JURNAL LINGKUNGAN HIDUP

BUMI LESTARI LANGIT BEBAS POLUSI

KONSERVASI WILAYAH PESISIR May 19, 2013

Filed under: lingkungan — Urip Santoso @ 11:23 pm
Tags: ,

Oleh  :  Amelia

ABSTRAK

Kata kunci dari konservasi wilayah pesisir mencakup pemanfaatan, perlindungan, pelestarian, serta terjaminnya ekosistem yang berkesinambungan. Hal tersebut dilakukan karena sumberdaya pesisir baik flora, fauna, dan ekosistem memiliki kegunaan dan nilai  ekologis, ekonomis dan sosial yang penting.

Pada saat ini program/strategi konservasi wilayah pesisir menjadi agenda penting mengingat kerusakan sumberdaya pesisir akibat pencemaran yang berasal dari wilayah pesisir dan sekitarnya. Dampak pencemaran dan kerusakan lingkungan di wilayah pesisir dapat membahayakan kelestarian ekosistem pesisir. Ekosistem pesisir yang rusak dapat mengganggu kehidupan dan penghidupan manusia, spesies lain dan lingkungannya. Fenomena kerusakan wilayah pesisir dapat dipantau baik melalui media cetak dan elektronik maupun dapat dilihat secara langsung di lapangan. Kerusakan wilayah pesisir bukan hanya oleh penduduk wilayah pesisir saja, tetapi juga oleh penduduk sekitarnya.

Ancaman utama pada keanekaragaman hayati di wilayah pesisir adalah terjadinya kerusakan lingkungan dan kepunahan habitat. Oleh karena itu, cara yang paling baik untuk melindungi keanekaragaman hayati yaitu dengan cara melakukan konservasi.

PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

            Konservasi wilayah pesisir yang dimaksud adalah upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan dan kesinambungan sumberdaya pesisir dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman hayati (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2007: 3).

            Kata kunci dari konservasi wilayah pesisir mencakup pemanfaatan, perlindungan, pelestarian, serta terjaminnya ekosistem yang berkesinambungan. Hal tersebut dilakukan karena sumberdaya pesisir baik flora, fauna, dan ekosistem memiliki kegunaan dan nilai  ekologis, ekonomis dan sosial yang penting.

            Kualitas dan keanekaragaman hayati wilayah pesisir harus terus dikonservasi sehingga keanekaragaman hayatinya terus meningkat dan kondisi ekosistem dalam keadaan homeostatis. Sebaliknya, jika suatu ekosistem pesisir menunjukkan  keanekaan hayatinya mengalami penurunan harus diwaspadai sebagai tanda perlunya upaya untuk pemulihan kembali. Sebab jika tidak dilakukan konservasi bukan saja ekosistem pesisir yang rusak, tetapi juga nasib manusia  (masyarakat pesisir) yang terancam.

            Pada saat ini program/strategi konservasi wilayah pesisir menjadi agenda penting mengingat kerusakan sumberdaya pesisir akibat pencemaran yang berasal dari wilayah pesisir dan sekitarnya. Dari daerah sekitarnya berupa pencemaran limbah domestik, limbah industri, bahkan adanya erosi dari lahan pertanian yang topografinya curam. Sedangkan dari wilayah pesisir berupa pencemaran yang berasal dari pertanian, perikanan, serta kegiatan lainnya.

            Dampak pencemaran dan kerusakan lingkungan di wilayah pesisir dapat membahayakan kelestarian ekosistem pesisir. Ekosistem pesisir yang rusak dapat mengganggu kehidupan dan penghidupan manusia, spesies lain dan lingkungannya. Seperti dengan keanekaragaman hayati menurun menunjukkan terjadinya kepunahan spesies tertentu. Kepunahan spesies tertentu dapat mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir, karena akan menyebabkan spesies lain akan melimpah sehingga rantai makanan terganggu. Padahal dalam sistem rantai makanan sebelumnya  sudah demikian teratur.

