JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

PEMANFAATAN PUPUK KOMPOS UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PENGELOLAAN TANAH PERTANIAN PADA LAHAN KERING August 11, 2011

Filed under: Sumberdaya — Urip Santoso @ 1:22 am
Tags: , , , ,

EKA LYA VIVIANTHI

ABSTRAK

Rasa memiliki dan peduli terhadap Sumberdaya Alam dan Lingkungan sangat diperlukan bagi kita semua.  Hal ini guna menciptakan pembangunan pertanian yang berkelanjutan dan berorientasi pada efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam.  Untuk mencapai hal tersebut, kita perlu memperhatikan aspek – aspek biologis yang dapat mendukung proses pengelolaan lahan agar potensi lahan tersebut menjadi optimal, salah satu caranya yaitu dengan penggunaan pupuk organik ( kompos ) pada lahan kering. Pupuk bermanfaat untuk menambah kandungan unsur – unsur hara di dalam tanah. Dengan adanya keseimbangan unsur hara tersebut, tanaman terutama tanaman yang tumbuh di lahan yang kering dapat menyerap hara tersebut untuk proses metabolisme di dalam tanaman tersebut.

Dengan adanya  proses pemupukan yang dilakukan secara alamiah ini, banyak keuntungan yang kita peroleh. Tingkat residu pada tanaman dapat kita kurangi, kesuburan tanah juga lebih terjaga, dimana daya jerap akar terhadap unsur hara akan lebih tinggi. Hal ini tentunya akan membuat tanaman menjadi lebih subur, memiliki daun yang banyak, dan memiliki buah yang banyak, besar, lebih segar, dan enak.

Kata Kunci : Lahan Kering, Pupuk Organik kompos, unsur hara, produktivitas.

 PENDAHULUAN

 Tanah merupakan faktor terpenting dalam proses produksi pertanian, dimana keseimbangan unsur – unsur hara didalamnya sangat menentukan bentuk maupun karakter dari suatu tanaman. Keseimbangan antara tanah, kandungan bahan organik dan kandungan unsur hara sangat berpengaruh terhadap kelanjutan pertanian di masa yang akan datang.

Semakin berkurangnya kesuburan tanah pada akhir – akhir ini menyebabkan hilang dan terganggunya proses produksi oleh suatu tanaman. Hal ini tentunya menuntut kita untuk berpikir dan berusaha bagaimana caranya untuk meningkatkan kesuburan tanah itu kembali.

Proses pemupukan merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan. Penggunaan pupuk bertujuan untuk memberikan dan menyediakan nutrisi – nutrisi yang ada di dalam tanah, sehingga tanah akan menjadi subur dan dapat memberikan banyak nutrisi pada tanaman.

Pemanfaatan  sisa panen maupun sampah – sampah / kotoran organik lainnya sebagai pupuk oleh petani ternyata merupakan salah satu bagian dari konservasi tanah yang dilakukan dengan penuh kesadaran sebagai pelestarian sumberdaya alam. Ini merupakan salah satu teknologi dalam usaha tani yang ramah lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani dan menjamin kelestarian sumberdaya alam serta meminimalkan kerusakan lingkungan. ( Damanhuri, 2009 ).

Penulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat khususnya petani tentang bagaimana cara pengelolaan dan pemanfaatan pupuk kompos sehingga dapat meningkatkan efisiensi pertanian  pada lahan kering.

  1. 1.        PENGERTIAN LAHAN KERING

Di Indonesia hingga saat ini pengertian untuk lahan kering belum begitu disepakati secara benar. Pendefinisian lahan kering lebih diarahkan kepada pertanian tadah hujan yang terkait dengan kondisi drainase (Suwardji, 2003).

Lahan kering dapat  diartikan sebagai lahan yang diusahakan tanpa adanya penggenangan. Selain itu dapat pula diartikan sebagai lahan yang memiliki drainase alamiah lancar yang bukan merupakan daerah tergenang (seperti banjir, rawa,dan lahan dengan air tanah yang dangkal). Pengertian lain tentang lahan kering adalah kawasan atau daerah yang memiliki jumlah evaporasi potensial yang melebihi jumlah curah hujan aktual atau daerah yang jumlah curah hujannya tidak mencukupi untuk usaha pertanian tanpa irigasi.

Dari hasil kesepakatan dalam seminar nasional pengembangan wilayah lahan kering ke 3 (tiga) di Lampung, lahan kering adalah hamparan lahan  yang didayagunakan tanpa penggenangan air, baik secara permanen maupun musiman dengan sumber air berupa hujan atau air irigasi. Lahan kering ini dapat dijumpai pada daerah dataran rendah ( 0 – 700 m dpl ) hingga datran tinggi ( > 700 m dpl ).

Lahan kering mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Pemanfaatan lahan kering untuk kepentingan pembangunan daerah ternyata banyak menghadapi masalah dan kendala. Masalah yang paling utama adalah masalah fisik lahan kering yang telah banyak rusak atau memiliki potensi yang cukup besar untuk menjadi rusak. Kekurangan air pada saat musim kemarau, kahat unsur hara serta keadaan tanah yang cukup peka terhadap erosi merupakan kendala yang dominan di lahan kering ini

 

  1. 2.         FENOMENA PEMUPUKAN DI INDONESIA

 Tanaman sangat membutuhkan zat – zat hara yang dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangannya dengan baik. Salah satu yang diperlukan oleh tanaman yaitu pupuk. Pupuk merupakan salah satu sarana produksi terpenting dalam budidaya tanaman, sehingga ketersediaannya mutlak diperlukan untuk keberlanjutan produktivitas tanah dan tanaman serta ketahanan pangan nasional. Pupuk  juga menjadi salah satu faktor penunjang tingkat kesuburan tanah. Pupuk merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan esensial bagi pertumbuhan tanaman dan merupakan vitamin bagi tanah yang dapat membuat tanah lebih gembur dan subur. Dengan kondisi tanah yang gembur dan subur tersebut, tanaman dapat tumbuh dan menghasilkan buah dan daun yang besar, sehat dan dalam jumlah yang banyak. Secara umum pupuk dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu pupuk organik dan pupuk non organik (mineral). Dalam pemberian pupuk, perlu diperhatikan kebutuhan akan tanaman tersebut. Terlalu sedikit atau terlalu banyaknya zat makanan ternyata dapat juga membahayakan tumbuhan tersebut.

Salah satu penggunaan pupuk yang tidak menimbulkan banyak resiko adalah penggunaan pupuk organik (pupuk alami). Pupuk organik tidak menggunakan bahan – bahan kimia sehingga relatif aman bagi tanah maupun tanaman itu sendiri. Pupuk Organik, diposisikan sebagai bahan organik yang berupa padatan yang berfungsi sebagai bahan penambah tingkat kesuburan tanah. Penggunaan pupuk organik ini akan lebih menguntungkan bagi kita terutama jika ditinjau
dari beberapa aspek, yaitu :

a.    Lebih Ekonomis, karena harganya relatif murah dan mudah didapat.

b.    Untuk Penggunaan dalam jumlah banyak tidak menyebabkan terjadinya Fithotoksis pada    tanaman.

c.    Untuk penggunaan yang terus menerus dan dalam waktu yang lama tidak  menimbulkan efek yang merugikan bagi lingkungan, dan tanaman.

Kegiatan usaha tani yang intensif, akhir – akhir ini telah mendorong kebutuhan akan penggunaan pupuk an-organik ( pupuk kimia ) untuk lahan pertanian menjadi semakin meningkat. Sementara pupuk organik mulai ditinggalkan. Masyarakat petani beranggapan bahwa pupuk kimia mempunyai kandungan unsur hara yang baik dan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Bahkan banyak petani yang menggunakan pupuk kimia secara berlebihan. Hal ini sebenarnya kurang baik, karena dengan adanya pemupukan secara kimiawi apalagi pemupukan yang berlebihan dapat mengganggu keseimbangan hara di dalam tanah, kondisi tanah pun menjadi tidak kondusif lagi untuk diolah menjadi lahan pertanian.  Hal ini menunjukan penggunaan pupuk an-organik makin lama makin tidak efisien karena tidak sebanding dengan kenaikan hasil panen. Akibat jangka panjang dari pemakaian pupuk an-organik yang berlebihan akan mengakibatkan penimbunan residu dalam tanah sehingga daya dukung tanah terhadap tanaman tidak sempurna sehingga mengurangi produktivitas lahan.

Penggunaan pupuk an-organik yang semakin tinggi yang tidak berimbang menyebabkan tanaman semakin rentan terhadap hama penyakit. Konsekuensinya untuk menghadapi hama dan penyakit yang semakin berkembang maka pestisida mulai digunakan secara rutin dalam melindungi tanaman. Selanjutnya untuk memperoleh hasil panen yang tinggi diperlukan biaya tinggi, seperti pupuk an-organik dengan dosis tinggi dan ketergantungan pestisida juga sangat tinggi. Oleh karena itu sistem ini sangat beresiko, hasil panen cenderung turun.

Untuk mengurangi terjadinya residu pada tanah, pupuk organik adalah pilihan yang paling tepat. Salah satu contoh dari penggunaan pupuk organik ini adalah penggunaan pupuk kompos. Pupuk kompos ibarat multi-vitamin untuk tanah pertanian yang merupakan penambah unsur hara pada tanah, yang secara umum dapat meningkatkan tingkat kesuburan tanah dan merangsang perakaran yang sehat, memperbaiki sifat tanah baik sifat fisik tanah, , biologi tanah dan kimia tanah sehingga kompos dapat menyebabkan kapasitas penyangga tanah semakin tinggi dan dapat pula memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Bahan organik umumnya ditemukan di permukaan tanah, jumlahnya tidak terlalu besar hanya sekitar 3-5% tetapi pengaruhnya terhadap sifat tanah besar sekali, Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah dan menghasilkan senyawa yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Aktivitas mikroba tanah diketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit. Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik kualitasnya daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, misal: hasil panen lebih tahan disimpan lebih berat, lebih segar, dan lebih enak.  Hal ini dikarenakan unsur hara yang terkandung di dalam tanah lebih mudah diserap oleh tanaman.

  1. 3.        DASAR – DASAR PENGOMPOSAN
  1. A.      Bahan – Bahan yang dapat dikomposkan

Pada dasarnya semua bahan – bahan organik dapat dibuat menjadi kompos, misalnya : limbah organik rumah tangga, sampah – sampah organik , sampah – sampah organik, kotoran / limbah peternakan, limbah pertanian, limbah agroindustri, limbah pabrik kelapa sawit, limbah pabrik kertas, limbah karet, dan lain – lain.

  1. B.       Proses Pengomposan

Proses pengomposan dapat berlangsung secara aerobik ( menggunakan oksigen ) dan anaerobik ( tidak menggunakan oksigen ). Pengomposan anaerobic menimbilkan bau yang tidak sedap dan memakan waktu yang cukup lama, oleh karena itu proses pengomposan yang banyak dilakukan adalah pengomposan aerobic. Pada proses pengomposan aerobik akan segera berlangsung setelah bahan – bahan mentah dicampur. Secara sederhana, pengomposan dapat berlangsung 2 (dua) tahap yaitu : tahap aktif dan tahap pematangan. Selama Tahap awal, oksigen dan senyawa yang mudah terdegradasi  akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik (mikroba yang aktif pada suhu tinggi)s. Suhu pengomposan akan meningkat dengan cepat ( di atas 500 – 700 C), begitu juga dengan PH kompos. Mikroba di dalam kompos dengan menggunakan Oksigen akan menguraikan bahan organic menjadi Karbondioksida, uap air dan panas. Setelah bahan terurai, maka suhu akan berangsur turun. Pada saat ini akan terjadi pematangan  kompos tingkat lanjut, yaitu pembuatan komplek liat humus. Selama proses pengomposan akan terjadi pengurangan volume maupun biomassa ( 30 – 40 % ) dari bobot awal.

  1. C.      Faktor yang mempengaruhi Proses Pengomposan

Setiap organisme pendegredasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungan dan bahan yang berbeda – beda. Apabila kondisi lingkungan nya sesuai, maka proses pengomposan akan berlangsung baik, akan tetapi bila kondisinya tidak sesuai, maka organism tersebut akan dorman, pindah ke tempat lain, atau bahkan mati. Lingkungan yang optimal akan menentukan keberhasilan proses pengomposan itu. Pengomposan itu sendiri merupakan proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba – mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat pupuk kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar pembentukan pupuk kompos dapat berlangsung dengan cepat.

