JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

KAJIAN KARAKTERISTIK DAN DAMPAK LINGKUNGAN KEGIATAN PETANI SEKITAR HUTAN July 30, 2012

Filed under: lingkungan — Urip Santoso @ 12:45 am
Tags: , ,

Oleh Sasmadi

Abstrak

 

Pemanfaatan sumberdaya hutan perlu dilakukan dengan memperhatikan prinsip kelestarian. Pemanfaatan hutan dengan mengkonversinya menjadi kebun kopi akan menyebabkan fungsi hutan sebagai pencegah erosi menjadi berkurang. Apalagi jika konversi kawasan hutan ini dilakukan pada daerah hulu DAS, yang merupakan daerah dengan kemiringan lereng lebih dari 15%. DAS Air Bengkulu adalah salah satu DAS yang mengalami  tekanan akibat kepadatan penduduk. DAS Air Bengkulu mulai dibuka pada jaman kolonial Belanda yaitu pada tahun 1936, dan terus berlanjut baik melalui program transmigrasi umum maupun transmigrasi lokal. Akibat kedatangan penduduk secara bergelombang ini, pembukaan kawasan hutan dalam wilayah DAS Air Bengkulu semakin meluas. Etnis utama yang mendiami kawasan DAS Air Bengkulu adalah Rejang, Lembak, dan Jawa, yang ketiganya hidup berdampingan akan tetapi letak rumah masing – masing etnis berkumpul dan berdekatan antara sesama etnis. Proses interaksi antar etnis berlangsung lama dan memerlukan bantuan pihak ketiga untuk mempercepatnya.

 Kata Kunci : Kajian Karakteristik, Kegiatan Petani Sekitar Hutan, Das Air Bengkulu.

Pendahuluan

Pemanfaatan sumberdaya secara maksimal untuk kesejahteraan seluruh rakyat  merupakan tujuan yang luhur dan patut untuk didukung pencapaiannya. Indonesia memiliki sumberdaya yang berlimpah, akan tetapi kekeliruan pemanfaatannya dimasa lampau membuat negara ini harus menerima kerusakannya. Pemanfaatan dengan tetap memperhatikan prinsip kelestarian merupakan batasan yang harus benar-benar kita patuhi. Dengan memperhatikan prinsip kelestarian, generasi mendatang tetap dapat mengambil manfaat dari sumberdaya tersebut.

Prinsip kelestarian dari segi ekonomi, bahwa kegiatan pembangunan tersebut dapat mendukung kebutuhan ekonomi dari pelakunya. Lestari dari segi lingkungan, bahwa kegiatan pembangunan tersebut tidak menimbulkan kerusakan lingkungan, misalnya menyebabkan erosi yang tinggi, aliran permukaan yang tinggi sehingga menimbulkan banjir, dan sebagainya. Dan lestari dari segi sosial bahwa kegiatan pembangunan tersebut dapat diterima masyarakat, tidak bertentangan dengan agama, kepercayaan dan nilai budaya masyarakat.

Salah satu sumberdaya yang telah dieksploitir dengan tanpa memperhatikan kelestariannya adalah sumberdaya hutan. Sumberdaya hutan telah memberikan sumbangan yang besar terhadap pembangunan. Tetapi akibatnya hutan menjadi rusak bahkan berubah menjadi padang ilalang atau padang pasir.

Sampai saat ini pembukaan hutan masih tetap terjadi. Sebagai contoh yang terjadi di Propinsi Bengkulu. Insentif harga kopi yang tinggi membuat masyarakat terus merambah dan membuka hutan untuk ditanam kopi. Pembuatan kebun kopi di dalam kawasan hutan terus terjadi. Menurut Syam Mishide et al. 1997 pada periode 1978 sampai 1990  kebun kopi monokultur meningkat dari 21 persen menjadi 41 persen dari seluruh penggunaan lahan, sedangkan kebun kopi campuran meningkat dari 1 persen menjadi 19 persen. Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah untuk menghentikan kegiatan pembukaan hutan ini, seperti dengan memindahkan masyarakat yang ada di kawasan hutan seperti dengan program transmigrasi lokal (translok), mengerahkan jagawana untuk menjaga hutan, melakukan razia mendadak terhadap penebang liar dan sebagainya. Akan tetapi usaha ini belum menunjukkan hasil yang diinginkan. Kawasan hutan yang telah dikosongkan kembali diusahakan oleh masyarakat.

