JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

Profil Lingkungan Hidup Provinsi Bengkulu (Bagian IV) July 13, 2009

Filed under: Profil — Urip Santoso @ 7:28 am
Tags: , , , ,

BAB III

TIPOLOGI PEMANFAATAN LINGKUNGAN/SUMBERDAYA

Oleh: Prof. Urip Santoso

3.1. Hutan

Menurut Undang Undang No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yan satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan. Adapun fungsi hutan adalah antara lain merupakan sumber kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi sebagai paru-paru dunia, sebagai pengaur aliran air, pencegah erosi dan banjir, sebagai keseimbangan air, menjaga kesuburan tanah dll. Kawasan hutan di Propinsi Bengkulu tahun 2006 adalah sebesar 46,52% yang tediri atas taman nasional seluas 405.286 (20,47%), cagar alam seluas 6.728,1 (0,34%), hutan wisata alam seluas 14.959,7 (0,76%), taman buru seluas 16.302 (0,82%), taman hutan raya seluas 1.122 (0,06%), hutan lindung seluas 251.484,7 (12,7%), hutan produksi terbatas seluas 182.210 (9,2%), hutan produksi tetap 36.011 (1,82%), dan hutan produksi khusus seluas 6.865 (0,35%) (Bappeda Propinsi, 2006). Angka sebesar 46,52% pada tahun 2006 ini lebih rendah daripada tahun 2005. Kondisi kehutanan per Desember 2005 telah mengalami degradasi yang sangat nyata jika dibandingkan dengan Keputusan Menhutbun No. 240/Kpts-11/1999 tanggal 15 Juni 1999 dan menurut Keputusan Gubernur No. 305 tahun 1998 tanggal 14 Juli 1998 (SLHD, 2005). Kondisi hutan konservasi telah banyak mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh illegal logging dan perambahan liar. Hal lain penyebab kerusakan hutan di Bengkulu adalah kebakaran hutan dan lahan, untuk lahan transmigrasi, perkebunan besar dan pencurian hasil hutan telah menyebabkan kerusakan ekosistem hutan secara besar-besaran. Akibatnya keanekaragaman hayati hutan menurun drastic serta manfaat hutan bagi manusia pun terganggu, atau bahkan hilang sama sekali. Misalnya, hilangnya manfaat yang langsung adalah hasil kayu, getah, sumber obat-obatan, buah-buahan, serta bahan industri dan kosmetik. Selain itu, manfaatn hutan yang secara tidak langsung dirasakan adalah sebagai pengatur tata air (hidrologi), pemberi keindahan alam, penjaga kelembaban udara, pemelihara iklim local, habitat satwa liar, dan sumber plasma nutfah serta penyedia bahan untuk kepentingan rekreasi, ilmiah dan ziarah atau ritual keagamaan. Kawasan hutan di masing-masing kabupaten dan kota bervariasi yaitu antara 10,1% sampai dengan 69,9%. Persentase luas kawasan hutan yang paling tinggi dan masih terawatt lebih baik adalah Kabupaten Lebong. Kabupaten Lebong ini mengandalkan sector kehutanan sebagai hutan kemasyarakatan. Hutan konservasi dikelilingi oleh buffer zone yang merupakan hutan lindung. Namun sebagian hutan lindung telah dirambah oleh masyarakat ataupun kayunya diambil oleh para penyandang dana dengan memperkerjakan masyarakat sekitar hutan. Hutan lindung telah mengalami kerusakan sampai 40,79%. Tingkat kerusakan hutan di Propinsi Bengkulu akan memasuki stadium sangat serius karena 31,14% dari total hutan telah mengalami kerusakan. Hutan lindung telah rusak sebanyak 97.442 ha atau 38% dari total luas hutan lindung dan hutan produksi mencapai 139.702 ha atau 62,07% dari total luas hutan produksi (SLHD, 2005). Untuk memperbaiki ekosistem hutan, maka perlu dilakukan upaya reboisasi dengan melibatkan masyarakat dan wisata alam. Dengan pelibatan masyarakat sekitar dalam program perbaikkan ekosistem hutan serta pemanfaatan hutan sesuai dengan fungsinya diharapkan masyarakat ikut bertanggungjawab terhadap kelestarian ekosistem hutan. Tentunya pelibatan masyarakat tersebut berdampak kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat, sehingga mereka tidak akan merambah hutan kembali. Menghidupkan kembali kearifan local tentang konservasi hutan perlu dilakukan dengan sedikit modifikasi sehingga sesuai dengan perkembangan masyarakat masa kini. Tabel 28. Produksi kayu hutan dan hasil ikutan menurut jenisnya Jenis 2002 2003 2004 2005 Kayu bulat (m3) 17.343,97 45.894,36 23.108,48 29.945,10 Kayu gergajian (m3) 11.428,52 15.699,17 16.172,04 23.151,94 Rotan manau (batang) 60.800 23.500 27.938 42.500 Rotan kesur (batang) 324.000 25.500 8.796 3.500 Rotan Semambu (kg) 5.000 49.000 36.734 – Rotan lainnya (kg) 150.800 978.500 254.000 131.200 Damar (kg) 450.000 100.000 1.545 312.500 Sumber: SLHD Bengkulu (2005) Tabel 28 menyajikan produksi kayu hutan dan hasil ikutannya. Produksi kayu bulat meningkat