2.      Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut:

  1. Tujuan Umum

Memperoleh gambaran pelaksanaan konservasi wilayah pesisir sesuai dengan tujuan  kelestarian ekosistem wilayah pesisir

  1. Tujuan Khusus

Agar masyarakat lebih memahami dan mengetahui seberapa penting kelestarian lingkungan di wilayah pesisir bagi kehidupan ekosistem pantai, laut dan masyarakat pesisir.

 

3.              Manfaat Penulisan

Adapun manfaat penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai bahan pemikiran pada masyarakat dalam upaya meningkatan kelestarian wilayah pesisir
  2. Untuk mengetahui apakah dengan konservasi dapat meningkatkan keanekaragaman hayati dan kondisi ekosistem dalam keadaan baik atau sebaliknya

 

4.      Metode penulisan

Dalam penulisan karya tulis ini untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan penulis menggunakan metode penulisan sebagai berikut. Studi Kepustakaanyaitu penulis membaca buku-buku, literatur, internet, dan sumber-sumber yang dapat  dipercaya berkaitan dengan penelitian ini.

TINJAUAN PUSTAKA

            Saat ini degradasi lingkungan wilayah pesisir sudah mengancam kehidupan dan penghidupan manusia serta ekosistemnya. Rusaknya ekosistem pesisir mengakibatkan nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung, nilai guna pilihan, serta nilai guna konsumtif  tidak berfungsi lagi. Otomatis fungsi lingkungan hidup dari wilayah pesisir pun terganggu. Oleh karena itu, untuk menjawab tantangan tersebut maka jawabanya adalah konservasi, karena konservasi dapat melindungi, melestarikan dan memanfaatkan ekosistem wilayah pesisir secara berkelanjutan.

Ancaman Kerusakan Wilayah Pesisir

Fenomena kerusakan wilayah pesisir dapat dipantau baik melalui media cetak dan elektronik maupun dapat dilihat secara langsung di lapangan. Kerusakan wilayah pesisir bukan hanya oleh penduduk wilayah pesisir saja, tetapi juga oleh penduduk sekitarnya. Penduduk pesisir  biasanya membuang limbah domestik  (sampah, hasil pengolahan ikan, dan kegiatan lainnya). Sedangkan penduduk sekitarnya tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi, termasuk dalam kegiatan pertanian sehingga menimbulkan erosi. Erosi dan limbah dari daerah sekitarnya akan masuk ke sungai dan mengalir ke wilayah pesisir. Oleh karena itu, wilayah pesisir sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan.

Wilayah pesisir tergolong sumberdaya milik bersama, harus tetap lestari dan berkelanjutan. Dengan telah terjadinya perubahan kondisi lingkungan berupa erosi dan pencemaran akan dapat mengancam keanekaragaman hayati dan sumberdaya alam. Menurut Hardin (1968: 162)  bahwa pemanfaatan sumberdaya milik bersama harus mempertimbangkan faktor internalitas lingkungan dan faktor ekstenalitas lingkungan. Yang dimaksud dengan internalitas lingkungan adalah mengambil peran (bertanggungjawab) untuk mengelola dampak lingkungan yang dapat merugikan keselamatan manusia dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan eksternalitas lingkungan adalah perilaku yang tidak bertanggungjawab atas kegiatan yang dilakukannya sehingga dapat merugikan manusia dan lingkungan sekitarnya.

             Sumberdaya yang ada di wilayah pesisir sebagai sumberdaya milik bersama memiliki  manfaat ekologis yakni (1) nilai guna langsung; (2) nilai guna tidak langsung; (3) nilai guna pilihan; dan (4) nilai guna nonkonsumtif  (Wiratno et. al, 2004:144). Nilai guna langsung, meliputi komoditas pangan yang dihasilkan kawasan, produk-produk hutan atau laut dan manfaat rekreasi. Nilai guna tidak langsung, meliputi manfaat-manfaat fungsional dari proses ekologis yang secara terus menerus memberikan perannya kepada masyarakat maupun ekosistem. Nilai guna pilihan, meliputi manfaat sumberdaya alam yang tersimpan atau dipertahankan bagi kepentingan masa depan, misalnya sumber daya hutan yang menyimpan plasma nutfah atau sumber genetik. Nilai guna nonkonsumtif, meliputi nilai keberadaan, yaitu nilai yang diberikan masyarakat kepada kawasan konservasi atas manfaat spiritual, estetika dan kultural; serta nilai warisan, yaitu nilai yang diberikan masyarakat yang hidup saat ini terhadap suatu sumber daya tertentu agar tetap utuh dan bisa dimanfaatkan oleh generasi mendatang.

            Oleh karena itu, apabila terjadi  kerusakan lingkungan yang parah, diduga sumberdaya milik bersama ini akan kehilangan nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung, nilai guna pilihan dan nilai guna nonkonsumtif seperti yang diuraikan sebelumnya. Terjadinya kerusakan lingkungan mengakibatkan habitat alami rusak.

Menurut Primack (1998: 59) bahwa di banyak wilayah kepulauan atau tempat-tempat yang banyak penduduknya, hampir semua habitat alami telah rusak, 47 negara dari 57 negara tropik di Afrika dan Asia telah kehilangan 50% atau lebih habitat hutan tropiknya. Bahkan di Asia, 65% habitat hutan tropiknya telah musnah.

            Berdasarkan uraian di atas, ancaman utama pada keanekaragaman hayati di wilayah pesisir adalah terjadinya kerusakan lingkungan dan kepunahan habitat. Oleh karena itu, cara yang paling baik untuk melindungi keanekaragaman hayati yaitu dengan cara melakukan konservasi.

Tipologi Wilayah Pesisir

            Kondisi fisik habitat wilayah pesisir banyak dipengaruhi oleh perubahan yang ada di daratan maupun lautan. Wilayah pesisir dalam Undang-undang No. 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut.

            Dahuri (2003: 26- 143) membagi wilayah pesisir secara garis besar ke dalam dua kelompok ekosistem, yakni ekosistem yang tidak tergenang air dan ekosistem yang tergenang air. Ekosistem yang tidak tergenang air mencakup (1) formasi pescaprae dan (2) formasi barringtonia.

1)      Ekosistem yang tidak tergenang air

(1)   Formasi Pescaprae dikenal dengan sebutan gosong pantai berpasir. Formasi ini didominasi tumbuhan pionir, terutama kangkung laut (Ipomoea pescaprae). Orang kebanyakan melihat tumbuhan ini terkadang dianggap mengganggu pemandangan di pantai, padahal tumbuhan ini berfungsi sebagai pelindung pantai. yang dapat menahan ombak.

(2)   Formasi barringtonia ditandai dengan komunitas rerumputan dan belukar yang ada di pantai berbatu tanpa pasir (gravvel). Formasi ini ditumbuhi cemara laut (Casuarina equisitifol) dan Callophyllum innophyllum.

2)      Ekosistem yang tergenang air

Ekosistem yang tergenang air meliputi (1) terumbu karang (2) padang lamun (3) hutan mangrove (4) estuaria dan (5) rumput laut. Berikut ini diuraikan sepintas tentang ekosistem pesisir yang tergenang air.

(1)   Terumbu karang

Terumbu karang berkembang baik hanya di daerah tropik. Terumbu  karang terbentuk dari endapan-endapan masif terutama kalsium karbonat yang dihasilkan oleh hewan karang (filum Scnedaria, kelas Anthozoa, ordo Madreporaria Scleractinia), alga berkapur dan organisme-organisme lain yang mengeluarkan kalsium karbonat (Nybakken, 1986: 25). Hewan karang termasuk kelas Anthozoa berarti hewan berbentuk bunga (Antho artinya bunga; zoa artinya hewan).

