JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

KEBIJAKAN PENGGUNAAN PESTISIDA PADA TANAMAN July 24, 2011

Filed under: lingkungan — Urip Santoso @ 6:41 am
Tags: , ,

VERA IDA ROMANNA, SP

 

Abstrak

Perhatian masyarakat terhadap soal pertanian dan lingkungan beberapa tahun terakhir ini menjadi meningkat.  Di mana masyarakat semakin peduli tentang gaya hidup sehat. Keadaan ini disebabkan karena semakin dirasakannya dampak negatif yang besar bagi lingkungan mengenai penggunaan bahan-bahan kimia untuk meningkatkan produktivitas tanaman.  Bahan-bahan kimia yang selalu digunakan untuk alasan produktivitas dan ekonomi ternyata saat ini lebih banyak menimbulkan dampak negatif daripada dampak positifnya, baik bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.

Penggunaan pupuk, pestisida, dan bahan kimia lainnya yang terus menerus dapat merusak biota tanah, keresistenan hama dan penyakit, serta dapat merubah kandungan vitamin dan mineral beberapa komoditi sayuran dan buah.  Hal ini tentunya jika dibiarkan lebih lanjut akan berpengaruh fatal bagi siklus kelangsungan kehidupan, bahkan jika sayuran atau buah yang telah tercemar tersebut dimakan oleh manusia secara terus menerus, tentunya akan menyebabkan kerusakan jaringan bahkan kematian. Untuk itu pemerintah dan pihak swasta terus menerus memberikan penyuluhan kepada petani untuk memilih pestisida sebagai alternatif terakhir dalam pembasmi hama dan penyakit tanaman.

 

Kata Kunci : Pestisida, dosis dan penggunaan pestisida organik

 

Pendahuluan

Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan. Pestisida juga diartikan sebagai substansi kimia dan bahan lain yang mengatur dan atau menstimulir pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman, (e-petani, 2010).

Sesuai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan pestisida ditujukan bukan untuk memberantas atau membunuh hama, namun lebih dititik beratkan untuk mengendalikan hama sedemikian rupa hingga berada dibawah batas ambang ekonomi atau ambang kendali. Selama ini, kita mengetahui bahwa pestisida sangat berguna dalam membantu petani merawat pertaniannya. Pestisida dapat mencegah lahan pertanian dari serangan hama. Hal ini berarti jika para petani menggunakan pestisida, hasil pertaniannya akan meningkat dan akan membuat hidup para petani menjadi semakin sejahtera. Dengan adanya pemahaman tersebut, pestisida sudah digunakan di hampir setiap lahan pertanian.

Namun sekarang ini banyak pemahaman yang salah tentang penggunaan dosis dari pestisida ini. Para petani tidak mengindahkan anjuran pemakaian yang telah diterapkan oleh pemerintah, akibatnya

Dalam bidang pertanian pestisida merupakan sarana untuk membunuh hama-hama tanaman. Dalam konsep Pengendalian Terpadu Hama, pestisida berperan sebagai salah satu komponen pengendalian. Prinsip penggunaannya adalah:

* harus kompatibel dengan komponen pengendalian lain, seperti komponen hayati
*   efisien untuk mengendalikan hama tertentu

*   meninggalkan residu dalam waktu yang tidak diperlukan

*   tidak boleh persistent, jadi harus mudah terurai

* dalam perdagangan (transport, penyimpanan, pengepakan, labeling) harus memenuhi  persyaratan keamanan yang maksimum

*   harus tersedia antidote untuk pestisida tersebut

*   sejauh mungkin harus aman bagi lingkungan fisik dan biota

*   relatif aman bagi pemakai (LD50 dermal dan oral relatif tinggi)

*   harga terjangkau bagi petani.

Idealnya teknologi pertanian maju tidak memakai pestisida. Tetapi sampai saat ini belum ada teknologi yang demikian. Pestisida masih diperlukan, bahkan penggunaannya semakin meningkat. Pengalaman di Indonesia dalam menggunakan pestisida untuk program intensifikasi, ternyata pestisida dapat membantu mengatasi masalah hama padi. Pestisida dengan cepat menurunkan populasi hama, hingga meluasnya serangan dapat dicegah, dan kehilangan hasil karena hama dapat ditekan.

