JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

DAMPAK PENERAPAN METODE SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION) September 29, 2010

Filed under: lingkungan — Urip Santoso @ 1:33 am
Tags: ,

Oleh: Susti  Mediana

ABSTRACT

SRI (System Of Rice Intensification) is one of the rice cultivation practices approach that focused on soil, crop, and water management based on environmentally sound activities through group empowerment and local wisdom.  This is very supportive of the recovery of soil health and the health of users of its products.  SRI concept was originally developed in Madagascar between 1983-1984. Organic farming focuses on the principle of nutrient recycling through crop with how to restore some biomass into the soil, and conversion of water, able to provide higher yields than conventional methods. In Indonesia SRI concept was also tested and practiced at some districts in Java, Sumatera, Bali, West Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi and Papua.  SRI practices mainly based on six components : (1) transplanting of young seedlings, (2) transplanting of single seedling, (3) wide plant spacing, (4) saturated soil (intermittent irrigation), (5) only compost application, and (6) weeding.  Result of  SRI showed that SRI was able to (1) increase rice yield compared to conventional practices, (2) increase household income, (3) improve production and farm efficiency, and (4) increase price of produce (organic rice).  As fertilizer and pesticide prices wildly increase along with the degradation of environment, farmer are encouraged to apply SRI concept.  The opportunity of SRI development was also supported by global and increase need toward ecologically and environmentally sound rice cultivation.  In addition, SRI can be adopted by farmer in some places due to simple extension method, high price of inputs, and high price of organic rice.

Key words : SRI (System Of Rice Intensification); Implementation; Productivity

ABSTRAK

SRI (System Of Rice Intensification) merupakan salah satu pendekatan dalam praktek budidaya padi yang menekankan pada manajemen pengelolaan tanah, tanaman dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan. Hal ini akan sangat mendukung terhadap pemulihan kesehatan tanah dan kesehatan pengguna produknya.  Gagasan SRI pada mulanya dikembangkan di Madagaskar antara tahun 1983-1984.  Pertanian organik pada prinsipnya menitik beratkan prinsip daur ulang hara melalui panen dengan cara mengembalikan sebagian biomasa ke dalam tanah, dan konservasi air, mampu memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional.  Di Indonesia gagasan SRI  telah di uji coba dan diterapkan di beberapa kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi serta Papua. Penerapan gagasan SRI berdasarkan pada enam komponen penting : (1) Transplantasi bibit muda, (2) Bibit ditanam satu batang, (3) Jarak tanam lebar, (4) Kondisi tanah lembab (irigasi berselang), (5) Hanya menggunakan bahan organic (kompos), dan (6) Melakukan pendangiran/penyiangan.  Hasil penerapan metode SRI menunjukkan bahwa budidaya padi metode SRI telah mampu : (1) meningkatkan hasil dibanding budidaya padi sistem konvensional, (2) Meningkatkan pendapatan, (3) Terjadi efisiensi produksi dan efisiensi usahatani secara finansial, (4) Pangsa harga pasar produk lebih tinggi sebagai beras organik. Dengan meningkatnya harga pupuk dan pestisida kimia serta semakin rusaknya lingkungan sumber daya akibat pemakaian bahan kimia telah mendorong petani dibeberapa tempat mempraktekkan sistem budidaya padi metode SRI.  Peluang pengembangan SRI ke depan juga didukung oleh tuntutan globalisasi dan kebutuhan yang makin meningkat terhadap budidaya padi ekologis ramah lingkungan, kemudian dengan sistem penyuluhan yang mudah dimengerti, juga terkait dengan kondisi peningkatan semua input produksi serta kebutuhan produk organik.

Kata Kunci : System Of Rice Intensification (SRI), Penerapan, Produktivitas

PENDAHULUAN

Tanah merupakan faktor produksi pertanian yang penting.  Keseimbangan tanah dengan kandungan bahan organik, mikro organisme dan aktivitas biologi serta keberadaan unsur-unsur hara dan nutrisi sangat penting untuk keberlanjutan pertanian kedepan, begitu juga dengan kesehatan manusia mempunyai hubungan langsung dengan kesehatan tanah (Deptan, 2009).