Ekosistem terumbu karang mempunyai produktivitas organik yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh kemampuan terumbu karang untuk menahan nutrien dalam sistem dan berperan sebagai kolam untuk menampung segala masukan dari luar. Nilai produksi bersih terumbu karang berkisar 300-5000 g C (Carbon) m2 per tahun, lebih tinggi dari ekosistem sekitarnya (Nybakken, 1986: 27)

Secara ekologis, terumbu karang dapat berfungsi melindungi komponen ekosistem pesisir lainnya dari gempuran gelombang dan badai. Terumbu karang termasuk ekosistem yang sangat rentan terhadap gangguan akibat kegiatan manusia. Apabila rusak, terumbu karang memerlukan pemulihan dengan kurun waktu yang cukup lama.

Adapun yang menjadi parameter ekosistem terumbu karang yaitu tingkat kejernihan air laut, temperatur, salinitas, sirkulasi arus dan sedimentasi. Faktor sedimentasi dapat menutupi permukaan terumbu karang, sehingga berdampak negatif terhadap hewan karang dan biota yang berasosiasi dengan habitatnya.

(2) Padang lamun

Padang lamun. Tumbuhan lamun (seagrasses) termasuk tumbuhan berbunga (Angiospemae) yang telah sepenuhnya beradaptasi hidup terbenam di dalam laut. Tumbuhan ini mempunyai sifat yang memungkinkan hidup yakni karena (1) mampu hidup pada media air asin; (2) mampu berfungsi normal dalam keadaan terbenam; (3)mempunyai sistem perakaran jangkar yang berkembang baik; (4) mampu melaksanakan penyerbukan dan daur generatif dalam keadaan terbenam. Tanaman lamun memiliki bunga dan buah yang kemudian berkembang menjadi benih.

Lamun tumbuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan pantai yang dasarnya berupa lumpur, pasir, kerikil, patahan karang mati dengan kedalaman sampai empat meter. Padang lamun dapat berbentuk vegetasi tunggal, tersusun atas  satu jenis lamun yang tumbuh membentuk padang lebat, sedangkan vegetasi campuran terdiri dari dua sampai 12 jenis lamun yang tumbuh bersama-sama pada satu substrat. Spesies lamun yang tumbuh dengan vegetasi tunggal adalah Thalassia henprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule uninervis, Cynmodocea serrulata, dan Thalassodendrom ciliatum. Pada substrat berlumpur di daerah mangrove ke arah laut, sering dijumpai padang lamun dari spesies tunggal yang berasosiasi tinggi (Dahuri, 2003: 39). Adapun yang menjadi parameter pertumbuhan ekosistem lamun mencakup tingkat kejernihan air laut, temperatur, salinitas, substrat dan  kecepatan arus perairan.

(3) Hutan mangrove

Hutan mangrove ada yang menyebut sebagai hutan pasang surut, hutan payau atau hutan bakau. Bakau sebenarnya menunjukkan kepada salah satu jenis tumbuhan yang menyusun hutan mangrove yaitu jenis Rhizophora spp. Pemberian istilah hutan bakau dinilai kurang tepat, namun sebutan yang tepat adalah hutan mangrove.

Hutan mangrove termasuk hutan tropika dan subtropika yang tumbuh di sepanjang pantai atau muara sungai serta dipengaruhi pasang surut air laut. Mangrove banyak tumbuh  pada wilayah pesisir yang dapat menahan ombak serta berada pada daerah yang landai. Pertumbuhan yang optimal dari mangrove spesies Rhyzophora spp terutama pada wilayah pesisir yang memiliki sungai besar dan delta yang aliran airnya banyak mengandung lumpur.

Pertumbuhan mangrove mengikuti pola zonasi. Pola zonasi berkaitan erat dengan faktor lingkungan seperti kondisi tanah (lumpur, pasir, gambut), keterbukaan terhadap hempasan gelombang, salinitas serta pengaruh pasang surut. Pembentukan zonasi dimulai dari arah laut menuju daratan, yang terdiri dari zona Avicennia dan Sonneratia yang berada paling depan serta berhadapan dengan laut. Zona dibelakangnya berturut-turut Rhizhopora, Bruguiera, dan Ceriops (Dahuri, 2003: 60).

