JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

PENGENDALIAN DAMPAK AKTIVITAS PERKEBUNAN DAN PERLADANGAN TERHADAP SATWA LIAR September 6, 2010

Filed under: lingkungan — Urip Santoso @ 2:23 am
Tags: , ,

Oleh: Parpen Siregar

  1. I. Pendahuluan

Pemanfaatan sumberdaya lahan secara maskasimal untuk mencapai kesejahteraan rakyat merupakan tujuan yang luhur dan perlu didukung pemanfaanya. Tingginya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan ekonomi dan pembangunan semakin menambah tekanan terhadap pemanfaatan sumberdaya lahan. Hutan alam terus dikonversi untuk berbagai keperluan manusia, seperti untuk perkebunan, perladangan, hutan tanaman industri (HTI), HPH, pertambangan, pemukiman, industri, dll. Di Indonesia kegiatan perkebunan dan perladangan memberikan sumbangan terbesar dalam konversi hutan, selain aktivitas HPH dan HTI.

Sub-sektor perkebunan diusahakan baik oleh individu masyarakat dan korporasi dengan komoditi utama kelapa sawit dan karet. Luas perkebunan kelapa sawit Indonesia pada tahun 2007 sekitar 6,8 juta hektar (Ditjen Perkebunan, 2008 dalam Hariyadi, 2009) yang terdiri dari sekitar 60 % diusahakan oleh perkebunan besar dan sisanya sekitar 40 % diusahakan oleh perkebunan rakyat (Soetrisno, 2008). Luas perkebunan kelapa sawit diprediksi akan meningkat menjadi 10 juta hektar pada 5 tahun mendatang. Mengingat pengembangan kelapa sawit tidak hanya dikembangkan di wilayah Indonesia bagian barat saja, tetapi telah menjangkau wilayah Indonesia bagian timur. Perkembangan luas perkebunan kelapa sawit di Propinsi Bengkulu juga mengalami kemajuan yang sangat pesat dari 36.896 hektar pada tahun 1998 menjadi 93.727 hektar pada tahun 2006. Berkembangnya sub-sektor perkebunan kelapa sawit tidak lepas dari dukungan kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif berupa kemudahan perijinan dan bantuan subsidi investasi (Manurung, 2001). Sementara aktivitas perladangan dilakukan masyarakat secara individu dengan mnegusahakan tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan.

Namun aktivitas perkebunan dan perladangan yang membuka hutan ini menyebabkan rusaknya fungsi hutan, seperti fungsi sumber keanekaragaman hayati, fungsi menjaga tata air, fungsi pembersih udara dan lain-lain. Sumber keanekaragaman hayati akan menurun diantaranya terjadi penurunan jumlah dan jenis satwa liar akibat terjadinya degdarasi habitat. Oleh kerena itu pemanfaatan lahan untuk perkebunan dan perladangan harus tetap memperhatikan prinsip kelestarian lingkungan dan mempertahankan keanekaragaman hayati. Meskipun hutan telah konversi menjadi kebun dan ladang, hendaknya fungsi-fungsi hutan masih tetap berfungsi walaupun mungkin tidak dapat berfungsi sebaik pada saat hutan masih alami, tetapi paling tidak sebagian fungsi tersebut masih ada.

Tujuan penulisan makalah ini adalah mengidentifikasi dampak aktivitas perkebunan dan perladangan terhaap degradasi satwa liar dan dan memberikan alternatif solusi pemecahan masalah tersebut.

