JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

PERAN MIKORIZA DAN FAUNA DALAM REHABILITASI LAHAN TERDEGRADASI (LAHAN PASCA TAMBANG) December 19, 2011

Filed under: lingkungan — Urip Santoso @ 11:02 pm
Tags: , , ,

Oleh: Devi Susanti

Abstrak

Ulah manusia atau proses kegiatan alam banyak berdampak negative terhadap kapasitas lahan, sehingga lahan tersebut tidak dapat berfungsi secara efektif di dalam suatu ekosistem. Kegiatan pertambangan batubara merupakan suatu kegiatan yang potensial di Indoneisa dan tidak dapat dipisahkan dari sistem ekonomi nasional. Namun kegiatan ini mempunyai dua sisi yang saling berlawanan, sebagai sumber ekonomi dan perusak lingkungan. Upaya perbaikan lahan bekas tambang batubara di Indonesia mungkin telah banyak dilakukan masyarakat dan pemerintah, Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil yang optimal. Filosofi dasar yang dianut untuk memperbaiki ekosistem yang terdegradasi adalah kembali ke alam (back to nature) dan ramah terhadap lingkungan. Prinsip kembali kepada alam berupa pemanfaatan kekayaan mikoriza sebagai salah satu mikroorganisme yang bermanfaat serta menggunakannya kembali. Selain itu, juga dapat digunakan jenis-jenis fauna telah diseleksi sebagai pendekomposisi yang ramah lingkungan.

Pendahuluan

Degradasi lahan merupakan sebuah proses yang diakibatkan oleh ulah manusia atau alam yang berdampak negative terhadap kapasitas lahan untuk dapat berfungsi secara efektif di dalam suatu ekosistem (Nawir, 2008). Indonesia merupakan bagian dari ekosistem tropika basah yang tergolong sangat rentan terhadap degradasi jika pengelolaannya tidak tepat. Kegiatan pertambangan batubara merupakan suatu kegiatan yang potensial di Indoneisa dan tidak dapat dipisahkan dari sistem ekonomi nasional. Namun kegiatan ini mempunyai dua sisi yang saling berlawanan, sebagai sumber ekonomi dan perusak lingkungan. Tanah bekas tambang batubara menjadi tidak dapat ditanami dan dapat menimbulkan resiko bencana alam serta bentuk degredasi lingkungan lainnya (Siregar, 2009).

Untuk mengurangi dampak negatif dari lahan terdegradasi pasca tambang, maka pengembalian produktivitas lahan bekas tambang yang pada umumnya dalam kondisi rusak berat harus dilakukan upaya perbaikan lahan (direklamasi). Selain itu, reklamasi juga diperlukan karena pertambahan penduduk dan sebagai etika konservasi (Ferdinand, 2005). Reklamasi harus sudah diperhitungkan pada lahan terdegradasi seperti dalam kegiatan pasca tambang, sehingga areal bekas penambangan tidak ditinggalkan begitu saja dalam keadaan rusak. Sebelum kegiatan revegetasi dilakukan terlebih dahulu dilakukan penataan lahan agar siap untuk ditanami (Ernawati, 2008).

Negara Indonesia sebagai salah satu negara yang sebagian wilayahnya telah rusak akibat penambangan batubara, masih minim melakukan upaya reklamasi. Di Kalimantan Selatan, hanya sekitar 30% dari total lahan bekas tambang batubara yang seharusnya direklamasi. Lahan yang dibuka perusahaan pertambangan batubara seluas 3.446 hektar, namun hanya 1.274 hektar yang sudah direklamasi (Siregar, 2009).

Upaya perbaikan lahan bekas tambang batubara di Indonesia mungkin telah banyak dilakukan masyarakat dan pemerintah, seperti penanaman sejumlah pohon akasia. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil yang optimal. Salah satu metode untuk mengembalikan kondisi lingkungan dengan cara mengeliminasi kontaminan yaitu dengan pemanfaatan mikroorganisme seperti fungi atau jamur yang ramah lingkungan (Widyati, 2007).

Terhadap lahan yang terdegradasi diperlukan suatu tindakan rehabilitasi dengan perbaikan sifat kimia dan biologi tanah. Pemberian bahan organik jerami atau mucuna sebanyak 10 Mg/ha dapat memperbaiki sifat-sifat tanah, yaitu meningkatkan aktivitas mikroba  (Andriani, E.    2009). Kemampuan mikroorganisme dalam mendekomposisi polutan telah banyak dicoba secara luas baik berupa bakteri dan jamur. Imanudin (2010) menyatakan bahwa masalah logam berat yang banyak terdapat di lahan bekas tambang dan berbahaya bagi manusia, dengan memanfaatkan mikroorganisme yang mampu mengurainya dapat dilakukan sebagai upaya mencegah degradasi lingkungan atau pencemaran tanah.

Filosofi dasar yang dianut untuk memperbaiki ekosistem yang terdegradasi adalah kembali ke alam (back to nature) dan ramah terhadap lingkungan. Prinsip kembali kepada alam berupa pemanfaatan kekayaan mikoriza sebagai salah satu mikroorganisme bermanfaat serta menggunakannya kembali mikoriza dan fauna telah diseleksi dan diinokulasi kembali ke bibit tanaman untuk rehabilitasi lahan terdegradasi.

Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah:

  1. Mengetahui pemanfaatan mikoriza dalam rehabilitasi lahan terdegradasi
  2. Mengetahui cara aplikasi mikoriza
  3. Mengetahui pemanfaatan mikroorganisme pada lahan bekas tambang batubara
  4. Mengetahui peran satwa dalam proses reklamasi lahan tambang
  5. Mengetahui Fauna tanah dalam rehabilitasi lahan
  6. Mengetahui bagaimana membentuk komunitas fauna
  7. Mengetahui bagaimana membangun habitat fauna
  8. Mengetahui pemantauan dan pemeliharaan mikoriza dan fauna dalam rehabilitasi lahan

Mikoriza Dalam Rehabilitasi Lahan Terdegradasi

Saat ini beberapa jenis fungi telah dimanfaatkan untuk mengembalikan kualitas atau kesuburan tanah. Hal ini karena secara umum fungi mampu menguraikan bahan organik dan membantu proses mineralisasi di dalam tanah, sehingga mineral yang dilepas akan diambil oleh tanaman. Beberapa fungi juga mampu membentuk asosiasi ektotropik dalam sistem perakaran pohon-pohon hutan yang dapat membantu memindahkan fosfor dan nitrogen dalam tanah ke dalam tubuh tanaman, seperti mikoriza yang bersimbiosis mutualisme dengan tanaman (Faad et al., 2010).

Mikoriza berperan dalam rantai makanan di rizosfer akar dan memacu pertumbuhan hampir semua jenis tanaman di hutan tropika Indonesia, sehingga  hutan tropika kaya akan nutrisi. Dengan fenomena alam ini menjelaskan bahwa mikoriza termasuk dalam rantai makanan ekosistem pemasok makanan dan turut membesarkan pohon-pohon raksasa di hutan tropis Indonesia. Selanjutnya hasil penelitian, hampir satu abad lebih menjadi inspirasi peneliti di bidang mikrobiologi hutan, bagaimana teknologi mikoriza turut memberikan andil menjadi input teknologi dalam mempercepat pertumbuhan pohon dan merehabilitasi lahan hutan terdegradasi akibat pembukaan hutan untuk kegiatan pertambangan, illegal logging, dan kebakaran hutan. Teknologi mikoriza merupakan terknologi pemanfaatan jenis-jenis cendawan yang hidup dalam jaringan korteks akar atau sering disebut cendawan mikoriza dan keberadaannya sangat berlimpah di lantai-lantai hutan tropis Indonesia.

Pada saat ini introduksi mikoriza merupakan teknologi yang tidak bisa ditawar lagi untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan terdegradasi di Indonesia. Kendala utama yang dihadapi dalam kegiatan rehabilitasi lahan adalah rendahnya unsur hara, toksisitas aluminium, fiksasi P yang tinggi, pH sangat asam, dan rendahnya bahan organik. Penggunaan mikoriza akan bermanfaat apabila telah diketahui tingkat efektivitas jenis mikoriza yang terbentuk pada setiap jenis pohon yang akan diproduksi.

Kendala utama yang dihadapi dalam kegiatan rehabilitasi lahan adalah rendahnya unsur hara, toksisitas aluminium, fiksasi P yang tinggi, pH sangat asam, dan rendahnya bahan organik, seperti yang terdapat pada lahan pasca tambang batubara (Santoso et al., 2006). Unsur fosfat (P) adalah unsur esensial kedua setelah N yang ber­peran penting dalam fotosintesis dan perkembangan akar. Salah satu alternatif untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat dalam rehabilitasi habitat adalah penggunaan mikoriza. Fungi Mikoriza Arbuskulu (FMA) yang berperan dalam penyerapan unsur hara fosfor yang tidak dapat diserap oleh tanaman karena diikat oleh Fe dan Al, melalui bantuan enzim alkalin fosfat yang dihasilkan oleh FMA. Menurut Karyaningsih (2009), Ketahanan tanaman terhadap patogen akar akan meningkat dengan adanya lapisan hifa mikoriza yang merupakan pelindung fisik masuknya patogen. Dalam proses kolonisasinya cendawan ini akan melepaskan antibiotik mematikan selain itu pula semua hasil eksudat tanaman yang dikeluarkan akan dimanfaatkan sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi patogen.

Cendawan mikoriza arbuskula (CMA) merupakan suatu bentuk asosiasi cendawan dengan akar tanaman tingkat tinggi. Kemampuan asosiasi tanaman- CMA ini memungkinkan tanaman memperoleh hara dan air yang cukup pada kondisi lingkungan yang miskin unsur hara dan kering, perlindungan terhadap patogen tanah maupun unsur beracun, dan secara tidak langsung melalui perbaikan struktur tanah.

Hal ini dimungkinkan karena CMA mempunyai kemampuan menyerap hara dan air lebih tinggi dibanding akar tanaman. Keunggulan kemampuan CMA dalam pengambilan hara, terutama hara yang bersifat tidak mobil seperti P, Zn, dan Cu, disebabkan CMA memiliki struktur hifa yang mampu menjelajah daerah di antara partikel tanah, melampaui jarak yang dapat dicapai akar (rambut akar), kecepatan translokasi hara enam kali kecepatan rambut akar, dan nilai ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap CMA lebih rendah (setengah ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap akar). CMA secara tidak langsung juga dapat meningkatkan ketersediaan P-tanah melalui produksi enzim fosfatase oleh akartanaman. CMA juga berperan dalam membantu pemenuhan kebutuhan air pada saat kekeringan karena bertambahnya luas permukaan penyerapan air oleh hifa eksternal.

Satu spesies CMA dapat berasosiasi dengan berbagai tanaman sehingga satu macam CMA dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Pada saat ini telah dihasilkan berbagai inokulan CMA,umumnya dari spesies Glomus, Gigaspora, dan Acaulospora (Nursanti  et al, . 2009).

Aplikasi mikoriza

Untuk memacu pertumbuhan pohon di persemaian dan lapangan, diperlukan pemahaman kondisi biologi di sekitar sistem perakaran beserta interaksi biogeokimia dalam proses penyerapan unsur hara oleh tanaman. Cendawan mikoriza merupakan mikroba penting dalam ekosistem hutan. Bagian tubuh cendawan mikoriza yang cocok dengan inang dapat dimanfaatkan dalam bentuk produk inokulum. Cendawan mikoriza merupakan salah satu alternatif teknologi rehabilitasi hutan dan lahan terdegradasi yang dapat diterapkan di Indonesia. Aplikasi cendawan mikoriza dimungkinkan dengan cara memanfaatkan cendawan mikoriza lokal yang cocok dengan inang (pohon) yang akan diintroduksi dalam skala besar. Bibit bermikoriza lebih tahan kering daripada bibit yang tidak bermikoriza. Kekeringan yang menyebabkan rusaknya jaringan korteks, kemudian matinya perakaran, pengaruhnya tidak akan permanen pada akar yang bermikoriza. Akar bermikoriza akan cepat pulih kembali setelah periode kekurangan air berlalu. Hifa cendawan masih mampu menyerap air pada pori-pori tanah pada saat akar bibit sudah tidak mampu lagi. Selain itu penyebaran hifa di dalam tanah sangat luas, sehingga dapat memanen air relatif lebih banyak. Sebagai contoh Pinus merkusii yang banyak ditanam di Indonesia sejak awal merupakan salah satu jenis tanaman cepat tumbuh yang pertumbuhannya sangat memerlukan mikoriza, maka untuk meningkatkan keberhasilan penanaman P. merkusii di lapangan, dibutuhkan bibit dengan mikoriza pada perakarannya. Begitu juga penanaman jenis-jenis Dipterocarpaceae (terutama jenis-jenis meranti di Jawa Barat) memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap cendawan ektomikoriza,

Pemanfaatan mikroorganisme pada lahan bekas tambang batubara

Upaya untuk memperbaiki kondisi lingkungan lahan terdegradasi tersebut telah dilakukan. Salah satu teknologi alternatif untuk tujuan tersebut adalah melalui bioremediasi. Bioremediasi didefinisikan sebagai proses penguraian limbah organik/anorganik polutann secara biologi dalam kondisi terkendali. Penguraian senyawa kontaminan ini umumny melibatkan mikroorganisme (khamir, fungi, dan bakteri). Pendekatan umum yang dilakukan untuk meningkatkan biodegradasi adalah dengan cara: (i) menggunakan mikroba indigenous (bioremediasi instrinsik), (ii) memodifikasi lingkungan dengan penambahan nutrisi dan aerasi (biostimulasi), (iii) penambahan mikroorganisme (bioaugmentasi) ( Goenadi et al.,  2003).

Reklamasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki lahan pasca penambangan. Reklamasi adalah kegiatan pengelolaan tanah yang mencakup perbaikan kondisi fisik tanah overburden agar tidak terjadi longsor, pembuatan waduk untuk perbaikan kualitas air masam tambang yang beracun, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan revegetasi. Revegetasi sendiri bertujuan untuk memulihkan kondisi fisik, kimia dan biologis tanah tersebut. Namun upaya perbaikan dengan cara ini masih dirasakan kurang efektif, hal ini karena tanaman secara umum kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan ekstrim, termasuk bekas lahan tambang. Oleh karena itu aplikasi lain untuk memperbaiki lahan bekas tambang perlu dilakukan, salah satunya dengan mikroorganisme (Mursyidin, 2009).

Peran satwa dalam proses reklamasi lahan tambang

Peran satwa dalam proses reklamasi lahan bekas tambang membantu mempercepat proses suksesi sehingga diperlukana penanaman jenis tanaman buah yang berfungsi sebagai fasilitator munculnya burung. Jika burung telah masuk ke dalam habitat, hal ini akan lebih mempercepat regenerasi hutan. Dimana burung akan memakan buah-buahan tersebut dan melepaskan kotoran ke lantai hutan. Kotoran burung akan mengundang mikroba untuk mempercepat proses dekomposer di tanah. Disamping itu burung juga akan menjadi pollinator, dimana melalui kotorannya biji akan keluar dan mudah untuk berkecambah. Spesies yang di tanam haruslah simbiosis mutualisme agar proses suksesi berjalan dengan cepat. Satwa juga berperan penting dalam kegiatan penyerbukan dan penyebaran benih tanaman dalam suatu ekosistem.

Ada beberapa jenis pohon yang dapat mengundang burung ke dalam suatu ekosistem yaitu pohon beringin (Ficus benjamina), salam (Eugenia polyanta), melastoma (Melastoma malabathricum), macaranga (Macaranga mappa), mallotus (Mallotus Spp) dan trema. Pohon-pohon ini mempunyai buah yang di sukai oleh burung sebagai sumber makanan. Sedangkan untuk habitat burung biasanya adalah pohon-pohon bercabang sejajar seperti pulai (Alstonia scholaris).

Pohon yang disukai burung biasanya mempunyai karakter daun lunak yang cepat terdekomposisi dan mengandung nitrogen yang tinggi. Pada akhirnya satwa sangat berperan dalam pembentukan struktur hutan, dimana struktur hutan sangat berkaitan erat dengan komposisi jenisnya.

Satwa dengan berbagai macam ukuran adalah bagian yang sangat diperlukan dari sebuah ekosistem hutan. Sebagai factor biotic mereka mempunyai pengaruh yang nyata untuk komposisi komunitas hutan dan berlangsungnya siklus ekosistem. Satwa, dikatakan sangat dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu lingkungan fisik dan oleh tumbuhan dimana tempat mereka berasosiasi.

Tumbuhan menyediakan tempat berlindung dan makanan bagi satwa. Makanan yang dihasilkan dari tumbuhan hijau hasil dari hubungan erat antara tumbuhan-satwa; mereka membentuk rantai makanan. Masing-masing rantai makanan terdiri dari pemakan tumbuhan (herbivore), hewan predator dan parasit makan pada phytopages dan ada juga binatang memakan bangkai hewan dan kotoran. Siklus rantai makanan tumbuhan – satwadilengkapi oleh pengurai (tumbuhan-hewan) menguraikan mineral sampah tumbuhan dan kotoran satwa (Rambey, 2010).

Kombinasi antara fauna yang tinggal di permukaan (epigeik) dan dalam profil tanah (endogeik), semakin memperkaya diversitas fauna tanah, dan semuanya dipengaruhi oleh arsitek vegetasi dan serasah penutup tanah. Perubahan kondisi lingkungan yang disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan menyebabkan perubahan diversitas fauna tanah. Aktivitas dan diversitas biota tanah tergantung faktor biotik dan abiotik (Dewi, 2001).

Fauna tanah, kehidupannya sangat tergantung pada pasokan bahan organik ke dalam tanah. Bahan organik digunakannya sebagai sumber energi dan karbon dalam berbagai aktivitas kehidupannya. Sumber bahan organik tanah yang terutama berasal dari tanaman. Hutan alam merupakan sumber pemasok bahan organik terbesar ke dalam tanah bila dibandingkan dengan jenis penggunaan yang lain. Oleh karena itu penebangan hutan akan mempengaruhi kemelimpahan maupun diversitas fauna tanah. Tipe penggunaan lahan sangat mempengaruhi komposisi dan kelimpahan komunitas makrofauna tanah. Pembukaan hutan menjadi lahan pertanian atau jenis penggunaan yang lain, menyebabkan hilang dan berkurangnya biodiversitas, baik di atas tanah maupun dalam tanah. Oleh karena unsur penyusun tubuh organisme yang utama adalah C, maka penurunan biodiversitas dapat juga dicirikan oleh menurunnya nilai biomassa C. Tebang bakar menyebabkan hilangnya karbon dalam bentuk CO2 ke atmosfer dalam jumlah yang sangat besar. Dilaporkan bahwa pembukaan hutan dengan cara ini, untuk penggunaan lahan pertanian, dapat menurunkan biomassa karbon total sampai dengan 66% dari semula. Terbakarnya hutan menyebabkan hilangnya bahan organik sehingga mepengaruhi fungsi biologi, karena terganggunya proses dekomposisi, pelepasan karbon, agregasi tanah, dan perubahan ukuran dan susunan komunitas biologi. Pembakaran hutan juga menyebabkan perubahan iklim mikro sehingga mempenga-

Soil decomposer (Collembola dan Acarina) mempunyai fungsi ekologi yang dominan. Dari hasil penelitian tersebut secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa diversitas fauna tanah cenderung lebih tinggi pada ladang jagung polikultur dan meningkat sejalan dengan meningkatnya umur tanaman. Perbedaan komunitas fauna tanah diduga berhubungan dengan faktor lingkungan (Dewi, 2001). Dengan demikian suatu langkah rehabilitasi lahan tegradasi adalah dengan penanaman tanaman yang polikultur dan bukan monokultur.

Fauna tanah

Fauna tanah merupakan kelompok organisme yang paling banyak berperan di dalam perkembangan tanah hutan. Ukuran fauna tanah mulai dari besar hingga kecil dengan bentuk yang sederhana, seperti protozoa. Efek aktivitas fauna yang berukuran besar pada tanah hutan sangat minim, kecuali pada padang penggembalaan yang overgrazing dimana vegetasi penutup tanah berkurang atau terjadi perubahan komposisi jenis tumbuhan dan pemadatan tanah serta pengurangan laju infiltrasi yang berakibat terhadap erosi tanah.

Menurut (Unhas, 2011), Adapun jenis-jenis fauna tanah dan peranannya di dalam perkembangan tanah hutan adalah sebagai berikut :

  1. Vertebrata :

Peranan secara rinci :

  1. Membuat liang-liang dalam tanah (mempertinggi imfiltrasi air)
  2. Membantu dekomposisi bahan organik
  3. Mencampur bahan-bahan organik dan anorganik
  4. Membantu mengangkat bahan-bahan organik dan anorganik dari permukaan tanah ke lapisan yang lebih dalam
  5. Aktif dan menunjang terbentuknya mull humus.
  6. Kelemahan : dapat merusak anakan pohon sehingga mempengaruhi suksesi.
  1. Arthropoda

Peranan secara rinci :

  1. Rayap berperan mencampur bahan organik, sehingga dapat meningkatkan stabilitas agregat tanah dan meningkatkan produktivitas tanah
  2. Kelabang berperan mendekomposisi bahan organik dan merupakan predator terhadap binatang tanah lainnya
  3. Kepiting dan lobster membuat lubang-lubang pada tanah mangrove dan memindahkan tanah dari lapisan bawah ke permukaan.
  1. Annelida :

Peranan secara rinci :

  1. Mempercepat dekomposisi sisa-sisa bahan organik
  2. Kotorannya dapat meningkatkan kadar N, P, dan K dalam tanah
  3. Kurang lebih 30 ton/ha/thn material tanah yang dikeluarkan dari dalam tubuhnya
  4. Mencampur bahan organik dengan tanah mineral
  5. Membantu memperbaiki struktur dan aerasi tanah
  6. Mempertinggi infiltrasi air dengan adanya lorong-lorong yang mereka buat di dalam tanah
  7. Membantu terbentuknya humus tanah.
  1. Nematoda

Peranan secara rinci :

  1. Membantu dekomposisci bahan organik
  2. Pengendali populasi dan konsentrasi makanan pada ekosistem hutan.
  3. Rotifers :

Peranan : mensuplai makanan pada algae dan protozoa.

Membentuk komunitas fauna

Jika tujuan rehabilitasi adalah untuk membentuk sebuah ekosistem asli yang berkelanjutan, maka harus turut mempertimbangkan kebutuhan akan habitat fauna. Rekolonisasi spesies fauna ke area rehabilitasi dapat didorong dengan adanya habitat yang sesuai. Pembentukan komunitas vegetasi yang mirip dengan yang ada sebelum penambangan harus memastikan bahwa sebagian besar spesies akan ada kembali (rekolonisasi) seiring waktu. Rekolonisasi fauna secara alami selalu lebih diharapkan daripada memasukkan hewan secara fisik, karena tidak ada biaya yang terlibat dan fauna akan kembali jika habitatnya memenuhi persyaratan yang mereka butuhkan.

Membangun habitat fauna

Pengalaman menunjukkan bahwa beberapa komponen utama dari persyaratan habitat spesies fauna mungkin tidak muncul dalam rehabilitasi selama berpuluh-puluh tahun. Contoh-contoh bagaimana beberapa perusahaan mengatasi kekurangan habitat ini antara lain:

  • Pencangkokan grasstree
  • Konservasi dan penggunaan kembali vegetasi dengan cara setek atau menyebarkannya kembali sebagai mulsa, dahan-dahan untuk memberi perlindungan bagi invertebrata dan reptil, perlindungan erosi dan nutrisi
  • Pembuatan kotak sarang untuk menjadi rumah dan habitat berkembang biak bagi banyak spesies burung dan mamalia
  • Pengembalian pohon-pohon yang telah ditebang, untuk membentuk perlindungan dari kayu tebangan dan timbunan batang kayu, sehingga spesies yang berdiam di dalam tanah dapat berlindung di sana atau di bawahnya

Pemantauan dan pemeliharaan

Pemantauan dan pemeliharaan merupakan komponen penting dari program rehabilitasi yang berhasil baik. Saat melaksanakan rehabilitasi, perincian mengenai operasi rehabilitasi ini harus didokumentasikan dengan seksama. Pencatatan data ini mempunyai dua tujuan. Pertama agar dapat melakukan analisis yang mungkin penting dalam membantu menjelaskan hasil pembangunan awal serta tren arah jangka panjang. Selain itu, informasi ini juga dapat digunakan sebagai daftar yang dapat diaudit, untuk mengkonfirmasi kepada badan yang disepakati telah terpenuhi. Di saat pembangunan rehabilitasi selesai, seharusnya dilaksanakan pemantauan untuk menilai keberhasilan rehabilitasi awal, mengungkapkan kebutuhan untuk tindakan pemulihan dan menentukan apakah rehabilitasi akan dapat memenuhi tujuan jangka panjang dan kriteria (Indra, 2006)

Kesimpulan

Dari uraian dan penjelasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. pemanfaatan mikoriza dalam rehabilitasi lahan terdegradasi didasarkan pada Mikoriza berperan dalam rantai makanan di rizosfer akar dan memacu pertumbuhan hampir semua jenis tanaman di hutan tropika Indonesia.
  2. Aplikasi cendawan mikoriza dimungkinkan dengan cara memanfaatkan cendawan mikoriza lokal yang cocok dengan inang (pohon).
  3. pemanfaatan mikroorganisme pada lahan bekas tambang batubara untuk memulihkan kondisi fisik, kimia dan biologis tanah tersebut tanaman secara umum kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan ekstrim, termasuk bekas lahan tambang.
  4. Peran satwa dalam proses reklamasi lahan tambang adalah membantu mempercepat proses suksesi sehingga diperlukana penanaman jenis tanaman buah yang berfungsi sebagai fasilitator munculnya burung. Jika burung telah masuk ke dalam habitat, hal ini akan lebih mempercepat regenerasi hutan.
  5. Fauna tanah dalam rehabilitasi lahan dapat berupa Vertebrata, Arthropoda, Annelida, Nematoda
  6. Membentuk komunitas fauna Rekolonisasi spesies fauna ke area rehabilitasi dapat didorong dengan adanya habitat yang sesuai.
  7. membangun habitat fauna dapat dilakukan pencangkokan grasstree, konservasi, dan pengembalian pohon-pohon yang telah ditebang
  8. pemantauan dan pemeliharaan mikoriza dan fauna dalam rehabilitasi lahan merupakan komponen penting dari program rehabilitasi yang berhasil baik.

Ucapan Terima Kasih

Syukur Alhamdulillah kita ucapkan kepada Allah SWT. karena dengan rahmat, nikmat dan ridhoNya, makalah ini dapat diselesaikan. Dalam penulisan makalah ini penulis mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Secara khusus ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada: Prof. Ir. Urip Santoso, S.Ikom., M.Sc., Ph.D.

Daftar Pustaka

 Andriani, E.    2009. Lingkungan hidup bumiku, bumimu, bumi kita degradasi tanah. https://uwityangyoyo.wordpress.com/2009/04/12/degradasi-tanah/. 21 April 2011.

Dewi W. S. 2001. Biodiversitas tanah pada berbagai sistem penggunaan lahan. Enviro 1 (2): 16-21, September 2001

Ernawati, R. 2008. Analisis sifat-sifat kimia tanah pada tanah timbunan lahan bekas penambangan batubara. Jurnal Teknologi Technoscientia Vol. 1 No. 1.

Faad, H. dan F. D. Tuheteri. 2010. Mikoriza dan revegetasi lahan pasca tambang. m3sultra.wordpress.com/2010/02/06. 2 Juni 2010.

Ferdinand. 2005. Lahan bekas tambang yang rusak berat harus direklamasi. http://www.apbi-icma.com/news.php?pid=1228&act=detail.  2 Juni 2010.

Goenadi, D. H., dan Isroi. 2003. Aplikasi bioteknologi dalam upaya peningkatan efisiensi agribisnis yang berkelanjutan. Lokakarya Nasional Pendekatan Kehidupan Pedesaan dengan Perkotaan dalam Upaya Membangkitkan Pertanian Progresif, UPN “Veteran” Yogyakarta , 8 – 9 Desember 2003.

Imanudin, T. 2010.  Pemanfaatan mikroorganisme sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi pencemaran logam berat di perairan. katalog.pdii.lipi.go.id/index.php/searchkatalog/…/6889/6890.pdf. (30 mei 2010).

 

 Indra, R. 2006. Rehabilitasi Tambang. Commonwealth of Australia

 Karyaningsih, I. 2009. Pembenah tanah dan fungi mikorhiza arbuskula (FMA) untuk peningkatan kualitas bibit tanaman kehutanan pada areal bekas tambang batubara. Tesis. Ilmu Pengetahuan Kehutanan Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor (tidak dipublikasikan)

Mursyidin, D. 2009.  Memperbaiki lahan bekas tambang dengan mikroorganisme. http://agrica.wordpress.com/2009/01/09/memperbaiki-lahan-bekas-tambang-dengan-mikroorganisme/. 30 Mei 2010.

Nawir, A. A. 2008. Rehabilitasi Hutan di Indonesia: Akan Kemanakah Arahnya Setelah Lebih Dari Tiga Dasawarsa. Center for International. Forestry Research (CIFOR), Bogor

Nursanti , I dan A. M. Rohim. 2009. Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian. Univ. Sriwijaya.

Rambey, R. 2010. Peran Satwa dalam Proses Reklamasi Lahan Tambang. http://ridahati.blogspot.com/. 29 Mei 2011

Santoso, E., M. Turjaman., dan R.S.B. Irianto. 2006. Aplikasi mikoriza untuk meningkatkan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan terdegradasi. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian, 2007

Santoso, U. 2001. Effect of Sauropus androgyrius extract on organ weight, toxicity and number of Salmonella sp and Escherichia coli of broiler meat. Buletin Ilmu Peternakan dan Perikanan, 7 (2): 162 169.

Santoso, U., Suharyanto dan E. Handayani. 2001. Effects of Sauropus androgyrius (katuk) leaf extract on growth, fat accumulation and fecal microorganisms in broiler chickens. J I T V, 6: 220 226.

Siregar, T. H. S. 2009. Potensi dan pemanfaatan lahan bekas tambang untuk usaha agribisnis perkebunan berbasis karet. http://perkebunankaret.blogspot.com/2009/09/potensi-dan-pemanfaatan-lahan-bekas.html. 2 Juni 2010.

 Unhas, G. 2011. Sifat biologi tanah hutan. http://tulisanqperhatianq.blogspot.com/2011/02/ sifat-biologi-tanah-hutan.html. 29 Mei 2011.

Widyati, E. 2007. Pemanfaatan bakteri pereduksi sulfat untuk bioremediasi tanah bekas tambang batubara. Biodiversitas. Vol. 8, No. 4. Hal: 283-286

 

Advertisements
 

One Response to “PERAN MIKORIZA DAN FAUNA DALAM REHABILITASI LAHAN TERDEGRADASI (LAHAN PASCA TAMBANG)”

  1. taufan hidayat Says:

    selamat pagi semangat pagi dan sukses untuk kita semua
    saya sangat setuju sekali dan berkaitan dengan uraian dlm blog ini kami dari PT. Golden Hitek Malindo yang berupakan distributor dari produk Myagri Group of Companies Malaysia menawarkan solusi terbaik untuk anda perusahaan tambang yang akan melakukan konservasi lahan dan ingin merehabilitasi lahan yang terdegradasi segera hubungi kami

    Taufan Hidayat, SP.
    Agronomist PT. Golden Hitek Malindo
    Mobile 085759732637
    email taufan_h.ghm72@yahoo.com
    Hunting (021) 3848788 Fax. (021) 3848789


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s