Adapun yang menjadi parameter lingkungan utama dalam menentukan pertumbuhan mangrove antara lain suplai air tawar dan salinitas, pasokan nutrien, dan stabilitas substrat. Berdasarkan parameter tersebut, menunjukkan bahwa adanya sungai yang bermuara ke laut yang membawa air tawar yang diikuti dengan sejumlah nutrien merupakan faktor kunci pertumbuhan mangrove.

Ekosistem hutan mangrove secara ekologis memiliki fungsi sebagai tempat mencari makan, memijah, memelihara berbagai macam biota perairan (ikan, udang, dan kerang-kerangan). Hutan mangrove merupakan habitat berbagai jenis satwa, baik sebagai habitat pokok maupun habitat sementara, penghasil sejumlah detritus, dan perangkap sedimen. Dari segi ekonomi, vegetasi ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber penghasil kayu bangunan, bahan baku kertas, kayu bakar, arang, alat tangkap ikan dan sumber bahan lain, seperti tannin dan pewarna (Mukkhtasor, 2007: 36).

Hasil penelitian MacFarlane et. al. (2003: 139-151) menunjukkan bahwa akar mangrove spesies Avicennia marina atau sebutan masyarakat adalah api-api digunakan sebagai indikator biologis lingkungan yang tercemar logam berat terutama tembaga (Cu), timbal (Pb), dan seng (Zn) melalui monitoring secara berkala. Hal ini menunjukkan spesies Avicennia marina memiliki toleransi yang besar serta mengakumulasi berbagai jenis logam. Sementara spesies mangrove jenis lainnya kurang toleran terhadap logam berat. 

Apabila suatu daerah pesisir yang tercemar logam berat, seperti yang diuraikan di atas maka hanya mangrove spesies Avicennia marina saja yang dapat bertahan. Artinya spesies mangrove lainnya tidak dapat bertahan karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan.

(4) Estuaria 

Estuaria adalah wilayah sungai yang ada di bagian hilir dan bermuara ke laut,  sehingga memungkinkan terjadinya pencampuran antara air tawar dan air laut. Estuaria didominasi oleh substrat lumpur yang berasal dari endapan yang dibawa oleh air tawar sehingga bersatu dengan air laut. Partikel yang mengendap kebanyakan bersifat organik, substrat dasar estuaria kaya akan bahan organik. Bahan organik tersebut sebagai cadangan makanan utama,  bagi pertumbuhan mangrove dan organisme lainnya. Komponen fauna estuaria dihuni oleh biota air laut dan air tawar. Komponen fauna estuaria didominasi hewan stenohaline dan hewan eurihaline. Hewan stenohaline adalah hewan yang terbatas kemampuannya dalam mentolerir perubahan salinitas sampai 30 permil. Sedangkan hewan eurihaline adalah hewan khas laut yang mampu mentolerir penurunan salinitas hingga di bawah 30 permil.

Parameter lingkungan utama ekosistem estuaria antara lain sirkulasi air, partikel tersuspensi dan kandungan polutan. Dengan demikian ekosistem estuaria ini sangat sensitif terhadap perubahan sirkulasi air, tersuspensinya partikel dan polutan.

(5) Rumput laut

Rumput laut (seaweed) dapat hidup pada perairan yang cukup cahaya. Nutrien yang diperlukan oleh rumput laut diperoleh langsung dari air laut. Nutrien tersebut dihantarkan melalui upwelling, turbulensi dan masukan dari daratan.

Rumput laut memiliki produktivitas  yang cukup besar, dan hewan pemangsa langsung rumput laut relatif sedikit. Diperkirakan produksi bersih rumput laut yang memasuki jaring makanan melalui pemangsaan hanya 10 %, sisanya 90 % masuk melalui rantai bentuk detritus atau bahan organik terlarut (Nybakken, 1986: 61).

Berdasarkan uraian di atas tentang ekosistem pesisir yang tidak tergenang air dan yang tidak tergenang air menunjukkan bahwa ekosistem tersebut memiliki nilai yang sangat penting bagi manusia dan lingkungannya. Terpeliharanya ekosistem pesisir dapat memberikan manfaat bukan hanya untuk saat ini saja, tetapi untuk masa yang akan datang. Ekosistem pesisir memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan terutama dalam bidang jasa-jasa lingkungan. Jasa-jasa lingkungan tersebut anatar lain kegiatan parisiwata, pendidikan dan penelitian wilayah pesisir.

Konservasi Wilayah Pesisir yang Berkelanjutan

            Konservasi wilayah pesisir di sini mengacu pada konsep pembangunan berkelanjutan. Pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini dan kebutuhan generasi mendatang. Pembangunan yang berkelanjutan dilaksanakan tanpa mengurangi fungsi lingkungan hidup. Lingkup pembangunan berkelanjutan meliputi aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial yang diterapkan secara seimbang serasi selaras dengan alam. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 32 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 1 ayat 3, bahwa pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial dan ekonomi.

            Purba ed. (2002: 18-20) mengemukakan lima prinsip utama pembangunan berkelanjutan yakni dengan menggunakan prinsip (1) keadilan antar generasi; (2) keadilan dalam satu generasi; (3) pencegahan dini; (4) perlindungan keanekaragaman hayati; dan (5) internalisasi biaya lingkungan dan mekanisme insentif.

            Kelima prinsip di atas, mengandung arti bahwa pembangunan harus memberikan jaminan supaya serasi, selaras dan seimbang dengan daya dukung lingkungan. Oleh karena itu, daya dukung lingkungan yang ada di wilayah pesisir seharusnya tetap terpelihara dan terjaga baik sehingga dapat dimanfaatkan secara terprogram secara lestari bagi kesejahteraan generasi mendatang.

           Kerusakan lingkungan telah terjadi di wilayah pesisir yang diakibatkan oleh perilaku manusia di wilayah pesisir dan di daerah sekitarnya. Kerusakan lingkungan tersebut dapat  mengancam fungsi lingkungan hidup wilayah pesisir. Fungsi lingkungan hidup akan mengancam kelestarian tipologi ekosistem pesisir, yang meliputi ekosistem yang tidak tergenang air dan ekosistem yang  tergenang air. Konservasi wilayah pesisir sebagaimana telah diuraikan sebelumnya adalah  upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan dan kesinambungan sumberdaya pesisir dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman hayati (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2007: 3).

            Dalam konservasi ada aspek yang tidak boleh diabaikan yaitu kondisi lingkungan, ekonomi, dan sosial. Lingkungan yang dimaksud mencakup tumbuhan dan hewan harus sesuai dengan habitatnya sehingga dapat tumbuh optimal. Ekonomi yang dimaksud bahwa untuk melakukan konservasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Konservasi harus memperhitungkan faktor biaya penanaman, biaya perawatan, dan biaya pengamanan. Faktor sosial yang dimaksud adalah bahwa dalam konservasi selayaknya melibatkan masyarakat. Karena dengan melibatkan masyarakat, tumbuhan dipelihara, dijaga dan dirawat sesuai dengan kearifan budayanya.

Manfaat konservasi wilayah pesisir yaitu manfaat biogeografi, keaneka-ragaman hayati, perlindungan terhadap spesies endemik dan spesies langka, perlindungan terhadap spesies yang rentan dalam masa pertumbuhan, pengurangan mortalitas, perlindungan pemijahan, manfaat penelitian, ekoturism, dan peningkatan produktivitas perairan (Fauzi dan Anna (2005: 73). Manfaat konservasi tersebut, mencakup manfaat langsung maupun tidak langsung. Manfaat konservasi wilayah pesisir tidak hanya bersifat terukur (tangible), tetapi ada juga yang tidak terukur (intangible). Manfaat yang terukur mencakup manfaat kegunaan baik untuk dikonsumsi maupun tidak. Sedangkan manfaat tidak terukur lebih tertuju pada manfaat pemeliharaan ekosistem dalam jangka panjang.

            Kegiatan pemanfaatan, perlindungan dan pelestarian di wilayah pesisir, selayaknya dengan menggunakan pendekatan secara bottom up. Pendekatan ini, sudah mengakomodir kebutuhan masyarakat yang ada di lapangan. Dengan kata lain pendekatan ini sudah sesuai dengan program yang sudah disusun komunitas (masyarakat pesisir).