  1. II. Dampak Perkebunan dan Perladangan Terhadap Habitat Satwa

Aktivitas perusakan hutan alam untuk kegiatan perkebunan dan perladangan selain disebabkan oleh faktor ekonomi juga disebabkan oleh faktor budaya. Adimiharja (1992) melaporkan bahwa faktor budaya mempengaruhi masyarakat untuk melakukan perambahan hutan sebagai kawasan ladang berpindah (Adimihardja, 1992). Sementara itu dari faktor ekonomi, Mudofar (1999) menjelaskan pula dari sisi pendapatan, bahwa pemanfaatan hasil hutan di Kawasan Gunung Halimun Jawa Barat memberikan dampak nyata bagi peningkatan pendapatan yang mempunyai pendapatan dari luar hasil hutan kurangdari Rp 53.000/kapita/bulan. Hal ini berarti untuk memenuhi tingkat kebutuhan yang sama, masyarakat berpenghasilan rendah akan menekan pengeluarannya dengan mengambil sumberdaya hutan sebagai sumber pemenuhan kebutuhannya. Timbulnya pemanfaatan hutan oleh masyarakat lebih disebabkan oleh rendahnya tingkat pendapatan, rendahnya tingkat pendidikan dan  kurangnya lapangan pekerjaan (Kurniawan, 1999). Dampak aktivitas perkebunan dan perladangan ini akan mengakibatkan degradasi terhadap keanekaragaman hayati diantaranya satwa liar. Ekosistem tanpa satwa liar dikenal dengan ekosistem yang mati secara ekologis (ecologically dead). Berikut ini diuraikan beberapa penyebab degradasi satwa liar akibat pembukaan kebun dan ladang.

  1. 1. Deforestasi dan Degradasi Hutan

Deforestasi dan degradasi hutan menjadi kebun dan ladang akan menyebabkan penurunan keanekagaraman hayati satwa liar. Habitat alami satwa akan hancur dan menyebabkan migrasi satwa liar ke luar habitatnya. Selain itu pembukaan kebun dan ladang juga akan mengakibatkan terbunuhnya banyak satwa liar. Selain kebun dan ladang, jaringan jalan yang dibangun menuju perkebunan dan perladanga tersebut juga akan menyebabkan terfragmentasinya bentang alam hutan yang ada. Terfragmentasnya hutan akan menyebabkan hutan akan menjadi sangat sempit untuk didiami satwa dan mengakibatkan semakin sedikitnya makanan yang tersedia bagi satwa liar. Sumber makanan yang sedirkit menyebabkan rendahnya kepadatan populasi hebivora yang kemudian pula menentukan keberadaan karnivora besar (Meijaard et al., 2006). Perusakan habitat dan perburuan hewan mangsa telah diketahui sebagai faktor utama yang menyebabkan turunnya jumlah harimau secara dramatis di Asia (Seidensticker et al., 1999).

  1. 2. Pembakaran Lahan

Kegiatan perkebunan dan perladangan tidak lepas dari kegiatan pembakaran lahan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kehadiran titik api di lapangan hampir selalu berkaitan dengan kegiatan pembukaan hutan dan lahan (Saharjo,2003). Hal ini terjadi karena pada kegiatan pembersihan lahan (land clearing) untuk membangun perkebunan dilakukan dengan cara membakar agar cepat dan biayanya murah. Berbagai pemberitaan media massa dan hasil penelitian lapangan menyebutkan bahwa sebagian besar kejadian kebakaran hutan dan lahan berada di (berasal dari) lokasi pembangunan perkebunan kelapa sawit dan HTI. Penyebab utama kebakaran hutan tersebut diidentifikasi sebagai faktor kesengajaan oleh manusia (yang diperburuk oleh faktor alami, yaitu terjadinya musim kering yang panjang akibat El- Niño). Pada saat terjadi bencana nasional kebakaran hutan tahun 1997 media massa nasional melaporkan bahwa dari 176 perusahaan yang dituduh melakukan pembakaran hutan dalam pembukaan lahan, 133 di antaranya adalah perusahaan perkebunan (Down to Earth, 1997). Oleh karena itu, pembangunan perkebunan kelapa sawit turut bertanggung jawab sebagai salah satu penyebab utama bencana kebakaran hutan dan lahan seluas 10 juta hektar pada tahun 1997/98. Total kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997/98 diperkirakan mencapai US$ 9,3 milyar (Bappenas, 1999). Selain kerugian ekonomi kebakaran hutan juga akan menyebabkan kematian pada berbagai satwa liar.

  1. 3. Perburuan Satwa Liar

Kegiatan perkebunan dan perladangan juga akan meningkatkan perburuan ilegal satwa liar (illegal hunting). Perburuan ilegal merupakan salah satu ancaman terhadap kelestarian satwa liar. Bahkan ancaman perburuan terhadap satwa liar seringkali lebih besar dibandingkan ancaman hilangnya habitat satwa liar. Perburuan satwa liar ini untuk dijual untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Satwa dijual untuk berbagai keperluan mulai dari konsumsi, obat-obatan, ritual budaya dan spiritual, bahkan dijual hidup untuk dipelihara sebagai simbol sosial. Selain itu  ada beberapa jenis satwa liar yang dijadikan masyarakat sebagai sumber protein.

