JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

UPAYA MENGEMBALIKAN EKOSISTEM MANGROVE YANG SUDAH RUSAK KEMBALI SEPERTI ASLI (RESTORASI) AKIBAT AKTIVITAS MANUSIA July 24, 2012

Filed under: Sumberdaya — Urip Santoso @ 2:09 am
Tags: ,

Oleh: Andreani Kinata

Abstrak

Hutan mangrove adalah hutan yang berada di pantai, sedangkan ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau. Ekosistem mangrove memberikan keuntungan di bidang ekologi dan ekonomi, secara fisik pun mangrove sangat berperan sebagai penahan terpaan ombak di pantai. Namun luas hutan mangrove semakin hari semakin berkurang akibat aktivitas manusia, seperti kegiatan penambakan, penebangan pohon mangrove. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menjelaskan bahwa ekosistem mangrove sangat berperan penting bagi keseimbangan alam. Namun luas ekosistem mangrove semakin hari semakin menurun, untuk itu sangat diperlukan usaha mengembalikan ekosistem mangrove seperti semula. Dalam melakukan restorasi, peran masyarakat merupakan pokok utama dalam keberhasilan restorasi. Selain kegiatan restorasi, lahan basah dinyatakan efektif dalam mengatasi pencemaran logam berat (Pb dan Cu), begitupun dengan spesies Avicennia marina dan Rhizopora sp. juga memiliki kemampuan serap logam yang tinggi.

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau kurang lebih 17.508 pulau dan hampir setiap provinsi memiliki pantai, daerah pantai memiliki potensi yang sangat besar dalam memenuhi kebutuhan kehidupan masyarakat sekitar pesisir, karena begitu banyak flora dan fauna yang bisa hidup di daerah pantai. Seperti hal nya hutan mangrove yang berperan dalam menjaga dan melestarikan kehidupan flora dan fauna yang hidup di pantai. Ekosistem mangrove memberikan keuntungan di bidang ekologi dan ekonomi, secara fisik pun mangrove sangat berperan sebagai penahan terpaan ombak di pantai.

Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak terpengaruh oleh iklim (Rechana, 2001).

Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau (Rechana, 2001).

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menjelaskan bahwa ekosistem mangrove sangat berperan penting bagi keseimbangan alam. Namun luas ekosistem mangrove semakin hari semakin menurun, untuk itu sangat diperlukan usaha mengembalikan ekosistem mangrove seperti semula.

Hutan Mangrove

Ekosistem mangrove merupakan kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub tropis yang memiliki fungsi istimewa disuatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah anaerob.

Menurut Zamroni dan Immy (2008), dalam satu hektar hutan mangrove berdasarkan kerapatan vegetasi terdapat 480 pohon yang terdiri dari berbagai macam spesies mangrove dan vegetasi yang lainnya.

Luasan hutan mangrove yang ditemukan di wilayah pesisir pantai Teluk Pising utara Pulau Kabaena adalah 152,128 ha. Hutan mangrove yang ditemukan dilokasi tersebut relatif masih baik dan didominasi oleh Rhizophora apiculata (Tarigan, 2008) .

Belum ada hutan mangrove yang di lindungi pemerintah, seperti halnya disampaikan  Setyawan dan Kusumo (2006a) dari 20 lokasi hutan mangrove yang di survei ternyata tidak ada satupun yang sudah ditetapkan sebagai hutan lindung. Karena kawasan ekosistem mangrove tidak dilindungi pemerintah maka hutan mangrove sekarang sudah banyak terjadi kerusakan akibat aktivitas masyarakat sekitar pesisir pantai, seperti pertambangan udang, ikan dan garam, penebangan vegetasi mangrove, pencemaran lingkungan, reklamasi dan sedimentasi. Konversi ekosistem mangrove menjadi tambak merupakan faktor utama penyebab hilangnya hutan mangrove dunia (Setyawan dan Kusumo, 2006a),

Wetland mangrove di Sidoarjo memiliki tipe dataran pantai yang merupakan jalur sempit memanjang pantai yang didominasi jenis Rhizopora sp, Avicennia Sp dan Excoecaria Sp. Untuk area wetland seluas 7.762 m2 frekuensi kehadiran tertinggi kategori pohon, sapling dan seedling berada di dalam wetland berkisar 0.45 – 0.55 %. Species yang berada di dalam wetland adalah Avicennia Sp dengan Kerapatan 64 Ind/Ha dan Basal area 289.65 m2 (Kusumastuti, 2009).