dari 17.343,97 m3 pada tahun 2002 menjadi 29.945,10 m3 pada tahun 2005, namun produksi dammar, rotan manau, rotan kesur dan rotan lainnya menurun. Penurunan produksi hutan ini sejalan dengan peningkatan konversi hutan menjadi perkebunan, pemukiman dll. Tabel 29 menunjukkan luas hutan dan statusnya di Propinsi Bengkulu tahun 2005. Luas wilayah Propinsi Bengkulu adalah 1.978.870 ha, 37% nya merupakan kawasan hutan lindung. Tabel 29. Hutan di Propinsi Bengkulu tahun 2005 Prameter Luas (ha) Status hutan produksi Hutan Negara Hutan hak Hutan adat Lainnya 920.969,50 14.000 0 98.563,11 Luas hutan konservasi Hutan suaka alam Taman nasional Taman wisata alam 6.728,10 405.286,00 14.959,70 Luas hutan produksi Hutan produksi terbatas Hutan produksi tetap Hutan produksi khusus 182.210,00 36.011,00 6.865,00 Luas hutan lindung Hutan lindung Taman hutan raya Taman buru 251.485,70 1.122,00 16.302,00 Sumber: SLHD Bengkulu (2005) Potensi pemanfaatan lahan di luar kawasan hutan lindung adalah untuk pengembangan pertanian tanaman pangan yang terdiri atas lahan sawah seluas 111.305 ha, lahan kering seluas 588.735 ha dan bera seluas 17.011 ha. Selain itu, kawasan itu memiliki potensi pengembangan perkebunan seluas 818.603 ha. Analisis Ancaman Kerusakan Hutan Keadaan hutan yang sudah longgar, pohon-pohon besar dan kecil ditebang dan tidak ada regenerasi berdampak pada perairan terutama anak-anak sungai akan banjir besar dan menerima debit air yang melebihi kapasitas normal. Sungai yang dahulunya tidak bisa meluap dan begitu bersahabat sekarang sebaliknya menjadi sebab utama banjir di beberapa lokasi di Propinsi Bengkulu. Sementara di musim kemarau, persediaan air menjadi sangat kurang. Hal ini berdampak negatif terhadap aktivitas manusia yang memerlukan air, sehingga menurunkan pendapatan secara tidak langsung. Di saat banjir, sawah, kebun dengan segala infrastrukturnya tergenang dalam waktu cukup lama. Kawasan rawa yang kami maksud sebagai tempat menumpuknya air kiriman dari pegunungan telah semakin banyak dialihfungsikan. Dampak bagi daerah kawasan pasang surut, air pasang akan bertambah tinggi bisa menjangkau naik ke dalam rumah penduduk dan menggenangi jalan-jalan raya. Apabila daerah tangkapan air telah dialihfungsikan, maka banjir bandang tidak dapat dihindari lagi. Bahaya lain adalah terganggunya fauna, terutama habitat perairan bagi ikan. Dewasa ini, sangat sulit mendapatkan beberapa species ikan di sungai-sungai di Propinsi Bengkulu. Kerusakan hutan di Provinsi Bengkulu sebagian besar dipicu kesalahan tata ruang dan masih tingginya intensitas kegiatan pembalakan liar (illegal logging) di sejumlah daerah tingkat II di Bengkulu. Kepala BKSDA Bengkulu Agus Priambudi, di Bengkulu, Selasa mengatakan, ke-empat hutan lindung yang dirambah itu yakni Cagar Alam (CA) Dusun Besar, CA Pantai Panjang, Taman Burung Sembilan Bukit Kabu dan CA Pasar Ngalam. Kegiatan perambahan di CA Dusun Besar sudah berlangsung sejak 1992, dan kini kerusakannya mencapai 40 persen dari luas kawasan dilindungi 577 hektare. Cagar Alam Pantai Panjang yang terdiri dari hutan manggrove, kini sudah berubah menjadi areal perkebunan kelapa sawit dan palawija. 3.2. Danau Lingkungan perairan tawar secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu lactic atau lingkungan perairan tawar yang tidak bergerak, dan lotic yaitu lingkungan air tawar yang bergerak. Danau adalah contoh bentuk lingkungan perairan tawar yang tidak bergerak. Sebagai lingkungan perairan yang tidak bergerak, danau memiliki batas-batas yang jelas yaitu tepian danau, dasar danau yang berupa kumpulan sediment, permukaan air serta dinding danau. Cahaya matahari dapat menembus hingga ke dasar perairan (biasanya pada danau yang kecil), sehingga proses fotosintesis dapat berjalan dengan baik. Di Kota Bengkulu terdapat cagar alam danau dusun besar (Reg. 61) atau yang lebih dikenal dengan Danau Dendam Tak Sudah. Status kawasan menurut penunjukkan Bisluit Gubernur Hindia Belanda Stb 1936 No. 325 tanggal 17 Juni 1936 seluas 11,5 ha; berdasarkan Surat Gubernur Bengkulu No. 1666/B4-1/1979 tanggal 15 Mei 1979 seluas 430 ha; berdasrkan penunjukkan oleh Men Tan No. 171/Kpts/UM/3/981 tanggal 3 Maret 1981 seluas 430 ha sebagai kawasan cagar alam; berdasarkan penunjukkan Menhut No. 383/Kpts-II/1985 tanggal 27 Desember 1985 tentang Tata Guna Hutan Kesepakatan; SK Menhut No. 420/Kpts-II/1999 tangal 15 Juni 1999 tentang penunjukkan kawasan hutan di wilayah Propinsi Bengkulu seluas 920.964 ha dengan luas kawasan 577 ha. Secara geografis cagar alam tersebut terletak diantara 3o 47’ 45” – 3o 49’ 01” LS dan 102o 18’ 07” – 102o 20’ 15” BT. Secara adminsitrasi pemerintahan termasuk wilayah kecamatan Teluk Segara, Selebar, Gading Cempaka (Kota Bengkulu) dan Kecamatan Talang Empat (Kabupaten Bengkulu Utara). Berdasarkan citra landsat 1998 cagar ala mini berhutan 52 ha dan tidak berhutan 525 ha. Terdapat perambahn masyarakat yang diperkirakan telah mencapai 70% dari luas kawasan terutama sepanjang kiri jalan Air Sebakul, Desa Nakau. Beberapa gangguan kawasan antara lain: a. penggrapan kawasan cagar alam secara illegal untuk dijadikan lahan pertanian/perkebunan rakyat. b. pengambilan hasil hutan berupa kayu komersial yang banyak tumbuh di dalam kawasan Cagar Alam Danau Dusun Besar. c. pencemaran lingkungan yang terjadi karena masyarakat setempat mencuci kendaraan bermotor di danau sehingga residu dan minyak hasil pencucian tersebut mengotori keadaan air danau. d. pembangunan sarana pariwisata di kawasan cagar alam. e. perusakan habitat anggrek pensil. Penanganan gangguan kawasan meliputi alternative kegiatan sebagai berikut: a. penangkaran anggrek pensil. b. pengembangan dan peningkatan perekonomian masyarakat sekitar kawasan. c. pengamanan yang melibatkan tim terpadu. d. penyuluhan secara periodic. e. perencanaan penataan kawasan. Kawasan Danau Dendam Tak Sudah merupakan bagian dari kawasan cagar alam Danau Dusun Besar. Danau Dendam tak Sudah menyimpan banyak potensi bagi kelstarian ekologi dan keseimbangan ekosistem (BKSDA, 2003). Danau ini merupakan habitat utama tumbuhan endemic langka yaitu anggrek pensil. Danau ini juga berfungsi sebagai daerah tangkapa air dan sumber air tawar bagi pengairan, dan juga sebagai sarana pembelajaran. BKSDA Kota Bengkulu (2003) menyebutkan ada lima fungsi utama yang dimiliki oleh Danau Dendam tak Sudah yaitu: (1) sebagai kawasan konservasi yang melindungi keanekaragaman hayati; (2) sebagai sumber air yang digunakan untuk keperluan irigasi; (3) sebagai daerah cadangan air; (4) sebagai media pembelajaran alam untk kepentingan ilmiah; (5) sebagai tempat rekreasi. Fungsi tersebut harus dipertahankan meskipun tidak menutup kemungkinkan pengembangan di sector pariwisata yang dapat memberikan kontribusi ekonomi secara langsung ke masyarakat sekitar. Pengembangan pariwisata di danau ini sangat memungkinkan selain adanya anggrek langka, juga indahnya pemandangan di sekitar danau serta dapat dijadikan areal bermain anak-anak. Namun dalam perjalanannya pengembangan danau ini menjadi kawasan wisata alam masih banyak kendala. Kendala pertama adalah belum adanya model yang tepat untuk memadukan potensi alamnya sebagai tempat wisata untuk mendongkrak ekonomi rakyat dan aspek kelstariannya. Konsep yang tepat untuk memadukan kedua hal tersebut adalah dengan menerapkan pariwisata berbasis konservasi atau yang lebih dikenal dengan ekowisata. Terdapat enam prinsip dasar dalam pengembangan ekowisata (Ties,2005) yaitu: (1) membangun rasa tanggung jawab dan kesadaran terhadap lingkungan dan budaya; (2) memberikan pengalaman positif kepada wisatawan dan masyarakat setempat; (3) memberikan manfaat ekonomi secara langsung untuk konservasi; (4) memberikan manfaat ekonomi dan pemberdayaan masyarakat local; (5) menumbuhkan sensitivitas kepada daerah tujuan wisata untuk mencapai kondisi politik, lingkungan dan social yang bai dan; (6) mendukung upaya internasional dalam menjaga lingkungan dan manusia sekitarnya. Kondisi keseimbangan ekosistem di danau ini sudah kurang baik. Ini ditandai oleh sangat sulitnya anggrek pensil di habitat aslinya, penurunan cadangan air, berkurangnya hutan dll. Penurunan cadangan air dari danau ini dirasakan oleh masyarakat sekitar yaitu dengan menurunnya jumlah air irigasi. Kerusakkan keseimbangan ekosistem ini perlu ditata kembali agar fungsinya optimal dan agar dapat dijadikan kawasan ekowisata. Salah satu upaya pemulihan anggrek pensil sebagai flora endemic telah dilakukan BKSDA yaitu dengan membuat demplot. Demplot ini bertujuan untuk mengisolasi anggrek di suatu wilayah agar tumbuh baik. Upaya lain yang telah dilakukan adalah dengan meningkatkan pengawasan dan upaya meningkatkan kesadaran masyarakat. Upaya lain adalah memulihkan kondisi hutan di kawasan tersebut dan ditata sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan sebagai ekowisata. Oleh karena ekowisata merupakan sebuah bentuk wisata yang menjual daya tariknya pada kelestarian dan keaslian lingkungan, maka keseimbangan ekosistem sebagaimana yang seharusnya harus diciptakan kembali. Dengan ekowisata, maka berbagai kepentingan dapat dipadukan dengan sempurna yaitu meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus memperhatikan keseimbangan ekosistem. Beberapa keuntungan yang dapat diraih dengan mengembangkan kawasan danau sebagai kawasn wisata antara lain: (1) meningkatkan PAD; (2) menjaga kelestarian anggrek pensil yang merupakan salah satu tumbuhan langka dan dilindungi; (3) mencegah kerusakan ekosistem lebih jauh oleh oknum-oknum yan tidak bertanggungjawab; (4) meningkatkan perekonomian masyarakat; (5) meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keseimbangan lingkungan. Perubahan status kawasan ini dari cagar alam menjadi kawasan ekowisata harus dipertimbangkan dan dilakukan dengan hati-hati, sehingga fungsi kawasan ini tidak banyak berubah. Tentunya kawasan danau sebagai obyek wisata merupakan kawasan wisata yang terpadu dengan kawasan wisata lain di propinsi Bengkulu serta merupakan satu paket wisata dengan propinsi tetangga. Hal ini memang memerlukan kerjasama antarinstansi dan antar propinsi. Paket terpadu ini dianjurkan agar wisatawan tidak sekadar berwisata ke Bengkulu tetapi juga berwisata ke propinsi tetangga. Hal ini sangat menguntungkan bagi Bengkulu yang sementara ini dicap sebagai propinsi terpencil di Indonesia Bagian Barat. Hasil penelitian (Novia, 2005) menunjukkan bahwa terdapat 12 jenis spesies ikan di Danau Dendam tak Sudah yaitu dari famili Anabantidae : 1. Trichogaster trihopterus, 2) Helstoma termminchi, 3) Trichogaster pectoralis, 4) Anabas testudieus, 5) Polcampus hasselti; dari famili Bagridae ada dua spesies yaitu Mystus sp; dari famili Cyprinidae yaitu: 1) Mystacoleucus marginatus, 2) Rasbora sumatranus. Data mengenai kualitas air danau belum banyak diteliti. Novia (2005) menemukan bahwa pH danau berkisar antara 4,7 – 5,5 dan kadar oksigen 5,8-8,1 ppm. Laju pengurangan luasan genangan mencapai 64,78 Ha per tahun (WALHI, 2007). Jika pengelolaan perubahan status kawasan danau tidak hati-hati, maka ada kemungkinan terjadi kerusakan ekosistem di kawasan tersebut, sehingga mungkin saja Danau Dusun Besar tinggal kubangan kecil di tengah kota di masa yang akan dating. Suhradi (2005), menunjukkan kerusakan ekosistem Danau Dusun Besar semakin meningkat. Tutupan lahan daerah tangkapan air pada tahun 1994 seluas 2.039,5 Ha dan pada tahun 2003 tinggal 282,26 ha. Genangan air danau pada tahun 1994 seluas 627,34 ha namun pada tahun 2003 hanya 44,29 ha. Melihat data tersebut laju pengurangan luasan genangan danau dalam rentang 9 tahun tersebut mencapai 64,78 Ha per-tahun. Bayangkan pada 10 atau 15 tahun ke depan mungkin Danau Dusun Besar tinggal kubangan kecil di tengah kota yang tak layak disebut danau. Jika itu terjadi, maka jangankan angrek pensil (Vanda hookeriana) yang endemik, indikator air permukaan, cadangan air tawar, sumber air irigasi 261 ha sawah di Kelurahan Surabaya dan 244 ha sawah di Kelurahan Dusun Besar, tempat nelayan mencari ikan, energi tekanan air untuk menahan laju intrusi air laut pun akan punah. Masalah lain adalah adanya TPA Air Sebakul yang terdapat di hulu Cagar Alam Danau Dusun Besar ini berpotensi mencemari danau jika pengeolaannya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kelestarian ekosistem (WALHI, 2007). Sampah ini tidak hanya mencemari danau melalui air tirisan dan zat yang di bawahnya, namun juga menyebabkan daya tampung danau berkurang secara gradual sesuai volume sampah yang dibuang. Eutrofikasi Danau dapat terjadi akibat air tirisan sampah, sehingga mempercepat terjadinya sedimentasi dan pertumbuhan tanaman air yang dalam jangka panjang akan mengurangi volume cadangan air tawar di danau dusun besar. Masalah lainnya adalah adanya deforestasi di kawasan ini antara lain konversi huta menjadi lahan perkebunan, pertanian, perumahan dll. Data 2001 menunjukkan luas tanah garapan lahan pertanian yang ada di lokasi daerah cagar alam Danau Dendam Tak Sudah ini cukup besar, yakni 277,25 ha atau sekitar 48,06% dari luas cagar alam atau sekitar 10% dari luas daerah tangkapan air Danau Dendam Tak Sudah dan bisa saja pada saat ini luas tanah garapan makin bertambah. Adanya eksploitasi dan perambahan hutan di sekitar kawasan Cagar Alam secara langsung menyebabkan perubahan jumlah air danau. Contohnya, pembukaan jalan yang membelah cagar alam sepanjang 1,6 km oleh Pemda Bengkulu pada tahun 1990 – 1992, secara langsung mempengaruhi jumlah air yang masuk ke Danau Dendam. Pembuatan jalan Nakau-Air Sebakul ini menghambat masuknya air dari daerah tangkapan menuju kawasan danau. Dampaknya, saat ini, yang dapat dilihat dengan kasat mata, yaitu dengan makin menurunnya debit air di Danau Dendam yang pada akhirnya akan mengurangi pasokan air tawar di kota Bengkulu (WALHI, 2007).. Menurut penelitian yang dilakukan Bapedalda propinsi Bengkulu tahun 2001, luas daerah tangkapan air (catchment area) danau ini adalah sekitar 27 km2 dengan luas genangan air berkisar antara 70 hingga 150 ha dengan kedalaman air rata-rata 3 meter, tergantung kepada jumlah air hujan yang jatuh di daerah ini. Luas danau pada saat penelitian dilakukan adalah sekitar 112,2 ha dengan lebar 1.120 meter dan panjang 1.420 meter. Secara rata-rata, volume air tertampung pada danau ini sekitar 2.100.000 m3. Kemampuan pengairan sawah yang diambil dari air danau melalui jaringan irigasi sekitar 244 ha di desa Dusun Besar dan sekitar 261 ha di desa Surabaya. Untuk data terbaru mengenai danau saat ini Bapedalda belum ada. Kawasan tangkapan air Danau Dendam Tak Sudah saat ini telah rusak akibat penjarahan hutan. Sekitar 40 persen kawasan hutan rawa di kawasan cagar alam ini sudah tidak lagi seperti aslinya. Akibatnya, menurut penelitian Yayasan Lembak, yayasan yang memberikan advokasi bagi warga yang dirugikan akibat kerusakan cagar alam tersebut, debit air danau pun mulai turun. Sebelumnya, danau ini mampu menampung 21 juta meter kubik air. Tetapi, saat ini diperkirakan tinggal mampu menampung sekitar 18 juta meter kubik. Akibat lebih lanjut, persawahan penduduk di hilir danau seluas 700 hektar terancam kekeringan pada musim kemarau. 3.3. Daerah Aliran Sungai DAS merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsure-unsur utamanya terdiri atas sumberdaya alam tanah, air dan vegetasi serta sumberdaya manusia sebagai pelaku pemanfaat sumberdaya lam tersebut. Sebagai satu kesatuan tata air, DAS dipengaruhi oleh kondisi bagian hulu khususnya kondisi biofisik daerah tangkapan dan daerah resapan air, yang umumnya rawan terhadap ancaman gangguan manusia (Utomo dan Syandri (2006). DAS PLTA Musi merupakan gabungan DAS Musi dan DAS Simpang Aur-Lemau. Kedua DAS ini disatukan melalui terowongan bawah tanah sepanjang 6 km yang berfungsi menyalurkan air untuk memutar 3 buah turbin dengan daya 3 x 70 MW. DAS Musi merupakan DAS lintas propinsi (Bengkulu, Sumsel). Luas DAS Musi 58.700 ha dan DAS Simpang Aur-Lemau 5.900 ha. Tabel 29. Kelerengan tanah di DAS PLTA Musi Hulu Musi DAS Simpang Aur-Lemau Kemiringan Luas (km2) % wilayah Luas (km2) % wilayah 0-5% 64,06 10,91 77,65 17,81 5-15% 192,81 32,85 146,18 33,53 15-25% 230,60 39,28 201,00 46,10 25-40% 94,21 16,05 9,77 2,24 >40% 5,32 0,91 1,37 0,32 Total 587 100 435,97 100 Sumber: Anonimus (2006). Gambaran umum DAS PLTA Musi. 15 Agustus 2006 UNIB Berdasarkan table di atas, sebagian besar tanah di DAS Musi mempunyai tingkat kemiringan antara 15%-25%. Dengan tingkat kemiringan ini, usaha pertanian di DAS Musi harus dilakukan secara bijak agar tingkat erosi tetap rendah. Usahatani dengan mengunakan terasiring cocok untuk daerah semacam ini. Tabel 30. Penggunaan lahan di DAS Musi (upstream) PLTA Musi Luas (ha) Tipe Vegetasi 1994 2002 Perubahan Persen Hutan 17.549 13.050 -4.499 -25% Belukar 4.624 2.794 -1.830 -39,58% Kopi 6.278 6.505 229 3,65% Tegalan 5.200 5.235 35 0,67% Sawah 24.451 30.441 5.990 24,50% Pemukiman 600 675 75 12,50% Sumber: Anonimus (2006). Gambaran umum DAS PLTA Musi. 15 Agustus 2006 UNIB Tabel di atas menunjukkan bahwa penggunaan lahan untuk kebun, sawah dan pemukiman meningkat. Hal ini sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk di sekitar DAS Musi serta kebutuhan mereka. Hal yang perlu diperhatikan adalah menurunnya luas hutan sebesar 25%. Ini dikarenakan fungsi hutan yang amat penting bagi keseimbangan ekosistem di DAS Musi. Tabel 31. Kondisi kawasan konservasi di sekitar DAS PLTA Musi Tipe Vegetasi Luas (ha) Perubahan 1993 2002 A. Hutan Lindung Bukui Daun Hutan primer 8.277,26 5.590,53 -2.686,73 Semak/belukar 5.518,17 1.188,99 -4.329,18 Kebun kopi 3.389,42 9.873,99 6.484,57 Ladang/Tegalan 274,11 798,53 524,42 Sawah 3,61 10,53 6,92 B. Hutan lindung bukit Kaba Hutan primer 4.897,31 4.161,24 -696,07 Semak/belukar 539,70 141,30 -398,40 Kebun kopi 1.031,31 2.017,26 985,95 Ladang/tegalan 113,51 222,03 108,52 C. T N K S Hutan primer 14.163,06 12.7111,51 -1.451,55 Semak/belukar 289,04 243,90 -54,95 Kebun kopi 278,78 1.693,44 1.414,66 Ladang/tegalan 16,164 98,19 1.398,02 Sumber: Anonimus (2006). Gambaran umum DAS PLTA Musi. 15 Agustus 2006 UNIB Jika dilihat pada table di atas terlihat jelas bahwa penurunan luas hutan juga terjadi di hutan lindung. Hal ini tentu saja akan menurunkan fungsi hutan. Upaya yang harus dilakukan untuk mengembalikan fungsi hutan adalah melakukan reboisasi, konservasi, penyuluhan dan terutama perbaikkan ekonomi masyarakat sekita DAS Musi. Adalah bijaksana jika upaya konservasi, reboisasi dan usaha lain untuk mengembalikan fungsi hutan melibatkan masyarakat setempat dengan memberikan gaji yang memadai serta memberi tanggungjawab pemeliharaan hutan terhadap mereka. Tabel 32. Tingkat erosi DAS PLTA Musi Tipe vegetasi Tingkat erosi (ton/tahun) Perubahan Persen 1994 2002 Hutan 811.431 810.320,5 -1.110,5 -0,14 Belukar 3.720.323,1 3.696.992,9 -23.330,2 -0,63 Kopi 21.745.922 21.852.604 106.682,1 0,49 Tegalan 8.630.060,8 8.632.297,4 2.236,6 0,03 Sawah 1.238.428,2 1.238.486 57,8 0, Pemukiman 421.641,6 422.066 424,4 0,10 Total 36.567.806 36.652.767 84.960,2 0,23 Sumber: Anonimus (2006). Gambaran umum DAS PLTA Musi. 15 Agustus 2006 UNIB Penggunaan lahan di area DAS harus dilakukan secara bijak agar komponen ekosistem yang ada di DAS tidak mengalami banyak gangguan. Di DAS Musi ini kemiringan tanahnya berbeda-beda. Pada tanah yang miring perlu Tabel 33. Kualitas air sungai DAS PLTA Musi (Maret 2006) Kekeruhan (NTU) Daya hantar (µS) TSS (mg/lt) TDS (mg/lt) pH A. Simpang Aur-Lemau a. Genting 37,5 50 149,1 20 6,2 b. Inflow RRD 7,5 60 26,7 30 6,2 c. Outflow RRD 13,6 70 44,9 40 6,4 B. DAS Musi a. Cuguk Lalang 4,0 30 21,1 10 6,2 b. Intake Dam 4,3 70 29,5 30 6,2 Sumber: Anonimus (2006). Gambaran umum DAS PLTA Musi. 15 Agustus 2006 UNIB Tabel 34. Perkiraan sedimentasi DAS Musi Sumber 1984 2002 Suspended load 82.500 m3 137.421 m3 Bed load 16.500 m3 17.618 m3 Sumber: Anonimus (2006). Gambaran umum DAS PLTA Musi. 15 Agustus 2006 UNIB Tabel 35. Debit air DAS Musi Bulan Debit (m3/detik) Januari 67,0 Februari 54,6 Maret 55,0 April 55,6 Mei 48,1 Juni 33,0 Juli 30,3 Agustus 26,7 September 32,6 Oktober 41,6 Nopember 50,1 Desember 56,9 Sumber: Anonimus (2006). Gambaran umum DAS PLTA Musi. 15 Agustus 2006 UNIB Tabel 36. Produksi limbah padat di DAS PLTA Musi (ton/tahun) 2002 2004 2006 2008 Domestik 47.988 49.496,90 51.053,25 52.658,54 Agroindustri 2.228,32 2.371,83 2.524,59 2.687,19 Industri pengolahan 18,01 25,12 35,05 48,91 Sumber: Anonimus (2006). Gambaran umum DAS PLTA Musi. 15 Agustus 2006 UNIB Ada beberapa dampak lingkungan akibat proyek PLTA Musi yang harus diperhtikan antara lain adalah: a. Perubahan luas penggunaan lahan. b. Peningkatan erosi tanah. c. Peningkatan sedimentasi. d. Turunnya debit air sungai sehingga akan mengganggu operasi PLTA Musi. e. Peningkatan limbah cair, sehingga akan menurunkan kualitas air sungai. f. Peningkatan limbah padat karena kegiatan industri pengolahan. Akibatnya akan menggangu saluran air yang berakibat lanjut pada gangguan operasi PLTA Musi. g. Tergenangnya beberapa desa akibat kegiatan PLTA Musi. Hal ini telah menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat setempat. Keadaan ini harus ditangani secara bijaksana agar masyarakat jangan terlalu banyak dirugikan, bahkan seharusnya sebaliknya masyarakat diuntungkan dengan adanya PLTA Musi. Usaha tani di DAS Musi perlu diubah menjadi usahatani konservasi. Sistem usahatani konservasi adalah penataan usahatani yang stabil berdasarkan daya dukung lahan yang didasarkan atas tanggapannya terhadap factor-faktor lingkungan, biologis dan social ekonomi serta berlandaskan sasaran dan tujuan rumah tangga petani dengan mempertimbangkan sumberdaya yang tersedia. Usahatani konservasi dilakukan melalui pengaturan pola tanam, penambahan bahan organic dengan daur ulang sisa panen dan gulma, serta penerapan budidaya lorong. Budidaya lorong adalah upaya pemanfaatan lahan dengan tanaman tahunan dan semusim. Tanaman semusim ditanam di lorong tanaman pagar. Tanaman pagar berfungsi sebagai penahan erosi dan penghasil pupuk organic. Tanaman pagar yang dapat ditanam antara lain Albisia, kaliandra, lamtoro, Flemengia congesta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman pagar berupa kombinasi Glirisida dan rumput sebagai penguat teras ternyata lebih baik menekan aliran permukaan dan erosi tanah jika dibandingkan dengan rumput gajah saja. Usaha tani konservasi memerlukan keterampilan manajemen tanah. Artinya tanah atau lahan harus dikelola dengan menggunakan prinsip-prinsip konservasi dengan tetap memperhitungkan aspek produktivitas. Aspek konservasi dilakukan dengan cara menekan laju erosi, mempertahankan keseimbangan ekosistem di DAS serta mempertahankan kualitas air sungai. Upaya ini diimbangi oleh usaha mempertahankan kesuburan tanah atau meningkatkan kesuburannya dengan cara memasukkan berbagai macam mikrobia pengendali yang mempercepat keseimbangan alami dan menghasilkan bahan organik. Dengan cara demikian, erosi tanah dapat dikurangi. Jika erosi tanah dapat dicegah, maka akan menurunkan sedimentasi di daerah hilir serta mempertahankan kuliatas airnya. Dengan semakin kompleksnya permasalahan sumber day air yang dihadapi akhir-akhir ini, maka penyelesaiannya tidak dapat dititikberatkan pada masalah teknik hidrologi, tetapi justru yang lebih berperan adalah segi manajerial dan administrasi. Ada beberapa kekhasan dalam pengelolaan sumber daya air yang dihadapi antara lain adalah pengelolaan air bersifat politis, ilmiah dan pemecahan masalah dan dengan mengambil keputusan. Pendekatan dalam pengelolaan sumber daya air adalah dengan melalui suplay management dan demand management. Suplay management adalah mempertahankan pasokan dan permintaan yang seimbang di dalam suatu wilayah sungai, atau satuan pengelolaan lainnya. Dalam suplay management lebih ditekankan kepada upaya peningkatan ketersediaan air melalui penyediaan prasarana fisik maupun nonfisik. Demand management adalah lebih menekankan pada upaya pengaturan permintaan. Pengaturan tersebut menjaga agar permintaan air tidak memuncak pada saat yang bersamaan dengan penjadwalan dan upaya menekan permintaan. Pengelolaan yang diperlukan adalah menyimpan air pada waktu berlebihan di musim penghujan dan memanfaatkannya pada waktu kekurangan di musim kemarau. Lingkup penanganan yang perlu ditingkatkan antara lain adalah pengelolaan data sumber daya air, pengalokasian air, pengelolaan kualitas, pengelolaan banjir, pemantapan operasi dan pemeliharaan, peningkatan kelembagaaan dan pendanaan. 3.4. Laut Kualitas air laut di daerah penambangan pasi besi PT Famiaterdio Nagara, Kabupaten Seluma (Andal PT Famiaterdio Nagara, 2006) tertera pada tabel di bawah ini. Tabel 37. Kualitas air laut di Penambangan Pasir Besi PT Famiaterdio, Seluma. Lokasi sampel Baku mutu air laut* Parameter Satuan L-1 L-2 L-3 Perairan Pelabuhan Biota laut Suhu air oC 28,5 28,5 28,5 Suhu normal Suhu normal DHL µS 62600 61700 61110 Kekeruhan NTU 6,3 5,9 5,8 <5 TSS mg/l 80,0 90,2 110,2 80 20-80 TDS mg/l 31300 30800 30600 Kadar Garam permil 31,0 30,0 30,0 alami 33-34 pH 7,6 7,5 7,4 6,5-8,5 7-8,5 COD mg/l 12,8 16,4 16,7 BOD mg/l 5,6 5,1 5,3 20 Amoniak mg/l 0,2 0,3 0,3 0,3 0,3 Nitrit mg/l 0,10 0,12 0,16 Nitrat mg/l 3,4 3,7 3,1 0,008 Besi mg/l 1,2 1,1 1,1 Lemak/minyak mg/l <0,01 <0,01 <0,01 5 1 Nitrogen total mg/l 3,70 4,12 3,56 *Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 L-1 = air laut di sekitar muara sungai Penanakan L-2 = air laut di sekitar muara sungai Penago dan Gesikan L-3 = air laut di sekitar muara sungai Seluma Sumber: Andal PT Famiaterdio (2006) Berdasarkan tabel di atas, kualitas air laut di sekitar penambangan pasir besi itu jika dibandingkan dengan baku mutu air laut menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 maka kualitas air laut masih terkategorikan di bawah ambang batas baku mutu air laut, kecuali kadar nitra dan kekeruhan yang melebihi baku mutu air laut. Berdasarkan data ini, maka perlu dilakukan pengelolaan kualitas air laut agar tingkat kekeruhan dan kadar nitrat agar sesuai dengan baku mutu air laut. Tabel 38. Produksi ikan laut d propinsi Bengkulu tahun 2004 (ton/tahun) Jenis ikan Produksi Sebelah 318 Lidah 366 Nomei 300 Peperek 827 Mayung 1.249 Beloso 312 Biji nangka 39 Gerot-gerot 718 Merah/Bambangan 554 Kerapu 411 Lencam 383 Kakap 578 Kurisi 92 Swanggi 747 Pisang-pisang 370 Gulamah 768 Cucut 528 Pari 277 Bawal putih 645 Bawal hitam 503 Alu-alu 402 Layang 153 Selar 345 Kuwa 733 Telengkek 653 Talang-talang 533 Sunglie 234 Ikan terbang 29 Belarak 301 Kuro 655 Julung-julung 425 Teri 566 Jupuh 315 Tembang 370 Lemuru 72 Golok-golok 411 Terubuk 87 Kembung 1.279 Tenggiri 455 Tenggiri papan 643 Tuna 320 Cakalang 237 Tongkol 442 Layur 901 Jumlah 20.546 Sumber: SLHD Bengkulu (2005) Tabel 38 menampilkan produksi ikan laut dan jenisnya di Propinsi Bengkulu. Terdapat 44 jenis ikan yang terdapat di laut Bengkulu yang ditangkap oleh nelayan. Yang banyak produksinya adalah ikan mayung, ikan kembung, dan ikan layur. Tabel 39. Binatang laut berkulit keras tahun 2004 di Propinsi Bengkulu Jenis binatang laut Produksi (ton/tahun) Rajungan 628 Kepiting 377 Udang barang 402 Udang windu 391 Udang putih 487 Udang dogor 435 Udang lainnya 500 SLHD Bengkulu (2005) Tabel 38 menampilkan produksi binatang laut berkulit keras tahun 2004. Produksi tertinggi adalah jenis rajungan sebanyak 628 ton/tahun, diikuti oleh udang jenis lain selain yang ada di dalam table sebanyak 500 ton. Laut Bengkulu juga banyak menghasilkan sotong dan cumi-cumi (Tabel 39). Tabel 40. Produksi binatang lunak tahun 2004 Jenis binatang laut Produksi (ton/tahun) Tiram Simping Remis 1,12 Kerang darah Cumi-cumi 768 Sotong 859 Gurita 188 Sumber: SLHD Bengkulu (2005) Kegiatan perikanan telah menjadi tradisi manusia sejak zaman purba sampai sekarang. Terbukti bahwa ekstraksi sumber daya ikan telah menjadi ketahanan pangan, penghidupan, dan budaya masyarakat pesisir termasuk Propinsi Bengkulu. Sejak 100 tahun terakhir dikarenakan peningkatan penduduk dan kebutuhan untuk membangun ekonomi telah menyebabkan eskalasi yang luar biasa menyangkut ekstraksi sumber daya ikan. Ikan telah menjadi komoditas komersial. Namun, kondisi ini tidak menjadikan nelayan di Bengkulu menjadi kaya. Mereka tetap miskin sepanjang masa. Fauzi (2005) mengemukakan beberapa strategi untuk menanggulangi kemiskinan masyarakat nelayan. Pertama adalah aspek ekonomi pengelolaan sumber daya perikanan menjadi sangat krusial karena disinilah persoalan kemiskinan. Strategis yang sebaiknya dilakukan adalah memperhitungkan sumber daya yang ada dan konsekwensi ekonominya haruslah menjadi kunci utama dalam program pengentasan kemiskinan. Kedua, tangkap lebih secara ekonomi merupakan penyakit utama rendahnya kinerja perikanan Indonesia yang menimbulkan kemiskinan di wilayah pesisir. Strategi untuk mengentaskan kemiskinan adalah adaptive rationalization yang merupakan turunan dari instrument ekonomi yang berdasar mekanisme pasar dengan penguatan kelembagaan local. Ketiga, strategis investasi yang tepat akan membantu mengurangi kemiskinan di sector perikanan. Dalam kegiatannya menangkap ikan, selain menangkap ikan dan memisahkannya sesuai dengan yang dibutuhkan nelayan akan membuang ikan yang tidak dibutuhkannya. Jumlah ikan yang dibuang cukup banyak. Sebagai contoh kapal trawl udang lebih banyak menangkap hewan-hewan selain udang. Hasil tangkapan sampingan itu seringkali dibuang begitu saja. Hal ini tentu saja akan mengganggu keseimbangan ekosistem lautan. Juga, penangkapan ikan secara besar-besaran telah merusak ekosistem laut. Salah satu cara agar ekosistem laut tetap terjaga adalah dengan melakukan konservasi bologi melalui pengelolaan lingkungan perairan laut secara ekologi. Tujuan akhirnya adalah untuk menentukan tingkatan optimum dimana penangkapan ikan atau makhluk hidup laut lainnya secara berkelanjutan. Hal ini harus dilakukan pada setiap populasikan atau makhluk hidup lainnya yang ditangkap serta menjaga keseimbangan populasi ikan khususnya pada tingkatan tertentu dengan menentukan besarnya jumlah tangkapan dan intensitas penangkapan. Tujuan ini dapat dicapai antara lain dengan mengembangkan system pengelolaan penangkapan ikan yang didasarkan kepada prinsip-prinsip ekologi seperti melakukan pengendalian terhadap keseimbangan populasi ikan serta mempertimbangkan keberadaan tingkatan piramida tropk laut (Rusdiyanto et al., 2004).. Nilai ekologi yang dimiliki oleh suatu perairan haruslah dipertahankan dengan mengembangkan suatu pengelolaan ang terencana. Hal ini akan dicapai dengan adanya kerjasama yang baik antara pengelola usaha perikanan, nelayan dan instansi terkait. Dalam usaha penangkapan ikan di laut, kita harus mempertimbangkan bahwa kegiatan usaha tersebut adalah suatu industri yang sifatnya jangka panjang dan sumber daya perairan adalah sumber daya yang bukan milik perorangan yang harus dikelola berdasarkan prinsip-prinsip pengelolaan berkelanjutan serta memperhatikan nilai ekologis yang dikandung oleh perairan tersebut. Kerjasama yang baik serta komunikasi yang efektif antara pengelola usaha perikanan, nelayan dan pemerintah akan memperlancar tercapainya tujuan ini.

Advertisements
 

2 Responses to “Profil Lingkungan Hidup Provinsi Bengkulu (Bagian IV)”

  1. mokasi yo pak atas tulisannya.ini bantu aku nian..salam kenal,aku erlin anak curup bengkulu yang sedang kuliah di FPIK uNIV Brawijaya malang.lagi disuruh nyari data hasil perikanan di kota dewek..mokasi pak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s