  1. 4. Pembangunan Jalan Perkebunan  dan Perladangan

Jalan-jalan yang dibangun oleh perkebunan dan tersedianya sarana transportasi akan semakin meningkatkan aksesibilitas pemburu. Jalan menyebabkan pemanenan hidupan satwa liar berlebihan dan menurunkan populasi satwa liar karena dengan adanya jalan memfasilitasi terjadinya peningkatan imigrasi karena peningkatan aksesibiltas masyarakat, meningkatkan penebangan hutan di sepanjang jalan sehingga mengurangi luas dan memecah habitat, meningkatkan akses ke pasar, dan menghilangkan daerah-daerah yang tidak bisa diakses dan lokasi sumberdaya yang masih utuh untuk memperbaiki kondisi populasi satwa liar (Meijaard et al., 2006). Pembuatan jalan untuk pengangkutan sawit oleh PT. Alno Agro Utama di kawasan konservasi gajah ditengarai akan mengganggu upaya konservasi gajah. Pembukaan jalan tersebut akan memudahkan kegiatan illegal hunting terhadap gajah dan harimau sumatera. Tahun 1989 jumlah populasi gajah sebanyak 475 ekor dan sekarang hanya tertinggal 100 ekor, sedangkan yang dipelihara pusat pelatihan gajah sebanyak 30 ekor yang 18 diantaranya sudah mati akibat perburuan. Data periode Desember-Juni 2009 setidaknya sudah 12 jerat harimau yang berhasil ditemukan di kawasan PLG yang berlokasi di dekat jalan tersebut (Rakyat Bengkulu, 2009).

  1. 5. Berkurangnya Kesuburan Tanah

Berkurangnya kesuburan tanah akibat perkebunan dan perladangan akan sangat berpengaruh terhadap satwa liar. Perkebunan dan perlaangan akan menghasilkan degradasi unsur hara, kerena tingginya erosi dan pemanenan hasil kebun dan ladang akan mengurangi ketersediaan unsur hara. Unsur hara yang rendah tidak akan menghasilkan pertumbuhan yang baik untuk tanaman dan vegetasinya. Kurangnya vegetasi akan mengakibatkan kurangnya pasokan makanan bagi herbivora dan akan berdampak pada karnivora.

III. Pengelolaan Perkebunan dan Perladangan yang Ramah Satwa Liar

Pembangunan ekonomi berupa aktivitas perkebunan dan perladangan yang dilakukan harus seimbang dengan konservasi lingkungan untuk tetap mejaga kelestarian keanekaragaman hayati. Landasan hukum kegiatan konservasi di Indonesia telah tertuang dan dilindungi dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Meskipun kegiatan konservasi satwa pada umumnya dilakukan pada areal yang telah ditetapkan, namun saat ini konservasi satwa juga dapat dilakukan pada daerah produksi terbuka. Berikut ini akan diuraikan beberapa program konservasi satwa yang dapat dilakukan pada areal perkebunan dan perladangan.

