JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

UPAYA ADAPTASI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DENGAN PENDEKATAN SISTEM INFORMASI KALENDER TANAM (SI-KATAM) December 4, 2016

Filed under: Uncategorized — Urip Santoso @ 11:46 pm
Tags: , ,

Yahumri

  1. Abstrak

Pertanian merupakan sektor yang mengalami dampak paling serius, terutamasub sektor tanaman pangan yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Kegagalan panen disuatu sentra produksi dapat menyebabkan keguncangan di daerah lain, terlebih pada daerah yang bukan sentra pertanian. Perubahan pola curah hujan, peningkatan kejadian iklim ekstrim, serta kenaikan suhu udara dan permuakaan air laut telah menyebabkan produksi pertanian, terutama sub sektor tanaman pangan menurun secara signifikan. Untuk itu, Badan Litbang telah menyusun teknologi adaptif dengan perubahan iklim yaitu sistem informasi Kalender Tanam (KATAM) terpadu. Kalender Tanam Terpadu adalah pedoman atau alat bantu yang memberikan informasi spasial dan tabular tentang prediksi musim, awal tanam, pola tanam, luas tanam potensial, wilayah rawan banjir dan kekeringan, serangan OPT, serta rekomendasi varietas dan kebutuhan padi dan palawija, serta rekomendasi dosis dan kebutuhan pupuk dan rekomendasi alsintan berdasarkan prediksi variabilitas dan perubahan iklim.

Kata Kunci: Adaptasi, Kalender Tanam, Perubahan Iklim

 

  1. Pendahuluan

Dalam dua dekade terakhir, isu perubahan iklim terus menguat dan menjadi entry point penting dalam menyusun perencanaan pengembangan pertanian, khususnya tanaman pangan. Perubahan iklim yang ditandai oleh perubahan pola dan distribusi curah hujan, peningkatan suhu udara, dan peningkatan muka air laut berdampak langsung terhadap kerentanan pertanian diwilayah tertentu (Badan Litbang Pertanian, 2012) Perubahan iklim telah membuat sebaran hujan tidak merata bahkan curah hujan harian ekstrim dapat mencapai 234 mm/hari (Farmanta, 2012).

Pertanian merupakan sektor yang mengalami dampak paling serius. Tanaman pangan merupakan sub sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Kegagalan panen disuatu sentra produksi dapat menyebabkan keguncangan di daerah lain, terlebih pada daerah yang bukan sentra pertanian. Perubahan pola curah hujan, peningkatan kejadian iklim ekstrim, serta kenaikan suhu udara dan permuakaan air laut telah menyebabkan produksi pertanian, terutama sub sektor tanaman pangan menurun secara signifikan (Kementerian Pertanian, 2012).

Di tengah krisis pangan dunia yang dipicu oleh perubahan iklim, pemerintah tetap menargetkan swasembada pangan (Ditjen Tanaman Pangan. 2008). Sementara itu, produktivitas padi di Provinsi Bengkulu masih rendah yaitu 42,17 ku/ha  salah satunya akibat dari dampak negatif perubahan iklim yaitu pergeseran awal musim tanam dan pola tanam, ancaman kekeringan, banjir dan serangan organisme penggangu tanaman.  Untuk itu, Badan Litbang telah menyusun teknologi adaptif dengan perubahan iklim yaitu sistem informasi Kalender Tanam (KATAM) terpadu (Badan Litbang Pertanian, 2012).

Manfaat Kalender Tanam antara lain : (1) Menentukan waktu  tanam pada  setiap musim yaitu musim hujan (MH) dan musim kemarau (MK), (2) Menentukan pola, rotasi tanam dan rekomendasi teknologi pada skala kecamatan, (3) Menduga potensi luas tanam untuk mendukung sistem perencanaan tanam dan produksi tanaman pangan, (4) Mengurangi resiko penurunan dan kegagalan produksi serta kerugian petani akibat kekeringan, banjir dan serangan OPT.

Semakin menonjolnya isu perubahan iklim maka penerapan Katamsangat

mendukung upaya adaptasi sekaligus mitigasi dalam pengamanan/penyelamatanatau pengurangan resiko, pemantapan pertumbuhan produksi, dan mengurangidampak sosial-ekomomi. Oleh karenaituperanannya yang sangat strategis dan

bersifat dinamis.

  1. Dampak Perubahan Iklim Pada Sektor Pertanian
  2. Perubahan Pola Curah Hujan dan Kejadian Iklim Ekstrim

Perubahan pola hujan sudah terjadi sejak beberapa dekade terakhir di beberapa wilayah di Indonesia, seperti pergeseran awal musim hujan dan perubahan pola curah hujan. Selain itu terjadi kecenderungan perubahan intensitas curah hujan bulanan dengan keragaman dan deviasi yang semakin tinggi serta peningkatan frekuensi kejadian iklim ekstrim, terutama curah hujan, angin, dan banjir rob. Beberapa ahli menemukan dan memprediksi arah perubahan pola hujan di Bagian Barat Indonesia, terutama di Bagian Utara Sumatera dan Kalimantan, dimana intensitas curah hujan cenderung lebih rendah, tetapi dengan periode yang lebih panjang. Sebaliknya, di Wilayah Selatan Jawa dan Bali intensitas curah hujan cenderung meningkat tetapi dengan periode yang lebih singkat (Naylor, 2007). Secara nasional, Boer et al. (2009) mengungkapkan tren perubahan secara spasial, di mana curah hujan pada musim hujan lebih bervariasi dibandingkan dengan musim kemarau.

  1. Sumber Daya Lahan dan Air

Secara umum, perubahan iklim akan berdampak terhadap penciutan dan degradasi (penurunan fungsi) sumberdaya lahan, air dan infrastruktur terutama irigasi, yang menyebabkan terjadinya ancaman kekeringan atau banjir. Di sisi lain, kebutuhan lahan untuk berbagai penggunaan seperti pemukiman, industri, pariwisata, transportasi, dan pertanian terus meningkat, sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kemajuan zaman. Secara absolut,lahan yang tersedia relatif tetap, bahkan cenderung menciut dan terdegradasi, baik akibat tidak tepatnya pengelolaan maupun dampak perubahan iklim. Kondisi tersebut menyebabkan laju konversi lahan akan semakin sulit dibendung dan sistem pengelolaan lahan akan semakin intensif, bahkan cenderung melebihi daya dukungnya.

Berdasarkan analisis Irawan et al. (2001), dalam periode 1981-99 telah terjadi alih fungsi lahan sawah seluas 1.002.055 ha, sementara penambahan luas lahan sawah hanya 518.224 ha. dalam periode 1999-2002 telah terjadi konversi lahan sawah seluas 167.150 ha, yang menyebabkan penciutan lahan sawah seluas 107.482 ha (Sutomo, 2004). Data penciutan lahan sawah ini masih menjadi kontroversi, tetapi fakta di lapangan mengindikasikan bahwa intensitas konversi lahan semakin tinggi dan sulit dikendalikan. Penciutan lahan sawah tadah hujan di Jawa relatif kecil setelah tahun 2000. Sementara di luar Jawa cenderung meningkat tajam, sekitar 300.000 ha selama kurun waktu 1995-2000, terutama akibat beralih fungsi menjadi areal perkebunan kelapa sawit.

Pengusahaan lahan kering perbukitan atau lahan berlereng padat penduduk pada umumnya kurang memperhatikan aspek lingkungan dan seakan mendorong perluasan lahan kritis yang umumnya berada di kawasan DAS penyangga. Selain menurunkan produktivitas, kerusakan lahan tersebut juga menurunkan fungsi hidrologis dan potensi sumberdaya air akibat penurunan daya serap dan daya tampung air, meningkatnya ancaman banjir, dan kekurangan air atau bahkan kekeringan. Ancaman banjir dan kekeringan akan diperparah oleh perubahan pola curah hujan dan kejadian iklim ekstrim akibat perubahan iklim.

  1. Tanaman

Pertanian, terutama subsektor tanaman pangan, paling rentan terhadap perubahan pola curah hujan, karena tanaman pangan umumnya merupakan tanaman semusim yang relatif sensitif terhadap cekaman (kelebihan dan kekurangan) air. Secara teknis, kerentanan tanaman pangan sangat berhubungan dengan sistem penggunaan lahan dan sifat tanah, pola tanam, teknologi pengelolaan tanah, air, tanaman, dan varietas (Las et al., 2008b).Oleh sebab itu, kerentanan tanaman pangan terhadap pola curah hujan akan berimbas pada luas areal tanam dan panen, produktivitas, dan kualitas hasil. Kejadian iklim ekstrim, terutama El-Nino atau La-Nina, antara lain menyebabkan: (a) kegagalan panen, penurunan IP yang berujung pada penurunan produktivitas dan produksi; (b) kerusakan sumberdaya lahan pertanian; (c) peningkatan frekuensi, luas, dan bobot/intensitas kekeringan; (d) peningkatan kelembaban; dan (e) peningkatan intensitas gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT) (Las et al., 2008a).

Faktor pemicu kegagalan panen salah satunya adalah serangan hama dan penyakit.Perubahan iklim mengakibatkan perkembangan dinamika serangan hama danpenyakit, salah satu serangan walang sangit dan tikus.

Fattah dan Hamka (2011) menyatakan serangan tikus di musim kemarau lebih tinggi karenapengaruh iklim seperti cuaca. Pada musim kemarau, intensitas curah hujan lebih rendah dibanding musim hujan sehingga aktifitas tikus untuk mencari makanan lebih banyak Berbeda halnya pada musim hujan, berbagai kendala yang dihadapi tikus untuk melakukan aktifitasnya seperti curah hujan yang tinggi menyebabkan terjadinya banjir sehingga banyak lubang-lubang tikus yang terendamakibatnya banyak tikus yang mati karena kedinginan terutama anak tikus.

Baehaki dan Abdullah (2008) menyatakan bahwa perubahan iklim global juga dapat mengakibatkan terjadinya dinamika organisme penganggu tumbuhan yaitu peningkatan serangan hama danpenyakitdi areal persawahan di Indonesia.Fattah dan Hamka (2011) menambahkan bahwapenyebab serangan walang sangit adalah karena pengaruh iklim. Kondisi suhu yang panaskemudian diiringi dengan hujan akan mempengaruhi peningkatan perkembangan populasi hama walang sangit.Perkembangan populasi walang sangit pada kondisi iklim yang mendukung sangat cepat, apalagi bila disertai dengan ketersediaan bahan makanan akan menyebabkan populasi mengalami peningkatan yang sangat tajam sehingga dapat menyebabkan serangan yang lebih luas.

  1. Ternak dan Kesehatan Hewan

Pengaruh perubahan pola hujan dan iklim ekstrim terhadap ternak belum banyak dipelajari. Pengaruh langsung dampak perubahan iklim terhadap ternak adalah pertumbuhan yang tidak optimal dan stres akibat kekeringan. Pengaruh tidak langsung dampak perubahan iklim terhadap ternak lebih serius karena berkurangnya ketersediaan pakan alami. Pada umumnya, penyediaan pakan ternak dipengaruhi oleh pola curah hujan, terutama di daerah beriklim kering. Pada musim kemarau dan/atau pada kondisi iklim ekstrim kering, ketersediaan pakan turun drastis, baik kuantitas maupun kualitas. Dampak perubahan pola curah hujan dan iklim ekstrim terhadap ternak terjadi akibat dinamika dan pola distribusi penyakit hewan (OPH). Perubahan pola curah hujan, kelembaban, dan gas di atmosfer mempengaruhi pertumbuhan tanaman, jamur, serangga, dan interaksinya dengan host. Penyakit hewan cenderung meningkat pada musim hujan dan/atau iklim basah. Peluang kontaminasi berbagai penyakit bawaan ternak dari tanaman pakan lebih besar pada musim hujan, seperti jamur aflatoksin pada kacang tanah, gandum, jagung, dan beras. Oleh sebab itu, perubahan iklim juga akan mempengaruhi produktivitas ternak akibat penyakit menular.

  1. Adaptasi Perubahan Iklim Dengan Penerapan Kalender Tanam

Upaya  yang  dapat  dilakukan  adalah  menyesuaikan  atau  adaptasi  dan  pengembangan  pertanian  yang  toleran  terhadap  perubahan  iklim, antara  lain  melalui  penyesuaian  waktu  dan  pola  tanam,  penggunaan  varietas  yang adaptif,  tahan  terhadap  organisme  penganggu  tanaman  (OPT),  dan  pengelolaan  air secara  efisien.  Agar  para  pemangku  kebijakan,  penyuluh,  petani,  dan  pengguna inovasi lainnya dapat melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim, Badan Penelitian dan  Pengembangan  Pertanian  melalui  Balai  Besar  Penelitian  dan  PengembanganSumberdaya  Lahan  Pertanian  (BBSDLP),  Balai  Penelitian  Agroklimat  dan  Hidrologi(Balitklimat), Balai Penelitian Tanah (Balittanah), dan Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa  (Balittra)  yang  didukung  oleh  seluruh  BPTP,  telah  menyusun  Peta  dan  TabelKalender  tanam  (KATAM)  terpadu  untuk  sentra  padi  di  Indonesia.  Kalender  Tanamtersebut  merupakan  pedoman  bagi  Dinas  Pertanian,  penyuluh,  dan  petani  dalam menetapkan  pola  dan  waktu  tanam  yang  tepat,  sesuai  dengan  kondisi  iklim  di  setiapkecamatan dan kabupaten, yang kini telah dipadukan dengan rekomedasi penggunaan varietas,  pemupukan,  dan  kebutuhan  sarana  produksi  hingga  tingkat  kecamatan. Sosialisasi  penggunaan  Kalender  tanam  (KATAM)  terpadu  ini  diyakini  dapat  menekan dampak  perubahan  iklim, termasuk  anomali  iklim,  terhadap  produksi  padi  nasional Sebagai  suatu  inovasi  yang  dinamis,  pada  tahap  awal  penyusunan  Kalender  tanam (KATAM)  terpadu  lebih  difokuskan  pada  agroekosistem  lahan  sawah  irigasi,  dan  saatini  sedang  dipersiapkan Kalender  tanam  (KATAM)  terpadu  untuk  agroekosistem  lahanrawa (BBSDLP, 2011).Badan litbang Pertanian telah mengeluarkan kalender tanam terpadu yang di dalamnya memuat informasi jadwal tanam, pola tanam, prediksi luas tanam, dosis pupuk, Rekomendasi kebutuhan pupuk, rekomendasi benih dan varietas padi dan palawija dan potensi OPT padi dan palawija.

KATAM merupakan teknologi yang memuat berbagai informasi tanam pada skala kecamatan (Gambar 1), dan suatu perangkat yang berguna untuk mempermudah stakeholders dan petani dalam penentuan : (1) prediksi awal musim hujan, (2) Awal musim tanam, (3) Pola Tanam, (4) Luas tanam potensial, (5) Rekomendasi pemupukan, (6) Tutup Tanam, (7) Rekomendasi varietas padi, (8) Potensi serangan OPT, (9) Wilayah rawan banjir dan kekeringan, (10) Resiko penuruan produksi akibat bencana (BBSDLP, 2012).

Surmainiet al., (2011) menyatakan bahwa penyesuaian waktu dan pola tanam merupakan upaya yang sangat strategis guna mengurangi atau menghindari dampak perubahan iklim akibat pergeseran musim dan perubahan pola curah hujan. Kementerian Pertanian menerbitkan petakalender tanam yang menggambarkan potensi pola dan waktu tanam bagi tanaman pangan terutama padi. Peta kalender tanam disusun berdasarkan kondisi pola tanam petani saat ini, dengan tiga skenario kejadian iklim, yaitu tahun basah, tahun normal dan tahun kering.

Inovasi teknologi adaptif untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim antara lain adalah: (a) Varietas unggul yang rendah emisi GRK, toleran kekeringan dan genangan, berumur genjah (ultra genjah), dan toleran salinitas; (b) Teknologi pengelolaan lahan dan air, pengolahan tanah, sistem irigasi intermitten, pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan, dan pengomposan; (c) Teknologi zero waste dan pemanfaatan limbah (organik) pertanian, pupuk organik, pakan ternak, teknologi biogas dan bioenergi (Badan Litbang Pertanian, 2011).

  1. Simpulan

Beberapa simpulan dari upaya adaptasi sektor pertanian terhadap perubahan iklim

  1. Perubahan iklim semakin dirasakan dampaknya terutama sektor pertanian oleh karena itu penerapan Kalender Tanam (KATAM) sangatmendukung upaya adaptasi sekaligus mitigasi dalam pengamanan/penyelamatan atau pengurangan resiko, pemantapan pertumbuhan produksi, dan mengurangi dampak sosial – ekomomi.
  2. Agar para  pemangku  kebijakan,  penyuluh,  petani,  dan  pengguna inovasi lainnya dapat melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim secara masif dan berkelanjutan untuk meminimalisir dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian.
  3. Kalender Tanam (KATAM) bersifat dinamis, dapat diperbaharui dan dapat menyesuikan dengan musim.

 

Ucapan Terima Kasih

Segala puji bagi Allah penulis panjatkan atas nikmat-Nya jualah sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Penyajian Ilmiah dengan judul: “Upaya Adaptasi Sektor Pertanian Terhadap Perubahan Iklim Dengan Pendekatan Sistem Informasi Kalender Tanam (Si-Katam) Terpadu”. Tulisan ini penulis susun berdasarkan telaah dari beberapa tulisan ilmiah. Dengan tulisan ini, bukan saja kewajiban penulis sebagai mahasiswa pasca sarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam dan LingkunganFakultas Pertanian Universitas Bengkulu dapat terpenuhi dalam mata kuliah Penyajian Ilmiah, namun juga mengasah kemampuan penulis dalam membuat suatu tulisan ilmiah berdasarkan hasil telaah pustaka.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Ir. Urip Santoso, S. Ikom., M.Sc., Ph.D selaku pengasuh mata kuliah Penyajian Ilmiah yang telah memberikan bimbingan dan petunjuk kepada penulis tentang bagaimana cara menulis suatu karya ilmiah yang baik.

Disamping itu penghargaan penulis sampaikan kepada rekan-rekan angkatan XVIII Program Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu yang telah memberikan dukungan dalam penulisan telaah pustaka ini. Akhirnya penulis berharap agar tulisan ini bermanfaat.

Daftar Pustaka

Badan Litbang Pertanian. 2011. Pedoman Umum Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Badan Litbang Pertanian. 2012. Petunjuk Teknis Gugus Tugas. Kalender Tanam Terpadu dan Perubahan Iklim. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Baehaki,S.E. dan Abdullah,B. 2008. Evaluasi karakter ketahanan galur padi terhadap wereng coklat biotipe 3 melalui uji penapisan dan population built up. Prosiding seminar apresiasi hasil penelitian padi menunjang P2BN.Buku I.Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Page: 367-382.

BBSDLP. 2011. Penyusunan Kalender Tanam Lahan Sawah Irigasi Seluruh Wilayah Indonesia. Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian. Bogor.

BBSDLP. 2012. Lokakarya Nasional. Perubahan Iklim. Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian. Bogor.

Boer, R., A. Buono, Sumaryanto, E. Surmaini, A. Rakhman, W. Estiningtyas, K. Kartikasari, and Fitriyani. 2009. Agriculture Sector. Technical Report on Vulnerability and Adaptation Assessment to Climate Change for Indonesia’s Second National Communication. Ministry of Environment and United Nations Development Programme, Jakarta.

Ditjen Tanaman Pangan. 2008. Pedoman Umum: Peningkatan Produksi dan Produktivitas Padi, Jagung, dan Kedelai melalui pelaksanaan SL-PTT. Dirjen Tanaman Pangan.72 p.

Farmanta Y. 2012. Intersepsi Hujan oleh Tajuk Tanaman Kelapa Sawit. Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Fattah, A. dan Hamka. 2011. Tingkat Serangan Hama Utama Padi Pada Dua Musim Yang Berbeda Di Sulawesi Selatan. Seminar dan Pertemuan Tahunan XXI PEI, PFI Komda Sulawesi Selatan dan Dinas Perkebunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tanggal 7 Juni 2011 di Hotel Singgasana Makassar.

Irawan, B.S. Friyatno, A. Supriyatna, I.S. Anugrah, N.A. Kitom, B. Rachman dan B. Wiyono. 2001. Perumusan Model Kelembagaan Konversi Lahan Pertanian. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.

Kementerian Pertanian. 2012. Seminar Kalender Tanam dan Sistem Informasi Sumberdaya Lahan Pertanian dan Tanaman. Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor.

Las, I., E. Surmaini, A Ruskandar. 2008a. Antisipasi Perubahan Iklim: Inovasi Teknologi dan Arah PenelitianPadi di Indonesia dalam : Prosiding Seminar Nasional Padi 2008. Inovasi Teknologi Padi Mengantisipasi Perubahan Iklim Global Mendukung Ketahanan Pangan. BB Padi.

Las, I., H. Syahbuddin, E. Surmaini, dan A M. Fagi. 2008b. Iklim dan Tanaman Padi: Tantangan dan Peluang. dalam: Buku Padi: Inovasi Teknolohgi dan Ketahanan Pangan. BB Padi.

Naylor, R.L., D.S. Battisti, D.J. Vimont, W.P. Falcon, and M.B. Burke. 2007. Assessing risks of climate variability and climate change for Indonesian rice agriculture. Proceeding of the National Academic of Science 114: 7752-7757.

Surmaini,  E.  Runtunuwu,E.  Las,I.  2011.  Upaya  sektor  pertanian  dalam  menghadapi  perubahan  iklim.  Jurnal Litbang Pertanian 30 (1) : 1-7.

Sutomo, S. 2004. Analisa data konversi dan prediksi kebutuhan lahan. Hal 135-149 dalam Hasil Round Table II Pengendalian Konversi dan Pengembangan Lahan Pertanian. Direktorat Perluasan Areal. Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan. Departemen Pertanian. Jakarta.

 

One Response to “UPAYA ADAPTASI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DENGAN PENDEKATAN SISTEM INFORMASI KALENDER TANAM (SI-KATAM)”

  1. Susi Endrawati Says:

    Selamat siang sy mau bertanya. Utk pemeriksaan kadar zat kimia dlm air sumur selain metode spektrofotometri. Analisis kuantitatif oksidimetri.densitometri pake metode apa yaa tk

    Pada tanggal 5 Des 2016 06.46, “JURNAL LINGKUNGAN HIDUP” menulis:

    > Urip Santoso posted: “Yahumri Abstrak Pertanian merupakan sektor yang > mengalami dampak paling serius, terutamasub sektor tanaman pangan yang > paling rentan terhadap perubahan iklim. Kegagalan panen disuatu sentra > produksi dapat menyebabkan keguncangan di daerah lain, te” >


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s