JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

KONSENTRASI MINYAK CENGKEH (Eugenia aromatica) TERHADAP KELULUSAN HIDUP IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DALAM TRANSPORTASI TERTUTUP March 25, 2013

Filed under: Sumberdaya — Urip Santoso @ 12:40 am
Tags: ,

Oleh: Indra Gunawan

ABSTRAK

Transportasi dan perdagangan bibit ikan dalam bentuk hidup menjadi pilihan yang tepat apabila kondisi optimalnya diketahui menjaga tingkat kelulusan hidup ikan. Salah satu cara untuk mendapatkan tingkat kelulusan hidup tinggi dengan membuat ikan pingsan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis minyak cengkeh (Eugenia aromatic) yang tepat pada anestesi ikan nila (Oreochromis niloticus). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) empat perlakuan yaitu dosis minyak cengkeh 0 ml/l air, 0,010ml/l air, 0,015ml/l air, dan 0,020ml/l air diulang enam kali.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian minyak cengkeh sebagai bahan pembius berpengaruh terhadap kondisi klinis benih ikan selama proses pengangkutan. Pemberian minyak cengkeh sebagai bahan pembius berpengaruh sangat nyata terhadap tingkat kelulusan dan kelangsungan hidup ikan nila dalam transportasi. Tingkat kelulusan hidup dan kelangsungan hidup tertinggi yaitu 88,518% pada dosis 0,015 ml/l. Tingkat kelulusan hidup dan kelangsungan hidup terendah yaitu 71,48% pada dosis 0,020 ml/l air atau 74,445% pada dosis 0 ml/l air.

KATA KUNCI: transportasi, minyak cengkeh, anesthesi, ikan nila

PENDAHULUAN

Di daerah kabupaten Lebong, salah satu jenis ikan air tawar yang mempunyai nilai ekonomis tinggi adalah ikan nila. Permintaan konsumen akan jenis ikan ini semakin meningkat, karena selain rasa ikan ini enak, kandungan proteinnya juga tinggi. Selain untuk konsumsi permintaan ikan nila juga meningkat untuk tujuan budidaya. Hal ini berhubungan dengan potensi dan sumber daya ikan di Kabupaten Lebong yang terus berkembang baik produksinya maupun area kolam budidayanya. Sejalan dengan itu, permintaan ikan nila baik dari lokal maupun regional juga meningkat. Oleh karena itu kegiatan produksi ikan nila di Kabupaten Lebong juga harus terus ditingkatkan untuk memenuhi permintaan konsumen akan jenis ikan nila terutama dalam bentuk hidup. Salah satu alasan penting perdagangan ikan dalam bentuk hidup adalah harganya yang lebih tinggi dari harga ikan mati. Untuk itu diperlukan teknologi yang sesuai dan tepat untuk memenuhi permintaan ikan nila dalam bentuk hidup. Tetapi, teknologi transportasi ikan hidup yang digunakan sejauh ini masih sangat sederhana dengan demikian maka angka mortalitas ikan dalam transportasi masih tinggi.

Penelitian untuk mencari teknologi yang baik untuk menekan angka mortalitas ikan perlu dilakukan. Perdagangan ikan dalam bentuk hidup menjadi pilihan yang tepat apabila kondisi optimalnya diketahui dengan menjaga tingkat kelulusan hidup ikan dalam transportasi. Ada beberapa Metode yang memungkinkan ikan dapat dikirim dengan keadaan hidup, salah satu cara transportasi untuk menekan angka mortalitas ikan adalah dengan cara pembiusan dengan menggunakan bahan anestesi. Bahan anestesi dapat berupa bahan alami dan bahan kimia sintetik. Salah satu bahan anestesi alami yang bisa digunakan adalah minyak cengkeh (Fauziah et al., 2011). Karena selain mudah didapat tanaman cengkeh banyak dijumpai di daerah Kabupaten Lebong. Metode transportasi ikan dengan menggunakan bahan anestesi bertujuan untuk memperpanjang waktu transportasi dengan menekan metabolisme dan aktivitas ikan serta mengurangi resiko mengalami stres yang dapat mengakibatkan kematian pada ikan. Minyak cengkeh kaya akan kandungan eugenol, anestesi dengan basis eugenol sangat efektif dalam konsentrasi rendah selain harganya terjangkau, mudah didapat dan dapat mengurangi stres (Imanpoor et al., 2010). Salah satu contoh transportasi ikan dalam bentuk hidup adalah transportasi benih.  Karena benih merupakan faktor penting untuk menentukan berhasil atau tidaknya suatu usaha budidaya ikan. Pada proses transportasi merupakan hal yang harus ditangani dengan benar untuk menekan angka mortalitas hal yang harus diperhatikan juga adalah kualitas dari benih tersebut.

Untuk itu, peneliti melakukan penelitian dengan judul pengaruh konsentrasi minyak cengkeh (Eugenia aromatica) terhadap kelulusan hidup ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam transportasi.

 

BAHAN DAN METODE

 

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28 Juli 2011 sampai dengan 17 Agustus 2011  bertempat di Usaha Pembenihan Rakyat (UPR) Desa Karang Dapo Kecamatan Lebong Selatan Kabupaten Lebong. Alat yang digunakan dalam penelitian adalah jaring, ember plastik, karet gelang, mikropipet, penggaris, kantong plastik (50 cm x 20 cm), termometer, DO meter, kertas lakmus, gelas ukur, kardus, aerator, stop watch, dan kendaraan roda empat. Bahan yang digunakan adalah ikan nila ukuran 5 – 7 cm yang diperoleh dari UPR Desa karang Dapo, dan minyak cengkeh merek Minyak Cengkeh Murni diperoleh dari toko herbal.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan teknik pengambilan data secara observasi langsung di lapangan terhadap objek penelitian. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan enam ulangan.

 

HASIL DAN BAHASAN

Konsentrasi minyak cengkeh yang diujikan adalah 0 ml/l air (sebagai kontrol), 0,010 ml/l air, 0,015 ml/l air, dan 0,020 ml/l air. Hasil pengamatan respon ikan nila selama pembiusan disajikan pada Tabel 5.

 

Tabel 5. Respon ikan nila selama pembiusan dengan tingkat konsentrasi yang berbeda

Perlakuan (ml/l air)

Waktu Pengamatan (Menit)

0

5

10

15

0 Reaktif dengan rangsangan luar, keseimbangan dan pergerakan normal Reaktif dengan rangsangan luar, keseimbangan dan pergerakan normal Reaktif dengan rangsangan luar, keseimbangan dan pergerakan normal Reaktif dengan rangsangan luar, keseimbangan dan pergerakan normal

0,010

Reaktif dengan rangsangan luar, keseimbangan dan pergerakan normal Reaktif dengan rangsangan luar, keseimbangan dan pergerakan normal Reaktifitas terhadap rangsangan luar lambat.gerak renang lambat. Reaktifitas terhadap rangsangan luar sangat lambat. gerak renang lambat.

0,015

Reaktif dengan rangsangan luar, keseimbangan dan pergerakan normal Pergerakan lemah, respon terhadap rangsangan kurang kuat, gerak renang tenang dan sesekali naik ke permukaan. Reaktifitas terhadap rangsangan luar lambat. Reaktifitas terhadap rangsangan luar tidak ada, pergerakan lambat.

0,020

Reaktif dengan rangsangan luar, keseimbangan dan pergerakan normal Reaktifitas terhadap rangsangan luar tidak ada, pergerakan lambat. Pergerakan normal, respon terhadap rangsangan tinggi, gerak renang aktif dan panik. Pergerakan sangat lemah, respon terhadap rangsangan sangat lemah, tubuh hilang keseimbangan dan miring di dasar.

 

Pengamatan daya anestesi minyak cengkeh terhadap ikan nila dilakukan secara observasi. Waktu pengamatan untuk melihat daya anestesi minyak cengkeh pada menit ke- 0, 5, 10, dan 15.

Hasil pengamatan pada Tabel 5 menunjukkan bahwa konsentrasi 0 ml/l dari menit ke- 5 sampai menit ke 15 belum terlihat adanya respon ikan. Hal ini ditandai dengan tingkah laku ikan nila selama pembiusan yang tetap normal. Secara umum kondisi ikan yang masih normal dapat dilihat dari gerak renangnya yang tetap stabil dan respon terhadap rangsangan luar masih normal. Tidak adanya respon ikan pada konsentrasi 0 ml/l air sampai menit ke- 15 karena diduga tidak adanya zat aktif dari minyak cengkeh.

Penggunaan konsentrasi 0,010 ml/l air sampai menit ke- 5 menunjukkan belum terlihat adanya respon ikan. Hal ini ditandai dengan tingkah laku ikan nila selama pembiusan yang tetap normal. Secara umum kondisi ikan yang masih normal dapat dilihat dari gerak renang yang tetap stabil dan respon terhadap rangsangan luar masih normal. Perubahan tingkah laku ikan mulai terlihat pada menit ke- 10. Tidak adanya respon ikan terhadap minyak cengkeh  pada penggunaan konsentrasi uji 0,010 ml/l air sampai menit ke- 5 diduga karena zat aktif dari minyak cengkeh belum cukup mempengaruhi keseimbangan fungsi saraf dan jaringan otak ikan, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya zat aktif yang masuk ke dalam tubuh melalui insang dan difusi membran pada ikan. Disamping itu, ikan nila termasuk memiliki kisaran toleransi yang cukup tinggi bila terjadi perubahan lingkungan perairan, seperti pH air rendah (sampai dengan pH 5), kadar salinitas tinggi, bahkan ikan nila sudah dapat dibudidayakan di perairan payau, dan kandungan oksigen perairan yang rendah (Arie, 2000). Ikan mulai menunjukkan respon terhadap minyak cengkeh pada menit ke- 10 sampai menit ke- 15. Reaktifitas terhadap rangsangan luar lambat dan gerak renang tampak lambat, karena diduga daya anestesi mulai mempengaruhi sistem syaraf pada ikan. Kemampuan adaptasi yang cukup tinggi terhadap perubahan lingkungan diduga dapat mempengaruhi daya tahan ikan nila terhadap pengaruh zat – zat anestesi dengan konsentrasi yang rendah yakni 0,010 ml/ l air.

Pada penggunaan konsentrasi yang lebih besar yaitu 0,015 ml/l air, dan 0,020 ml/l air bahan anestesi mulai menunjukkan pengaruhnya. Hal ini dapat dilihat dari respon ikan selama pembiusan dan zat anestesi sudah mulai membuat ikan nila pingsan.  Ikan dalam kondisi pingsan diduga karena zat anestesi dari minyak cengkeh sudah terserap masuk ke dalam tubuh ikan melalui insang dan jaringan otot (Gunn, 2001). Selain itu, menurut Fereirra et al., (1984), disamping insang ternyata kulit merupakan bagian tubuh juga berperan dalam penetrasi bahan anestesi dalam jumlah besar. Masuknya cairan anestesi ke dalam sistem darah akan disebarkan ke seluruh tubuh termasuk sistem saraf otak dan jaringan lain. Kondisi ini membuat mati rasa (pingsan). Daya bius zat anestesi terhadap ikan ditentukan oleh kadar zat anestesi dalam jaringan otak atau sarafnya (Hunn, 1970 dalam Fereirra et al., 1984). Suhu, pH, dan oksigen harus diperhitungkan karena faktor – faktor ini dapat mempengaruhi aktivitas bahan anestesi, kecepatan metabolisme ikan, dan kemampuan penyerapan bahan anestesinya (Gunn, 2001).

Konsentrasi bahan anestesi tersebut dapat dipilih yang paling efisien dalam memingsankan ikan yaitu pada penggunaan konsentrasi 0,015 ml/l air dan pada konsentrasi inilah yang paling baik untuk digunakan dalam memingsankan ikan. Sementara pada penggunaan konsentrasi rendah yaitu 0,010 ml/l air belum cukup efektif untuk memingsankan ikan. Penggunaan konsentrasi 0,015 ml/l air menunjukkan respon ikan mulai dari menit ke- 5 gerak renang ikan lemah dan menunjukkan gejala pingsan. Respon ikan pada menit ke- 10 menunjukkan ikan mulai pingsan sampai pada menit ke- 15 semua ikan pingsan dan dikatagorikan ke dalam deep sadation. Penggunaan konsentrasi 0,015ml/l air efektif untuk memingsankan ikan karena daya anestesi yang diberikan tidak terlalu besar. Sedangkan penggunaan konsentrasi 0,020 ml/l air menunjukan respon ikan mulai dari menit ke- 5, ikan mulai pingsan pada menit ke- 5 sedangkan pada menit ke- 10 sampai dengan menit ke- 15 ikan menunjukan respon yang kontras yakni ikan mulai kehilangan keseimbangan dan miring di dasar. Hal ini menunjukan bahwa penggunaan konsentrasi 0,020 ml/l air membuat ikan dalam kondisi lemah dan itu berpengaruh terhadap daya tahan ikan selama transportasi. Penggunaan konsentrasi paling tinggi yaitu 0,020 ml/l air dianggap terlalu berlebihan untuk digunakan karena daya anestesi yang diberikan terlalu besar.

Kondisi ikan pingsan dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu pingsan ringan (light sedation), pingsan berat (deep sedation), kehilangan keseimbangan, serta gerak reflek tidak ada dan roboh  (Modullary collapse). Fase pingsan berat (deep sedation) merupakan fase yang sangat dianjurkan untuk memingsankan ikan nila, karena pada fase ini aktivitas ikan relatif terhenti. Hal ini ditunjukkan oleh ikan dengan tidak terpengaruh oleh gangguan luar serta keseimbangan posisi tubuh tetap terjaga. Pada fase deep sedation konsumsi oksigen dari tiap – tiap ikan berada pada kadar dasar (basal rate) yang dibutuhkan untuk ikan tersebut agar tetap hidup (Mc Farland, 1959 dalam Pramono, 2002).

Dilihat respon ikan selama pembiusan maka penggunaan konsentrasi  0,015 ml/l air tingkat pingsan ikan dapat dikategorikan ke dalam deep sedation, sedangkan pada konsentrasi 0,020 ml/l air daya anestesi yang diberikan terlalu besar dan bisa membuat kondisi ikan terlalu lemah ketika pengangkutan. Disamping itu penggunaan konsentrasi yang terlalu tinggi dari segi biaya dinilai kurang ekonomis.

Pada saat proses penyadaran ikan, air yang mengandung cukup oksigen terlarut masuk melalui insang ke dalam aliran darah dan membersihkan sisa – sisa bahan anestesi di dalam tubuh ikan serta mengeluarkannya melalui saluran pembuangan. Insang berperan penting dalam proses penyadaran ikan yaitu dengan membersihkan bahan pemingsan pada kondisi ikan dalam keadaan pingsan diletakkan ke dalam air bersih (Ravael, 1996 dalam Pramono, 2002).

Pengamatan kualitas air dilakukan dengan mengambil sampel air pada saat sebelum pembiusan dan saat pembongkaran.

 

Tabel 6. Kualitas sebelum pembiusan

Parameter yang diamati 0 ml/l air 0,010ml/l air 0,015ml/l air 0,020ml/l air
Suhu 25,60 C 26,50 C 26,30 C 25,80 C
Oksigen 5,74 ppm 5,65 ppm 5,42 ppm 5,32 ppm
pH 6,1 6,54 6,23 6,8

 

Tabel 7. Kualitas air saat pembongkaran

Parameter yang diamati 0 ml/l air 0,010ml/l air 0,015ml/l air 0,020ml/l air
Suhu 26,40 C 270 C 27,10 C 27,40 C
Oksigen 3,94 ppm 4,07 ppm 4,02 ppm 4,12 ppm
pH 6,74 7 7,2 7,5

 

Kisaran parameter tersebut masih berada dalam ambang layak untuk kelangsungan hidup ikan nila. Menurut Ghufran dan Kordi (2010), kualitas perairan ikan nila hidup secara alami adalah suhu 250C – 300C, pH 5-11, dan DO 3 ppm.

Kualitas air sebelum pembiusan dan saat pembongkaran tidak banyak mengalami perubahan dan masih berada pada ambang layak kelangsungan hidup ikan nila. Hal tersebut menunjukkan bahwa penyebab ikan nila pingsan diduga berasal dari bahan anestesi minyak cengkeh yang diberikan, bukan disebabkan oleh penurunan kualitas air.

 

Tabel 8. Rekapitulasi kelulusan hidup dan kelangsungan hidup ikan nila

No

Parameter Pengamatan

Perlakuan minyak cengkeh

Koefiseien keragaman

1

Kelulusan hidup (%)

**

6,19

2

Kelangsungan hidup (%)

**

6,19

Keterangan : ** = Berpengaruh sangat nyata.

Pengaruh perlakuan terhadap parameter kelulusan hidup dan kelangsungan hidup ikan nila disajikan pada Tabel 8. Berdasarkan sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan anestesi minyak cengkeh berbeda sangat nyata terhadap semua parameter yang diamati yaitu kelulusan hidup dan kelangsungan hidup ikan nila.

 

Tabel 9. Kelulusan hidup dan kelangsungan hidup ikan nila pada konsentrasi minyak cengkeh yang berbeda

Perlakuan minyak cengkeh

Kelulusan hidup (%)

Kelangsungan hidup (%)

0 ml/l air

74,445 c

74,445 c

0,010 ml/l air

81,112 b

81,112 b

0,015 ml/l air

88,518 a

88,518 a

0,020 ml/l air

71,480 c

71,480 c

Keterangan : Angka – angka pada kolom yang sama dan diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji BNT.

 

Pada parameter kelulusan hidup menunjukkan perbedaan yang nyata pada perlakuan minyak cengkeh disajikan pada Tabel 9. Kelulusan hidup tertinggi dicapai pada perlakuan minyak cengkeh konsentrasi 0,015 ml/l air (88,518%) dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Kelulusan hidup terendah dicapai pada konsentrasi minyak cengkeh 0,020 ml/l air namun tidak berbeda nyata dengan konsentrasi 0 ml/l air. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan minyak cengkeh terhadap kelulusan hidup ikan nila terbaik pada konsentrasi 0,015 ml/l air dan kelulusan hidup terendah diperoleh pada konsentrasi minyak cengkeh 0 ml/l air atau 0,020 ml/l air.

Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan nila tertinggi dicapai pada perlakuan konsentrasi minyak cengkeh 0,015 ml/l air yakni sebesar 88,518% dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Sedangkan pada perlakuan konsentrasi minyak cengkeh 0,020 ml/l air diketahui tingkat kelangsungan hidup terendah yakni 71,480%. Hal ini menunjukan bahwa tingkat kelangsungan hidup terbaik pada perlakuan  konsentrasi minyak cengkeh 0,015 ml/l air, sedangkan perlakuan terendah dicapai pada perlakuan konsentrasi minyak cengkeh 0,020 ml/l air atau 0,0 ml/l air.

Tingginya tingkat kelulusan hidup ikan nila pada konsentrasi 0,015 ml/l air diduga karena ikan nila sudah dalam keadaan pingsan sepenuhnya sebelum dilakukan pengangkutan kondisi ikan pingsan dapat mengurangi kondisi stres sebelum pengangkutan sehingga mempengaruhi kondisi ketahanan tubuh ikan selama proses transportasi berlangsung. Menurut Djazuli dan Handayai (1992), pengangkutan ikan hidup dalam kondisi pingsan dan tidak mengalami stress dapat mengurangi tingkat kematian sehingga memungkinkan dilakukan pengangkutan lebih lama. Sedangkan pada konsentrasi 0,010 ml/l air dan 0,020 ml/l air tingkat persentase kelulusan hidupnya lebih rendah karena pada konsentrasi 0,010 ml/l air diduga daya anestesi yang diberikan belum cukup untuk membuat ikan pingsan, sedangkan konsentrasi 0,020 ml/l air daya anestesi yang diberikan terlalu besar sehingga membuat kondisi ikan lemah.

Pada penggunaan konsentrasi 0,010 ml/l air tingkat persentase kelulusan hidup ikan turun menjadi 81,11 %. Hal ini diduga bahan anestesi yang digunakan kurang mampu membuat ikan pingsan lebih lama, dengan demikian ada beberapa ikan yang mulai sadar ketika masih dalam proses transportasi. Ketika pengaruh bahan pembius mulai berkurang, ikan berangsur – angsur akan pulih kesadarannya. Ikan yang sadar dalam media kantong plastik diduga juga mempengaruhi keberhasilan transportasi ikan hidup. Ikan yang mulai sadar, proses metabolismenya semakin meningkat dan kebutuhan oksigen siap pakai untuk respirasi juga akan meningkat. Jika oksigen siap pakai yang dibutuhkan sangat sedikit, ikan akan menjadi lemas dan kemudian mati (Wibowo, 1993).

Tingkat kelulusan hidup ikan nila pada konsentrasi 0,020 ml/l air persentase kelulusan hidup ikan turun menjadi 71,48 %. Penggunaan konsentrasi lebih tinggi ini diduga dapat menyebabkan lemahnya kondisi ikan dan waktu penyadaran lebih lama. Jika dalam waktu 10 menit ikan tidak menunjukkan adanya tanda – tanda pergerakan anggota tubuh dan operkulum atau bahkan tidak bergerak, pada umumnya ikan telah mati.

Berdasarkan hasil pengamatan pada parameter tingkat kelangsungan hidup ikan nila, bahwa pada semua perlakuan konsentrasi minyak cengkeh ternyata tidak menunjukkan perubahan antara tingkat kelulusan hidup dengan tingkat kelangsungan hidup. Diduga karena saat proses pengamatan  kelangsungan hidup kebutuhan oksigen yang dibutuhkan oleh ikan nila untuk mencapai keadaan yang normal tercukupi.

 

KESIMPULAN

 

Pemberian minyak cengkeh sebagai bahan pembius berpengaruh terhadap kondisi klinis benih ikan selama proses pengangkutan. Pemberian minyak cengkeh sebagai bahan pembius berpengaruh sangat nyata terhadap tingkat kelulusan dan kelangsungan hidup ikan nila dalam transportasi. Tingkat kelulusan hidup dan kelangsungan hidup tertinggi yaitu 88,518% pada konsentrasi 0,015 ml/l air. Tingkat kelulusan hidup dan kelangsungan hidup terendah yaitu 71,48% pada konsentrasi 0,020 ml/l air atau 74,445% pada konsentrasi 0 ml/l air.

 

DAFTAR ACUAN

 

Arie, U. 2000. Pertumbuhan dan Pembesaran Nila Gift. Penebar Swadaya. Jakarta

Fauziah Ririn Nurul, Shavika Miranti, Sofyan Agustiawan. 2011. Pemingsanan Ikan Mas (Cyprinus carpio) dengan Menggunakan Ekstrak Tembakau, Ekstrak Mengkudu dan Ekstrak Cengkeh. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/44048. Diunduh pada tanggal 19 Juli 2011

Ferreira, J.T., H.J. Schoonbee dan G.L. Smith. 1984. The uptake of the anesthetic benzoncaine hydrochloride by the gills and the skin of three freshwater fish spesies. Journal of Fish Biologi Vol 25 No. 1. The Fisheries Society the British Isles.

 

Gun, E. 2001. Floundering in the Foibes of Fish Anestesia. P 211.

 

Hanafiah, Kemas Ali. 2010. Rancangan Percobaan Teori dan Aplikasi. Rajawali Pers, Jakarta.

Imanpoor Reza Muhammad, Tahere Bagheri, Sayed Ali Akbar Hedayati. 2010. Tha Aneshetic Effects of Love Essence in Persian Sturgeon, Acipenser persicus. World Journal of Fish and Marine Sciences 2 (1): 29_36,2010. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/44048/PKM%20AI%20TRANSPORT.pdf?sequence=2. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2011

M. Ghufran H dan Kordi K. 2010. Budidaya Ikan Nila di Kolam Terpal. Yogyakarta: Lily Publisher

Pramono, V. 2002. Penggunaan Ekstrak Claulerpa racemosa Sebagai Bahan Pembius Pada Pra Transportasi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Hidup. Skripsi Perikanan. Institut Pertanian Bogor.

Wibowo, S. 1993. Penerapan Teknologi Penanganan dan Transportasi Ikan Hidup di Indonesia. Sub BPPL Slipi. Jakarta.

 

 

6 Responses to “KONSENTRASI MINYAK CENGKEH (Eugenia aromatica) TERHADAP KELULUSAN HIDUP IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DALAM TRANSPORTASI TERTUTUP”

  1. ahmad bayhaqi Says:

    cara pembiusannya seperti apa?

  2. BURSAMIN Says:

    BURSAMIN

    PSDAL – BENGKULU UNIVERSITY FORCES TO 18

    VERRY AGREE
    Obviously, clove oil is already known by the public to the benefits contained therein. Besides to the spice, clove oil is also effective as a treatment alternative media. In connection with the review of the above about the other functions of the clove oil significant enough for pickling process generally ordinary fish transport it using solvent kind of formalin or ice fishing conditions as a result no longer has the benefits will actually cause disease. By doing so, clove oil is a very profitable solution for all parties. Need to be considered.

  3. Yahumri PSDAL Angkatan XVIII Says:

    Adaptif researched, very good…

  4. such a good research. i just read and tryin’ to understand. emm, somehow, thank you for this post. Now i know the other benefit of clove .
    All this time, i only know Clove or “cengkeh” is only a delicious seasoning.
    My Momma used to make some cookies by using this “cengkeh” or clove…

    Best Regard,
    Alexander

  5. LITMAN (PSDAL 18) Says:

    Terima kasih atas artikelnya telah menambah pengetahuan,.

  6. hermy puspita sari, PSDAL Unib Says:

    artikel nya bagus bisa menambah wawasan saya mengenai manfaat cengkeh yang mana bisa mempermudah peternak ikan nila atau ikan mijair dalam transportasi ikan dengan dosis yang di tentukan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s