JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

PENGELOLAAN SAMPAH DI TPA YANG MERUPAKAN SALAH SATU FAKTOR PENENTU PADA PENILAIAN ADIPURA. February 8, 2015

Filed under: lingkungan — Urip Santoso @ 1:36 am
Tags: , ,

Wardani

I. ABSTRAK
Kecenderungan kerusakan lingkungan hidup semakin kompleks baik di pedesaan dan perkotaan. Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang sampai saat ini masih tetap menjadi masalah besar bagi bangsa Indonesia adalah pembuangan sampah. Sampah-sampah itu diangkut oleh truk-truk khusus dan dibuang atau ditumpuk begitu saja di tempat yang sudah disediakan tanpa di apa-apakan lagi. Hal tersebut tentunya sangat berpengaruh terhadap lingkungan sekitar dimana lingkungan menjadi kotor dan sampah yang membusuk akan menjadi bibit penyakit di kemudian hari.Untuk mengatasi masalah itu partisipasi atau peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup belum nampak secara signifikan. Berdasarkan latar belakang tersebut maka, pemerintah dalam hal ini menunjuk Kementerian Lingkungan Hidup mengadakan Program Adipura yaitu program yang mendorong pemerintah daerah dan masyarakat mewujudkan kota yang bersih dan teduh. Ini dilakukan dengan harapan setiap daerah dapat mendayagunakan seluruh kemampuannya melalui dukungan dari segenap segmen masyarakat untuk secara bersama-sama mengatasi permasalahan lingkungan hidup perkotaan. Dengan melaksanakan pengelolaan-pengelolaan sampah, baik secara alami ataupun dengan campur tangan manusia yang diharapkan akan dapat mengurangi penumpukan sampah di lokasi pembuangan akhir sampah atau TPA. Dimana hal ini secara otomatis dapat membuat lingkungan akan lebih bersih dan lebih segar.Ini juga yang menjadi salah satu faktor penentu untuk mendapatkan Adipura tersebut adalah proses pengolahan TPA (tempat pembuangan akhir) sampah baik organik dan anorganik.

II. PENDAHULUAN
Masalah lingkungan di Indonesia, sekarang sudah merupakan problem khusus bagi pemerintah dan masyarakat. Selain itu juga masalah lingkungan hidup merupakan masalah yang kompleks dimana lingkungan lebih banyak bergantung kepada tingkah laku manusia yang semakin lama semakin menurun, baik dalam kualitas maupun kuantitas dalam menunjang kehidupan manusia. Ditambah lagi dengan melonjaknya pertambahan penduduk maka keadaan lingkungan menjadi semakin semerawut. Berbagai usaha penggalian sumber daya alam dan pembangunan industri-industri untuk memproduksi barang-barang konsumsi tanpa adanya usaha-usaha perlindungan terhadap pencemaran lingkungan oleh buangan yang merupakan racun bagi lingkungan disekitarnya dan tidak mustahil dapat membawa kematian.
Kecenderungan kerusakan lingkungan hidup semakin kompleks baik di pedesaan dan perkotaan. Memburuknya kondisi lingkungan hidup secara terbuka diakui memengaruhi dinamika sosial politik dan sosial ekonomi masyarakat baik di tingkat komunitas, regional, maupun nasional. Pada gilirannya krisis lingkungan hidup secara langsung mengancam kenyamanan dan meningkatkan kerentanan kehidupan setiap warga negara. Kerusakan lingkungan hidup telah hadir di perumahan, seperti kelangkaan air bersih, pencemaran air dan udara, banjir dan kekeringan, serta energi yang semakin mahal. Individu yang bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan hidup sulit dipastikan karena penyebabnya sendiri saling bertautan baik antar-sektor, antar-aktor, antar-institusi, antar-wilayah dan bahkan antar-negara (Anonim.2014).
Untuk mengatasi masalah itu partisipasi atau peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup belum nampak secara signifikan. Kesadaran masyarakat tentang lingkungan hidup memang telah tumbuh, tetapi masih kurang proaktif. Hal ini dapat dilihat dari masih sangat kurang kepedulian masyarakat akan kebersihan lingkungan disekitar mereka. Berdasarkan latar belakang tersebut maka, pemerintah dalam hal ini menunjuk Kementerian Lingkungan Hidup mengadakan Program Adipura yaitu program yang mendorong pemerintah daerah dan masyarakat mewujudkan kota yang bersih dan teduh. Ini dilakukan dengan harapan setiap daerah dapat mendayagunakan seluruh kemampuannya melalui dukungan dari segenap segmen masyarakat untuk secara bersama-sama mengatasi permasalahan lingkungan hidup perkotaan. Dengan adanya program tersebut diharapkan masyarakat dapat lebih menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Salah satu faktor penentu untuk mendapatkan Adipura tersebut adalah proses pengolahan TPA (tempat pembuangan akhir) sampah baik organik dan anorganik.

III. ISI
Adipura, adalah sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Adipura diselenggarakan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Pengertian kota dalam penilaian Adipura bukanlah kota otonom, namun bisa juga bagian dari wilayah kabupaten yang memiliki karakteristik sebagai daerah perkotaan dengan batas-batas wilayah tertentu. Peserta program Adipura dibagi ke dalam 4 kategori berdasarkan jumlah penduduk, yaitu (Anonim, 2014):
1) Kota Metropolitan (lebih dari 1 juta jiwa)
2) Kota Besar (500.001 – 1.000.000 jiwa)
3) Kota Sedang (100.001 – 500.000 jiwa)
4) Kota Kecil (sampai dengan 100.000 jiwa)
Dalam lima tahun pertama, program adipura difokuskan untuk mendorong kota-kota di Indonesia menjadi “Kota Bersih dan Teduh”. Adapun kriteria Adipura terdiri dari 2 indikator pokok yaitu indikator kondisi fisik lingkungan perkotaan dalam hal kebersihan dan keteduhan kota dan indikator pengelolaan lingkungan perkotaan (non-fisik), yang meliputi institusi, manajemen, dan daya tanggap (Admin BPLH, 2013).
Program Adipura telah dilaksanakan setiap tahun sejak 1986, kemudian terhenti pada tahun 1998. Program Adipura kembali dicanangkan di Denpasar, Bali pada tanggal 5 Juni 2002, dan berlanjut hingga sekarang sebagai wujud tanggung jawab Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia terhadap kelangsungan kondisi lingkungan di Indonesia. Program Adipura ini dipandang perlu dilaksanakan karena kondisi lingkungan perkotaan yang cenderung menurun sejak program ini sempat terhenti. Perbandingan kualitas lingkungan perkotaan pada masa pelaksanaan program Adipura, kondisi awal dengan tahun terhentinya program ini menunjukkan grafik penurunan tingkat kebersihan yang cukup drastic antar kota-kota pesertanya. Artinya dengan tamatnya program Adipura kebersihan kota-kota tadi langsung terabaikan atau dengan kata lain, kota-kota yang dibanggakan karena prestasinya dalam menjaga kebersihan selama program Adipura tiba-tiba menjadi kota yang kotor (Kementerian Lingkungan Hidup RI, 2014).
Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang sampai saat ini masih tetap menjadi masalah besar bagi bangsa Indonesia adalah pembuangan sampah. Sampah-sampah itu diangkut oleh truk-truk khusus dan dibuang atau ditumpuk begitu saja di tempat yang sudah disediakan tanpa di apa-apakan lagi. Hal tersebut tentunya sangat berpengaruh terhadap lingkungan sekitar dimana lingkungan menjadi kotor dan sampah yang membusuk akan menjadi bibit penyakit di kemudian hari.
Walaupun terbukti sampah itu dapat merugikan bila tidak dikelola dengan baik, tetapi ada sisi manfaatnya. Hal ini karena selain dapat mendatangkan bencana bagi masyarakat, sampah juga dapat diubah menjadi barang yang bermanfaat. Kemanfaatan sampah ini tidak terlepas dari penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menanganinya dan juga kesadaran dari masyarakat untuk mengelolanya. Sampah dapat dibedakan secara garis besar menjadi 2 (dua) jenis berdasarkan sifatnya yaitu (Ali,2014):
a. Sampah organik – dapat diurai (degradable).
Sampah organik yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos.
b. Sampah anorganik – tidak terurai (undegradable)
Sampah anorganik yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya.
Sampah-sampah tersebut biasanya dibuang ke tempat pembuangan sampah (tong sampah) dan kemudian dikumpulkan pada tempat pembuangan akhir saampah (TPA). Sampah –sampah tersebut mempunyai jenis seperti yang telah dijelaskan sebelumnya yaitu dapat terurai dan tidak dapat terurai. Untuk sampah yang bersifat terurai dapat terjadi secara alami dengan proses pembusukan oleh alam.
Ini berbeda dengan sampah yang tidak dapat terurai secara alami sehingga membutuhkan campur tangan manusia dalam pengelolaan sampah tersebut. Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam. Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat , cair , gas , atau radioaktif dengan metoda dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat.
Praktek pengelolaan sampah berbeda beda satu negara ke negara yang lain (sesuai budaya yang berkembang) , dan hal ini berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan , serta berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yang tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah.
Pengelolaan sampah memiliki tujuan untuk mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis dan juga untuk mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup. Metode pengelolaan sampah berbeda-beda tergantung banyak hal , diantaranya tipe zat sampah , tanah yang digunakan untuk mengolah, dan ketersediaan area. Beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam pengelolaan sampah anorganik antara lain sebagai berikut:
a. Melakukan Metode Pembuangan dan Penimbunan
Pembuangan sampah pada penimbunan darat termasuk menguburnya untuk membuang sampah, metode ini adalah metode paling populer di dunia. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yang tidak terpakai, lubang bekas pertambangan , atau lubang- lubang dalam. Sebuah lahan penimbunan darat yang dirancang dan dikelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang hiegenis dan murah. Sedangkan penimbunan darat yang tidak dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan , diantaranya angin berbau sampah , menarik berkumpulnya hama dan adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan karbon dioksida yang juga sangat berbahaya. Karakteristik desain dari penimbunan darat yang modern diantaranya adalah metode pengumpulan air sampah menggunakan bahan tanah liat atau pelapis plastik. Sampah biasanya dipadatkan untuk menambah kepadatan dan kestabilannya , dan ditutup untuk tidak menarik hama (tikus). Banyak penimbunan sampah mempunyai sistem pengekstrasi gas yang dipasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul akan dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pembakar atau dibakar di mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik.
b. Melakukan Metode Daur-ulang
Proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan kembali disebut sebagai Daur-ulang. Ada beberapa cara daur ulang yaitu pengambilan bahan sampah untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar untuk membangkitkan listrik. Metode baru dari Daur-Ulang yaitu :
1). Pengolahan kembali secara fisik
Metode ini adalah aktivitas paling populer dari daur ulang, yaitu mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang telah dibuang contohnya kaleng minum alumunium, kaleng baja makanan / minuman, botol bekas, kertas karton, koran, majalah dan kardus . Pengumpulan biasanya dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak sampah / kendaraan sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur.
2) . Pengolahan kembali secara biologis
Material sampah (organik), seperti zat makanan, sisa makanan / kertas, bisa diolah dengan menggunakan proses biologis untuk kompos atau dikenal dengan istilah pengkomposan. Hasilnya adalah kompos yang bisa digunakan sebagai pupuk dan gas yang bisa digunakan untuk membangkitkan listrik. Metode ini menggunakan sistem dasar pendegradasian bahan-bahan organik secara terkontrol menjadi pupuk dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme. Aktivitas mikroorganisme bisa dioptimalisasi pertumbuhannya dengan pengkondisian sampah dalam keadaan basah (nitrogen), suhu dan kelembaban udara (tidak terlalu basah dan atau kering), dan aerasi yang baik (kandungan oksigen). Secara umum, metode ini bagus karena menghasilkan pupuk organik yang ekologis (pembenah lahan) dan tidak merusak lingkungan. Sangat memungkinkan melibatkan langsung masyarakat sebagai pengelola (basis komunal) dengan pola manajemen sentralisasi desentralisasi atau metode Inti (Pemerintah/Swasta) dan Plasma (kelompok usaha di masyarakat). Hal ini pula akan berdampak pasti terhadap penanggulangan pengangguran. Metode ini yang perlu mendapat perhatian serius/penuh oleh pemerintah daerah (kabupaten/kota). Contoh dari pengolahan sampah menggunakan teknik pengkomposan adalah Green Bin Program (program tong hijau) di toronto, kanada dimana sampah organik rumah tangga seperti sampah dapur dan potongan tanaman dikumpulkan di kantong khusus untuk di komposkan.
c. Melakukan Metode Penghindaran dan Pengurangan
Sebuah metode yang penting pengelolaan sampah adalah pencegahan zat sampah bentuk, atau dikenal juga dengan “Penguangan sampah” metode pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas pakai, memperbaiki barang yang rusak, mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali, mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai, mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama.
Selain itu juga ada berbagai kiat untuk membuat sampah menawan dan bernilai ekonomis tinggi, diantaranya adalah mendaur ulang sampah plastik melalui Bank Sampah. Sebagai upaya Reduce, Reuse dan Recycle sampah, sebagaima diamanatkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2012.
Bank Sampah adalah sebuah lembaga yang nasabahnya mengumpulkan sampah plastik untuk dijual kepada administrator Bank Sampah. Mengapa sampah plastik? Karena sampah ini mudah diuangkan. Sampah plastik yang terkumpul selanjutnya diolah menjadi bijih sampah kemudian diproses lebih lanjut. Uang hasil penjualan sampah dimasukkan dalam rekening nasabah dan setelah mencapai jumlah tertentu uang simpanan tersebut bisa diambil oleh nasabah Bank Sampah (Purwanto, 2013).
Dengan adanya pengelolaan-pengelolaan sampah tersebut baik secara alami ataupun dengan campur tangan manusia diharapkan akan dapat mengurangi penumpukan sampah di lokasi pembuangan akhir sampah atau TPA. Dimana hal ini secara otomatis dapat membuat lingkungan akan lebih bersih dan lebih segar.
Pengelolaan sampah dimasa yang akan datang perlu memperhatikan berbagai hal seperti: penyusunan Peraturan daerah (Perda) tentang pemilahan sampah, sosialisasi pembentukan kawasan bebas sampah misalnya tempat-tempat wisata, pasar, terminal, jalan-jalan protokol, kelurahan, dan lain sebagainya, penetapan peringkat kebersihan bagi kawasan-kawasan umum, memberikan tekanan kepada para produsen barang-barang dan konsumen untuk berpola produksi dan konsumsi yang lebih ramah lingkungan, memberikan tekanan kepada produsen untuk bersedia menarik (membeli) kembali dari masyarakat atas kemasan produk yang dijualnya, seperti bungkusan plastik, botol, alluminium foil, dan lain lain. peningkatan peran masyarakat melalui pengelolaan sampah sekala kecil, bisa dimulai dari tingkat desa/kelurahan ataupun kecamatan, termasuk dalam hal penggunaan teknologi daur ulang, komposting, dan penggunaan incenerator. peningkatan efektivitas fungsi dari TPA (tempat pembuangan akhir) sampah (Aksyar, 2011).
Dengan demikian kondisi TPA, dimana volume sampah yang masuk terkelola dengan baik bukan dibiarkan menumpuk begitu saja tanpa pengolahan yang efektif ini memberikan nilai tambah yang cukup tinggi dalam kaitannya dengan penilaian Adipura.
Dengan adanya Program Adipura ini juga, maka perhatian pemerintah daerah sedikit demi sedikit mengalami peningkatan, antara lain ditandai dengan makin banyaknya kota-kota yang memiliki nilai dalam skala nilai baik. Namun demikian mengingat makin kompleksnya penanganan sampah di perkotaan, maka pemerintah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat telah menyepakati lahirya Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sebagai payung hukum penagelolaan sampah di masa yang akan datang. Kementeriaan Negara Lingkungan Hidup sebagai leading sector lahirnya Undang-undang Pengelolaan Sampah memandang perlu menjadikan Undang- undang ini tidak hanya tegas di atas kertas saja.Yang lebih penting lagi adalah adanya penerapan di dalam masyarakat. Oleh karena itu mulai pelaksanaan pemantauan Adipura telah dilakukan beberapa perubahan kriteria dan mekanisme penilaian Adipura dengan memberi penilaian lebih pada aspek pemilahan dan pengolahan sampah. Hal ini berarti Pemerintah Daerah tidak cukup hanya mempersiapkan kondisi lokasi pantau, tetapi juga kebersihan dan keteduhan wilayah perkotaan secara umum, sehingga partisipasi masyarakat mutlak diperlukan (Sugeng, 2013).

IV. KESIMPULAN
Dengan adanya pengelolaan-pengelolaan sampah yang baik secara alami ataupun dengan campur tangan manusia diharapkan akan dapat mengurangi penumpukan sampah di lokasi pembuangan akhir sampah atau TPA yang merupakan salah satu faktor penting pada penilaian penghargaan Adipura.

V. UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Eka Nurdianty Anwar dan Kristian Widodo yang telah membantu menyelesaikan tugas kuliah Penyajian Ilmiah ini.

VI. DAFTAR PUSTAKA
Admin BPLH. 2013.http://bplh.egref.com/index.php/adipura/44-kriteria-adipura. 01 Maret 2014.

Aksyar, Muhammad. 2011. Model Penanggulangan Masalah Sampah Perkotaan dan Perdesaan,http://anca45-kumpulan-makalah.blogspot.com/2011/11/ model-penanggulangan- masalah-sampah.html. 10 Maret 2014

Ali. H.2014.Cara Mengolah Sampah Organik dan Anorganik.http://pendidikan. bengkuluekspress.com/2014/01/21/cara-mengolah-sampah-organik-dan-anorganik/. 4 Maret 2014.

Anonim.2012.B. http://id.wikipedia.org/wiki/Pengelolaan_sampah. Diakses tanggal 10 Maret 2014

Anonim. 2014.http://id.wikipedia.org/wiki/Adipura. 12 Maret 2014

Anonim.2014.http://id.wikipedia.org/wiki/Pengelolaan_sampah. 12 Maret 2014

Anonim.2014.Sistem Pengolahan Sampah.https://sites.google.com/site/praswilkel07/ studi-kasus. 12 Maret 2014.

Kementerian Lingkungan Hidup RI, 2014, Program Adipura. Pekanbaru : PPE.

Purwanto. E, Fasial.A, Hadedi. A. P.2013. Cerdas: Meraih Adipura dan Adiwiyata dengan Bank Sampah. http://www.owt.or.id/index.php/en/article/praktik-cerdas/bank-sampah. 01 Maret 2013

Sugeng. 2013. Penghargaan Adipura 2013. http://www.ppejawa.com/ekoplasa70_ penghargaan_adipura_2013.html#sthash.RIUfQFTd.dpuf. 12 Maret 2014

Yessi,Yaneri.2014.http://blhkotabengkulu.web.id/index.php?option=comcontent& view=article&id172:program-adipura. 10 Maret 2014.

 

24 Responses to “PENGELOLAAN SAMPAH DI TPA YANG MERUPAKAN SALAH SATU FAKTOR PENENTU PADA PENILAIAN ADIPURA.”

  1. Pengelolaan tpa memang sangat penting dalam faktor kebersihan dari berbagai macam sampah. di mana sampah-sampah banyak bertumpukan di sekitar linbgkungan masyarakat karena tidak adanya lokasi tpa yang di sediakan. karena otulah tpa bisa di katakan faktor penentu bebas dari tumpukan sampah..

  2. maharano bagas p Says:

    TPA sangat penting dan yang lebih penting lagi adalah kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya dan memisahkan antara sampah organik dan anorganik untuk mempermudah peleburan sampah tersebut.

  3. afrizal Says:

    nama: afrizal
    npm : e1c014098

    sampah memang masalah yang dari dulu susah untuk ditangani dan dicarikan solusinya. untuk itu dalam penanganan masalah sampah ini, sebaiknya semua pihak ikut andil dalam mencarikan penyelesaiannya. juga masyarakat harus lebih perduli lagi akan masalah ini dengan cara membuang sampah pada tempatnya sesuai dengan junis sampah tersebut agar mudah di olah pada saat sampah dikumpulkan di TPA. pemberian adipura ini juga sebagai langkah yang bagus dalam masalah sampah ini, agar masyarakat lebih termotivasi untuk lebih perduli akan sampah yang semakin hari menjadi masalah di masa depan.

  4. Yahumri PDAL Angkatan XVIII Says:

    Dalam pengelolaan sampah sebelum sampai ke TPA perlu diperhatikan aspek teknis di hulu (tempat penampungan sampah) di lingkungan rumah, rt, rw, dan bahkan kelurahan. Ketika berbicara adipura tentu bukan hanya di hilirnya saja (TPA) tapi yang menjadi kuncinya adalah kenyamanan dan kebersihan lingkungan lingkup terkecil. Peniliannya juga secara holistik…

  5. BURSAMIN Says:

    BURSAMIN

    PSDAL – BENGKULU UNIVERSITY FORCES TO 18

    AGREE
    Because, understanding and awareness is still lacking. Therefore, it needs the participation of relevant institutions dealing with the environment in order to combine and form a group in the community in order to provide direction and guidance will be awareness to preserve the clean life by maintaining surrounding environment in the form OF agglomeration programmed so that garbage can be controlled and resolved without wasting so it does not pollute the environment. There should be a recycling program types types of waste, in this case there needs to be involvement of the environment.

  6. monica sari sianturi Says:

    Sampah memang tidak akan pernah habis-habisnya dalam kehidupan ini, karena masing-masing orang akan menghasilkan yang namanya sampah. Pengelolaan sampah di TPA yang menjadi salah satu faktor penentu pada penilaian adipura sangat baik dan harus senantiasa ditingkatkan.
    Dan perlu ada pengolahan sampah lebih lanjut yang di ambil truk-truk sampah dari TPA pada pembuangan yang telah ditentukan sehingga sampah itu tidak hanya berpindah tempat saja tetapi dapat dimanfaatkan atau digunakan untuk keperluan tiap-tiap orang.

    Sekian dan terimakasih.

  7. Yahumri PSDAL Angkatan XVIII Says:

    Dalam pengelolaan sampah yang paling penting adalah bagaimana tempat penampungan sampah di rumah, lingkungan RT, RW, bahkan kelurahan harus dipastikan tersedia karena target adipura tidak akan diperoleh jika dihulunya tidak dibereskan terlebih dahulu….

  8. Pengelolaan sampah selain dengan pengelolaan TPA, juga harus disertai dengan kesadaran seluruh elemen masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang sehat karena sampah merupakan sumber penyakit

  9. Yartiwi, PSDAL 18 Says:

    Indonesia adalah negeri tercinta Ku.
    salah satu wujud cinta tanah air tidak membuang sampah di sembarang tempat. Terkadang sangat memprihatinkan siapa pelaku pembuang sampah disembarangan ini ? Masyarakat dg klas menengah ke bawah atau sebaliknya. Coba kita bercermin di negera lain bgm klu kita membuang sampah sembarangan ? Peraturan ini dapat kita patuhi.. tapi kembalila kita ke Negeri ini apakah ini masih kita pegang?

  10. Alexander Taufan PSDAL 18 Says:

    Tulisan yang menarik, mengangkat tema yang sangat dekat dengan keseharian kita, yakni persoalan SAMPAH.

    perlu adanya kesadaran mengenai sampah, tentunya dari Grasroot semisal Rumah/RT/RW hingga bermuara pada TPA.

    (ALEXANDER PSDAL angkatan 18)

  11. Assalammualaikum wr wb…..

    Hal ini sejalan dengan PENGELOLAAN SAMPAH OLEH MASYARAKAT yang mana hal tersebut sangat bagus dilakukan dan dicontoh oleh masyarakat lainnya karena pola ini akan menciptakan lapangan kerja berupa kluster-kluster pengelolaan sampah kota (di tingkat TPS). Selain itu, subsidi pemerintah terhadap angkutan sampah dari TPS ke TPA bisa dihemat. Beban biaya TPA dikurangi, bahkan memungkinkan menjadi tidak ada (selama ini TPA menjadi masalah).

    Dampak lanjutannya adalah umur TPA akan lebih panjang. Melalui inovasi teknologi pemrosesan dan pemilahan, kesejahteraan pemulung akan meningkat. Yang patut menjadi perhatian pula adalah bahwa nantinya usaha ini mampu menyediakan pupuk organik yang dihasil dari produk olahan sampah organiknya.

  12. agung dwi putra PSDAL Agkatan 18 Says:

    adipura pada hakekatnya merupakan simbol dari kota bersih dan sehat. namun pada kenyataannya saat ini adipura telah disalah artikan. Dimana piala adipura tidak lebih dari sebagai lambang/simbol kesuksesan dari seorang bupati/walikota dalam menjalankan pemerintahan selama masa jabatannya. banyak tipu muslihat yang terjadi dalam prosesnya. salah satunya yaitu pada suatu daerah yang mana salah satu persyaratan dari adipura tersebut yakni pada setiap titik pantau memiliki tong sampah yang terdiri dari 5 tong sampah setiap setnya. tong sampah tersebut masing-masing terbagi menjadi tong sampah: 1) organik (berwarna hijau); 2) anorganik (kuning); 3) B3 (merah); 4) residu (abu-abu); dan 5) daur ulang (biru). Namun kenyataannya pada daerah tersebut tidak semua titik pantau memiliki kelima set tong sampah tersebut, sehingga tong sampah pada daerah yang telah dinilai oleh tim penilai adipura dipindahkan ke daerah titik pantau yang akan ditinjau selanjutnya. sehingga kota tersebut memiliki nilai yang baik. perbuatan akal-akalan ini terpaksa dilakukan oleh pejabat berwenang demi keamanan kursi jabatannya dan untuk dapat pencitraan yang baik dimata bupati/walikota. nauzubillah….

  13. Weli sulastri Says:

    Annadzofatu minal iiman, yang artinya kebersihan itu sebagian drpd iman. Hendaknya kebersihan itu dimulai dr diri pribadi masing-masing, yang berlanjut di dalam keluarga, lingkungan dlm skala kecil kmd lingkungan dlm skala besar.

  14. hermy puspita sari, PSDAL Unib Says:

    menurut saya salah satu penilaian adipura adalah kebersihan, kebersihan kota, pasar dan tempat pembuangan sampah… dengan TPA yang dapat d tanggungulangi dengan baik berarti daerah tersebut kemungkinan memilki daerah yang bersih juga…

  15. LITMAN (PSDAL 18) Says:

    Pengelolaan sampah tidak hanya di TPA, tetapi perlu adanya kesadaran dan kepedulian pada semua elemen masyarakat. dimana kebersihan menjadi kebiasaan sehingga bukan sekedar untuk mendapatkan adipura tetapi lebih dari itu bahwa hidup sehat adalah suatu hak azasi.

  16. pengelolaan sampah dapat di mulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga…

  17. Deki andes putra Says:

    Dari tahun ke tahun sampah merupakan hal yang sangat sulit diatasi, baik dari berbagai elemen masyarakat. Walaupun telah dibuat Perda masing – maaing daerah untuk meraih penghargaan Adipura. Memang betul pengelolaan sampah di TPA merupakan faktor penentu untuk meraih adipura. Akan tetapi kesadaran masyarakat itu sendiri yang paling utama.

  18. dodi haryono Says:

    pengolahan sampah pada tempat pembuangan akhir (TPA) merupakan salah satu kunci keberhasilan pengelolaan sampah, pengelolaan sampah pada TPA ini hendaknya dapat menerapkan teknologi atau cara yang tepat sehingga sampah semaksimal mungkin dapat bermanfaat kembali.

  19. dodi haryono Says:

    sebagian besar sampah berasal dari rumah tangga, untuk dapat mengelolah sampah dengan baik hendaknya kesadaran pengelolaan sampah lebih dahulu ditanamkan pada pribadi masyarakat sehingga pengelolaan sampah pada TPA akan lebih gampang.

  20. yeni herlina PSDAL18 Says:

    untuk mengubah kebiasaan dalam masyarakat dalam membuang sampah sembarangan haruslah dimulai dari diri kita sendiri.

  21. Ardi Setiawan, Mahasiswa Pasca Sarjana PSDAL angkatan 18 Says:

    Sebaiknya masing-masing pemerintah daerah setiap tahunnya melalui dinas pertamanan dan kebersihan atau BLH menganggarkan dana setiap tahunnya untuk pembuatan TPA di setiap desa/kelurahan. Saat ini issue sampah/limbah kebanyakan hanya mengangkat tentang limbah industri sawit dan pabrik-pabrik. Padahal kalau dicermati sampah/limbah rumah tangga juga tidak kalah pentingnya. Sehingga diperlukan TPA serta petugas-petugas yang siap untuk mengerjakan kebersihan.

  22. ikhwan efendy Says:

    Dengan adanya Pengelolaan TPA yang baik secara otomatis akan menciptakan lingkungan yang bersih, sejuk dan indah untuk dipandang, dan pengelolaan TPA yang baik membutuhkan ilmu, dana dan sumber daya manusia yang ahli di bidang tersebut, hal ini yang menurut kami kenapa pengelolaan sampah menjadi salah satu penilaian adipura.

  23. pemilahan sampah dalam pengelolaan sampah mutlak di perlukan. sampah seharusnya ketika masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) benar2 merupakan sampah yang tidak bisa di olah dan dimanfaatkan kembali. pengelolaan sampah dengan prinsip 3R (Reduse, Reuse dan Recycle) harus segera di sosialisasikan kepada masyarakat. sehingga beban dari TPA pada suatu daerah berkurang dan masyarakat mendapat keuntungan ekonomis dalam pemanfaatan dan pengelolaannya.

    -Akbar Mauli-

  24. Nursaadah Istiqamah Says:

    Assalamualaikum wr.wb …Kalau boleh saya tambahakan sedikit untuk memperoleh adi pura di suatu daerah tersebut, harus membuat peraturan daerah yang konsisten, siapa pun yg melakukan perbuatan yg membuat lingkungan kotor akan di kenakan sangsi dan hukuman yang berat, karena mengingat masyarakat kita khususnya indonesia kesadaran untuk menjaga lungkungan masih sangat minim. Maka dari itu perlunya di buat peraturan daerah tersebut.
    Wassalam….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s