  1. Melaksanakan praktek perkebunan dan perladangan yang berkelanjutan. Praktek tersebut bertujuan agar aktivitas perkebunan dan perladangan dilakukan dengan mengutamakan prinsip berkelanjutan (sustainable). Praktek perladangan harus mengedepankan upaya konservasi dan menghindari perladangan berpindah. Sub-sektor perkebunan khususnya perkebunan kelapa sawit sejak tahun 2007 telah menggagas sistem perkebunan yang berkelanjutan yang dikenal dengan Rountable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Konsep RSPO yang digagas oleh RSPO – INA  NIWG (2007) telah memasukkan konservasi terhadap satwa liar pada perkebunan kelapa sawit. Status spesies-spesies langka, terancam, atau hampir punah dan habitat dengan nilai konservasi tinggi, jika ada di dalam perkebunan atau yang dapat terkena dampak oleh manajemen kebun dan pabrik harus diidentifikasi dan konservasinya diperhatikan dalam rencana dan operasi manajamen.  Perusahaan harus melakukan (1) Identifikasi spesies hewan, tanaman dan habitat yang perlu dilindungi, (2) Jika terdapat habitat dan spesies yang dilindungi, maka perlu ada program perlindungan termasuk mitigasi konflik bekerjasama dengan instansi terkait (BKSDA), (3) Ketentuan perlindungan satwa dan habitatnya harus sesuai peraturan yang berlaku. Perusahaan juga harus memberikan sosialisasi berupa Adanya poster-poster, papan peringatan mengenai spesies yang dilindungi, pubikasi, edaran dan sosialisasi kepada seluruh karyawan dan masyarakat.  Selain it perusahaan menyiapkan petugas khusus dalam struktur perusahaan untuk mengawasi rencana dan kegiatan konservasi di atas.
  2. Pengelolaan Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value Forest (HCVF)) (Meijaard et al., 2006).  Program ini ditujukan untuk agar perusahaan melakukan konservasi terhadap satwa liar bukan saja bagi masyarakat internasional tetapi juga untuk masyarakat lokal. Sebuah perusahaan, perlu tetap memperhatikan banyak faktor dalam membuka sebuah hutan dan mengkonversinya menjadi perkebunan. Faktor-faktor tersebut bisa berupa keanekaragaman hayati, pemanfaatan lingkungan oleh masyarakat sekitar (terutama masyarakat asli), situs ekologi yang bersifat unik, dan sebagainya.  Perusahan tersebut harus mengkonservasi lahan-lahan tersbut yang sudah ditentukan sebelumnya (sesuai kategori HCVF). HCVF ini penting, karena merupakan semacam standarisasi pengolahan hutan lestari.  Sebuah perkebunan yang sudah disertifikasi, akan memiliki kemudahan dalam mengakses pasar untuk menjual produknya.  Secara umum, bila sebuah perusahaan melakukan assesment HCVF, perusahaan tersebut tidak hanya memberikan kontribusi pada masyarakat sekitarnya dengan meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga lewat hutan yang lestari. Di sisi lain, perusahaan juga mendapat keuntungan dengan banyaknya perusahaan lain yang mau menerima produk yang dihasilkan mereka. Dalam komponen HCVF, ada banyak faktor yang dinilai. Salah satu faktor adalah biodiversitas.  Kondisi biodiversitas suatu daerah merupakan indikator yang bisa dipergunakan untuk menentukan kualitas suatu lingkungan. Kondisi biodiversitas sendiri bisa dilihat dari keterwakilan spesies-spesies yang ada di lokasi tersebut seperti jenis mamalia, ikan, burung, herpetofauna, dan jenis-jenis lainnya.
  3. Meningkatkan upaya penyadartahuan, peranserta, dan kemitraan antara perusahaan dan masyarakat akan pentingnya konservasi satwa liar. Dengan peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya satwa liar, maka akan sangat membantu upaya konservasi satwa liar.
  4. Mengembangkan upaya pengelolaan mitigasi konflik untuk menyelamatkan satwa liar yang bermasalah dengan masyarakat melalui relokasi, translokasi, dan penetapan kawasan pelepasliaran alami. Karena selama ini banyak satwa liar seperti harimau dan gajah yang terbunuh akibat konflik dengan masyarakat. Dengan adanya pengelolaan mitigasi konflik ini diharapkan satwa liar yang tertangkap akan dapat dikembalikan ke habitatnya.
  5. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan infrastruktur dalam melaksanakan pelaksanaan pemantauan konservasi. Peningkatan sumberdaya manusia ini ditujukan pada masyarakat dan aparatur melalui kegiatan program peningkatan kapasitas sumberdaya manusia. Selain itu juga dilakukan penataan ulang terhadap kawasan perkebunan dan perladangan agar tidak mengganggu upaya konservasi.
  6. Meningkatkan dan memperkuat dasar hukum dan upaya penegakan hukum (law enforcement).

