dan US$ 8.744. 700/tahun bila 87 juta m³ air tersebut (yang mengisi air tanah) digunakan kembali untuk air minum.

Fungsi preservasi air akan berkurang sejalan dengan konversi lahan sawah. Oleh sebab itu nilai eksternal ini perlu menjadi bahan pertimbangan dalam konversi lahan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Urip Santoso, S.IKom., Ph.D. yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan dalam pengkayaan materi kepada penulis, sehingga penyusunan Karya Ilmiah ini dapat diselesaikan.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Kota Bandung, 2000. Bandung City in Figures 2000. CV. Ramadhan. Bandung.

Biro Pusat Statistik. 2000. Statistical Year Book of Indonesia. Biro Pusat Statistik. Jakarta.

Didiek, S.B. 1998. Alternative technique of water saving through intermittent irrigation system for rice crop. International Commision on Irrigation and Drainage. Volume II-A.31.p. 1-8 In Proceeding Water and Land Resources Development and Management for Sustainable Use. The tenth Afro-Asian Regional Conference. Bali, 19-24 July 1998.

Eom, K.C., and K.K.Kang. 2001. Assesment of environmental multifunctions of  rice paddy and upland farming in the republic of  korea. P. 37-48. International Seminar on Multi- Functionality of agriculture, 17 – 19 october 2001. JIRCAS, Tsukuba, Ibaraki, Japan.

Fagi, A.M. dan S.A. Sanusi. 1983. Meningkatkan efisiensi air irigasi dengan tekhnik budidaya tanaman pangan dan tehknik pengairan. Kumpulan makalah lokakarya penelitian padi, cibogo, Bogor 22-24 maret 1983. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. (Unpublished)

IWMI. 2001. Annual Report 2000-2001. Improving Water and Land Resources Management for Food, Livelihoods and Nature. Case Studies, Impacts and Outputs, Strategic Priorities 2000-2005. International Water Management Institute (IWMI) Colombo. Srilangka.

Kyun, Suh Dong. 2001. Social and economic evaluation of multi-functional roles of paddy farming. Rural Development administration, Farm Management Bureau, Republic of  Korea. P. 151 – 168. International Seminar on Multi-functionality of Agriculture, 17 – 19 October 2001. JIRCAS, Tsukaba, Ibaraki, Japan (Unpublished)

Matsumoto, R. 2002. Concept of Multifunctionality of Agriculture. Report of the Second Experts Meeting of the ASEAN-Japan Project on Multifunctionality of Paddy Farming and its Effects in ASEAN member countries, 7 – 9 Agustus 2002. Hanoi Vietnam, (Unpublished)

Molden, D.R., Sakthivadivel, and Jack Keller. 2001. Hydronomic Zones for Developing Basin Water Conservation Strategies Research Report 56. IWMI, Colombo. Srilanka.

Pudjiadi 1999. Hydrogeological Investigation for Locating the Collector Well in Lagadar-Nanjung-Margaasih areas, West Java, Indonesia. PT. Pudjiadi Prestige Ltd. Jakarta.

UNDP/GEF/IMO. 1998. Natural Resources Damage Assesment Manual for Ecosystem.

Wahyunto, M. Zainal Abidin, Adi Priyono, dan Sunaryo. 2001 Studi perubahan   penggunaan lahan di sub DAS Citarik, Jawa Barat dan DAS Kaligarang Jawa Tengah hlm. 39-63 dalam Prosiding Seminar Nasional Multifungsi Lahan Sawah. Bogor, 1 Mei 2001. Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan, Pertanian Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Bogor.

Wahyunto, H Sastramihardja, W. Wahdini, W. Priatna, dan Soenaryo. 2003. Potensi kerawanan longsor pada wilayah lahan pertanian di daerah aliran sungai citarum, Jawa Barat. Hlm. 99 – 112 dalam Prosiding Seminar Nasional Multifungsi dan Konversi Lahan Pertanian. Bogor, 2 Oktober dan Jakarta, 25 Oktober 2002. Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Bogor.

Yabe, M. 2002. Introduction of Examples in Quantitative Analysis on Multifunctionality. Report of the Second Experts eeting of ASEAN-Japan Project on Multifunctionality of Paddy Farming and Its Effects in ASEAN Member Countries, Hanoi, Vietnam 7-9 Agustus 2002. (Unpublished)

Yoshida, K. 2001. An Economic Evaluation of the Multifunctional of Agriculture and Rural Areas in Japan. Policy Research Institute. MAFF, Japan.

About these ads
 

One Response to “Fungsi Lahan Sawah Dalam Preservasi Air”

  1. ade Says:

    sayang ya, skrg ini sawah tersisihkan oleh kelapa sawit dan karet, mdh2an nanti kl beras gak ada, bs import dr thailand, ato tukar guling ama bali, tapi kl air yg gak ada , import dr mana ya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 58 other followers