Salah satu permasalahan yang dihadapi banyak petani adalah kesehatan dan kesuburan tanah yang semakin menurun.  Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala sebagai berikut ; tanah cepat kering, retak-retak bila kurang air, lengket bila diolah, lapisan olah dangkal, asam dan padat, produksi sulit meningkat bahkan cenderung menurun.  Kondisi ini semakin buruk karena penggunaan pupuk an-organik terus meningkat dan penggunaan pestisida untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan juga meningkat.  Perilaku usaha tani lebih tertuju pada cara memupuk tanaman, bukan cara memupuk tanah agar tanah menjadi subur, sehingga dapat menyediakan sekaligus memberikan banyak nutrisi pada tanaman.

Saat ini usahatani secara umum belum melibatkan tanah sebagai komponen yang mempengaruhi dan menentukan keputusan pengendalian dalam pengelolaan suatu agroekosistem. Di beberapa tempat masih terjadi pembakaran sisa jerami sebelum pengolahan lahan, sehingga mengakibatkan pencemaran udara dan rotasi unsur hara tidak terjadi.

Semakin bertambahnya jumlah penduduk maka kebutuhan akan beras sebagai sumber pangan nasional makin meningkat.  Namun banyaknya alih fungsi lahan yang terjadi saat ini menjadi persoalan serius yang perlu ditanggulangi. Terjadinya alih fungsi lahan sawah dapat mengganggu produksi pangan, apabila tidak ada solusi dalam mengatasi masalah ini dikhawatirkan akan terjadi krisis pangan.

Tulisan ini bertujuan untuk memberi informasi, pengetahuan serta gambaran mengenai dampak penerapan metode SRI melalui  hasil penelitian (uji coba) yang telah dilaksanakan oleh peneliti di beberapa tempat.  Diharapkan melalui informasi ini dapat merubah perilaku petani khususnya yang belum begitu memahami  konsep SRI dan masih melaksanakan budidaya padi dengan sistem konvensional.  Disamping itu diharapkan tulisan ini dapat dijadikan pedoman dan bahan pembanding dalam pengembangan budidaya padi metode SRI khususnya di provinsi Bengkulu.

PENERAPAN  METODE SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION)

1. Inovasi Metode SRI

System of Rice Intensification (SRI) adalah teknik budidaya tanaman padi yang mampu meningkatkan produktivitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara, terbukti telah berhasil meningkatkan produktivitas padi sebesar 50% bahkan dibeberapa tempat mencapai lebih dari 100% (Mutakin, 2007).

Metode ini pertama kali ditemukan secara tidak sengaja di Madagaskar antara tahun 1983-1984 oleh seorang pastor Jesuit asal Prancis bernama Fr. Henri de Laulanie, SJ yang lebih dari 30 tahun hidup bersama petani-petani disana.  SRI lahir karena adanya kepedulian terhadap minimnya produktifitas pertanian para petani di Madagaskar.  Oleh penemunya metodologi ini selanjutnya dalam bahasa Prancis danamakan Ie Systme de Riziculture Intensive disingkat SRI.  Dalam bahasa inggris popular dengan nama System Of Rice Intensification disingkat SRI.  Tahun 1990 dibentuk Association Tefy Saina (ATS), sebuah LSM Malagasy untuk memperkenalkan SRI. Empat tahun kemudian, Cornell International Institution for Food, Agricultulture and Development (CIIFAD), mulai bekerja sama dengan Tefy Saina untuk memperkenalkan SRI di sekitar Ranomafana National Park di Madagaskar Timur, didukung oleh US Agency for International Development.  SRI telah diuji di Cina, India, Indonesia, Filipina, Sri Langka dan Bangladesh dengan hasil yang positif.  SRI menjadi terkenal di dunia melalui upaya dari Norman Uphoff (Director CIIFAD).

Hasil metode SRI sangat memuaskan.  Di Madagaskar pada beberapa tanah tak subur yang produksi normalnya 2 ton/ha, petani yang menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari 8 ton/ha, beberapa petani memperoleh 10-15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20 ton/ha (Mutakin, 2005).  Metode SRI minimal menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan metode yang biasa dipakai petani.

