JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

PELUANG PENINGKATAN GIZI DAN PENDAPATAN KELUARGA MELALUI DIVERSIFIKASI PANGAN BERBASIS UBI KAYU September 1, 2011

Filed under: Sumberdaya — Urip Santoso @ 11:40 pm
Tags: ,

Oleh: Y U L F I A

BAB I. PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Ketahanan pangan merupakan hal yang sangat strategis dan penting, karena merupakan kebutuhan pokok dan esensi kehidupan manusia, oleh sebab itu hak atas pangan menjadi bagian sangat penting dari hak azazi manusia (Krisnamurthi, 2006).

Selama ini pola pangan masyarakat indonesia diarahkan pada komoditas tertentu saja, yaitu padi sebagai makanan pokok dan kedelai sebagai sumber protein nabati utama. Bahkan  masyarakat diwilayah yang dahulu dikenal dengan makanan pokoknya selain beras (misalnya jagung, ubi kayu, ubi jalar) seolah-olah digiring untuk beralih ke beras. Akibatnya, ketergantungan Indonesia akan beras juga semakin besar. Apalagi tingkat konsumsi beras perkapita sebesar 130,1 kg/tahun merupakan tantangan yang berat. Sehingga dikhawatirkan swasembada beras yang telah kita capai pada tahun 2008 juga tidak bertahan lama (Anonimous, 2010)

Sengaja ataupun tidak sifat superior besar yang selau dipromosikan merupakan salah satu pemicu beralihnya konsumen non beras keberas. Bahkan beras dianggap sebagai simbol kemakmuran masyarakat, sehingga mengkonsumsi beras sama dengan menunjukan tingkat kemakmuran.

Mengandalkan beras sebagai satu-satunya bahan pangan pokok cukup riskan mengingat perubahan iklim global  telah mengancam produksi padi karena tanaman didera kekeringan dan banjir, disamping itu dibeberapa daerah luasan persawahan yang relatif berkurang karena seiring pertambahan penduduk maka semakin luas  lahan dimanfaatkan untuk pemukiman.

Disamping itu akhir-akhir ini minat masyarakat sepertinya dimanjakan  makanan kemasan dan makanan cepat saji yang dengan sangat mudah didapat diwarung-warung bahkan dipelosok desa sekalipun .

Di pasar-pasar tradisional kita jumpai pedagang panganan lokal didominasi oleh mbah-mbah yang usianya sudah tua-tua, karena sebagian besar proses pembuatan makanan tersebut memerlukan tahapan yang panjang. Tidak banyak ibu-ibu muda yang telaten membuatnya. Mereka lebih senang membeli biskuit ataupun makanan instan yang cara memasaknya mudah dan cepat. Apalagi tingginya tuntutan ekonomi keluarga sekarang ini membuat pasangan suami istri harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi tersebut mengurangi waktu yang tersedia bagi orang tua untuk menyediakan jajanan yang diolah sendiri dari bahan-bahan lokal. Kebutuhan anak akan  makananpun dipenuhi dari warung yang ada dengan makanan pabrikan sebagai menu utama. Pengawasan orang tua terhadap makanan yang dikonsumsi anak semakin berkurang.

Program diversifikasi pangan yang semula mendorong penggunaan gandum yang hingga saat ini masih diimpor ternyata berdampak terhadap peningkatan volume terigu. Hal ini ditandai dengan meningkatnya impor terigu dari tahun ke tahun. Sebagaimana yang dikemukakan Anonimous (2010), bahwa pada tahun 2010 impor biji gandum Indonesia hanya sekitar 5,85 juta ton.

Keragaman bahan pangan lokal seperti;  ganyong, jagung, ubi kayu, ubi jalar, labu kuning, pisang dan lain sebagainya, merupakan modal utama dalam menambah kekayaan jenis, bentuk dan gizi makanan yang penting artinya dalam mendukung diversifikasi pangan

1.2.  Tujuan

Masalah krisis pangan dan gizi di Indonesia seharusnya dapat ditanggulangi secara mendasar dan berkesinambungan melalui program pengembangan produksi dalam pemanfaatan sumberdaya hasil pertanian pangan lokal, dengan cara meningkatkan pemberdayaan industri pangan dan masyarakat petani. Hanya saja di masyarakat belum berkembang inovasi teknologi dalam pengembangan industri makanan tradisional, termasuk dalam hal tampilan dan keamanan pangan (kemasan, sanitasi).

