JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

ANALISIS DAMPAK PERKEBUNAN SAWIT TERHADAP DAERAH ALIRAN SUNGAI DI KABUPATEN KAUR April 29, 2013

Filed under: lingkungan — Urip Santoso @ 3:22 am
Tags: , ,

Oleh:  Uxtie mezulianti

ABSTRAK

Kabupaten Kaur adalah salah satu kabupaten yang menjadi target perluasan perkebunan sawit di Indonesia dengan target mencapai ratusan ribu hektar. Hal ini terbukti dengan telah dilakukannya kunjungan para pengusaha dari beberapa negara yakni Malaysia, Brunai Darusalam dan dari pengusaha ibu kota pada akhir tahun 2006 hingga awal tahun 2007 ini. Pemerintah kabupaten kaur menyambut baik rencana tersebut dengan telah dikeluarkannya izin prinsip kepada investor tersebut yang akan membuka kebun kelapa sawit dengan pola plasma dan inti. Akan tetapi, perkebunan kelapa sawit tersebut cenderung telah merambah ke hutan lindung, yang akan memicu kerusakan Daerah Aliran Sungai. Melihat kondisi tersebut, maka penyusun melakukan penelitian dengan judul analisis dampak perkebunan kelapa sawit terhadap Daerah aliran sungai di kabupaten kaur.

Permasalahan yang diteliti ialah dampak perkebunan kelapa sawit terhadap Daerah Aliran Sungai  di Kabupaten Kaur.

Penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh perkebunan sawit terhadap aliran permukaan dan erosi tanah di Daerah Aliran Sungai (DAS)  Kabupaten Kaur.

1. PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Kabupaten Kaur secara topografinya merupakan daerah perbukitan yang bergelombang, dengan sudut kemiringan lahan yang bervariasi. Berdasarkan peruntukan lahan kemiringanlahan dapat dibagi kedalam 2 kelompok yaitu: 1). Kemiringan wilayah pada daerah budi daya, dengan luas mencapai 112.031,8 ha dan 2).Kemiringan wilayah kawasan non budi daya dengan luas 143.568,2 ha.

Dengan sudut kemiringan lereng yang ada terdapat di kabupaten kaur keberadaan hutan tanpa disadari telah memberikan manfaat yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) merupakan hulu sungai dari DAS yang tersebar di tujuh kecamatan dengan jumlah desa mencapai 77 desa baik yang terdapat disekitar maupun luar kawasan hutan yang menjadi daerah penyangga.

·            Luas (DAS Nasional) dengan Luas Das mencapai : 32.277,70 Ha yang membelah ditiga kecamatan seperti kecamatan muara sahung, kecamatan luas, dan kecamatan kaur tengah.

·            DAS Tetap (DAS Lokal) ; Luas 10,730.49 Ha yang terdapat di kecamatan tetap.

·           DAS Sambat (DAS Lokal) ; Luas 28,092.18 Ha yang terdapat dikecamaan maje dan kaur selatan,

·           DAS Sawang (DAS Lokal); Luas 10,995.11 Ha

·            DAS Nasal (DAS Lokal); 33.994,94 Ha, Terbagi dalam 3 Sub DAS yaitu Nasal Kiri, Nasal Kanan dan Nasal Hilir.

·           DAS Manula (DAS Nasional); Luas Das 21,939.73 Ha. Terbagi dalam 3 Sub DAS yaitu: Manula Kecil, Manula Kanan dan Manula Hilir.

 

Secara fisik penyebab kerusakan DAS yangdisoroti adalah perubahan penggunaan lahan,terutama berkurangnya tutupan hutan dalam suatuDAS. Konversi hutan untuk berbagai penggunaanterjadi hampir di seluruh DAS, sejalan denganmeningkatnya jumlah penduduk dan pembangunan.Padahal berdasarkan Undang-Undang No. 19/2004tentang Kehutanan, proporsi minimal luasan hutandalam suatu DAS adalah 30% dan tersebar secaraproporsional.

1.2.      Perumusan Masalah

Konversi hutan seperti yang umumnya terjadidi berbagai DAS di Indonesia, juga terjadi di DAS Taman Nasional Bukit Barisan Kaur. Konversi hutan yang terjadi di DAS Taman Nasional Bukit Barisan Kaur ditujukan untuk pembukaan lahan perkebunankelapa sawit oleh masyarakat dan perusahaan-perusahaan besar. Jenis tanaman yang ditanam dan pengelolaanlahan pada tanah hutan  yang dikonversi, terutamalahan pertanian sangat berpengaruh terhadap tingkaterosi, karenaperubahan penggunaan lahan akanberpengaruh terhadap sifat-sifat fisik tanah sehinggaakanmempengaruhi aliran permukaan yang terjadi.Menurut Sarief (1985), erosi cukup bervariasi padaberbagai tipe penggunaan tanah. Namun umumnyapada tanah dengan vegetasi kombinasi pohon danrerumputan erosi akan lebih kecil, jika dibandingkandengan jenis penggunaan lahan lainnya,terutamapada lahan yang digunakan untuk tanaman semusimdan pertanian monokultur dengankemiringan lerenglebih besar.Secara luas telah diketahui bahwa padapenggunaan lahan hutan erosi yang terjadi lebih kecil.Hutan dapat mengurangi erosi, tetapi sangatbergantung pada situasi dan kondisi seperti intensitashujan, kelerengan lahan, dan faktor geologi batuan,serta metodepengelolaan yang dipilih (Calder, 1998).

 Erosi merupakan salah satu indikator untukmenilai aspek biofisik terhadap suatu DAS ataukerusakan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untukmempelajari dampak pekebunan kelapa sawit terhadap daerah aliran, dampak tersebut berupa aliran permukaan dan erosi tanah yang terjadi. Penentuan tingkat erosi pada setiappenggunaan lahan sangat diperlukan agar dapatmenentukan alternatif penggunaan lahan yang tepatdalam suatu DAS. Berkaitan dengan usahatani,penentuan perbedaan tingkat erosi pada setiapagroteknologi diperlukan untuk memilihagroteknologi yang ramah lingkungan

1.3         Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini, yaitu :

1.      Untuk menganalisis dampak perkebunan sawit terhadap Aliran Permukaan di Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Kaur.

2.      Untuk menganalisis dampak perkebunan sawit terhadap Erosi Tanah Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Kaur.

1.4.      Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada Pemerintah Kabupaten Kaur bagi pelaksanaan pengelolaan perkebunan kelapa sawit agar tidak merusak Daerah Aliran Sungai.

3. TINJAUAN PUSTAKA

3.1       Potensi Kelapa Sawit Di Kabupaten Kaur

Kabupaten Kaur adalah salah satu kabupaten yang menjadi target perluasan perkebunan sawit di Indonesia dengan target mencapai ratusan ribu hektar. Hal ini terbukti dengan telah dilakukannya kunjungan para pengusaha dari beberapa negara yakni Malaysia, Brunai Darusalam dan dari pengusaha ibu kota pada akhir tahun 2006 hingga awal tahun 2007 ini. Pemerintah kabupaten kaur menyambut baik rencana tersebut dengan telah dikeluarkannya izin prinsip kepada investor tersebut yang akan membuka kebun kelapa sawit dengan pola plasma dan inti.

Kabupaten Kaur merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Selatan berdasarkan Undang-Undang no 3 tahun 2003. Kabupaten Kaur mempunyai luas wilayah 2363.00 km2.

Sebagian  besar tanaman perkebunan di Kabupaten Kaur adalah perkebunan rakyat. Produksi perkebuan ini relatif rendah, kondisi lahan yang mengalami degradasi dan tidak produktif. Seiring dengan pertumbuhan pendududk dan tuntutan ekonomi yang menghimpit kehidupan, maka untuk meningkatkan hasil dilakukan perluasan lahan yakni dengan cara mengubah hutan menjadi lahan perkebunan. Disamping itu tidak sedikit lahan perkebunan yang sudah tidak produktif dibiarkan terlantar sehingga menjadi semak belukar. Kegiatan perluasan perkebunan ini telah merambah ke hutan lindung adat.

Potensi Kelapa Sawit di Kabupaten Kaur

Produksi 2009 (Ton)

4.938

Produksi 2008 (Ton)

4.319

Produksi 2006 (Ton)

2.764

Sumber Data:
Statistik Perkebunan 2009-2011
Kementrian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan

 

Lahan yang Sudah Digunakan (Ha)

4.185

Status Lahan

Luas Lahan Perkebunan Rakyat Untuk Kelapa Sawit terdiri dari TBM:2,548 TM:1,635 TTM:2

Sumber Data:
Statistik Perkebunan 2009-2011
Kementrian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan

combined-1704-125.png

Top of Form

Legenda

Propinsi

Kabupaten

Kelapa Sawit

Bottom of Form

 

3.2      Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Sebagai Kawasan Daerah Aliran Sungai Di Kabupaten Kaur

Kawasan TNBBS memilki luas total 356.800 ha, dan secara administratif mencakup 3 (tiga) propinsi yaitu Propinsi Lampung, Sumatera Selatan dan Bengkulu. Dari luasan TNBBS tersebut, 280.300 ha propinsi Lampung, 11.789 ha propinsi Sumatera Selatan dan 66.000 ha propinsi Bengkulu. Total luas TNBBS ini secara adminstraif masuk kedalam 4 (emapat) Kabupaten ( kabupaten Tanggamus, Lampung Barat, Ogan Komering Ulu dan Kabupaten Kaur) Secara geografis terletak antara 4°29’-5°57’LS dan 103°24’-104°44’BT. Pada daerah dataran rendah (0-600 dpl) dan dataran tinggi (600-1000 dpl) dibagian selatan dan mempunyai daerah pegunungan dibagian tengah dan utara (1000-2000 dpl).

TNBBS merupakan hutan hujan dataran rendah terluas yang tersisa di pulau Sumatera yang karena alasan hidrologi, ekologis, flora ,fauna, geomorfologi atau asosiasi zoologinya yang penting untuk dilindungi dan dikembang biakan atau dilestarikan.Disamping fungsinya sebagai tempat hidup bagi flora dan fauna yang dilindungi , juga berfungsi juga bagi masyarakat disekitarnya seperti propinsi Lampung , Bengkulu dan Sumatera Selatan, serta sebagai sumber oksigen tersbesar bagi masyarakat sekitar. Begitupun beberapa hulu sungai besar didalam kawasan yang mengalirkan air sepanjang tahun yang berfungsi sebagai air minum, usaha pertanian, dan sebagainya.Dipropinsi Bengkulu kawasan TNBBS terdapat di kabupaetn Kaur yang menyebar di lima kecamatan yaitu,Kecamatan Nasal, Maje, Kaur Selatan, Muara Sahung dan Kaur Tengah. Dari 64 desa yang terdapat dalam 5 kecamatan tersebut ada 13 desa yang berbatasan lansung dengan TNBBS ini.

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) merupakan hulu sungai dari DAS yang tersebar di tujuh kecamatan dengan jumlah desa mencapai 77 desa baik yang terdapat disekitar maupun luar kawasan hutan yang menjadi daerah penyangga di Kabupaten Kaur.

Daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu wilayahdaratan yang secara topografik dibatasi olehpunggung-punggung gunung yang menampung danmenyimpan air hujan untuk kemudianmenyalurkannya ke laut melalui sungai utama (Asdak,2002). Sumberdaya alam yang terdapat di dalam DASadalah vegetasi, tanah dan air serta jasa-jasalingkungan.Keseluruhan sumberdaya alam dalam DASmerupakan modal bagi manusia untuk memenuhikebutuhan hidupnya. MenurutKartodihardjo et al.(2004), pemanfaatan lahan dalam DAS umumnyakurang memperhatikan keterkaitan unsur-unsurpenyusun sistem DAS. Prinsip pemanfaatan yangdemikian telah menyebabkan kerusakan DAS-DASdi Indonesia.

Secara fisik penyebab kerusakan DAS yangdisoroti adalah perubahan penggunaan lahan,terutamaberkurangnya tutupan hutan dalam suatuDAS. Konversi hutan untuk berbagai penggunaanterjadi hampir di seluruh DAS, sejalan denganmeningkatnya jumlah penduduk dan pembangunan.Padahalberdasarkan Undang-Undang No. 19/2004tentang Kehutanan, proporsi minimal luasan hutandalam suatu DAS adalah 30% dan tersebar secaraproporsional.Konversi hutan telah menimbulkan berbagaidampak negatif, terutama degradasi lahan akibat erosi.Namun demikian kebutuhan lahan yang semakinmeningkat sejalan dengan meningkatnya jumlahpenduduk telah menyebabkan konversi hutan untukberbagai penggunaan tidak dapat dihindari (Obara etal. 1995). Oleh sebab itu luasanhutan semakinberkurang dari tahun ke tahun, seperti yang terjadi diDAS Taman Nasional Bukit Barisan Kabupaten Kaur. Pembukaan lahan hutan dikawasan ini umumnya dilakukan untuk pembukaanperkebunan kelapa sawit, baik olehmasyarakat (petani) maupun perusahaan swasta.

Perubahan tutupan hutan menjadi lahanperkebunan kelapa sawit diyakini telahmenyebabkan erosi di DAS Taman Nasional Bukit Barisan Kabupaten Kaur, terutamapada awal pembukaan lahan. Proses pembukaan lahantelah menyebabkan hilangnya tegakan vegetasi yangmenutupi permukaan tanah sehingga terjadikehilangan bahan organik lebih cepat dan kerusakanterhadap struktur tanah. Peluang terjadinya degradasilahan oleh aliran permukaan (run off) dan erosi akansemakin besar bila terdapat curah hujan yang tinggidan erosif (> 2.500 mm tahun-1) dan kemiringanlereng yang curam serta pemanfaatan lahan yang tidaksesuai dengan kemampuannya.Menurut Susswein et al. (2001), tanah hutanmempunyai laju infiltrasi yang tinggi dan jumlah poriyang relatif banyak sejalan dengan aktivitas biologitanah dan turnover perakaran.

4. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di kawasan hulu DASKaur, yaitu di DAS Taman Nasional Bukit Barisan.  Penelitian ini membutuhkan seperangkat alatsurvei tanah dan beberapa bahan dan alat untukanalisis tanah dilaboratorium. Pengamatan aliranpermukaan dan erosi dilakukan pada plot berukuran10 m (searah kontur) x 10 m (searah lereng). Bagianatas dan samping plot dibatasi dengan plastik denganlebar 45 cm. Sebagian plastik (15 cm) ditanam secaravertikal ke dalam tanah. Sedangkan pada lerengbagian bawah setiap plot dipasang bak penampung.Rancangan percobaan yang digunakan adalahrancangan acak kelompok. Plot dibuat pada lahandengan grup tanah Dystrudept dengan tanaman karetdan kelapa sawit yang berumur 7 – 8 tahun dan tanahhutan bekas tebangan yang telah dibiarkan selama 7– 8 tahun (hutan sekunder). Pengelompokanperlakuan didasarkan pada kelas kemiringan lereng,yaitu lereng 8 – 15%, 15 – 25% dan > 25%. Metode pengumpulan data dilaksanakan denganmelakukan survei dan percobaan di lapangan. Surveidilakukan untuk mengidentifikasi tipe penggunaanlahan hasil interpretasi citra landsat tahun 2002, tipeusahatani kelapa sawit yang diterapkanpetani untuk menentukan lokasi pengambilan contohtanah dan pembuatan plot percobaan. Percobaanlapangan dilakukan untuk membedakan aliranpermukaan dan erosi yang terjadi pada lahanusahatani kelapa sawit yangmenerapkanagroteknologi yang berbeda dan tanah hutan.Aliran permukaan dan erosi diukur denganmembuat petak erosi dan bak penampung pada setiapplot pengamatan. Pengukuran dilakukan pada setiaphari hujan. Volume aliran permukaan yang tertampungditakar dengan gelas ukur dan tanah yang tererosiditentukan dengan mengambil sampel sedimen danberatnya ditetapkan secara gravimetri. Aliranpermukaan dan erosi total dari setiap plot adalahjumlah volume aliran permukaan dan berat tanah yangtertampung dalam bak penampung pada setiap harihujan yang terjadi selama tiga bulan pengamatan.Data aliran permukaan dan erosi dari setiap tipeusahatani karet dan kelapa sawit serta tanah hutandianalisis secara statistik dengan menggunakananalisis ragam (uji F). Perbedaan aliran permukaandan erosi pada setiap tipe usaha kelapasawit serta tanah hutan diketahui melalui uji jarakberganda Duncan (DNMRT) pada taraf kepercayaan95% (α = 0,05).

5. KESIMPULAN

Luasan hutan di DAS Taman Nasional Bukit Barisan di Kabupaten Kaur semakinmenurun dari tahun ke tahun. Konversi hutan di Nasional Bukit Barisan dilakukan untuk pembukaan lahan usaha tani kelapa sawit dan penggunaan lainnya. Penggunaan lahan usahatanikelapa sawit menyebabkan erosi dan aliranpermukaan yang lebih besar dibandingkan denganhutan. Tipe usahatani monokultur Sawit  menyebabkan terjadinya aliran permukaan dan erosiyang lebih besar dibandingkan dengan tipe usahatanilainnya.Pengembangan usahatani kelapa sawitdi DAS Taman Nasional Bukit Barisan Kabupaten Kaur perlu disertai dengan tindakankonservasi tanah dan air. Oleh karena itu perlu dikajitentang pilihan tindakan konservasi tanah dan air yangsesuai untuk usahatani kelapa sawit dikawasan ini.

6. DAFTAR PUSTAKA

Calder, I.R. 1998. Water resources and land use issues. System Wide Initiative on Water Management. Paper No. 3, IWMI, Colombo. Sri Lanka

Susswein, P.M., M. Van Noordwijk, and B. Verbist, B. 2001. Forest watershed functions and tropical landuse change. In M.van Noordwijk, S. Williams and B.Verbist, eds. Towards Integrated Natural Resources Management in Forest Margins of The Humic Tropics: Local Action and Global Concern. Bogor: Internacional Cetre for resesarch in Agroforestry.

Kartodihardjo, H., K. Murtilaksono dan U. Sudadi. 2004. Institusi pengelolaan daerah aliran sungai (konsep dan pengantar analisis kebijakan). Bogor : Fakultas Kehutanan IPB.

Pudjianto, A. Wibawa, dan Winaryo. 2001. Pengaruh teras dan tanaman penguat teras terhadap erosi dan produktivitas kopi arabika. Pelita Perkebunan Vol(17): 18 – 29. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Asosiasi Peneliti Perkebunan Indonesia.

Sarief, E.S. 1985. Konservasi tanah dan air. Bandung : Penerbit Pustaka Buana.

Suprayogo, D., Widianto, P. Purnomosidi, R.H. Widodo, F. Rusiana, Z.Z. Aini, N. Khasanah, dan Z. Kusuma.2007. Degradasi sifat fisik tanah sebagai akibat

http ://kaur-negeri-di-pesisir-samudera-hindia.html/2008/01/29/ Kaur negeri pesisir samudera hindia

http :// Minapolitan-Kabupaten-Kaur-Prov-Bengkulu.htm/2011/10/18/ Minapolita Kabupaten Kaur Prov Bengkulu

http ://tnbbs-hutan-dan-ancaman-kerusakannya.html/2011/23/05 tnbbs hutan dan ancaman kerusakannya.

http://Mencegah ekspansi perkebunan besar sawit di kaur Abulaya weblog.Html/2008/ 05/07 mencegah ekspansi perkebunan besar sawit di kaur

 

Advertisements
 

20 Responses to “ANALISIS DAMPAK PERKEBUNAN SAWIT TERHADAP DAERAH ALIRAN SUNGAI DI KABUPATEN KAUR”

  1. keren gan ! hihihihihihhihihihihihi

  2. BURSAMIN Says:

    BURSAMIN

    PSDAL – BENGKULU UNIVERSITY FORCES TO 18

    AGREE
    Because the impact of planting oil palm growing influence on the ecosystem of natural resources and the environment surrounding a result of increasing kinds of commercial plantations. Actually, the presence of foreign investors greatly affect the welfare of the community, this is evidenced by the growing economy and education. However, the existence of these investors seemed interested parties will have a good chance in order to obtain greater profits by issuing regulations, rules etc. Her sad, people who hope in order to get a job remains in line with expectations. Because, act interested parties themselves. Needs to take further action.

  3. Yahumri PSDAL Angkatan XVIII Says:

    Saya setuju bahwa, aktivitas perkebunan termasuk perkebunan kelapa sawit tidak boleh mengganngu ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) karena untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita….

  4. Agusri Ramadhan Says:

    PSDAL Angkatan XVIII UNIB 2016

    Berdasarkan  UU lingkungan hidup, aliran sungai harus bersih dari perkebunan dengan jarak minimal 60-100 meter dari tepi sungai. Karena untuk mencegah akar sawit tersebut yang lama-kelamaan akan menyerap air dari sungai, yang berdampak pada menurunnya debit air sungai tersebut. Selain itu untuk mencegah tercemarnya air yang di akibatkan oleh dampak dari pemupukan tanaman di perkebunan sawit tersebut. Karena untuk memelihara perkebunan sawit di Indonesia dibutuhkan 2,5 juta ton pupuk dan 1,5 juta liter pestisida secara regular. Akibatnya kualitas air di sekitar perkebunan sawit pun menurun karena tercemar oleh limbah dari pestisida dan pupuk.

  5. Assalammualaikum wr wb…

    Sebenarnya Bencana Ekologis yang terjadi disebabkan oleh tata ruang yang tidak terencana, Investasi berbasis lahan dapat kita katakan sebagai faktor utama. Daya dukung lingkungan selalu diabaikan dalam setiap pengambilan kebijakan dalam alokasi pemanfaatan ruang. Pada umumnya Rencana tata ruang yang dibuat adalah berdasarkan keputusan politik semata dan ini merupakan pesanan dari para pemilik modal.

    Wassalam….!!

  6. KOMENTAR KE 2 :

    Saya setuju dengan dengan adanya perkebunan sawit di daerah manapun TETAPI..!! Seharusnya menurut saya pemerintah harus lebih teliti tuh untuk memberikan surat izin Luas Lahan yang akan digarap untuk dijadikan perkebunan sawit di suatu daerah.karena ini sangat penting agar warga/masyarakat setempat tidak terkena imbas Negatif yang sangat fatal sehingga mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.

    Wassalam…..!!!

  7. Weli sulastri Says:

    Industri perkebunan sawit menyumbang devisa yang besar bagi negara, tapi dampak yang ditimbulkan juga tidak sedikit terutama dampak terhadap darrah aliran sungai. Biasanya aliran sungai mengalami sedimentasi dan airnya keruh karena hutan di sekitarnya telah diganti dengan tanaman sawit. Padahal kita tahu bahwa keberadaan sungai sangat penting sebagai penunjang kehidupan penduduk juga kelestarian lingkungan di sekitarnya

  8. Weli sulastri Says:

    Biasanya aliran sungai yang berdekatan dengan perkebunan kelapa sawit mengalami kerusakan sehingga perlu dilakukan restorasi. Untuk kepentingan tersebut, peran serta segenap pihakmulai dari perusahaan perkebunan, pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat. Kuncinya adalah menyadarkan para pekebun untuk menyediakan lahan mereka di sekitar aliran sungai dengan menanami tanaman heterogen yang lebih baik dari sawit juga memenrikan nilai ekonomi bagi pekebun, misalnya tanaman kehutanan

  9. Weli sulastri Says:

    Untuk meminimalisir kerusakan daerah aliran sungai akibat perkebunan kelapa sawit, maka perusahaan dan masyarakat dalam mengelola lahan harus berasaskan pada lingkungan dan mèmperhatikan AMDAL.

  10. Weli sulastri Says:

    Biasanya pembukaan areal perkebunan sawit baik oleh perusahaan perkebunan atau masyarakat dilakukan dengan pembakaran hutan. Ini juga menimbulkan dampak yang tidak sedikit bagi lingkungan, yatu penurunan kualitas air pada aliran sungai. Fungsi hutan secara ekologis adalah dalam dair ekologis. Terbakarnya hutan memeberikan dampak hilangnya kemampuan hutan menyerap dan menyimpan air hujan.

  11. hermy puspita sari, PSDAL Unib Says:

    dampak perkebunan kelapa sawit diharapkan dapat dikurangi jngan sampai merusak ekosistem yang ada di bataran sungai, terutama air nya… yang mana limbah tersebut nantinya dapat mengurangi kualitas air

  12. Tulisan yang menarik dengan konten yang bagus dan bermanfaat; menambah wawasan saya.

    keep posting, sir.
    you are such a good lecturer.

    regards,

    Alexander PSDAL 18

  13. Menurut saya apa yang di gambarkan dalam jurnal tersebut memang betul, namun solusi yang ada sering kali tetap merugikan masyarakat dan meningkatkan perubahan iklim…..

  14. LITMAN (PSDAL 18) Says:

    Perkebunan sawit salah satu upaya masyarakat untuk penghidupannya dan kesejahteraannya, Namun peran pemerintahlah yang mengkaji tentang pilihan tindakan konservasi tanah dan air yang sesuai untuk usaha tani kelapa sawit.

  15. perkebunan kelapa sawit sebaiknya jangan terlalu berada dekat dengan sungai, diperhatikan juga batas sempadan sungai agar tidak terjadi erosi

  16. menurut saya perkebunan sawit memang menimbulkan kerusakan lingkungan namun segi positif juga ada dengan adanya peningatan tenaga kerja dan PAD, tetapi diharapkan dalam pengambilan izin nya untuk diperketat dengan tidak menambah luasan bukaan ke arah hutan.

  17. Deki andes putra Says:

    Perkebunan kelapa sawit sangat bagus untuk kesejahteraan perekonomian masyarakat. Akan tetapi perhatian terhadap dampak lingkungan sekitar aliran sungai harus betul – betul diperhatikan dan dijaga demi kelangsungan hidup.

  18. Jalin Elsaprike, ST Mahasiswa Pasca Sarjana PSDAL Angkatan 18 Says:

    diperlukan pengawasan intensif dari semua pihak yang memiliki kewenangan dalam pengawasan kegiatan perkebunan sawit terutama badan/dinas lingkungan hidup di daerah, alasannya agar ekosistem DAS dapat terjaga terutama dari faktor pencemaran air sungai pada saat kegiatan pemupukan, kestabilan volume permukaan air sungai (sawit tanaman yang rakus air) dan pendangkalan sungai akibat tergerusnya lahan sawit yang memiliki kemiringan.

  19. ikhwan efendy Says:

    Perlunya campur tangan Pemerintah untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan oleh Perkebunan sawit terhadap DAS


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s