JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

ANALISIS TINGKAT KERAWANAN BENCANA TSUNAMI April 10, 2009

Filed under: Bencana — Urip Santoso @ 2:21 am
Tags: , ,


Oleh :

DODI HARDINATA

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Disamping memiliki sumber daya alam yang besar, wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Utara merupakan wilayah yang mempunyai potensi bencana. Hal ini disebabkan oleh karena tata letak geografis Kabupaten Bengkulu Utara berada pada tiga lempeng tektonik yang selalu bergerak terus-menerus. Lempeng-lempeng tektonik  tersebut selalu bergerak dengan kisaran 6 (enam) cm pertahun dan lempeng tersebut menujam bersama-sama dan berpotensi  bencana alam dan berbahaya bagi kehidupan masyarakat sekitar pantai (Roeslan, 2005).

 

Dampak dari proses geologi dan matabolisme alam  serta posisi Kabupaten Bengkulu Utara yang terletak di sepanjang  pesisir Barat Pulau Sumatera yang rawan terhadap berbagai bencana alam, diantaranya adalah  : gempa bumi yang berpotensi menimbulkan  tsunami, gerakan tanah (tanah longsor), banjir, abrasi, gelombang pasang dan bencana lainnya. Kabupaten Bengkulu Utara yang terletak di bagian Barat Pulau Sumatera berbatasan langsung dengan Lautan Hindia, memiliki garis pantai sepanjang  ±160 Km.  Hal tersebut menyebabkan Beberapa wilayah pantai Kabupaten Bengkulu Utara memiliki kemungkinan terkena bencana tsunami, karena di sepanjang lepas pantai  Kabupaten Bengkulu Utara terletak di zona tumbukan (zona subduksi) antara Lempeng Samudera Hindia – Australia dan Lempeng Benua Eurasia – Indo Australia. yang sangat aktif. Zona tumbukan ini berfungsi sebagai sumber gempa bumi di laut (Bappeda BU, 2009).

 

Berdasarkan data Satlat PBP Kabupaten Bengkulu Utara pada gempa tanggal 12 September 2007 yang lalu bahwa gempa dengan kekuatan 7,9 Sc, telah menyebabkan terjadi tsunami kecil pada wilayah pesisir Urai dan Serangai Kecamatan Ketahun wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Utara dengan ketinggian mencapai 5 (lima) meter. Kondisi ini memberikan dampak yang signifikan terhadap kerusakan sumber daya alam dan lingkungan pemukiman penduduk. Infrastruktur yang fatal mengalami kerusakan pada saat terjadi tsunami adalah perkebunan kelapa sawit dan pemukiman masyarakat. Data kerusakan tersebut dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 1. Data Kerusakan Akibat Tsunami 12 September 2007

No

Jenis Infrastruktur Masyarakat Yang Rusak Akibat Tsunami

Jumlah

(Unit/ Ha)

1

Perkebunan Kelapa Sawit

15 Ha

2

Pemukiman Masyarakat

7 Unit

     

      Sumber : Satlak PBP, 2007.        

 

Gempa bumi yang bersumber dari zona subduksi tersebut berpotensi membangkitkan terjadinya tsunami apabila berkekuatan besar, kedalaman dangkal, mekanisme sesar/patahan naik dan terjadi dislokasi morfologi bawah laut.  Berikut gambaran umum lempeng Indian – Australian :

 

Gambar  1 : Lempeng  Indian-Australian

Sumber : USGS, 2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : USGS, 2007.

