JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

REHABILITASI LAHAN KRITIS DENGAN SISTEM AGROFORESTRY Oleh : HELEN TIORITA September 2, 2012

Filed under: lingkungan — Urip Santoso @ 2:11 am
Tags: ,

ABSTRAK

Meningkatnya lahan kritis merupakan kesatuan antara pemicu dengan kondisi biofisik, social budaya, ekonomi dan terkait dengan tanah sebagai factor utama. Lahan kritis sebagai salah satu kawasan yang luasannya cukup luas dan produktivitas lahan masih kurang dalam hal pengelolaannya. Kegiatan rehabilitasi lahan pada lahan kritis merupakan salah satu upaya peningkatan sumber daya alam yang ada untuk dapat dikembangkan dan dilestarikan. Rehabilitasi lahan kritis dengan system agroforestry adalah kombinasi dari suatu metode penanaman tanaman pertanian dengan kehutanan yang mana dalam hal pengelolaannya mengikutsertakan partisipasi masyarakat yang ada disekitarnya.

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara terbesar ketiga yang mempunyai hutan tropis terluas di dunia dan menduduki peringkat pertama di Asia Pasifik. Indonesia termasuk salah satu penyumbang karbon yang terbesar bagi dunia. Luas hutan hujan tropis Indonesia seluas ± 1.148.400 kilometer persegi yang mempunyai kekayaan hayati yang begitu besar, mulai dari tambang, flora dan faunanya (http://www.mediaindonesia.com, 10 November 2010).

Kerusakan hutan di Indonesia tidak hanya terjadi pada hutan produksi tetapi juga terjadi pada hutan lindung dan hutan konservasi (cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata alam, taman buru). Kawasan hutan lindung mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan system penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah instrusi air laut dan memelihara tanah (UU No.41 Tahun 1999). Namun kawasan hutan lindung saat ini sudah banyak yang berubah fungsi karena tidak jelasnya batas-batas kawasan hutan lindung sehingga mengakibatkan kawasan hutan lindung sudah menjadi desa yang penduduknya berkembang secara turun temurun.

Semakin berkurangnya luas kawasan hutan lindung maka kawasan hutan yang juga mempunyai fungsi sebagai penyangga kehidupan adalah hutan konservasi juga harus dijaga agar tidak berubah fungsinya. Hutan konservasi adalah kawasan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya (UU No.41 Tahun 1999). Hutan konservasi sebagai salah satu kawasan lindung yang memiliki peranan yang sangat penting bagi kelangsungan sumber daya alam hayati sebagian besarnya juga sudah mengalami kerusakan.

Kerusakan hutan yang terjadi disebabkan karena meningkatnya kebutuhan masyarakat, ketergantungan masyarakat yang tinggal disekitar hutan terhadap kawasan hutan, Penebangan (legal) yang berlebihan dan penebangan illegal, meningkatnya kenaikan jumlah penduduk, kurangnya lahan sebagai tempat tinggal, masyarakat belum mengetahui secara benar tentang fungsi dan manfaat hutan, hutan di ubah menjadi lahan pertanian, kawasan pertambangan, dan perkebunan serta sebab yang disebabkan oleh bencana alam sehingga menyebabkan fungsi hutan hilang. Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolahan lahan kritis dan tata air diwilayah ini adalah menyeimbangkan perlindungan dan pelestarian sumberdaya tanah dan air yang terbatas dengan semakin meningkatnya, kebutuhan manusia. Keragaman dan keunikan geografi dengan perbedaan tipologi agroklimat dan tipe lahan yang khas membutuhkan penanganan yang bersifat spesifik, khususnya untuk rehabilitasi lahan . Salah satu mengatasi kerusakan hutan yaitu dengan melakukan rehabilitasi khususnya lahan-lahan kritis. Oleh karena itu maka perlu diketahui sebab-sebab lahan tersebut menjadi kritis dan bagaimana melakukan rehabilitasi pada lahan kritis dengan system agroforestry.

TINJAUAN PUSTAKA

Lahan kritis adalah lahan yang tidak produktif. Meskipun dikelola, produktivitas lahan kritis sangat rendah. Bahkan, dapat terjadi jumlah produksi yang diterima jauh lebih sedikit daripada biaya pengelolaannya. Lahan ini bersifat tandus, gundul, tidak dapat digunakan untuk usaha pertanian, karena tingkat kesuburannya sangat rendah (Ririn Ra’ifatur Rahmah).