Pada ekosistem alamiah, tegakan mangrove membentuk zonasi sesuai dengan habitatnya (lumpur berpasir), salinitas dan fluktuasi pasang surut air laut. Pada masing-masing zonasi dicirikan oleh tumbuh jenis tertentu, yang umumnya mulai dari pantai hingga kedaratan; daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak berpasir, sering ditumbuhi Avecennia sp, lebih ke arah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora spp. Di zona ini juga dijumpai Bruguiera sp. dan Xylocarpus spp. zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera sp.zona transisi antara hutan mangrove dengan hutan dataran rendah biasa ditumbuhi oleh Nypa fruticans, dan beberapa spesies palem lainnya (Waryono, 2002 dan Rochana, 2001 ).

Mangrove Sumatera Selatan yang luas kawasannya 558 ribu ha dan non kawasannya 495 ribu ha, dengan kondisi ± 75 % dalam keadaan rusak berat hingga rusak ringan (Anwar, 2004), dan realisasi penanaman mangrove selama lima tahun (1999-2003) hanya mencapai 200 ha.

Terjadi degradasi lingkungan antar lain dalam bentuk abrasi dan akresi yang mengakibatkan perubahan garis pantai yang di Desa Tanggultlare, Desa Bulakbaru, dan Desa Panggung. Pengaruh faktor manusia sangat berperan dalam hal ini karena kegiatan perusakan ekosistem mangrove guna perluasan tambak (Pariyono, 2006).

Manfaat Ekosistem Mangrove

            Hutan merupakan paru-paru dunia, begitupun dengan hutan mangrove, bayangkan jika hutan sudah tidak ada lagi, maka dunia akan kehilangan paru-paru dan tidak bisa bernafas lagi.

Manfaat ekosistem mangrove di kawasan Tawiri terdiri atas manfaat langsung berupa hasil hutan (kayu bakar), manfaat satwa (“soa-soa” atau biawak, “kusu”), dan penangkapan ikan (kepiting, kerang dan ikan); manfaat tak langsung berupa breakwater dan tempat penyedia pakan; manfaat pilihan berupa nilai keragaman hayati; dan manfaat eksistensi yaitu nilai yang diberikan oleh masyarakat di lokasi penelitian (Hiariey, 2009).

Manfaat ekosistem hutan mangrove secara ekologis: (1)pelindung garis pantai dari abrasi, (2)mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan, (3)mencegah intrusi air laut ke daratan, (4)tempat berpijah aneka biota laut, (5)tempat berlindung dan berkembangbiak berbagai jenis burung, mamalia, reptil, dan serangga, (6)sebagai pengatur iklim mikro (Rochana, 2001 dan Waryono, 2002).

Manfaat ekosistem hutan mangrove secara ekonomis: (1)penghasil keperluan rumah tangga (kayu bakar, arang, bahan bangunan, bahan makanan, obat-obatan), (2)penghasil keperluan industri (bahan baku kertas, tekstil, kosmetik, penyamak kulit, pewarna), (3)penghasil bibit ikan, nener udang, kepiting, kerang, madu, dan telur burung, (4)pariwisata, penelitian, dan pendidikan (Rochana, 2001 dan Waryono, 2002).

Selain itu komunitas mangrove juga berfungsi: (1)Sebagai sumber unsur hara bagi kehidupan hayati (biota perairan) laut, (2)serta sebagai sumber pakan bagi kehidupan biota darat seperti burung, mamalia dan jenis reptil, (3)Sedangkan jasa mangrove lainnya juga mampu menghasilkan jumlah oksigen lebih besar dibanding dengan tetumbuhan darat (Rochana, 2001 dan Waryono, 2002).

Menurut Setyawan dan Kusumo (2006b) mengatakan bahwa pemanfaatan langsung dalam ekosistem mangrove di Jawa Tengah mencakup perikanan, kayu, bahan pangan, pakan ternak, bahan obat, bahan baku industri, serta pariwisata dan pendidikan. Adapun penggunaan lahan di sekitar ekosistem mangrove, mencakup perikanan/tambak, pertanian, serta kawasan pengembangan dan bangunan.

