JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

Produk Samping Tanaman dan Pengolahan Buah Kelapa Sawit Sebagai Bahan Dasar Pakan Komplit Untuk Ternak Sapi January 10, 2010

Filed under: Sumberdaya — Urip Santoso @ 12:09 am
Tags: , , ,

Agusman Yulianto

Abstrak

Pergeseran fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian merupakan salah satu penyebab rendahnya laju peningkatan populasi ternak, khususnya ternak ruminansia. Oleh karena itu pendekatan yang perlu ditempuh adalah melakukan integrasi pemanfaatan lahan tanaman tahunan, misalnya diversifikasi usaha perkebunan dengan peternakan, khususnya ternak ruminansia. Pemanfaatan pakan alternative yang dapat menjadi pakan hijauan andalan dimasa mendatang perlu ditingkatkan dengan mengoptimalkan fungsi lahan perkebunan yang ada. Dengan tata laksana yang baik dan benar terhadap pemanfaatan produk samping tanaman kelapa sawit akan sangat membantu para pekebun dalam penyediaan pakan hijauan. Pelepah kelapa sawit yang belum dimanfaatkan seoptimal mungkin merupakan salah satu bahan pakan hijauan alternative yang perlu dikerjakan, disamping produk samping hasil pengolahan minyak sawit, seperti Lumpur sawit, serat perasan,  bungkil dan tandan kosong. Batang kelapa sawit berpotensi sebagai pakan dasar untuk menggantikan hijauan sebagian atau seluruhnya. Dengan komposisi 30% batang sawit dan 70% konsentrat diperoleh pertambahan bobot badan sebesar 0,66-0,72 kg pada sapi, sebanding dengan penggunaan jerami (0,71 kg). Akan tetapi efisiensi penggunaan pakan lebih pada penggunaan batang sawit silase (FCR=8,84) dibanding dengan jerami (FCR=10,73).

Biomassa yang dapat dihasilkan dari satu luasan tanaman kelapa sawit dapat mencapai 10 ton per hektar per tahun. Jumlah tersebut sangat potensial untuk dijadikan pakan komplit berbasis produk samping kelapa sawit. Sebagai kosekuensinya tingkat produktivitas ternak ruminansia, khususnya sapi dapat ditingkatkan.

Kata kunci : Perkebunan, pelepah kelapa sawit, pakan hijauan, sapi potong.

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Untuk memenuhi permintaan daging Nasional yang meningkat dari tahun ke tahun, Pemerintah cq. Pihak swasta mendatangkan daging atau ternak bakalan untuk dipotong dari Negara Produsen. Ternak sapi yang semula merupakan pemasok daging Nasional tertinggi (53%) berangsur-angsur turun sumbangannya menjadi 24% pada akhir PJP I. Disisi lain dilaporkan bahwa laju pertumbuhanpopulasi sapi cenderung lambat, dan hal tersebut merupakan salah satu penyebabnya dan mempunyai kaitan erat dengan penyusutan lahan pertanian yang beralih fungsi ke non pertanian. Untuk mengejar ketertinggalan pengadaan daging Nasional, maka upaya meningkatkan produksi sapi potong Nasional melalui pendekatan kualitatif (produktifitas per unit ternak) dan kuantitatif (peningkatan populasi) harus dilakukan. Pendekatan kualitatif sedang dilakukan melalui perbaikan mutu genetik sapi lokal dengan mempergunakan teknik inseminasi buatan (IB). Perbaikan potensi genetic telah dilakukan dan sedang bejalan dengan menggunakan teknik inseminasi buatan (IB). Namun demikian, untuk mencapai asil yang diharapkan, yaitu tingkat produksi yang tinggi, maka perbaikan mutu genetic sapi, terutama sapi potong lokal harus diimbangi dengan perbaikan pakan dan pola pemberian pakan yang memenuhi kebutuhan ternak (JALALUDIN et al., 1991b). ZARATE (1996) melaporkan bahwa program pemuliaan ternak akan sangat tergantung pada aspek tata laksana dan ketersediaan pakan yang berkelanjutan. Ditambahkan bahwa keberhasilan perbaikan performans ruminansia besar membutuhkan kondisi yang stabil dalam artian tatalaksana yang memadai, ketersediaan pakan yang berkelanjutan sepanjang tahun dan kesehatan lingkungan. Pola dan pemberian pakan yang belum sesuai dengan kebutuhan ternak dilaporkan merupakan factor utama rendahnya tingkat produktivitas ternak didaerah tropis (CHEN et al., 1990) dengan perkataan lain, problem utama upaya peningkatan produksi ternak ruminansia adalah sulitnya penyediaan pakan yang berkesinambungan baik dalam artian jumlah yang cukup dan kualitas yang baik, sebagai yang dikatakan CHEN et al., (1990).

Dilain sisi, pemanfaatan lahan untuk tujuan padang pengembalaan ternak makin tersisih oleh pemanfaatan lahan untuk pertanian, termasuk perkebunan. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah peningkatan penyediaan pakan, baik melalui integrasi dan difersivikasi lahan pertanian, termasuk perkebunan. Dengan demikian, efisiensi pemanfaatan lahan dapat ditingkatkan sekaligus dapat memberi nilai tambah pada petani.

Minyak sawit merupakan minyak nabati yang cukup penting setelah minyak nabati yang berasal dari biji kedelai, dan menyumbangkan lebih dari 27% pengadaan minyak nabati dunia (FOLD, 2003). Selanjutnya dikatakan bahwa Indonesia menempati urutan kedua besar penghasil minyak kelapa setelah Malaysia. Luas tanam kelapa sawit di Indonesia dilaporkan mencapai 2.014.000 ha pada tahun 2000, dengan laju pertumbuhan setiap tahunnya mencapai 12,6% (LIWANG, 2003), diperkirakan pada masa-masa mendatang, Malaysia akan berada pada posisi stagnant sebagai akibat ketersediaan dan keterbatasan lahan yang dimiliki serta diperberat dengan ketersediaan tenaga kerja yang terbatas dan biaya kerja yang cukup tinggi. Sementara di Indonesia, (bila “kondisi stabil”) diperkirakan akan terus mengembangkan luas tanam kelapa sawit, khususnya perkebunan swasta dan perorangan. Problem utama perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah terbatasnya mesin atau pabrik pengelolaan produk tanam kelapa sawit berskala kecil sampai menengah, khususnya pada perkebunan swasta dan perorangan (LIWANG, 2003). Sebagai konsekuensi makin meningkatnya luas tanam kelapa sawit, adalah maikn meningkatnya pula produk samping hasil oleh kelapa sawit yang sedikit banyak akan menimbulkan problem baru dan perlu diantisipasi. Salah satu cara pemecahannya adalah dengan memanfaatkan ternak (CORLEY, 2003), khususnya ternak Ruminansia sebagai pabrik hidup yang dapat memenfaatkan produk samping tersebut sebagai pakan, sekaligus dapat dijadikan mesin hidup untuk dapat enyediakan pupuk organik.

1.2. Tujuan Penulisan

1. Memberikan informasi tentang produk samping tanaman dan pengolahan buah kelapa sawit sebagai bahan dasar pakan komplit untuk sapi.

2. Memberikan informasi tentang potensi dan nilai nutrisi produk samping tanaman dan pengolahan buah kelapa sawit serta ketersediaan teknologi dalam pengolahannya.

1.3. Manfaat luaran penulisan

Memberikan informasi pada masyarakat tentang potensi, dan nilai nutrisi serta ketersediaan teknologi dalam pengolahan produk samping tanaman dan  buah kelapa sawit, yang merupakan salah satu tanaman perkebunan yang banyak ditanam di Propinsi Bengkulu.

II. METODOLOGI PENULISAN

Metodologi penulisan dilakukan dengan melakukan telaah pustaka. Pengumpulan pustaka/literature dilakukan dengan melakukan searching, browsing buku, jurnal dan artikel diperpustakaan dan internet. Kemudian pustaka/literature yang didapat dianalisis dan di telaah untuk mendapatkan ragam informasi yang dibutuhkan yang selanjutnya mensintesisnya untuk mendapatkan sebuah informasi yang baru. Dalam menganalisa-sintesis pustaka/literatur yang ada digunakan metode induksi.

III. ISI DAN PEMBAHASAN

3.1. POTENSI DAN NILAI NUTRISI PRODUK SAMPING TANAMAN DAN PENGOLAHAN BUAH KELAPA SAWIT

Di Indonesia, tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jacq) telah dikenal sejak tahun 1848 (pertama kali ditanam dikebun Raya Bogor) (CORLEY, 2003), sementara pengembangannya sebagai penghasil minyak kelapa sawit yang sangat dibutuhkan umat manusia dimulai pada tahun 1911. Keseimbangan asam lemak jenuh dan tidak jenuh  dalam minyak kelapa  sawit memperkuat  posisi minyak  sawit sebagai pangan umatmanusia.                                                                                                               Demikian penting arti minyak nabati asal kelapa sawit, menyebabkan luas wilayah pengembangannya hingga saat ini sangat pesat. Produk samping tanaman kelapa sawit yang tersedia dalam jumlah yang banyak dan belum dimanfaatkan secara optimal adalah pelepa daun, lumpur sawit dan bungkil kelapa sawit (MOHAMED et al., 1986), khususnya sebagai bahan dasar ransom ternak Ruminansia (JALALUDIN, et al., 1991b). Dengan pola integrasi ataupun diversifikasi tanaman dan ternak (khususnya ternak Ruminansia) diharapkan dapat merupakan bagian integral dari usha perkebunan, sebagai yang disarankan oleh ABUHASSAN et al., (1991). Oleh karena itu, pemanfaatan produk samping tanaman kelapa sawit (pelepa) pada wilayah perkebunan sebagai basis pengadaan pakan ternak diharapkan banyak memberikan nilai tambah, baik secara langsung maupun tidak langsung (STUR, 1990).

Hal yang sama juga dilaporkan oleh ZAINUDIN dan ZAHARI (1992), bahwa integrasi usaha peternakan dibawah tanaman perkebunan memberikan dampak yang sangat besar artinya.

Ketersediaan lahan yang terbatas untuk sub-sektor peternakan, khususnya komoditas sapi, dan disertai dengan terus meningkatnya permintaan akan protein hewani, memaksa/mendorong para pelaku produksi peternakan unruk dapat memenfaatkan segala kesempatan untuk tetap berupaya meningkatkan produktivitas peternakan. Salah satu peluang yang harus dimanfaatkan secara optimal adalah melakukan pengembangan peternakan melalui pola integrasi ternak dengan perkebunan seperti perkebunan kelapa sawit

Areal dibawah tanaman kelapa sawit kurang dapat ditumbuhi vegetasi alam karena rendahnya intensitas sinar matahari sebagai akibat naungan daun dari tanaman kelapa sawit yang cukup padat, khususnya tanaman yang telah berproduksi. Oleh karena itu, ketersediaan pakan hijuauan, berupa vegetasi alam yang dapat tumbuh diareal perkebunan kelapa sawit sangat terbatas dan tidak cukup untuk mendukung penyediaan pakan hijauan. Namun demikian, produk samping yang dihasilkan baik yang berasal dari tanaman (ISHIDA dan HASSAN, 1997) maupun pengelolaan kelapa sawit (WANZAHARI et al. 2003) berpotensi untuk dapat dioptimalkan sebagai bahan pakan ternak, khususnya ternak Ruminansia. Produk samping dimaksud adalah pelepa, daun, batang (KAWAMOTO et al., 2001), janjangan kosong, serat perasan, Lumpur sawit atau solid dan bungkil kelapa sawit.

3.1.1.Produk Samping Tanaman Kelapa Sawit

Pola tanaman kelapa sawit dengan jarak tanam antar pohon 9 x 9 m dapat menampung143 tanaman setiap hektar. Namun pada kenyataan dilapangan menunjukan bahwa jumlah pohon kelapa sawit untuk setiap hektar areal perkebunan hanya dapat mencapai 130 pohon. Hal ini dimungkinkan karena kondisi wilayah yang berbede-beda. Hasil pengamatan yang dilakukan di PT. Agricinal menunjukan bahwa untuk setiap pohon dapat menghasilkan 22 pelepah per tahun dengan rataan bobot pelepah per batang mencapai 2,2 kg(setelah dikupas dan siap disajikan).                                                          Jumlah ini setara dengan 6,292 kg (22 pelepah x 130 pohon x 2,2 kg) pelepah segar yang dihasilkan untuk setiap hektar dalam setahun.                                                        Jumlah ini lebih rendah dari potensi yang seharusnya dapat dimanfaatkan, karena pemanfaatan pelepah pada kondisi saat ini belum optimal.

Tabel 1. Produk samping tanaman dan olahan kelapa sawit untuk setiap hektar

Biomasa Segar (kg) Bahan Kering (%) BahanKering (kg)
Daun tanpa lidi

Pelepah

Tandan kosong

Serat perasan

Lumpur sawit, solid

Bungkilkelapa sawit

1.430

6,292

3.680

2,880

4.704

560

Total biomasa

46,18

26,07

92,1

93,11

24,07

91,83

658

1.640

3.386

2.681

1.132

514

10.011

Asumsi  :  1 ha, 130 pohon

1 pohon dapat menyediakan sejumlah 22 pelepah per tahun

1 pelepah, bobot 2,2 kg (hanya 1/3 bagian yang dimanfaatkan)

Bobot daun per pelepah 0,5 kg

Tandan ksong 23% dari TBS

Prod minyak sawit 4 ton per ha per tahun (Liwang, 2003)

1000 kg TBS menghasilkan 250 kg minyak sawit, 294 kg Lumpur sawit, 180 kg serat perasan dan 35 kg bungkil kelapa sawit (Jalaludin et al., 1991a)

Dari table 1 diatas, dapat diketahui bahwa total bahan kering pelepah yang dihasilkan dalam setahun untuk setiap hektar adalah 1.640 kg. Dengan asumsi bahwa luasan perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonesia adalah 2.014.000 ha merupakan tanaman sedang berproduksi, maka jumlah bahan kering pelepah yang tersediah untuk dimanfaatkan adalah 3.302 metrik ton. Fakta menunjukan bahwa untuk setiap pelepah dapat menyediakan daun keapa sawit sejumlah 0,5 kg. Nilai tersebut setara dengan bahan kering sejumlah658 kg/ha/tahun.

Selain pelepah dan daun, perkebunan kelapa sawit dapat juga menyediakan bahan pakan yang dapat dipergunakan sebagai pengganti hijauan dalam bentuk batang kelapa sawit. Material ini dapat diperoleh pada saat tertentu, yakni pada saat peremajaan tanaman dilakukan. Oleh karena itu, penyediaan bahan pakan asal kelapa sawit bersifat sementara dan tidak berkelanjutan.

3.1.2.Produk samping pengolahan kelapa sawit

Proses ekstrak buah sawit akan menghasilkan produk utama dalam bentuk minyak sawit (palm oil), sementara produk samping yang diperoleh berbentuk tandan kosong, serat perasan, Lumpur sawit/solid dan bungkil kelapa sawit.                           Liwang (erupa minyak sawit 2003) melaporkan bahwa produksi minyak sawit (palm oil) yang dapat dihasilkan untuk setiap hektar adalah 4 ton per tahun.

Jumlah tersebut dapat dihasilkan dari lebih kurang 16 ton tandan buah segar (Jalaludin et al., 1991a). Selanjutnya dikatakan bahwa  dari setap 1000 kg tandan buah segar dapat diperoleh produk utama berupa minyak sawit sejumlah 250 kg dan produk samping sejulah294 kg lumpur sawit, 35 kg bungkil kelapa sawit dan 180 kg serat perasan. Jumlah tersebut dapat disetarakan dengan 1.223 kg Lumpur sawit, 509 kg bungkil kelapa sawit dan 2.678 kg serat  perasan dan 3.386 kg tandan kosonguntuk setiap hektarper tahun. Atas dasar nilai tersebut maka dapat diketahui bahwa produk samping pengolahan buah kelapa sawityang dapat dihasilkan dari perkebunan kelapa sawit yang ada d Indonesia mencapai 2.463 metrik ton Lumpur sawit, 1.026 metrik ton bungkil kelapa sawit, 5.394 metrik ton serat perasan dan 6.818 metrik ton tandan kosong.

3.1.3.Nilai nutrien produk samping tanaman dan olahan buah kelapa sawit

Kandungan nutrient yang terdapat dalam produk-produk samping tanaman dan pengolahan kelapa sawit telah dilaporkan para peneliti di Malaysia (Jalaludin et al., 1991a) dan Indonesia (Aritonang, 1984). Produk samping pengolahan buah kelapa sawit antara lain tandan kosong, lumpur/solid, serat perasan dan bungkil kelapa sawit.

Tabel 2. Komposisi nutrient produk samping tanaman dan pengolahan buah kelapa sawit

Bahan/produk

samping

BK % Abu PK SK L BETN Ca P GE(kal/g)
Daun tanpa lidi(5)

Pelepah(4)

Solid(4)

Bungkil(2)

Serat perasan(5)

Tandan kosong(3)

46,18

26,07

24,08

91,83

93,11

92,10

13,40

5,10

14,40

4,14

5,90

7,89

14,12

3,07

14,58

16,33

6,20

3,70

21,52

50,94

35,88

36,68

48,10

47,93

4,37

1,07

14,78

6,49

3,22

4,70

46,59

39,82

16,36

28,19

0,84

0,96

1,08

0,56

0,17

0,08

0,25

0,84

4461

4841

4082

5178

4684

(  ) jumlah contoh

Dari table 2 diatas, terlihat bahwa kandungan dan kualitas nutrient produk samping tanaman sawit cukup rendah. Keadaan tersebut dapat digambarkan dengan tingginya kandungan serat kasar, namun mengandung karbohidrat dalam bentuk gula mudah larut (soluble sugar) yang cukup. Secara umum, kandungan nutrient yang terdapat dalam produk samping tanaman kelapa sawit setara dengan pakan hijauan yang terdapat didaerah tropika.

Produk samping pengolahan kelapa sawit dilaporkan juga mengandung serat kasar yang cukup tinggi, namun untuk lumpur/solid dan bungkil kelapa sawit mengandung protein kasar (table 2) yang berpotensi untuk dijadikan bahan ransum berkualitas. Sebagaimana pada produk samping pertanian lainnya, produk samping tanaman dan pengolahan kelapa sawit perlu diperlakukan secara khusus agar dapat dimanfaatkan secara optimal. Perlakuan dimaksud dapat dilakukan dengan ketersediaan teknologi, baik secara fisik, kimia, biologis maupun kombinasi diantaranya.

