JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

UPAYA ADAPTASI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DENGAN PENDEKATAN SISTEM INFORMASI KALENDER TANAM (SI-KATAM) December 4, 2016

Filed under: Uncategorized — Urip Santoso @ 11:46 pm
Tags: , ,

Yahumri

  1. Abstrak

Pertanian merupakan sektor yang mengalami dampak paling serius, terutamasub sektor tanaman pangan yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Kegagalan panen disuatu sentra produksi dapat menyebabkan keguncangan di daerah lain, terlebih pada daerah yang bukan sentra pertanian. Perubahan pola curah hujan, peningkatan kejadian iklim ekstrim, serta kenaikan suhu udara dan permuakaan air laut telah menyebabkan produksi pertanian, terutama sub sektor tanaman pangan menurun secara signifikan. Untuk itu, Badan Litbang telah menyusun teknologi adaptif dengan perubahan iklim yaitu sistem informasi Kalender Tanam (KATAM) terpadu. Kalender Tanam Terpadu adalah pedoman atau alat bantu yang memberikan informasi spasial dan tabular tentang prediksi musim, awal tanam, pola tanam, luas tanam potensial, wilayah rawan banjir dan kekeringan, serangan OPT, serta rekomendasi varietas dan kebutuhan padi dan palawija, serta rekomendasi dosis dan kebutuhan pupuk dan rekomendasi alsintan berdasarkan prediksi variabilitas dan perubahan iklim.

Kata Kunci: Adaptasi, Kalender Tanam, Perubahan Iklim

  (more…)

Advertisements
 

MENUJU PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN. Membangun tanpa merusak lingkungan June 13, 2013

Filed under: Uncategorized — Urip Santoso @ 3:06 am
Tags: , ,

Oleh:  Wiryono
Pondahuluan
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia mengeksploitasi sumberdaya mengolahnya menjadi produk-produk alam dan yang sesuai dengan keperluannya. Sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan peningkatan gaya hidup maka kebutuhan akan sumberdaya alam meningkat. Eksploitasi sumberdaya alam dan pemanfaatanya yang didasarkan pada kepentingan ekonomi jangka pendek telah menimbulkan dua sisi kerusakan lingkungan. Di satu sisi terjadilah penyusutan sumberdaya alam dan di sisi lain terjadilah penumpukan limlah yang mengakibatkan polusi.
Jika pembangunan yang hanya mementingkan kepentingan ekonomi jangka pendek diteruskan maka kerusakan lingkungan akan semakin parah sehlngga generasi mendatang tidak lagi memiliki sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan akan hidup dalam kondisi lingkungan yang tidak sehat. Agar kita dapat mewariskan lingkungan dalam keadaan baik sehingga generasi mondatang masih dapat memenuhi kebutuhan hidupnya maka kita perlu melaksanakan pembangunan tanpa merusak lingkungan, atau yang disebut pembangunan berkelanjutan.
Meskipun jargon pembangunan berkelanjutan sudah dipopulerkan sejak tahun 1980-an, pada kenyataannya pelaksanaan pembangunan di lndonesia, termasuk di provinsi Bengkulu, masih
menittkberatkan pada pembangunan ekonomi jangka pendek. Para kepala daerah berupaya keras untuk meningkatkan PAD. Kawasan konservasi dan hutan lindung yang tidak boleh dieksploitasi dianggap sebagai penghambat pembangunan. Ada keinginan sebagian pejabat dan masyarakat untuk mengalihfungsikan kawasan konservasi dan hutan lindung mienjadi kawasan budidaya sehingga dapat diolah dan menghasilkan uang.

Selengkapnya.

 

Sejauhmana Kita Menjaga Lingkungan? May 27, 2012

Filed under: Uncategorized — Urip Santoso @ 1:27 am
Tags: ,

1) Kita kurang memperhatikan kelestarian lingkungan hidup, dan lebih mengutamakan keuntungan ekonomi semata.

2) Pemeliharaan lingkungan dianggap meembuang-buang anggaran dan tidak menguntungkan.

3) Kita masih berpikir  keuntungan jangka pendek daripada keuntungan jangka panjang.

4) Banyak perilaku kita yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan seperti buang sampah sembarangan, eksplorasi sumber daya alam yang berlebihan dan kurang memperhatikan etika lingkungan.

5) Upaya menjaga kelestarian lingkungan melalui program Adipura, Adiwiyata atau program lainnya seringkali ditumpangi oleh kepentingan yang lain seperti kepentingan politik.

Jadi mari bertanya pada diri sendiri: “Sudahkah kita memikirkan sejauhmana kita berperan dalam menjaga lingkungan?”

 

TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT (TKKS) SEBAGAI ALTERNATIF PUPUK ORGANIK January 4, 2012

Filed under: Uncategorized — Urip Santoso @ 12:43 am
Tags: , ,

Oleh : Dwi Ida Wardani

 ABSTRAK

Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman. Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) mencapai 23% dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit tersebut sebagai alternatif pupuk organik juga akan memberikan manfaat lain dari sisi ekonomi.

Pertumbuhan produksi kelapa sawit semakin meningkat sejalan dengan jumlah limbah yang dihasilkan. Upaya untuk mengatasi hal tersebut, Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS) melakukan teknologi pengomposan dengan memanfaatkan hasil limbah pabrik menjadi kompos yang memiliki nilai ekologi dan ekonomi yang tinggi. Bahan yang diperlukan untuk produksi kompos tersebut adalah Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS).

Keunggulan kompos TKKS meliputi: kandungan kalium yang tinggi, tanpa penambahan starter dan bahan kimia, memperkaya unsur hara yang ada di dalam tanah, dan mampu memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi. Selain itu kompos TKKS memiliki beberapa sifat yang menguntungkan antara lain: (1) memperbaiki struktur tanah berlempung menjadi ringan; (2) membantu kelarutan unsur-unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman; (3) bersifat homogen dan mengurangi risiko sebagai pembawa hama tanaman; (4) merupakan pupuk yang tidak mudah tercuci oleh air yang meresap dalam tanah dan (5) dapat diaplikasikan pada sembarang musim.

Proses pengomposan tandan kosong kelapa sawit ini tidak menggunakan bahan cair asam dan bahan kimia lain sehingga tidak terdapat pencemaran atau polusi, selain itu proses pengomposannya pun tidak menghasilkan limbah. Proses membuat kompos dimulai dengan pencacahan tandan kosong sawit terlebih dahulu dengan mesin pencacah kemudian bahan yang telah dicacah ditumpuk memanjang dengan ukuran lebar 2,5 m dan tinggi 1 m. Selama proses pengomposan tumpukan tersebut disiram dengan limbah cair yang berasal dari pabrik kelapa sawit. Tumpukan dibiarkan diatas semen dan dibiarkan di lantai terbuka selama 6 minggu. Kompos dibolak-balik dengan mesin pembalik. Setelah itu kompos siap untuk dimanfaatkan. (more…)

 

Pembangunan Yang Berwawasan Lingkungan Hidup December 1, 2011

Dikompilasi Oleh: Prof. Urip Santoso

(Tulisan ini merupakan kompilasi dari berbagai sumber baik dari buku maupun dari internet. Saya hanya mengkompilasi dan sedikit menyisipkan ide-ide saya. Jadi ini bukan tulisan saya!)
Pendahuluan
Pembangunan pada abad 20 yang lalu adalah pola pembangunan konvensional yang bersifat linier mengutamakan kemajuan ekonomi semata-mata, subyek pembangunan adalah manusia dan orientasi pembangunan tertuju hanya pada manusia. Pola ini  mengabaikan pembangunan lingkungaan dan social budaya.
Pola pembangunan ini mempunyai tiga kelemahan pokok (Salim, 2010), yaitu  kegagalan pasar, kegagalan institusi dan kegagalan kebijakan. Selain itu, pembangunan konvensional hanya mengedepankan pembangunan ekonomi yang berjangka pendek, sementara pembangunan social dan lingkungan yang berjangka panjang sangat diabaikan.
Pola pembangunan ini meskipun dalam jangka pendek mampu meningkatkan pendapatan nasional sangat fantastis, namun pada kenyataannya masih banyak penduduk yang miskin. Hal ini disebabkan oleh tidak meratanya pembangunan konvensional. Selain itu, saat ini sudah kita rasakan betapa peningkatan pendapatan nasional itu dibarengi oleh rusaknya  lingkungan hidup. Rusaknya lingkungan hidup ini sangat tidak seimbang. Artinya rusaknya lingkungan hidup jauh lebih tinggi daripada tingkat pendapatan nasional. Jika pembangunan konvensional terus dilanjutkan, maka kerusakkan lingkungan hidup akan semakin parah (Weisman, 2009). Akibatnya bukan saja berbagai bencana melanda bumi ini, tetapi juga generasi yang akan dating tidak akan mewarisi bumi ini. Berbagai bencana yang melanda bumi ini pun akhirnya meluluhlantakkan pembangunan  berbasis ekonomi ini. Berbagai polusi baik udara, air, tnah dll telah dihasilkan oleh pembangunan konvensional, yang akhirnya bumi ini menjadi tidak nyaman untuk dihumi (Wardhana, 2004). Akhirnyanya yang diperoleh kerugian ganda, yaitu rusaknya sumber daya pembangunan sekaligus rusaknya lingkungan hidup.  Di Bengkulu pada khususnya dan Sumatera pada umunya telah banyak kerusakan  lingkungan hidup dikarenakan oleh pembangunan yang tidak terkendali (Sjarkowi et al., 2007). Perubahan  iklim mulai dirasakan oleh penduduk dunia. Jika tidak segera dilakukan berbagai upaya, maka perubahan iklim global semakin tidak terkendali dan akan mengancam bumi. Dampak perubahan iklim global sangat lamban tapi bersifat pasti dan permanen (Diposaptono et al., 2009). Indonesia yang memiliki belasan ribu pulau-pulau kecil akan sangat menderita akibat perubahan  iklim, sebab pulau-pulau itu terancam tenggelam bersama semua yang ada di atasnya.   (more…)

 

Meraih Supremasi Adipura November 16, 2011

Filed under: Uncategorized — Urip Santoso @ 12:28 am
Tags:

Penilaian tahap pertama adipura sudah selesai dilaksanakan oleh tim penilai adipura. Banyak cara digunakan untuk dapat meraih piala adipura. Sayangnya, banyak kabupaten/kota yang terjebak hanya untuk memperoleh piala. Substansi adipura dilupakan. Mereka lupa bahwa piala adipura itu merupakan penghargaan bagi kabupaten/kota yang secara rutin telah berhasil menjaga dan meningkatkan clean and green di wilayahnya. Ada adipura atau tidak ada seharusnya tidak jadi masalah  untuk tetap membangun kota yang clean and green, sebab kebesrsihan dan hijau itu amat dibutuhkan bukan saja bagi manusia tetapi juga bagi makhluk hidup yang lain.

Secara konsep, adipura merupakan suatu proses. Proses  dimana suatu kota secara bertahap dan kontinyu berusaha menuju kota yang bersih dan hijau, sehingga kota tersebut layak huni bagi semua makhluk. Jadi, salah besar jika kota menjelang penilaian adipura baru berbenah. Pedagang kaki lima disingkirkan sementara, pasar disulap, jalan pun disulap; bahkan ditanam pohon yang notabene mendadak ada dan langsung tinggi. Fasilitas umum tiba-tiba menjadi bersih dan kaya akan kotak sampah; bahkan terlalu banyak malah dan masih gres alias baru turun dari toko. Tim penilaipun jadi bingung. Gimana nich menilainya? bahkan ada pula wilayah yang minta tangguh, nanti saya kirim fotonya. Wah, bikin pusing sang penilai. Setelah penilaian, kotapun menjadi kembali kepada titik awal.

Inilah akibatnya, jika adipura bertujuan hanya untuk menyabet piala. Akhirnya, tujuan adipura menjadi gagal total.

 

Menuju Kota Adipura November 7, 2011

Filed under: Uncategorized — Urip Santoso @ 5:58 am
Tags: , ,

Saya sajikan bahan tentang adipura. Semoga bermanfaat bagi yang memerlukannya.

ADIPURA_Pengelolaan Sampah_RTHRev2

KRITERIA FISIK

KRITERIA PEMANTAU DAN KODE ETIK

KRITERIA PENGOLAHAN SAMPAH DAN RUANG TERBUKA HIJAU

Lampiran III Kriteria Fisik rev1

MEKANISME PENILAIAN FISIK

REVITALISASI ADIPURA

Sosialisasi Kriteria non fisik