JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

PERTUMBUHAN VARIETAS PADI SAWAH PADA BERBAGAI UMUR PINDAH TANAM October 2, 2012

Filed under: Sumberdaya — Urip Santoso @ 11:47 pm
Tags:

Oleh    : Rasiwan

ABSTRAK

Tanaman padi sawah dengan berbagai umur pindah tanam, yang menggunakan media tanam tanah sawah rawa pada kedalaman 20 cm dari permukaan tanah, kemudian dimasukkan kedalam pot dengan diameter 30 cm, setinggi 20 cm. Pertumbuhan tanaman padi tidak terjadi interaksi antara varietas dengan umur tanam. Respon ketiga varietas padi menunjukkan respon yang sama terhadap perlakuan umur tanam. Perbedaan umur pindah tanam (tabela 7hari, 14 hari dan 21 hari) pada variabel gabah isi dan presentase gabah isi tidak berpengaruh. Dapat disimpulkan bahwa umur pindah tanam tidak begitu berpengaruh terhadap pertumbuhan.

PENDAHULUAN

Beras merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Kebutuhan beras akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya konsumsi per kapita penduduk. Jumlah penduduk indonesia 210 juta jiwa dan produksi padi mencapai 51,4 juta ton gabah kering giling (BPS, 2003 dalam BPTP, 2005). Jika tidak diimbangi dengan laju pertumbuhan produksi pangan dalam negri secara signifikan, dapat menyebabkan ketahanan pangan nasional rendah. Laju pertumbuhan penduduk rata-rata 1,7 % per tahun dan kebutuhan per kapita 134 kg, maka pada tahun 2025 Indonesia harus mampu menghasilkan padi sebanyak 78 ton gabah kering giling (GKG) untuk mencukupi kebutuhan nasional (BPTP, 2005).

Program pembentukan Varietas Unggul Tipe Baru (VUTB) di Indonesia cukup berhasil, varietas Cimelati telah dilepas tahun 2001, Ciherang tahun 2001 dan Ciapus tahun 2003. Varietas-varietas tersebut belum mempunyai semua sifat-sifat padi tipe baru yang diharapkan (ideotipe) sehingga disebut sebagai Varietas Semi Padi Tipe Baru (BPTP, 2005). Sifat-sifat tanaman padi vaietas unggul antara lain: mempunyai banyak anakan, jumlah malai anakan banyak, buah padi tiap-tiap malai lebih dari 250 butir, respon terhadap pemupukan, tahan terhadap hama dan penyakit (termasuk virus), umur pendek yaitu 110-140 hari setelah semai (AAK, 2000). Varietas unggul mempunyai sumbangan untuk meningkatkan produksi yang tinggi jika disertai teknologi budidaya yang sempurna, akan tetapi jika tidak justru terjadi sebaliknya yaitu hasilnya lebih rendah dari varietas lokal.

Menurut Harahap  et al. (1972), persilangan padi di Indonesia dimulai pada tahun 1920-an dengan memanfaatkan gene pool yang dibangun melalui introduksi tanaman. Sampai dengan tahun 1960-an, pemuliaan padi diarahkan pada lahan dengan pemupukan yang rendah, atau t a n ama n   k u r a n g   r e s p o n s i f   t e r h a d a p pemupukan.

Musaddad et al. (1993) melaporkan bahwa pelepasan varietas padi pertama kali dilakukan pada tahun 1943, yaitu varietas Bengawan. Varietas tipe Bengawan memiliki latar belakang genetik yang merupakan perbaikan dari varietas Cina yang berasal dari Cina, Latisail dari India, dan Benong dari Indonesia (Hargrove et al. 1979). Karakteristik padi sawah tipe Bengawan menurut Daradjat et al. (2001b) adalah umur 140−155 hari setelah sebar (HSS), tinggi tanaman 145−165 cm, tidak responsif terhadap pemupukan, rasa nasi pada umumnya enak, dan daya hasil menurut Musaddad et al. (1993) sekitar 3,50−4 t/ha. Contoh varietas tipe Bengawan menurut  Ha r ahap  e t  al .  (1972) , Djunainah et al. (1993), Musaddad  et al. (1993), dan Sunihardi et al. (1999), antara lain adalah  Bengawan (1943), Jelita (1955), Dara (1960), Sinta (1963), Bathara (1965), dan Dewi Ratih (1969).

Pembentukan va r i e t a s  padi  dilakukan dengan menyilangkan beberapa tetua, kemudian dari turunan persilangan tersebut dipilih tanaman-tanaman yang mempunyai sifat-sifat yang baik. Persilangan umumnya dilakukan dengan s i l ang  tunggal   (single   cross) ,   silang puncak (top cross), silang ganda (double cross), dan silang balik (back cross). Metode pemuliaan yang digunakan di Indonesia sampai dengan tahun 1950-an adalah metode  bulk, kemudian beralih kepada metode  pedigree (Harahap dan Silitonga 1989).

Faktor lingkungan memiliki pengaruh besar dalam peningkatan produksi, hal ini dibuktikan dengan metode SRI (Sistem of Rice Intensification). Menanam padi dengan penggunaan metode SRI di Ciamis meningkatkan produksi 9,4 ton/ha, Garut 11 ton/h/ha dan Tasik 11,2 ton/ha, bahkan terakhir ada yang mencapai 12,5 ton/ha. Metode ini terdiri dari empat komponen utama yaitu: umur pindah bibit muda, penanaman satu bibit per lubang, jarak tanam longgar dan pengelolaan air yang tidak tergenang terus menerus (Uphoff, 2003). Tanaman padi dapat tumbuh dengan baik di daerah yang berhawa panas dan banyak mengadung air. Dengan kata lain, padi dapathidup baik didaerah beriklim panas yang lembab. Pengertian iklimmenyangkut curah hujan, temperatur, ketinggian tempat, sinar matahari, angin dan panas. Musim berhubungan erat dengan hujan yang berperan di dalam penyediaan air dan hujan dapat berpengaruh terhadap pembentukan buah, sehingga sering terjadi bahwa penanaman padi pada musim kemarau mendapatkan hasil yang lebih tinggidari pada penanaman padi pada musim hujan dengan catatan apabila pengairan baik. Suhu mempunyai pengaruh penting dalam pertumbuhantanaman, suhu yang panas merupakan temperatur yang sesuai bagi tanaman padi, misalnya daerah tropika yang dilalui gariskhatulistiwa seperti di negara kita ini. Tanaman padi dapat tumbuh dengan baik pada suhu 23oC keatas, sedangkan di Indonesia pengaruh suhu tidak terasa sebab suhunya hampir konstan sepanjang tahun. Adapun salah satu pengaruh suhu terhadap tanaman padi yaitu kehampaan pada biji (Raharja,2002).

Tanaman padi secara garis besar terdiri dari dua bagian pokok, yaitu bagian vegetatif dan bagian generatif. Bagian vegetatif terdiri dari akar, batang dan daun sedangkan bagian generatif meliputi malai, bunga dan gabah (AAK, 1990).

Akar padi tergolong akar serabut dan muncul kira-kira lima sampai enam hari setelah berkecambah. Letak susunan akar hingga kedalaman 30 cm dari permukaan tanah (Affandi, 1997). Menurut Suparyono dan Setyono (1993), perakaran tanaman padi tidak banyak mengalami perubahan selama pertumbuhan. Pada awalnya akar yang tumbuh dari biji kecambah biji disebut akar primer, kemudian berkembang menjadi akar serabut. Tinggi yanaman padi bervariasi, antara 80-120 cm, tergantung dari varietasnya. Bentuk batangnya bulat dan berongga, terdiri dari ruas-ruas batang, daun memanjang seperti pita dan mempunyai sebuah malai yang terdapat pada ujung batang (Wayle, 1995). Pada saat tanaman padi memiliki daun empat sampai lima helai maka anakan akan muncul dan tumbuh sesuai dengan perkembangan daun (Suparyono dan Setyono, 1993).

Umumnya padi diusahakan sebagai padi sawah, yaitu dibudidayakan pada lahan dengan kondisi tergenang (Taslim dan Fagi, 1998). Di Indonesia padi ditanam diseluruh daerah, mulai dari dekat pantai sampai ke dataran tinggi pegunungan.

Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim kemarau produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah produksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif. Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0-650 m dpl dengan temperatur 22-270C sedangkan di dataran tinggi 650-1.500 m dpl dengan temperatur 19-230C. Tanaman padi memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu kencang akan merobohkan tanaman (Anonim, 2006).

Media tanam padi merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam. Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam karena tanah memiliki kelembaban yang berbeda-beda. Media tanam termasuk dalam kategori bahan organik umumnya berasal dari komponen organisme hidup, misalnya bagian dari tanaman seperti daun, batang, bunga, buah dan kulit kayu. Penggunaan bahan organik sebagai media tanam jauh lebih unggul dibandingkan dengan bahan an-organik. Bahan organik akan mengalami proses pelapukan atau dekomposisi yang dilakukan oleh mikroorganisme.

Bahan an-organik merupakan bahan dengan kandungan unsur mineral tinggi yang berasal dari proses pelapukan. Bahan an-organik bisa berasal dari bahan-bahan sintetis atau kimia. Penggunaan media tanam an-organik adalah kondisinya yang miskin hara serta kebersihan dan keseterilan belum tentu terjamin.

Tanah persawahan merupakan media atau tempat tumbuhtanaman padi. Oleh karena itu, tanah tempat penyelenggaraan usaha pertanian pada umumnya yang tidak akan pernah habis terpakai ini mutlak harus tersedia.Kita mengetahui, bahwa tanah digunakan oleh manusia untuk  berbagai macam kepentingan seperti untuk usaha pertanian, pemukiman, perluasan kota dan lain sebagainya. Semua ini berguna bagi kehidupan manusia dan menunjang kelangsunganusaha. Areal tanah yang dikhususkan untuk usaha pertanian luasnya relatif konstan, tetapi jumlah penduduk yang semakin bertambah menyebabkan pemilikan luas tanah pertanian rata-rata semakin menyempit. Akan tetapi kebutuhan pokok yang berupa pangan selalu diperlukan setiap saat, sehingga harusselalu diupayakan, agar tetap dalam keadaan seimbang. Adanya perkembangan terus menerus di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pangan yang begitu pesat,memungkinkan meningkatnya produksi baik dalam hal kualitasmaupun kuantitas. Walaupun demikian, peningkatan produksiini masih terus dibayangi oleh laju pertumbuhan jumlah. Padi sawah cocok ditanam di tanah berlempung yang berat dan tanah yang memiliki lapisan keras 30 cm dibawah permukaan tanah, karena tanaman varietas menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan keasaman tanah antara pH 4,0-7,0. Oleh karena itu tanah berkapur dengan pH 8,1-8,2 menjadi tidak merusak tanaman padi. Karena mengalami penggenangan, tanah sawah memiliki lapisan reduksi yang tidak mengandung oksigen dan pH tanah sawah basanya mendekati netral. Untuk mendapatkan tanah sawah yang memenuhi syarat diperlukan pengolahan tanah yang khusus.

Kebutuhan air untuk pengolahan tanah sampai siap tanam (30 hari) mengkonsumsi air 20% dari total kebutuhan air untuk padi sawah dan fase bunting sampai pengisian bulir (15 hari) mengonsumsi air sebanyak 35 %. Berdasar data tersebut sebetulnya sejak tanam sampai memasuki fase bunting tidak membutuhkan air banyak, demikian pula setelah pengisian bulir. Oleh karenanya 15 hari sebelum panen, padi tidak roboh dan ditinjau dari aspek pemberian air memang tidak perlu lagi. Pengefisienan penggunaan air di petakan dapat dilakukan dengan mengairi sawah dalam keadaan becek. Setelah  tanaman padi berumur 14 hari sampai periode bunting tidak memerlukan air yang banyak. Kebiasaan petani menggenangi sawahnya sampai 5 cm bahkan lebih karena petani tidak membayar air  yang digunakan tersebut, sehingga cenderung bermewah-mewah dengan air. Efisiensi penggunaan air tidak  hanya untuk tanaman padi, namun juga untuk tanaman palawija. Pada daerah tadah hujan, pengefisienan penggunaan  air penting sekali, mengingat daerah tersebut tidak mempunyai air irigasi. Pada daerah ini penanaman padi dua kali membawa resiko yang  besar, terutama kekurangan air pada saat tanaman membutuhkan air banyak (periode bunting samapai pengisian bulir), yang dapat berakibat terjadinya perununan hasil padi secara dastis. Untuk itu biasanya petani menanam palawija yang tidak membutuhkan air banyak. Kebanyakan  palawija baik itu kacang tanah, kedelai, kacang hijau ataupun jagung hanya mengkonsumsi air sebanyak 0,25 – 0,30 dari padi sawah, tergantung umur tanamannya.

Ada beberapa cara untuk menentukan umur panen padi, yaitu berdasarkan: (1) Umur tanaman menurut diskripsi varietas, (2) Kadar air gabah, (3) Metode optimalisasi yaitu hari setelah berbunga rata, dan (4) Kenampakan malai (Setyono dan Hasanuddin 1997).

Waktu (umur) panen berdasarkan umur tanaman sesuai dengan diskripsi varietas dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya varietas, iklim, dan tinggi tempat, sehingga umur panennya berbeda berkisar antara 5-10 hari. Berdasarkan kadar air, padi yang dipanen pada kadar air 21-26% memberikan hasil produksi optimum dan menghasilkan beras bermutu baik (Damardjati,1979; Damardjati dkk.,1981). Cara lain dalam penentuan umur panen yang cukup mudah dilaksanakan adalah metode optimalisasi.Dengan metode optimalisasi, padi dipanen pada saat malai berumur 30 – 35 hari setelah berbunga rata (HSB) sehingga dihasilkan gabah dan beras bermutu tinggi (Rumiati dan Soemadi,1982) Penentuan saat panen yang umum dilaksanakan petani adalah didasarkan kenampakan malai, yaitu 90 – 95 % gabah dari malai tampak kuning (Rumiati, 1982).

Dari hasil pemuliaan tercipta padi unggul lainnya yang berpotensi hasil tinggi melalui perakitan Padi Tipe Baru (PTB) dan padi Hibrida. Padi tipe baru dicirikan oleh batang yang kokoh, malai yang panjang dan lebat jumlah anakan produktif 10-12 dan daun yang lebar berwarna hijau tua. Hal ini memungkinkan tanaman mampu memberikan hasil 30-50% lebih tinggi dari varietas unggul nasional yang ada sekarang seperti IR 64, Way Apoburu, Ciherang dan Membramo (Las et al., 2003).

Menurut Mashur (2003), padi tipe baru dirancang agar fotosintat didistribusikan secara lebih efektif kemalai/gabah. Untuk itu ciri dari PTB yang dikehendaki adalah tinggi tanaman 80-100 cm, batang kuat, jumlah anakan 8-10 (semua bermalai), daun tegak, lebar, tebal dan berwarna hijau tua, malai panjang (jumlah gabah 200-250/malai), umur 100-130 hari, tahan terhadap hama/penyakit utama.

Teknik budidaya yang belum dilakukan secara optimal oleh petani menyebabkan tanaman padi belum mengekspresikan kemampuan potensialnya secara optimal sesuai dengan kemampuan genetiknya (Venkateswarlu and Visperas, 1987 dalam Sumardi et al., 2007).

Media tanam yang digunakan adalah tanah sawah rawa yang telah terlebih dahulu dibersihkan dari gulma dengan menggunakan cangkul. Media tanam diambil pada kedalaman 20 cm dari permukaan tanah, kemudian dimasukkan kedalam pot dengan diameter 30 cm, setinggi 20 cm.

Benih sebelum disemai terlebih dahulu direndam dalam air selama 24 jam, lalu ditiriskan. Selanjutnya benih disebar pada pot dengan media tanah rawa. Waktu penyemaian dilakukan 4 kali, yaitu pertama umur benih 21 hari disemaikan terlebih dahulu. Kedua, umur benih 14 hari dilakukan pada saat umur benih pertama berumur 7 hari dan ketiga umur benih 7 hari dilakukan saat umur benih pertama berumur 14 hari, keempat umur benih 0 hari atau tanam benih langsung (tabela). Penanaman dilakukan serentak (umur benih 21 hari, 14 hari, 7 hari dan tabela).

Untuk pemelihara meliputi penyulaman, penyiangan, penyiraman dan pengendalian hama penyakit. Pengendalian hama penyakit dilakukan dengan penyemprotan insektisida yang berbahan aktif Deltamerin dengan dosis 0,4 ml/l diberikan saat ada gejala dan hama penyakit pada percobaan. Pemanenan dilakukan setelah tanaman sudah menunjukkan kriteria panen yaitu lebih dari 85 % bulir dan daun padi menguning.

Secara umum nilai koefisien keragaman (KK) data peubah pertumbuhan dan hasil tanaman yan diamati bervariasi. Data variabel umur berbunga dan umur panen, memiliki nilai KK kecil berarti data tersebut cukup homogen.

Variabel pertumbuhan tanaman padi yang diamati menunjukkan tidak terjadi interaksi antara varietas dengan umur tanam. Hal ini diartikan bahwa respon tiga varietas padi menunjukkan respon yang sama terhadap perlakuan umur tanam.

Perbedaan umur pindah tanam (tabela 7hari, 14 hari dan 21 hari) pada variabel gabah isi dan presentase gabah isi tidak berpengaruh. Berdasarkan penelitian Masdar, et al. (2006) umur pindah lapang 21 hari tidak berpengaruh terundurnya pindah lapang terhadap komponen hasil tetapi umur 14 hari terhadap perbedaan dengan 21 hari.

KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tiga varietas padi menunjukkan respon pertumbuhan dan hasil yang sama terhadap umur tanam serta tiga varietas dan umur pindah tanam pada variabel berat gabah isi tidak ada perbedaan.

 

 

UCAPAN TERIMA KASIH

            Penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu penulisan dan berbagai fasilitas yang menunjang penulisan ini terutama penulis karya ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

AAK. 2000. Budidaya Tanaman Padi, Aksi Agraris Kanisius. Kanisius. Yogyakarta

Anonim. 2006. Padi. http://www.ristek.go.id./file_upload/ttg/data/budidaya%20 pertanianpangan/padi.pdf.16juli2006.

BPTP. 2005. Budidaya Varietas Unggul Baru Padi Sawah. Deptan. Balai Pengawas dan Sertifikasi BenihTPH. Bengkulu

Hanafiah, K.A.2001. Rancangan Percobaan, Teori & Aplikasi. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

Las, I., B. Abdullah, A.A. Dajadjat. 2003. Padi Tipe Baru dan Padi Hibrida Mendukung Ketahan Pangan. Sinar Tani. Puslitbang Tanaman Pangan

Masdar, M. Kasim, B. Rusman, N. Hakim dan Helmi. 2006. Tingkat Hasil Dan Komponen Hasil Sistem Intensifikasi Padi (SRI) Tanpa Pupuk Organik Didaerah Curah Hujan Tinggi. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. 8 (2): 126-131

Raharja, Anton. 2002. Multi NPK Padi Pilihan Tepat Upaya Peningkatan Produksi Padi. http://www.pustaka-deptan.go.id. Akses 17 Maret 2009

Sumardi, Kasli, M, Kasim, A. Syrif dan N. Akhir, 2007. Respon Padi Sawah Pada Tehnik Budidaya Secara Aerobik Dan Pemberian Bahan Organik. Jurnal-Jurnal Pertanian Indonesia. 10 (1) :65-71

Setyono A., dan A. Hasanuddin. 1997. Teknologi pascapanen padi. Makalah disampaikan pada Pelatihan Pascapanen dan Pengolahan Hasil Tanaman Pangan di BPLPP Cibitung, tanggal 21 s/d 25 Juli 1995.

Taslim. H dan A. H. Fagi. 1998. Ragam Budidaya Padi. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Puslitbang Tanaman Pangan. Bogor

Uphoff, N. 2003. Initial Report on China National S.R.I. Workshop. Hangzhon

 

 

 

 

 

Advertisements
 

5 Responses to “PERTUMBUHAN VARIETAS PADI SAWAH PADA BERBAGAI UMUR PINDAH TANAM”

  1. BURSAMIN Says:

    BURSAMIN

    PSDAL – BENGKULU UNIVERSITY FORCES TO 18

    NO AGREE
    Because, the rice plants depends on the circulation of water and arable land in accordance with the type of rice plants will be planted. Even if done transplanting, during conditions of adequate water and arable land and seedlings of rice plants adapted to environmental conditions, the type of rice plants will grow well .. It should be observed more

  2. hermy puspita sari, PSDAL Unib Says:

    menurut saya umur pindah tanam padi sebaiknya adalah sama sehingga umur panen nya juga akan sama

  3. Thank you for this article. Now i know a little bit more about Paddy and ricefield

  4. yeni herlina PSDAL18 Says:

    menurut saya umur pindah tanam harus sama karena menentukan umur pemupukan yang berdasarkan hari setelah tanam

  5. ikhwan efendy Says:

    Dengan melihat latarbelakang hasil penelitian dapat dijadikan pedoman bagi Petani dalam melakukan umur pindah tanam padi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s