Dalam proses pengomposan, faktor yang mempengaruhinya adalah :

Rasio C/N, apabila rasio C/N tinggi maka mikroba akan mengalami kekurangan N untuk mensintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat. Untuk menurunkannya diperlukan perlakuan khusus yaitu dengan menambahkan mikroorganisme selulotik (Toharisman, 1991).

Ukuran partikel, permukaan area yang luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Untuk meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel bahan tersebut.

Aerasi, Pengomposan akan cepat apabila kondisi oksigen mencukupi. Pada saat peningkatan suhu, proses aerasi akan terjadi, sehingga menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin akan masuk ke dalam tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh kandungan air bahan ( kelembaban ).

Kelembaban, Mikroorganisme dapat memanfaatkan bahan organic apabila bahan organic tersebut larut dalam air.

Temperatur / suhu, Panas dihasilkan oleh aktivitas rmikroba. Semakin tinggi suhu, maka akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi. Tetapi bila terlalu tinggi, suhu akan membunuh mikroba – mikroba pathogen tanaman dan benih – benih gulma.

pH optimum untuk pengomposan berkisar antara 6,5 samapai 7,5. Proses pengomposan itu senndiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organic dan pH bahan itu sendiri.

Kandungan Hara, Kandungan P dan K penting untuk dimanfaatkan oleh mikroba pada saat pengomposan.

Lama Pengomposan, Waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang dikomposkan, metode yang digunakan, dan ;penambahan activator pengomposan.

  1. 4.        DAMPAK PENGGUNAAN PUPUK KOMPOS TERHADAP USAHA TANI
  1. A.      Dampak terhadap produktivitas

Penerapan/penggunaan pupuk kompos ternyata dapat memberikan hasil yang cukup optimal bagi pertumbuhan maupun peningkatan hasil tanaman. Dengan terciptanya kondisi tanah yang baik , gembur dan subur ditambah lagi dengan keseimbangan unsur hara  di dalamnya maka tanaman dapat memberikan bentuk yang baik dan hasil / produktivitas yang tinggi.

 B.   Dampak Terhadap Pendapatan Petani

Dampak yang dirasakan dari penggunaan pupuk kompos adalah tingginya produksi tanaman yang dihasilkan. Makin tinggi produksi maka nilai jualnya pun semakin besar. . Hal ini tentunya akan memberikan keuntungan  yang besar juga.  Keuntungan yang lebih besar lagi akan diperoleh petani apabila mereka dapat mengolah dan menghasilkan pupuk kompos sendiri.

  1. 5.        MANFAAT PENGGUNAAN PUPUK KOMPOS

Tanaman yang dipupuk dengan pupuk organik ( pupuk kompos ) cenderung memiliki kualitas yang baik bila dibandingkan dengan tanaman yang dipupuk dengan pupuk an-organik. Pupuk kompos memiliki banyak manfaat bila ditinjau dari beberapa aspek, diantaranya :

  1. Aspek Ekonomi :

–   Dapat menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah.

–   Mengurangi ukuran dan volume limbah

–   Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya

  1. Aspek lingkungan :

–   Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah

–    Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan

  1. Aspek bagi Tanaman :

–        Meningkatkan kesuburan tanah

–       Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah

–       Meningkatkan kapasitas jerap air tanah

–       Meningkatkan aktivitas mikroba tanah

–      Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)