 

 

 

 

Gambar  2 : Penyebaran Pusat Gempa 12 September 2007 di Bengkulu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : USGS, 2007

 

 

 

 

            Dengan posisi geografis Kabupaten Bengkulu Utara yang berada pada jalur gempa dan berpotensi tsunami maka perlu dilakukannya analisis dan kajian yang berhubungan erat dengan pemetaan tingkat kerawanan bencana tsunami menggunakan teknologi pengindraan jauh dan sistem informasi geografis (SIG) yang studi kasusnya dilakukan pada kecamatan pesisir Kabupaten Bengkulu Utara pasca pemekeran, yaitu pada 7 (tujuh) kecamatan pesisir. Pemetaan tingkat kerawanan bencana merupakan bagian dari manajemen sumber daya alam dan lingkungan dalam mengurangi dapak risiko bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi di wilayah kecamatan pesisir Kabupaten Bengkulu Utara.

 

ANALISIS TINGKAT KERAWANAN BENCANA MENGGUNAKAN PENGINDRAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Bencana Tsunami di Wilayah Pesisir

 

Wilayah Pesisir

Definisi wilayah pesisir masih menjadi perdebatan banyak pihak mengingat sulitnya membuat batasan zonasi wilayah pesisir yang dapat dipakai untuk berbagai tujuan kepentingan. Robert Kay, (1999) mengelompokkan pengertian wilayah pesisir dari dua sudut pandang yaitu dari sudut akademik keilmuan dan dari sudut kebijakan pengelolaan. Dari sisi keilmuan Ketchum, (1972) dalam Kay (1999) mendefinisikan wilayah pesisir sebagai sabuk daratan yang berbatasan dengan lautan dimana proses dan penggunaan lahan di darat secara langsung dipengaruhi oleh proses lautan dan sebaliknya. Definisi wilayah pesisir dari sudut pandang kebijakan pengelolaan meliputi jarak tertentu dari garis pantai ke arah daratan dan jarak tertentu ke arah lautan. Definisi ini tergantung dari issue yang diangkat dan faktor geografis yang relevan dengan karakteristik bentang alam pantai (Hildebrand and Norrena, 1992 dalam Kay,1999). Pengelolaan wilayah pesisir menyangkut pengelolaan yang terus menerus mengenai penggunaan wilayah pesisir dan sumberdaya didalamnya dari area yang telah ditentukan, dimana batas-batas secara politik biasanya dihasilkan melalui keputusan legislatif atau eksekutif (Jones and Westmacott, 1993 dalam Kay 1999). Berikut gambar titik acuan, titik dasar dan beberapa contoh garis pantai menurut Jacup (2009) :

 

Garis Pantai pada

Peta Laut

Garis Pantai dalam

UU no 32/2004

Garis Pantai pada

Peta Rupabumi

Garis Air Tinggi

Garis Air Rata-rata

Garis Air Rendah

Titik Dasar dalam UU No 32/2004

Titik Acuan

Gabar 3. Gambar Titik Acuan, Titik Dasar dan beberapa contoh Garis Pantai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

               Sumber : Jacup, 2009.

 

            Batasan defenisi wilayah pesisir menurut Soegiarto (1976) yaitu daerah pertemuan antara darat dan laut, kearah darat wilayah pesisir, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan perembasan air asin. Sedangkan kearah laut wilayah pesisir mencakup bagian bagian laut yang masih sipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi didarat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia didarat seperti penggundulan hutan dan pecemaran lingkungan. Sedangkan batas administratif, batas wilayah pesisir kearah laut adalah batas terluar sebelah hulu dari desa pantai atau jarak definitif secara arbitrer (2 Km, 20 Km dst dari garis pantai) dan batas kearah laut adalah 4 mil, 12 mil, dst dari garis pantai kearah laut (Jacup, 2009).