Kegiatan pembukaan hutan ini menyebabkan rusaknya fungsi hutan, seperti fungsi sumber keanekaragaman hayati, fungsi menjaga tata air, fungsi pembersih udara dan lain-lain. Saat ini telah diusahakan untuk memperbaiki fungsi hutan ini, walaupun mungkin tidak dapat berfungsi sebaik pada saat hutan masih alami, tetapi paling tidak sebagian fungsi tersebut masih ada.

Dalam kasus dibukanya hutan untuk dijadikan kebun kopi, secara sederhana dapat diduga bahwa fungsi hutan menjaga tata air dan sebagai pembersih udara masih dapat diperoleh. Hal tersebut karena tanaman kopi merupakan juga tanaman berkayu dan mempunyai tajuk yang cukup lebar untuk melindungi tanah. Masalahnya apakah benar kebun kopi tidak mengakibatkan dampak lingkungan yang buruk dan sebenarnya sistem pengelolaan kebun kopi yang bagaimana yang dapat mempertahankan fungsi hutan dengan juga dapat memberikan manfaat ekonomi. Sebenarnya bagaimana karakteristik masyarakat di sekitar hutan yang berpotensi besar untuk merambah hutan. Jika ada program pemerintah untuk menyelamatkan hutan, pendekatan yang bagaimana sebaiknya dilakukan agar masyarakat juga berperan dalam penyelamatan tersebut. Hal-hal ini yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian ini.

Hutan dan Fungsinya

Sumberdaya hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang dapat diperbarui (renewable). Akan tetapi pembaharuannya ini membutuhkan waktu yang sangat panjang. Hal ini berhubungan dengan daur hidup pohon yang membentuk hutan, yang membutuhkan puluhan tahun untuk dapat siap dipanen. Jadi kegiatan pembaharuan sumberdaya ini melibatkan lebih dari satu generasi manusia. Dengan demikian kegiatan perbaikan dan pemanfaatan sumberdaya hutan membentuk rentang waktu perencanaan yang sangat panjang.

Selain hasil hutan kayu dan non kayu yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia (manfaat ekonomisnya), hutan juga mempunyai fungsi ekologis. Fungsi ekologis hutan seperti sebagai pengatur aliran air, mencegah atau mengurangi bahaya erosi, memelihara sumber-sumber genetis dan sebagai objek wisata (Steinlin, 1988). Bahkan ada yang mensinyalir hutan dapat mempengaruhi  iklim dalam hal ini suhu dan curah hujan.

Walaupun masih banyak perbedaan pendapat tentang fungsi hutan sebagai regulator tetapi anggapan ini telah banyak memacu kegiatan-kegiatan konservasi. Hutan sebagai regulator maksudnya hutan dapat menyimpan air selama musim hujan dan melepaskannya pada musim kemarau. Hujan yang jatuh di atas hutan sebagian besar ditangkap oleh tajuk hutan dan dahan pepohonan tanpa menyentuh tanah. Air menguap dengan cepat dan kembali ke daur hidrologisnya. Sebagian lagi dikembalikan ke  atmosfir melalui transpirasi oleh tumbuhan.

Tenaga curah hujan yang mencapai tanah sudah sangat berkurang. Lapisan serasah dan permukaan tanah yang renggang segera menyerap air yang menembusnya sehingga sedikit saja limpasan yang ada di permukaan. Air tersebut akan mengalir melalui aliran bawah tanah secara perlahan-lahan ke sungai. Sehingga suplai air dapat terkendali tidak berlimpah pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Secara umum, kenaikan aliran air disebabkan oleh penurunan penguapan air oleh vegetasi (transpirasi), dengan demikian aliran air permukaan dan air tanah menjadi lebih besar (Asdak, 1995). Hasil penelitian Bosch and Hewlett, 1982; Hamilton and King, 1984;  Bruijnzeel, 1990; Malmer, 1992 semuanya dalam Asdak, 1995, yang dilakukan secara intensif tentang pengaruh pengaturan jumlah dan komposisi vegetasi terhadap perilaku aliran air menunjukkan bahwa aliran air tahunan meningkat apabila vegetasi dihilangkan atau dikurangi dalam jumlah besar.

Menurut Hibbert, 1983 dan Bosch and Hewlett, 1983 dalam Asdak, 1995, bahwa jumlah aliran air meningkat apabila :

  1. Hutan ditebang atau dikurangi dalam jumlah cukup besar;
  2. Jenis vegetasi diubah dari tanaman yang berakar dalam menjadi tanaman berakar dangkal;
  3. Vegetasi penutup tanah diganti dari tanaman dengan kapasitas intersepsi tinggi ke tanaman dengan tingkat intersepsi yang rendah.

Jadi jumlah aliran air lebih dipengaruhi oleh jumlah dan jenis vegetasi yang ada. Faktor lain yang juga mempengaruhi jumlah aliran air adalah iklim, jenis tanah dan persentasi luas DAS (Asdak, 1995).

Pengaruh hutan terhadap iklim dalam hal ini suhu yaitu pemanasan global, dianggap terlalu berlebihan, tetapi pengaruhnya terhadap curah hujan lebih diyakini kebenarannya walaupun masih ada perbedaan pendapat. Hilangnya hutan menyebabkan evapotranspirasi menjadi berkurang, padahal evapotranspirasi merupakan sumber utama uap air. Jadi perubahan vegetasi penutup tanah dari hutan menjadi bentuk vegetasi penutup tanah lainnya (bukan hutan) menyebabkan penurunan kuantitas hujan lokal (Asdak, 1995). Penurunan curah hujan ini sebagian besar disebabkan oleh perubahan kekasaran permukaan tajuk hutan dan perubahan albedo. Penurunan kekasaran permukaan tajuk hutan menurunkan besarnya evapotranspirasi (dan meningkatkan suhu udara), sedangkan meningkatnya albedo merupakan penyebab utama berkurangnya aliran kelembaban udara (dihitung dari beda antara presipitasi dan evapotranspirasi). Kombinasi dari kedua faktor tersebut menyebabkan penurunan curah hujan di daerah tersebut (Lean dan Warrilow, 1989 dalam Asdak,1995).

Fungsi hutan yang lain adalah sebagai pencegah erosi. Dengan hutan dibuka berarti air hujan langsung jatuh ke tanah. Energi curah hujan tersebut akan besar sekali dalam menghancurkan tanah. Setelah butir-butir tanah hancur akan mudah dibawa aliran air. Lapisan tanah terbuka tidak banyak lagi menyerap air sehingga aliran permukaan akan meningkat. Dengan makin meningkatnya jumlah aliran air permukaan bararti butir – butir  tanah yang mampu dibawa juga makin banyak. Lapisan tanah bagian atas yang subur akan terbawa aliran air masuk ke sungai dan dapat menyebabkan penyuburan perairan yang akan menyebabkan booming alga.

Lapisan tanah yang subur di tanah hutan sebenarnya tipis (Lubis, 1988). Jadi jika hutan dibuka maka lapisan tanah yang subur ini segera akan hanyut oleh aliran air dan tinggallah tanah yang kurang subur. Dengan demikian pendapat bahwa tanah di hutan adalah tanah subur tidak tepat benar. Tumbuhan hutan dapat tumbuh subur karena siklus biomassa yang dihasilkan langsung digunakan oleh tumbuhan yang bersangkutan. Pada hutan yang sudah dewasa terjadi keseimbangan antara produksi dan kehilangan biomassa (Steinlin, 1988). Pengikatan bersih karbon dan produksi bersih oksigen hanya terjadi di hutan yang dalam tahapan pembentukan (memproduksi biomassa terus menerus).

Fungsi hutan sebagai penghasil kayu seringkali menyebabkan hutan tidak dapat memberikan fungsinya yang lain. Pengalaman Indonesia dalam memanfaatkan sumberdaya hutan dapat menjadi pelajaran yang baik. Pada awal Pelita I pemerintah memutuskan untuk memanfaatkan sumberdaya hutan untuk membiayai pembangunan. Sumberdaya hutan dianggap sebagai sumberdaya yang tersedia  berlimpah dan dapat langsung dimanfaatkan. Pada saat itu banyak pengusaha yang bukan pegusaha kehutanan ikut serta dalam mengaksploitasi hutan. Akibatnya hutan dieksploitasi tanpa memperhatikan sifat-sifat khas dari sumberdaya hutan itu sendiri dan dengan cara-cara yang tidak memperhatikan kaidah – kaidah  kelestarian. Hasil dari kebijakan pada saat itu, sekarang dapat dinikmati hasil pembangunan tetapi sumberdaya hutan sebagian besar menjadi hancur.

Perusakan hutan selain karena keserakahan segelintir kaum bermodal juga karena adanya tuntutan kebutuhan lahan bagi penduduk yang terus bertambah. Populasi yang berlebih merupakan salah satu penyebab  kerusakan lingkungan, termasuk hutan. Menurut Chiras, 1985 faktor-faktor lain yang menyebabkan kerusakan lingkungan adalah konsumsi per kapita, politik dan kebijaksanaan publik. Masing-masing faktor, sendiri-sendiri atau bersama-sama, menyebabkan berbagai masalah terhadap lingkungan sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan.

Menurut Soemarwoto, 1994, kerusakan lingkungan merupakan tanda-tanda telah terlampauinya daya dukung lingkungan. Lingkungan telah dieksploitasi melebihi kemampuannya dalam mendukung kehidupan. Konsep daya dukung berhubungan dengan jumlah penduduk yang dapat didukung sumberdaya di suatu tempat yang akan mendukung kehidupan penduduk tersebut. Menurut Odum, 1971, pengertian daya dukung (carrying capacity) adalah jumlah populasi manusia yang optimal, yang dalam jangka panjang dapat dipenuhi kebutuhannya oleh suatu satuan ;ingkungan atau sumberdaya alam. Dengan demikian pertambahan jumlah penduduk akan sangat mempengaruhi pemanfaatan lingkungan.

Erosi dan Dampaknya

Erosi sebenarnya adalah proses berpindahnya atau terangkutnya tanah atau sebagian tanah di permukaan dari suatu tempat ke tempat lain oleh air atau angin (Sinukaban, 1989 dan Arsyad, 1989). Sebenarnya tanpa campur tangan manusia erosi tetap terjadi, tetapi laju erosi  yang terjadi sama dengan laju pembentukan tanah, sehingga erosi ini tidak menyebabkan kerusakan tanah. Erosi seperti ini disebut erosi geologi.

Akan tetapi dengan makin intensifnya pemanfaatan lahan, makin besarnya tekanan penduduk terhadap lahan dan lahan-lahan yang berlereng curam dibudidayakan, maka erosi dipercepat mulai terjadi.  Erosi dipercepat menyebabkan kerusakan tanah dna dapat merubah tanah menjadi tanah kritis dan marjinal.

Proses erosi terdiri dari dua sub proses, yaitu :

  1. Penghancuran struktur tanah menjadi butir-butir primer oleh energi tumbuk butir-butir hujan dan perendaman oleh air yang tergenang dan pemindahan butir-butir tanah oleh percikan hujan, dan
  2. Penghancuran struktur tanah diikuti pengangkutan butir-butir tanah tersebut oleh aliran permukaan (Arsyad, 1989; Goldman et al., 1986).  Jadi terinci proses erosi terdiri dari empat fase, yaitu pemecahan, pengangkatan, pengangkutan dan pengendapan butir-butir tanah dalam pergerakannya mengikuti saluran  air (Stalling, 1957; Bubenzer, 1980 dalam Sinukaban, 1989).