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Mengoptimalkan pemanfaatan  bahan pangan lokal dalam menunjang pengembangan ragam makanan disamping untuk mencukupi asupan gizi keluarga juga dapat meningkatkan pendapatan melalui pengolahan ubi kayu
  2. Meningkatkan pemahaman masyarakat akan arti pentingnya ketahanan pangan keluarga
  3. Meningkatkan kualitas makanan kudapan ditinjau dari segi higienis dan kandungan gizi didalamnya.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.  Arti Penting Pangan

Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah yang diperuntukan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan atau minuman (UU RI No 7 Tahun 1996 tentang Pangan).

Sedangkan menurut Krisnamurthi (2006), pangan adalah komoditas strategis karena merupakan kebutuhan dasar manusia. Pangan tidak saja berarti strategis secara ekonomi, tetapi juga sangat berarti dari segi pertahanan dan keamanan, sosial, dan politis. Berbagai contoh peristiwa pada masa akhir orde lama sampai dengan awal orde baru dan pengalaman bekas negara Uni Sovyet menunjukkan bahwa ketahanan dan ketenteraman suatu negara sangat ditentukan oleh ketersediaan pangan. Oleh karenanya pangan tidak dapat diabaikan dalam kebijakan ekonomi suatu negara, sehingga pengelolaan pangan secara berencana merupakan suatu keharusan yang perlu diupayakan dengan sebaik-baiknya.

Dalam usaha pemenuhan kebutuhan pangan, pemerintah Indonesia telah berupaya secara maksimal agar kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi. Keseriusan itu diwujudkan dalam bentuk cita-cita besarnya yaitu mampu mencapai swasembada pangan, yang akhirnya tercapai pada tahun 1984 dengan swasembada beras, walaupun sebetulnya swasembada beras ditargetkan tercapai pada tahun 1974 (Krisnamurthi, 2006).

Sepanjang tahun 2010 proses pemiskinan terjadi secara meluas di berbagai wilayah di Indonesia, yang disebabkan harga  berbagai bahan pokok melebihi daya beli masyarakat sehingga perempuan Indonesia yang secara tradisional tetap berperan sebagai penyedia dan pengolah pangan keluarga mengalami tekanan dan ketidak berdayaan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga (KPI, 2011).

Ditambahkan oleh Juarini (2006), Situasi krisis pangan yang dialami oleh berbagai bangsa di dunia, termasuk Indonesia memberi pelajaran bahwa ketahanan pangan harus diupayakan sebesar mungkin bertumpu pada sumberdaya nasional, karena ketergantungan impor menyebabkan kerentanan terhadap gejolak ekonomi social politik

2.2.  Diversifikasi Pangan Keluarga

Diversifikasi bahan pangan merupakan suatu proses pemilihan pangan yang tidak tergantung pada satu jenis pangan saja tetapi lebih terhadap berbagai bahan pangan mulai aspek produksi, aspek pengolah, aspek distribusi hingga aspek konsumsi pangan pada tingkat rumah tangga (Tampubolon, 1998). Diversifikasi pangan ditujukan pada penganeka ragaman pangan yang berasal dari pangan pokok dan semua pangan lain yang dikonsumsi rumah tangga termasuk lauk pauk, sayuran, buah-buahan. Hal ini dimaksudkan bahwa semakin beragam dan seimbang komposisi pangan yang dikonsumsi akan semakin baik kualitas gizi

Saat ini masih banyak rumah tangga yang belum mampu mewujudkan ketersediaan pangan yang cukup, terutama dalam hal mutu dan tingkat gizinya. Dalam hal ini keaneka ragaman pangan menjadi salah satu pilar utama dalam ketahanan pangan. Dan menurut Krisnamurthi (2006) keaneka ragaman pangan merupakan salah satu prasyarat pokok dalam konsumsi pangan yang cukup mutu dan gizinya.

