Penilaian tahap pertama adipura sudah selesai dilaksanakan oleh tim penilai adipura. Banyak cara digunakan untuk dapat meraih piala adipura. Sayangnya, banyak kabupaten/kota yang terjebak hanya untuk memperoleh piala. Substansi adipura dilupakan. Mereka lupa bahwa piala adipura itu merupakan penghargaan bagi kabupaten/kota yang secara rutin telah berhasil menjaga dan meningkatkan clean and green di wilayahnya. Ada adipura atau tidak ada seharusnya tidak jadi masalah untuk tetap membangun kota yang clean and green, sebab kebesrsihan dan hijau itu amat dibutuhkan bukan saja bagi manusia tetapi juga bagi makhluk hidup yang lain.
Secara konsep, adipura merupakan suatu proses. Proses dimana suatu kota secara bertahap dan kontinyu berusaha menuju kota yang bersih dan hijau, sehingga kota tersebut layak huni bagi semua makhluk. Jadi, salah besar jika kota menjelang penilaian adipura baru berbenah. Pedagang kaki lima disingkirkan sementara, pasar disulap, jalan pun disulap; bahkan ditanam pohon yang notabene mendadak ada dan langsung tinggi. Fasilitas umum tiba-tiba menjadi bersih dan kaya akan kotak sampah; bahkan terlalu banyak malah dan masih gres alias baru turun dari toko. Tim penilaipun jadi bingung. Gimana nich menilainya? bahkan ada pula wilayah yang minta tangguh, nanti saya kirim fotonya. Wah, bikin pusing sang penilai. Setelah penilaian, kotapun menjadi kembali kepada titik awal.
Inilah akibatnya, jika adipura bertujuan hanya untuk menyabet piala. Akhirnya, tujuan adipura menjadi gagal total.









SocialVibe