Menurut Wahono (2002 : 3), lahan kritis adalah lahan yang sudah tidak berfungsi lagi sebagai pengatur media pengatur tata air, unsur produksi pertanian, maupun unsur perlindungan alam dan lingkungannya. Lahan kritis merupakan suatu lahan yang kondisi tanahnya telah mengalami atau dalam proses kerusakan fisik, kimia atau biologi yang akhirnya membahayakan fungsi hidrologi, orologi, produksi pertanian, pemukiman dan kehidupan sosial ekonomi di sekitar daerah pengaruhnya (Ade Iwan Setiawan, 1996 : 19).

Masalah utama yang dihadapi pada lahan kering beriklim basah bergelombang antara lain mudah tererosi, bereaksi masam, miskin akan hara makro esensial  dan tingkat keracunan aluminium yang tinggi (Afrizon, 2006)

Rehabilitasi lahan merupakan suatu usaha memperbaiki, memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal baik sebagai unsur produksi, media pengatur tata air, maupun sebagai unsur perlindungan alam dan lingkungannya (Wahono, 2002 : 3).

Menurut Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999, Rehabilitasi Hutan dan Lahan dimaksudkan untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktifitas dan peranannya dalam mendukung sistem keidupan tetap terjaga. Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan diselenggarakan melalui kegiatan Reboisasi, Penghijauan, Pemeliharaan, Pengayan tanaman, atau Penerapan teknik konservasi tanah secara vegetatif dan sipil teknis pada lahan kritis da tidak produktif.

Menurut Supriyanto (1996 : 1) Kegiatan reboisasi dan penghijauan pada umunya dilakukan pada tanah kritis dan areal bekas pembalakan. Kedua kegiatan tersebut memerlukan bibit dalam jumlah besar dan berkualitas baik.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1985, Kegiatan Perlindungan Hutan bertujuan untuk menjaga kelestarian hutan agar dapat memenuhi fungsinya. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakikan segala usaha, kegiatan dan tindakan untuk mencegah dan membatasi kerusakan  hutan dan hasil hutan yang disebabkan oleh perbuatan manusia, ternak, kebakaran, daya  alam, hama dan penyakit, serta untuk memprtahankan dan menjaga hak – hak negara atas hasil hutan.

Menurut Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999, penyelenggaraan perlindungan hutan dan konservasi alam bertujuan menjaga hutan dan lingkungannya agar fungsi lindung, fungsi konservasi dan fungsi produksi tercapai secara optimal dan lestari. Perlindungan hutan dan kawasan hutan merupakan usaha untuk :

  1. Mencegah dan membatasi kerusakan hutan dan kawasan hutan dan hasil hutan yang disebabkan oleh manusia, ternak, kebakaran, daya – daya alam, hama serta penyakit.
  2. Mempertahankan dan menjaga hak – hak negara, masyarakat dan perorangan atas hutan, hasil hutan, inventarisasi serta perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan hutan.

Luas lahan kritis diperkirakan meningkat rata-rata 400.000 ha/tahun jika tidak ada upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang memadai. Peningkatan luas lahan kritis terutama disebabkan oleh pengelolaan yang tidak benar, antara lain penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai dengan usaha konservasi tanah dan air (Amiruddin Syam, 2003)

Faktor- Faktor yang menyebabkan terjadinya lahan kritis, antara lain sebagai berikut:

  • Kekeringan, biasanya terjadi di daerah-daerah bayangan hujan.
  • Genangan air yang terus-menerus, seperti di daerah pantai yang selalu tertutup rawa-rawa.
  • Erosi tanah dan masswasting yang biasanya terjadi di daerah dataran tinggi, pegunungan, dan daerah yang miring. Masswasting adalah gerakan masa tanah menuruni lereng.
  • Pengolahan lahan yang kurang memperhatikan aspek-aspek kelestarian lingkungan. Lahan kritis dapat terjadi di dataran tinggi, pegunungan, daerah yang miring, atau bahkan di dataran rendah.
  • Masuknya material yang dapat bertahan lama kelahan pertanian (tak dapat diuraikan oleh bakteri) misalnya plastic. Plastik dapat bertahan ± 200 tahun di dalam tanah sehingga sangat mengganggu kelestaian kesuburan tanah.
  • Pembekuan air,biasanya terjadi daerah kutub atau pegunungan yang sangat tinggi.