Dilihat dari perspektif pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat terdapat beberapa peluang dan tantangan yang perlu diperhatikan yaitu; dengan pertumbuhan penduduk 1,49% per tahun, Indonesia harus mampu menyediakan pangan untuk 210 juta dan pertambahan konsumen baru setidaknya 3 juta setiap tahun. Pada saat yang sama ditenggarai sekitar 100.000 hektar lahan pertanian terkonvensi setiap tahunnya untuk berbagai kepentingan (Krisnamurthi, 2006)

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 68 tentang Ketahanan Pangan, secara eksplisit dituangkan bahwa penganekaragaman pangan diselenggarakan untuk meningkatkan ketahanan pangan dengan memperhatikan sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal . Krisnamurthi, (2006), ketergantungan konsumsi pangan terhadap beras tidaklah menguntungkan bagi ketahanan pangan, terutama yang terkait dengan aspek stabilitas kecukupan pangan. Bila terjadi kelangkaan beras maka akan memberikan dampak yang besar terhadap pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan bagi rumah tangga, terutama kebutuhan energi dan protein. Padahal akhir-akhir ini cenderung terjadi stagnasi dalam produksi beras nasional yang diakibatkan oleh :

  1. Laju peningkatan produktivitas usahatani padi semakin kecil karena perkembangan teknologi produksi padi mengalami kejenuhan,
  2. keterbatasan anggaran pemerintah, sehingga tidak mampu melakukan perluasan areal irigasi dan pemberian subsidi input produksi kepada petani, dan
  3. konversi lahan pertanian terutama di Jawa ke penggunaan nonsawah.

Faktor-faktor tersebut menimbulkan kekhawatiran akan potensi terjadinya kelangkaan beras di masa mendatang. Berdasarkan beberapa permasalahan tersebut diatas, kebijakan diversifikasi konsumsi pangan dipandang masih tetap diperlukan. Selain peningkatan kualitas sumberdaya manusia, dampak positif dari kebijakan diversifikasi konsumsi pangan antara lain memperkuat ketahanan pangan Indonesia, meningkatkan pendapatan petani dan agroindustri pangan, serta menghemat devisa negara.

2.3.    Memperkuat Ketahanan Pangan

Konsumsi pangan keluarga merupakan kebutuhan anggota rumah tangga terhadap pangan yang bertujuan untuk memantapkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Ketahanan pangan meliputi konsumsi pangan yang cukup terkait dengan kuantitas dan kualitas pangan. Dalam hal ini kualitas pangan lebih ditujukan pada aspek gizi yang didasarka pada diversifikasi pangan karena pada hakekatnya tidak ada satupun jenis pangan yang mempunyai kandungan gizi yang lengkap dan cukup. Adapun kuantitas pangan lebih ditinjau dari sisi volume pangan yang dikonsumsi dan zat gizi yang dikandung pangan (Satori, 2010)

Masalah ketahanan pangan menjadi isu penting akhir-akhir ini, baik di dalam negeri maupun di dunia internasional. Oleh karena itu upaya menurunkan peranan beras, dan menggantikannya dengan jenis pangan lain menjadi penting dilakukan dalam rangka menjaga ketahanan pangan dalam jangka panjang. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengembangkan dan mengintroduksi bahan pangan alternatif pengganti beras yang berharga murah dan memiliki kandungan gizi yang tidak jauh berbeda dengan beras. Beberapa karakter yang seharusnya dimiliki oleh pangan pengganti beras, menurut Krisnamurthi  (2006), adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki kandungan energi dan protein yang cukup tinggi sehingga apabila harga bahan pangan tersebut dihitung dalam kalori atau harga protein nabati, maka perbedaannya tidak terlalu jauh dengan harga energi atau harga protein nabati yang berasal dari beras;
  2. memiliki peluang yang besar untuk dikonsumsi dalam kuantitas yang relatif tinggi sehingga apabila terjadi penggatian konsumsi beras dengan bahan tersebut maka pengurangan kuantitas kalori dan protein nabati yang berasal dari beras dapat dipenuhi dari bahan pangan alternatif yang dikonsumsi;
  3. bahan baku untuk pembuatan bahan pangan alternatif cukup tersedia di daerah sekitarnya;
  4. dari segi selera, bahan pangan alternatif memiliki peluang cukup besar untuk dikonsumsi secara luas oleh rumah tangga konsumen.

