JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

PENGGUNAAN PESTISIDA NABATI RAMAH LINGKUNGAN PENYELAMAT JARING – JARING (RANTAI) MAKANAN DALAM EKOSISTEM PERTANIAN June 4, 2011

Filed under: Sumberdaya — Urip Santoso @ 3:32 am
Tags: , ,

Oleh : Siti Zulaiha

ABSTRAK

Indonesia memiliki tanah yang sangat subur, Tanah merupakan faktor produksi pertanian yang penting.  Keseimbangan tanah dengan kandungan bahan organik, mikro organisme dan aktivitas biologi serta keberadaan unsur-unsur hara dan nutrisi sangat penting untuk keberlanjutan pertanian kedepan, Ekosistem merupakan satuan fungsional dasar dalam ekologi, karena ekosistem meliputi mahluk hidup dengan lingkungan organisme (komunitas biotik) dan lingkungan Abiotik, masing-masing mempengaruhi sifat-sifat lainnya dan keduanya perlu untuk memelihara kehidupan sehingga terjadi keseimbangan, keselarasan, dan keserasian alam di bumi ini. Masalah lingkungan pertanian yang dihadapi dewasa ini pada dasarnya adalah masalah ekologi pertanian. Masalah itu timbul karena perubahan lingkungan pertanian, yang menyebabkan lingkungan itu kurang sesuai lagi untuk mendukung kehidupan mahluk hidup yang disebabkan oleh penggunaan pestisida kimia yang berlebihan. Jika hal ini tidak segera diatasi pada akhirnya berdampak kepada terganggunya jaring-jaring (rantai) makanan pada ekosistem yang menyebabkan terjadinya ledakan salah satu makhluk hidup  dan musnahnya makhluk hidup lainnya. Pestisida alami merupakan pemecahan jangka pendek untuk mengatasi masalah hama dengan cepat, penggunaan bahan-bahan alami untuk mengusir atau menghalau musuh-musuh alami yang menyerang tanaman, tanpa harus mematikannya, sehingga siklus ekosistem masih tetap terjaga, dengan menggunakan pestisida berbahan organik/ alamiah. Pestisida nabati yang akrab lingkungan, disebut demikian karena bahan kimia nabati ini dapat mudah terurai, dapat dibuat oleh petani karena bahan baku tersedia disekitar lokasi, dan harga pembuatan yang terjangkau.

Kata Kunci : Dampak Pestisida Kimia, Pestisida Alami, Ekosistem Pertanian

 

PENDAHULUAN

Kita semua tahu Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Salah satu kekayaan tersebut, Indonesia memiliki tanah yang sangat subur karena berada di kawasan yang umurnya masih muda, sehingga di dalamnya banyak terdapat gunung-gunung berapi yang mampu mengembalikan permukaan tanah muda kembali yang kaya akan unsur hara sehingga cocok sekali untuk pertanian.

Tanah merupakan tempat kehidupan mikroorganisme yang secara makro menguntungkan bagi mahkluk hidup lainnya, termasuk manusia. Mikroorganisme yang menghuni tanah dapat dikelompokkan menjadi bakteri, fungi, aktinomisetes, alga, dan protozoa. Jumlah dan jenis mikroorganisme tanah dipengaruhi oleh perubahan lingkungan.(Arsyad S, 2009)

Tanah merupakan faktor produksi pertanian yang penting.  Keseimbangan tanah dengan kandungan bahan organik, mikro organisme dan aktivitas biologi serta keberadaan unsur-unsur hara dan nutrisi sangat penting untuk keberlanjutan pertanian kedepan, begitu juga dengan kesehatan manusia mempunyai hubungan langsung dengan kesehatan tanah. (Deptan, 2009).

Namun seiring berjalannya waktu, kesuburan yang dimiliki tanah Indonesia banyak yang digunakan tidak sesuai aturan yang berlaku tanpa memperhatikan dampak jangka panjang yang dihasilkan dari pengolahan tanah tersebut. Satu hal vital yang tidak luput dari proses pengaplikasian pengetahuan memberikan dampak besar terhadap kegiatan pertanian tanah air yang notabene merupakan sumber pencaharian terbesar sebagian masyarakat negara agraris ini.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dengan waktu yang seefisien mungkin dalam kegiatan pertanian maka diwujudkanlah hal tersebut dengan penggunaan pestisida selama aktifitas pertanian tersebut berlangsung.
Untuk memenuhi perkembangan ekonomi yang saat ini semakin meningkat, maka sangat dibutuhkannya ilmu pengetahuan mengenai pupuk dan pestisida. Karena menyangkut hal-hal tentang pertanian dan perkebunan yang merupakan aspek utama dalam perekonomian Negara Indonesia yang beriklim tropis.

Prinsip ekologi merupakan prinsip yang mengembangkan upaya bahwa pola hubungan antara organisme dengan alam adalah satu kesatuan. Upaya-upaya pemanfaatan air, tanah, udara, iklim serta sumber-sumber keanekaragaman hayati di alam harus seoptimal mungkin (tidak mengeksploitasi). Upaya-upaya pelestarian harus sejalan dengan upaya pemanfaatan.

Penggunaan pestisida sintetis pada pertanian merupakan dilema. Di satu sisi sangat dibutuhkan dalam rangka penyediaan pangan, di sisi lain tanpa disadari mengakibatkan berbagai dampak negatif, baik terhadap manusia, hewan mikroba maupun lingkungan. Terputusnya rantai (jaring-jaring) makanan makhluk hidup di ekosistem pertanian berdampak pada musnahnya salah satu makhluk hidup dan ledakan populasi dari mahkluk hidup lainnya didalam rantai makanan tersebut.

Pestisida alami merupakan pemecahan jangka pendek untuk mengatasi masalah hama dengan cepat. Pestisida alami harus menjadi bagian dari sistem pengendalian hama, dan hanya digunakan bila diperlukan. Sehingga keseimbangan ekosistem pertanian terjaga dengan baik.

Tulisan ini bertujuan memberikan informasi,pengetahuan serta gambaran mengenai dampak penggunaan pestisida kimia terhadap ekosistem pertanian dan penggunaan pestisida nabati (alami) untuk mengimbanginya. Disamping itu Tulisan ini diharapkan menjadi pedoman bagi  para petani untuk membuat pestisida nabati sendiri dengan memanfaatkan tumbuhan disekitar areal pertanian.

 

Pestisida Kimia

Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan.(Kusno S, 1992)

Selain itu Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest (“hama“) yang diberi akhiran -cide (“pembasmi”). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu. Pestisida biasanya disebut pembunuh hama dan beracun. dalam bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai “racun”.( Anonymous, 2010)

Sedangkan menurut The United States Federal Environmental Pesticide Control Act, pestisida adalah semua zat atau campuran zat yang khusus untuk memberantas atau mencegah gangguan serangga, binatang pengerat, nematoda, cendawan, gulma, virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama kecuali virus, bakteria atau jasad renik yang terdapat pada manusia dan binatang lainnya. Atau semua zat atau campuran zat yang digunakan sebagai pengatur pertumbuhan tanaman atau pengering tanaman.

 

Dampak penggunaan pestisida kimia

Revolusi hijau yang dipandang sebagai sebuah perubahan menuju ke arah yang lebih baik ternyata membawa dampak seperti sebuah bom waktu. Capra (1999) menyatakan bahwa revolusi hijau tidak membantu para petani, tanah maupun jutaan penduduk dunia yang kelaparan. Revolusi hijau hanya membawa keuntungan bagi korporasi petrokimia. Revolusi hijau telah menggeser berbagai pengetahuan lokal yang ada pada petani kita dan menggantikannya dengan teknologi.