Pengalaman di Amerika Latin menunjukkan bahwa dengan menggunakan pestisida dapat meningkatkan hasil 40 persen pada tanaman coklat. Di Pakistan dengan menggunakan pestisida dapat menaikkan hasil 33 persen pada tanaman tebu, dan berdasarkan catatan dari FAO penggunaan pestisida dapat menyelamatkan hasil 50 persen pada tanaman kapas.

Dengan melihat besarnya kehilangan hasil yang dapat diselamatkan berkat penggunaan pestisida, maka dapat dikatakan bahwa peranan pestisida sangat besar dan merupakan sarana penting yang sangat diperlukan dalam bidang pertanian. Usaha intensifikasi pertanian yang dilakukan dengan menerapkan berbagai teknologi maju seperti penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan pengairan dan pola tanam akan menyebabkan perubahan ekosistem yang sering diikuti oleh meningkatnya problema serangan jasad pengganggu. Demikian pula usaha ekstensifikasi pertanian dengan membuka lahan pertanian baru, yang berarti melakukan perombakan ekosistem, sering kali diikuti dengan timbulnya masalah serangan jasad pengganggu. Dan tampaknya saat ini yang dapat diandalkan untuk melawan jasad pengganggu tersebut yang paling manjur hanya pestisida. Memang tersedia cara lainnya, namun tidak mudah untuk dilakukan, kadang-kadang memerlukan tenaga yang banyak, waktu dan biaya yang besar, hanya dapat dilakukan dalam kondisi tertentu yang tidak dapat diharapkan efektifitasnya. Pestisida saat ini masih berperan besar dalam menyelamatkan kehilangan hasil yang disebabkan oleh jasad pengganggu.

 

PEMBAHASAN

Kandungan Pestisida

Sebagai daerah tropis, Indonesia kaya sumber daya alam yang bisa dijadikan pengendali hama secara hayati. Tentu langkah ini lebih ramah lingkungan ketimbang pengendali berbahan kimiawi sintetik. Pestisida acap kali dituding sebagai perusak lingkungan. Zat kimiawi buatan manusia ini mengandung efek yang berbahaya. Di Indonesia, perkembangan industri pestisida lebih banyak didominasi oleh para pemegang pendaftaran. Mereka, baik yang punya pabrik formulasi maupun tidak, sekaligus memasarkan produknya.

Menurut data Departemen Perindustrian dan Perdagangan diketahui bahwa setiap tahunnya jumlah perusahaan pemegang pendaftaran pestisida terus bertambah. Saat ini, tak kurang dari 511 formulasi pestisida yang telah terdaftar dan diizinkan beredar untuk pertanian dan kehutanan. Umumnya berbahan bahan aktif senyawa kimia sintetik.

Dari angka tadi, lima puluh persennya dipakai untuk mengendalikan serangga dan 24 persen membunuh jamur. Sisanya sebagai pengendali gulma.

Pestisida sebelum digunakan harus diformulasi terlebih dahulu. Pestisida dalam bentuk murni biasanya diproduksi oleh pabrik bahan dasar, kemudian dapat diformulasi sendiri atau dikirim ke formulator lain. Oleh formulator baru diberi nama. Berikut ini beberapa formulasi pestisida yang sering dijumpai:

  1. Cairan emulsi (emulsifiable concentrates/emulsible concentrates)

Pestisida yang berformulasi cairan emulsi meliputi pestisida yang di belakang nama dagang diikuti oleb singkatan ES (emulsifiable solution), WSC (water soluble concentrate). B (emulsifiable) dan S (solution). Biasanya di muka singkatan tersebut tercantum angka yang menunjukkan besarnya persentase bahan aktif. Bila angka tersebut lebih dari 90 persen berarti pestisida tersebut tergolong murni. Komposisi pestisida cair biasanya terdiri dari tiga komponen, yaitu bahan aktif, pelarut serta bahan perata. Pestisida golongan ini disebut bentuk cairan emulsi karena berupa cairan pekat yang dapat dicampur dengan air dan akan membentuk emulsi.

  1.  Butiran (granulars)

Formulasi butiran biasanya hanya digunakan pada bidang pertanian sebagai insektisida sistemik. Dapat digunakan bersamaan waktu tanam untuk melindungi tanaman pada umur awal. Komposisi pestisida butiran biasanya terdiri atas bahan aktif, bahan pembawa yang terdiri atas talek dan kuarsa serta bahan perekat. Komposisi bahan aktif biasanya berkisar 2-25 persen, dengan ukuran butiran 20-80 mesh. Aplikasi pestisida butiran lebih mudah bila dibanding dengan formulasi lain. Pestisida formulasi butiran di belakang nama dagang biasanya tercantum singkatan G atau WDG (water dispersible granule).

  1. Debu (dust)

Komposisi pestisida formulasi debu ini biasanya terdiri atas bahan aktif dan zat pembawa seperti talek. Dalam bidang pertanian pestisida formulasi debu ini kurang banyak digunakan, karena kurang efisien. Hanya berkisar 10-40 persen saja apabila pestisida formulasi debu ini diaplikasikan dapat mengenai sasaran (tanaman).

4.           Tepung (powder)

Komposisi pestisida formulasi tepung pada umumnya terdiri atas bahan aktif dan bahan pembawa seperti tanah hat atau talek (biasanya 50-75 persen). Untuk mengenal pestisida formulasi tepung, biasanya di belakang nama dagang tercantum singkatan WP (wettable powder) atau WSP (water soluble powder).

  1. Oli (oil)

Pestisida formulasi oli biasanya dapat dikenal dengan singkatan SCO (solluble concentrate in oil). Biasanya dicampur dengan larutan minyak seperti xilen, karosen atau aminoester. Dapat digunakan seperti penyemprotan ULV (ultra low volume) dengan menggunakan atomizer. Formulasi ini sering digunakan pada tanaman kapas.

  1. 6.           Fumigansia (fumigant)

Pestisida ini berupa zat kimia yang dapat menghasilkan uap, gas, bau, asap yang berfungsi untuk membunuh hama. Biasanya digunakan di gudang penyimpanan.

Dosis Penggunaan Pestisida pada Tanaman

Hal-hal teknis yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida adalah ketepatan penentuan dosis. Dosis yang terlalu tinggi akan menyebabkan pemborosan pestisida, di samping merusak lingkungan. Dosis yang terlalu rendah menyebabkan hama sasaran tidak mati. Di samping berakibat mempercepat timbulnya resistensi.

Dosis adalah jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk mengendalikan hama tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu kali aplikasi atau lebih. Ada pula yang mengartikan dosis adalah jumlah pestisida yang telah dicampur atau diencerkan dengan air yang digunakan untuk menyemprot hama dengan satuan luas tertentu. Dosis bahan aktif adalah jumlah bahan aktif pestisida yang dibutuhkan untuk keperluan satuan luas atau satuan volume larutan. Besarnya suatu dosis pestisida biasanya tercantum dalam label pestisida.

  • Sebelum membeli, baca dahulu kegunaan dari pestisida tersebut pada labelnya. Ada jenis pestisida yang khusus diperuntukkan untuk hama tertentu saja (selective pesticide). Jika dipakai untuk hama lainnya mungkin tidak akan efektif. Pilih yang sesuai dengan keperluannya.
  • Sebelum mencampur, ukur takaran secara akurat sesuai dosis pada petunjuk pemakaiannya. Jika seharusnya 1 sendok teh untuk 1 liter air misalnya, jangan ditambah menjadi 2 sendok teh dengan maksud agar lebih ampuh. Hama tentunya tetap akan mati, tetapi juga akan mempengaruhi/membahayakan yang lain seperti tanaman yang bersangkutan dan lingkungan sekitarnya (manusia dan hewan).
  • Sebelum menggunakannya, periksa dengan seksama waktu, kondisi lingkungan, target dll. Jangan menggunakannya pada siang hari karena akan membakar daun, jangan lakukan pada saat anak-anak sedang berada pada lingkungan tersebut, dll.
  • Sebelum melakukan penyemprotan, gunakan pelindung seperti yang tertera pada label, seperti : sarung tangan, kacamata, pakaian khusus, dll.
  • Sebelum menyimpan atau membuang sisa bahan, ikuti petunjuk cara penyimpanan dan pembuangan yang terdapat pada label. Jangan lupa untuk mencuci ber-ulang2 wadah/botol nya sebelum dibuang ke tempat sampah.
  • Buang air bekas cucian wadah tersebut ketempat yang aman sesuai dengan petunjuk pada label.

Simpan pestisida :

  • jauh dari jangkauan anak2
    • pada tempat aslinya (jangan dituang/dipindahkan ke wadah lain).
    • jauh dari binatang peliharaan.
    • ditempat yang terkunci dan kering.
  • Setelah melakukan penyemprotan, jangan lupa untuk mencuci tangan dengan sabun atau mandi untuk menghilangkan sisa-sisa pestisida.
  • Ganti dan cuci dengan bersih pakaian dan peralatan lainnya yang digunakan untuk penyemprotan.
  • Jika terjadi keracunan, segera lakukan tindakan sesuai dengan petunjuk pada kemasan atau konsultasi dengan dokter.

Dampak yang Ditimbulkan bila Menyalahi  Aturan Pemakaian  Pestisida

Kesalahan dalam memilih jenis pestisida berakibat tidak efektifnya pestisida tersebut, misalnya OPT tidak terkendali dan tanaman tidak “sembuh”. Hal ini mendorong pengulangan aplikasi pestisida berkali-kali dalam jangka waktu pendek yang dampaknya antara lain residunya tinggi, percepatan resistensi, pemborosan, dan pencemaran lingkungan hidup.

Ditemukan bahwa sisa pemakaian pestisida dapat merusak ekosistem air yang berada di sekitar lahan pertanian. Mengapa demikian? Jika pestisida digunakan, akan menghasilkan sisa-sisa air yang mengandung pestisida. air yang mengandung pestisida ini akan mengalir melalui sungai atau aliran irigasi dan dapat menyuburkan ganggang di perairan tempat sungai atau irigasi tadi bermuara.

Dengan suburnya ganggang, dapat mengakibatkan cahaya matahari sulit untuk masuk ke dalam danau. Ini mengakibatkan hewan-hewan ataupun fitoplankton tidak mendapat cahaya. Jika fitoplankton tidak mendapat cahaya, maka tidak akan dapat berfotosintesis dan tidak dapat lagi menghasilkan makanan untuk hewan-hewan air.

Selain merusak ekosistem, pestisida juga dapat mengganggu kesehatan terutama kesehatan petani. Dengan seringnya menggunakan pestisida, maka kontak kulit dengan pestisida juga akan semakin sering dan dapat mengakibatkan iritasi kulit. Atau jika pestisida terhirup dan masuk paru-paru, dapat mengganggu kesehatan pernafasan.

Pada dasarnya penggunaan pestisida  merupakan alternatif terakhir dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman. Bahkan pemerintah telah menghilangkan subsidi atas pestisida dan bersama-sama pihak swasta sering memberikan penyuluhan-penyuluhan mengenai penggunaan pestisida yang baik dan benar.

Penelitian lain juga menyebutkan bahwa resiko kanker pada orang-orang yang merokok disebabkan oleh penggunaan pestisida pada saat menanam tembakau. Jika kita membandingkan orang-orang zaman dahulu, walaupun mereka perokok, tetapi mereka tetap sehat dan tidak mengalami penyakit kanker. Kemungkinan ini disebabkan karena zaman dahulu belum digunakannya pestisida saat menanam tembakau.

Pestisida tidak hanya berperan dalam mengendalikan jasad-jasad pengganggu dalam bidang pertanian saja, namun juga diperlukan dalam bidang kehutanan terutama untuk pengawetan kayu dan hasil hutan yang lainnya, dalam bidang kesehatan dan rumah tangga untuk mengendalikan vektor (penular) penyakit manusia dan binatang pengganggu kenyamanan lingkungan, dalam bidang perumahan terutama untuk pengendalian rayap atau gangguan serangga yang lain.

Pada umumnya pestisida yang digunakan untuk pengendalian jasad pengganggu tersebut adalah racun yang berbahaya, tentu saja dapat mengancam kesehatan manusia. Untuk itu penggunaan pestisida yang tidak bijaksana jelas akan menimbulkan efek samping bagi kesehatan manusia, sumber daya hayati dan lingkungan pada umumnya.

 

Upaya Pemerintah dalam Mengatur Penggunaan Pestisida

Saat ini penggunaan pestisida di Indonesia harus memenuhi unsur standar mutu yang ditetapkan Undang-Undang Tentang Sistem Budidaya Tanaman No. 12 Tahun 1992. Sebab terkadang di lapangan, marak beredar pestisida-pestisida yang kurang aman bagi kesehatan ketika diaplikasikan. Untuk mencegah maraknya hal tersebut, maka dibuatlah pasal-pasal yang mengatur tentang peredaran pestisida yang aman. Dan tentunya, dalam pasal-pasal tersebut ada peran serta pemerintah dalam mengawasi peredaran serta penggunaan pestisida dengan menentukan standar mutu yang aman bagi manusia dan lingkungan.

Pada pasal 38 (1) disebutkan bahwa : Pestisida yang akan diedarkan di dalam wilayah negara RI wajib terdaftar, memenuhi standar mutu, terjamin efektivitasnya, aman bagi manusia dan lingkungan hidup, serta diberi label.

Dalam hal ini, untuk menjamin kualitas dan mutu pestisida, pestisida tersebut harus terdaftar di Komisi Pestisida dan dilakukan pengujian mutu pestisida agar aman digunakan oleh masyarakat Indonesia khususnya petani. Sedangkan efektivitas yang dimaksud adalah kemampuan pestisida membunuh OPT secara spesifik dan tepat sasaran terhadap OPT yang ingin dibunuh.

Pada pasal 38 (2) berbunyi : Pemerintah menetapkan standar mutu pestisida sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dan jenis pestisida yang boleh diimpor.

Hal ini terkait dalam tanggung jawab pemerintah atas keamanan penggunaan pestisida bagi lingkungan. Kemudian ada pasal 39 yang menyebutkan : Pemerintah melakukan pendaftaran dan mengawasi pengadaan, peredaran, serta penggunaan pestisida.

Pemerintah dalam hal ini melalui Menteri Pertanian membentuk suatu komisi yang memberikan kebijakan tentang pendaftaran dan uji kelayakan yang dinamakan Komisi Pestisida. KP ini yang merupakan suatu lembaga non-struktural yang bertugas membantu Menteri Pertanian dalam menentukan kebijakan pengelolaan pestisida di Indonesia. Pestisida yang didaftarkan akan dicek kembali oleh lembaga penguji yang telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional, BSN atau laboratorium uji mutu pestisida yang ditunjuk oleh Menteri Pertanian disampaikan kepada Dirjen Bina Sarana Pertanian dalam waktu 7 hari kerja telah melakukan evaluasi dengan menggunakan metode standar yang telah ditetapkan oleh Dirjen BSP atas saran dan pertimbangan dari KP. Setelah hal tersebut terpenuhi, barulah Menteri Pertanian dapat memutuskan pemberian ijin peredaran pestisida di Indonesia setelah mendapat masukan dan kebijakan teknis dari KP tersebut. Sehingga pengguna pestisida bagi konsumen khususnya petani terjamin keamanannya dan tentunya penggunaan pestisida itu tidak merusak lingkungan.

 

KESIMPULAN

Penggunaan pestisida di lingkungna pertanian khususnya untuk mengendalikan hama yang menyerang tanaman di persemaian dan tanaman muda pada saat ini masih menimbulkan dilema. Penggunaan pestisida khususnya pestisida sintetis/kimia memang memberikan keuntungan secara ekonomis, namun memberikan kerugian diantaranya : Residu yang tertinggal tidak hanya pada tanaman, tapi juga pada air, tanah dan udara. Penggunaan secara terus menerus akan mengakibatkan efek resistensi berbagai jenis hama.

Penggunaan pestisida kimia di Indonesia telah  memusnahkan 55% jenis hama dan 72% agen pengendali hayati. Oleh karena itu, diperlukan pengganti pestisida yang ramah lingkungan. Salah satu alternatif pilihannya adalah penggunaan pestisida hayati tumbuhan. Pestisida nabati adalah salah satu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Tumbuhan sendiri pada dasarnya kaya akan bahan aktif yang berfungsi sebagai alat pertahanan alami terhaddap penganggunya. Bahan pestisida yang berasal dari tumbuhan dijamin aman bagi lingkungan karena cepat terurai di tanah (biodegradable) dan tidak membahayakan  hewan, manusia dan serangga non sasaran.

Alternatif lainnya adalah penggunaan pestisida nabati. Pestisida nabati  adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (PPT). Pestisida nabati ini berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh dan bentuk lainnya.

Pemerintah sudah gencar menerapkan pasal-pasal mengenai penggunaan pestisida yang baik dan benar, dengan antara lain memperketat pengeluaran izin distribusi pestisida bahkan telah menghilangkan subsidi mengenai pestisida. Pemerintah juga lebih giat untuk mencetak tenaga-tenaga penyuluh pertanian yang handal, yang bisa mengajak para petani di Indonesia untuk lebih memperhatikan komposisi yang tepat bagi penggunaan pestisida yang ramah lingkungan, atau sebisa mungkin para petani tersebut lebih dicerdaskan dalam  aspek pengenalan lingkungan sehingga dapat memproduksi produk pertanian yang lebih mementingkan kesehatan manusia sebagai konsumen utamanya juga hewan dan lingkungan sekitarnya dibanding keuntungan pribadi ataupun kelompok tertentu.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pertanian Provinsi Bengkulu yang telah memberikan kemudahan mendapatkan informasi dalam penulisan jurnal ini. Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada teman-teman satu angkatan PSL yang telah banyak memberikan masukan dan kritikan yang membangun sehingga menambah wawasan yang sangat bernilai bagi penulis.

 

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Umar Fahmi. 1987. Kelompok Resiko Tinggi Keracunan Pestisida Anti Chlinesterase pada Para Petani. Medika No. 10 Oktober 1987. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Atmosoeharjo, Suprapto. 1991. Suatu Upaya Pengendalian Penggunaan Pestisida Melalui Pendekatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pidato Pengukuhan Guru Besar UGM. Yogyakarta

Ardiwinanta, A.N, S.Y.Jatmiko, and E.S Harsanti. 1999. Monitoring Residue at West Java, Proceeding for GreenHouse Gasses emulsion Research & Increasing Rice Productivity in Law and Rice research Station for Agricultral Environment Preventation. Jakenan.

Direktorat Jenderal P2PM. 2003. Pedoman Penggunaan Pestisida. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Djajadi., Sholeh, M dan Nunung Sudibyo. 2002. Jurnal Penelitian Tanaman Industri Volume 8 No. 1 : Pengaruh Pupuk Organik dan Anorganik ZA dan SP 36 terhadap Hasil dan Mutu Tembakau Temanggung pada Tanah Andisol. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Bogor.

Faesal.,Najamuddin, A dan M. Akil. 2006. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan Volume 25 No. 2 : Pengaruh Cara Pemberian dan Takaran Pupuk Kandang terhadap Hasil Biomas Tanaman Jagung. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.

Handojo, D. 2009. Blog : Sedikit Tentang Pestisida. Dinas Kesehatan Jawa Tengah. Semarang

Munaf, S. 1997.  Bahaya Pestisida. Departemen Kesehatan RI. Jakarta

Keputusan Menteri. 2002. Pengawasan Pupuk dan Pestisida. Jakarta.

Keputusan Menteri Pertanian. 1997. Nomor 887/Kpts/OT.210/9/97 Tentang Pedoman Pengendalian OPT. Jakarta.

Petani, E. 2010. Apa itu Pestisida. Distribusi Biotis Agrindo. Jakarta.

Peraturan Menteri Perdagangan RI. 2008. Lampiran IV Permenrindag Tanggal 24 Juni 2008. Jakarta.

Peraturan Pemerintah. 1995. PP  No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman. Jakarta.

Soetikno S. Sastroutomo, M.Sc., D.Sc., Ir. 1992. Pestisida dan Dampak Penggunaannya. PT. Gramedia Pustaka Ilmiah. Jakarta.

 

 

 

 

About these ads
 

4 Responses to “KEBIJAKAN PENGGUNAAN PESTISIDA PADA TANAMAN”

  1. hasan Says:

    pak,om,kak, maaf saya tidak tau anda umuran berapa..hehe..
    saya mau tanya, dalam membasmi hama, mengapa tanaman yang di semproti pestisida terus menerus akan mengakibatkan hama malah semakin bertambah? bukannya jadi berkurang..
    trim’s

    • Urip Santoso Says:

      Karena serangga mempunyai daya adaptasi terhadap pestisida tersebut, sehingga mereka menjadi kebal. Oleh sebab itu, penggunaan pestisida tidak boleh berlebih-lebihan. Tks

  2. pengen tya dong ,, kalo pengaruh peptisida terhadap tumbuhan apa sih ,,
    yang pertama itu dari segi
    -manfaat
    -keunggulan menggunakan peptisida
    -dampak positif maupun negatif
    – adakah kerugian tersendiri selama menggunakan peptisida .


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers