JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

Profil Lingkungan Hidup Provinsi Bengkulu (Bagian III) June 12, 2009

Oleh: Prof. Urip Santoso

2.3. Hidrologi

            Siklus hidrologi adalah suatu system alamiah dalam proses-proses pengumpulan, pembersihan, dan pendistribusian air. Pada intinya siklus tersebut terdapat dua proses yang dikendalikan oleh energi sinar matahari yaitu evaporasi dan presipitasi.

Tabel 10 menyajikan neraca air di Propinsi Bengkulu tahun 2004. jumlah  hujan adalah sebanyak 4.531,5 juta m3.  Jumlah hujan ini tergolong cukup besar. Hal ini disebabkan oleh karena Bengkulu mempunyai curah hujan yang tinggi, sehingga hamper setiap hari terjadi hujan. Cadangan awal tahun sebesar 206.276,42 m3 belum termasuk pertambahan air selama satu tahun yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi.

 

Tabel 10.  Neraca air di Propinsi Bengkulu tahun 2004

Jumlah air Satuan Jumlah
Cadangan awal tahun m3 206.276,42
Jumlah hujan Juta m3 4.531,5
Pekerjaaan umum Juta m3  
Penambahan lain Juta m3  
Konsumsi Juta m3  

Sumber: SLHD Bengkulu (2005)

 

            Beberapa DAS di Propinsi Bengkulu yang dapat dijelaskan antara lain DAS air Manjunto (Andal PT Agro Muko, 2005). Karakteristik fisik sungai Air Manjunto memiliki luas daerah aliran sungai seluas 56.250 hektar. Sebagian besar daerah aliran sungai ini masih berupa hutan primer dan hutan sekunder (24.610 ha), sebagian lainnya berupa kebun campuran (3.864 hektar) dan perkebunan besar swasta (4.472 ha). Panjang DAS Air Manjunto dari hulu sampai hilir lebih kurang 49,2 km dengan lebar DAS rata-rata 10 km. Bentuk DAS adalah memanjang dengan substratum dasar sungai umum berbatu dengan tebing sungai berupa dinding tanah. Debit rata-rata sungai ini (Desa Lalang Luas, Sub-DAS Manjunto) tercatat sebesar 19,17 m3/detik dengan debit air maksimum 89,72 m3/detik dan minimum 11,54 m3/detik.

            Karakteristik fisik sungai Air Selagan (Andal Agro Muko, 2005) memiliki luas DAS 78.125 ha. Sebagian besar DAS ini masih berupa hutan primer dan sekunder (36.249 ha), sebagian lainnya berupa DAS utama Air Selagan dari hulu sampai hilir 63,4 km dengan lebar DAS  rata-rata 16,2 km. Bentuk DAS adalah menjari dengan substratum dasar sungai Air Selagan umum berpasir dengan tebing sungai berupa dinding tanah. Lebar sungai Air Selagan di desa Pondok Kopi lebih kurang 80 meter dengan kedalaman sungai bervariasi 0,30-0,83 meter. Debit air maksimum tercatat 199 m3/detik dan debit  air minimum 0,58 m3/detik dengan rata-rata debit air bulanan berkisar 2,15 sampai 69,69 m3/detik.

            Karakteristik fisik sungai Air Dikit (Andal PT Agro Muko, 2005) memiliki luas DAS 26.875 ha. Sebagian besar DAS ini masih berupa hutan primer dan sekunder (11.618 ha), sebagian lainnya berupa DAS utama dari hulu sampai hilir 42,5 km dengan lebar DAS rata-rata 3,25 km. Bentuk DAS adalah memanjang dengan substratum dasar sungai umum berpasir dengan tebing sungai berupa dinding tanah. Lebar sungai Air Dikit di desa Air Dikit 52 meter dengan kedalaman sungai bervariasi 0,40-0,86 meter. Debit air maksimum tercatat sebesar 278 m3/detik dan minimum 10,93 m3/detik dengan rata-rata debit air bulanan 7,23 m3/detik.

            Karakteristik fisik sungai Air Bantal (Andal PT Agro Muko, 2005) memiliki luas DAS 42.500 ha. Sebagian besar DAs ini masih berupa hutan primer dan sekunder (36.000 ha), sedangkan lainnya berupa kebun campuran (1.220 ha) dan perkebunan besar swasta (3.787 ha). Panjang DAS utama dari hulu sampai hilir 60 km dengan lebar DAS 7,5 km. Bentuk DAS adalah menjari dengan substratum dasar sungai umum berbatu dengan tebing sungai berupa dinding tanah. Lebar sungai di desa Pondok Baru 73,50 meter dengan kedalaman sungai bervariasi 0,36-1,36 meter. Debit air maksimum tercatat 449,0 m3/detik dan minimu 0,74 m3/detik dengan rata-rata debit bulanan berkisar 16,96 m3/detik sampai 82,46 m3/detik.

            Karakteristik fisik sungai Air Teramang (Andal PT Agro Muko, 2005) memiliki luas DAS 77.500 ha. Panjang DAS utama adalah 72,5 km dengan lebar DAS 21,5 km. Bentuk DAS adalah parallel dengan substratum dasar sungai di desa Tunggang 42 meter dengan kedalaman 0,31-0,73 meter. Debit air maksimum 738,54 m3/detik, minimum 4,40 m3/detik dengan rata-rata debit air bulanan berkisar 7,15 m3/detik sampai 54,36 m3/detik.

            DAS Air Penanakan (Andal PT Famiaterdio Nagara, 2006) memiliki panjang aliran 8,36 km dengan luas tangkapan air 10,61 km2. Debit air sungai diperkirakan 5,8 m3/detik. Sungai Gesikan memiliki panjang 2,4 km dengan luas tangkapan air 8,4 km2. Debit air sungai 1,5 m3/detik. Sungai Seluma memiliki debit 25,0 m3/detik, dengan panjang sungai 80 km dengan luas tangkapan air 560 km2.

 

2.4. Udara                 

        Tabel 11 dan Tabel 12 menyajikan kualitas udara di Propinsi Bengkulu  pada tahun 2006.  Suhu udara  di propinsi Bengkulu bervariasi. Suhu udara yang paling rendah adalah di Kabupaten Lebong dimana sebagian besar daerah ini merupakan kawsan TNKS, sedangkan yang paling tinggi adalah di Kabupaten atau Kota yang merupakan kawasan pantai. Propinsi Bengkulu mempunyai tingkat kelembaban yang tinggi. Kelembaban udara di Bengkulu berkisar antara 84% sampai 90%.

        Kecepatan dan arah angin akan mempengaruhi kesepatan perjalanan dan arah awan yang melintas di Propinsi Bengkulu. Kecepatan angina rata-rata bersisar anara 0,8 km/jam sampai 3 km/jam.

Tabel 11. Kualitas udara di Propinsi Bengkulu

Parameter Satuan  Bengkulu Kepahiang Rejang lebong Lebong
Kecepatan angina Feet/mnt 100-200 100-200 100-200 50-100
Kebisingan dBA 76,8 69,3 64,6 61,3
Sulfur dioksida µg/Nm3 120 114 96 104
Karbon monoksida µg/Nm3 13.000 11.000 10.000 10.000
Nitrogen dioksida µg/Nm3 101 97 89 99
TSP µg/m3 135 102 97 112
Hidrokarbon µg/Nm3 70 50 50 50
Pb µg/Nm3 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001
PM10 µg/Nm3 100 68 64 72
PM2.5 µg/Nm3 35 34 33 36
Hidrogen sulfide µg/Nm3 0,0 0,0 0,0 0,0
Amoniak µg/Nm3 0,0 0,0 0,0 0,0

Sumber: Inventarisasi SDA & LH Propinsi Bengkulu (2006)

 

Tabel 12.  Suhu udara, kelembaban udara, SPM, kecepatan angin di Propinsi Bengkulu tahun 2005

Bulan Suhu udara (oC) Kelembaban udara (%) SPM (mg/l)* Kecepatan angin (km/jam)
Januari 24,0 88,3 45,043 2,15
Februari 24,5 87,5 51,900 2,10
Maret 24,5 86,3 64,048 2,00
April 24,9 85,8 49,898 1,85
Mei 24,3 87,0 43,253 2,10
Juni 24,4 86,8 62,738 2,25
Juli 25,4 85,3 53,222 2,05
Agustus 23,7 86,3 43,184 2,25
September 24,5 86,3 41,362 2,05
Oktober 24,1 89 40,308 1,85
Nopember 24,8 87,3 34,309 2,15
Desember     44,120  

*Data tahun 2004 untuk Kota Bengkulu

Sumber: Basis data lingkungan hidup daerah (2005)

       Berdasarkan tampilan pada table 11, maka kualitas udara di Propinsi Bengkulu masih dalam ambang batas normal. Hal ini disebabkan oleh karena aktivitas industri, jumlah kendaraan bermotor dan factor-faktor lain penyebab popusi masih tergolong rendah. Namun, sejalan dengan meningkatkan jumlah penduduk dan aktivitas manusia, maka diperkirakan kadar senyawa kimia udara akan semakin tinggi.

2.5. Keanekaragaman Hayati

            Jenis flora dan fauna yang terdapat di kawasan wisata dan konservasi di Propinsi Bengkulu tertera dalam table di bawah ini. Taman wisata pantai panjang flora yang dominant adalah cemara laut dan fauna yang dominant adalah burung. Populasi cemara laut di taman wisata ini menurun drastic sebagi akibat dibangunnya jalan dua jalur. Namun telah ada upaya penanaman kembali cemara yang telah ditebang, tetapi sebagian besar mati karena tidak terawat.

            Cagar alam danau dusun besar terdapat flora endemic dan statusnya dilindungi yaitu anggrek pensil. Anggrek pensil jumlahnya sangat sedikit dan hamper punah. Oleh sebab itu perlu dilakukan konservasi agar tidak punah.

 

Tabel 13a. Jenis flora dan fauna di kawasan wisata dan konservasi di Bengkulu

Kawasan Flora Fauna
Taman wisata pantai panjang Cemara laut Burung
Cagar alam danau dusun besar Anggrek pensil (Vanda hookeriana), anggrek matahari, bakung, nipah, pulai, ambacang rawa, terentang, plawi, brosong, gelam, pakis, sikeduduk Babi hutan, ular piton, kera ekor panjang, lutung, kutilang, siput, siamang, ikan (gabus, lele, gurami, sepat siam, kebakung, palau), kura-kura.
Taman wisata alam bukit kaba Pasang, umbel-umbelan, pandan duri, Rafflesia arnoldi, bunga bangkai. Bunglon, tupai, berung tanah, monyet, musang, siamang, beruk, burung raja udang, burung robin, burung sirkawan, burung kutilang mas, burung elang, burung cekruk.
Cagar alam talang ulu I & II Bunga bangkai Babi hutan, ular dan bangsa burung
Cagar alam air ketebat danau tes Meranti, jelutung, kayu gadis, pulai, terentang, gelam. Harimau, siamang, kera, ular, belilis, babi hutan, beberapa jenis ikan.
Cagar alam danau menghijau Nipah, pakis, pandan, bamboo, meranti, pinus. Belibis, burung hantu, burung enggang, kutilang, murai batu, punai, babi hutan, kera ekor panjang, kura-kura, dank an (gabus, lele, sepat siam, mujair).
Cagar alam pagar gunung I, II, III, IV & V Rafflesia arnoldi, bunga bangkai Burung, ular.
Taman wisata alam way hawang Waru Babi hutan, beruang madu, siamang, gajah, rusa.
Cagar alam pasar ngalam Cemara laut, perdu, bakau, pinang Babi hutan, rusa, kijang, kera ekor panjang, siamang, burung bangau, elang, karang laut, dan siput.
Cagar alam air alas Cemara laut Ular, babi, kera ekor panjang.
Taman wisata alam lubuk tapi Rafflesia arnoldi Biawak, ular, jenis burung
Taman buru semidang bukit kabu Meranti, keruing, gadis, ketapang, pulai Harimau Sumatera, babi hutan, beruang madu, simpai, siamang
Cagar alam pasar talo Bakau, cemara laut, waru Babi hutan, karang laut, burung pecuk ular, raja udang, dara laut, elang, biawak.
Cagar alam pasar seluma Cemara laut Babi hutan, kera, burung laut.
Taman buru gunungnanu’ua Ketapang, bintangur, kasai, beringin Buaya, babi hutan, kerbau, sapi, biawak, burung beo.
Cagar alam teluk klowe Bakau Buaya, biawak
Cagar alam taba penanjung I dan II Meranti, durian, gambir, bayur, terap, bunga bangkai Babi hutan, siamang, monyet, owa, kuau,  jenis unggas.
Cagar alam kioyo I dan II Merbau, kayu jambu, nehek, abihu, pakoran, rengas, beringin, bakau, kelapa Babi hutan, biawak, tupai hutan, penyu, buaya, beo, elang laut, pergam dan punai.
Cagar alam muko-muko I dan II Cemara laut, waru, beringin Rusa, kijang, kancil, napu, siamang, beruk, simpai, kera ekor panjang, beo, murai batu, enggang papan, elang, pergam, punai.
Cagar alam sungai bahewo Bakau, bayur, ketapang Biawak, babi hutan
HPK fungsi khusus PLG Seblat Meranti, medang, Rafflesia, bunga bangkai Biawak, burung, rusa, kijang, kancil, napu, siamang, beruk, simpai, kera ekor panjang, tapir, gajah, harimau.
Taman wisata alam air hitam Cemara laut Babi hutan, biawak
Cagar alam tanjung laksaha Pinogo, merbau, kayu jambu, nehek, habihu, pakokor, rengas Karangsemba, kima, kucung kucing, babi, ular, biawak, kura-kura darat, punai, dara laut, beo, bangau putih
Cagar alam air rami Cemara laut, nibung, waru laut, ketapang. Beruang madu, rusa, kijang, tapir, siamang, simpai, babi hutan, beo, enggang papan, murai batu, murai tanah, pergam, punai.
Cagar alam air seblat Pinus, waru, beringin, cemara laut Biawak, unggas, rusa, kijang, kancil, napu, siamang, beruk, simpai, kera ekor panjang.

 

Table  13b. Jenis kura-kura yang ada di Bengkulu

Nama Habitat Status
Kura nanas (Heosemys spinosa) Meskipun dilaporkan hidup di sungai yang dangkal, jenis ini banyak dilaporkan dari dalam hutan. Struktur tubuhnya juga menunjukkan bahwa jenis ini dapat hidup menahan kekeringan, karena perisainya jauh lebih tebal dan lebih kuat dibandingkan jenis kura-kura air tawar yang berukuran serupa. Kakinya yang bersisik tebal juga menunjukkan bahwa jenis ini mempunyai cukup perlindungan untuk hidup di daratan. Makanan utamanya adalah buah-buahan dan daun-daunan. Jarang, belum dilindungi, mudah terancam punah
Kura-kura garis hitam (Cyelemys odhamili Habitat kura-kura garis hitam adalah sungai besar dan kecil dengan arus lambat sampai sedang. Pada siang hari, biasanya bersembunyi di daerah pinggiran sungai yang agak rimbun dengan tumbuhan air atau rumput-rumputan Belum dilindungi
Kura patah dada (Coura amboinensis) Kura patah dada umumnya terdapat pada sungai besar maupun kecil dengan arus lambat sampai sedang dan juga sering dijumpai di sawah. Pada siang hari, biasanya bersembunyi di daerah pinggiran sungai yang agak rimbun dengan tumbuhan air atau rumput-rumputan. Makanannya terutama bahan tumbuh-tumbuhan tetapi juga ikan dan udang. Belum dilindungi, mudah terancam punah
Beiyogo (Notochelys platynota) Tempat yang disukai adalah sungai berarus deras atau sedang. Makanan utamanya terdiri dari daun-daunan dan beberapa buah-buahan dan dikenal pula memakan siput dan udang Belum dilindungi, mudah terancam punah, kurang data
Baning coklat (Manouria emys) Jenis ini hidup di daerah hutan dan dataran di daerah berketinggin sedang. Makanannya terutama terdiri dari daun-daunan, buah-buahan dan akar-akaran Dilindungi, sudah terancam punah
Labi-labi hutan (Dogania subplana) Jenis ini umumnya ditemukan di sungai-sungai kecil dengan naungan terutama di dalam hutan Tidak dilindungi, rawan
Kura-kura pipi putih (Siebenrockiella crassiocollis) Hidupnya di sungai-sungai kecil berarus lambat, daerah tergenang seperti rawa-rawa. Meskipun dilaporkan sebagai hewan karnovira, jenis ini makan baik ikan, udang, siput maupun buah-buahan dan daun-daunan. Jenis ini akan berhenti makan apabila ada jenis lain didekatnya, sehingga sebaiknya dipelihara tersendiri belum dilindungi, mudah terancam punah Belum dilindungi, mudah terancam punah
Bulus (Amyda cartilagenia) Umumnya dijumpai di daerah yang tenang, berarus lambat. Bulus banyak ditemukan di kolam yang berhubungan dengan sungai atau danau dan oleh karena itu sering pula dianggap sebagai hama ikan yang dipelihara orang di dalam danau. Dalam keadaam umum, bulus selalu bersembunyi di dalam Lumpur atau di dalam pasir di dasar kolam atau sungai, sehingga sulit untuk ditemukan. Makanan utama terdiri dari daging/ikan, tetapi tidak menolak makanan sisa manusia Tidak dilindungi, rawan.

           

 

Informasi tentang keanekaragaman hayati di Propinsi Bengkulu masih belum lengkap dan terinci. Belum terdapat laporan dari dinas terkait tentang populasi flora dan fauna yang dilindungi. Diduga, populasi flora dan fauna yang dilindungi dari tahu ke tahun berkurang. Hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan laju pembangunan baik di sector perkebunan, industri, dan perumahan serta perkantoran dll.  Penurunan yang amat signifikan diperkirakan di Kabupaten Muko-muko, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur. Wilayah Kabupaten Lebong diperkirakan merupakan wilayah yang relative rendah penurunan keanekaragaman hayati  disebabkan pengawasan yang relative ketat terdapat kawasan lindung dan pembukaan perkebunan besar relative terbatas..

Tabel di bawah ini adalah jenis tumbuhan yang dlinduni yang terdapat di Propinsi Bengkulu. Spesies tumbuhan endemic yang terkenal dan unik adalah bunga terbesar di dunia yaitu Rafflesia arnoldi.  Terdapat tiga spesies di Propinsi Bengkulu yaitu Rafflesia arnoldi, Rafflesia hasseltii dan Rafflesia aatjehensis. Selain itu terdapat anggrek pensil (Vanda hookeriana) yang juga merupakan tumbuhan yang dilindungi dan endemic perairan Danau Dendam Tak Sudah.

Di Propinsi Bengkulu juga terdapat spesies bunga tertinggi di dunia yaitu Amorphophallus titanium.  

 

Tabel 14. Jenis tumbuhan yang dilindungi yang terdpat di Propinsi Bengkulu

No Jenis Nama local/Indonesia
1 Amorphophallus bulbifer Bunga bangkai jangkung
2 Amorphophallus titanium Bunga bangkai raksasa
3 Amorphophallus campanulatus  
4 Amorphophallus viridis  
5 Rhizanthes zippellii  
6 Rafflesia arnoldi Rafflesia
7 Rafflesia rnoldi var atjehensis Rafflesia
8 Rafflesia haseltii Rafflesia
9 Caryota sp Palem raja
10 Livistona spp Palem kipas Sumatera
11 Nenga gajah Palem Sumatera
12 Pinanga javana Pinang
13 Paphiolanthe hookeriana Anggrek pensil
14 Dendrobium sp  
15 Paphiopedium sp  
16 Nepenthes mirabilis Druce  Kantong semar
17 Nepenthes ampularia Jack  Kantong semar
18 Nepenthes aristolochioides Jebb & Cheek  Kantong semar
19 Nepenthes gracilis Danser  Kantong semar
20 Dendrobium spp Anggrek
21 Shorea spp Tengkawang
22 Paphiopedium spp                                               Anggrek

Sumber: SLHD Propinsi Bengkulu (20050

 

            Tabel di bawah ini mencantumkan jenis mamlia yang dilindungi yang terdapat di Propinsi Bengkulu. Sorotan lembaga intenaional terhadap kekayaan fauna di Propinsi Bengkulu terpusat pada populasi Badak Sumatera dan Harimau Sumatera. Diperkirakan populasi Badak Sumatera tinggal 4 ekor (SLHD Bengkulu, 2005). Diperkirakan 190 spesies mammalian hidup di Bengkulu. Di Propinsi Bengkulu terdapat 29 mammalia yang dilindungi. Menurut Whitten (1987) salah satu subspecies kera ekor panjang tergolong spesies endemic Bengkulu. Diperkirakan terdapat 580 spesies burung di Bengkulu. Salah satu daerah yang kaya burung adalah pulau Enggano dengan spesies endemic Otus umbra (Whitten, 1987).

 

Tabel 15. Jenis mammalian yang dilindungi di Propinsi Bengkulu

No Jenis mammalian Nama local/Indonesia
1 Capricornis sumatrensis Kambing hutan
2 Cervus spp Rusa
3 Cuon alpinus Ajag
4 Cynogale benneti Musang air
5 Dicerorhinus sumatrensis Badak Sumatera
6 Elephas indicus Gajah
7 Felis bandia Kucing merah
8 Felis bengalensis Kucing hutan
9 Felis marmorota Kuwuk
10 Felis viverrinus Kucing bakau
11 Felis temmincki Kucing emas
12 Helarctos malayanus Beruang madu
13 Hylobatidae Keran tidak beruntut
14 Hystrix brachyuran Landak
15 Larsicus hosei Tupai tanah bergaris
16 Lariscus insignis Tupai tanah
17 Iomys horsfeldi Tupai terbang ekor merah
18 Manis javanica Trenggiling
19 Muntiacus  muntjak Kidang, Muncak
20 Neofelis nebulusa Harimau dahan
21 Nycticebus coucang Kukang
22 Panthera pardus Macan kumbang
23 Panthera tigris sumatrae Harimau Sumatera
24 Presbytis rubicunda Lutung merah, kelasi
25 Presbytis frontata Lutung
26 Presbytis thomasi Rungka
27 Tapirus indicus Tapir
28 Tarsius spp  
29 Tragulus spp Napu/Kancil

 

            Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) memiliki hampir 4.000 jenis flora dan 198 jenis fauna ini telah terancam punah dikarenakan adanya aktivitas manusia di TNKS, contohnya daerah TNKS di Bengkulu. Beberapa aktivitas manusia yang mengancam flora dan fauna antara lain illegal logging,  pembukaan lahan dan perburuan. Jika ini dibiarkan diperkirakan flora dan fauna langka pada tahun 2015 akan punah. Tekanan yang sangat kuat terhadap keanekaragaman hayati dalam skala lokal adalah pembinasaan habitat-habitat alamiah.

 

Gambar 1. Peta Daerah Prioritas Konservasi di Sumatera.Foto: ©CI,GIS

Sumber: Rombang et  al. (2005)

 

Berdasarkan daftar IUCN 2004 jumlah fauna terancam punah di Sumatera berdasarkan kelompok adalah 11 jenis ikan air tawar, 30 jenis burung, 9 jenis amfibi, 13 jenis reptilia dan 38 jenis mamalia.

 

 Gambar 2. Tapir TNBG, termasuk kategori kritis(critically endangered). Foto: ©CI,Camera Trap

 

Target pada tingkat kawasan dinamakan dengan “Key Biodiversity Areas” (KBA’s; Daerah Prioritas untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati) yang merupakan daerah-daerah yang secara signifikan penting untuk konservasi keanekaragaman hayati dan secara nyata atau potensial untuk dikelola sebagai kawasan konservasi. KBA diidentifikasi berdasarkan kehadiran jenis-jenis flora fauna tertentu dimana konservasi pada skala kawasan diperlukan untuk menghindari terjadi kepunahan baik pada jangka pendek maupun jangka menengah yaitu: jenis-jenis yang berstatus terancam punah, sebaran terbatas atau berkelompok dalam jumlah yang signifikan (Rombang et al., 2005).

Terdapat 62 KBA yang diidentifikasi di Sumatera untuk jenis terancam punah dan sebaran terbatas bagi kelompok amfibi, mamalia, burung, reptilia, dan ikan air tawar. Jenis-jenis tersebut didasarkan pada keberadaannyaa secara pasti di dalam suatu area/kawasan tertentu. Batas kawasan KBA umumnya didasarkan pada batas kawasan konservasi yang dikombinasikan secara terbatas dengan informasi mengenai habitat dari spesies sasaran. Selain itu, 18 kawasan diidentifikasi sebagai kandidat KBA, atau juga dikenal sebagai kawasan prioritas untuk dilakukan penelitian lanjutan, sehingga dapat mengkonfirmasi keberadaan spesies target, maka kawasan ini akan menjadi kawasan prioritas untuk konservasi keanekaragaman hayati (KBA) (Rombang et al., 2005).

Sumatera merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia dan masuk kedalam kawasan Hotspot Sundaland. Perlu diingat bahwa kawasan KBA yang diidentifikasi ini didasarkan pada ketersediaan informasi pada saat proses ini dilakukan sehingga ada kemungkinan sejalan dengan bertambahnya informasi jumlah maupun skala prioritas KBA akan berubah (Rombang et al, 2005).

Daerah Prioritas untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati: Sumatera

1 Pulau Weh*

2 Ulu Masin

3 Jambo (Seulawah)

4 Danau Laut Tawar

5 Baleq+

6 Geureudong

7 Rawa Tripa

8 Leuser

9 Soraya

10 Trumon – Singkil

11 Lae Raso

12 Pulau Simeulue

13 Karang Gading Langkat Timur Laut*

14 Hutan Raya Bukit Barisan

15 Tuntungan*

16 Pesisir Timur Pantai Sumatera Utara

17 Danau Toba

18 Sicike-cike*

19 Sidiangkat

20 Rawa Tapus

21 Batang Toru

22 Angkola

23 Mareno

24 Batang Gadis

25 Pulau Nias*

26 Tana Massa*

27 Gunung Talakmau+

28 Malampah Alahan Panjang

29 Gunung Singgalang

30 Lubuk Selasih+

31 Kerinci – Seblat+

32 Pasir Ganting*

33 Rawa Lunang

34 Hutan Siberut Utara

35 Siberut

36 Pulau Sipora+

37 Pagai Utara

38 Pagai Selatan

39 Hutan Rawa Gambut Barumun Rokan

40 Siak Kecil

41 Hutan Rawa Gambut Siak Kampar

42 Kerumutan

43 Japura*

44 Tesso Nilo

45 Baturidjal

46 Bukit Baling

47 Bukit Tigapuluh

48 Pesisir Riau Tenggara

49 Bintan Utara

50 Kepulauan Lingga*

51 Pulau Natuna

52 Bukit Panjang – Bukit Siguntang*

53 Bukit Bakar – Bukit Gajah*

54 Pesisir Pantai Jambi

55 Sungai Batang Hari*

56 Berbak

57 Sipurak

58 Bukit Bahar – Tajau Pecah

59 Hutan Meranti

60 Merang

61 Sungai Sembilang

62 Tanjung Koyan-Selokan

63 Dataran Banjir Ogan Komering Lebak

64 Gumai Pasemah*

65 Pagar Alam+

66 Gunung Dempo

67 Dirgahayu Rimba

68 Gunung Sagu

69 Kemumu*

70 Tahura Bengkulu

71 Bukit Kaba*

72 Kepahiang*

73 Pulau Enggano+

74 Bukit Barisan Selatan

75 Rawa Tulang Bawang*

76 Way Kambas

77 Marawang

78 Bikang

79 Toboali

80 Pulau Belitung*

 

Catatan:

+ Daerah Alliance for Zero Extinction

* Calon Daerah Prioritas untuk Konservasi

Keanekaragaman Hayati

l 

2.6. Demografi

            Junlah penduduk tahun 2004 dan 2005 tercantum pada Tabel 16. Jumlah penduduk Bengkulu tahun 2004 adalah sebesar 1.541.551 jiwa dan pada tahun 2005 meningkat menjadi 1.598.177.  Jumlah penduduk ini tergolong rendah jika dibandingkan dengan propinsi lain di Indonesia.

 

Tabel 16. Jumlah penduduk 2004 dan 2005

  2004 2005
Jumlah penduduk 1.541.551 1.598.177
Kota 445.233  
Desa 1.096.318  
Pertumbuhan penduuk 1,98  
Kota 4,62  
Desa 1,14  

Sumber: SLHD Bengkulu (2005)

            Table 17 menampilkan jumlah dan laju penduduk Bengkulu periode 1930-2004.  Sampai dengan tahun 1980 terjadi peningkatan laju pertumbuhan, tetapi sejak periode 1980-1990 terjadi penurunan laju pertumbuhan dan terus menurun sampai pada tahun 2004 menjadi 1,98%.  Pada era 1970-1990 laju pertumbuhan di propinsi Bengkulu masih tinggi sebagai akibat tingginya angka kelahiran dan program transmigrasi dan mencapai puncaknya pada periode 1971-1980 dan periode 1980-1990.

            Peningkatan laju pertumbuhan penduduk  yang cukup tinggi ini tentunya menambah beban pembangunan untuk mencukupi kebutuhan sandang, papan, pangan, pendidikan dan kesehatan. Dengan demikian perlu adanya pengendalian laju pertumbuhan penduduk.

Tabel 17. Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk Propinsi Bengkulu

Tahun Jumlah Penduduk (jiwa) Pertumbuhan (%)
1930 323.595
1961 406.249 0,74
1971 519.486 2,49
1980 768.064 4,39
1990 1.178.951 4,38
1995 1.409.117 3,53
2000 1.562.060 2,94
2001 1.592.926 2,98
2002 1.640.597 2,99
2003 1.517.181 2,07
2004 1.541.551 1,98

Sumber: SLHD Bengkulu (2005)

 

            Pencanangan Program Keluarga berencana yang dilakukan sejak tahun 1979 mampu menekan laju pertumbuhan penduduk hingga pada tahun 2004 menjadi hanya 1,98%.

            Tingkat kepadatan penduduk di Propinsi Bengkulu relative rendah yaitu pada tahun 1990 adalah 60 jiwa per km2, tahun 2000 adalah 79 jiwa, tahun 2003 adalah 77 jiwa dan tahun 2004 adalah 78 jiwa per km2. Namaun demikian, Kota Bengkulu yang merupakan ibukota propinsi mempunyai kepadatan penduduk yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya.

            Informasi mengenai struktur penduduk sangat diperlukan karena dapat menggambarkan keadaan penduduk secara lebih khusus. Tabel 17 menyajikan jumlah penduduk umur 10 tahun ke atas menurut tingkat pendidikannya. Wajib belajar 9 tahun telah dicanangkan oleh pemerintah Indonesia. Logikanya, tidak ada lagi penduduk diatas 10 tahun yang tidak sekolah. Namun pada kenyataannya di Propinsi Bengkulu masih terdapat penduduk yang tidak pernah sekolah yaitu sebanyak 53.169 jiwa pada tahun 2005, sedangkan yang tidak tamat sebanyak 285.954 jiwa. Ini tentunya harus menjadi perhatian yang serius bagi pemerintah daerah. Alasan utama bagi mereka yang tidak sekolah atau tidak tamat adalah biaya sekolah yang tidak dapat mereka jangkau. Logisnya, jika pemerintah mencanangkan 9 tahun wajib belajar, maka semua siswa wajib sekolah  diwajibkan sekolah tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun. Atau paling tidak, bagi yang tidak mampu seluruhnya dapat mengenyam pendidikan sampai SMP secara gratis  termasuk biaya buku, alat-alat sekolah dll.  Meskipun sudah  ada dana BOS, pada kenyataannya masih banyak sekolah yang memungut biaya komite dengan alas an uang BOS tidak cukup untuk biaya operasional. Hal ini tentunya perlu dicarikan jalan keluarnya. Langkah pertama adalah berapa kebutuhan nyata sebuah sekolah, dan langkah berikutnya adalah melakukan survey tentang penggunaan dana masyarakat oleh sekolah apakah itu merupakan kebutuhan standard atau sebenarnya bukan kebutuhan.  Langkah lain yang perlu dipikirkan adalah pengawasan penggunaan dana BOS dan dana masyarakat agar tidak terjadi penyelewengan.

 

 

Tabel 18. Jumlah penuduk 10 tahun ke atas menurut pendidikan

 

2004

2005

Pendidikan Kota Desa Total Total
Tidak pernah sekolah 5.231 47.938 53.169 53.169
Tidak/belum tamat 46.272 239.742 286.014 285.954
SD/MIN 69.784 289.261 359.045 359.045
SLTP/MTs 79.929 161.301 241.230 241.221
SMU/MAN 89.106 92.709 181.815 181.815
SMK 28.017 20.664 48.681 48.681
D1/D2 6.749 8.263 15.012 15.012
D3/Sarjana Muda 8.581 2.450 11.031 11.031
D4/S1 21.495 4.340 25.835 25.835
S2 & S3 670 0 670 670
Jumlah 355.834 866.668 1.222.502 1.222.433

Sumber: SLHD Bengkulu (2005)

 

Dari table 18 dapat dolah bahwa jumlah penduduk yang mengeyam pendidikan SMA ke atas adalah sebesar hanya 23%. Ini menunjukkan bahwa SDM di propinsi Bengkulu masih tergolong rendah. Rendahnya kualitas SDM tentunya berakibat kepada lambatnya laju pembangunan menuju manusia keutuhnya. Meskipun telah ada Program Bengkulu Kota Pelajar, namun pada kenyataannya program tersebut belum mampu menggenjot kualitas SDM di propinsi Bengkulu.

 

Tabel  19.  Jumlah  siswa dan buta aksara di Propinsi Bengkulu

Variabel 2002 2003 2004 2005 2006
Buta aksara 19.877 19.317 18.570 17.891 15.004
Siswa 4-6     7.876 1.300 17.106
Siswa 7-12     186.699 199.632 207.039
Siswa 13-15     59.139 67.595 74.795
Siswa 16-18     52.836 34.406 41.763

Sumber: SLHD Bengkulu (2005)

 

            Dari table 19 merlihat bahwa penduduk buta aksara masih relative tinggi, dimana jika pada tahun 2004 angka buta aksara sebanyak 18.570 jiwa, tahun 2005 menurun menjadi 17.891 jiwa dan pada tahun 2006 menurun menjadi 15.004. Ini menunjukkan bahwa  masih diperlukannya program-program paket untuk lebih menurunkan jumlah penduduk buta aksara. Fakta ini juga memberikan tanda bahwa SDM di Bengkulu masih rendah  dan harus ada program yang sungguh-sungguh dilaksanakan untuk menekan angka ini.

 

Tabel 20.  Jumlah penduduk menurut umur

Umur (th) 1990 2000 2003 2004
0-4 13,64 11,28 9,4 9,73
5-9 14,35 11,12 11,2 10,97
10-14 13,39 11,57 11,9 11,21
15-19 10,48 11,23 11,0 10,64
20-24 8,83 9,95 9,3 9,70
25-29 9,02 9,15 8,1 9,56
30-34 7,54 7,99 7,4 7,49
35-39 5,94 7,63 7,7 8,10
40-44 3,93 5,91 6,9 6,82
45-49 3,48 4,18 5,3 5,01
50-54 2,82 2,90 3,4 3,75
55-59 1,83 1,97 2,2 1,80
60-64 1,93 2,06 2,2 1,93
>65 2,81 3,07 3,9 3,28

SLHD Propinsi Bengkulu (2005)

 

            Tabel 20 memperlihatkan persentase  penduduk menurut umurnya. Pada tahun 1990 penduduk Bengkulu didominasi oleh kelomok umur 0-4 tahun, 5-9 tahun dan 10-14 tahun. Untuk tahun tahun berikutnya  struktur penduduk masih didominasi oleh kelompok umur tersebut di  atas walaupun telah terjadi perubahan dominasi diantara kelompok  tersebut. Perlu dicatat bahwa jumlah lansia (>65 tahun) meningkat dari tahun ke tahun. Untuk itu ke depan perlu diperhatikan program-program yang terkait dengan kelompok umur ini.

 

 

 

 

Tabel 21. Komposisi penduduk dan angka beban ketergantungan 1990-2004 (%)

Uraian 1990 2000 2002 2003 2004
Komposisi penduduk     0-14

     15-64

     >65

 41,38

55,81

2,81

 33,97

62,96

3,07

 33,04

63,52

3,45

 32,58

63,52

3,91

 31,91

64,80

3,28

Angka beban ketergantungan     YDR

     ODR

     DR

 71

4

75

 54

5

59

 52

5

57

 51

6

57

 49

5

54

Sumber: SLHD Bengkulu (2005)

 

            Dari table 21 tampak jelas bahwa proporsi penduduk usia 0-14 tahun turun dari 41,38% pada tahun 1990 menjadi 31,91% pada tahun 2004. Pergeseran ini menunjukkan keberhasilan program Keluarga Berenca di Propinsi Bengkulu. Terjadi peningkatan proporsi usia angkatan produktif yaitu dari 55,81% pada tahun 1990 menjadi 64,80% pada tahun 2004. Peningkatan ini perlu diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan peluang kerja bagi mereka. Jika peluang kerja tidak ditingkatkan, maka akan terjadi peningkatan angka pengangguran yang pada gilirannya akan menimbulkan gejolak social yang negative.

            Dengan adanya perubahan komposisi penduduk, maka mempengaruhi angka beban ketergantungan. Pada tahun 2004 terlihat bahwa secara rata-rata tanggungan setiap 100 penduduk usia produktif telah menurun dari 75 pada tahun 1990 menjadi 54 penduduk tidak produktif pada tahun 2004. Begitu juga dengan rasio ketergantungan anak usia 0-14 tahun (YDR) menurun dari 71 menjadi 49 pada tahun 2004.

 

2.7. Demografi sosial

            Dari table 22 dapat dibaca bahwa angka harapan hidup di Propinsi Bengkulu masih cukup  rendah yaitu hanya 67,40% pada tahun 2004 dan naik menjadi 68,80% pada tahun 2005. Lebih tragis lagi adalah bahwa kasus gizi buruk meningkat dari tahun ke tahun yaitu dari 108 dari pada thun 2002 menjadi 390 (sampai dengan Agustus 2005) pada tahun 2005. Pada tahun 2005, gizi buruk pada balita sebesar 6,97%, gizi kurang 19,59%, gizi normal 69,91% dan gizi lebih 3,53%. Angka harapan hidup yang rendah dan tingginya kasus gizi buruk ini disebabkan terutama oleh rendahnya tingkat pendapatan per kapita di Propinsi Bengkulu, dan sebab kedua adalah rendahnya pengetahuan tentang gizi. Untuk mengatasi hal tersebut, maka pemerintah perlu meningkatkan upaya-upaya yang berkaitan dengan peningkatan dan pemerataan pendapatan.

 

Tabel 22. Angka harapan hidup dan kasus gizi buruk

Variabel 2002 2003 2004 2005
Angka harapan hidup     67,40 68,80
Kasus Gizi Buruk 108 86 178 390

Sumber; Bappeda (2006)

 

            Tabel 23 menunjukkan angka kesakitan dan lama sakit penduduk di Propinsi Bengkulu. Angka kesakitan pada tahun 2004 lebih tinggi jika dibandingkan dengan pada tahun 2003. Ini menunjukkan bahwa tingkat kesehatan penduduk proponsi Bengkulu menurun pada tahun 2004 jika dibandingkan dengan 2003. Yang lebih menarik adalah bahwa tingkat kesakitan penduduk desa lebih rendah daripada penduduk kota. Kondisi ini menandakan bahwa penduduk kota lebih sering terkena sakit jika dibandingkan dengan penduduk desa. Banyak factor yang menyebabkannya yaitu antara lain tingkat stress di kota lebih tinggi, pola hidup kota cenderung kurang sehat dll.

 

Tabel 23. Angka kesakitan dan rata-rata lama sakit penduduk Propinsi bengkulu (%)

Derajat kesehatan Kota Desa Kota+Desa
  2003 2004 2003 2004 2003 2004
Angka kesakitan 16,83 22,69 12,08 20,29 13,41 20,98
Lama sakit (hari) 6,12 5,69 6,08 5,92 6,09 5,85
                   

Sumber: SLHD Bengkulu (2005)

 

            Dari table 24 dapat dibaca bahwa penduduk yang terkena infeksi saluran pernafasan bagian atas yang berobat ke puskesmas adalah sebesar 23,18% dan sekaligus merupakan penyakit nomor satu yang menempa penduduk propinsi Bengkulu. Tingkat  kelembaban propinsi bengkulu sangat tinggi bahkan dapat mencapai 90%, yang mungkin ini merupakan salah satu sebab tingginya penyakit ISPA tersebut.

 

Tabel 24.  Sepuluh penyakit terbanyak puskesmas  tahun 2005 (%)

Penyakit 2005
Infeksi saluran pernafasan bagian atas 23,18
Febris 6,83
Malaria 5,60
Diare 4,68
Kulit alergi 4,25
Tekanan darah tinggi 3,85
Kulit infeksi 3,69
Radang sendi serupa rematik 3,68
Pulpa dan jaringan periapical 2,91
Gastritis 2,26

Sumber: SLHD Bengkulu (2005)

 

2.8. Sosial Ekonomi

PDRB propinsi Bengkulu jika dibandingkan dengan propinsi lain relative masih rendah. Salah satu sebabnya adalah 40,07% PPDRB didominasi oleh sector pertanian dengan serapan tenaga kerja di sector pertanian 68,39%. Ditambah lagi, produktivitas sector pertanian masih belum memenuhi standard produksi. Oleh sebab itu, secara ekonomi propinsi Bengkulu tertinggal dari propinsi lain. Sebab lain adalah rendahnya investasi dan rendahnya ekspor dari propinsi Bengkulu. Sebab lain adalah bahwa sector industri di propinsi Bengkulu masih belum berkembang, iklim usaha belum kondusif, sarana transportasi yang belum memadai serta system pelayanan yang belum mampu menarik investor.

 

Tabel  25. PDRB dan pertumbuhan ekonomi

Indikator 2002 2003 2004 2005 2006
PDRB (juta rupiah) 5.310.016 5.595.029 5.896.255 6.239.364,35  
PDRB per kapita (Rp) 3.236.637 3.687.780 3.824.886 3.904.051 4.678.456 8*
Pertumbuhan ekonomi (%) 4,73 5,26 5,35 5,85 5,95*

* data sementara

Sumber: Bapeda Propinsi Bengkulu (2006)

           

            Sampai saat ini masalah kemiskinan di propinsi Bengkulu masih tetap menjadi masalah serius.  Dari table di bawah dapat dilihat bahwa jumlah keluarga pra sejahtera alas an ekonomi sebanyak 47.528 kelurga atau sebanyak  12,94%.

 

Tabel 26. Jumlah keluarga miskin

Klsifikasi keluarga Jumlah
Tahap pra sejahtera alas an ekonomi 47.528
Tahap pra sejahtera alas an non-ekonomi 13.150
Tahap I  alas an ekonomi 79.970
Tahap I alas an non-ekonomi 49.644
KS Tahap II 117.683
KS tahap III 53.109
KL Tahap III plus 6.122
Jumlah 367.206

Sumber: SLHD Bengkulu (2005)

 

            Dari table 26 dapat disimpulkan bahwa masih banyak keluarga pra sejahtera di propinsi Bengkulu. Hal ini sejalan dengan rendahnya tingkat pendapatan per kapita di propinsi Bengkulu.

            Tabel 27 menunjukkan penduduk miskin di Propinsi bengkulu tahun 1993-2004. Pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin di Bengkulu sebesar 22,46% dari jumlah penduduk di Bengkulu. Angka ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan angka rata-rata penduduk miskin tingkat nasional yaitu sebesar 16,65% pada tahun yang sama.

 

Tabel 27.  Penduduk miskin di propinsi Bengkulu

Tahun Jumlah (jiwa) Persen
1993 173.100 13,11
1996 236.900 16,69
1999 302.300 19,79
2000 249.000 17,83
2001 308.500 21,65
2002 372.400 22,70
2003 344.200 22,68
2004 346.200 22,46

Sumber: SLHD Bengkulu (2005).

 

            Garis kemiskinan Propinsi Bengkulu tahun 2004 adalah Rp 115.569,- per kapita per bulan. Pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin adalah sebanyak 346.189 jiwa atau sebesar 22,46% dan penduduk fakir miskin 104.799 jiwa atau sebesar 6,8%. Jadi total penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan adalah 29,26%. Menurut TKPK BPM (2006) persentase keluarga miskin dan fakir miskin di propinsi Bengkulu pada tahun 2006 adalah sebesar 46%. Ini berarti terjadi peningkatan angka kemiskinan sebesar 16,74%.

 

 

2.9 Sosial Budaya

        Pasal 1 butir 2 Undang Undang Benda Cagar Budaya (UURI No. 5 1992) menyatakan situs adalah lokasi yang mengandung benda cagar buadaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya. Kumpulan situs dapat dinyatakan sebagai kawasan cagar budaya. Kawasan Cagar Budaya (Pasal 1 Keppres No. 32 tahun 1990) adalah merupakan lokasi bangunan hasil budaya manusia bernilai tinggi maupun bentuk geologi alami yang khas. Dalam lingkup kota, bentuk benda cagar budaya dapat berupa satuan areal, satuan pandangan/landscape dan satuan fisik.

Di propinsi Bengkulu terdapat beberapa karya budaya yang perlu dilestarikan sekaligus dapat menjadi obyek wisata yaitu benteng Marlborough, rumah peninggalan bung karno, monument Parr dan Hamilton, museum negeri Bengkulu, makam Sentot Alibasyah, rumah Fatmawati, masjid jamik dll. Selain itu, terdapat tradisi dan perayaan, makanan khas Bengkulu, Kampung Cina dll yang semuanya itu dapat dikemas menjadi obyek wisata yang menarik. Namun dalam pembangunan kawasan wisata di Kota Bengkulu pada beberapa kawasan ini dapat mengubah bentuk dan kawasan aslinya serta dapat mengganggu/mengubah landscape, yang berarti dapat menjadi tujuan pelestarian budaya menjadi terganggu pula.

Untuk kasus sumber daya buatan yang berupa kota/kampong dan bangunan, dalam pelaksanaan konservasi perlu diperhatikan beberapa criteria bagian mana dari kota atau bangunan apa yang perlu dikonsevasi. Beberapa criteria tersebut antara lain adalah estetika, kejamakan, kelangkaan, peranan sejarah, memperkuat kawasan di dekatnya dan keistimewaan.

Prinsip-prinsip konservasi cagar budaya yan perlu diperhatikan antara laian adalah:

  1. konservasi dilandasi atas penghargaan terhadap keadaan semula dari suatu tempat dan sesedikit mungkin melakukan intervensi fisik bangunannya, supaya tidak mengubah bukti-bukti sejarah.
  2. maksud dari konservasi adalah untuk menangkap kembali makna cultural dari suatu tempat dan harus bias menjamin keamanan dan pemeliharaannya di masa mendatang.
  3. konservasi suatu tempat harus dipertimbangkan segenap aspek yang berkaitan dengan makna kulturalnya, tanpa menekankan pada salah satu aspek saja dan mengorbankan aspek lainnya.
  4. suatu bangunan atau hasil karya  bersejarah harus tetap berada pada lokasi historisnya. Pemindahan seluruh atau sebagian dari suatu bangunan atau  hasil karya tidak diperkenankan, kecuali bila hal tersebut merupakan satu-satunya cara guna menjamin kelstariannya.
  5. konservasi menjaga terpeliharanya latar visual yang cocok seperti bentuk, skala, warna, tekstur dan bahan bangunan. Setiap perubahan baru yang akan berakibat negative terhadap latar visual tersebut harus dicegah.
  6. kebijaksanaan konservasi yang sesuai untuk suatu tempat harus didasarkan atas pemahaman makna cultural dan kondisi fisik bangunannya..
 

One Response to “Profil Lingkungan Hidup Provinsi Bengkulu (Bagian III)”

  1. Viagra helps people who from problems getting erections or keeping erections during sex.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s