 

Bencana Tsunami

            Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, manusia dan atau keduanya mengakibatkan korban penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana dan prasarana serta fasilitas umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat (BNPB, 2009). Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi yang ditimbulkan oleh penyebaran energi dalam bentuk gelombang pada lapisan  kerak bumi”.yang diakibatkan oleh :

1.      Aktivitas / Letusan gunung berapi (gempa vulkanik).

2.      Runtuhan gua kapur atau daerah tambang dsb (gempa runtuhan).

3.      Ledakan nuklir (gempa buatan).

4.      Patahnya struktur lapisan batuan akibat adanya stress yang bekerja terus menerus (Dadang, 2009).

Selanjutnya Dadang (2009) memberikan batasan Tsunami merupakan gelombang laut yang sangat besar yang dihasilkan dari perubahan struktur (deformasi) pada dasar laut akibat gempa bumi , tanah longsor ataupun letusan gunung berapi. Dimana syarat terjadinya disebabkan oleh beberapa gejala antara lain : 1) gempa bumi terjadi di dasar laut, 2) kedalaman pusat gempa kurang dari 60 Km, 3) kekuatan gempa lebih dari 6,5 Sc, 4) mekanisme pusat gempaberupa patahan naik. Proses terjadinya tsunami oleh BMG digambarkan sebagai berikut :

 

Gambar 4. Proses Terjadinya Tsunami

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : BMG, 2009

 

 

 

 

Tsunami berasal dari bahasa Jepang tsu yang berarti pelabuhan dan nami berarti gelombang, tsunami berarti pasang laut dipelabuhan (Dadang, 2009). Selanjutnya Wallace (1973) mendeskripsikan tsunami sebagai gelombang laut yang mempunyai periode panjang yang ditimbulkan oleh suatu gangguan impulasif yang terjadi pada medium laut, seperti terjadinya gempa bumi, erupsi vulkanik. Menurut UNDP (2008), tsunami juga  dapat ditimbulkan oleh tanah longsor. Panjang gelombang tsunami dapat mencapai  240 km dilaut  terbuka seperti samudra pasifik dengan panjang gelombang  rata-rata 4600 m dengan kecepatan gelombang dapat mencapai 760 km/jam (Wallace, 1973).

Kecepatan penjalaran tsunami ini sangat tergantung dari kedalaman laut dan penjalarannya dapat mencapai ribuan kilo meter. Apabila tsunami mencapai pantai, kecepatan menurun signifikan  mencapai 50 km/ jam tetapi energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya, sedangkan ketinggiannya dapat mencapai 30 meter, sebagaimana yang pernah terjadi yang diakibatkan dengan meletusnya gunung Krakatau pada tahun 1883 (BMG, 2005).  Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah dapat menyebabkan genangan, kontaminasi air asin lahan pertanian dan perkebunan, tanah, dan air  bersih. Dampak negatif gelombang tsunami lainnya adalah dapat merusak bangunan, prasarana dan tumbuh-tumbuhan, dan dapat mengakibatkan  korban jiwa manusia (BMG, 2005).

            Menurut BMG (2009) bahwa sepanjang palung pantai barat Sumatera sampai selatan Jawa merupakan wilayah yang rawan gempa karena merupakan wilayah yang berpotensi terjadinya pergeseran lempeng benua. Gempa tersebut sangat berpotensi menimbulkan tsunami yang dapat melanda kawasan pantai barat Sumatera dan pantai selatan Jawa karena dekat dengan sumber gempa di dasar laut. Berikut gambar peta seismisitas lempeng tektonik aktif Indonesia :

 

Gambar 5. Peta Lempeng Tektonik Aktif di Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

                           Sumber : BMG, 2009.     

 

 

 

 

 

 

 

 

Data UNDP (2008), menjelaskan bahwa tsunami dapat disebabkan oleh 3 (tiga) sumber, yaitu gempa tektonik yang bersumber dari dasar laut, tanah longsor (lanslide), dan meletusnya gunung berapi yang berada di dalam perairan. Potensi tsunami di Kabupaten Bengkulu Utara khususnya wilayah pesisir dikarenakan tidak terdapatnya gunung berapi dibawah laut maka bencana yang berkemungkinan menyebabkan tsunami adalah gempa tektonik. Berikut gambar 6 (enam) yang dapat menjelaskan teori proses terjadinya gempa tektonik :

 

Gambar 6. Proses Terjadinya Gempa Tektonik

 

 

 

 

 

 

 

                 

 

 

 

 

 

 

 

 

               Sumber : Dadang, 2009.