Berbagai jenis ikan, baik yang bersifat herbivora, omnivora, maupun karnivora hidup mencari makan di sekitar mangrove terutama pada waktu air pasang. Di mangrove Tongke-Tongke, Sulawesi Selatan, diidentifikasi terdapat 27 spesies ikan dan 4 spesies udang bernilai ekonomis yang mencari makan di sekitar mangrove Tongke-Tongke pada waktu air pasang. Selain itu, sedikitnya 8 spesies gastropoda dan 8 spesies bivalvia menetap di mangrove tersebut (Gunarto, 2004).

Gunarto (2004), menyampaikan bahwa mangrove dapat berfungsi sebagai biofilter serta agen pengikat dan perangkap polusi. Mangrove juga merupakan tempat hidup berbagai jenis gastropoda, ikan, kepiting pemakan detritus dan bivalvia juga ikan pemakan plankton sehingga mangrove berfungsi sebagai biofilter alami.

Kerusakan Mangrove

Ada tiga faktor utama penyebab kerusakan mangrove, yaitu: (1)Pencemaran, (2)Konversi hutan mangrove yang kurang memperhatikan faktor lingkungan (Konversi ekosistem mangrove menjadi tambak merupakan faktor utama penyebab hilangnya hutan mangrove di dunia), (3)Penebangan yang berlebihan (Anwar, 2004).

Setyawan dan Kusumo (2006a), juga mengatakan bahwa penyumbang terbesar kerusakan ekosistem mangrove di pesisir Kabupaten Rembang, antara lain: pertambakan, penebangan pepohonan, reklamasi dan sedimentasi, serta pencemaran lingkungan. Restorasi mangrove di pesisir Pasar Bangi, Rembang dengan penanaman Rhizophora cukup berhasil, salah satu penyebabnya adalah keikutsertaan masyarakat dalam manajemen pengelolaannya.

Kegiatan antropogenik telah menurunkan peran ekologi, ekonomi dan sosial budaya ekosistem mangrove, oleh karena itu banyak dilakukan upaya restorasi. Upaya restorasi yang cukup berhasil terjadi di Pasar Banggi, keberhasilan ini tampaknya karena pengikutsertaan masyarakat dalam manajemennya. Kegiatan restorasi yang gagal terjadi di Cakrayasan dan Lukulo; penyebab utama kegagalan ini tampaknya adalah kesalahan pemilihan bibit dan tiadanya pemeliharaan yang cukup berarti (Setyawan dan Kusumo, 2006b).

Restorasi Mangrove

Menurut Waryono (2002), konsepsi dasar pemulihan (Restorasi) kawasan mangrove dalam bidang konservasi dapat dilakukan melalui: (1)penanganan dan pengendalian lingkungan fisik dari berbagai bentuk faktor penyebabnya, (2)pemulihan secara ekologis baik terhadap habitat maupun kehidupannya, (3)mengharmoniskan perilaku lingkungan sosial untuk tujuan mengenal, mengetahui, mengerti, memahami hingga pada akhirnya merasa peduli dan ikut bertanggung jawab untuk mempertahankan, melestarikannya, serta (4)meningkatkan akutabilitas kinerja institusi yang bertanggung jawab dan atau pihak-pihak terkait lainnya.

Dari sekitar 60 spesies pohon dan semak mangrove mayor dan minor, serta sekitar 20 spesies tumbuhan asosiasi, hanya 12 spesies yang biasa digunakan untuk restorasi, yaitu Rhizophora, Avicennia, Sonneratia,Bruguiera, Heritiera, Lumnitzera, Ceriops, Excoecaria, Xylocarpus, Nypa, Cassurina, dan Hibiscus. Penentuan spesies yang dipilih tergantung pada tekstur tanah, kadar garam, dan lama penggenangan, serta iklim mikro lainnya (Choudhury, 1996; 2000 dalam Setyawan et al.,2004).