Oleh karena itu, antisipasi terhadap pangan baru seperti mi yang bahan bakunya tidak diproduksi di dalam negeri harus diperhatikan dalam mengembangkan industri dan menerapkan jenis teknologi yang akan dipilih.

Pengembangan teknologi seyogyanya mampu mengembangkan penggunaan jenis umbi-umbian dan serealia sumberdaya lokal sehingga ketergantungan terhadap impor terigu dapat ditekan.

Keragaman hayati (biodiversity) yang tersebar di wilayah Indonesia merupakan potensi besar yang dapat diolah menjadi pangan. Hal ini sekaligus menjadi peluang yang dapat mengantar Indonesia untuk berswasembada karbohidrat, protein, dan lemak. Sayang potensi besar tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Terjadinya krisis ekonomi Indonesia yang berdampak pada lahirnya krisis pangan dan gizi dapat dijadikan momentum untuk membuka peluang pemanfaatan komoditas pangan lokal yang selama ini kurang mendapat perhatian masyarakat. Beberapa komoditas lokal seperti ganyong, ubi kayu, ubi jalar dan komoditas lainnya (yang nyaris tidak dikenal lagi) dapat dikembangkan sebagai pangan alternatif. Kandungan karbohidrat dan protein pangan tersebut dapat mensubtitusi penggunaan komoditas pangan utama pada aneka produk pangan. Terigu yang sering menjadi polemik dapat berkurang penggunaannya dengan memanfaatkan tepung dari umbi-umbian.

2.4.   Meningkatkan Pendapatan Petani dan Agroindustri Pangan

Peran sektor pertanian yang utama adalah sebagai penyedia pangan bagi penduduk. Jenis komoditas pangan yang dihasilkan oleh sektor pertanian akan sangat tergantung dari pola konsumsi masyarakat. Pelaksanaan diversifikasi konsumsi pangan secara bertahap akan mengubah pola produksi pertanian di tingkat petani (diversifikasi produksi pertanian). Petani akan memproduksi komoditas yang banyak dibutuhkan oleh konsumen dan yang memiliki harga cukup tinggi. Kondisi ini akan membawa dampak pada peningkatan pendapatan petani. Mereka tidak lagi tergantung pada komoditas padi sebagai sumber pendapatan usahataninya, tetapi dapat mencoba tanaman lain yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi. Hal ini juga secara ekplisit dituangkan dalam PP No. 68 yang menyebutkan bahwa penganekaragaman pangan dilakukan dengan mengembangkan teknologi pengolahan dan produk pangan.

Satori (2010), berpendapat bahwa usaha pembuatan aneka tepung lokal dan olahannya memiliki prospek yang cerah dan dapat dikembangkan di daerah-daerah yang memiliki potensi ketersediaan bahan pangan lokal, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pedesaan, membuka lapangan kerja dan meningkatkan ketahanan pangan nasional, sehingga layak dipromosikan. Pengembangan agroindustri difokuskan pada tepung dan produk olahan dari; labu kuning, ubi kayu, ganyong, jagung, pisang dan lain sebagainya.

 

2.5.  Singkong Sebagai Salah Satu Komoditi Ajaib

Pada dasarnya singkong mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, multi guna dan mempunyai multiplier effect yang besar dalam pembangunan ekonomi dan lingkungan. Dengan produksi yang cukup tinggi dan  cukup potensial untuk dikembangkan di pekarangan. Sebagai sumber pangan, singkong tidak hanya dapat dijadikan untuk kudapan saja tetapi dapat diolah dan dikembangkan menjadi tepung, yang dapat menjadi salah satu alternatif subtitusi tepung terigu yang tingkat ketergantungan impornya saat ini sangat tinggi (Suswono,2011)

Singkong cukup potensial untuk dikembangkan karena singkong merupakan tanaman yang sudah sangat dikenal oleh petani dan dapat ditanam dengan mudah, serta merupakan tanaman yang sangat fleksibel dalam usahatani dan umur panen. Lahan untuk tanaman singkong tidak harus khusus, tidak memerlukan penggarapan intensif seperti halnya untuk tanaman hortikultura lainnya, misal sayuran.