Dalam gambar diatas dijelaskan bahwa proses terjadinya gempa tektonik disebabkan oleh pergeseran atau patahan dua lempeng bumi yang menimbulkan energi dari waktu ke waktu. Batas-batas lempeng tersebut terdiri dari 3 (tiga) zona yaitu : konvergen, divergen dan singgungan .

Secara umum kondisi geologis Bengkulu dapat juga dilihat dari gambar sebagai berikut :

 

Gambar 5. Kondisi Geologis Bengkulu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                    Sumber : Dadang, 2009.

 

Berdasarkan data spatial (keruangan) yang dimiliki oleh Bappeda Kabupaten Bengkulu Utara pulau penyanggah hanya ada pada wilayah pesisir di kecamatan Putri Hijau, pulau dimaksud dinamakan dengan Pulau Mega. Pulau penyanggah dapat berfungsi sebagai pengahambat glombang tsunami yang mungkin saja terjadi di wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Utara yang disebabkan oleh terjadinya gempa diatas 6,5 Sc berdasarkan indikator tsunami yang disyaratkan oleh BMG (Dadang, 2009).

Kabupaten Bengkulu Utara memiliki wilayah pesisir yang berjumlah 7 (tujuh) kecamatan. Kecamatan  dimaksud adalah : kecamatan Putri Hijau, Ketahun, Batik Nau, Lais, Air Napal, Air Besi dan Enggano. Tujuh kecamatan dimaksud merupakan kecamatan yang berada pada wilayah pesisir dengan ketinggian (topografi) yang rentan terhadap bahaya tsunami. Pengalaman membuktikan bahwa pada gempa bumi 12 September 2007 yang lalu dampak negatif terjadinya gempa tektonik (7,9 Sc) adalah mengakibatkan terjadinya gelombang tsunami pada wilayah pesisir khususnya kecamatan Ketahun dengan ketinggian gelombang mencapai 5 meter (Satlak PBP, 2007).

 

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kerawanan Bencana Tsunami

 

            Tsunami yang telah terbentuk dari berbagai penyebab diatas akan menjalar kesegala arah  dari sumber penyebab. Gelombang tsunami dapat menjalar dengan jarak ribuan kilometer dari pusat gempa dengan kecepatan yang tinggi. Kecepatan tinggi tsunami tersebut disebabkan oleh besarnya energi yang dimiliki gelombang sehingga dapat menerjang apa saja yang dilaluinya ketika melewati daratan pesisir. Gelombang tsunami yang menerpa daratan pesisir menyebabkan bencana di wilayah pesisir. Tingkat kerawanan bencana tsunami dipengaruhi faktor-faktor : 1) jarak dari sumber tsunami, 2) morfologi dasar laut daerah pantai 3) elevasi lereng bawah laut. 4) bentuk Garis Pantai, 5) sungai-sungai dan kanal pengendali banjir, 6) pulau-pulau penghalang, 7) topografi daratan pesisir, 8) elevasi, 9) ekosistem pesisir, (Agus, 2006).

Pengindaraan Jauh dan Sistem Informasi Geografis

Pengindraan Jauh

 

Pengindraan  jauh adalah ilmu, seni dan teknologi untuk memperoleh informasi tentang obyek daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1990). Objek yang diamati adalah objek yang berada dipermukaan bumi, diatmosfer dan diantariksa. Informasi tentang objek, daerah dan fenomena yang diteliti didapatkan dari analisis data yang dikumpulkan oleh sensor dari jarak jauh. Sensor ini memperoleh data tentang kenampakan dimuka bumi melalui energi elektromagnetik yang dipancarkan oleh sumber energi dan dipantulkan oleh objek. Data tersebut dianalisis agar memperoleh informasi yang diinginkan setelah melakukan interprestasi terhadap informasi yang dikumpulkan oleh sensor  tersebut.

