JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

EFEKTIFITAS EFFECTIVE MICROORGANISME (EM) DALAM MEMPERCEPAT PROSES PENGOMPOSAN SAMPAH ORGANIK October 7, 2011

Filed under: Kesehatan — Urip Santoso @ 1:06 am
Tags: , , ,

Oleh: ETMON JULIANSYAH

ABSTRAK

Etmon Juliansyah, 2011 “ Effektifitas  Effective Microorganisme (EM) dalam Mempercepat  Proses Pengomposan Sampah Organik”. Sebuah tulisan ilmiah yang diberikan berbentuk tugas dalam mata kuliah penyajian ilmiah. Untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan bebas dari sampah salah satu solusinya mengubah kebiasaan membuang sampah menjadi mengolah sampah menjadi kompos. Sampah organik : yaitu sampah yang mengandung senyawa-sanyawa organik, karena itu tersusun dari unsur-unsur seperti C, H, O, N, dan lain-lain (umumnya sampah organik dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme. Kompos adalah produk dari pengomposan, yaitu cara untuk mengkonversikan bahan-bahan organik menjadi bahan yang telah dirombak lebih sederhana dengan menggunakan aktifitas mikrobakteria, semacam perombakan yang terjadi pada bahan organik dalam tanah oleh bakteri tanah, Effektive microorganisme (EM) merupakan  sumber bakteri yang banyak digunakan di dalam proses pembuatan kompos. Media ini akan membantu pembuatan kompos menjadi lebih singkat, mudah dan berkualitas lebih baik. Kandungan C/N bahan dengan C/N tanah harus seimbang . Selain itu kesetabilan suhu harus dijaga, suhu ideal  30 45⁰ C begitu juga dengan PH, dan kelembaban.Untuk mengolah sampah menjadi organic menjadi kompos diperlukan alat yang disebut komposter. Kompos sangat bermanfaat sebagai pupuk organic bagi tanaman.

Kata Kunci : Sampah Organik, Kompos, Effektive Microorganisme (EM)

BAB I. PENDAHULUAN

1.1.Latar belakang

Pertambahan jumlah penduduk, perubahan pola konsumsi dan prilaku gaya hidup masyarakat telah meningkatkan jumlah timbulan sampah, jenis dan keberagaman karakteristik sampah. Meningkatnya daya beli masyarakat terhadap berbagai jenis bahan pokok dan kebutuhan hidup sehari-hari serta meningkatnya usaha atau kegiatan penunjang pertumbuhan ekonomi juga memberikan kontribusi yang besar terhadap kuantitas dan kualitas sampah yang dihasilkan. Meningkatnya volume timbulan sampah menimbulkan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam menangani masalah sampah.

Menurut Hendrik L Blum dalam (Notoatmojo, 1996) ada empat factor yang mempengarui derajat  kesehatan yakni :  factor lingkungan, factor prilaku, factor pelayanan kesehatan, dan factor keturunan. Dari keempat factor diatas, factor lingkungan yang paling berpengaruh di dalam kesehatan. Berbagai masalah yang berhubungan dengan kesehatan sering menimpa lingkungan yaitu masalah yang diakibatkan oleh sampah.

Faktor lingkungan merupakan unsur penentu dalam terjadinya sakit atau sehat pada masyarakat. Dengan demikian apabila terjadi perubahan lingkungan disekitar manusia, maka akan terjadi pula perubahan kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat tersebut (Mukono, 2000)

Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam yang  berbentuk padat. Sampah spesifik adalah sampah yang karena sifat, konsentrasi, dan/ atau volume memerlukan pengelolaan khusus.

Sampah bila tidak dikelola dengan baik akan dapat menimbulkan permasalahan dan bila dikelola dengan baik  dapat menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis. Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang membuang sampah disekitar tempat tinggalnya, membuang ke aliran sungai, mengubur di dalam tanah atau membakarnya. Bahkan penanganan sampah yang dilakukan pemerintah secara umum masih berorientasi konsumtif dan masih sebatas memindahkan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA), padahal keberadaan sampah di TPA lebih sering menimbulkan masalah bagi masyarakat sekitarnya dan mencemari lingkungan (air, tanah dan udara).

Melihat permasalah sampah, sebenarnya sampah bisa dijadikan sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomis, dapat memberikan keuntungan nyata bagi masyarakat dan dapat meminimalisasi dampak negative lingkungan.

Tanpa kita sadari sebenarnya di lingkungan  rumah tangga banyak sekali bahan-bahan yang bisa dijadikan kompos secara efisien, bahan-bahan tersebut biasanya adalah sisa aktivitas sehari-hari seperti kegiatan memasak, bahan-bahan tersebut biasanya terbuang begitu saja di tempat sampah. Selain sampah dari dapur, biasanya banyak juga sampah yang berasal dari kebun atau taman di sekitar rumah.

Bahan-bahan tersebut akan lebih berguna jika dimanfaatkan untuk pembuatan kompos, pemanfaatan bahan-bahan ini juga menekan biaya produksi pembuatan kompos karena didapat secara gratis.