Bagi Indonesia, diversifikasi produksi dan konsumsi berbasis pangan lokal sangat mendesak. Diversifikasi produksi pangan merupakan salah satu cara adaptasi yang efektif untuk mengurangi resiko penurunan produksi akibat perubahan iklim dan kondusif untuk mendukung perkembangan industri pengolahan berbasis sumberdaya lokal. Pada sisi konsumsi, diversifikasi memperluas spektrum pilihan yang dapat meningkatkan pola pangan yang beragam dan bergizi seimbang, sebagaimana diamanatkan dalam perpres Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal

Menurut Suswono (2011), ada dua jalur alternatif untuk pengembangan produk singkong guna mendukung diversifikasi pangan, pertama pengembangan singkong menjadi tepung komposit (terigu dan tepung yang berasal dari umbi-umbian) sehingga produk akhirnya berupa mie, roti ataupun pasta. Kedua adalah mengubah bentuk dari tepung singkong menjadi butiran atau dapat disebut “beras non padi”. Beras non padi ini dapat dicampur dengan beras dari padi sehingga dihasilkan beras campuran yang dapat diolah dan dikonsumsi seperti nasi pada umumnya.

Ditambahkan oleh Samad (2009), pemikiran terhadap kemungkinan penyediaan “beras tiruan” (beras buatan) dapat dianggap realistis asalkan secara teknis dan ekonomi dapat dilakukan walaupun dari dari segi rasa dan estetika masih perlu dikaji lebih lanjut. Sejauh ini belum ditemukan adanya beras yang dibuat dari non padi. Namun, produk berbentuk butiran telah dikenal masyarakat, seperti misalnya sagu mutiara dan sebagainya. Produk ini berbentuk seperti beras yaitu agak bulat, putih, namun dibuat dari pati sagu atau singkong. Meski demikian, sagu mutiara bersifat lengket ketika dimasak dan sering terdapat spot putih di bagian tengahnya sebagai tanda terjadinya proses gelatinisasi tidak sempurna. Modifikasi dan improvisasi teknologi ini berpeluang menghasilkan teknologi produksi beras tiruan. Teknologi ini diduga akan mudah diadopsi masyarakat, mengingat sifatnya yang bukan teknologi baru, melainkan teknologi pengembangan. Oleh sebab itu diperlukan adanya suatu pengkajian yang mendalam tentang teknologi pembuatan beras tiruan dengan menambahkan atau merubah sifat fungsionalnya sedemikian rupa sehingga bentuknya agak pipih, putih dan tidak begitu lengket. Jika beras tiruan dapat dipasarkan, maka masyarakat akan memiliki pilihan dalam mengkonsumsi beras dan atau tiruannya tergantung kepada kemampuannya. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka perlu diteliti pembuatan dan pemasyarakatan beras tiruan (artificial rice) yang merupakan salah satu pilihan untuk menyukseskan usaha diversifikasi pangan .

Akan tetapi penanaman singkong di Indonesia termasuk “secondary crops”. Komoditi kelas dua. Sebenarnya komoditi ini adalah “komoditi ajaib” dan serba guna. Berjuta-juta penduduk Indonesia dibebaskan dari kelaparan dan diberikan pekerjaan oleh casava. Serta nilai gizi singkong lebih tinggi dari beras. Hanya memang nilai lemak dan proteinnya rendah. Tapi kalau diolah dengan pangan lain sebagai penyeimbang sumber protein dan lemak, maka sangat bermanfaat sebagai bahan pangan.

Tabel 1.  Kandungan Nutrisi pada Ubi Kayu (per 100 gram)

No

Nutrisi

Jumlah

Satuan

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

 

Kalori

Air

Phosphor

Karbohidrat

Kalsium

Vitamin C

Protein

Besi

Lemak

Vitamin B1

Berat dapat dimakan

146

62,5

40

34

33

30

1,2

0,7

0,3

0,06

75

Kal

Gram

Mg

Gram

Mg

Mg

Gram

Mg

Gram

Mg

Gram

Sumber : casavaindonesia.web.com/singkongt…

Dikemukakan oleh Husen (2011), Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) sedang mengintroduksikan pembentukan klustering pengolahan singkong sehingga menghasilkan produk yang bernilai tambah seperti gaplek (dried casava), tepung gaplek (dried casava flour), tepung singkong (casava flour), tepung mocaf (modified casava flour). Bertujuan untuk memperkuat kerjasama kemitraan antara petani singkong dengan pelaku usaha agribisnis singkong lainnya dengan menjamin suplai bahan baku, menjamin alsintan, menyepakati harga dan mengusahakan permodalan.