Dalam interprestasi citra satelite diperlukan delapan unsur interprestasi yaitu : ukuran, bentuk, bayangan, panjang gelombang, warna, tekstur, pola objek dan keadaan. Interprestasi ini berguna dalam mengklasifikasikan citra berdasarkan objek yang ada sesuai dengan pengetahuan interpreter. Didalam pengelolaan wilayah laut dan pesisir pengindraan jauh digunakan antara lain untuk pemetaan distribusi suhu permukaan laut, pemetaan daerah mangrove, tambak dan pemetaan perubahan garis pantai. Data yang diperoleh dari pengindraan jauh bersifat multispektral (dari berbagai daerah spektrum), multilevel (berbagai ketinggian) dan multitemporal (data yang diperoleh waktunya berurutan). Teknologi pengindraan jauh mempunyai beberapa komponen dalam pengambilan data yang saling berhubungan (Lillesand dan Kiefer, 1990).

Prinsip dasar dalam pengindraan jauh dengan energi gelombang elektromagnetik untuk sumber daya alam ada dua, yaitu pengumpulan dan analisis data. Elemen proses pengumpulan data meliputi sumber energi, perjalanan energi, melalui admosfir, interaksi antara energi dengan kenampakan dimuka bumi, sensor wahana satelite dan atau pesawat terbang dan hasil pembentukan data meliputi pengujian data dengan menggunakan alat interprastasi dan alat pengamatan analisis data piktoral dan atau komputer untuk analisis data sensor numerik. Pengembangan perolehan data pengindraan jauh melalui sensor yang dipasang pada wahana satelit dimulai sejak Amerika Serikat memperkenalkan  program Lansad-1 eksperimental pada tahun 1972. Satelite sebagai salah satu wahana tempat dipasangnya sensor yang akan merekam berbagai objek sampai saat ini sangat banyak diluncurkan dengan berbagai karakteristik yang memilikinya sesuai dengan misi yang embannya.

Kabupaten Bengkulu Utara menggunakan data pengindraan jauh lansad 7 ETM + Shuttle Radar Topografhic Mission (SRTM). Citra satelit  lansad 7 ETM + yang digunakan Bappada Kabupaten Bengkulu Utara adalah rekaman pada tahun 2004. Citra lansad 7 ETM dan  SRTM yang digunakan pemerintah daerah untuk menganalisis tingkat kerawanan bencana di wilayah pesisir pantai Kabupaten Bengkulu Utara. Citra satelite lansad 7 ETM + merupakan  citra multispektral, maka dalam interprestasinya perlu dipilih saluran yang paling sesuai dengan bidang kajian agar mendapatkan interprastasi yang tepat. Citra satelit lansad 7 ETM + mempunyai resolusi spatial 30 m x 30 m pada saluran multispektral yang relatif cukup untuk digunakan pada berbagai kajian tematik.   

 

Sistem Informasi Geografis di Bidang Sumberdaya Alam Yang Digunakan Untuk Menganalisis Tingkat Kerawanan Bencana Tsunami.

             

            Sistem informasi geografis secara umum terdapat dua jenis data yang dapat digunakan untuk mempresentasikan atau memodelkan fenomena-fenomena yang terdapat didunia nyata. Pertama, adalah jenis data yang mempresentasikan  aspek-aspek keruangan dari fenomena yang bersangkutan. Jenis data ini sering disebut sebagai data-data posisi, koordinat, ruang atau spatial. Sedangkan yang kedua adalah jenis data yang mempresentasikan aspek-aspek deskriptif dari fenomena yang dimodelkannya. Aspek deskriptif ini mencakup items atau properties dari fenomena yang besangkutan hingga dimensi waktu. Jenis data ini sering disebut sebagai data atribut atau data non-spatial (Eddy, 2005).