Kompos merupakan pupuk organik yang penting dan banyak dibutuhkan tanaman. Kompos terbuat dari bagian-bagian tanaman dan sampah-sampah organic yang telah mengalami penguraian mikroorganisme. (Bagus, 2007). Untuk meningkatkan efektifitas dan kecepatan pembuatan kompos sering kali menggunakan inokulen bahan tambahan berupa sampah sisa makanan sebagai sumber bakteri. Sumber bakteri dapat dibuat dengan beberapa campuran dan sering disebut sebagai Efective Microorganisme yang berasal dari air susu sapi dan isi usus hewan ternak sebagai sumber bakteri.

EM merupakan sumber bakteri yang banyak digunakan di dalam proses pembuatan kompos, media ini akan membantu pembuatan kompos menjadi lebih singkat, mudah dan berkualitas lebih baik. EM yang sangat banyak, diantaranya yang sering digunakan untuk fermentasi bahan-bahan organik adalah bakteri streptomyces, ragi, lactobacillus dan bakteri fotosintetik. (Bagus, 2007).

1.2.Tujuan penulisan

Untuk menyusun suatu karya ilmiah  berdasarkan kajian tiori tentang  effektifitas effective mikrooganisme (EM) dalam mempercepat proses pengomposan sampah organik.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

1.1         Sampah

2.1.1. Pengertian sampah

Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Pengertian sampah menurut (Slamet, 2000) lebih jauh mengatakan bahwa sampah adalah berbagai jenis barang buangan yang diakibatkan oleh kegiatan kehidupan sehari-hari, pristiwa-pristiwa tertentu, dari kelebihan proses terhadap keperluan baik untuk penggunaan sendiri maupun untuk menghasilkan barang  dan bahan lain, sehingga barang buanganiti dianggap tidak bernilai lagi. Pendapat lain yang dikemukakan oleh (Saeni, 2003) yaitu bahwa sampah bersumber dari kegiatan domestic, pertanian dan industry.

Berdasarkan pendapat tersebut di atas, dapat dikemukkan bahwa sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri atas zat organik dan zat anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan. Sampah umumnya  dalam bentuk sisa makanan (sampah dapur), daun-daunan, ranting pohon,kertas/karton, plstik, kain bekas,kaleng-kaleng,debu sisa penyapuan, dan lain-lain.

2.1.2 Jenis sampah

Sampah yang ada di lingkungan umumnya dapat dibedakan menurut jenisnya. Menurut (Hadiwiyoto, 1990) sampah dapat digolongkan menurut jenisnya menjadi :

  1. Sampah organik : yaitu sampah yang mengandung senyawa-sanyawa organik, karena itu tersusun dari unsur-unsur seperti C, H, O, N, dan lain-lain (umumnya sampah organik dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme, contohnya sisa makanan, kotoran, kain, karet, kulit dan sampah halaman).
  2. Sampah anorganik : sampah yang bahan kandungannya  non organik, umumnya sampah ini sangat sulit terurai oleh mikroorganisme.  Contohnya kaca, kaleng, alumunium, debu, logam dan lain-lain.

2.1.3. Karakteristik sampah

Sampah yang ada di lingkungan umumnya dapat dibedakan menurut karakteristiknya. Menurut (Aini, 1985) sampah dapat digolongkan menurut karakteristiknya menjadi :

  1. Garbage, yakni jenis sampah yang terdiri dari sisa-sisa potongan hewan atau sayuran hasil pengolahan dari dapur rumah tangga, hotel,restoran,semuanya mudah membusuk.
  2. b.    Rubbish,  yakni sampah yang tidak membusuk. Pertama yang mudah terbakar, seperti kertas, kayu dan sobekan kain. Kedua yang tidak mudah terbakar, minsanya kaleng,kaca dan lain-lain.
  3. c.    Ashes, yakni semua jenis abu dari  hasil pembakaran baik dari  rumah maupun industry.
  4. d.    Street sweeping,  yakni sampah dari hasil pembersihan jalanan, contohnya kertas,kotoran, daun-daunan dan lain-lain.
  5. e.    Dead animal, yakni bangkai binatang yang mati karena alam, kecelakaan, maupun penyakit.
  6. f.      Abandoned vehice, yakini bangkai kendaraan, seperti sepeda, motor,becak, dan lain-lain.
  7. g.    Sampah khusus,  yakni sampah yang memerlukan penanganan khusus, misalnya kaleng-kaleng cat, zat radioaktif, sampah pembasmi serangga, obat-obatan dan lain-lain.

Adapun dampak sampah bagi manusia dan lingkungan menurut (Mochtar, 1997), diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Menjadi sumber penyakit atau hama penyakit

Hal ini terjadi karena tempat pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat kesehatan  seperti terbuat dari bahan yang  mudah  dirusak serangga dan hewan lainnya. Selain itu tempat tersebut tidak ditutup, terbuka dan lembab, ini menyebabkan nyamuk, lalat, maupun kecoak menjadikanya sebagai sarang. Akibat pembiakan vector-vektor ini maka akan dapat mempermudah penularan penyakit yang lebih banyak seperti tipes, malaria, demam berdarah, kolera, disentri dan sebagainya, sehingga manusia menjadi tidak sehat bila sampah terabaikan.

  1. Dapat menimbulkan pengotoran udara

Sampah yang tidak tertutup dan  terdiri dari sisa makanan, sayuran, bangkai binatang dapat menebarkan bau busuk, sehingga bila terisap akan menimbulkan gangguan  pada pernapasan.  Akibatnya tidak merasa nyaman dan leluasa untuk menghirup udara bebas.

  1. Dapat  menimbulkan bahaya banjir

Apabila sampah dibuang pada tempatnya yang telah disediakan melainkan dibuang pada saluran air seperti sungai, got dan saluran air lainnya akan menghalangi aliran air tersebut, sehingga pada musim hujan dapat menimbulkan banjir karena saluran air tertutup oleh sampah-sampah tersebut.

  1. Dapat menimbulkan pengotoran air dan tanah

Pengotoran air ini bersumber dari buangan industry  (limbah industry), sampah sisa buangan industri, terdiri dari bahan kimia atau sisa bahan bakar yang akan meresap ke dalam tanah dan bila bahan ini terserap oleh air dan tanah serta mengandung bahan tertentu atau beracun, hal ini sangat merugikan makluk hidup yang mengkonsumsi air tersebut, diamping dapat menurunkan kadar produksi tanaman bila lokasi buangan dekat lahan pertanian.

  1. Dapat merusak keindahan kota

Kota yang bersih tentu akan indah karena semuanya tertata dengan baik, apabila sampah yang dibuang pada sembarang tempat atau system pembuangan yang tidak teratur akan merusak keindahan kota dan estetika lingkungan.

  1. Dapat menimbulkan bahaya kebakaran

Apabila sampah dibuang dekat permukiman penduduk, karena manusia lalai dalam membuang benda-benda yang dapat memicu timbulnya api seperti tabung gas dan bahan lainnya yang mudah meledak dan terbakar, sehingga terjadi kebakaran.

  1. Dapat mengotori air laut

Hal ini merupakan kebiasaan penduduk yang berdiam di kota-kota pelabuhan  maupun daerah pesisir pantai yang membuang sampah di tepi pantai maupun laut, selain itu sampah yang dibaung ke sungai akan hanyut ke laut. Akibatnya laut menjadi kotor dan tercemar bila sampah yang dibuang itu mengandung bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi kehidupan biota perairan/laut.

2.2.Pengelolaan sampah

Menurut (Undng-Undang  RI Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah) kegiatan penangan sampah sebagaimana di maksud dalam pasal 19 huruf b meliputi :

  1. Pemilihan dlam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah dan atau sifat sampah.
  2. Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber ke tempat penampuangan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu.
  3. Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah  dari sumber dan atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tgempat pemprosesan akhir.
  4. Pengolahan dalam bentuk mengubah karaktristik, komposisi dan jumlah sampah
  5. Pemprosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkugan secara aman.

2.3.Maanfaat sampah

Sampah  bagi setiap orang  memiliki pengertian relative berbeda dan subyektif. Bagi sebagian orang sampah merupakan barang sisa yang tidak dapat digunakan lagi. Namun bagi kalangan tertentu sampah dapat menjadi suatu yang sangat berharga. Sesungguhnya sampah merupakan sumber daya yang memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan (Kastaman, 2007).  Dengan bantuan teknologi, sampah dapat dimanfaatkan sebagai sumber energy, pupuk atau kompos, dan sebagai bahan baku industri. Upaya menjadikan sampah sebagai sumber daya dapat diwujudkan dengan pengelolaan sampah yang ramah terhadap lingkungan. Pengelolaan sampah yang paling baik adalah langsung pada sumber masalahnya, yaitu masyarakat sebagai produsen sampah. Dengan demikian  hal pertma yang dilakukan dalam meminimalisasi sampah adalah dengan mengurangi jumlah sampah pada sumbernya (Jahansyah, 1999),

Manfaat sampah yang mudah membusuk :

  1. Untuk pupuk/kompos yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah dengan adanya proses dekomposisi sampah menjadi humus.
  2. Memanfaatkan untuk makanan ternak melalui proses pengolahan dan pemilihan sampah sebelum diberikan kepada ternak, guna mencegah pengaruh buruk dari sampah.
  3. Sampah hasil buangan kotoran hewan dan garbage yang mudah membusuk dimanfaatkan untuk pembuatan gas bio.

2.4.       Kompos

Kompos adalah produk dari pengomposan, yaitu cara untuk mengkonversikan bahan-bahan organik menjadi bahan yang telah dirombak lebih sederhana dengan menggunakan aktifitas mikrobakteria, semacam perombakan yang terjadi pada bahan organik dalam tanah oleh bakteri tanah, (Hadiwiyoto, 1983).

Selain itu kompos adalah bahan-bahan organik (sampah organik) yang telah mengalami proses pelapukan karena adanya interaksi antara mikroorganisme (bakteri pembusuk) yang bekerja didalamnya. Bahan-bahan organik tersebut  seperti dedaunan, rumput,kotoran hewan, jerami, sisa-sisa ranting dan bahan, rontokan kembang dan lain-lain. Adapun kelangsungan hidup mikroorganisme tersebut didukung oleh keadaan yang basah dan lembab. Di alam terbuka, kompos bisa terjadi dengan sendirinya, lewat proses alamiah. Namun, proses tersebut berlangsung lama sekali, dapat mencapai puluhan tahun, bahkan berabad-abad. Padahal kebutuhan akan tanah yang subur sudah mendesak. Oleh karenanya, proses tersebut perlu dipercepat dengan bantuan manusia. Dengan cara yang baik, proses mempercepat pembuatan kompos berlangsung wajar sehingga bias diperoleh kompos yang berkualitas baik (Murbandono, 2000).

Hindari juga kontaminasi bahan-bahan pembuatan kompos dari zat anorganik seperti pestisida, minyak tanah, parfum, dan detergent atau sabun mandi. Bahan-bahan tersebut dapat menghambat proses pembentukan kompos oleh mikroorganisme dan backteri  (Bagus, 2007).

Menurut (Murbandono, 2000) penggunaan kompos sebagai pupuk sangat baik karena dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

  1. Menyediakan unsur hara mikro bagi tumbuhan
  2. Mengemburkan tanah
  3. Memperbaiki struktur dan tekstur tanah
  4. Meningkatkan porositas, aerasi, dan komposisi mikroorganisme tanah
  5. Memudahkan pertumbuhan akar tanaman
  6. Menjadi salah satu alternative pengganti (subsitusi) pupuk kimia karena harganya murah,berkualitas dan akrab lingkungan
  7. Mengurangi pencemaran lingkungan
  8. Murah dan mudah didapat, bahan bisa dibuat sendiri

Peran bahan organic terhadap sifat fisik  tanah diantaranya merangsang granulasi, memperbaiki aerasi tanah, dan meningkatkan kemampuan menahan air. Peran bahan  organik terhadap sifat bilologis tanah adalah meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang berperan pada fiksasi nitrogen dan transfer hara tertentu seperti N,P dan S. Peran bahan organik terhadap sifat kimia tanah adalah meningkatkan kapasitas tukar kation sehingga mempengarui serapan hara oleh tanaman (Gaur, 1980).

Beberapa studi tlah dilakukan terkait manfaat kompos bagi tanah dan pertumbuhan tanaman. Penelitian (Abdurohim, 2008), menunjukkan  bahwa kompos memberikan peningkatan kadar  kalium pada tanah lebih tinggi dari pada kalium yang disediakan pupuk  NPK, namun kadar fosfor tidak menunjukan perbedaan yang nyata dengan NPK. Hal ini menyebabkan pertumbuhan tanaman yang ditelitinya ketika itu, caisin (Brassica oleracea),  menjadi lebih baik dibandingkan dengan NPK.

2.5.       Faktor yang mempengarui pembuatan kompos

Menurut (Djuarnani, Dkk, 2005) agar  dapat memperoleh hasil  pengomposan yang optimal perlu memperhatikan beberapa factor lingkungan yang berpengaruh karena proses ini merupakan proses biologi. Faktor yang memperngarui laju pengomposan antara lain :

  1. Ukuran bahan

Proses pengomposan akan lebih cepat jika bahan mentahnya memiliki ukuran bahan yang lebih kecil. Karena itu bahan yang berukuran perlu dicincang atau digiling terlebih dahulu sehingga ukurannya menjadi lebih kecil.

  1. Rasio C/N

Rasio C / N merupakan factor paling penting dalam proses pengomposan. Hal ini disebabkan proses pengomposan tergantung dari kegiatan mikroorganisme yang membutuhkan  karbon sebagai sumber energi dan pembentukan sel. Besarnya nilai rasio C/N tergantung dari jenis sampah. (Murbandono, 2000)

 

Tabel 2.1. Rasio C/N berbagai jenis sampah

No                                      Bahan                                                  C/N

___________________________________________________________________

  1. Kayu (tergantung jenis dan Umumnya)                                   200 : 400
  2. Pangkasan pohon (tergantung jenis dan umumnya)                   15 :   60
  3. Jerami padi                                                                                 50 :   70
  4. Daun kering                                                                                50 :   1+
  5. Daun segar (sisa tergantung jenisnya)                                        10 :   20
  6. Kotoran sapi                                                                               20 :     1
  7. Kotoran Kuda                                                                            25 :     1
  8. Kotoran unggas                                                                          10 :     1
  9. Kertas Koran                                                                            50 -200 : 1
  1. Kelembaban

Idealnya, kadar air bahan mentah 50 – 70 %. Jika tumpukan kompos kurang mengandung air,  bahan akan bercendawan atau berjamur. Hal ini akan merugikan, karena proses penguraian bahan berlangsung lambat dan tidak sempurna.

  1. Suhu

Proses pengomposan berlangsung optimum  pada suhu 30 45⁰ C

  1. PH

Derajat keasaman (PH) bahan baku kompos di harapkan berkisar 6,8 – 8⁰ C. Agar proses penguraian berlangsung cepat, PH dalam tumpukan kompos tidak boleh terlalu rendah (asam).

  1. Effektive microorganism (EM)

Effektive microorganism (EM) merupakan  sumber bakteri yang banyak digunakan di dalam proses pembuatan kompos. Media ini akan membantu pembuatan kompos menjadi lebih singkat, mudah dan berkualitas lebih baik.

2.6.       EM (Effektive mikroorganisme)

2.6.1. Pengertian effektive mikroorganisme

Saat ini  masyarakat menaruh minat besar terhadap bahan pangan organik, karena dalam proses produksinya, bahan tersebut terbebas dari bahan kimia berbahaya. Untuk dapat  memproduksi bahan pangan organic, mutlak harus menggunakan bahan alami sejak dari tahap awal suatu proses produksi. Semua bahan pangan berasal dari tanah, sehingga tanah harus bebas dari bahan-bahan kimia berbahaya. Dalam proses bahan produksi bahan pangan organic, diperlukan pupuk organic dan pestisida organic yang keberadaanya sangat dipengarui oleh ilmuwan asal jepang berna Teuro Higa.

Pada tahun 1970, Teuro Higa ditunjuk sebagai dosen, karir Higa terus menanjak, dia meraih posisi sebagai asisten professor di tahun 1972. Sumbangsih Teuro Higa dalam dunia penelitian pertanian organic, mengantarkan dia mendapat gelar professor holtikultura melalui salah satu  penelitiannya, Teuro Higa menemukan metode ilmiah untuk meningkatkan kualitas tanah dan pertumbuhan tanaman dengan menggunakan campuran berbagai mikroorganisme yang umumnya terdiri dari bakteri asam laktat (lactic acid bacteria), purple bacteria dan ragi (yeast). Teuro Higa menambakan metodenya dengan teknologi effective microorganism (EM) sekaligus menjadi hak paten atas penemuannya itu.

Indonesia juga mampu memanfaatkan teknologi EM dengan cara yang unik yaitu dengan mengintergrasikan aspek lingkungan dengan parawisata. Sebagian besar penduduk menggunakan EM dalam produksi tanaman pangan, buah-buahan dan ternak kultur EM tidak  mengandung suatu mikroorganisme asing. EM terbuat dari kultur campuran spesies mikroorganisme alami yang terdapat dalam lingkungan alam dimanapun.  EM bukan hasil rekayasa genetic. Mikroorganisme yang terdapat di EM yang dipasarkan di Indonesia, adalah jenis mikroorganisme alami yang ada dan hidup di Indonesia.

2.6.2. Cara kerja effective mikroorganisme (EM)

Cara kerja EM telah dipublikasikan secara ilmiah yang menunjukan bahwa EM dapat :

  1. Menekan pertumbuhan pathogen tanah
  2. Mempercepat fermentasi limbah dan sampah organik
  3. Meningkatkan ketersediaan nutrisi dan senyawa organik pada tanaman
  4. Meningkatkan aktivitas mikroorganisme indegenus yang menguntungkan seperti ; Mycorhiza, Rgizobium, bakteri pelarut, fosfat, dll.
  5. Memfiksasi nitrogen
  6. Mengurangi kebutuhan pupuk dan pestisida kimia

Dengan cara tersebut  EM dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme pathogen yang selalu merupakan masalah pada budidaya monokultur dan budidaya tanaman sejenis secara terus menerus (continuous cropping). EM mempermentasikan sisa-sisa makanan dan kulit udang dan ikan pada tanah dasar tambak, sehingga gas beracun (metan, dan H2S, Mercaptan, dll) dan panas pada tanah dasar tambak menjadi hilang, untuk selanjutnya udang/ikan dapat hidup dengan baik. Dengan cara yang sama EM juga  memfermentasikan limbah dan kotoran ternak, hingga lingkungan kandang menjadi tidak bau, ternak tidak mengalami stress sehingga nafsu makannya meningkat. EM yang diminumkan dengan dosis 1 : 1000 pada minuman ternak, hidup dalam usus ternak, berfungsi untuk menekan populasi mikroorganisme pathogen di dalam usus sehingga ternak menjadi sehat. EM juga dapat diaplikasikan pada seluruh permukaan tubuh tanaman. Hasil  penelitian menunjukan bahwa penyemprotan EM pada permukaan daun dapat meningkatkan aktivitas fotosintesa tanaman dan menekan pertumbuhan pathogen yang terdapat pada permukaan tanaman. EM tidak merusak lingkungan walaupun diaplikasikan dalam dosis yang tinggi secara kontinyu, karena EM bukan merupakan mikroorganisme asing dan secara alamiah sudah terdapat di dalam tanah. Populasi EM di alam akan diseimbangkan sesuai dengan lingkungan (bahan organic, air, suhu, O2,dll) yang tersedia di dalam tanah. Penelitian tentang EM telah dilakukan pada beberapa jenis  tanaman dan tanah dalam kondisi agro ekologi yang berbeda-beda. Haislnya menunjukan bahwa EM memberikan  respon yang positif terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman serta dapat memperbaiki sifat fisik,kimia dan biologis tanah.

Seperti yang diterangkan sebelumnya, EM merupakan larutan yang berisi beberapa mikroorganisme yang sangat bermanfaat. Untuk memproses bahan limbah menjadi kompos dengan proses yang lebih cepat  dibandingkan dengn pengolahan limbah secara tradisional. (Djuarnini,dkk, 2005).

 

2.7.Keunggulan Kompos

Pupuk organik atau kompos memlilki beberapa keunggulan dibandingkan dengan pupuk anorganik. Berikut beberapa perbedaan antara pupuk organik atau kompos dan pupuk anorganik.

2.7.1. Sifat kompos atau pupuk organik

a. Mengandung unsur hara mikro dan makro lengkap walaupun jumlahnya sedikit

b. Dapat memperbaiki struktur tanah dengan cara sebagai berikut :

1. Menggemburkan dan meningkatkan ketersediaan tanah

2. Meningkatkan daya serap tanah terhadap air dan zat hara

3.Memperbaiki kehidupan mikroorganisme di dalam tanah dengan cara menyediakan bahan makanan bagi mikroorganisme

4. memperbaiki drainase dan tata udara di dalam tanah

  1. Beberapa tanaman yang menggunakan kompos lebih tahan terhadap serangan penyakit.

2.7.2. Sifat pupuk anorganik

a. Hanya mengandung satu atau beberapa unsur hara, tetapi dalam jumlah banyak

b. Tidak dapat memperbaiki struktur tanah, tetapi justru penggunaan dalam jangka waktu panjang dapat membuat tanah menjadi keras.

c. Sering membuat tanaman manja sehingga rentan terhadap penyakit.

Bahan organik yang masuk ke dalam pembuatan kompos adalah sisa-sisa bahan makanana yang mengandung lemak, antara lain sisa-sisa daging,  tulang, dan duri ikan. Lemak dapat mengganggu proses fermentasi oleh bakteri, sedangkan sisa daging dan duri ikan akan menimbulkan aroma yang lebih menyengat dibandingkan dengan bahan lainnya. (Bagus, 2007).

2.7.3. Ciri-ciri kompos yang sudah matang

a. Bewarna coklat kehitaman

b. Jika dicium tidak berbau

c. Struktur remah

d. Kandungana bahan yang halus tinggi

2.8.Komposter

Di  pasaran, banyak beredar jenis dan model komposter. Komposter merupakan tempat untuk pengolahan kompos. Untuk pengolahan  skala rumah tangga, komposter dapat dibuat dari bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar rumah, minsalnya, dibuat di drum,tong,ember, atau kaleng cat yang dimodifikasi dan diberi putaran sebagai alat pengaduknya. Lubang-lubang udara di komposter membantu proses pengomposan aerob dengan baik dan mempercepat proses penguraian sampah. Selain itu komposter juga mampu menjaga kelembaban dan temperature, sehingga bakteri dan mikroorganisme dapat bekerja mengurai bahan organik secara optimal.

BAB III

ISI DAN PEMBAHASAN

3.1.Mengolah  sampah menjadi kompos

3.1.1        Alat dan bahan

  1. Alat yang digunakan dalam penelitian ini :
    1. Komposter berdiamter 0,5 m 5 buah
    2. Pipa paralon ½ inci dengan panjang 30 cm sebanyak 10 buah
    3. Baskom
    4. Kompor
    5. Blender atau parutan
    6. Kawat kasa
    7. Besi batangan ukuran 8 ml sebnayk 5 buah
    8. Bahan EM yang digunakan :
      1. Susu sapi murni 2 liter
      2. Isi perut (lambung) sapi 0,5 kg
      3. Gula pasir satu kilogram
      4. Bakatul satu kilogram
      5. Nanas satu buah
      6. Terasi ½ kilogram
      7. Air bersih 10 liter

3.1.2.      Cara membuat EM

  1. Haluskan buah nanas menggunakan parutan atau blender, campurkan dengan gula pasir, bekatul, terasi dan air bersih di dalam panci, masak hingga mendidih, lalu dinginkan.
  2. Tambakan susu sapi murni dan isi lambung sapi, aduk hingga tercampur rata.
  3. Tutup panci rapat-rapat selama dua belas jam atau satu hari
  4. Pembuatan EM dianggap berhasil apabila muncul gelembung di permukaan bahan

3.2.      Komposter

Komposter yang digunakan adalah model tungku.

Cara membuatnya :

  1. Kawat kasa di potong berbentuk lingkaran
  2. Kawat kasa yang telah dibentuk dietakkan di dalam tong di ikat dengan kawat
  3. Besi batangan dibentuk seperti spiral
  4. Kemudian diletakkan di tengah tong, kemudian bagian pinggir tong dilubangi untuk mengaitkan besi yang telah berbentuk spiral
  5. Lubangi bagian bawah tong dengan ukuran 10 x 10 cm
  6. Lubangi bagian penutup huna meletakkan pipa yang telah di potong
  7. Komposter siap digunakan

3.2.1.      Langkah-langka pengomposan

  1. Persiapan alat dan bahan
  2. Pisahkan sampah rumah tangga yang organik dan  nonorganik
  3. Masukkan sampah organik ke dalam masing-masing komposter sebanyak 10 kilogram
  4. Masukan larutan EM kedalam masing-masing komposter
    1. Pada komposter pertama tidak ada penambahan EM
    2. Pada komposter kedua tambahkan EM sebnyak 12,5 ml
    3. Pada komposter ketiga tambahan EM sebanyak 25 ml
    4. Pada komposter keempat tambahkan EM sebanyak 37,5 ml
    5. Pada komposter kelima tambahkan EM sebanyak 50 ml
    6. Kemudian tutup kompster yang sudah deberi larutan EM dan yang tidak diberi laruran EM
    7. Lakukan pengamatan pada saat kompos matang
    8. Selama pengamatan untuk mencegah kekeringan sampah harus diaduk atau dibolak-balik secara berkala setiap sehari selama dua minggu
    9. Catat hasil pengamatan, hasil pengamatan adalah mana yang lebih cepat terbentuknya kompos setelah diberi larutan EM dengan yang tidak diberi larutan EM.

3.2.2.      Ciri-ciri kompos yang sudah matang

  1. Bewarna coklat kehitaman
  2. Jika dicium tidak berbau
  3. Strukturnya remah
  4. Kandungan bahan yang halus tingi

Untuk memproleh hasil pengomposan yang optimal perlu memperhatikan beberapa factor lingkungan yang berpengaruh karena proses ini merupakan proses biologi. Faktor  yang mempengarui laju pengomposan antara lain :

  1. Ukuran bahan

Proses pengomposan akan lebih cepat jika bahan mentahnya memiliki ukuran bahan yang lebih kecil. Karena itu bahan yang berukuran perlu dicincang atau digiling terlebih dahulu sehingga ukurannya menjadi lebih kecil.

  1. Rasio C/N

Rasio C / N merupakan factor paling penting dalam proses pengomposan. Hal ini disebabkan proses pengomposan tergantung dari kegiatan mikroorganisme yang membutuhkan  karbon sebagai sumber energi dan pembentukan sel. Besarnya nilai rasio C/N tergantung dari jenis sampah.

  1. Kelembaban

Idealnya, kadar air bahan mentah 50 – 70 %. Jika tumpukan kompos kurang mengandung air,  bahan akan bercendawan atau berjamur. Hal ini akan merugikan, karena proses penguraian bahan berlangsung lambat dan tidak sempurna.

  1. Suhu

Proses pengomposan berlangsung optimum  pada suhu 30 45⁰ C

  1. PH

Derajat keasaman (PH) bahan baku kompos di harapkan berkisar 6,8 – 8⁰ C. Agar proses penguraian berlangsung cepat, PH dalam tumpukan kompos tidak boleh terlalu rendah (asam).

  1. Effektive microorganisme (EM)

Effektive microorganisme (EM) merupakan  sumber bakteri yang banyak digunakan di dalam proses pembuatan kompos. Media ini akan membantu pembuatan kompos menjadi lebih singkat, mudah dan berkualitas lebih baik, karena jika pada waktu pengomposan  diberikan penambahan EM dengan dosis yang berbeda dan tanpa penambahan EM  maka perbandingan waktu yang dibutuhkan untuk mengurai sampah menjadi kompos  cukup besar, ini terjadi karena EM memiliki kandungan mikroorganisme yang sangat banyak, diantaranya

yang sering digunakan untuk fermentasi bahan-bahan organic adalah bakteri Streptomyces, ragi (yeast), lactobacillus, dan bakteri fotosintetik. EM dapat dibuat dari bahan-bahan yang mengandung mikroorganisme pengurai, antara lain isi perut binatang seperti kambing, sapi yang berupa rumput-rumpuatan atau makanan lain yang sudah dicerna oleh lambung heawn tersebut, selain itu dibutuhkan juga susu, terasi dan bahan-bahan pelengkap lain, setelah difermentasikan bahan-bahan ini akan menjadi starter bagi hijauan segar.

BAB IV

SIMPULAN

4.1.Kesimpulan

      Setelah dilakukan kajian tiori terhadap pokok permasalahan  sebagaimana dikemukakan  sebelumnya, dapat dimabil suatu kesimpulan :

  1. Untuk menjaga kelestarian lingkungan agar tetap sehat dan bebas dari masalah sampah, dimulai dengan menerapkan sanitasi yang baik diantaranya membuang sampah menjadi mengolah sampah menjadi kompos. Mengolah sampah organik komos merupakan proses alami yang disebabkan oleh mikroorganisme yang ada didalam sampah . Kompos adalah produk dari pengomposan, yaitu cara untuk mengkonversikan bahan-bahan organik menjadi bahan yang telah dirombak lebih sederhana dengan menggunakan aktifitas mikrobakteria, semacam perombakan yang terjadi pada bahan organik dalam tanah oleh bakteri tanah dengan Effektive Microorganisme (EM) sebagai  sumber bakteri yang banyak digunakan di dalam proses pembuatan kompos. Media ini akan membantu pembuatan kompos menjadi lebih singkat, mudah dan berkualitas lebih baik.
  2. Pentingnya memperhatikan faktor-faktor  yang mempengarui  pembentukan kompos seperti bahan baku, rasio C/N, Kelembaban, Suhu, dan Efektif Mikroorganisme.
    1. Proses pembuatan kompos diperlukan alat yang biasanya disebut komposter. Hasil olahan kompos  dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi tanaman.
    2. Pembuatan kompos  dengan penambahan  EM lebih cepat  dalam proses pembentukan kompos dibandingkan tanpa penambahan EM.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurohim, Oim.2008. Pengaruh kompos terhadap ketersediaan hara dan produksi tanaman caisin pada tanah latosol dari gunung sindur, sebuah skripsi. Dalam IPB Repository (http://repository.ipb.ac.id), diunduh 13 Juni 2010.

Djuarnani,dkk, 2005. Cara cepat membuat kompos. Agromedia Pustaka. Jakarta Selatan

Gaur,D.C.1980. Present status of composting and agricultural aspect, in : Hesse, P.R (ed). Improving soil fertility through recycling, compost technology. FAO of united nation. New Delhi.

Harianto, Bagus, 2007. Cara praktis membuat kompos. Agromedia. Jakarta Selatan.

Hadiwijoto,S, 1999. Penanganan dan pemanfaatan sam,pah. Yayasan Iadayu. Jakarta

Hadiwijoto,S, 1990. Penanganan dan pemanfaatan sampah.  Yayasan Idayu. Jakarta

Jehansyah, 1999. Peduli lingkungan dengan daur ulang.  Seminar Nasional Teknik Kesehatan Lingkungan. Laboratorium Higine Industri dan Toksikolgi. Jurusan Teknik Lingkungan ITB. Bandung.

Kastaman, R. 2007. Sistem Pengelolaan raktor sampah terpadu. Humaniora. Bandung.

Mochtar, 1997. Petunjuk pelaksanaan pengawasan pengendalian dampak sampah (Aspek kesehatan lingkungan). Jakarta.

Murbandono, 2000. Membuat kompos. Penebar Swadaya. Jakarta

Mukono, 2002.  Efidemiologi lingkungan, Airlangga University Press. Surabaya.

Notoadmojo,Soekidjo. 2007. Kesehatan masyarakat ilmu dan seni. PT. Rineka Cipta. Jakarta.

Slamet,J.S 2000. Kesehatan lingkungan .  Gajah Mada University Pers.  Jogjakarta.

Saeni,M.S dan I.diah.2003. Pengolahan limbah. Bahan Kuliah  Pengolahan Limbah. : Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor.

Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang pengelolaan sampah

 

 

6 Responses to “EFEKTIFITAS EFFECTIVE MICROORGANISME (EM) DALAM MEMPERCEPAT PROSES PENGOMPOSAN SAMPAH ORGANIK”

  1. Mas/Mbak, punya referensikah bagaimana cara memperoleh pupuk mikroorganisme yang murah? bisa jadi buat tambahan di rumah. makasih sebelumnya

  2. Lezita Malianti PSDAL 18 Says:

    Pembuatan em4 bisa dengan memanfaatkan hasil pertanian yanga berada disekitar rumah..dengan menggunakan pepaya,pisang,Nanas Dan kacang panjang semua bahan dibelender ditambahkan air kemudian ditambahkan gula pasir dan ragi tape

  3. dodi haryono Says:

    pemanfaatan EM dalam pembuatan pupuk organik sangat membantu, keberhasilan pembuatan pupuk organik sangat ditentukan oleh mikroorganisme yang membantu dalam penguraian bahan organik tersebut sehingga dapat dipakai sebagai pupuk bagi tumbuhan.

  4. dodi haryono Says:

    pemakaian pupuk organik / pupuk kompos sangat baik bagi perbaikan struktur tanah, namun yang menjadi persoalan pemakaian pupuk ini belum begitu memasyarakat, dimana masyarakat petani masih lebih senang memakai pupuk kimia yang memiliki reaksi yang lebih cepat terhadap tanaman.

  5. mungkin bisa dibuat tulisan penggunaan Tricoderma untuk pengomposan, hasil komposnya untuk pemupukan sekaligus untuk mencegah jamur fusarium, phytium pada tanaman


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s