Lahan kritis yang semakin luas akan mengancam kehidupan baik yang di darat maupun perairan. Reklamasi dan rehabilitasi lahan kritis diperlukan untuk mengembalikan fungsi lahan tersebut secara optimal sebagaimana mestinya dan tentunya berguna bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

Adapun tujuan dari pembangunan kembali lahan kritis adalah :

  1. Meningkatnya kehidupan sosial ekonomi masyarakat
  2. Meningkatkan produktivitas
  3. Meningkatkan kualitas lingkungan menjadi lebih baik
  4. Menyediakan air dan udara yang bersih
  5. Terpeliharanya sumber daya genetic
  6. Panorama lingkungan yang indah, unik dan menarik

Kondisi lahan kritis berbeda- beda, sehingga cara menanganinya pun tidak akan sama. Kegiatan merehabilitasi lahan kritis memerlukan berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Peningkatan mutu sumber daya manusia yang menangani lahan kritis merupakan salah satu kunci penentu keberhasilan pencapaian sasaran rehabilitasi lahan kritis tersebut.(Tinambunan, 1995).

Guna mendukung keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan dilahan kritits, diperlukan terciptanya model pengelolaan yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sehingga, masyarakat secara aktif dalam analisis masalah dan pengambilan keputusan. Penggunaan atau penerapan teknologi Agrovorestry selain untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia juga untuk merehabilitasi lahan kritis sehingga kelestarian hutan tetap terjaga (Jeriels Matatula, 2009).

Ada beberapa langkah yang perlu ditempuh agar pekerjaan rehabilitasi dengan agroforestry dapat berhasil dengan baik. Langkah-langkah yang dimaksud adalah :

  1. Upaya memperbaiki kondisi mikroklimat dan upaya agar kondisi tanah berbatu mulai memungkinkan ditumbuhi oleh flora berakar dangkal sambil berupaya untuk memperkaya hara nitrogen dan hara makro dan hara mikro lainnya..
  2. Seperti pada langkah pertama, tetapi menggunakan jenis-jenis yang sistem perakarannya lebih dalam.
  3. Pemilihan jenis-jenis pohon yang persyaratan tumbuhnya sesuai dengan kondisi habitat yang bersangkutan .
  4. Pemilihan jenis-jenis yang lebih produktif. Pemilihan jenis-jenis yang lebih produktif dan memiliki nilai komersil sudah dapat dimulai (Pemuliaan Pohon).

Sistem yang digunakan dalam melakukan rehabilitasi lahan kritis adalah dengan agroforestry yang mana partisipasi aktif masyarakat sangat dibutuhkan, sehingga diharapkan masyarakat dapat menjaga kawasan hutan yang ada dan pendapatannya masyarakat juga meningkat. Metode agrofoerstry untuk untuk  memulihkan lahan sudah berkembang di berbagai lokasi dan negara, sehingga usaha merehabilitasi lahan kritis dengan tanaman serbaguna (multipurpose tree species) merupakan salah satu upaya khusus yang dapat dipilih untuk digunakan dalam rehabilitasi lahan kritis yaitu dengan menanam tanaman keras (kehutanan MPTS) dengan tanaman pertanian.

Agroforestry adalah suatu metode penggunaan lahan secara oftimal, yang mengkombinasikan sitem-sistem produksi biologis yang berotasi pendek dan panjang (suatu kombinasi kombinasi produksi kehutanan dan produksi biologis lainnya) dengan suatu cara berdasarkan azas kelestarian, secara bersamaan atau berurutan, dalam kawasan hutan atau diluarnya, dengan bertujuan untuk mencapai kesejahteraan rakyat. (Satjapradja,1981).

Vergara (1982) menyatakan bahwa agroforestry merupakan salah satu pola atau suatu sistem tata guna lahan yang lestari dan terpadu yaitu antara komponen tanaman budidaya (pertanian) dan tanaman pohon/kehutanan dengan atau tanpa komponen piaraan/peternakan atau perikanan ikan dan udang. Dengan demikian diharapkan produktivitas lahan menjadi optimal dan berkesinambungan. Factor manusia setempat (sosial, ekonomi dan budaya) perlu dijadikan pertimbangan, di samping faktor ekologi setempat (vegetasi, tanah, iklim, dan sebagainya).

Wiersum (1980), mengemukakan beberapa keuntungan yang diperoleh dengan penggunaan teknik agroforestry yaitu sebagai berikut.

  1. Keuntungan ekologis, yaitu penggunaan sumber daya yang efisien baik dalam pemanfaatan sinar matahari, air dan unsur hara di dalam tanah.
  2. Keuntungan ekonomis, yaitu total produksi yang dihasilkan lebih tinggi sebagai akibat dari pemanfaatan yang efisien.
  3. Keuntungan sosial, yaitu memberikan kesempatan kerja sepanjang tahun.
  4. Keuntungan phsikologis, yaitu perubahan yang relatif kecil terhadap cara berproduksi tradisional dan mudah diterima masyarakat dari pada teknik pertanian monokultur.
  5. Keuntungan politis, yaitu sebagai alat yang memberikan pelayanan sosial dan kondisi hidup yang lebih baik bagi petani.