Pada tahun 1987, Uphoff mengadakan presentase SRI di Indonesia yang merupakan kesempatan pertama SRI dilaksanakan di luar Madagaskar.  Di Indonesia sendiri  uji coba pola/teknik SRI pertama dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pertanian di Sukamandi Jawa Barat pada musim kemarau tahun 1999 dengan hasil 6,2 ton/ha dan pada musim hujan tahun 1999/2000 menghasilkan padi rata-rata 8,2 ton/ha (Uphoff, 2002 dan Sato, 2007).  SRI juga telah diterapkan di beberapa kabupaten di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang sebagian besar dipromosikan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (Wardana et al, 2005).  Selanjutnya SRI juga telah berkembang di beberapa daerah di Sulawesi, Kalimantan bahkan rencana pengembangan di Irian (Papua).

Usahatani padi sawah organik metode SRI adalah usaha tani padi sawah irigasi secara intensif dan efisien dalam pengelolaan tanah, tanaman dan air yang berbasis kaidah ramah lingkungan (Deptan, 2007 dalam Simarmata, 2007). Dengan meningkatnya harga pupuk dan pestisida kimia serta semakin rusaknya lingkungan sumber daya akibat penggunaan pupuk yang terus menerus dan pemakaian bahan kimia, telah mendorong petani di beberapa tempat mempraktekkan metode System Of Rice Intensification (SRI).

2. Prinsip-Prinsip Budidaya Padi SRI

Secara umum dalam konsep SRI tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya, tidak diperlakukan seperti mesin yang dapat dimanipulasi.  Semua potensi tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya.  Hal ini karena SRI menerapkan konsep sinergi, dimana semua komponen teknologi SRI berinteraksi secara positif dan saling menunjang sehingga hasil secara keseluruhan lebih banyak daripada jumlah masing-masing bagian.  Menurut Berkelaar (2001), Kuswara (2003) dan Wardana et al, (2005) terdapat beberapa komponen penting dalam penerapan SRI yaitu :

1.   Bibit dipindah lapangan (Transplantasi) lebih awal (bibit muda).

2.   Bibit ditanam satu batang per lubang tanam.

3.   Jarak tanam lebar.

4.   Kondisi tanah tetap lembab tapi tidak tergenang air (irigasi berselang)

5.   Menggunakan pupuk dari bahan organik kompos dan mikro organisme local (MOL)

6.   Dilakukan Penyiangan/pendangiran

Hal paling mendasar dalam budidaya SRI adalah menerapkan irigasi intermitten artinya siklus basah kering bergantung pada kondisi lahan, tipe tanah dan ketersediaan air.  Selama kurun waktu penanaman lahan tidak tergenang tetapi macak-macak (basah tapi tidak tergenang).  Cara ini bisa menghemat air 46%.  Selain itu sedikitnya air juga mencegah kerusakan akar tanaman.  Menurut  Simarmata dalam Trubus 2008, Penggenangan air menyebabkan kerusakan jaringan perakaran akibat terbatasnya suplay oksigen.  Semakin tinggi air semakin kecil oksigen terlarut,  dampaknya akar tanaman tidak mampu mengikat oksigen sehingga jaringan perakaran rusak.  Selain itu jika air tergenang menyebabkan musuh alami hama padi tidak dapat hidup sedangkan hama padi dapat hidup dan dapat memunculkan hama padi baru yang berasal dari lingkungan aquatik.

Disamping menghemat air, budidaya intensif itu juga menghemat penggunaan bibit, sebab satu lubang tanam hanya ditanam satu bibit.  Menurut Abdulrachman dalam Trubus (2008),  bahwa dengan menanam satu bibit per lubang berarti menghindari perebutan cahaya atau hara dalam tanah sehingga sistem perakaran dan pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik.  Sebaliknya jika penanaman terdiri atas 9 bibit per lubang kompetisi hara tidak terelakkan.

Dalam intensifikasi digunakan bibit muda umurnya 7 hari pasca semai dan terdiri atas dua daun.  Penggunaan bibit muda berdampak positif karena lebih mudah beradaptasi dan tidak gampang stress, ini dikarenakan perakaran belum panjang maka penanaman pun tidak perlu terlalu dalam cukup 1-2 cm dari permukaan tanah.  Untuk menghasilkan bibit muda yang berkualitas petani mempersiapkan sejak penyemaian.  Populasi di persemaian 50 gr/m2 dimaksudkan agar bibit cepat besar, karena tidak terjadi persaingan unsur hara, dengan demikian bibit sudah siap tanam pada umur 7-10 hari.  Transplantasi saat bibit muda dapat mengurangi guncangan dan meningkatkan kemampuan tanaman dalam memproduksi batang dan akar selama pertumbuhan vegetatif, sehingga jumlah anakan/batang yang muncul lebih banyak dalam satu rumpun, dan bulir padi yang dihasilkan oleh malai juga lebih banyak.

Petani intensif menanam bibit muda dengan jarak tanam 40 cm x 30 cm, total populasi dalam satu hektar mencapai 83.000 tanaman, sementara pada sistem konvensional berjarak tanam 20 cm x 20 cm terdiri atas 250 ribu tanaman.  Dengan jarak tanam longgar sinar matahari dapat menembus sela-sela tanaman. tanaman memerlukan sinar matahari untuk melakukan proses fotosintesis sehingga pasokan makanan tercukupi.  Dengan demikian dalam umur 30 hari, dari satu bibit sudah menghasilkan 65 anakan.

SRI menganjurkan pemakaian bahan organik (kompos) dan Mikro Organisme Lokal (MOL) untuk memperbaiki struktur tanah agar padi dapat tumbuh dengan baik dan hara tersuplai kepada tanaman secara baik tanpa menimbulkan efek kimia.  Keterlibatan kompos dan MOL (Mikro organisme lokal) sebagai tim sukses dalam pencapaian produktivitas yang berlipat ganda, karena peran kompos lebih komplek dari pupuk, karena selain sebagai penyuplai nutrisi kompos juga berperan sebagai komponen bioreaktor yang bertugas menjaga pertumbuhan tetap optimal.  Konsep bioreaktor adalah kunci sukses SRI, bioreaktor yang dibangun oleh MOL dan kompos,  menjamin bahwa padi selama pertumbuhan dari bibit sampai dewasa tidak mengalami hambatan.  Fungsi bioreaktor sangatlah komplek, fungsi yang telah diidentifikasi antara lain sebagai penyuplai nutrisi melalui eksudat, kontrol mikroba sesuai kebutuhan padi, menjaga stabilitas kondisi tanah menuju kondisi ideal bagi pertumbuhan padi bahkan kontrol terhadap penyakit yang dapat menyerang padi (Uphoff  N, 2002).

Pendangiran/penyiangan dianjurkan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari menggunakan gasrok atau lalandak, selain untuk membersihkan gulma juga dapat memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan aerasi tanah.

Penerapan SRI bisa diperuntukkan bagi berbagai varietas padi lain yang pernah ditanam petani, hanya saja diperlukan pikiran yang terbuka untuk menerima metode baru dan kemudian untuk bereksperimen.  Oleh karena itu, kajian SRI menggarisbawahi bagaimana pentingnya integrasi dan interdisiplin yang menggabungkan aspek biofisik dan sosial ekonomi dalam usahatani padi.  Kenyataan tersebut telah membuka stagnasi produksi padi di Madagaskar dan beberapa negara lain di dunia melalui pengurangan biaya produksi dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Penerapan SRI di Indonesia terus berkembang dan dipraktekkan para petani di beberapa kabupaten di pulau Jawa, Sumatera, Bali, NTB, Kalimantan, Sulawesi serta di beberapa lokasi lainnya di tanah air, sekalipun dengan menggunakan pengistilahan yang berbeda.  Di Sumatera Barat SRI berkembang sebagai model tanam padi sebatang, khususnya di Sawahlunto penanaman padi sebatang sebagai teknologi SRI pada tahun 2006 mencapai 175 hektar, meningkat menjadi 280 hektar pada tahun 2007 dan pada tahun 2008 ditergetkan mencapai 450 hektar.  Metode pertanaman padi sebatang diperkenalkan melalui Universitas Andalas atas permintaan petani karena tingkat produksinya tinggi, mencapai 8-8,5 ton/ha (Kompas, 2008).

3. Teknik Budidaya Padi Metode SRI

1.   Persiapan Benih

Benih sebelum disemai diuji dalam larutan air garam.  Larutan air garam yang cukup untuk menguji benih adalah larutan yang apabila dimasukkan telur, maka telur akan terapung.  Benih yang baik untuk dijadikan benih adalah benih yang tenggelam dalam larutan tersebut.  Benih yang telah di uji direndam dalam air biasa selama 24 jam kemudian ditiriskan dan diperam 2 hari, lalu disemaikan pada media tanah dan pupuk organik (1:1) dalam wadah segi empat selama 7 hari. Setelah umur 7-10 hari benih padi sudah siap tanam.

2.      Pengolahan Tanah

Pengolahan dilakukan dua minggu sebelum tanam dengan menggunakan traktor tangan, sampai terbentuk struktur Lumpur, permukaan tanah diratakan untuk mempermudah mengontrol dan mengendalikan air.

3.      Perlakuan Pemupukan

Pemberian pupuk diarahkan pada perbaikan kesehatan tanah dan penambahan unsur hara yang berkurang setelah dilakukan pemanenan.  Kebutuhan pupuk organik pertama setelah menggunakan sistem konvensional adalah 10 ton/ha dan dapat diberikan sampai 2 musim tanam.  Setelah kelihatan kondisi tanah membaik maka pupuk organik bisa berkurang disesuaikan dengan kebutuhan.  Pemberian pupuk organik dilakukan pada tahap pengolahan tanah kedua agar pupuk bisa menyatu dengan tanah.

4.      Penanaman

Benih yang telah disemai lebih kurang berumur 7-10 hari dipindahkan ke lahan yang telah dilakukan pengolahan tanah, dengan jumlah bibit satu batang per lubang tanam, dengan jarak tanam agak lebar yaitu 30 x 40 cm.

5.      Pemeliharaan

Sistem tanam metode SRI tidak membutuhkan genangan air yang terus menerus, cukup dengan kondisi tanah yang basah.  Untuk mencegah hama dan penyakit tidak digunakan bahan kimia, tetapi dilakukan pencegahan dan apabila terjadi gangguan hama/penyakit digunakan pestisida nabati dan atau digunakan pengendalian secara fisik dan mekanik.

4. Budidaya Padi  Metode SRI dan Sistem Konvensional.

Tabel 1. Perbedaan Metode SRI dan Sistem Konvensional

No Komponen Metode SRI Sistem Konvensional
1. 

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10

Kebutuhan Benih 

Pengujian Benih

Umur di Persemaian

Pengolahan Tanah

Jumlah Tanaman per lubang

Posisi Akar Waktu Tanam

Pengairan

Pemupukan

Penyiangan

Rendemen

5 – 7 kg/ha 

Dilakukan pengujian

7 – 10 HSS

3 kali (struktur lumpur dan rata

1 pohon per lubang

Posisi akar horizontal

Disesuaikan dengan kebutuhan

Hanya dengan pupuk organik

Diarahkan pada pengelolaan perakaran

60 – 70 %

30 – 40 kg/ha 

Tidak dilakukan

20 – 30 HSS

2-3 kali (struktur Lumpur)

Rata-rata 5 pohon

Tidak teratur

Terus digenangi

Mengutamakan pupuk kimia

Diarahkan pada pemberantasan gulma

50 – 60 %

Sumber : Mutakin, J 2007

Keterangan : HSS = Hari setelah semai

Kebutuhan pupuk organik dan pestisida untuk padi organik metode SRI dapat diperoleh dengan cara mencari dan membuatnya sendiri.  Pembuatan kompos sebagai pupuk dilakukan dengan memanfaatkan kotoran hewan, sisa tumbuhan dan sampah rumah tangga dengan menggunakan aktifator MOL (Mikro organisme Lokal) buatan sendiri, begitu pula dengan pestisida dicari dari tumbuhan berkhasiat sebagai pengendali hama.  Dengan demikian biaya yang dikeluarkan menjadi lebih efisien dan murah.  Penggunaan pupuk organik dari musim pertama ke musim tanam kedua diusahakan sama, namun untuk musim tanam selanjutnya mengalami penurunan rata-rata 25% dari musim sebelumnya.  Sedangkan pada sistem konvensional pemberian pupuk an-organik dari musim ke musim cenderung meningkat, kondisi ini akan lebih sulit bagi petani  untuk dapat meningkatkan produksi apalagi bila dihadapkan pada kelangkaan pupuk saat musim tanam tiba.  Pemupukan dengan bahan organik dapat memperbaki kondisi tanah baik fisik, kimia maupun biologi tanah, sehingga pengolahan tanah untuk metode SRI menjadi lebih mudah dan murah, sedangkan pengolahan tanah yang menggunakan pupuk an organik secara terus menerus kondisi tanah akan semakin kehilangan bahan organik dan kondisi tanah semakin berat, mengakibatkan pengolahan semakin sulit dan biaya akan semakin mahal.

DAMPAK PENERAPAN SRI TERHADAP USAHA TANI

A.  Dampak Terhadap Produktivitas

Melalui teknologi yang digunakan pada budidaya padi organik metode SRI diperoleh hasil yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan sistem konvensional.  Peningkatan produksi/produktivitas pada umumnya terjadi karena jumlah anakan padi lebih banyak.  Melalui paket teknologi yang digunakan pada dasarnya memungkinkan terbentuknya anakan yang lebih banyak daripada sistem konvensional. Jumlah anakan pada metode SRI berkisar 30-40 anakan/rumpun sedangkan pola konvensional berkisar 25-30 anakan/rumpun.  Dengan anakan yang cukup banyak, menyebabkan anakan produktif yang terbentuk juga cukup tinggi sehingga sangat memungkinkan hasil gabah lebih tinggi.  Hampir semua jenis padi yang ditanam memberikan peningkatan produksi terutama bagi petani yang telah melakukan pola SRI lebih dari dua kali tanam.  Berdasarkan hasil penelitian Wardana et al., (2005) di Kabupaten Garut dan Ciamis diperoleh data bahwa hasil padi yang diperoleh dengan metode SRI rata-rata berkisar 5-7 ton/ha, sementara bila diusahakan secara konvensional diperoleh hasil gabah rata-rata antara 4-5 ton/ha.

B.  Dampak Terhadap Penggunaan Saprodi

Secara umum penerapan pola SRI lebih ditekankan pada pola penghematan dalam penggunaan air.  Namun demikian secara bertahap pola SRI telah mendorong pada substitusi penggunaan input produksi usahatani, seperti penggunaan pupuk an organik dan pestisida yang sebelumnya dipergunakan oleh sebagian besar petani. Melalui pemahaman usahatani padi SRI sebagai padi organik dengan mempergunakan pupuk organik, selain bebas residu kimia bagi kesehatan tubuh manusia, juga secara langsung mendukung penyehatan tanah dan lingkungan.

Model SRI mampu menghemat saprodi berupa benih, pupuk dan insektisida.  air irigasi.  Dengan kebutuhan pengairan yang macak-macak saja maka kebutuhan jumlah air per hektar mengalami penurunan sangat drastis.  Hal ini membawa dampak Disamping itu SRI tidak merekomendasikan penggunaan pupuk kimia, sehingga  akan mengurangi biaya tunai petani.  Efisiensi penggunaan input yang signifikan adalah penggunaan pada kemampuan air irigasi dalam mengairi sawah, terutama pada musim kemarau jika pola SRI diterapkan pada skala luas.

C.  Dampak Terhadap Pendapatan Petani

Dampak yang dirasakan dari penerapan teknologi SRI adalah tingginya produksi padi yang dihasilkan jika dibandingkan dengan cara konvensional, makin tinggi produksi maka nilai jual padi juga makin besar, sehingga keuntungan yang diperoleh petani juga lebih besar, dan ini tentunya akan meningkatkan pendapatan petani.  Keuntungan yang lebih besar akan diperoleh petani apabila memproduksi sendiri kompos dan mikro organisme lokal. Keuntungan diperoleh dengan pengurangan antara out put yang dihasilkan dengan biaya produksi/input yang telah dikeluarkan, hal ini berdampak secara langsung terhadap pendapatan tunai usahatani padi.

Tabel 2. Analisa Usaha Tani Cara Konvensional dan Metode SRI setelah musim     tanam kedua dalam 1 ha.

No Uraian Cara Konvensional Metode SRI
A Komponen input/ha 

– Benih (Rp.5000/kg)

– Pupuk

* Organik (Jerami + 3 ton kompos)

* An organik Urea,SP36,KCl(2:1:1)

– Pengolahan Tanah

– Pembuatan persemaian

– Pencabutan benih (babut)

– Penanaman

– Penyulaman

– Penyiangan

– Pengendalian OPT dengan

* Pestisida kimia

* Biopestisida

– Panen

250.000 

750.000

1.000.000

105.000

100.000

350.000

20.000

750.000

500.000

1.000.000

25.000 

1.200.000

1.000.000

30.000

350.000

50.000

1.050.000

150.000

2.000.000

Jumlah 4.825.000 5.855.000
B Komponen Out put 

-Produksi padi

-Harga padi Rp. 2.000,-/kg (diprediksi     harga sama)

5 ton 

10.000.000

10 ton 

20.000.000

C Keuntungan 5.175.000 14.145.000

Sumber :  Mutakin, J  2007.

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa secara umum budidaya padi model konvensional memiliki uraian kegiatan  lebih banyak jika dibandingkan dengan metode SRI, namun pada metode SRI diperlukan biaya lebih besar dalam pengadaan bahan organik (pupuk), dan diperlukan tenaga kerja lebih terutama dalam kegiatan pemberantasan gulma dan pemanenan.  Hal ini dapat diminimalisir apabila petani menghasilkan sendiri kompos untuk pupuk organik tersebut, begitu juga dengan tenaga kerja dengan melibatkan anggota keluarga.

Hasil panen metode SRI pada musim pertama tidak jauh berbeda dengan hasil sebelumnya (metode konvensional) dan terus meningkat pada musim berikutnya sejalan dengan meningkatnya bahan organik dan kesehatan tanah.  Beras organik yang dihasilkan dari sistem tanam di musim pertama memiliki harga yang sama dengan beras dari sistem tanam konvensional, harga ini didasarkan atas dugaan bahwa beras tersebut belum tergolong organik, karena pada lahan tersebut masih ada pupuk kimia yang tersisa dari musim tanam sebelumnya.  Untuk musim berikutnya dengan menggunakan metode SRI secara berturut-turut, maka sampai musim ke-3 akan diperoleh beras organik dan memiliki harga yang lebih tinggi dari beras padi sistem konvensional.

KESIMPULAN

1.  Melalui penerapan Metode SRI  diharapkan dapat menanggulangi masalah ketahanan pangan tanpa merusak lingkungan.  Disamping itu Metode SRI mampu memulihkan kesuburan tanah dan mampu memelihara keberlanjutan produktivitas lahan.

2.   Metode SRI tepat diterapkan di Indonesia, karena persoalan lahan yang terus menyempit akibat alih fungsi.  Selain itu terdapat efisiensi penggunaan input benih dan air, serta mendorong penggunaan pupuk organik (efisiensi usahatani).

3.   Dari beberapa hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada budidaya padi  dengan Metode SRI sudah terbukti mampu menghasilkan produktivitas padi yang tinggi diatas rata-rata nasional yang pada gilirannya akan memberikan pendapatan yang cukup tinggi bagi petani.

4.   Metode SRI dikenal ramah lingkungan, karena beberapa hal seperti kemampuan memitigasi terjadinya polusi asap akibat berkurangnya pembakaran jerami, sehingga mampu menekan emisi gas CO2 dan emisi gas methan, menekan gas pembusukan, daur ulang limbah, serta mencegah pencemaran lingkungan akibat kontaminasi.  SRI juga menghasilkan produk beras yang cukup sehat sebagai beras organik (Bustanulum, 2007).

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Ir. Urip Santoso, S.IKom.,MSc, PhD. selaku dosen pengasuh mata kuliah Penyajian ilmiah yang telah banyak membantu dalam membimbing dan memberikan informasi mengenai teknik dan cara penulisan yang baik.

2. Bapak Syaiful Anwar, SPd yang telah membantu dalam mencari referensi dan informasi yang berkenaan dengan  tulisan ini.

3. Nasya, Salsa dan Naufal sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam penyelesaian tugas ini.

DAFTAR PUSTAKA

Berkelaar D. 2001. Sistem Intensifikasi Padi (The System Of Rice Intensification-SRI) : Sedikit Dapat Memberi Lebih Banyak, Bulletin ECHO (terjemahan).