Revolusi hijau berkembang karena pemahaman yang keliru pada konsep ekonomi. Efisiensi dan produktivitas menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan pada masyarakat industri. Konsep inipun menyebar tanpa pandang bulu hingga ke negara agraris. Teknologi, sebagai salah satu upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas juga diberlakukan pada bidang pertanian. Teknologi yang berkembang sering tidak ramah lingkungan dan budaya, sehingga lingkungan serta nilai budaya masyarakat lokal menjadi korbannya.

Penggunaan pestisida sintetis pada pertanian merupakan dilema. Di satu sisi sangat dibutuhkan dalam rangka penyediaan pangan, di sisi lain tanpa disadari mengakibatkan berbagai dampak negatif, baik terhadap manusia, hewan mikroba maupun lingkungan. Pola penggunaan pestisida sangat tinggi (sebagian besar 2x per minggu), tidak mempertimbangkan dosis/takaran yang tertulis dalam label, dan kemungkinan dosis ditinggikan jika banyak hama dan musim penghujan menjadi penyebab utama tingginya pencemaran pestisida di lingkungan pertanian.

Seperti halnya dengan manusia, tanaman juga akan mengalami sakit atau terserang hama maupun penyakit, bila kondisi fisiknya tidak baik. Dikarenakan adanya perubahan iklim /cuaca atau memang sejak awal menggunakan benih /bibit yang tidak baik jadi mudah terserang , bisa juga dari kondisi tanahnya, dan lain-lain. Banyak kendala-kendala yang mempengaruhinya. Untuk mengatasinya tentu saja dapat menggunakan obat-obatan yang pilihannya banyak di pasaran. Tergantung dari tanamannya menderita apa dan kejelian serta kecerdasan kita untuk dapat memulihkan tanaman agar dapat sehat kembali. Penggunaannya haruslah diperuntukkan membasmi organisme pengganggu tanaman secara selektif dan seminimal mungkin merugikan organisme dan target.

Penggunaan pestisida tanpa mengikuti aturan yang diberikan membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, serta juga dapat merusak ekosistem.

Penggunaan pestisida sintetis/kimia dalam perkembangannya telah menimbulkan dampak negatif terhadap organisme bukan sasaran (hewan dan manusia), serta telah mencemari lingkungan tanah, tanaman, air dan ekosistem lain. Selain itu pestisida kimia telah menyebabkan kecenderungan hama menjadi kebal/resisten sehingga menambah dosis penggunaan untuk masa tanam berikutnya.( Anonymous, 2010)

Ada beberapa pengaruh negatif lainnya pemakaian pestisida sintetis secara tidak sesuai. Pertama, pencemaran air dan tanah yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap manusia dan makhluk lainnya dalam bentuk makanan dan minuman yang tercemar. Kedua, matinya musuh alami dari hama maupun patogen dan akan menimbulkan resurgensi, yaitu serangan hama yang jauh lebih berat dari sebelumnya. Ketiga, kemungkinan terjadinya serangan hama sekunder. Contohnya: penyemprotan insektisida sintetis secara rutin untuk mengendalikan ulat grayak (hama primer) dapat membunuh serangga lain seperti walang sembah yang merupakan predator kutu daun (hama sekunder). Akibatnya setelah ulat grayak dapat dikendalikan, kemungkinan besar tanaman akan diserang oleh kutu daun. Keempat, kematian serangga berguna dan menguntungkan seperti lebah yang sangat serbaguna untuk penyerbukan. Kelima, timbulnya kekebalan/resistensi hama maupun patogen terhadap pestisida sintetis. Sebenarnya tidak semua jenis insekta, cacing (nematode) dan lain-lain merupakan hama dan penyakit bagi tanaman, akan tetapi racun serangga telah membunuhnya. Makhluk-makhluk kecil ini sangat diperlukan untuk kesuburan tanah selanjutnya. Apabila penyemprotan dilakukan secara berlebihan atau takaran yang dipakai terlalu banyak, maka yang akan terjadi adalah kerugian. Tanah disekitar tanaman akan terkena pencemaran pestisida. Akibatnya makhluk-makhluk kecil itu banyak yang ikut terbasmi, sehingga kesuburan tanah menjadi rusak karenanya. Bukan tidak mungkin tragedi kegersangan dan kekeringan terjadi.

Petani selama ini tergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Selain yang harganya mahal, pestisida kimia juga banyak memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Kira-kira sudah berapa lama petani menggunakan pestisida kimia ini? Jadi bisa dibayangkan sendiri akibatnya bagi tanah dan lingkungan pertanian (ekosistem pertanian) di Indonesia.

Ekologi Pertanian (Agroekologi)

Ekologi berasal dari kata oikos (rumah) dan logos (ilmu). Ekologi berarti ilmu yang mempelajari tentang mahluk hidup dan rumahnya (lingkungannya). Sedangkan pertanian bisa diartikan sebagai kegiatan bercocok tanam pada lingkungan tertentu.

Jadi ekologi pertanian adalah ilmu yang mempelajari tentang mahluk hidup dan lingkungan budidaya tanaman yang diusahakan oleh manusia. Sedangkan ekologi pertanian organik menggambarkan bahwa hubungan antara mahluk hidup dan lingkungan pertanaman berjalan selaras dengan fitrah alam (back to nature). Dalam hal ini memperhatikan ekosistem dalam lingkungan pertanian sangatlah penting.

Ekosistem merupakan satuan fungsional dasar dalam ekologi, karena ekosistem meliputi mahluk hidup dengan lingkungan organisme (komunitas biotik) dan lingkungan Abiotik, masing-masing mempengaruhi sifat-sifat lainnya dan keduanya perlu untuk memelihara kehidupan sehingga terjadi keseimbangan, keselarasan, dan keserasian alam di bumi ini. Ekositem merupakan tingkat organisasi yang lebih tinggi dari komunitas, atau merupakan kesatuan utuh dari suatu komunitas dengan lingkungannya yang saling berhubungan. Di sini tidak hanya mencakup serangkaian spesies tumbuhan dan hewan saja, tetapi juga segala macam bentuk materi yang merupakan siklus dalam system itu serta energy yang menjadi sumber kekuatan. Energi dan materi dari konsumen tingkat pertama diteruskan ke konsumen tingkat kedua dan seterusnya ke konsumen-konsumen lainnya melalui jaring-jaring makanan.(Zoer’aini D, 2010)

Prinsip ekologi. Prinsip ini mengembangkan upaya bahwa pola hubungan antara organisme dengan alam adalah satu kesatuan. Upaya-upaya pemanfaatan air, tanah, udara, iklim serta sumber-sumber keanekaragaman hayati di alam harus seoptimal mungkin (tidak mengeksploitasi). Upaya-upaya pelestarian harus sejalan dengan upaya pemanfaatan.

Berbagai konsep yang berkembang dalam ekologi pada akhirnya dapat mengerucut pada berbagai perspektif. Capra (2001) dan Ife (2002) berhasil memformulasikan beberapa prinsip ekologi yang dapat dijadikan sebagai perspektif berbagai kalangan. Ife mengemukakan empat prinsip ekologi, yaitu holistik, keberlanjutan, keanekaragaman dan keseimbangan. Sedangkan Capra mengemukakan lima prinsip ekologi, yaitu kesalingtergantungan, jejaring kerja, kerjasama, fleksibilitas dan keanekaragaman.

Masalah lingkungan pertanian yang dihadapi dewasa ini pada dasarnya adalah masalah ekologi pertanian. Masalah itu timbul karena perubahan lingkungan yang menyebabkan lingkungan itu kurang sesuai lagi untuk mendukung kehidupan mahluk hidup yang disebabkan penggunaan pestisida kimia yang berlebihan. Jika hal ini tidak segera diatasi pada akhirnya berdampak kepada terganggunya jaring-jaring (rantai) makanan pada ekosistem yang menyebabkan terjadinya ledakan salah satu makhluk hidup dan musnahnya makhluk hidup lainnya (Anonymous, 2010)

Kerusakan lingkungan yang terjadi dikarenakan eksflorasi sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan. Kerusakan lingkungan ini telah mengganggu proses alam, sehingga banyak fungsi ekologi alam terganggu.(Santoso U, 2008)

Sekian puluh tahun petani Indonesia telah “menjejali” tanah dengan berbagai masukan input anorganik. Berjuta-juta ton bahan anorganik tersebut dijejalkan pada tanah sehingga tanah pun mengalami kejenuhan dan kerusakan. Tidak hanya tanah yang menjadi korban, berbagai spesies hewan maupun jasad renik juga telah lenyap seiring penggunaan pestisida yang membabi buta. Hewan dan jasad renik tidak berdosa tersebut ikut musnah bersama hewan dan jasad renik yang dianggap sebagai hama oleh petani. Padahal sangatlah mungkin beberapa diantaranya justru merupakan musuh alami dari sang hama yang berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem. ( Anonymous, 2008)

 

Pestisida Alami

Bila kita menghendaki hidup sehat dan ramah lingkungan ada pilihan atau opsi yang ditawarkan yaitu menggunakan “BAHAN-BAHAN ALAMI” untuk mengusir atau menghalau musuh-musuh alami yang menyerang tanaman, tanpa harus mematikannya, sehingga siklus EKOSISTEM  masih tetap terjaga Oleh karena itu dikembangkanlah model pertanian bernuansa ekologis dan ramah lingkungan dengan menggunakan pestisida berbahan organik/ alamiah. Sebagai salah satu solusi dalam penanggulangan hama secara alamiah dan terpadu yang diolah secara alami dan bersifat multiguna.  tidak hanya digunakan untuk pemberantasan hama tetapi lebih dititik beratkan pada pencegahan dan perlindungan tanaman serta mengkondisikan tanaman agar resisten (kebal) terhadap serangan hama apapun .

Pestisida alami merupakan pemecahan jangka pendek untuk mengatasi masalah hama dengan cepat. Pestisida alami harus menjadi bagian dari sistem pengendalian hama, dan hanya digunakan bila diperlukan. Jangan menggunakan pestisida alami bila tidak terdapat hama atau tidak ada tanaman yang rusak. Bahkan, sebaiknya masih belum digunakan bila hanya terdapat sedikit kerusakan tanaman.

Pestisida nabati yang akrab lingkungan, disebut demikian karena bahan kimia nabati ini dapat mudah terurai, dapat dibuat oleh petani karena bahan baku tersedia disekitar lokasi, dan harga pembuatan yang terjangkau.

Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tanaman dapat berupa larutan dari perasan, rendaman, ekstrak dan rebusan dari bagian tanaman berupa akar, umbi, batang, daun, biji dan buah.

Menurut Diding Rachmawati dan Eli Korlina (2009),Pestisida Organik/alami memiliki beberapa fungsi, antara lain:

  1. Reppelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat
  2. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot.
  3. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa
  4. Menghambat reproduksi serangga betina
  5. Racun syaraf
  6. Mengacaukan sistem hormon di dalam tubuh serangga
  7. Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga
  8. Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri

Bahan dan Cara Umum Pengolahan Pestisida Organik

  • Bahan mentah berbentuk tepung (nimbi, kunyit, dll)
  • Ekstrak tanaman/resin dengan mengambil cairan metabolit sekunder dari bagian tanaman tertentu
  • Bagian tanaman dibakar untuk diambil abunya dan dipakai sebagai insektisida (serai, tembelekan/Lantana camara)
  • Dan lain-lain

Jenis – jenis tanaman yang bisa dipakai untuk pestisida alami atau nabati (Suryana A Ir., M.Si., 2009)

No

Jenis Tanaman

Kandungan Racun dan Daya Kerjanya

Hama Sasaran

1 Berenuk
  • Buah mengandung alkaloid
  • Cara kerja racun :

Bersifat pengusir (repellent) bagi Tikus, kutu Daun/Wereng

 

Tikus,Kutu daun/Wereng
2 Batrawalik
  • Buah mengandung alkaloid
  • Cara kerja racun :

Sebagai pengusir (repellent), racun syaraf dan penghambat perkembangan serangga

 

Hama gudang (Trybolium), Walang sangit, Ulat daun dan Wereng
3
  • Gadung
  • Kunyit
  • Susu
  • Minyak Ikan
  • Sereh
  • Umbinya mengandung racun dioskorin dan diosconin
  • Cara kerja racun :
Mempengaruhi system syaraf, bersifat pengusir serangga dan anti reproduksi.

 

Kutu daun (Aphid sp), Nyamuk, Wereng, Takus.
4 Mindi
  • Mengandung margosin, glikosdida flafonoid
  • Cara kerja racun :

Menolak serangga (repellent). Menghambat pertumbuhan, mempengaruhi system syaraf, pernapasan (respirasi), sebagai racun perut dan kontak.

 

Ulat Grayak, Kutu daun, Anjing tanah, Belalang, Wereng, dan Hama Gudang
5 Srikaya (sirsak)
  • Daun dan buah muda mengandung minyak anonain dan resin
  • Cara kerja racun :

Sebagai racun perut, racun kontak, penolak serangga (repellent) serta menghambat peletakan telur dan mengurangi nafsu makan serangga

Kumbang perusak daun (Epilachna sp), Kutu daun (Aphid sp)

Nyamuk Rorongo, Wereng coklat dan Walang sangit

6 Surian
  • Daun dan kulit batang mengandung surenon, surenin dan surenolakton
  • Cara kerja racun :

Mempengaruhi aktivitas makan, gangguan pada system reproduksi dan bersifat mengusir hama.

 

Tungau, Walang sangit, Kutu kebul, Ulat dan Kutu Daun
7 Sembung
  • Mengandung borneol, sineol, limonene dan dimetil etrer floroasetofenon.
  • Cara kerja racun :

Dapat mempengaruhi metabolisme daya kerja syaraf dan juga sebagai obat tradisional (rematik, diare, dan pembengkakan)

 

Keong mas, Limus sakeureut
8 Picung
  • Buah dan daun mengandung alkaloid dan asam biru (HCN)
  • Cara kerja racun :

Sebagai racun kontak yang mempengaruhi system syaraf.

 

Wereng coklat, Lembing batu, Belalang, Walang sangit, Kutu daun, Ulat Grayak
9 Selasih
  • Daun dan Bunga selasih mengandung minyak atsiri yang didalamnya terdapat kandungan metilegenol, eugenol, geraniol, sineol.
  • Cara kerja racun :

Unsur metileugenol dapat menarik serangga jantan lalat buah dari golongan Bactrocera sp

Lalat buah/Entod longong jantan  dari golongan Bactrocera sp

Meskipun ramuan ini lebih akrab lingkungan, penggunaannya harus memperhatikan batas ambang populasi hama. Ramuan ini hanya digunakan setelah polulasi hama berada atau di atas ambang kendali. Sehingga sesuai dan tepat peruntukkannya untuk membasmi hama di areal pertanian kita.