Penentuan jenis tanaman untuk rehabilitasi lahan kritis harus memperhatikan aspek-aspek kehutanan dan kesejahteraan masyarakat. Dalam penentuan jenis tanaman memerlukan pengetahuan yang cukup banyak untuk menentukan jenis tanaman yang cocok untuk dibudidayakan atau dijadikan tanaman reboisasi (Budi Hadi, Andi Gustaini S, 2002). Pemilihan jenis tanaman yang akan dipilih untuk lahan kritis memiliki syarat antara lain :

  1. Memiliki akar tunjang yang kuat dan dalam
  2. Menyerap air yang sedikit
  3. Tidak terlalu membutuhkan banyak unsure hara.
  4. Tanaman yang endemic dengan habitatnya/tanaman serbaguna

Jenis tanaman yang banyak dibudidayakan di lahan kritis adalah albisia (sengon). Tanaman keras penghasil kayu ringan ini memang menjadi trend dan naik daun. Terutama sejak fungsinya sebagai bahan bangunan murah dan peti sabun, berubah menjadi komoditas kayu olahan untuk diekspor ke Jepang. Sebenarnya, albisia memiliki kelemahan karena tajuknya yang berdaun majemuk mirip lamtoro, kurang berfungsi untuk melindungi lahan kritis. Rontokan daunnya yang sangat sedikit juga kurang berarti untuk menciptakan humus yang bisa meningkatkan kesuburan lahan. Namun albisia masih lebih baik dibanding dengan akasia yang pertumbuhannya lamban dan daunnya tidak mudah hancur serta mengeluarkan zat alelopati yang tidak memungkinkan tanaman lain hidup disekitarnya.

Selain tanaman jenis albisia dan akasia, sebenarnya masih ada tanaman penghasil kayu yang bongsor, berdaun lebar dan bertajuk lebat. Kayunya juga ringan dan putih seperti halnya albisia. Tanaman itu bernama gamelina. Jenis lainnya yang juga bagus ditanam adalah mahoni karena mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi namun tanaman ini sedikit digunakan karena bukan tanaman endemic di Indonesia dan pertumbuhan diameter pohonnya tidak cepat sehingga banyak yang kurang tertarik untuk menanam jenis tersebut.

Untuk mengembalikan unsure hara tanah cara yang paling utama  mengidentifikasi jenis tanaman pertanian yang ada di areal tersebut dan memperbanyak. Untuk tanaman pertanian yang dapat ditanam adalah jenis tanaman legum/ polongan seperti kemlandingan/ lamtoro, gamal, turi yang dapat dimanfaatkan sebagai sayuran, tanaman atsiri, serta jenis-jenis lain. Kita memilih tanaman jenis legum dikarenakan biji banyak dan penyebaranya jauh serta mudah berkecambah. Daunnya yang majemuk dan tipis mudah terdekomposisi, serta akan membentuk iklim mikro dibawah tegakan yang merupakan tempat hidup mikro organisme pengurai. Dan kelamaan akan terjadi suksesi, sehingga pada saatnya nanti kita akan bisa menanam lahan tersebut dengan tanaman keras lagi, bahkan kita dapat menerapkan konsep agroforestry pada lahan tersebut.

Penanaman tanaman di lahan kritis dengan mengikuti arah kountur yang mana tanaman keras di tanaman di lereng-lereng dan dibuat seperti guludan/teras. Hal tersebut dimaksudkan agar pada saat musim penghujan tanaman yang ada tidak mudah terbawa air ataupun mudah terjadinya erosi seperti belum dikelola. Jarak tanam yang digunakan untuk menanam tanaman tergantung kritisnya lahan sehingga aturan dalam jarak tanam tidak dapat ditetapkan secara tetap. Namun diantara lahan-lahan kritis tersebut diberi ruang untuk menanam tanaman polong-polongan yang bisa meningkatkan unsure hara pada tanah.

KESIMPULAN

Lahan kritis merupakan salah luasan area yang tidak produktif yang mana tingkat produktivitas/kesuburan lahan sangat rendah, jumlah produksi yang diterima jauh lebih sedikit daripada biaya pengelolaannya.  Lahan kritis merupakan kawasan yang cukup luas dengan fungsi yang dapat dipulihkan kembali dengan melakukan rehabilitasi.

Rehabilitasi lahan merupakan suatu usaha memperbaiki, memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal baik sebagai unsur produksi, media pengatur tata air, maupun sebagai unsur perlindungan alam dan lingkungannya

Rehabilitasi lahan kritis dapat dilakukan dengan system agroforestry yang menggabungkan penanaman tanaman pertanian (semusim) dengan tanaman kehutanan (tanaman keras). Fungsi melakukan agroforestry pada lahan kritis adalah untuk memberikan peningkatan pendapatan petani/masyarakat yang tinggal di sekitar lahan kritis sehingga diharapkan masyarakat tidak merusak kawasan hutan lainnya dengan pertanian yang berpindah-pindah, ataupun menduduki kawasan hutan.

Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan diutamakan pelaksanaannya melalui pendekatan partispatif dalam rangka mengembangkan potensi dan memberdayakan masyarakat serta menggunakan system agroforestry. Rehabilitasi pada lahan kritis dilakukan dengan pembuatan teras/guludan dan disesuaikan dengan kountur lahan agar tidak terkena erosi pada saat musim penghujan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam penyusunan tugas karya ilmiah ini.

Terima kasih saya ucapkan kepada keluarga yang sudah membantu saya dalam memberikan waktu dalam penyusunan tugas karya ilmiah ini.

Terima kasih saya ucapkan kepada orang-orang yang sudah membantu saya dan memberikan informasi dalam penyusunan tugas karya ilmiah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Afrizon, Pengelolaan Agroekosistem Lahan Kering, 2006

Amiruddin Syam Sistem Pengelolaan Lahan Kering Di Daerah Aliran Sungai Bagian Hulu, Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003

Anonimous, Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999

Anonimous, Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985, tentang Perlindungan Hutan

Aplikasi Silvikultur Dalam Rehabilitasi Lahan Kritis 0leh : Andi Rinto P. W., S.Hut

Andi Rinto Prastiyo Wibowo, Forum Kerjasama Agribisnis D3 Kehutanan 2001

Ani Adiwinata Nawir, Murniati, Lukas Rumboko, Rehabilitasi hutan di Indonesia, Bogor, Indonesia: Center for International Forestry Research (CIFOR), 2008.

Arie Budiwan, S.Hut Dan Ridwan, Rehabilitasi   Hutan  Dan Lahan Oleh Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Di Kabupaten Kapuas Hulu, 2004

Budi Hadi, Andi Gustaini S, Kesesuaian Jenis tanaman untuk rehabilitasi lahan kritis bekas penambangan Batu Apung di Sub Das Serdang, DAS Menanga, Lombok Timur, Buletin Teknologi Pengelolaan DAS No.10/2002, 2002

Http://Www.Mediaindonesia.Com, 10 November 2010

Jeriels Matatula Upaya Rehabilitasi Lahan Kritis Dengan Penerapan Teknologi Agroforestry Sistem Silvopastoral Di Desa Oebola Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang, Inotek, Volume 13, Nomor 1, Februari 2009

Ririn Ra’ifatur Rahmah, Lahan Kritis Dan Lahan Potensial

Satjapradja, Agroforestry dan pengendalian perladangan berpindah-pindah, di Jakarta Nopember 1981

Tinambunan, 1995 dalam Jeriels Matatula Upaya Rehabilitasi Lahan Kritis Dengan Penerapan Teknologi Agroforestry Sistem Silvopastoral Di Desa Oebola Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang, Inotek, Volume 13, Nomor 1, Februari 2009

Vergara (1982) dalam Jeriels Matatula Upaya Rehabilitasi Lahan Kritis Dengan Penerapan Teknologi Agroforestry Sistem Silvopastoral Di Desa Oebola Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang, Inotek, Volume 13, Nomor 1, Februari 2009

Wahono, 2002, Budidaya Tanaman Jati (Tectona grandis L. F), Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kabupaten Kapuas Hulu, Putussibau.

Wiersum (1980) dalam Jeriels Matatula Upaya Rehabilitasi Lahan Kritis Dengan Penerapan Teknologi Agroforestry Sistem Silvopastoral Di Desa Oebola Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang, Inotek, Volume 13, Nomor 1, Februari 2009

About these ads
 

2 Responses to “REHABILITASI LAHAN KRITIS DENGAN SISTEM AGROFORESTRY Oleh : HELEN TIORITA”

  1. helen Says:

    terima kasih banyak kepada pak urip atas bantuannya..

  2. hadi s Says:

    terimakasih pak urip dan helen, sangat bermanfaat, jadi bisa ikut memahami agroforestry


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 60 other followers