Bustanulm, 2007. http:setjen.deptan.go.id/berita/detail.php?id=151 Keynote Speech Menteri Pertanian RI. Jakarta.

Departemen Pertanian, 2009.  Pedoman Teknis Dampak Pengembangan System of Rice Intensification (SRI) Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air (PLA)  Jakarta.

Kuswara dan A. Sutaryat, 2003. Dasar Gagasan dan Praktek Tanam Padi Metode SRI (System of Rice Intensification), Kelompok studi petani (KSP), Ciamis.

Kompas, edisi rabu 16 Januari 2008, Dipopulerkan, Penanaman Padi Sebatang. http://www.kompascetak.com/kompas- cetak/0801/16/sumbagut/4168753.htm.

Mutakin, J. 2005. Kehilangan Hasl Padi Sawah Akibat Kompetisi Gulma Pada Kondisi SRI (System of Rice Intensification). Tesis. Pasca sarjana, Bandung.

Mutakin, J. 2007 Budidaya dan Keunggulan Padi Organik Metode SRI (System of Rice Intensification), Garut.

Santosa E, 2005. Rice organik farming is a programme for strengtenning food security in sustainable rural development, makalah disampaikan pada Seminar Internasional Kamboja ROF.

Sato, S. 2007. SRI Mampu Tingkatkan Produksi Padi Nasional. http:www.kapanlagi.com/h/0000182474.html.

Simarmata, T. 2007. Apa itu System of Rice Intensification (SRI)? http://agribisnis- ganesha.com/?p=29.

Trubus, 2008. Negeri berlimpah Energi dan Pangan (Edisi Khusus). Jakarta

Uphoff  N., 2002. Opportunities For Raising Yields by Changing Management Practices : The Rice Intensification in Madagascar. Agroecological Innovations. Earthscan Publications Ltd. London.

Wardana, P, I. Juliardi, Sumedi, Iwan Setiajie. 2005.  Kajian Perkembangan System Of Rice Intensification (SRI) di Indonesia.  Kerjasama Yayasan Padi Indonesia dengan Badan Litbang Pertanian.  Jakarta.

Wardana, P.I, Sumedi, Iwan Setiaji, 2007. Gagasan dan Implementasi System of Rice Intensification (SRI) dalam kegiatan Budidaya Padi Ekologis (BPE), Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor.

Advertisements
 

5 Responses to “DAMPAK PENERAPAN METODE SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION)”

  1. Bu Sutri, usul nih…
    Ada yang belum termaktub berkaitan dengan prinsip SRI. yaitu petani selalu terbuka untuk saling berbagi dan memahami tentang apa maunya tanamanan rumput-rumputan Oriza Sativa, bahwa dia bukan tanaman air… selalu terbuka dan berbagi pengalaman terhadap informasi hasil uji coba masing-masing pelaku. Sehingga secara teknis, teknologi, jumlah bibit, pengaturan air, jarak tanam dll akan berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lain, apa lagi pada areal yang berbeda. Terbuka dan berbagi untuk memahami karakter tanah berikut kondisinya, ini didasarkan pada uji sederhana kondisi hara tanah yang pemenuhannya dengan mengoptimalkan penyuburan tanah bukan pada pemupukan tanaman. Keterbukaan dan saling berbagi. Sukses ya….

  2. irfan Says:

    Bu Susti,
    dari pengalaman saya di baturraden, disamping produksinya (gabah) meningkat, setelah digiling ternyata hasil berasnya lebih banyak dibanding dengan yang konvensional. hasil panen musim tanam april-september 2010 dari 100 kg gabah kering giling ternyata menghasilkan beras 65,5 kg, sedangkan yang konvensional menghasilkan beras rata-rata 58 kg.
    kalau hasil penelitian ibu berapa kg beras per 100 kg gkg ?
    terimakasih dan selamat.

  3. metode SRI sangat membantu petani dalam menambah pendapatan mereka, namun metode ini juga dapat memperbaiki unsur kimia dari tanah, akan tetapi meode ini perlu bimbingan dan arahan dari penyuluh pertanian…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s