            Jenis data mengenai keruangan (spatial) ini banyak digunakan oleh sistem-sistem yang digunakan sebagai alat bantu sistem perancangan (selanjutnya akan dituliskan sebagai CAD—computer aided desaign) dan sistem kartografi yang berbasiskan komputer (selanjutnya akan disebut CAC- computer assited cartografi) [Bern 92]. Sistem-sistem ini digunakan di berbagai bidang aplikasi seperti : perencanaan dan rekayasa teknik sipil, pemetaan dijital, kartografi, perencanaan kota, arsitektur, perancangan dan pengambaran mesin (tools), wired frame, dan rangkaian skema elektronik dan lain-lain bahkan hingga ke perancangan aplikasi dibidang industri pertekstilan. Jenis data spatial yang digunakan di dalam sistem-sistem ini, kebanyakan adalah vektor (Eddy, 2005).

            Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat digunakan dalam bidang sumberdaya alam untuk iventrisasi, manajemen, dan keseuaian lahan untuk pertanian, perkebunan, kehutanan, perencanaan tata guna lahan, analisis daerah rawan bencana alam dan sebagainya (Eddy, 2005). Aplikasi GIS dewasa ini sudah mencapai hingga pada level industri dan perdagangan. SIG memiliki kemampuan yang sangat baik dalam memvisualisasikan data spatial berikut atribut-atributnya. Modifikasi warna, bentuk, dan ukuran simbol yang diperlukan untuk merepresentasikan unsur-unsur permukaan bumi dapat dilakukan dengan mudah.

            Berdasarkan sumber data yang diperoleh dari Bappeda Kabupaten Bengkulu Utara, bahwa Kabupaten Bengkulu Utara telah melakukan beberapa permodelan yang menggunakan aplikasi SIG dibidang sumber daya alam antara lain adalah analisis daerah rawan bencana tsunami. Analisis dimaksud digunakan untuk penyusunan perencanaan kontijensi (kesiapsiagaan) yang diaplikasikan dalam bentuk pemetaan tingkat kerawanan bencana khususnya diwilayah kecamatan pesisir berbasis SIG (system information geografis).  Aplikasi kasih dimaksud menggunakan data pengindraan jauh (remote sensing) berupa citra satelite lansad 7 ETM + (Tahun 2004) dan data DEM (digital elevation model) dengan proses overlay data lainnya (Agus, 2008). Aplikasi SIG dalam analisis rawan bencana dimaksud mengahasilkan data sebagai berikut :

 

 

 

 

Gambar 6. Peta Analisis Rawan Bencana Tsunami Wilayah Pesisir Bengkulu Utara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                             Sumber : Bappeda BU, 2008.

 

 

 

Berdasarkan data analisis dengan aplikasi SIG di bidang sumberdaya alam khususnya aplikasi pada analisis daerah rawan bencana, maka data yang dihasilkan adalah wilayah rawan bencana Tsunami di Kabupaten Bengkulu Utara sebagai berikut :

Tabel 2. Wilayah Rawan Bencana Tsunami di

Kabupaten Bengkulu Utara

 

NO.

KECAMATAN/DESA

JARAK DARI PANTAI (M)

KETINGGIAN (M Dpl)

JUMLAH PENDUDUK (JIWA)

I.

AIR BESI

 

 

 

 

1. Dusun V

50

0,5

500

 

2. Kota Agung

100

1

850

II.

AIR NAPAL

 

 

 

 

1. Air Napal

2.000

20

617

 

2. Talang Kering

1.000

4

454

 

3. Selubuk

1.000

3

1.115

 

4. Pasar Palik

50

5

274

 

5. Talang Jarang

2.000

12

430

 

6. Pasar Kerkap

10

10

1.192

 

7. Tepi Laut

10

10

600

 

8. Lubuk Tanjung

10

3

624

 

9. Pasar Tebat

10

3

521

III.

LAIS

 

 

 

 

1. Pasar Lais

15

5

803

 

2. Pal Tiga Puluh

1.500

10

1.571

 

3. Dusun Raja

10

6

613

 

4. Durian Daun

10

10

497

 

5. Air Padang

20

1

300

IV.