Adapun langkah-langkah kongkrit yang dilakukan untuk pengendalian lingkungan fisik, antara lain dengan  melakukan kegiatan: (1)pembinaan dan peningkatan kualitas habitat, dan (2)peningkatan pemulihan kualitas kawasan hijau melalui kegiatan reboisasi, penghijauan, dan atau perkayaan jenis tetumbuhan yang sesuai, (3)Terhadap pemulihan habitat, dilakukan terhadap kawasan-kawasan terdegradasi atau terganggu fungsi ekosistemnya, untuk mengembalian peranan fungsi jasa bio-ekohidrologisnya dan dilakukan dengan cara: (a) rehabilitasi, dan atau (b) reklamasi habitat, (4)sedangkan peningkatan kualitas kawasan mangrove dilakukan dengan pengembangan jenis-jenis tetumbuhan yang erat keterkaitannya dengan sumber pakan, tempat bersarang atau sebagai bagian dari habitat dan lingkungan hidupnya, (5)Hutan mangrove dapat memulihkan diri sendiri tanpa upaya restorasi melalui suksesi sekunder pada periode 15-30 tahun, apabila siklus hidrologi normal dan tersedia biji atau propagul dari ekosistem mangrove di sekitarnya, (6)Kegagalan melihat penyebab degradasi merupakan penyebab utama kegagalan restorasi mangrove (Waryono, 2002).

Keberhasilan Restorasi

Ada beberapa hasil penelitian yang berhasil mengatasi pencemaran yang dapat merusak ekosistem mangrove. Seperti yang disampaikan Kusumastuti (2009) dan Mulyadi et al., (2009) bahwa lahan basah, Rhizopora sp, dan Avicennia marina mampu mengatasi pencemaran logam berat seperti pengendapan polutan timbal (Pb) dan tembaga (Cu).

Kinerja lahan basah dalam mengatasi pencemaran dilakukan melalui tiga cara yaitu: (a)penyerapan zat-zat polutan ke dalam akar,batang dan daun mangrove, (b)pengendapan sediment yang dibantu oleh perakaran mangrove yang rapat, (c)peran mangrove secara tidak langsung sebagai tempat hidup mikroorganisme pengurai limbah (Kusumastuti, 2009).

Setyawan dan Kusumo (2006b), melaporkan tujuan penanaman mangrove setiap spesies berbeda seperti Rhizophora spp. untuk menjaga stabilitas garis pantai dan memperluas area mangrove, Avicennia spp. menjaga stabilitas tebing sungai dan garis pantai.

Karakteristik mangrove yang menarik, merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan dan atau habitatnya. Tapak mangrove bersifat anaerobik bila dalam keadaan terendam; oleh karena itu beberapa jenis mangrove mempunyai sistem perakaran udara yang spesifik. Akar tunjang (stilt roots) dijumpai pada genus Rhizopora, akar napas (pneumatophores) pada genus Avicennia dan sonneratia; akar lutut (knee roots) pada genus Bruguiera, dan akan papan (plank roots) yang dijumpai pada genus Xylocarpus (Maryono, 2002).

Terdapat lima langkah penting bagi keberhasilan restorasi mangrove (Lewis dan Marshall, 1997 dalam Setyawan et al., 2004): (1)Pemahaman autekologi setiap spesies mangrove, meliputi pola reproduksi, distribusi propagul, dan pemantapan seedling. (2)Pemahaman pola hidrologi yang mempengaruhi distribusi, pemantapan, dan pertumbuhan spesies mangrove yang diinginkan. (3)Pemahaman perubahan lingkungan yang dapat mencegah suksesi sekunder secara alami. (4)Restorasi sifat hidrologi, dan bila memungkinkan penggunaan propagul alami. (5)Penanaman dilakukan apabila jumlah rekruitmen alami tidak mencukupi untuk penyembuhan.

Keuntungan restorasi komunitas mangrove meliputi: (1)konservasi dan pengembalian spesies yang pernah ada, spesies yang memiliki daerah jelajah luas, dan burung-burung migran; (2)mendaur-ulang nutrien dan menjaga keseimbangan nutrisi pada muara sungai; (3)melindungi jaring-jaring makanan pada hutan mangrove, muara, dan laut; (4)menjaga habitat fisik dan tempat pembesaran anakan berbagai spesies laut komersial; (5)melindungi lahan dari badai, menjaga garis pantai, dan mengendapkan lumpur; (6)meningkatkan kualitas dan kejernihan air dengan menyaring dan menjebak sampah dan sedimen yang dibawa air permukaan dari hulu sungai, (7)pada akhirnya, preservasi ekosistem mangrove membantu menjaga keseluruhan kondisi alami dan keindahan panorama muara sungai dan nilai ekonomi kawasan pesisir (Setyawan et al., 2004).