Erosi dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak dapat dirubah oleh manusia, seperti iklim dalam hal ini curah hujan, tipe tanah dan kecuraman lereng, dan faktor-faktor yang dapat dirubah oleh manusia seperti sifat-sifat tahan seperti kesuburan tanah, ketahanan agregat, kapasitas infiltrasi dan satu unsur topografi yaitu kelerengan (Arsyad, 1989).

Dampak yg ditimbulkan erosi dan sedimentasi dapat berupa dampak lingkungan maupun dampak ekonomi.  Dampak lingkungan seperti penyebab terjadinya ledakan alga yang akan mengurangi kejernihan air, mengurangi ketersediaan oksigen di air dan mengakibatkan kematian ikan, gerakan sedimen di air akan mengganggu kegiatan fotosintesis tumbuhan air. Dampak ekonominya seperti berkurangnya umur pakai waduk karena terjadinya pendangkalan dan berkurangnya kemampuan tanah mendukung pertumbuhan tanaman sehingga produksi menurun.

Dampak erosi dapat langsung atau tidak langsun (Arsyad, 1989).  Dampak langsung di tempat terjadinya erosi, seperti kehilangan lapisan tanah yang subur, kerusakan struktur tanah dan penurunan produksi pertanian.  Dampak langsung di luar tempat terjadinya erosi seperti pelumpuran dan pendangkalan badan air, menurunnya kualitas air dan terjadinya banjir. Sedangkan dampak tidak langsung di tempat terjadinya erosi, seperti sulit untuk memanfaatkan tanah dan di luar tempat terjadinya erosi seperti makin singkatnya umur badan air.

Penyelamatan Hutan

Pemanfaatan hutan seharusnya tidak menyebabkan manusia tidak dapat lagi menikmati hasil hutan, karena sumberdaya hutan adalah sumberdaya yang dapat diperbarui. Hutan tetap dapat dimanfaatkan dengan cara-cara yang dapat meminimumkan kerusakan yang terjadi. Jadi yang dimaksud dengan pengelolaan hutan adalah kegiatan manusia secara keseluruhan yang bertujuan untuk mengarahkan sistem ekologi hutan atau memelihara sistem tersebut dalam keadaan yang memungkinkan sistem ini untuk memenuhi kebutuhan manusia akan produksi dan/atau jasa pelayanan dalam jangka panjang (Steinlin, 1988). Pemanfaatan hutan dengan memperhatikan kaidah-kaidah kelestarian sangat diperlukan. Dalam pengelolaan sumberdaya alam benang merah yang utama adalah mencegah timbulnya pengaruh negatif terhadap lingkungan dan mengusahakan kelestarian sumber alam agar bisa digunakan terus menerus untuk generasi yang akan datang (Salim, 1991).

Sehubungan dengan fungsi hutan sebagai regulator aliran air, maka pengelolaan hutan ada baiknya didekati dengan pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai). DAS didefinisikan sebagai daerah atau wilayah yang dibatasi secara topografi dimana air yang jatuh ke dalam DAS tersebut akan mengalir ke titik keluaran (outlet) tertentu. Jadi pembatasannya berdasarkan keluar-masuknya air di daerah tersebut.

Suatu DAS terdiri dari daerah hulu, tengah dan hilir. Daerah hulu DAS dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut: merupakan daerah konservasi, mempunyai kerapatan drainase lebih tinggi, merupakan daerah dengan kemiringan lereng besar (lebih dari 15%), bukan merupakan daerah banjir, pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase. Sedangkan daerah hilir dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut: merupakan daerah pemanfaatan, kerapatan drainase lebih kecil, merupakan daerah dengan kemiringan lereng kecil sampai sangat kecil (kurang dari 8%), pada beberapa tempat merupakan daerah banjir (genangan), pengaturan pemakaian air ditentukan oleh bangunan irigasi. Daerah tengah merupakan daerah transisi antara dua daerah tersebut (Asdak, 1995).

Daerah hulu DAS merupakan daerah yang penting karena memberikan fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS. Oleh karena itu dalam perencanaan pengelolaan DAS, sering kali difokuskan pada perencanaan pengelolaan daerah hulu DAS dan untuk menjaga fungsi lindung ini daerah hulu sering ditetapkan sebagai kawasan lindung.

Pada saat ini daerah hulu dari kebanyakan DAS di Indonesia telah banyak yang mengalami kerusakan. Upaya merehabilitasinya tidak hanya tanggung jawab pemerintah tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat. Upaya pemerintah mengosongkan kawasan hutan lindung melalui program transmigrasi lokal misalnya bertujuan untuk mengembalikan fungsi lindung dari kawasan lindung tersebut. Akan tetapi usaha ini belum kelihatan berhasil, karena ternyata masih banyak penduduk yang bermukim dalam kawasan hutan lindung ini.

DAS Air Bengkulu

DAS air Bengkulu yang mencakup daerah seluas 51.500 ha dan berlokasi di dua Kabupaten di Bengkulu (Bengkulu Tengah dan Kota Bengkulu). DAS Air Bengkulu ini berbatasan denga DAS Tanjung Aur dan DAS Babat disebelah timur, Samudra Hindia di sebelah selatan. DAS Air Hitam dan Air Lemau disebelah barat dan DAS Sungai Musi disebelah Utara.

Sungai Utama DAS ini adalah Sungai Air Bengkulu. DAS ini terbagi dalam 3 sub DAS (BPDAS Ketahun, 2006) yaitu pertama Sub DAS Rindu Hati mencakup area seluas 19.207 ha, kedua Sub DAS Susup mencakup area seluas 9890 ha, ketiga Sub DAS Bengkulu Hilir mencakup area seluas 22.402 ha. Selain itu ad 6 anak sungai yang mengalir ke Sungai air Bengkulu ini adalah :

  1. Sungai Susup
  2. Sungai Rindu Hati
  3. Sungai Kemumu
  4. Sungai Pasemah
  5. Sungai Sialang
  6. Sungai Muara kurung

DAS air Bengkulu adalah bagian dari Wilayah Sungai (WS) air Bengkulu-Alas-Talo. WS ini terdiri dari Sembilan DAS yaitu Alas, Talo, Maras, Penago, Seluma, Kungkai, Air Hitam, Jenggalu, dan Air Bengkulu. WS ini termasuk kategori WS Propinsi (Departemen Pekerjaan Umum, 2006) karena keseluruhan wilayahnya berada di dalam Propinsi Bengkulu dan bukan kategori strategi nasional. Topografi DAS ini bergunung – gunung dan banyak terdapat anak sungai kecil. Sebagai titik keluaran (outlet) DAS, ditetapkan pada bendungan pembangkit listrik yang terletak di desa Sukajaya.

Kondisi iklim di wilayah DAS ini relatif  terjadi hujan sepanjang tahun. Data curah hujan yang berhasil dikumpulkan berasal dari stasiun klimatologi Air Hitam, Pajar Bulan dan Sumberjaya. Dengan metode Thiessen diperoleh data curah hujan tahunan dari tahun 1975 – 1998, dengan rata – rata adalah 2589 mm dan koefisien variasinya 0,17. Nilai koefisien variasi yang kecil ini menunjukkan bahwa pada periode waktu tersebut variasi curah hujan kecil sekali. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada periode tersebut tidak terjadi perubahan iklim yang berarti di wilayah DAS ini.

Ucapan Terima Kasih

Dengan selesainya tugas ini penulis ucapkan terima kasih kepada Bapak                 Prof. Ir. Urip Santoso, S.IKom., M.Sc., Ph.D  selaku pembimbing dalam mata kuliah Penyajian Ilmiah yang telah memberikan saran dan kritik atas penulisan    artikel telaah pustaka ini

Kesimpulan

  1. Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang dapat diperbarui (renewable) walaupun pembaharuannya ini membutuhkan waktu yang sangat panjang.
  2. Masyarakat di DAS Air Bengkulu sebagian besar adalah etnis Rejang, Lembak dan Jawa.
  3. Ketiga etnis ini hidup berdampingan, walaupun tetap bertempat tinggal di kampung yang berbeda;
  4. Proses interaksi antar etnis berlangsung lama, dan untuk itu diperlukan pihak ketiga untuk mempercepat proses ini;

Saran

  1. Perlu adanya program terpadu yang melibatkan masyarakat yang difasilitasi oleh pemerintah untuk mengelola kawasan lindung;
  2. Perlu adanya pengkajian mengenai karakteristik petani sekitar hutan di daerah yang lain untuk dapat mengelola hutan dengan lestari.

Daftar Pustaka

 

Anonim. 2004. Pengelolaan Kolaboratif Peraturan Menteri Kehutanan No.P. I 9/Menhut¬11/2004. Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta.

Anonim. 2007. Perattum Menteri Kehutanan Nomor: P.37/Menhut II/2007. Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta.

Ardriansyah O. dan Mustikasari R. 2011. Potret Masyarakat dan Aktivitasnya di DAS AIR Bengkulu. YUB. Bengkulu

Arsyad, I dan S. Rahoo. 2004. Pengelolasn Hutan Lestari: Pembelajaran Dari hnplementasi Manajemen Kolaboratif Dalam Pengelolaan Hutan Konservasi dan Hutan Lindung Dalam : Prosiding Workshop Penguatan Desentralisasi Sektor Kehutanan Di Indonesia (ed. L. Siswanty et.al.). Badan Planologi Kehutanan Departemen Kehutanan. Jakarta.

Asdak, 1995. Fundamentals of Ecology. W.B. Saunder Company. Philadelphia.

BPDAS Ketahun, 2006.  Profil Kondisi Daerah Aliran Sungai Air Bengkulu, Kota Bengkulu.

Departemen Pekerjaan Umum, 2006. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11 A/PRT/M/2006, Jakarta.

Hibbert, Bosch and Hewlett, 1983. Forest Ecology.Fourth Edition.Inc. New York.

Pranaji,  T. 2006.  Pengembangan Kelembagaan dan Pengelolaan Sumberdaya Lahan dan Air.  Analisis Kebijakan Pertanian, 3(3) : 236-255.

Rahardjo, B. Dan R. Isnaini. 2006. Study Banding Internasional Model Pengelolaan Kolaboratif Kawasan Konservasi Mt.Kitanglad Range Natural Park, Philippines, 4 12 Maret 2006. Lembaga Alam Tropika Indonesia. Bogor.

Syamsiah, I. dan A.M Fagi. 1997.  Teknologi Embung.  Sumberdaya Air dan Iklim dalam mewujutkan Pertanian Efisien.  Kerjasama Departemen Pertanian dengan Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI).

YUB, 2009.  Report of the Research and Public Campaign on Water Quality Problem of the Air Bengkulu River Basin, Bengkulu.

 

12 Responses to “KAJIAN KARAKTERISTIK DAN DAMPAK LINGKUNGAN KEGIATAN PETANI SEKITAR HUTAN”

  1. Agusri Ramadhan, PSDAL XVIII UNIB 2016 Says:

    Kerusakan hutan juga dapat terjadi karena kebijakan yang dibuat lebih memperhatikan dampak ekonomis dibandingkan dengan dampak ekologis. Selain itu juga perbedaan persepsi tentang kelestarian hutan kadang terjadi karena dasar pemahaman yang berbeda. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa kebijakan pengelolaan hutan yang salah dari pemerintah sebagai suatu “pengrusakan hutan yang terstruktur” karena kerusakan tersebut didukung oleh perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku.

  2. Weli sulastri Says:

    Masyarakat yang melakukan kegiatan pertanian atau perladangan di sekitar hutan sering melakukan kegiatan illegal logging ke dalam kawasan. Hal ini dilstarbelakangi oleh buruknya sistem perekonomian yang menyebabkan masyarakat mencari nafkah dengan melakukan illegal logging

  3. Weli sulastri Says:

    Dengan pertumbuhan penduduk, meningkatnya kebutuhan hidup masyarakat dan ketakutan akan langkanya lahan pertanian atau perkebunan, sehingga masyarakat berlomba-lomba untuk membuka kawasan hutan untuk dijadikan lahan pertanian atau perkebunan sehinga terjadinya penyempitan luas kawasan hutan.

  4. Weli sulastri Says:

    Berubahnya peruntukan kawasan hutan menjadi lahan pertanian atau perkebunan yang menimbulkan dampak lingkungan karena berubahnya fungsi pokok hutan terutama hutan lindung yang funngsinya sebagai perlindungan sistem penyanggah kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah

  5. Weli sulastri Says:

    Merubah image atau pola pikir masyarakat akan pentingnya hutan dengan cara memberikan sosialisasi dan pendidikan lingkungan pada masyarakat yang tinggal di sekitar hutan merupakan salah satu alternatif untuk menanggulangi perambahan hutan

  6. Weli sulastri Says:

    Untuk meningkatksn pendapatan masyarakat petani di sekitar hutan, instansi terkait dalam hal ini dinas kehutanan agar mampu menyediakan lapangan kerja sampingan dengan memberikan peluang kepada masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu seperti totan, getah, buah-buahan dsb

  7. ALEXANDER FELIX TAUFAN
    PSDAL UNIB angkatan 18

    Tulisan yang menarik.
    saya setuju, bahwa perlu adanya program terpadu yang melibatkan masyarakat yang difasilitasi oleh pemerintah untuk mengelola kawasan lindung;
    serta harus ada pengkajian mengenai karakteristik petani sekitar hutan di daerah yang lain untuk dapat mengelola dan melestarikan Hutan Lindung.

  8. apabila keberadaan masyarakat hutan dapat dikendalikan dengan baik oleh pemerintah khususnya dari segi ekonomi, maka dampak yang mereka timbulkan terhadap hutan dapat ditekan

  9. Jalin Elsaprike, ST Mahasiswa Pasca Sarjana PSDAL Angkatan 18 Says:

    perlu regulasi yang membatasi kegiatan tersebut, agar kelestarian dari fungsi hutan dapat terjaga….jika dibiarkan maka konflik sosial akan terjadi, sehingga pengawasan penegakan atas aturan pembukaan lahan di sekitar hutan dapat di tekan dan terarah……

  10. Nursaadah Istiqamah Says:

    |[Nursaadah Istiqamah.]|
    Menurut saya petani tidak terlalu membuat dampak buruk terhadap hutan karena mereka biasa menanam kembali dari hutan yg telah di tebang, kalau pun berdampak hanya sedikit, tapi yang perlu di tindak dan di perhatikan adalah para pengusaha-pengusaha yg melakulan illegaloging yang jumlah hutan yg ditebang sangat banyak, apa lagi DAS (Daerah Aliran Sungai) khusunya aliran sungai ketahun sebagai contohnya dulu ketika sebelum adanya tambang batu bara sangat beda kualitas air nya dengan sekarang, semua itu pemerintah yang memberikan izin tanpa memperhatikan dampaknya, artikel ini menarik, tapi alangkah lebih menariknya para petani di ganti dengan para pengusaha yang tetap menjaga kelestarian kawasan lindung.
    Wassalam…..

  11. hermy puspita sari, PSDAL Unib Says:

    petani disekitar hutan bukan hal yang terlalu salah, namun harus di batasi atau aturan agar petani tidak meluaskan lahan petani dan tidak merusak ekosistem hutan.. sehingga tidak terjadinya konflik antara petani dan pemerintah

  12. yartiwi PSDAL 18 Says:

    Seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk yang terus menerus, akan berdampak pada perekonomian yang mana lahan pertanian yang diolah semakin berkurang sehingga utk mempertahankan proses kehidupan berbagai cara yang dilakukan termasuk ilegal loging, ladang berpindah, dll


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s