3.2.Ketersediaan teknologi pengolahan produk samping

Untuk dapat dimanfaatkan secara optimal, maka produk samping tanaman dan pengolahan buah kelapa sawit sebaiknya diberi perlakuan. Tujuan perlakuan tersebut adalah untuk meningkatkan nilai nutrient produk samping tersebut. Hal tersebut dapat dilakukan secara fisik (cacah, giling, tekanan uap), kimia (NaOH, Urea), biologis (fermentasi) ataupun kombinasi daripadanya. Perlakuan secara kimia dengan menggunakan 8% sodium hidroxida(NaOH), dilaporkan dapat meningkatkan kecernaan bahan kering serat perasan dari 43,2 menjadi 58% (Jalaludien  et al., 1991b). Selanjutnya juga dilaporkan bahwa penggunaannya, baik dengan sodium hidroxida hingga perlakuan NaOH dengan tekanan uap menurunkan tingkat kecernaan bahan kering serat perasan dan batang kelapa sawit (oil palm trunk). Tidak diperoleh alasan yang cukup, mengapa perlakuan tersebut dapat menurunkan tingkat kecernaan bahan kering serat perasan. Upaya mempertahankan dan meningkatkan kualitas nutrient pelepah kelapa sawit melalui proses amoniasi, pemberian molasses, perlakuan alkali, pembuatan silase, tekanan uap tinggi, peletisasi dan secara enzimatis telah dilakukan oleh peneliti di Malaysia (Wan Zahari et al.,2003). Selanjutnya dilaporkan bahwa dengan pendekatan-pendekatan tersebut kandungan nutrient pelepah dapat ditingkatkan.

Lumpur sawit diketahui merupakan hasil ikutan proses ekstraksi  minyak sawit yang mengandung air cukup tinggi. Produk samping ini diketahui menimbulkan masalah lingkungan, sehingga upaya untuk mengatasinya  telah dilakukan dengan mengurangi kandungan air lumpur sawit untuk selanjutnya dapat dipergunakan sebagai bahan pakan ternak, khususnya ternak ruminansia (Webb et al., 1976). Produk hasil pemisahan Lumpur sawit dari sebagian besar kandungan air nya dikenal dengan solid. Solid diketahui mengandung protein kasar sejumlah 14% (dasar bahan kering).

Usaha untuk meningkatkan kandungan nutrient solid telah pula dilakukan dengan pendekatan fermentasi secara aerobic dan hasilnya dilaporkan meningkatkan kandungan protein kasar menjadi 43,4% dan energi menjadi 2,34 kkal EM/g (dikutip oleh Yeong et al., 1983). Hasil fermentasi dengan menggunakan Aspergillus niger, telah pula dilakukan oleh para peneliti Balai Penelitian Ternak, Ciawi-Bogor, dan dilaporkan bahwa kandungan protein kasar hasil fermentasi tersebut dapat meningkatkan kandungan protein kasar dari 12,21 menjadi 24,5% (dasar bahan kering), sementara kandungan energi termetabolis meningkat dari 1,6 kkal per gram menjadi 1,7 kkal per gram (Sinurat et al., 1998). Selanjutnya dikatakan, teknologi fermentasi tersebut masih membutuhkan penyempurnaan untuk terus dapat meningkatkan nilai nutrient produk hasil fermentasi.

Bungkil kelapa sawit merupakan produk samping yang mengandung nutrient dan nilai biologis yang tinggi. Oleh karena itu, pemanfaatannya tidak diragukan. Tandan kosong dan serat perasan merupakan produk samping yang berpotensi, meskipunbelumbanyakdimanfaatkan.                                                                                                        Hal ini disebabkan kedua produk samping tanaman kelapa sawit mengandung serat kasar yang cukup tinggi. Upaya peningkatan nilai nutrient produk samping tersebut belum banyak dilakukan, khususnya sebagai pakan ruminansia. Hingga saat ini kedua produk tersebut masih dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kompos untuk dikonsumsi pihak perkebunan.

3.3. Pemanfaatannya untuk ternak ruminansia

Sebagian besar, kalau tidak dapat dikatakan seluruh produk samping tanaman dan olahan kelapa sawit mengandung serat kasar yang cukup tinggi. Keadaan yang demikian mengidikasikan bahwa apabila produk  samping dimanfaatkan/diberikan kepada ternak ruminansia dapat dipastikan akan menyebabkan ternak mengalami kekurangan nutrient, baik untuk kebutuhan hidup pokok maupun produksi. Menyadari kondisi tersebut, para peneliti berupaya untuk dapat meningkatkan nilai nutrient produk samping tersebut dengan berbagai cara sebagai yang dilaporkan Jalaludin et al. (1991a).

Produk samping tanaman dan olahan buah kelapa sawit yang tersedia dalam jumlah yang banyak dan belum dimanfaatkan secara optimal adalah pelepah daun, lupur sawit dan bungkil kelapa sawit (Mohamed et al., 1986), khususnya sebagai bahan dasar ransom ternak ruminansia (Jalaludin et al., 1991b; Osmann, 1998; Noel, 2003).

Abu Hassan dan Ishida (1991) melaporkan bahwa pelepah kelapa sawit dapat dipergunakan sebagai bahan pakan ternak ruminansia, sebagai sumber pengganti hijauan atau dapat dalam bentuk silase yang dikombinasikan dengan bahan lain atau konsentrat sebagai campuran. Ditinjau dari kandungan nutrient, terlihat bahwa pelepah kelapa sawit dipergunakan sebagai sumber atau pengganti pakan hijauan yang umum diberikan sebagai bahan dasar pakan. Study awal yang dilakukan oleh Abu Hassan dan Ishida (1992) pada sapi Kedah Kalantan menunjukan bahwa tingkat kecernaan bahan kering pelepah dapat mencapai 45%. Hal yang sama juga berlaku untuk daun kelapa sawit yang secara teknis dapat dipergunakan sumber atau pengganti pakan hijauan. Namun demikian, dalam perlakuan pemanfaatan daun kelapa sawit sebagai pakan hijauan memiliki kekurangan dalam penyediaannya. Hal ini disebabkan adanya lidi daun yang dapat menuylitkan ternak untuk mengkonsumsinya. Hal tersebut dapat diatasi dengan pencacahan yang dilanjutkan dengan pengeringan, digiling untuk selanjutnya dapat diberikan dalam bentuk pellet.                                                                                        Wan Zahari et al. (2003) telah melakukan upayah untuk dapat meningkatkan nilai nutrient dan biologis pelepah. Selanjutnya juga dilaporkan bahwa dengan upaya pembuatan silase dengan penambahan urea atau silassesmbelum memberikan hal yang signifikan, walaupun kecenderungan adanya peningkatan nilai nutrient mulai nampak. Pemanfaatannya sebagai bahan pakan ruminansia, disarankan tidak melebihi 30%, dan untuk meningkatkan kosumsi dan kecernaan pelepah dapat dilakukan dengan penambahan produk samping laindari kelapa sawit. Penampilan sapi yang diberi pelepah segar atau silase dalam bentuk kubus, cukup menjanjikan.

Pemberian tepung pelepah dalam bentuk pellet tidak disarankan  dengan alasan ukuran yang terlalu kecil menyebabkan waktu tinggal partikel tersebut dalam saluran pencernaan menjadi singkat. Konsekuensinya tepung tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Untuk mengoptimalkan penggunaan pelepah kelapa sawit, maka bentuk kubus (1-2 cm³) lebih disarankan. Selanjutnya dikatakan, bahwa pemberian pelepah sebagai bahan ransom dalam jangka waktu yang panjang menghasilkan kualitas karkas yang baik.

Pemanfaatan tandan kosong yang diketahui mengandung serat kasar tinggi dan diindikasikan dengan kandungan serat deterjen asam (ADF) sejumlah 61% memiliki nilai biologis yang rendah. Namun demikian, dalam pemanfaatannya disarankan agar dicampur dengan bahan pakan lain yang berkualitas.

Jumlah yang dapat diberikan dalam ransum sapi antara 30-50%, dengan catatan produk samping tandan kosong tersebut harus terlebih dahulu diberi perlakuan fisik seperti dicacah untuk mendapat ukuran yang layak untuk dapat dikonsumsi (lebih kurang 2 cm).

Serat perasan (palm press fiber) merupakan hasil ekstrasi minyak sawit. Kandungan protein kasar serat perasan lebih kurang 6% dan serat kasar 48%. Abu Hassan et al. (1991) melaporkan bahwa kemampuan ternak untuk mengkonsumsi cukup rendah sebagai akibat rendahnya nilai kecernakan serat perasan tersebut, yakni hanya mencapai 24-30%. Sebagai yang terjadi pada tandan kosong, upaya untuk meningkatkan nilai nutrient dan biologis serat perasan, berbagai upaya seperti perlakuan kimia (alkali) dan fisik (tekanan tinggi) tidak banyak memberikan manfaat yang berarti. Keadaan demikian menyebabkan upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan serat perasan belum dapat disarankan.

Lumpur sawit mengandung protein kasar berkisar 12-14%. Kandungan air yang tinggi menyebabkan produk samping ini kurang disenangi ternak. Kandungan energi yang rendah dengan abu yang tinggi menyebabkan Lumpur sawit tidak dapat dipergunakan secara tunggal. Oleh karena itu, penggunaanya harus disertai dengan produk samping lainnya. Upaya untuk meningkatkan kandungan nutrient dan biologis melalui proses fermentasi akan memberi peluang tersendiri bagi ternak Ruminansia untukdapatmemanfaatkannyasecaraoptimal.                                                                           Belum diketahui dengan pasti jumlah Lumpur sawit yang cukup aman untuk dapat dimanfaatkan sebagai pakan Ruminansia. Pemberian yang dilakukan dengan kombinasi bungkil kelapa sawit dapat memberikan respon yang positif terhadap ternak sapi yang mengkonsumsinya (Jalaludin et al., 1991b).

Bungkil kelapa sawit, merupakan produk samping yang berkualitas karena mengandung protein kasar yang cukup tinggi, yakni 16-18%, sementara kandungan serat kasar mencapai 16%. Pemanfaatannya yang disertai dengan produk samping lainnya perlu dilakukan untuk dapat mengoptimalkan penggunaan bungkil bagi ternak sapi.

Dari uraian diatas, terlihat bahwa hamper seluruh produk samping tanaman dan olahan kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan, khususnya untuk ternak Ruminansia. Kelemahan salah satu produk samping dapat dilengkapi dengan menyertakan kelebihan produk samping lainnya.

Seberapa banyak setiap bagian produk samping dapat dipergunakan dalam pakan lengkap, belum diketahui dengan pasti. Hasil penelitian yang sedang dilakukan pada ternak sapi bali belum mampu menjawab permasalahan tersebut. Ternak sapi muda (umur lebih kurang 1 tahun) yang dipergunakan pada kegiatan tersebut merupakan ternak yang baru didatangkan dari daerah yang bukan berbasis perkebunan kelapa sawit. Oleh karena itu, kondisi studi saat ini baru dapat menunjukkan bahwa ternak sapi dapat memanfaatkan pelepah, solid dan bungkil kelapa sawit, sebagai bahan utama pakan dengan fase adaptasi yang cukup lama (lebih kurang 3 bulan). Hal tersebut tercermin penampilan ternak yang pada awalnya menurun untuk bulan pertama dan untuk selanjutnya kembali pada kondisi semula. Mengacu pada data awal, diyakini bahwa ternak sapi dapat dikembangkan dengan mengandalkan produk samping sawit dengan perkataan lain pemberian pakan yang berbasis produk samping kelapa sawit dapat diandalkan sbagai sumber utama pakan sapi.

Mengacu pada nilai yang telah diuraikan diatas, maka produk samping yang dihasilkan dari tanaman dan pengolahan kelapa sawit untuk setiap satu satuan luas tanam kelapa sawit (ha) dalam setahun adalah 10. 011 kg bahan kering (tabel 1). Dengan perkataan lain, dalam setahun jumlah produk samping atau biomassa yang dihasilkan dari perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonesia adalah 20.327 metrik ton. Jika diasumsikan seluruh produk samping dari perkebunan kelapa sawit dapat dimanfaatkan secara optimal oleh ternak ruminansia, khususnya sapi, maka jumlah ternak sapi yang dapat ditampung mencapai 6.364.618 UT (1 unit ternak/UT setara dengan 250 kg, dan kosumsi setiap 1 UT ±3,5% dari bobot hidup). Dengan perkataan lain, perkebunan kelapa sawit dapat menyediakan pakan sapi sejumlah 9.092.311 ekor sapi dewasa (1 ekor sapi dewasa setara dengan 0,7 UT).

IV. KESIMPULAN

Produk samping perkebunan kelapa sawit berpotensi untuk dapat dijadikan bahan pakan. Ketersediaan produk samping tersebut berpotensi dan dengan upaya mengoptimalkan pemanfaatannya, diyakini bahwa pemeliharaan sapi diperkebunan kelapa sawit dapat dilakukan melalui pola pemeliharaan intensif (dikandangkan). Untuk mendapatkan hasil yang optimal, monitoring dan evaluasi penampilan yang mendapat pakan berbasis produk samping kelapa sawit perlu terus dilakukan, utamanya pada berbagai status fisiologis yang berbeda.

Pemanfaatan hasil samping perkebunan kelapa sawit menjadi pakan ruminansia akan menyebabkan daur ulang bahan organik yang ada disistim perkebunan menjadi terbuka. Sebagian bahan organic yang keluar dari system diperkirakan akan menjadi nilai tambah bagi system secara keseluruhan. Namun penting untuk mengetahui secara kuantitatif sejauh mana pengelolaan hasil samping sebagai pakan dapat diterapkan untuk menjamin keberlanjutan system yang ada secara menguntungkan.

Pemanfaatan limbah industri kelapa sawit perlu dikombinasikan dengan teknologi pengolahan ataupun supplementasi agar pemanfaatan untuk ternak dapat maksimal.

UCAPAN TERIMA KASIH

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Urip Santoso, S.IKom., MSc., Ph.D. yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan  dalam pengkayaan materi kepada penulis, sehingga penyusunan Karya Ilmiah ini dapat diselesaikan.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Hassan, O. S. Ismael, A.R. Mohd Jaafar, D. Nakanishi, N. Dahlan and S.H. Ong. 1991. Experience and challenges in processing, treatments, storage and feeding or oil palm trunks based diets for beef production. Proc. Sem. On Oil Palm Trunks and Others Palmwood Utilization, MSAP. Kuala Lumpur, Malaysia, 231-245.

Abu Hassan O. and M. Ishida. 1991. Efect of water, mallases and urea addition on oil palm frond silage quality. Fermentation, characteristics and palatability to Kedah-Kelantan bulls. Proc. 3 rd Int. Symp. On The Nutrition of Herbivores. Wan Zahari M., Z. A. Tajuddin, N. Abdullah and H.K. Wong (Eds). Penang. Malaysia. P. 94.

Abu Hassan O. and M. Ishida. 1992. Status of Utilization of selected fibrous crop residues and animal performance with special emphasis on processing of oil palm frond (OPF) for ruminant feed in Malaysia. Trop.Agric. Res. Series 24 : 135-143.

Aritonang, D. 1984. Pengaruh penggunaan bungkil inti sawit dalam ransom babi yang sedang tumbuh. Disertasi. Fak. Pasca Sarjana IPB. Bogor.

Chen, C.P. 1990. Management of Forage for Animal Production under Tree Crops. In: Proc. Integrated Tree Croping and Small ruminat Production system. Iniques L.C. and M.D. Sanches (Eds). SR-CRSP. Univ. California Davis, USA. Pp. 10-23.

Corley, R.H.U. 2003. Oil Palm: A major Tropical Crop. Burotrop 19: 5-7.

Fold, N. 2003. Oil Palm: Market and Trade. Burotrop. 19: 11-13.

Ishida, M. and O. A. Hassan. 1997. Utilization of oil palm frond as ccattle feed. JARQ 31: 41-47.

Jalaludin, S., Y.W. Ho, N. Abdullah and H. Kudo. 1991a. Strategis for Animal Improvement In Shoutheast Asia. In: Utilization of feed Resources in Relation to Utilization and Physiology of Ruminants in the Tropics. Trop Agric. Res. Series 25 pp. 67-76.

Jalaludin, S., Z.A. Jelan, N. Abdullah and Y.W. Ho. 1991b. Recent Development in the Oil Palm By Product Based Ruminant Feeding System. MSAP, Penang, Malaysia pp. 35-44.

Kawamoto, H., M Wan Zahari, N.I. S. Mohd Ali, Y Ismail and S. Oshio. 2001. Palatability, digestibility and voluntary intake of Processed Oil palm fronds in cattle. JARQ. 35 (3); 195-200.

Liwang, T. 2003. Palm Oil mill effluent management. Burutrop Bull., 19: 38.

Mohamad, H., H.A. Halim and T.M. Ahmad. 1986. Availability and potential of oil palm trunks and fronds up to year 2000. Palm Oil Research Institute of  Malaysia (PORIM) 20: 1-17.

Noel., J.M. Processing and by-product. Burotrop Bull. 19:8.

Sasaki, M. 1992. The Advancement of live stock Production with special Reference to feed Resources Development in Tropics-Current Situation and future Prospects.    In :Utilization of feed Resources in Relation to Utilization and Physiologi of Ruminant in the Tropic. Trop. Agric. Res. Series 25: 67-76.

Sinurat A.P., T. Purwadaria, J. Rosida, H. Surachman, H. Hamid dan I.P. Kompiang. 1998. Pengaruh suhu ruang fermentasi dan kadar air substrat terhadap nilai gizi produk fermentasi Lumpur sawit. JITV 3: 225-229.

Stur, W.W. 1990. Methodology for Establishing Selection Criteria for Forage Species valuation. In: Proc. Integrated Tree Croping and Small Ruminat Production System. INIQUES L.C. and M.D. Sanches (Eds). SR-CRSP. Univ. California Davis, US. Pp.3-9.

Yeong S.W., T.K. Mukherjee, M. Faizah and M.D. Azizah. 1983. Effect of palm oil by-product-based diets on reproductive performance og layers including residual effect on offspring. Phill. J. Vet. Anim.Sci 9 (14):93-100.

Zainudin, A.T.. and M.W. Zahari. 1992. Research on nutritionand feed resources to enhance livestock production in Malaysia. Proc. Utilization of feed resources in relation to nutrition and fhysiology of ruminant in the tropics. Trops. Agric. Res. Series 25:9-25.

Zarate, A.V. 1996. Breeding strategies for marginal regions in the tropics and sub tropics. Res. Dev. 43/44:99-118.

Wan Zahari, M., O.A. Hassan, H.K. Wong and J.B. Liang. 2003. Utilization oil palm frond-based diet for beef cattle production in Malaysia. Asian-Aust. J. Anim. Sci.16(4):625-634.

Weeb, B.H, R.I. Hutagalung and S.T. Cheam 1976. Palm oil mill waste as animal feed-processing and utilization.Int. Symp. Palm Oil Processing and Marketing, Kuala Lumpur. Pp. 125-146.

Produk Samping Tanaman dan Pengolahan Buah

Kelapa Sawit Sebagai Bahan Dasar Pakan Komplit

Untuk Ternak Sapi

Agusman Yulianto

Mahasiswa Program studi Pasca Sarjana PSL FP Universitas Bengkulu

Abstrak

Pergeseran fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian merupakan salah satu penyebab rendahnya laju peningkatan populasi ternak, khususnya ternak ruminansia. Oleh karena itu pendekatan yang perlu ditempuh adalah melakukan integrasi pemanfaatan lahan tanaman tahunan, misalnya diversifikasi usaha perkebunan dengan peternakan, khususnya ternak ruminansia. Pemanfaatan pakan alternative yang dapat menjadi pakan hijauan andalan dimasa mendatang perlu ditingkatkan dengan mengoptimalkan fungsi lahan perkebunan yang ada. Dengan tata laksana yang baik dan benar terhadap pemanfaatan produk samping tanaman kelapa sawit akan sangat membantu para pekebun dalam penyediaan pakan hijauan. Pelepah kelapa sawit yang belum dimanfaatkan seoptimal mungkin merupakan salah satu bahan pakan hijauan alternative yang perlu dikerjakan, disamping produk samping hasil pengolahan minyak sawit, seperti Lumpur sawit, serat perasan,  bungkil dan tandan kosong. Batang kelapa sawit berpotensi sebagai pakan dasar untuk menggantikan hijauan sebagian atau seluruhnya. Dengan komposisi 30% batang sawit dan 70% konsentrat diperoleh pertambahan bobot badan sebesar 0,66-0,72 kg pada sapi, sebanding dengan penggunaan jerami (0,71 kg). Akan tetapi efisiensi penggunaan pakan lebih pada penggunaan batang sawit silase (FCR=8,84) dibanding dengan jerami (FCR=10,73).

Biomassa yang dapat dihasilkan dari satu luasan tanaman kelapa sawit dapat mencapai 10 ton per hektar per tahun. Jumlah tersebut sangat potensial untuk dijadikan pakan komplit berbasis produk samping kelapa sawit. Sebagai kosekuensinya tingkat produktivitas ternak ruminansia, khususnya sapi dapat ditingkatkan.

Kata kunci : Perkebunan, pelepah kelapa sawit, pakan hijauan, sapi potong.

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Untuk memenuhi permintaan daging Nasional yang meningkat dari tahun ke tahun, Pemerintah cq. Pihak swasta mendatangkan daging atau ternak bakalan untuk dipotong dari Negara Produsen. Ternak sapi yang semula merupakan pemasok daging Nasional tertinggi (53%) berangsur-angsur turun sumbangannya menjadi 24% pada akhir PJP I. Disisi lain dilaporkan bahwa laju pertumbuhanpopulasi sapi cenderung lambat, dan hal tersebut merupakan salah satu penyebabnya dan mempunyai kaitan erat dengan penyusutan lahan pertanian yang beralih fungsi ke non pertanian. Untuk mengejar ketertinggalan pengadaan daging Nasional, maka upaya meningkatkan produksi sapi potong Nasional melalui pendekatan kualitatif (produktifitas per unit ternak) dan kuantitatif (peningkatan populasi) harus dilakukan. Pendekatan kualitatif sedang dilakukan melalui perbaikan mutu genetik sapi lokal dengan mempergunakan teknik inseminasi buatan (IB). Perbaikan potensi genetic telah dilakukan dan sedang bejalan dengan menggunakan teknik inseminasi buatan (IB). Namun demikian, untuk mencapai asil yang diharapkan, yaitu tingkat produksi yang tinggi, maka perbaikan mutu genetic sapi, terutama sapi potong lokal harus diimbangi dengan perbaikan pakan dan pola pemberian pakan yang memenuhi kebutuhan ternak (JALALUDIN et al., 1991b). ZARATE (1996) melaporkan bahwa program pemuliaan ternak akan sangat tergantung pada aspek tata laksana dan ketersediaan pakan yang berkelanjutan. Ditambahkan bahwa keberhasilan perbaikan performans ruminansia besar membutuhkan kondisi yang stabil dalam artian tatalaksana yang memadai, ketersediaan pakan yang berkelanjutan sepanjang tahun dan kesehatan lingkungan. Pola dan pemberian pakan yang belum sesuai dengan kebutuhan ternak dilaporkan merupakan factor utama rendahnya tingkat produktivitas ternak didaerah tropis (CHEN et al., 1990) dengan perkataan lain, problem utama upaya peningkatan produksi ternak ruminansia adalah sulitnya penyediaan pakan yang berkesinambungan baik dalam artian jumlah yang cukup dan kualitas yang baik, sebagai yang dikatakan CHEN et al., (1990).

Dilain sisi, pemanfaatan lahan untuk tujuan padang pengembalaan ternak makin tersisih oleh pemanfaatan lahan untuk pertanian, termasuk perkebunan. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah peningkatan penyediaan pakan, baik melalui integrasi dan difersivikasi lahan pertanian, termasuk perkebunan. Dengan demikian, efisiensi pemanfaatan lahan dapat ditingkatkan sekaligus dapat memberi nilai tambah pada petani.

Minyak sawit merupakan minyak nabati yang cukup penting setelah minyak nabati yang berasal dari biji kedelai, dan menyumbangkan lebih dari 27% pengadaan minyak nabati dunia (FOLD, 2003). Selanjutnya dikatakan bahwa Indonesia menempati urutan kedua besar penghasil minyak kelapa setelah Malaysia. Luas tanam kelapa sawit di Indonesia dilaporkan mencapai 2.014.000 ha pada tahun 2000, dengan laju pertumbuhan setiap tahunnya mencapai 12,6% (LIWANG, 2003), diperkirakan pada masa-masa mendatang, Malaysia akan berada pada posisi stagnant sebagai akibat ketersediaan dan keterbatasan lahan yang dimiliki serta diperberat dengan ketersediaan tenaga kerja yang terbatas dan biaya kerja yang cukup tinggi. Sementara di Indonesia, (bila “kondisi stabil”) diperkirakan akan terus mengembangkan luas tanam kelapa sawit, khususnya perkebunan swasta dan perorangan. Problem utama perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah terbatasnya mesin atau pabrik pengelolaan produk tanam kelapa sawit berskala kecil sampai menengah, khususnya pada perkebunan swasta dan perorangan (LIWANG, 2003). Sebagai konsekuensi makin meningkatnya luas tanam kelapa sawit, adalah maikn meningkatnya pula produk samping hasil oleh kelapa sawit yang sedikit banyak akan menimbulkan problem baru dan perlu diantisipasi. Salah satu cara pemecahannya adalah dengan memanfaatkan ternak (CORLEY, 2003), khususnya ternak Ruminansia sebagai pabrik hidup yang dapat memenfaatkan produk samping tersebut sebagai pakan, sekaligus dapat dijadikan mesin hidup untuk dapat enyediakan pupuk organik.

1.2. Tujuan Penulisan

1. Memberikan informasi tentang produk samping tanaman dan pengolahan buah kelapa sawit sebagai bahan dasar pakan komplit untuk sapi.

2. Memberikan informasi tentang potensi dan nilai nutrisi produk samping tanaman dan pengolahan buah kelapa sawit serta ketersediaan teknologi dalam pengolahannya.

1.3. Manfaat luaran penulisan

Memberikan informasi pada masyarakat tentang potensi, dan nilai nutrisi serta ketersediaan teknologi dalam pengolahan produk samping tanaman dan  buah kelapa sawit, yang merupakan salah satu tanaman perkebunan yang banyak ditanam di Propinsi Bengkulu.

II. METODOLOGI PENULISAN

Metodologi penulisan dilakukan dengan melakukan telaah pustaka. Pengumpulan pustaka/literature dilakukan dengan melakukan searching, browsing buku, jurnal dan artikel diperpustakaan dan internet. Kemudian pustaka/literature yang didapat dianalisis dan di telaah untuk mendapatkan ragam informasi yang dibutuhkan yang selanjutnya mensintesisnya untuk mendapatkan sebuah informasi yang baru. Dalam menganalisa-sintesis pustaka/literatur yang ada digunakan metode induksi.

III. ISI DAN PEMBAHASAN

3.1. POTENSI DAN NILAI NUTRISI PRODUK SAMPING TANAMAN DAN PENGOLAHAN BUAH KELAPA SAWIT

Di Indonesia, tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jacq) telah dikenal sejak tahun 1848 (pertama kali ditanam dikebun Raya Bogor) (CORLEY, 2003), sementara pengembangannya sebagai penghasil minyak kelapa sawit yang sangat dibutuhkan umat manusia dimulai pada tahun 1911. Keseimbangan asam lemak jenuh dan tidak jenuh  dalam minyak kelapa  sawit memperkuat  posisi minyak  sawit sebagai pangan umatmanusia.                                                                                                               Demikian penting arti minyak nabati asal kelapa sawit, menyebabkan luas wilayah pengembangannya hingga saat ini sangat pesat. Produk samping tanaman kelapa sawit yang tersedia dalam jumlah yang banyak dan belum dimanfaatkan secara optimal adalah pelepa daun, lumpur sawit dan bungkil kelapa sawit (MOHAMED et al., 1986), khususnya sebagai bahan dasar ransom ternak Ruminansia (JALALUDIN, et al., 1991b). Dengan pola integrasi ataupun diversifikasi tanaman dan ternak (khususnya ternak Ruminansia) diharapkan dapat merupakan bagian integral dari usha perkebunan, sebagai yang disarankan oleh ABUHASSAN et al., (1991). Oleh karena itu, pemanfaatan produk samping tanaman kelapa sawit (pelepa) pada wilayah perkebunan sebagai basis pengadaan pakan ternak diharapkan banyak memberikan nilai tambah, baik secara langsung maupun tidak langsung (STUR, 1990).

Hal yang sama juga dilaporkan oleh ZAINUDIN dan ZAHARI (1992), bahwa integrasi usaha peternakan dibawah tanaman perkebunan memberikan dampak yang sangat besar artinya.

Ketersediaan lahan yang terbatas untuk sub-sektor peternakan, khususnya komoditas sapi, dan disertai dengan terus meningkatnya permintaan akan protein hewani, memaksa/mendorong para pelaku produksi peternakan unruk dapat memenfaatkan segala kesempatan untuk tetap berupaya meningkatkan produktivitas peternakan. Salah satu peluang yang harus dimanfaatkan secara optimal adalah melakukan pengembangan peternakan melalui pola integrasi ternak dengan perkebunan seperti perkebunan kelapa sawit

Areal dibawah tanaman kelapa sawit kurang dapat ditumbuhi vegetasi alam karena rendahnya intensitas sinar matahari sebagai akibat naungan daun dari tanaman kelapa sawit yang cukup padat, khususnya tanaman yang telah berproduksi. Oleh karena itu, ketersediaan pakan hijuauan, berupa vegetasi alam yang dapat tumbuh diareal perkebunan kelapa sawit sangat terbatas dan tidak cukup untuk mendukung penyediaan pakan hijauan. Namun demikian, produk samping yang dihasilkan baik yang berasal dari tanaman (ISHIDA dan HASSAN, 1997) maupun pengelolaan kelapa sawit (WANZAHARI et al. 2003) berpotensi untuk dapat dioptimalkan sebagai bahan pakan ternak, khususnya ternak Ruminansia. Produk samping dimaksud adalah pelepa, daun, batang (KAWAMOTO et al., 2001), janjangan kosong, serat perasan, Lumpur sawit atau solid dan bungkil kelapa sawit.

3.1.1.Produk Samping Tanaman Kelapa Sawit

Pola tanaman kelapa sawit dengan jarak tanam antar pohon 9 x 9 m dapat menampung143 tanaman setiap hektar. Namun pada kenyataan dilapangan menunjukan bahwa jumlah pohon kelapa sawit untuk setiap hektar areal perkebunan hanya dapat mencapai 130 pohon. Hal ini dimungkinkan karena kondisi wilayah yang berbede-beda. Hasil pengamatan yang dilakukan di PT. Agricinal menunjukan bahwa untuk setiap pohon dapat menghasilkan 22 pelepah per tahun dengan rataan bobot pelepah per batang mencapai 2,2 kg(setelah dikupas dan siap disajikan).                                                          Jumlah ini setara dengan 6,292 kg (22 pelepah x 130 pohon x 2,2 kg) pelepah segar yang dihasilkan untuk setiap hektar dalam setahun.                                                        Jumlah ini lebih rendah dari potensi yang seharusnya dapat dimanfaatkan, karena pemanfaatan pelepah pada kondisi saat ini belum optimal.

Tabel 1. Produk samping tanaman dan olahan kelapa sawit untuk setiap hektar

Biomasa Segar (kg) Bahan Kering (%) BahanKering (kg)
Daun tanpa lidi

Pelepah

Tandan kosong

Serat perasan

Lumpur sawit, solid

Bungkilkelapa sawit

1.430

6,292

3.680

2,880

4.704

560

Total biomasa

46,18

26,07

92,1

93,11

24,07

91,83

658

1.640

3.386

2.681

1.132

514

10.011

Asumsi  :  1 ha, 130 pohon

1 pohon dapat menyediakan sejumlah 22 pelepah per tahun

1 pelepah, bobot 2,2 kg (hanya 1/3 bagian yang dimanfaatkan)

Bobot daun per pelepah 0,5 kg

Tandan ksong 23% dari TBS

Prod minyak sawit 4 ton per ha per tahun (Liwang, 2003)

1000 kg TBS menghasilkan 250 kg minyak sawit, 294 kg Lumpur sawit, 180 kg serat perasan dan 35 kg bungkil kelapa sawit (Jalaludin et al., 1991a)

Dari table 1 diatas, dapat diketahui bahwa total bahan kering pelepah yang dihasilkan dalam setahun untuk setiap hektar adalah 1.640 kg. Dengan asumsi bahwa luasan perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonesia adalah 2.014.000 ha merupakan tanaman sedang berproduksi, maka jumlah bahan kering pelepah yang tersediah untuk dimanfaatkan adalah 3.302 metrik ton. Fakta menunjukan bahwa untuk setiap pelepah dapat menyediakan daun keapa sawit sejumlah 0,5 kg. Nilai tersebut setara dengan bahan kering sejumlah658 kg/ha/tahun.

Selain pelepah dan daun, perkebunan kelapa sawit dapat juga menyediakan bahan pakan yang dapat dipergunakan sebagai pengganti hijauan dalam bentuk batang kelapa sawit. Material ini dapat diperoleh pada saat tertentu, yakni pada saat peremajaan tanaman dilakukan. Oleh karena itu, penyediaan bahan pakan asal kelapa sawit bersifat sementara dan tidak berkelanjutan.

3.1.2.Produk samping pengolahan kelapa sawit

Proses ekstrak buah sawit akan menghasilkan produk utama dalam bentuk minyak sawit (palm oil), sementara produk samping yang diperoleh berbentuk tandan kosong, serat perasan, Lumpur sawit/solid dan bungkil kelapa sawit.                           Liwang (erupa minyak sawit 2003) melaporkan bahwa produksi minyak sawit (palm oil) yang dapat dihasilkan untuk setiap hektar adalah 4 ton per tahun.

Jumlah tersebut dapat dihasilkan dari lebih kurang 16 ton tandan buah segar (Jalaludin et al., 1991a). Selanjutnya dikatakan bahwa  dari setap 1000 kg tandan buah segar dapat diperoleh produk utama berupa minyak sawit sejumlah 250 kg dan produk samping sejulah294 kg lumpur sawit, 35 kg bungkil kelapa sawit dan 180 kg serat perasan. Jumlah tersebut dapat disetarakan dengan 1.223 kg Lumpur sawit, 509 kg bungkil kelapa sawit dan 2.678 kg serat  perasan dan 3.386 kg tandan kosonguntuk setiap hektarper tahun. Atas dasar nilai tersebut maka dapat diketahui bahwa produk samping pengolahan buah kelapa sawityang dapat dihasilkan dari perkebunan kelapa sawit yang ada d Indonesia mencapai 2.463 metrik ton Lumpur sawit, 1.026 metrik ton bungkil kelapa sawit, 5.394 metrik ton serat perasan dan 6.818 metrik ton tandan kosong.

3.1.3.Nilai nutrien produk samping tanaman dan olahan buah kelapa sawit

Kandungan nutrient yang terdapat dalam produk-produk samping tanaman dan pengolahan kelapa sawit telah dilaporkan para peneliti di Malaysia (Jalaludin et al., 1991a) dan Indonesia (Aritonang, 1984). Produk samping pengolahan buah kelapa sawit antara lain tandan kosong, lumpur/solid, serat perasan dan bungkil kelapa sawit.

Tabel 2. Komposisi nutrient produk samping tanaman dan pengolahan buah kelapa sawit

Bahan/produk

samping

BK % Abu PK SK L BETN Ca P GE(kal/g)
Daun tanpa lidi(5)

Pelepah(4)

Solid(4)

Bungkil(2)

Serat perasan(5)

Tandan kosong(3)

46,18

26,07

24,08

91,83

93,11

92,10

13,40

5,10

14,40

4,14

5,90

7,89

14,12

3,07

14,58

16,33

6,20

3,70

21,52

50,94

35,88

36,68

48,10

47,93

4,37

1,07

14,78

6,49

3,22

4,70

46,59

39,82

16,36

28,19

0,84

0,96

1,08

0,56

0,17

0,08

0,25

0,84

4461

4841

4082

5178

4684

(  ) jumlah contoh

Dari table 2 diatas, terlihat bahwa kandungan dan kualitas nutrient produk samping tanaman sawit cukup rendah. Keadaan tersebut dapat digambarkan dengan tingginya kandungan serat kasar, namun mengandung karbohidrat dalam bentuk gula mudah larut (soluble sugar) yang cukup. Secara umum, kandungan nutrient yang terdapat dalam produk samping tanaman kelapa sawit setara dengan pakan hijauan yang terdapat didaerah tropika.

Produk samping pengolahan kelapa sawit dilaporkan juga mengandung serat kasar yang cukup tinggi, namun untuk lumpur/solid dan bungkil kelapa sawit mengandung protein kasar (table 2) yang berpotensi untuk dijadikan bahan ransum berkualitas. Sebagaimana pada produk samping pertanian lainnya, produk samping tanaman dan pengolahan kelapa sawit perlu diperlakukan secara khusus agar dapat dimanfaatkan secara optimal. Perlakuan dimaksud dapat dilakukan dengan ketersediaan teknologi, baik secara fisik, kimia, biologis maupun kombinasi diantaranya.

3.2.Ketersediaan teknologi pengolahan produk samping

Untuk dapat dimanfaatkan secara optimal, maka produk samping tanaman dan pengolahan buah kelapa sawit sebaiknya diberi perlakuan. Tujuan perlakuan tersebut adalah untuk meningkatkan nilai nutrient produk samping tersebut. Hal tersebut dapat dilakukan secara fisik (cacah, giling, tekanan uap), kimia (NaOH, Urea), biologis (fermentasi) ataupun kombinasi daripadanya. Perlakuan secara kimia dengan menggunakan 8% sodium hidroxida(NaOH), dilaporkan dapat meningkatkan kecernaan bahan kering serat perasan dari 43,2 menjadi 58% (Jalaludien  et al., 1991b). Selanjutnya juga dilaporkan bahwa penggunaannya, baik dengan sodium hidroxida hingga perlakuan NaOH dengan tekanan uap menurunkan tingkat kecernaan bahan kering serat perasan dan batang kelapa sawit (oil palm trunk). Tidak diperoleh alasan yang cukup, mengapa perlakuan tersebut dapat menurunkan tingkat kecernaan bahan kering serat perasan. Upaya mempertahankan dan meningkatkan kualitas nutrient pelepah kelapa sawit melalui proses amoniasi, pemberian molasses, perlakuan alkali, pembuatan silase, tekanan uap tinggi, peletisasi dan secara enzimatis telah dilakukan oleh peneliti di Malaysia (Wan Zahari et al.,2003). Selanjutnya dilaporkan bahwa dengan pendekatan-pendekatan tersebut kandungan nutrient pelepah dapat ditingkatkan.

Lumpur sawit diketahui merupakan hasil ikutan proses ekstraksi  minyak sawit yang mengandung air cukup tinggi. Produk samping ini diketahui menimbulkan masalah lingkungan, sehingga upaya untuk mengatasinya  telah dilakukan dengan mengurangi kandungan air lumpur sawit untuk selanjutnya dapat dipergunakan sebagai bahan pakan ternak, khususnya ternak ruminansia (Webb et al., 1976). Produk hasil pemisahan Lumpur sawit dari sebagian besar kandungan air nya dikenal dengan solid. Solid diketahui mengandung protein kasar sejumlah 14% (dasar bahan kering).

Usaha untuk meningkatkan kandungan nutrient solid telah pula dilakukan dengan pendekatan fermentasi secara aerobic dan hasilnya dilaporkan meningkatkan kandungan protein kasar menjadi 43,4% dan energi menjadi 2,34 kkal EM/g (dikutip oleh Yeong et al., 1983). Hasil fermentasi dengan menggunakan Aspergillus niger, telah pula dilakukan oleh para peneliti Balai Penelitian Ternak, Ciawi-Bogor, dan dilaporkan bahwa kandungan protein kasar hasil fermentasi tersebut dapat meningkatkan kandungan protein kasar dari 12,21 menjadi 24,5% (dasar bahan kering), sementara kandungan energi termetabolis meningkat dari 1,6 kkal per gram menjadi 1,7 kkal per gram (Sinurat et al., 1998). Selanjutnya dikatakan, teknologi fermentasi tersebut masih membutuhkan penyempurnaan untuk terus dapat meningkatkan nilai nutrient produk hasil fermentasi.

Bungkil kelapa sawit merupakan produk samping yang mengandung nutrient dan nilai biologis yang tinggi. Oleh karena itu, pemanfaatannya tidak diragukan. Tandan kosong dan serat perasan merupakan produk samping yang berpotensi, meskipunbelumbanyakdimanfaatkan.                                                                                                        Hal ini disebabkan kedua produk samping tanaman kelapa sawit mengandung serat kasar yang cukup tinggi. Upaya peningkatan nilai nutrient produk samping tersebut belum banyak dilakukan, khususnya sebagai pakan ruminansia. Hingga saat ini kedua produk tersebut masih dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kompos untuk dikonsumsi pihak perkebunan.

3.3. Pemanfaatannya untuk ternak ruminansia

Sebagian besar, kalau tidak dapat dikatakan seluruh produk samping tanaman dan olahan kelapa sawit mengandung serat kasar yang cukup tinggi. Keadaan yang demikian mengidikasikan bahwa apabila produk  samping dimanfaatkan/diberikan kepada ternak ruminansia dapat dipastikan akan menyebabkan ternak mengalami kekurangan nutrient, baik untuk kebutuhan hidup pokok maupun produksi. Menyadari kondisi tersebut, para peneliti berupaya untuk dapat meningkatkan nilai nutrient produk samping tersebut dengan berbagai cara sebagai yang dilaporkan Jalaludin et al. (1991a).

Produk samping tanaman dan olahan buah kelapa sawit yang tersedia dalam jumlah yang banyak dan belum dimanfaatkan secara optimal adalah pelepah daun, lupur sawit dan bungkil kelapa sawit (Mohamed et al., 1986), khususnya sebagai bahan dasar ransom ternak ruminansia (Jalaludin et al., 1991b; Osmann, 1998; Noel, 2003).

Abu Hassan dan Ishida (1991) melaporkan bahwa pelepah kelapa sawit dapat dipergunakan sebagai bahan pakan ternak ruminansia, sebagai sumber pengganti hijauan atau dapat dalam bentuk silase yang dikombinasikan dengan bahan lain atau konsentrat sebagai campuran. Ditinjau dari kandungan nutrient, terlihat bahwa pelepah kelapa sawit dipergunakan sebagai sumber atau pengganti pakan hijauan yang umum diberikan sebagai bahan dasar pakan. Study awal yang dilakukan oleh Abu Hassan dan Ishida (1992) pada sapi Kedah Kalantan menunjukan bahwa tingkat kecernaan bahan kering pelepah dapat mencapai 45%. Hal yang sama juga berlaku untuk daun kelapa sawit yang secara teknis dapat dipergunakan sumber atau pengganti pakan hijauan. Namun demikian, dalam perlakuan pemanfaatan daun kelapa sawit sebagai pakan hijauan memiliki kekurangan dalam penyediaannya. Hal ini disebabkan adanya lidi daun yang dapat menuylitkan ternak untuk mengkonsumsinya. Hal tersebut dapat diatasi dengan pencacahan yang dilanjutkan dengan pengeringan, digiling untuk selanjutnya dapat diberikan dalam bentuk pellet.                                                                                        Wan Zahari et al. (2003) telah melakukan upayah untuk dapat meningkatkan nilai nutrient dan biologis pelepah. Selanjutnya juga dilaporkan bahwa dengan upaya pembuatan silase dengan penambahan urea atau silassesmbelum memberikan hal yang signifikan, walaupun kecenderungan adanya peningkatan nilai nutrient mulai nampak. Pemanfaatannya sebagai bahan pakan ruminansia, disarankan tidak melebihi 30%, dan untuk meningkatkan kosumsi dan kecernaan pelepah dapat dilakukan dengan penambahan produk samping laindari kelapa sawit. Penampilan sapi yang diberi pelepah segar atau silase dalam bentuk kubus, cukup menjanjikan.

Pemberian tepung pelepah dalam bentuk pellet tidak disarankan  dengan alasan ukuran yang terlalu kecil menyebabkan waktu tinggal partikel tersebut dalam saluran pencernaan menjadi singkat. Konsekuensinya tepung tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Untuk mengoptimalkan penggunaan pelepah kelapa sawit, maka bentuk kubus (1-2 cm³) lebih disarankan. Selanjutnya dikatakan, bahwa pemberian pelepah sebagai bahan ransom dalam jangka waktu yang panjang menghasilkan kualitas karkas yang baik.

Pemanfaatan tandan kosong yang diketahui mengandung serat kasar tinggi dan diindikasikan dengan kandungan serat deterjen asam (ADF) sejumlah 61% memiliki nilai biologis yang rendah. Namun demikian, dalam pemanfaatannya disarankan agar dicampur dengan bahan pakan lain yang berkualitas.

Jumlah yang dapat diberikan dalam ransum sapi antara 30-50%, dengan catatan produk samping tandan kosong tersebut harus terlebih dahulu diberi perlakuan fisik seperti dicacah untuk mendapat ukuran yang layak untuk dapat dikonsumsi (lebih kurang 2 cm).

Serat perasan (palm press fiber) merupakan hasil ekstrasi minyak sawit. Kandungan protein kasar serat perasan lebih kurang 6% dan serat kasar 48%. Abu Hassan et al. (1991) melaporkan bahwa kemampuan ternak untuk mengkonsumsi cukup rendah sebagai akibat rendahnya nilai kecernakan serat perasan tersebut, yakni hanya mencapai 24-30%. Sebagai yang terjadi pada tandan kosong, upaya untuk meningkatkan nilai nutrient dan biologis serat perasan, berbagai upaya seperti perlakuan kimia (alkali) dan fisik (tekanan tinggi) tidak banyak memberikan manfaat yang berarti. Keadaan demikian menyebabkan upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan serat perasan belum dapat disarankan.

Lumpur sawit mengandung protein kasar berkisar 12-14%. Kandungan air yang tinggi menyebabkan produk samping ini kurang disenangi ternak. Kandungan energi yang rendah dengan abu yang tinggi menyebabkan Lumpur sawit tidak dapat dipergunakan secara tunggal. Oleh karena itu, penggunaanya harus disertai dengan produk samping lainnya. Upaya untuk meningkatkan kandungan nutrient dan biologis melalui proses fermentasi akan memberi peluang tersendiri bagi ternak Ruminansia untukdapatmemanfaatkannyasecaraoptimal.                                                                           Belum diketahui dengan pasti jumlah Lumpur sawit yang cukup aman untuk dapat dimanfaatkan sebagai pakan Ruminansia. Pemberian yang dilakukan dengan kombinasi bungkil kelapa sawit dapat memberikan respon yang positif terhadap ternak sapi yang mengkonsumsinya (Jalaludin et al., 1991b).

Bungkil kelapa sawit, merupakan produk samping yang berkualitas karena mengandung protein kasar yang cukup tinggi, yakni 16-18%, sementara kandungan serat kasar mencapai 16%. Pemanfaatannya yang disertai dengan produk samping lainnya perlu dilakukan untuk dapat mengoptimalkan penggunaan bungkil bagi ternak sapi.

Dari uraian diatas, terlihat bahwa hamper seluruh produk samping tanaman dan olahan kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan, khususnya untuk ternak Ruminansia. Kelemahan salah satu produk samping dapat dilengkapi dengan menyertakan kelebihan produk samping lainnya.