Salah satu contoh keberhasilan penanaman mangrove untuk mencegah abrasi ditemukan di kawasan Bulak-Semat, Jepara. Pada tahun 1980-an pantai di kawasan ini terabrasi akibat kerusakan terumbu karang dan pembabatan hutan mangrove. Pembuatan tanggul pemecah gelombang dan penanaman mangrove terbukti dapat mengurangi efek abrasi. Pada saat ini Rhizophora yang ditanam langsung berbatasan dengan bibir laut, dan tanah dibawahnya ditutupi pasir putih, menunjukkan garis pantai berhenti di bawah tegakan komunitas ini (Setyawan et al., 2004).

Kegagalan Restorasi

Di Jawa, kegagalan restorasi mangrove dapat disebabkan oleh: (1)kesalahan pemahaman pola hidrologi, (2)perubahan arus laut, (3)tipe tanah, (4)pemilihan spesies, (5)penggembalaan hewan ternak, (6)sampah, (7)kelemahan manajemen, dan (8)ketiadaan partisipasi masyarakat (Setyawan et al., 2004).

KESIMPULAN

  1. Hutan mangrove adalah hutan yang berada di pantai, sedangkan ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau.
  2. Ekosistem mangrove memberikan keuntungan di bidang ekologi dan ekonomi, secara fisik pun mangrove sangat berperan sebagai penahan terpaan ombak di pantai.
  3. Luas hutan mangrove semakin hari semakin berkurang akibat aktivitas manusia, seperti kegiatan penambakan, penebangan pohon mangrove.
  4. Perlu dilakukan restorasi, yang mana peran masyarakat sangat menentukan keberhasilan dari restorasi.
  5. Selain kegiatan restorasi, lahan basah dinyatakan efektif dalam mengatasi pencemaran logam berat (Pb dan Cu), begitupun dengan spesies Avicennia marina dan Rhizopora sp. juga memiliki kemampuan serap logam yang tinggi.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penyusunan karya ilmiah ini tidak mampu penulis susun sendiri tanpa bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya karya ini. Rasa terima kasih penulis haturkan kepada :

  1. Bapak Urip Santoso selaku dosen penyajian ilmiah.
  2. Semua teman-teman program studi pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan UNIB.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, B. 2001. Akumulasi dan distribusi logam berat pb dan cu pada mangrove (avicennia marina) di perairan pantai Dumai, Riau. Universitas Riau.

Anwar. C. 2004. Teknologi rehabilitasi lahan mangrove terdegradasi. librari.forda-mof.org/libforda/data_pdf/951.pdf. di akses 10 maret 2012.

Gunarto. 2004. Konservasi mangrove sebagai pendukung sumber hayati perikanan pantai. jurnal litbang pertanian 23(1).

Hiariey, L.S. 2009. Identifikasi nilai ekonomi ekosistem hutan mangrove di Desa Tawiri, Ambon. Jurnal organisasi dan manajemen 5(1):23-34.

Kusumastuti, W. 2009. Evaluasi lahan basah bervegetasi mangrove dalam mengurangi pencemaran lingkungan (studi kasus di desa kepetingan kabupaten sidoarjo). Thesis Universitas Diponegoro. Semarang. (tidak dipublikasikan).

Mulyadi, E., Rudi, L., Dewi, A. 2009. Fungsi mangrove sebagai pengendali pencemar logam berat. Jurnal ilmiah teknik lingkungan vol 1 edisi khusus.

Pariyono. 2006. Kajian potensi kawasan mangrove dalam kaitannya Dengan pengelolaan wilayah pantai di desa panggung, bulakbaru , tanggultlare , kabupaten jepara. Tesis Universitas Diponegoro. Semarang. (tidak dipublikasikan).

Rochana. E. 2001. Ekosistem manngrove dan penngelolaannya di indonesia. www.freewebs.com/Irwantomangrove/mangrove_kelola.pdf. Di akses 10 maret 2012.

Setyawan, A.D., dan Kusumo. W. 2006a. Permasalahan Konservasi Ekosistem mangrove di pesisir Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Biodiversitas 7(2):159-163.

Setyawan, A.D., dan Kusumo. W. 2006b. Pemanfaatan langsung ekosistem mangrove di Jawa Tengah dan penggunaan lahan di sekitarnnya; kerusakan dan restorasinya. Biodiversitas 7(3):282-291.

Setyawan, A.D., Kusumo. W., Purin, C.P. 2004. Ekosistem mangrove di Jawa:2. Restorasi. Biodiversitas 5(2):105-118.

Tarigan, M.S. 2008. Sebaran dan luas hutan mangrove di wilayah pesisir teluk pising utara pulau Kabaena provinsi Sulawesi Tenggara. Sains 12(2):108-112.

Waryono. T. 2002. Restorasi ekologi hutan mangrove. staff.ui.ac.id/internal/131671356/publikasi/RestorasiMangrove.pdf. di akses 10 maret 2012.

Zamroni. Y., dan Immy. S.R. 2008. Produksi serasah hutan mangrove di perairan pantai teluk sepi, lombok barat. Biodiversitas 9(4):284-287.

Advertisements
 

7 Responses to “UPAYA MENGEMBALIKAN EKOSISTEM MANGROVE YANG SUDAH RUSAK KEMBALI SEPERTI ASLI (RESTORASI) AKIBAT AKTIVITAS MANUSIA”

  1. lingkungan sekitar hutan mangrove biasanya memang tempat favorit untuk budidaya udang, kepiting dan bandeng. makanya banyak hutan mangrove yang di rusak dan di tebangi. untuk pembukaan tambak.

  2. Assalammualaikum wr wb……..

    Langkah tindaklanjut yang perlu dilaksanakan agar kegiatan restorasi dapat berlanjut dan berlangsung dengan baik antara lain melalui :

    1. Komitmen dan konsistensi pemerintah daerah (provinsi dan/atau kabupaten/kota) dalam pengembangan wilayahnya masing-masing untuk tetap mengacu pada Penetapan Tata Ruang Daerah, berdasar prinsip konservasi untuk kawasan jalur hijau mangrove dan tetap menjaga fungsi pelestarian untuk kawasan hutan mangrove sebagaimana telah ditetapkan dalam peruntukannya, yaitu sebagai suaka alam atau suaka margasatwa;

    2. Penetapan jalur hijau pantai menggunakan mangrove untuk kawasan-kawasan yang sesuai secara ekologis (Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang Kawasan Lindung: 130 x perbedaan pasang surut melalui peraturan daerah;

    3. Menetapkan lokasi-lokasi prioritas rehabilitasi (ke dalam klasifikasi kritis dan super kritis) dan melaksanakan rehabilitasi kawasan hutan mangrove yang telah terdegradasi melalui kemitraan antara pemerintah dan masyarakat. Program ini dinamakan Rehabilitasi Hutan Mangrove Berbasis Masyarakat.

    Wassalam……!!!

  3. saya setuju dengan program restorasi tapi perlu adanya pengawasan dari semua pihak agar aktivitas manusia di sekitar hutan mangrove tidak merusak lingkungan

  4. Agusri Ramadhan, PSDAL XVIII UNIB 2016 Says:

    Dalam upaya Restorasi hutan mangrove perlu adanya Pengelolaan rehabilitasi lahan yang dilakukan melalui model pendekatan pengelolaan yang berbasis masyarakat.
    Adanya dukungan dari berbagai pihak sangat diharapkan guna mencapai apa yang direncanakan. Demi kembalinya kondisi mangrove yang bermanfaat bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat.

  5. novita hamron psdal 18 Says:

    Memang sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk terus memantau keadaan wilayah pesisir betapa pentingnya rasa kepedulian terhadap kelestarian alam terumbu karang.walaupun pihak pemerintah telah menghimbau melarang adanya penebangan bakau dikawasan pesisir pantai namun masih ada juga yang merusaknya karena belum adanya aturan yang jelas mengenai boleh tidaknya menebang bakau.Upaya mengembalikan hutan mangrove yang sudah rusak kembali seperti asli tidak hanya itu saja namun perlu adanya penanganan dengan cara memberi pendidikan Lingkungan Hidup tentang manfaat bakau dan kerugian yang diakibatkan bila dimanfaatkan secara berlebihan oleh masyarakat …..

  6. yeni herlina PSDAL18 Says:

    saya sangat setuju dengan adanya program restorasi hutan mangrove, karena sangat bermamfaat bagi kelestarian hutan pesisir, sehingga dapat mengurangi dampak abrasi gelombang laut

  7. hermy puspita sari, PSDAL Unib Says:

    salah satu upaya pelestarian hutan pesisir dengan program restorasi merupakan hal yang sangat bagus dilaksanakan sehingga dapat mengurangi kerusakan hutan pesisr, mengurangi terjadinya banjir rob dan abrasi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s