Bentuk pemanfaatan ubi kayu yang lain adalah dengan mengolah ubi kayu menjadi tapai ubi kayu yang dapat diolah lebih lanjut menjadi tepung tapai ubi kayu. Tepung tapai ubi kayu memiliki keunggulan dibandingkan dengan tepung ubi kayu, dimana tepung tapai ubi kayu memiliki nilai gizi yang lebih baik dibandingkan dengan tepung ubi kayu biasa. Sehingga, tepung tapai ubi kayu sangat berpotensi untuk digunakan sebagai salah satu alternatif untuk substitusi tepung terigu dalam pembuatan biskuit. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai penggunaan tepung tapai ubi kayu untuk substitusi tepung terigu dalam pembuatan biskuit ( Anggraini, 2010)

Selain itu ubi kayu juga dapat diolah menjadi tepung ubi kayu termodifikasi. Apa bedanya dengan tepung gaplek? Subagio (2009) menerangkan, tepung gaplek, pembuatannya lebih sederhana. Yakni, ubi kayu dikeringkan, lalu digiling menjadi tepung. Sementara Mocal, melalui beberapa proses kimia. Di antaranya, ubi kayu difermentasikan dulu. Setelah itu, dikeringkan. Mengeringkannya, 3/4 menggunakan matahari. dan juga menggunakan alat pengering hibrida agar terjamin hieginitasnya. Setelah dikeringkan, ubi ketela itu akan berbentuk chips (seperti keripik). Selanjutnya, baru digiling, diayak (disaring), dikemas menjadi produk tepung serbaguna. Kalau tepung gaplek bau ketelanya masih dominan sehingga kadang baunya apek. Tapi, tepung Mocal  cita rasa ketelanya hampir nggak ada. Sekitar 70 persen rasa singkongnya hilang.

Berkat proses kimia yang diterapkan pada Mocal, Subagio (2009) berhasil menjadikan tepung gaplek memiliki tingkat viskositas (kekentalan) dan tingkat elastisitas adonan yang tinggi, sehingga bisa dimanfaatkan untuk pembuatan kue dengan biaya yang lebih rendah dibanding terigu. Sebagai perbandingan harga terigu Rp.  4.600 per kilogram, sementara tepung mocal hanya Rp. 3.200 per kilogram. Kandungan karbohidratnya juga lebih tinggi dari tepung terigu.

Dan menurut pendapat Misgiarta (2010), tepung ubi kayu dan tepung gaplek yang dibuat secara konvensional biasanya memiliki warna yang tidak putih, aroma ubi kayu yang sangat kuat dan teksturnya kurang elastis sehingga kurang baik digunakan sebagai bahan baku olahan kue. Dengan teknologi fermetasi tepung ubi kayu menjadi lebih putih, aroma ubi kayunya berkurang dan elastisitasnya lebih tinggi.

Lebih lanjut Misgiarta (2010), menambahkan bahwa pada prinsipnya cara pembuatannya sama dengan tepung ubi kayu. Perbedaan dari kedua prosesnya terdapat penambahan proses fermentasi terhadap irisan ubi kayu (chips) dengan menngunaka starter Bimo-CF, mrupakan bibit berbentuk tepung menngunakan bahan aktif mikroba bakteri asam laktat yang aman untuk pangan dan diperkaya dengan nutrisi dan dibuat dengan teknologi yang menghasilkan stabilitas dan efektifitas yang tinggi.

Menurut Semadi (2010), arti penting menanamkan pemikiran untuk memanfaatkan bahan  pangan yang tersedia ditempat sebagai makanan sehari-hari akan sangat terdukung, jika pengetahuan tentang memasak makanan yang lezat dan menarik telah dimiliki oleh setiap individu dalam masyarakat. Yang tidak hanya berupakan legenda nenek yang terkesan kurang prestisius untuk disampaikan secara formal.