IV. Simpulan

Aktivitas perkebunan dan perladangan akan berdampak negatif terhadap keberadaan satwa liar. Deforestasi, degradasi, dan terfragmentasinya hutan, pembakaran lahan, perburuan, dan degradasi kesuburan tanah akan merupakan penyebab bekurangnya satwa liar. Upaya pengelolaan perkebunan dan perladangan yang ramah terhadap lingkungan termasuk satwa liar merupakan solusi pemecahan masalah. Perkebunan dan perladangan harus dikelola dengan prinsip berkelanjutan (sustaibale) diantaranya dengan poa High Conservation Value Forest. Selain itu upaya penyadartahuan, peningkatan partsipasi dan kapasitas sumberdaya manusia seluruh stake holder, infrastrukur, kelembagaan dan penegakan hukum harus dioptimalkan.

Daftar Pustaka

Adimihardja, K. 1992. Kasepuhan yang Tumbuh Diatas yang Luruh: Pengelolaan Lingkungan Secara Tradisional di Kawasan Gunung Halimun Jawa Barat. Penerbit Tarsito. Bandung.

Bappenas. 1999. Final Report, Anex I: Causes, Extent, Impact and Costs of 1997/98 Fires and Drought. Asian Development Bank Technical Assistance Grant TA 2999-INO, Planning for  Fire Prevention and Drought Management Project. Bappenas. Jakarta.

Down to Earth. 1997. The 1997 Fires: Responsibility rests with Suharto. Down to Earth No. 35, November. London.

Hariyadi. 2009. Dampak Ekologi Pengembangan Kelapa Sawit untuk Bioenergi. http:/energi.infogue.com/dampak_ekologi_ pengembangan_kelapa_sawit_untuk_bioenergi. (17 Maret 2009).

Kurniawan, B. 1999. Upaya-Upaya Strategis Pengamanan Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Wilayah Kerja Sub Seksi Sukabumi. Skripsi Fakultas Kehutanan. IPB. Bogor.

Manurung, E.G.T. 2001. Laporan Teknis Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia. Enviromental Policy and Institutional Strengthhening IQC. Jakarta.

Meijaard, E., Sheil, D., Nasi, R., Augeri D., Rosenbaum B., Iskandar D., Setyawati, T., Lammerthink, M., Rachmatika, I., Wong, A., Soehatono, T., Stanley, S., Gunawan, T., dan O’Brien, T. 2006. Hutan Pasca Pemanenan : Melindungi Satwa Liar dalam Kegiatan Hutan Produksi di Kalimantan. Subur Printing. Jakarta.

Mudofar, I. 1999. Manfaat Ekonomi Hasil Hutan Taman Nasional Gunung Halimun Bagi Masyarakat Desa Sirnarasa Kecamatan Cisolok, Sukabumi. Skripsi Fakultas Kehutanan. IPB. Bogor.

Roundtable on Sustainable Palm Oil on Indonesia Interpretation Networking Group. 2007. Interpretasi Nasional Prinsip dan Kreteria untuk Produksi Minyak Sawit Berkelanjutan Republik Indonesia: Dokumen Draft Kedua. Roundtable on Sustainable Palm Oil on Indonesia Interpretation Networking Group. Jakarta.

Saharjo, B.H. 2003. Kebakaran Hutan dan Lahan. Laboratorium Kebakaran Hutan dan Lahan. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Seidensticker, J., S. Christie, and P. Jackson. 1999. Preface. In: Siedensticker, J., S. Christie, and P. Jackson (eds.). Ridding the Tiger: Tiger Conservation in Human Dominated Landscape. Cambridge University Press. Cambridge, UK.

Soetrisno, Noer. 2008. Peranan Industri Sawit dalam Pengembangan Ekonomi Regional : Menuju Pertumbuhan Partisipatif Berkelanjutan. Makalah Disampaikan pada Seminar Nasional Dampak Kehadiran Perkebunan Kelapa Sawit terhadap Kesejahteraan Masyarakat Sekitar di Universitas Sumatera Utara 6 Desember 2008.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 49 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419).

About these ads
 

3 Responses to “PENGENDALIAN DAMPAK AKTIVITAS PERKEBUNAN DAN PERLADANGAN TERHADAP SATWA LIAR”

  1. Great article. Waiting for more.

  2. carpet Says:

    very enjoyable read i have learnt a lot from this post


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers