JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

Indikator Pemantau Kualitas Air December 17, 2012

Filed under: Sumberdaya — Urip Santoso @ 12:06 am
Tags:

Oleh : Novi Adi

Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk kehidupan, pemanfaatan air utnuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana, dengan memperhitungkan generasi sekarang dan generasi mendatang. Pelestarian sumberdaya air harus mendapat perhatian secara menyeluruh dengan memperhatikan aspek-aspek pendukung kelestarian sumberdaya perairan. Peran air sangat penting bagi kehidupan. Seluruh komponen dalam jaringan tubuh suatu organisme sangat tergantung dengan air. Dalam proses metabolisme, sistem jaringan semua memerlukan air. Melihat sedemikian pentingnya air dalam kehidupan, kita perlu lebih bijaksana dalam pemanfaatan air.

A. Pemantauan Kualitas Air

Pemantauan kualitas air penting dilakukan, karena akan berhubungan kelayakan dan baku mutu air. Peratuaran Pemerintah No. 20 tahun 1990 mengelompokkan kualitas air menjadi beberapa golongan menurut peruntukannya. Nilai kualitas air dari masing-masing golongan ditunjukkan dalam lampiran 3. Adapun penggolongan air menurut peruntukannya adalah sebagai berikut.

  1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung, tanpa pengolahan terlebih dahulu.
  2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum.
  3. Golongan C, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan
  4. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, usaha pertokoan, industri dan pembangkit listrik tenaga air.

Tujuan pemantauan kualitas air

Pemantauan kualitas air suatu perairan memiliki tiga tujuan utama sebagai berikut (manson, 1993);

  1. Enviromental surveillance, yakni tujuan untuk mendeteksi dan mengukur pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu pencemar terhadap kualitas lingkungan dan mengetahui perbaikan kualitas lingkungan setelah pencemar tersebut dihilangkan.
  2. Establishing water-quality criteria, yakni tujuan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara perubahan variable-variable ekologi perairan dengan parameter fisika dan kimia, untuk mendapatkan baku mutu kualitas air.
  3. Appraisal of resources, yakni tujuan untuk mengetahui gambaran kualitas air pada suatu tempat secara umum.

Pada hakekatnya, pemantauan kualitas air pada perairan umum memiliki tujuan diantaranya:

  1. Mengetahui nilai kualitas air dalam bentuk parameter fisika, kimia dan biologi.
  2. Membandingkan nilai kualitas air tersebut dengan baku mutu sesuai dengan peruntukannya.
  3. Menilai kelayakan suatu sumber daya air untuk kepentingan tertentu.

B. Pencemaran Air

Permasalahan utama yang mengancam kehidupan adalah tercemarnya air. Pembuangan bahan kimia, limbah maupun pencemar lainnya ke dalam air akan mempengaruhi kehidupan di dalam ekosistem perairan.

Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau,sungai,lautandan air tanahakibat aktivitas manusia. Danau, sungai, lautan dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Selain mengalirkan air juga mengalirkan sedimen dan polutan. Berbagai macam fungsinya sangat membantu kehidupan manusia. Pemanfaatan terbesar danau, sungai, lautan dan air tanah adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya berpotensi sebagai objek wisata.

Pencemaran air merupakan masalah global utama yang membutuhkan evaluasi dan revisi kebijakan sumber daya air pada semua tingkat (dari tingkat internasional hingga sumber air pribadi dan sumur). Telah dikatakan bahwa polusi air adalah penyebab terkemuka di dunia untuk kematian dan penyakit, dan tercatat atas kematian lebih dari 14.000 orang setiap harinya. Diperkirakan 700 juta orang India tidak memiliki akses ke toilet, dan 1.000 anak-anak India meninggal karena penyakit diare setiap hari. Sekitar 90% dari kota-kota Cina menderita polusi air hingga tingkatan tertentu, dan hampir 500 juta orang tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman. Ditambah lagi selain polusi air merupakan masalah akut di negara berkembang, negara-negara industri/maju masih berjuang dengan masalah polusi juga. Dalam laporan nasional yang paling baru pada kualitas air di Amerika Serikat, 45 persen dari mil sungai dinilai, 47 persen dari danau hektar dinilai, dan 32 persen dari teluk dinilai dan muara mil persegi diklasifikasikan sebagai tercemar.

1. Aspek Biologi dalam Pencemaran Air

Menurut Tresna; (2009) penurunan dalam keanekaragaman spesies dapat juga dianggap sebagai tanda ada pencemaran. Spesies yang ada dalam kepadatan yang tinggi dinamakan Spesies Indeks atau organisme indikator populasi. Sugkiatu pencemar dalam suatu ekosistem mungkin cukup banyak, sehingga akan meracuni semua organisme yang ada disana. Biasanya suatu pencemar cukup banyak untuk membunuh spesies tertentu, tetapi tidak membahayakan spesies lainnya. Apabila air tercemar, ada kemungkinan pergeseran-pergeseran dan jumlah spesies yang banyak dengan ukuran yang sedang populasinya kepada spesies yang sedikit tetapi berpopulasi tinggi.

Spesies indeks yang dapat digunakan sebagai organisme indikator biologi untuk pencemaran termasuk didalamnya fauna dasar, bakteri, ganggang, zooplankton dan ikan tertentu. Indeks spesies ini bergantung pada dua hal, yakni sifat pencemaran dan tahap eutrofikasi air tertentu.

Keragaman populasi dalam suatu ekosistem perairan menunjukan eksistensi perairan tersebut. Danau sebagai salah satu ekosistem air, merupakan terminal air sementara, karena volume air dapat berkurang disaat-saat tertentu. Pengaruh populasi ini brgantung pada jumlah air yang ada dan luasan danau.

Ganggang dapat dijadikan indikator pencemaran. Banyak ganggang yang tahan hidup dalam air yang tercemar. Spesies ganggang tertentu tumbuh subur sehingga menghabiskan banyak makanan air eutrofik. Proporsi pertumbuhan berbagai ganggang dapat dijadikan indikator pencemaran pada lingkungan perairan tersebut.

Untuk memantau pencemaran air (sungai) digunakan kombinasi parameter fisika, kimia dan biologi. Tapi sering hanya digunakan parameter fisika seperti temperatur, warna, bau, rasa dan kekeruhan air. Atau pun parameter kimia seperti partikel terlarut (DO), kebutuhan oksigen biokimia (BOD), partikel tersuspensi (SS), Amonia (NH3).

Parameter biologi masih jarang digunakan sebagai parameter penentu pencemaran. Padahal pengukuran menggunakan parameter fisika dan kimia hanya memberikan gambaran kualitas lingkungan perairan sesaat dan cenderung memberikan hasil dengan interprestasi dalam kisaran luas (Verheyen dalam Tresna, 2009).

Menurut Soeparmo (1985) dampak pencemaran air dapat mempengaruhi perubahan struktur dan fungsi ekosistem sungai, baik hewan maupun tumbuhan.

Setiap spesies mempunyai batas antara toleransi terhadap suatu faktor yang ada di lingkungan teori toleransi Shelford (ODUM dalam Tresna, 2009).

Perbedaan batas toleransi antara dua jenis populasi  terhadap faktor-faktor lingkungan mempengaruhi kemampuan berkompetisi, jika sebagai akibat suatu pencemaran limbah industri terhadap suatu lingkungan adalah berupa penurunan atau berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam air, maka spesies yang mempunyai toleransi terhadap kondisi tersebut akan meningkat populasinya kaena spesies kompetisinya berkurang (Soeparmo, 1985).

Menurut Hawkes (1979), banyaknya bahan pencemaran dalam perairan akan mengurangi spesies yang ada dan pada umumnya akan meningkatkan populasi jenis yang tahan terhadap kondisi perairan tersebut.

Indikator biologi digunakan untuk menilai secara makro perubahan keseimbangan ekologi, khususnya ekosistem akibat pengaruh limbah. Contohnya pada suatu kawasan pertanian (persawahan), penggunaan pestisida dan insektisida akan menurunkan populasi hewan yang termasuk golongan inskta serangga baik di darat dan di air. Kondisi ini akan menghambat siklus rantai makanan, dimana si pemakan serangga akan menurun jumlahnya. Ketika rantai makanan terhambat maka keseimbangan akan bergeser.

Menurut Verheyen dalam Tresna (2009), spesies yang dapat bertahan hidup pada lingkungan terpopulasi, akan menderita stress fisiologi yang dapat digunakan sebagai indikator biologi.

Pendapat ini juga dapat dibuktikan dengan mengamati perbedaan warna kulit pada ikan lele ketika dipelihara pada media pemeliharaan yang berbeda dan dengan kondisi kualitas air yang berbeda. Yang pertama ikan lele dipelihara pada media dengan kondisi kualitas air yang optimal dan pergantian air yang cukup. Pada kondisi ini ikan lele akan menampilkan warna kulit yang cerah. Kondisi yang kedua adalah ketika ikan lele dipelihara pada kondisi lingkungan yang terbatas dengan tanpa ada pergantian air. Pada kondisi ini ikan lele akan merespon dengan menampilkan warna kulit yang lebih gelap.

Dibanding dengan menggunakan parameter fisika dan kimia, indikator biologi dapat memantau secara kotinyu. Hal ini karena komunitas biota perairan (flora/fauna) menghabiskan seluruh hidupnya di lingkungan tersebut, sehingga bila terjadi pencemaran akan bersifat akumulasi atau penimbunan.

Di samping itu, indikator biologis merupakan petunjuk yang mudah untuk memantau terjadinya pencemaran. Adanya pencemaran lingkungan keanekaragaman spesies akan menurun dan mata rantai makanannya menjadi lebih sederhana, kecuali bila terjadi penyuburan.

Flora dan fauna yang dapat dijadikan indikator biologis pencemaran sungai dapat diamati dari keanekaragaman spesies/diversitas, laju pertumbuhan struktur/sebaran umur dan seks rasio. Tingginya keanekaragaman flora dan fauna ekosistem sungai menandakan kualitas air sungai tersebut baik/belum tercemar. Tetapi sebaliknya bila keanekaragamannya kurang, sungai tersebut dapat dikatakan tercemar.

 

 

Indikator biologi pencemaran sungai harus memenuhi kriteria:

  • Mudah diidentifikasi
  • Mudah dijadikan sample, artinya tidak perlu bantuan opertor khusus, maupun peralatan yang mahal dan dapat dilakukan secara kuantitatif.
  • Mempunyai distribusi yang kosmopolit
  • Kelimpahn suatu spesies dapat digunakan untuk menganalisa indeks diversitas.
  • Mempunyai arti ekonomi sebagai sumber penghasilan (ikan), atau hama/organisme pengganggu (contoh: algae)
  • Mudah menghimpun/menimbun bahan cemar
  • Mudah dibudidayakan di laboratorium
  • Mempunyai keragaman jenis (gnetis/relung) yang sedikit.

Bahan Pencemar di Perairan Berdasarkan Akibat yang ditimbulkan.

Melalui pemantauan kualitas air secara berkala dengan mengamati kondisi biologis dalam badan air, kita dapat memisahkan antara penyebab cemaran (Polutan) dan akibat yang ditimbulkan dengan melihat indikator biologis dan pengaruh fisiks dan kimia. Penurunan oksigen misalnya biasanya disebabkan adanya organisme yang memerlukan oksigen dalam populasi yang banyak pada ekosistem tersebut.

Rao dalam Efendi (2003), mengelompokan bahan pencemar di perairan menjadi beberapa kelompok, yaitu :

1)      Limbah yang mengakibatkan penurunan kadar oksigen terlarut (oxygen demanding waste)

2)      Limbah yang mengakibatkan munculnya penyakit (disease causing agent)

3)      Senyawa organik sintetis

4)      Nutrient tumbuhan

5)      Senyawa organik dan mineral

6)      Sedimen

7)      Radioaktif

8)      Panas (thermal discarge)

9)      Minyak

Wiryono (2012) mengklasifikasikan polusi air berdasarkan sumbernya dan berdasarkan macam polutan. Berdasarkan sumbernya ada polusi dengan sumber titik tertentu (point source pollution). Ada juga polusi yang tidak bersumber dari titik tertentu (non point source pollution).

Sumber polusi air dan bahan pollutan dapat diamati dengan keberadaan biota yang mendominasi pada kawasan yang tercemar tersebut. Kecenderungan organisme yang mampu bertahan hidup pada bahan cemaran air (bahan pollutan) akan mudah diamati. Contohnya Alga hijau-biru (Microytis sp) meningkat bila perairan subur/pencemar pupuk Nitrogen (N), pencemaran pupuk Phospat (PO4) meningkat dapat dilihat dengan meningkatnya kehadiran Alga Hijaubiru (Anabaena sp).

Beberapa tingkat pencemaran bahan organik dalam air tawar dan fauna mikro invertebrata yang terkait sebagai indikator biologis:

  • Limbah organik yang sangat pekat (Oksigen terlarut pada taraf nol) fauna makro invertebrata yang ada hanya golongan cacing dan genus Tubifex dan Limnodrillus.
  • Kalau kondisi air lebih baik, maka hewan golongan cacing tersebut akan diikuti oleh larva Chironomous (cacing darah)
  • Pada zona air yng sudah pulih spesies yang khas adalah Asellus Aquaticus disamping Chironomous tetapi ada pula banyak makro invertebrata lain seperti lintah dan moluska tertentu.
  • Setelah zona asellus, kondisi air putih lebih baik, terdapat zona Gammarus. Zona ini mungkin dianggap sebagai zona taraf pertama kembalinya fauna yang biasa terdapat pada air bersih. Ciri zona Gammarus adalah banyaknya keragaman jenis hewan makro invertebrata, termasuk Trichoptera dan Ephemeroptera.
  • Taraf kelompok hewan lain akan kembali, yang tergantung pada tipe sungai atau hulu sungai.

 

 

Hewan makro invertebrata untuk indikator biologis pencemaran organik pada beberapa tingkat stadium dibagi atas:

  • Indikator air bersih: Ephemera, Ecdyonurus, Leuctra, Nemurella dan Perla.
  • Indikator pencemaran ringan : Amphinemura, Ephemerella, Ceanis, Gammarus, Beatis, Valvata, Bhytynia, Hydropsyche, Limnodrius, Rhyacophyla dan Sericostoma.
  • Indikator pencemaran sedang : Asellus, Sialis, Limneae, Physa dan Sphaerium
  • Indikator  pencemaran berat : Nais, Chironomous, Tubifex, dan Eristalis

(Tresna, 2009)

 

 

 

Kesimpulan

Pembubuhan bahan kimia atau limbah industri dari rumah tangga ke dalam air akan mempengaruhi kehidupan dalam perairan.

Pencemaran dalam air dapat meracuni organisme yang hidup dalam ekosistem perairan.

Indikator biologi untuk pemantauan pencemaran air adalah organisme yang hidup dalam perairan yang tercemar, seperti ganggang dan flora dan fauna lainnya.

Memantau pencemaran air menggunakan indikator biologis lebih mudah dan dapat menjelaskan pengeruh fisika dan kimia dalam air.

 

10 Responses to “Indikator Pemantau Kualitas Air”

  1. bisa kirim dftr pustkany gk ?

  2. ddddd Says:

    ijin copas gan !!
    Thanks

  3. monica sari sianturi Says:

    Terima kasih untuk artikel ini, karena secara terperinci dijelaskan jenis-jenis kualitas air dan berbagai hal yang membuat air tersebut tercemar.
    Untuk menjaga kualitas air tetap bersih itu sudah menjadi tugas setiap individu karena kita tahu bahwa air itu sangat…sangat kita perlukan dan kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Sekian dan terimakasih.

  4. Yahumri PSDAL Angkatan XVIII Says:

    Bagaimana dengan kualitas air PDAM di Kota Bengkulu? Terutama di Kecamatan sungai serut dan sekitarnya….

  5. Yahumri PSDAL Angkatan XVIII Says:

    P-D-A-M

    Perusahaan
    Daerah
    Air
    Minum

    Menjadi dilema ketika kualitas air tidak sesuai standar, untuk mandi saja tidak layak apalagi untuk diminum. Mari kita jaga kelestarian lingkungan kita untuk hidup lebih baik. Harapan itu masih ada..

  6. Deki andes putra Says:

    Sangat bermanfaat.

  7. Kualitas Air? pertanyaan yang menggelitik dan menjadi dilema khususnya masyarakat/penduduk yang ada dikota Bengkulu. khususnya pelanggan PDAM Tirta Dharma. Kualitas Air PDAM yang diambang batas apalgi sudah tercemar Mercuri.. iMiriss mendengarnya.

  8. yeni herlina PSDAL18 Says:

    perlu diterapkan, jangankan air PDAM air minum isi ulang (gallon) saja kadang masih diragukan kualitas airnya

  9. ikhwan efendy Says:

    Indikkator Kualitas air sangat diperlukan dan perlu dipublikasikan untuk masyarakat sebagai Konsumen.

  10. Nursaadah Istiqamah Says:

    Membaca artikel ini saya ingat lagi seputar wilayah dibengkulu terutama wilayah yang dilewati oleh aliran sungai Ketahun sangat memprihatinkan. Andai saja ada indikator kualitas air di terapkan pada aliran sepanjang sungai ketahun , tidak akan terjadi seperti sekarang ini, sekarang DAS di ketahun sudah tercemar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s