–       Meningkatkan kemampuan tanah menjerap nutrisi

–        Memperbaiki aerasi tanah

–        Sumber unsur hara tanaman yang lengkap

–        Sumber energi dan media hidup mokroorganisme tanah

–        Memperbaiki warna tanah

KESIMPULAN

  1. Dalam proses pertumbuhannya tanaman membutuhkan unsur – unsur hara yang dapat meningkatkan kualitas maupun kuantitas hasil ( produktivitasnya ), terutama  di lahan kering ( lahan kritis ).
  2. Pemupukan merupakan langkah awal yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman.
  3. Penggunaan pupuk organik, salah satunya pupuk kompos dapat mengurangi residu pada lahan sehingga keseimbangan unsur hara di lahan tetap terjaga. Tanaman menjadi subur, dan dapat menghasilkan buah yang besar, segar, dan enak.
  4. Penggunaan pupuk kompos dapat meningkatkan tingkat kesuburan tanah,  merangsang perakaran yang sehat, memperbaiki sifat tanah baik sifat fisik tanah, , biologi tanah dan kimia tanah sehingga kompos dapat menyebabkan kapasitas penyangga tanah semakin tinggi dan dapat pula memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah.
  5. Pengelolaan pupuk kompos merupakan teknologi dalam usaha tani yang ramah lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani dan menjamin kelestarian sumberdaya alam serta meminimalkan kerusakan lingkungan

UCAPAN TERIMA KASIH

 Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

  1. Bapak Prof. Ir. Urip santoso, S.Ikom.,MSc, PhD. Selaku Dosen Pengasuh mata kuliah Penyajian Ilmiah yang telah banyak membantu dalam membimbing dan memberikan informasi mengenai teknik dan cara penulisan yang baik.
  2. Keluarga besarku yang telah membantu  dan memberikan sumber inspirasi dan motivasi dalam penyelesaian tugas ini.
  3. My Husband yang telah memberikan semangat dan meluangkan waktunya untuk menjaga jagoan kecilku ”Rizqi” selama penulisan tugas ini.
  4. Teman – teman kampusku yang saling mengingatkan  akan tugas Ini.

DAFTAR PUSTAKA

 Anonim. 2007. Pemupukan Tanaman Pepaya II. http://blog.agroprimka.com.

Anonim. 2008. KOMPOS.Dalam Wikipedia.

Anonim. 2009. Kesiapan teknologi Mendukung Pertanian organik Tanaman Obat Kasus Jahe Zingiber officinale rose. http :// uwityangyoyo.wordpress.com. 15 Maret 2011.

Anonim. 2009. Kompos Bahan Organik. Purwokerto.

Badan Lingkungan Hidup Kota Bengkulu. 2009. Pupuk Kompos. Bengkulu.

Damanhuri. 2009. Usahatani Konservasi Untuk Pelestarian Sumberdaya Alam.  http :// uwityangyoyo.wordpress.com. 17 Maret 2011.

Isroi. 2008. KOMPOS. Makalah. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia. Bogor.

Lembar Informasi Pertanian ( LIPTAN ) IPPTP Mataram. 2000. Pupuk Kompos Super. Instalasi Penelitian dan Pengkajian teknologi Pertanian. Mataram.

Mediana, Susti. 2010. Dampak Penerapan Metode SRI (System Of Rice Intensification). Bengkulu.

Kurnianto, Mundirun.2010. Menuju Pertanian yang Ramah Lingkungan. Dalam Wikipedia.

Suwardji. 2003. Makalah seminar Nassional FOKUSHIMTI BEW III di Mataram.. Universitas Mataram. Mataram.

Toharisman, A. 1991. Potensi dan Pemanfaatan Limbah Industri Gula.

Yopi. 2009. Penggunaan Pupuk Kimia Kurangi Kesuburan Tanah. Jakarta.

Advertisements
 

2 Responses to “PEMANFAATAN PUPUK KOMPOS UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PENGELOLAAN TANAH PERTANIAN PADA LAHAN KERING”

  1. dodi haryono Says:

    pemanfaatan pupuk kompos pada lahan kering memang akan lebih efisien dan ekonomis karena harga pupuk kompos khususnya pupuk organik subsidi pemerintah harganya sangat murah dan sangat baik untuk memperbaiki struktur tanah

  2. Lezita Malianti PSDAL 18 Says:

    kalau berbicara soal pupuk kompos tidak ada henti-hentinya, banyak sekali manfaat dengan penggunaan pupuk kompos,unsur hara tanah dapat hilang baik dengan sendirinya atau pun dengan sengaja..penambahan pupuk organik diharapkan dapat meningkatkan kesuburan tahan sehingga hara dalam tanah dapat terjaga


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s