BATIKNAU

 

 

 

 

1. Bintunan

10

1

678

 

2. Selolong

30

5

510

 

3. Serangai

10

1

799

 

4. Air Lakok

1.500

10

520

V.

KETAHUN

 

 

 

 

1. Pasar Ketahun

20

1

3.696

 

2. Urai

20

1

1.816

 

3. Ketahun/Cakra

1.500

1

200

 

4. Kuala Langi

20

10

1.162

VI.

PUTRI HIJAU

 

 

 

 

1. Pasar Sebelat

20

1

4.222

 

2. Kota Bani/Pantai Indah

20

1

55 KK

 

3. Karang Pulau

20

1

2 KK

VII.

ENGGANO

 

 

 

 

1. Banjar Sari

15

0.5

469

 

2. Meok

25

0,6

510

 

3. Apoho

20

1

243

 

4. Malakoni

10

0,5

250

 

5. Kaana

10

1

481

 

6. Khayapu

20

0,7

318

Sumber : Bappeda – Bengkulu Utara, 2008.

 

Selain memperoleh data daerah rawan bencana dari aplikasi SIG (system information geografis) dibidang sumber daya alam khususnya analisis rawan bencana tsunami diperoleh juga data sebagai berikut :

 

Tebel 3. Tabel Analisis Tingkat Bahaya Tsunami pada

7 Kecamatan di Kabupaten Bengkulu Utara

 


No.