Seberapa banyak setiap bagian produk samping dapat dipergunakan dalam pakan lengkap, belum diketahui dengan pasti. Hasil penelitian yang sedang dilakukan pada ternak sapi bali belum mampu menjawab permasalahan tersebut. Ternak sapi muda (umur lebih kurang 1 tahun) yang dipergunakan pada kegiatan tersebut merupakan ternak yang baru didatangkan dari daerah yang bukan berbasis perkebunan kelapa sawit. Oleh karena itu, kondisi studi saat ini baru dapat menunjukkan bahwa ternak sapi dapat memanfaatkan pelepah, solid dan bungkil kelapa sawit, sebagai bahan utama pakan dengan fase adaptasi yang cukup lama (lebih kurang 3 bulan). Hal tersebut tercermin penampilan ternak yang pada awalnya menurun untuk bulan pertama dan untuk selanjutnya kembali pada kondisi semula. Mengacu pada data awal, diyakini bahwa ternak sapi dapat dikembangkan dengan mengandalkan produk samping sawit dengan perkataan lain pemberian pakan yang berbasis produk samping kelapa sawit dapat diandalkan sbagai sumber utama pakan sapi.

Mengacu pada nilai yang telah diuraikan diatas, maka produk samping yang dihasilkan dari tanaman dan pengolahan kelapa sawit untuk setiap satu satuan luas tanam kelapa sawit (ha) dalam setahun adalah 10. 011 kg bahan kering (tabel 1). Dengan perkataan lain, dalam setahun jumlah produk samping atau biomassa yang dihasilkan dari perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonesia adalah 20.327 metrik ton. Jika diasumsikan seluruh produk samping dari perkebunan kelapa sawit dapat dimanfaatkan secara optimal oleh ternak ruminansia, khususnya sapi, maka jumlah ternak sapi yang dapat ditampung mencapai 6.364.618 UT (1 unit ternak/UT setara dengan 250 kg, dan kosumsi setiap 1 UT ±3,5% dari bobot hidup). Dengan perkataan lain, perkebunan kelapa sawit dapat menyediakan pakan sapi sejumlah 9.092.311 ekor sapi dewasa (1 ekor sapi dewasa setara dengan 0,7 UT).

IV. KESIMPULAN

Produk samping perkebunan kelapa sawit berpotensi untuk dapat dijadikan bahan pakan. Ketersediaan produk samping tersebut berpotensi dan dengan upaya mengoptimalkan pemanfaatannya, diyakini bahwa pemeliharaan sapi diperkebunan kelapa sawit dapat dilakukan melalui pola pemeliharaan intensif (dikandangkan). Untuk mendapatkan hasil yang optimal, monitoring dan evaluasi penampilan yang mendapat pakan berbasis produk samping kelapa sawit perlu terus dilakukan, utamanya pada berbagai status fisiologis yang berbeda.

Pemanfaatan hasil samping perkebunan kelapa sawit menjadi pakan ruminansia akan menyebabkan daur ulang bahan organik yang ada disistim perkebunan menjadi terbuka. Sebagian bahan organic yang keluar dari system diperkirakan akan menjadi nilai tambah bagi system secara keseluruhan. Namun penting untuk mengetahui secara kuantitatif sejauh mana pengelolaan hasil samping sebagai pakan dapat diterapkan untuk menjamin keberlanjutan system yang ada secara menguntungkan.

Pemanfaatan limbah industri kelapa sawit perlu dikombinasikan dengan teknologi pengolahan ataupun supplementasi agar pemanfaatan untuk ternak dapat maksimal.

UCAPAN TERIMA KASIH

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Urip Santoso, S.IKom., MSc., Ph.D. yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan  dalam pengkayaan materi kepada penulis, sehingga penyusunan Karya Ilmiah ini dapat diselesaikan.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Hassan, O. S. Ismael, A.R. Mohd Jaafar, D. Nakanishi, N. Dahlan and S.H. Ong. 1991. Experience and challenges in processing, treatments, storage and feeding or oil palm trunks based diets for beef production. Proc. Sem. On Oil Palm Trunks and Others Palmwood Utilization, MSAP. Kuala Lumpur, Malaysia, 231-245.

Abu Hassan O. and M. Ishida. 1991. Efect of water, mallases and urea addition on oil palm frond silage quality. Fermentation, characteristics and palatability to Kedah-Kelantan bulls. Proc. 3 rd Int. Symp. On The Nutrition of Herbivores. Wan Zahari M., Z. A. Tajuddin, N. Abdullah and H.K. Wong (Eds). Penang. Malaysia. P. 94.

Abu Hassan O. and M. Ishida. 1992. Status of Utilization of selected fibrous crop residues and animal performance with special emphasis on processing of oil palm frond (OPF) for ruminant feed in Malaysia. Trop.Agric. Res. Series 24 : 135-143.

Aritonang, D. 1984. Pengaruh penggunaan bungkil inti sawit dalam ransom babi yang sedang tumbuh. Disertasi. Fak. Pasca Sarjana IPB. Bogor.

Chen, C.P. 1990. Management of Forage for Animal Production under Tree Crops. In: Proc. Integrated Tree Croping and Small ruminat Production system. Iniques L.C. and M.D. Sanches (Eds). SR-CRSP. Univ. California Davis, USA. Pp. 10-23.

Corley, R.H.U. 2003. Oil Palm: A major Tropical Crop. Burotrop 19: 5-7.

Fold, N. 2003. Oil Palm: Market and Trade. Burotrop. 19: 11-13.

Ishida, M. and O. A. Hassan. 1997. Utilization of oil palm frond as ccattle feed. JARQ 31: 41-47.

Jalaludin, S., Y.W. Ho, N. Abdullah and H. Kudo. 1991a. Strategis for Animal Improvement In Shoutheast Asia. In: Utilization of feed Resources in Relation to Utilization and Physiology of Ruminants in the Tropics. Trop Agric. Res. Series 25 pp. 67-76.

Jalaludin, S., Z.A. Jelan, N. Abdullah and Y.W. Ho. 1991b. Recent Development in the Oil Palm By Product Based Ruminant Feeding System. MSAP, Penang, Malaysia pp. 35-44.

Kawamoto, H., M Wan Zahari, N.I. S. Mohd Ali, Y Ismail and S. Oshio. 2001. Palatability, digestibility and voluntary intake of Processed Oil palm fronds in cattle. JARQ. 35 (3); 195-200.

Liwang, T. 2003. Palm Oil mill effluent management. Burutrop Bull., 19: 38.

Mohamad, H., H.A. Halim and T.M. Ahmad. 1986. Availability and potential of oil palm trunks and fronds up to year 2000. Palm Oil Research Institute of  Malaysia (PORIM) 20: 1-17.

Noel., J.M. Processing and by-product. Burotrop Bull. 19:8.

Sasaki, M. 1992. The Advancement of live stock Production with special Reference to feed Resources Development in Tropics-Current Situation and future Prospects.    In :Utilization of feed Resources in Relation to Utilization and Physiologi of Ruminant in the Tropic. Trop. Agric. Res. Series 25: 67-76.

Sinurat A.P., T. Purwadaria, J. Rosida, H. Surachman, H. Hamid dan I.P. Kompiang. 1998. Pengaruh suhu ruang fermentasi dan kadar air substrat terhadap nilai gizi produk fermentasi Lumpur sawit. JITV 3: 225-229.

Stur, W.W. 1990. Methodology for Establishing Selection Criteria for Forage Species valuation. In: Proc. Integrated Tree Croping and Small Ruminat Production System. INIQUES L.C. and M.D. Sanches (Eds). SR-CRSP. Univ. California Davis, US. Pp.3-9.

Yeong S.W., T.K. Mukherjee, M. Faizah and M.D. Azizah. 1983. Effect of palm oil by-product-based diets on reproductive performance og layers including residual effect on offspring. Phill. J. Vet. Anim.Sci 9 (14):93-100.

Zainudin, A.T.. and M.W. Zahari. 1992. Research on nutritionand feed resources to enhance livestock production in Malaysia. Proc. Utilization of feed resources in relation to nutrition and fhysiology of ruminant in the tropics. Trops. Agric. Res. Series 25:9-25.

Zarate, A.V. 1996. Breeding strategies for marginal regions in the tropics and sub tropics. Res. Dev. 43/44:99-118.

Wan Zahari, M., O.A. Hassan, H.K. Wong and J.B. Liang. 2003. Utilization oil palm frond-based diet for beef cattle production in Malaysia. Asian-Aust. J. Anim. Sci.16(4):625-634.

Weeb, B.H, R.I. Hutagalung and S.T. Cheam 1976. Palm oil mill waste as animal feed-processing and utilization.Int. Symp. Palm Oil Processing and Marketing, Kuala Lumpur. Pp. 125-146.

 

4 Responses to “Produk Samping Tanaman dan Pengolahan Buah Kelapa Sawit Sebagai Bahan Dasar Pakan Komplit Untuk Ternak Sapi”

  1. Sexy Rachael Says:

    I run a Lingerie website and I love the colours on your website. It has given me a lot of fresh ideas. Thanks. Check out my Valentines Day Lingerie Website if you got time – http://tinyurl.com/ycyjopf

  2. I am currently reading it on my Blackberry and will scan it once I get home. I love your site and marketing strategy.

  3. Jim Jones Says:

    I’ve really enjoyed reading your articles. You obviously know what you are talking about! Your site is so easy to navigate too, I’ve bookmarked it in my favourites 😀

  4. Juliana Zing Says:

    trimah kasih banyak atas info yang telah dibagi..sangat bermanfaat….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s