 

 

KESIMPULAN

  1. 1.      Tanah merupakan faktor produksi pertanian yang penting.  Keseimbangan tanah dengan kandungan bahan organik, mikro organisme dan aktivitas biologi serta keberadaan unsur-unsur hara dan nutrisi sangat penting untuk keberlanjutan pertanian kedepan.
  2. 2.      Penggunaan pestisida sintetis/kimia dalam perkembangannya telah menimbulkan dampak negatif terhadap organisme bukan sasaran (hewan dan manusia), serta telah mencemari lingkungan tanah, tanaman, air dan ekosistem lain. Selain itu pestisida kimia telah menyebabkan kecenderungan hama menjadi kebal/resisten.
  3. 3.      Pestisida alami merupakan pemecahan jangka pendek untuk mengatasi masalah hama dengan cepat. Pestisida nabati yang akrab lingkungan, disebut demikian karena bahan kimia nabati ini dapat mudah terurai, dapat dibuat oleh petani karena bahan baku tersedia disekitar lokasi, dan bisa menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

  1. Bapak Prof. Ir. Urip Santoso, S.IKom.,MSc, PhD. selaku dosen pengasuh mata kuliah Penyajian ilmiah yang telah banyak membantu dalam membimbing dan memberikan informasi mengenai teknik dan cara penulisan yang baik.
  2. Dua adikku Nisa’ dan alfa yang telah memotivasiku dalam menulis  dan menyelesaikan tugas  ini

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad S, 2009. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Kampus IPB Taman Kencana Bogor.

Anonymous, 2008. Insektisida Organik atau Pestisida Nabati. http://lestarimandiri.org/id/pestisida-organik.html

Anonymous, 2008. Pestisida dan Aplikasinya. http://id.wikipedia.org/wiki/Pestisida

Anonymous, 2010. Pestisida Alami http://www.indonesiaorganic.com/detail.php?id=236&cat=100

Departemen Pertanian, 2009.  Pedoman Teknis Dampak Pengembangan System of Rice Intensification (SRI) Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air (PLA)  Jakarta.

Kardinan, A., Ir., M.Sc., Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Kusno S, 1992, Pencegahan Pencemaran Pupuk dan pestisida. Jakarta : Penerbit Swadaya.

Santoso U, Prof.Ir. M.Sc. P.hD. Permasalahan dan Solusi Pengelolaan Lingkungan Hidup di Propinsi Bengkulu. http://uripsantoso.wordpress.com/2008/05/01/

Suryana A Ir., M.Si., 2009. Pembuatan Pestisida Organik (Bioteknologi dan Lingkungan. P4TK Pertanian (VEDCA) Malang Indah Offset. Cianjur.

Suyono, Toni, dkk, 2000. Peranan Organisme Tanah Terhadap Kesuburan Tanah, Materi Kejuruan Terintegrasi Lingkungan Hidup Untuk SMK. P4TK Pertanian (VEDCA) Malang Indah Offset. Cianjur.

Rachmawati D & E Korlina, 2009. Pemanfaatan Pestisida Nabati Untuk Mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jawa Timur.

Tammingkeng Rudi C, 1994. Dinamika Populasi Kajian Ekologi Kuantitatif. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta

Widodo S, 2008. Pertanian Organik Wujud Baru Kapitalisme Perspektife Ekologi dan Ekonomi. http://learning-of.slametwidodo.com/2008/02/01

Zoer’aini Djamal Irwan, 2010. Prinsip-Prinsip Ekologi, Ekosistem,Lingkungan dan Pelestariannya. PT. Bumi Aksara. Jakarta.

Advertisements
 

3 Responses to “PENGGUNAAN PESTISIDA NABATI RAMAH LINGKUNGAN PENYELAMAT JARING – JARING (RANTAI) MAKANAN DALAM EKOSISTEM PERTANIAN”

  1. imik Says:

    I want to know about pestisida organik that lestarimandiri’s research,every time,as earlier you can share me. Caused I need for supply my job, I hope all of our environment will be health n good. I’m an agriculture extention agent. Thanks before..Assalamu’alaykum wr wb.

  2. […] Penggunaan pestisida nabati ramah lingkungan penyelamat Penggunaan pestisida nabati ramah lingkungan penyelamat jaring – jaring (rantai) makanan dalam ekosistem pertanian june 4, 2011. […]

  3. artikel yang menarik dan bermanfaat..

    -Akbar Mauli-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s