BAB  III. KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa upaya mewujudkan ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada beras dapat ditanggulangi dengan memanfaatkan sumberdaya lokal yaitu dengan menggali potensi lokal berbasis non beras untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Hal ini ditunjukan oleh adanya variasi dalam pengkonsumsian meskipun masih sebatas kudapan. Salah satunya adalah pengolahan ubi kayu, yang tidak hanya sebagai penganeka ragaman pangan akan tetapi dapat meningkatkan pendapatan bila diolah secara komersil.

DAFTAR PUSTAKA

  1.  Anonimous.  2010.  Mencari ikon pergerakan nasionalisme pangan Indonesia. .www.majalahpangan.com/2010/04/(12 April 2010).
  1. Juarini. 2006. Kondisi dan kebijakan pangan di Indonesia. Jurnal Dinamika Sosial Ekonomi UPN Veteran Yogyakarta. Vol 7 No 2. Desember.
  2. Tampubolon, P. 1998. Peranan wanita dalam mensukseskan upaya diversifikasi pangan. Searching internet:  http://www.unistuttgart.de/ indonesia/news/info.html
  1. Suswono, 2011. Sambutan Menteri Pertanian pada Loknas industri singkong memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional. Hal 19. Tabloit Sinar Tani Edisi    9 – 15 Maret 2011 no 3396 Tahun XLI
  2. 5.             Husen S, B.Sc, SE . 2011. Konsep kluster singkong penghasilan petani Rp. 4-5 Juta per bulan. Hal 5. Tabloit Sinar Tani Edisi 9 – 15 Maret 2011 no 3396 Tahun XLI
  3. 6.             KPI. 2011. Menjaga Harapan Mewujudkan Keadilan Diantara Deraan Bencana. In. Refleksi 2010 dan catatan awal tahun 2011 koalisi perempuan indonesia  — www.koalisiperempuan.or.id/index.php
  4. Misgiarta. 2010. Produksi tepung kasava berkualitas melalui fermentasi. Hal 5. Tabloit Sinar Tani Edisi    29 September – 5 Oktober  2010 no 3373 Tahun XLI
  5. Satori, A.  2010. Konsep dan ukuran ketahanan pangan rumah tangga di perdesaan. Hal 19. Tabloit Sinar Tani Edisi    29 September – 5 Oktober  2010 no 3373 Tahun XLI
  6. Angraini. 2010. Kajian penggunaan tepung tapai ubi kayu (manihot utilissima) untuk substitusi tepung terigu pada pembuatan biskuit. fp.uns.ac.id/penelitian_mahasiswa.php?act=det&idA=654
  7. Samad, M.Y. 2009. Pembuatan beras tiruan (artificial rice) dengan bahan baku ubi kayu dan sagu. Jurnal Vol .VII.IB.02. Pusat pengkajian dan penerapan teknologi agroindustriwww.iptek.net.id/ind/?mnu=8HYPERLINK “http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=8&ch=jsti&id=19″&HYPERLINK “http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=8&ch=jsti&id=19″ch=jstiHYPERLINK “http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=8&ch=jsti&id=19″&HYPERLINK “http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=8&ch=jsti&id=19″id=19
  1. Semadi. 2010. Teknologi pengolahan pangan non beras. Staff.unud.ac.id/~semadiantara/?p=178
  2. Subagio, A. Dr,M.Ag. 2009. Penemu modifikasi tepung gaplek. Sdm.iptek.org/web/category/iptek-cornerd.list-of-companies.org/nigeria/agriculture/d.list.of-
  3. Krisnamuthi, B.  2006. Penganekaragaman pangan sebuah kebutuhan yang mendesak. Makalah seminar nasional diversifikasi untuk mendukung ketahanan pangan.
About these ads
 

One Response to “PELUANG PENINGKATAN GIZI DAN PENDAPATAN KELUARGA MELALUI DIVERSIFIKASI PANGAN BERBASIS UBI KAYU”

  1. Keren juga artikel ini. selama ini kan ubi kayu kalau ga direbus ya digoreng. apalagi ditemenin kopi. hehehehe. lumayan tulisannya. keep good workd. :-d


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers