JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

Profil Lingkungan Hidup Provinsi Bengkulu (Bagian V) August 4, 2009

Filed under: Profil — Urip Santoso @ 4:05 am
Tags: ,

Oleh: Prof. Urip Santoso

3.5. Lahan Basah

Lahan basah merupakan lahan yang tergenang air. Tata lingkungan lahan basah dapat berupa rawa gambut, rawa air tawar, mangrove, danau, sungai, estuaria dan delta yang merupakan tata lingkungan alami, maupun areal persawahan, tambak, waduk, bendungan dan terusan yang merupakan tata lingkungan lahan basah binaan. Luas lahan basah di Propinsi Bengkulu pada tahun 2004 adalah tinggal seluas 117.901 ha dengan lahan kering seluas 1.721.598 ha dan lainnya seluas 20.861 ha (SLHD Bengkulu, 2005). Sedangkan menurut Bapeda (2005) luas lahan basah tahun 2004 adalah 225.950 ha. Dari luas itu diperkirakan lahan rawa (aluvial dan gambut) adalah seluas 80.370 ha (Widodo et al., 2004). Menurut sumber lain (Kompas, 2006) luas rawa lebak di Bengkulu adalah 71.916 ha,   tersebar di Muko-muko 45.411 ha, Bengkulu Utara 9.558 ha, Seluma 8.583 ha, Kaur 7.051 ha.  Dari luas rawa tersebut telah digarap seluas 16.084 ha berupa padi sawah 11.118 ha, kebun 4.378 ha dan ladang 588 ha. Lahan basah berupa lahan sawah pada tahun 2004 adalah 94.270 ha (Bapeda, 2005). Diperkirakan luas lahan basah dari tahun ke tahun semakin menurun. Berkurangnya luas lahan basah karena adanya alih fungsi lahan basah.  Alih fungsi lahan basah menjadi kawasan pertanian dan pengalihan menjadi pusat bangunan produksi ataupun menjadi kawasan pemukiman merupakan salah satu penyebab utama berkurangnya lahan basah di Propinsi Bengkulu.

            Alih fungsi lahan basah ini berakibat kepada  berkurangnya daerah tangkapan air. Kehilangan lahan basah akan mengurangi debit  air yang masuk ke dalam tanah lewat proses inflitrasi dan akan meningkatkan debit air permukaan. Air dengan serta merta  dialirkan ke sungai dan menuju laut tanpa adanya proses pengikatan oleh tanah terlebih dahulu. Inilah salah satu penyebab berkurangnya persediaan air tanah  saat kemarau. Hal ini telah dirasakan oleh masyarakat Bengkulu  dimana di musim penghujan terjadi banjir dimana-mana, sedangkan di musim kemarau kekurangan air. Akibat lainnya adalah berkurangnya populasi atau bahkan punahnya flora dan fauna yang menghuni di habitat lahan basah seperti misalnya hutan rawa.

 

3.6. Pesisir/Pantai

Abrasi pantai di propinsi Bengkulu didapatkan dihampir semua lokasi pantai mulai dari perbatasan Lampung sampai wilayah Propinsi Sumatera Barat. Hal ini disebabkan struktur geologi pantai yang jarang didapatkan batuan beku dan struktur biologi pantai yang tidak memiliki komunitas terumbu karang yang tidak menerus, sehingga energi yang besar yang dibawa oleh arus dan gelombang tidak dapat ditahan oleh daratan pantai (Andal PT Agro Muko, 2005). Menurut Sulistyo et al. (1994) pantai Kota Bengkulu terjadi laju abrasi rata-rata 3,82 m/tahun (kategori berat) pada bagian pantai tertentu, sementara pada bagian pantai lainnya terjadi penambahan luas pantai.

Sedikitnya 49,5 kilometer jalur pantai di Provinsi Bengkulu kondisinya semakin kritis akibat abrasi. Kondisi pantai tersebut mengancam di beberapa tempat di sepanjang pantai barat Bengkulu, mulai dari daerah Kabupaten Mukomuko di utara hingga wilayah Kaur di perbatasan Lampung. Laju abrasi pantai di Provinsi Bengkulu dewasa ini diperkirakan mencapai rata-rata empat meter setiap tahun. Hasil identifikasi itu diketahui terdapat 16 kawasan pantai yang kondisinya sangat kritis karena abrasi sudah amat parah. Sebanyak 16 kawasan yang parah dihantam abrasi laut tersebut menyebar di lima daerah. Di antaranya adalah kawasan pantai Kota Bengkulu sepanjang delapan meter, pantai Desa Padang Bakung, Desa Pasar Bawah Manna dan pantai Desa Maras di Kabupaten Bengkulu Selatan (total sepanjang 9,7 meter), Desa Air Rami dan Air Dikit di Mukomuko (9,4 meter), serta enam lokasi di Bengkulu Utara (9,2 meter) (kompas, 18 September 2006).

Kerusakan daerah pesisir secara alami dapat terjadi akibat perubahan musim yang mempengaruhi pergerakan arus dan gelombang. Energi ini kemudian akan menyebabkan perpindahan material dari satu tempat ke tempat yang lain. Kekuatan gelombang dan arus sangat menentukan kecepatan dan tingkat kerusakan yang ditimbukannya (WALHI,  2007). Perubahan bentang alam pesisir yang diakibatkan aktivitas manusia, seperti penambangan pasir, penebangan hutan pantai hingga konversi hutan pantai menjadi perumahan penduduk dan hotel. Di kawasan pantai Kota Bengkulu, kerusakan didominasi akibat aktivitas manusia. Penambangan pasir di Teluk Sepang, pembuangan limbah pengerukan Pelabuhan Pulau Baai, Penebangan hutan pantai dan mangrove untuk pembuatan jalan dari Pulau Baai, Pantai Panjang hingga Tapak Padri hingga pengambilan pasir pantai di sekitar sungai hitam.
Secara ekologi, kerusakan kawasan pantai menimbulkan dampak: hilangnya media pengembangbiakan biota laut, seperti padang lamun dan terumbu karang. Perubahan iklim mikro di sekitar pantai akibat hilangnya vegetasi pantai. Terputusnya mata rantai ekosistem hutan pantai akibat eksploitasi. Matinya beberapa jenis vegetasi yang tidak mampu hidup akibat intrusi air laut, serta semakin besarnya tingkat kerawanan bencana akibat kerusakan lingkungan.

Sebanyak 16 pantai di Provinsi Bengkulu mengalami abrasi dan perlu segera dilakukan tindakan penyelamatan. Ke-16 kawasan pantai terebut, yakni pantai Desa Padang Bakung, pantai Pasar Bawah Manna, pantai Maras di Kabupaten Bengkulu Selatan, pantai Muara Kinal, pantai Pasar Bintuhan, pantai Desa Linau dan pantai Maras di Kabupaten Kaur. Selanjutnya, Pantai Berkas Tapak Paderi di Kota Bengkulu, pantai Desa Air Pemandi, pantai Desa Air Padang, pantai Desa Air Selolong, pantai Ujung Palik, pantai Desa Lubuk Tanjung dan pantai Desa Raja di Kabupaten Bengkulu Utara, pantai Desa Air Rami dan pantai Air Dikit di Kabupaten Muko-Muko. Sebagian besar pantai yang kondisinya kritis itu berada di sepanjang jalan lintas barat (Jalinbar) Bengkulu, sehingga jika tidak segera penangganan dikhawatirkan jalan lintas barat pada ruas Bengkulu- Lampung dan Bengkulu- Sumbar akan terancam putus (Kimpraswil Bengkulu, 2004).

            Kekayaan yang dimiliki lautan meliputi terumbu karang, ikan hias, rumput laut serta perikanan. Luas terumbu karang adalah 8.076 ha di Propinsi Bengkulu pada tahun 2004.

            Terumbu karang di Bengkulu ditemukan di Pulau Tikus, Pulau Enggano, Pantai Bintuhan. Luas habitat terumbu karang masih belum diketahui secara pasti. Di pulau Enggano memiliki terumbu karang mencapai 5.097 ha. Selain itu, di pulau ini terdapat padang lamun yang cukup luas dengan jenis lamun Cymodocca rotunda, Cymdoccaserrulata, dan Halophila decipiens.  Hasil observasi (SLHD Bengkulu, 2005) menunjukkan bahwa pada kedalaman air 3 meter di pantai Bintuhan terdapat penutupan sebesar 25%. Kondisi ini berarti terumbu karang sudah rusak. Sementara di Pulau Tikus didapatkan terumbu karang pada kedalaman air 3 meter penutupannya sebesar 78,67%. Kondisi ini berarti terumbu karang masih baik. Di Pulau Dua didapatkan penutupan terumbu karang pada kedalaman air 3 meter sebesar 10% (kondisi rusak) dan pada kedalaman air 10 meter didapatkan penutupan terumbu karang sebesar 52,73% (kondisi masih baik).

            Kerusakan terumbu karang di Propinsi Bengkulu antara lain penggunaan terumbu karang sebagai bahan bangunan, penutupan permukaan karang akibat alat tangkap jaring lobster, sebagai hiasan, penggunaan alat tangkap illegal dan rendahnya pemahaman masyarakat pesisir tentang fungsi terumbu karang.

Wilayah pesisir mempunyai sumber daya yang dapat terbarukan dan sumber daya yang tidak terbarukan, yang merupakan ekosistem alami. Sumber daya yang terbarukan antara lain sumber daya perikanan, terumbu karang, padang lamun dan hutan mangrove (Rurdiyanto et al., 2004), sedangkan yang tak terbarukan meliputi pasir, bijih besi, timah, bauksit serta bahan tambang lainnya.

Bengkulu mempunyai garis pantai sepanjang 525 km di sepanjang pantai Barat Sumatera. Kekayaan yang dimiliki  kawasan pesisir meliputi hutan mangrove, hutan pantai serta flora dan fauna yang hidup di dalamnya. Habitat mangrove di Propinsi Bengkulu tersisa di pulau enggano seluas 2.500 ha, Muara Air Selagan 4 ha, Pulau Baai 100 ha dan Pasar Ngalam 40 hektar pada tahun 2005.  Habitat hutan mangrove di Pulau Enggano relative masih utuh, sementara di daratan Bengkulu kondisinya semakin memprihatinkan pada tahun 2006. Penurunan habitat mangrove ini sebagai akibat abrasi pantai dan kegiatan pembangunan seperti perkebunan, pelabuhan, pengeringan rawa dll.

            Lima puluh persen hutan mangrove yang terdapat di sepanjang 525 km pantai Barat telah mengalami kerusakan. Diperkirakan luas hutan mangrove di sepanjang pantai Barat sekitar 5.250 ha. Hutan mangrove yang relative masih utuh adalah di pulau Enggano.  Hutan mangrove di Enggano sebagian besar tersebar di bagian pantai sebelah timur Pulau Enggano, termasuk ke dalam kawasan hutan koservasi, seperti Cagar Alam Teluk Klowe, Cagar Alam Sungai Bahewa dan Taman Buru Gunung Nanua; luasnya 1.536,8 ha. Sebagian hutan mangrove juga terletak di sebelah barat Pulau Enggano, yaitu di Cagar Alam Tanjung Laksaha dan secara spot-spot terletak di sebelah selatan kawasan Cagar Alam Kioy (Senoaji dan Suminar, 2006). Hutan mangrove di Enggano mempunyai ketebalan antara 50-1500 m. Komposisi jenis penyusun hutan mangrove di Enggano  terdiri dari 16 jenis yaitu Rhizophora apicullata, R. mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Xyloacarpus granatum, Sonneratia alba, Ceriops tagal, Oncosperma filamentosa, Palmae sp., Terminalia catapa, Calamus ornitus, Hibiscus tiliacerus, Ficus sp., Baringtonia asiatica, Cerbera manghas, Scaevola taccada dan Pongamia pinnata. Tiga jenis pertama merupakan jenis-jenis yang dominant dan banyak menyebar di setiap kawasan Cagar Alam Suaka Alam Tanjung Laksaha. Lebar hutan mangrove di daerah ini bervariasi mulai dari 50-1000 m. Potensi hutan mangrove di cagar alam ini cukup tinggi yaitu 320 m3/ha dengan jumlah pohon 350 pohon/ha. Pohon-pohon yang berdiameter di atas 50 cm mencapai 30%, dengan rata-rata diameter pohon 36 cm dan tinggi 9 m.

            Beberapa faktor penyebab kerusakan hutan mangrove di Bengkulu antara lain: 1) Pemanfaatan yang tidak terkontrol, karena ketergantungan masyarakat yang menempati wilayah pesisir sangat tinggi; 2) Konversi hutan mangrove untuk berbagai kepentingan (perkebunan, tambak, pemukiman, kawasan industri, wisata dll.) tanpa mempertimbangkan kelestarian dan fungsinya terhadap lingkungan sekitar.

            Kerusakan hutan mangrove di sepanjang pantai Bengkulu telah dirasakan akibatnya antara lain adalah:

1. Instrusi air laut

            Instrusi air laut adalah masuknya atau merembesnya air laut kea rah daratan sampai mengakibatkan air tawar sumur/sungai menurun mutunya, bahkan menjadi payau atau asin (Harianto, 1999). Dampak instrusi air laut ini sangat penting, karena air tawar yang tercemar intrusi air laut akan menyebabkan keracunan bila diminum dan  dapat merusak akar tanaman. Instrusi air laut telah terjadi dihampir sebagian besar wilayah pantai Bengkulu. Dibeberapa tempat bahkan mencapai lebih dari 1 km.

2. Turunnya kemampuan ekosistem mendegradasi sampah organic, minyak bumi dll.

3. Penurunan keanekaragamanhayati di wilayah pesisir

4. Peningkatan abrasi pantai

5. Turunnya sumber makanan, tempat pemijah & bertelur biota laut. Akibatnya produksi tangkapan ikan menurun.

6. Turunnya kemampuan ekosistem dalam menahan tiupan angin, gelombang air laut dlll.

7. Peningkatan pencemaran pantai.

            Orientasi pemanfaatan utama pesisir dan lautan serta berbagai elemen pendukung  lingkungannya merupakan suatu bentuk perencanaan dan pengeolaan kawasan secara terpadu dalam usaha mengembangkan kawasan wisata, industri, dan kawasan buatan lainnya.

Propinsi Bengkulu yang mempunyai panjang pantai sekitar 525 km membujur di pantai barat Sumatera sangat potensial untuk dikembangkan sebagai obyek wisata seperti obyek wisata bahari. Suatu kawasan wisata bahari yang berhasil bila  telah memenuhi empat aspek yaitu: (1) mempertahankan kelestarian lingkungan; (2) meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar; (3) menjamin kepuasan pengunjung dan; (4) meningkatkan keterpaduan dan unity pembangunan masyarkat di sekitar kawasan dan zone pengembangannya.

            Oleh sebab itu, pemanfaatan peisir/pantai menjadi wisata bahari perlu kiranya mengembalikan atau memulihkan terlebih dahulu ekosistem pesisir. Salah satu ekosistem yang harus dipulihkan di sepanjang pantai Bengkulu adalah kawasan hutan mangrove dan hutan pantai. Pemulihan kawasan ini disamping akan memulihkan sebagian besar flora dan fauna, juga berfungsi sebagai pelindung daratan dari keganasan lautan. Kawasan hutan ini paling sedikit selebar 150 m dari bibir pantai pada saat pasang. Kawasan pemukiman ataupun kawasan industri yang berkembang dapat ditata setelah kawasan hutan tersebut. Agar kawasan hutan tersebut dapat dikembangkan menjadi kawasan wisata, maka hutan tersebut ditata sedemikian rupa sehingga menarik bagi para mengunjung. Di luar kawasan hutan dapat pula ditata kawasan pariwisata yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang dibutuhkan oleh penunjung. Jadi, di daerah pesisir ini dapat dikembangkan kombinasi berbagai wisata seperti wisata alam, wisata bahari dan jenis wisata lainnya. Apalagi, beberapa kota dan kabupaten di kawasan pesisir ini banyak terdapat situs dan cagar budaya yang bernilai sejarah sehingga dapat pula dikembangkan jenis wisata sejarah dan budaya. Dengan cara ini, maka industri pariwisata beserta industri pendukungnya dapat berkembang di propinsi Bengkulu.

            Pengelolaan kawasan pesisir yang berkelanjutan tidak lepas dari kawasan di hulu seperti daerah aliran sungai. Kebijakan pengelolaan DAS harus memperhatikan prinsip-prinsip dasar hidrologi yaitu air mengalir ke tempat lebih rendah.  Aktivitas di DAS harus memperhitungkan akibat yang ditimbulkannya terhadap wilayah pesisir. Hal ini tentunya terkait dengan kelestarian ekosistem di daerah pesisir. Secara alamai, kawasan pesisir dan laut merupakan kawasan yang rentan terhadap berbagai dampak lingkungan yang berkaitan dengan aktivitas manusia di wilayah hulu dan DAS. Dampak lingkungan yang umum terjadi terutama adalah anomaly sirkulasi air sungai dan laut, gangguan ekologi kelautan, pelumpuran dan pencemaran perairan termasuk intrusi air laut.

            Keterkaitan biofisik kawasan hulu dan hilir suatu DAS dapat dijelaskan melalui daur hidrologi (Asdak dan Abdullah, 2000). Misalnya, erosi yang berasal dari aktivitas pertanian, kehutanan dan atau kegiatan lainnya yang bersifat mengubah bentang lahan  di wilayah hulu DAS sebagian atau seluruhnya akan masuk ke dalam system sungai dan terbawa arus sungai ke wilayah hilir. Apabila sediment yang terbawa arus sungai tersebut juga terdiri atas senyawa kimia yang berasal dari pupuk dan/atau pestisida, maka dalam batas tertentu, transport sediment dapat emnjadi bahan tercemar. Dengan semakin luas dan intensifnya lahan-lahan pertanian yang dikerjakannya, sementara pada sat bersamaan lahan yang merupakan daerah serapan banyak dialihfungsikan menjadi lokasi pemukiman dan/atau peruntukan lain yang bersifat pemadatan tanah, maka akibatnya di daerah hilir akan terjadi banjir pada musim hujan  dan kekurangan air di musim kemarau. Oleh sebab itu, pengembangan kawasan pesisir yang berorientasi konservasi harus diimbangi oleh pengembangan yang bersifat konservasi pula di daerah sepanjang DAS.

            Untuk menjaga kelestarian lingkungan di kawasan pesisir, jika industri pariwisata, pemukiman dan/atau industri lainnya telah berkembang di daerah pesisir maka perlu dipikirkan pula bagaimana pengelolaan sampah di wilayah tersebut yang dihasilkan oleh berbagai aktivitas di wilayah tersebut. Sistem 4 R dapat dikembangkan untuk menangani sampah, selain juga dibangun system drainase yang baik. Pemantauan secara rutin perlu dilakukan secara transparan dan bebas KKN.

            Hal lain, mungkin ini yang pertama perlu dilakukan, adalah inventarisasi sumberdaya alam wilayah pesisir. Hal ini perlu dilakukan untuk menghidari pemanfaatan lahan pesisir yang tidak terkontrol dan untuk menhindari adanya konflik antar pengguna.

            Pembangunan wilayah pesisir hendaknya melibatkan masyarakat local dan memperhatikan budaya setempat. Hal ini agar kesejahteraan penduduk pesisir meningkat  dengan berkembangnya wilayah tersebut. Berbagai jenis kegiatan yang telah ada di masyarakat seperti bidang perikanan perlu dikembangkan. Terkait dengan industri pariwisata maka program home stay di rumah penduduk juga merupakan alternative yang perlu dikembangkan. Untuk memberikan kenyamanan bagi pelancong, mungkin perlu rehabilitasi rumah penduduk dimana pembiayaannya dibebankan kepada pemerintah. Bidang-bidang lain yang masih terkait dengan kegiatan ekonomi penduduk pesisir di Bengkulu adalah berdagang. Untuk itu, perlu dikembangkan fasilitas perdagangan dimana prioritas pedagangnya berasal dari penduduk setempat. Dengan cara demikian, kesejahteraan penduduk sekitar meningkat dan mereka merasakan langsung manfaat pembangunan di wilayah pesisir.

            Hal yang paling mendesak dalam pemulihan ekosistem pesisir adalah pengaturan kembali tata ruang wilayah pesisir bagi berbagai aktivitas penduduk. Wilayah pesisir dapat diatur menjadi kota ekologi sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai wisata pantai, wisata bahari atau bentuk lainnya. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah membangun komunikasi dua arah mengenai lingkungan dan manfaatnya bagi masyarakat. Program ini sangat penting artinya sebagai upaya membangun komunikasi antara pihak yang berwenang dengan masyarakat.

           

3.7. Agroekosistem

Sebelum membahas tentang pemanfaatan lahan/tanah untuk kegiatan pertanian, kita terlebih dahulu membahas pembagian zona agroekologi di Propinsi Bengkulu. Untuk mengetahui potensi sumber daya alam yang ada, telah dilakukan kajian Agroekologi Zone (AEZ) dengan menghasilkan peta wilayah berskala 1 : 250.000. Propinsi Bengkulu terdiri dari 6 zone agroekologi (Zone I, II, III, IV, V dan X). Karakteristik dan luas masing-masing zone sebagai berikut (BPTP Bengkulu, ?).

  

Tabel 41. Pewilayahan Propinsi Bengkulu berdasarkan Zona Agroekologi dan sistem produksi pertanian

 

No.

Zona

Kelerengan  (%)

Luas (ha)

%

Jenis tanah

Drainase

Sistem Produksi

1

I

> 40

 

681.454 32.02 Inceptisols, ultisols, andisols

Baik

Kehutanan/ Hutan lindung

2

II

15 – 40

 

621.535 29.20 Inceptisols, ultisols, andisols

Baik

Perkebunan/ tanaman tahunan

3

III

8 – 15

 

528.108 24.81 Inceptisols, ultisols, andisols, oxisols

Baik

Wanatani/ budidaya lorong

4

IV.1

< 3

 

154.099

7.24

Inceptisols, Enfisols

Buruk

Sawah pertanian lahan basah

IV.2

< 8

83.114

3.91

Ultisols, Inceptisols, Andisols

Baik

Pertanian lahan kering

5

V

< 3

 

29.504

1.39

Histosols

Buruk

Budidaya lahan gambut

6

X

30.377

1.43

Lereng Terjal, danau.

Kehutanan konservasi

Jumlah

2.128.191 100

 

 

 

 

 

Tabel 42 menyajikan luas areal perkebunan rakyat tahun 2005 di Propinsi Bengkulu. Tanaman kopi, kelapa sawit dan karet  serta kelapa merupakan komoditas yang diusahakan popular oleh petani di Propinsi Bengkulu. Hal ini terlihat banyaknya jumlah petani yang menanamnya.  Selain itu, dua komoditas yaitu karet dan kelapa sawit telah diusahakan secara besar-besaran baik diusahakan oleh PBSN dan PTP. Polanya mengukuti pola inti-plasma, dimana PTP sebagai intinya dan petani sebagai plasmanya. Meskipun terdapat beberapa masalah, pada dasarnya pola inti-plasma mampu meningkatkan kesejahteraan petani di Propinsi Bengkulu. Beberapa masalah muncul ketika  pengelolaan  pola ini tidak berjalan dengan baik. Menurut beberapa petani bahwa ketika mereka telah membayar secara rutin kepada pihak inti ternyata tidak ada catatannya. Hal ini membuat petani enggan menyetor kredit setiap bulannya. Permasalahan lain adalah banyak petani yang mengalihkan kebun plasmanya kepada pihak lain.Beberapa permasalahan tersebut mendorong perlunya perbaikkan pengelolaan pola inti-plasma di Propinsi Bengkulu.

            Tanaman perkebunan besar dan perkebunan rakyat memiliki nilai strategis bagi pengembangan perekonomian Bengkulu. Tiga komoditas perkebunan utama yaitu karet, kelapa sawit dan kopi telah diuji dimasa krisis, sehingga pengembangannya ke depan memiliki keunggulan komparatif yang baik.

            Untuk mengembangkan tanaman perkebunan unggulan tersebut beberapa hal perlu dilakukan yaitu: (1) mewujudkan perkebunan rakyat berbudaya industri; (2) mengoptimalkan sumber daya perkebunan; (3) peningkatan rehabilitasi kebun dan lahan kritis; (4) peningkatan mutu bahan olahan produksi perkebunan dengan tetap mempertimbangkan kelestarian lingkungan.

 

 

Tabel  42. Luas areal perkebunan rakyat tahun 2005 di propinsi Bengkulu

Perkebunan Belum meng-hasilkan (ha) Menghasilkan (ha) Rusak (ha) Jumlah petani
Kopi robusta 19.451 80.982 13.984 96.181
Cengkeh 569 254 220 2.192
Coklat 4.651 2.671 140 8.045
Lada 2.859 8.296 708 15.838
Kelapa sawit 40.475 50.192 231 52.638
Kayu manis 1.652 1.994 39 7.455
Kemiri 503 921 124 6.567
Aren 459 1.144 74 5.659
Pinang 274 2.096 71 9.929
Kapuk 209 382 35 2.469
The
Panili 10 15 74
Tembakau
Karet 17.932 54.403 5.096 61.954
Kelapa 2.073 15.849 765 63.872
Jahe 60 149 409
Nilam 1.095 2.407 17 3.613
Jumlah 93.272 221.755   336.895

 

        Tabel 43 menunjukkan luas panen produk-produk pertanian di Propinsi Bengkulu. Tanaman pangan padi dan palawija merupakan tanaman pokok petani di dalam mendukung kehidupan sehari-hari,  sementara perkebunan merupakan tanaman penyanggah yang prospektif dan bernilai investasi ke depan. Meskipun demikian, jika dibaca dari table 41 terlihat bahwa luas arel padi sawah pada tahun 2006 menurun jika dibandingkan dengan tahun 2005. Hal ini disebabkan adanya konversi lahan sawah menjadi pemukiman dan lain aktivitas. Luas padi ladang pada tahun 2006 lebih tinggi daripada tahun 2005 tetapi lebih rendah dari tahun 2003. Luas panen yang meningkat cukup banyak adalah jagung yang pada tahun 2005 meningkat menjadi 31.998 ha. 

 

Tabel  43. Luas panen produk-produk pertanian di Propinsi Bengkulu (ha)

Komoditas 2002 2003 2004 2005 2006
Padi sawah 88.778 92.858   99.905 91.980
Padi lading 20.739 17.693   16.913 17.031
Ubi kayu 7.186 7.194 5.118 6.856  
Ubi jalar 6.720 5.783 3.711 4.818  
Jagung 28.948 28.214 20.049 31.998  
Kedelai 2.055 2.309 3.309 2.725  
Kacang tanah 6.323 6.239 5.488 6.844  
Kacang Hijau     1.749 1.747  

Sumber: Diolah dari berbagai sumber

 

            Tabel 44 menyajikan produksi pertanian dari tahun 2002-2006 di Propinsi Bengkulu. Produksi padi sawah pada tahun 2006 menurun jika dibandingkan dengan tahun 2005. Hal ini sejalan dengan menurunnya luas panen pada tahun yang sama. Produksi padi di Propinsi Bengkulu belum mampu memenuhi kebutuhan penduduk di Propinsi Bengkulu, sehingga sebagian padi diimpor dari daerah lain.

 

Tabel  44. Produksi produk-produk pertanian di Propinsi Bengkulu (ton)

Komoditas 2002 2003 2004 2005 2006
Padi sawah 337.880 377.261   406.117 373.980
Padi lading 41.939 36.114   35.159 35.390
Ubi kayu 81.391 82.945 59.659 79.934  
Ubi jalar 62.688 54.741 35.368 45.921  
Jagung 52.191 52.723 50.012 84.089  
Kedelai 1.919 2.084 3.053 2.522  
Kacang tanah 6.036 6.040 5.814 6.800  
Kacang Hijau     1.696 1.711  

 

            Tabel 45 menampilkan jumlah rumah tangga perikanan, produksi dan nilai produksi ikan di Propinsi Bengkulu. Jika dibaca dari table 43, maka dapat disimpulkan bahwa  secara umum produksi dan nilai produksi perikanan bertambah dari tahun ke tahun.

 

Tabel 45. Jumlah rumah tangga perikanan, produksi dan nilai produksi ikan di Propinsi Bengkulu

Tahun Jumlah Rumah tangga Produksi (ton) Nilai Produksi (Rp)
1998 6.526 21.421 79.217.580
1999 7.051 24.087 136.119.689
2000 7.322 24.157 173.584.841
2001 8.375 26.247 191.779.550
2002 15.942 30.749 196.798.671
2003 12.440 26.854 229.936.000
2004 16.363 31.400 282.246.089

 

            Namun ditinjau dari segi lingkungan adalah penggunaan alat penangkap ikan seperti pukat harimau, putas, strum dan bom. Hal ini tentunya akan merusak ekosistem laut dan air tawar. Untuk memperbaiki ekosistem yang telah rusak perlu dilakukan program peningkatan kesadaran masyarakat akan fungsi lingkungan dengan secara berbarengan meningkatkan kesejahteraan nelayan. Program-program budidaya yang lestari perlu dikembangkan di wilayah pesisir Propinsi Bengkulu.

Beberapa permasalahan pertanian antara lain adalah: (1) rendahnya kualitas SDM; (2) kurangnya infrastruktur untuk kegiatan ekonomi: (3) terbatasnya sumber permodalan dan penerapan teknologi; (4) belum berkembangnya industri pengolahan hasil, sehingga nilai tambah produk pertanian rendah.

Lahan yang berpotensi untuk diusahakan seluas 1.447.229 ha. Luas pemanfaatan 1.037.460 ha dan yang belum dimanfaatkan 409.769 ha. Lahan yang belum termanfaatkan berupa rawa-rawa, lebak dan lahan kering. Swasembada pangan di Bengkulu khususnya dan di Indonesia pada umumnya sangat penting artinya bagi ketahanan pangan nasional. Untuk tujuan itu, maka diperlukan suatu teknologi usaha tani yang mampu menghasilkan produksi yang tinggi per hektarnya. Namun demikian, produktivitas yang tinggi harus pula diimbangi  oleh kebijakan yang tetap memperhatikan lingkungan. Salah satu cara yang dianjurkan adalah usaha tani konservasi. Sistem usahatani konservasi adalah penataan usahatani yang stabil berdasarkan daya dukung lahan yang didasarkan atas tanggapannya terhadap factor-faktor biologis dan social eknomi serta berdasarkan sasaran dan tujuan  rumah tangga petani dengan mempertimbangkan sumberdaya yang tersedia.

 

Kerusakkan yang ditimbulkan oleh aaktivitas agroekosistem

            Masalah yang terjadi dengan ditinggalkannya system pertanian tradisional terjadi berbagai kerusakan ekosistem pertanian, baik sawah maupun pertanian lahan kering nonsawah. Kerusakan lingkungan di ekosistem sawah terutama disebabkan oleh antara lain program Revolusi Hijau, khususnya oleh introduksi varietas padi unggul, serta penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang tak terkendali. Di satu sisi program tersebut mampu meningkatkan produksi padi secara nasional, namun di sisi lain telah menyebabkan kerusakan lingkungan hidup yang tidak sedikit.

            Pengaruh Revolusi Hijau pada system sawah, secara tidak langsung, telah menyebabkan komersialisasi pertanian lahan kering lahan kering di daerah pegunngan. Wujud nyatanya adalah adanya desakan ekonomi pasar di berbagi tempat yang semakin menguat, sehingga system pertanian agroperhutanan tradisional yang ramah lingkungan telah dikonversikan menjadi kebun sayuran komersial, misalnya di daerah Rejang Lebong. Akibat perubahan ini, system pertanian agroperhutanan tradisional yang semula biasa ditanami oleh aneka jenis tanaman kayu bahan bangunan, kayu baker dan buah-buahan serta jenis tanaman smusim, seperi tanaman pangan, sayur, bumbu masak dan obat-obatan tradisional, kini berubah menjadi system pertanian monokultur.

            Meskipun memberi peluang keluaran ekonomi yang lebih tinggi, pengelolaan system pertanian komersial sayuran di daerah Rejang Lebong pada dasarnya membutuhkan masukan yang lebih tinggi yang bersumber dari luar. Berbagai kebutuhan dari benih sayur, pupuk kimia dan obat-obatan harus dipenuhi oleh petani, sehingga petani menjadi sangat bergantung kepada ekonomi pasar. Akibatnya berbagai kerusakan lingkungan telah terjadi seperti erosi tanah, pencucian pupuk kimia, dan pestisida masuk ke badan perairan yang  berakibat lebih lanjut kepada pendangkalan sungai, danau dan pencemaran perairan yang mengganggu kehiduan biota perairan.

            Hal lain yang menjadi masalah adalah adanya perambahan hutan.  Perambahan hutan dan TNBBS (Kompas, 2007) terjadi di Bengkulu dan Lampung. Terdapat alih fungsi hutan alam menjadi perkebunan kopi, lada dan tanaman produksi yang menyebabkan deforestasi dan kerusakan habitat satwa liar. Kawasan hutan yang dirambah mencapai ± 57.089 ha atau 17,5% dari seluruh kawasan konservasi TNBBS. Selain TNBBS, hutan lindung lain dan TNKS juga tidak lepas dari perambahan. Perambahan hutan mengakibatkan rusaknya habitat asli flora dan fauna  yang berakibat lanjut kepada  turunnya keanekaragaman hayati dan bahkan dapat menimbulkan punahnya satwa dan flora langka. Perambahan hutan dan pengalihfungsian hutan menjadi tanah garapan juga menimbulkan turunnya unsure hara akibat budidaya yang tidak terkontrol serta rusaknya/tercemarnya tanah akibat pemupukan yang tidak terkendali.

Advertisements
 

6 Responses to “Profil Lingkungan Hidup Provinsi Bengkulu (Bagian V)”

  1. adi Says:

    tolong jurnal lingkungan

  2. suli angria murni Says:

    assalamualaikum, pak mf ganggu saya anak PSL UNIB angkatan 2010 dari manna kira-kira menurut bapak saya bisa tidak pak mengadakan penelitian untuk tesis yang berhubungna dengan remaja dan lingkungan???

  3. beda di indonesia, beda lagi di belanda, proses pembuatan jalan di belanda sangat unik. hihihi

  4. DEKI ANDES PUTRA Says:

    sangat menarik, tapi kita sebagai manusia harus selalu menjaga kelestarian lingkungan dan mensyukuri nikmat dari sang pencipta.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s