Desa/Kelurahan

Kecamatan

3

1

Banjar Sari

Enggano

2

Meok

Enggano

3

Apoho

Enggano

4

Malakoni

Enggano

5

Kaana

Enggano

6

Khayapu

Enggano

7

Tepi Laut

Air Napal

8

Pasar Bembah

Air Napal

9

Pasar Kerkap

Air Napal

10

Air Napal

Air Napal

11

Talang Jarang

Air Napal

12

Talang Kering

Air Napal

13

Selubuk

Air Napal

14

Pasar Tebat

Air Napal

15

Lubuk Tanjung

Air Napal

16

Pasar Palik

Air Napal

17

Tebing Kandang

Air Napal

18

Dusun Pukur

Air Napal

19

Lubuk Sematung

Air Napal

20

Ketapi

Air Napal

21

Sawang Lebar Ilir

Air Napal

22

Lubuk Gading

Air Napal

23

Kota Agung

Air Besi

24

Talang Lembak

Air Besi

25

Talang Renah

Air Besi

26

Sungai Pura

Air Besi

27

Tanjung Genting

Air Besi

28

Lubuk Balam

Air Besi

29

Datar Macang

Air Besi

30

Tanjung Agung

Air Besi

31

Padang Sepan

Air Besi

32

Genting Perangkap

Air Besi

33

Talang Baru Ginting

Air Besi

34

Talang Pungguk

Air Besi

35

Kertapati

Air Besi

36

Talang Ginting

Air Besi

37

Tanjung Karet

Air Besi

38

Dusun Curup

Air Besi

39

Pasar Lais

Lais

40

Pal Tiga Puluh

Lais

41

Jago Bayo

Lais

42

Lubuk Lesung

Lais

43

Dusun Raja

Lais

44

Durian Daun

Lais

45

Air Padang

Lais

46

Datar Lebar

Lais

47

Tanjung Aur

Lais

48

Talang Rasau

Lais

49

Lubuk Gedang

Lais

50

Suka Langu

Lais

51

Mesigit

Lais

52

Retes

Lais

53

Lubuk Mumpo

Lais

54

Talang Ulu

Lais

55

Taba Baru

Lais

56

Kalbang

Lais

57

Kembang Manis

Lais

58

Sukarami

Lais

59

Teluk Ajang

Lais

60

Dusun Balam

Lais

61

Padang Kala

Lais

62

Serangai

Batik Nau

63

Selolong

Batik Nau

63

Air Lakok

Batik Nau

65

Bintunan

Batik Nau

66

Suka Marga

Batik Nau

67

Batik Nau

Batik Nau

68

Pagar Ruyung

Batik Nau

69

Durian Amparan

Batik Nau

70

Samban Jaya

Batik Nau

71

Maninjau

Batik Nau

72

Air Manganyau

Batik Nau

73

Taba Kelintang

Batik Nau

74

Ulak Tanding

Batik Nau

75

Sekiau

Batik Nau

76

Seberang Tunggal

Batik Nau

77

Urai

Ketahun

78

Pasar Ketahun

Ketahun

79

Giri Kencana

Ketahun

80

Kuala Langi

Ketahun

81

Talang Baru

Ketahun

82

Dusun Raja

Ketahun

83

Fajar Baru

Ketahun

84

Lubuk Mindai

Ketahun

85

Air Petai

Putri Hijau

86

Karang Pulau

Putri Hijau

87

Kota Bani

Putri Hijau

88

Pasar Sebelat

Putri Hijau

89

Talang Arah

Putri Hijau

90

Suka Negara

Putri Hijau

91

Karya Jaya

Putri Hijau

92

Karya Bakti

Putri Hijau

 

 

19 Responses to “ANALISIS TINGKAT KERAWANAN BENCANA TSUNAMI”

  1. chita Says:

    gambanya kok gak ada ya cuma ada keterangannya aja

  2. Dekky Says:

    Gambar nya mana? tlng di tampilkan. Mkn analis tsunaminya yang penting buat kami. tq.

    • uwityangyoyo Says:

      Saya juga minta tolong nich, agar gambarnya bisa ditampilkan.

      • uwityangyoyo Says:

        Menampilkan gambar tersebut tampaknya harus satu persatu. nanti kalau ada kesempatan akan saya masukkan satu per satu. urip

  3. Wiwit Satria Says:

    Tahun ini ada pengadaan citra ikonos Bengkulu Utara, mhn pakek yang itu aja pak? biar lebih valid alat analisisnya pada resolsi 1,5 M. Sehingga dapat membuat analis evakuasi bencana dan jalur khusus evakuasi bencana. Jangan seperti, kota buat jalur evakuasi pakek gogle earth, kan ga begitu valid……………..!

    • uwityangyoyo Says:

      okey.tq. Kita yang tinggal di daerah rawan gempa bumi, memang perlu alat analisis yang lebih akurat. thanks.

  4. Santana Bross-UNDP Says:

    Akhirnya, kontijensi plan di pakek juga untuk bantu pemerintah dalam menganalisis bencana. Selamat…..orang-orang bengkulu utara.

  5. arhin Says:

    thx banget udah ngasih informasi yang aku butuhkan banget… u’re the best dahg…..!!!!

  6. hanafiaprianto Says:

    Thank, atas infonya, tapi hasil citraan yang di ambil sebagai input data yang di gunakan, dianalisis dan interpretasikan kayaknya data lama, mungkin struktur marfologi wilayah bengkulu utara yang sekarang sudah berobah akibat pengangkatan dan penurunan permukaan bumi karna gempa 2007 dan gempa-gempa kecil sesudahnya dan di tambah lagi karena kenaikan permukaan laut akibat global warning beberapa tahun terakhir, output datanya klu bisa di publikasikan dan di sosialisasikan kpd masyarakat langsung. Thank sebelumnya.

  7. rezy Says:

    daftar pustakanya mana?

  8. Khairul Romadan PSDAL XVIII UNIB Says:

    Data-datanya sangat bermanfaat untuk menyiapkan masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi bencana alam/tsunami dan pertolongan bencana adalah sub-himpunan yang berpusat pada usaha pertolongan, hal ini biasanya adalahkebijakan pemerintah diambil dari pertahanan sipil untuk menyiapkan masyarakat sipil dalam persiapan sebelum bencana terjadi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s