Strategi Konservasi Wilayah Pesisir yang Berkelanjutan

            Untuk melaksanakan konservasi wilayah pesisir yang berkelanjutan, diajukan beberapa strategi sebagai berikut.

1)      Strategi  pemanfaatan secara lestari  dengan cara:

(a)    Merumuskan kebijakan pemanfaatan wilayah pesisir yang berkelanjutan:

(1)   Membuat aturan atau ketentuan dalam pemanfaatan wilayah pesisir.

(2)   Menerapkan kearifan lokal masyarakat adat dalam pemanfaatannya.

(3)   Memberikan insentif dan disinsentif dalam pemanfaatan.

(b)   Membuat mekanisme kordinasi antara perencanaan dan pemanfaatan wilayah pesisir:

(1)   Membuat analisis situasi wilayah pesisir.

(2)   Membuat perencanaan program pemanfaatan   

(3)   Membuat rencana pemanfaatan wilayah pesisir.

(4)   Monitoring dan evaluasi kesesuaian antara perencanaan dan pemanfaatan.

(c)    Mengembangkan kemitraan dalam pemanfaatan pesisir:

2)      Strategi perlindungan dengan cara:

(a)    Menetapkan wilayah pesisir yang membutuhkan perlindungan mendesak (urgen):

(1)   Identifikasi tipologi wilayah pesisir yang telah mengalami kerusakan;

(2)   Merumuskan langkah-langkah berkelanjutan dalam melindungi wilayah pesisir.

(b)   Menetapkan zonasi perlindungan wilayah pesisir

(1)   Memetakan wilayah pesisir yang membutuhkan perlindungan;

(2)   Menetapkan  spesies tumbuhan dan hewan yang dilindungi

3)      Strategi pelestarian yang diajukan:

(a)    Menerapkan kebijakan insentif dan disinsentif dalam pelestarian.

(b)   Membangun sarana dan prasarana pelestarian in situ untuk melestarikan keanekaragan hayati wilayah pesisir.

(c)    Meningkatkan apresiasi dan kesadaran nilai dan kebermaknaan keanekaragaman hayati wilayah pesisir:

(1)   Membangun kesadaran masyarakat  tentang nilai keanekaragaman hayati dalam budaya kontemporer

(2)   Menggunakan sistem pendidikan formal di dalam kelas

(3)   Menggunakan kegiatan-kegiatan di luar sekolah

             Berdasarkan uraian di atas, konservasi wilayah pesisir yang berkelanjutan dapat dilaksanakan dengan menggunakan stategi yang tepat. Strategi pemanfaatan yang lestari antara lain merumuskan kebijakan konservasi wilayah pesisir yang berkelanjutan, membuat mekanisme kordinasi antara perencanaan dan pemanfaatan wilayah pesisir dan mengembangkan kemitraan dalam pemanfaatan pesisir; Strategi perlindungan, meliputi menetapkan wilayah pesisir yang membutuhkan perlindungan mendesak (urgen), dan menetapkan zonasi perlindungan; serta Strategi pelestarian antara lain  menerapkan kebijakan insentif dan disinsentif dalam pelestarian, membangun sarana dan prasarana pelestarian in situ untuk melestarikan keanekaragaman hayati wilayah pesisir dan meningkatkan apresiasi dan kesadaran nilai dan kebermaknaan keanekaragaman hayati wilayah pesisir.

            Untuk melaksanakan strategi konservasi wilayah pesisir yang berkelanjutan, harus didukung komitmen dari stakeholder (pihak-pihak yang terkait) wilayah pesisir diiringi dengan penerapan etika lingkungan berdasarkan prinsip ekosentrisme. Sebagaimana yang diungkapkan Keraf (2010: 93) bahwa prinsip ekosentrisme lebih memfokuskan kepada komunitas ekologis secara holistik. Termasuk didalamnya pengembangan prinsip moral untuk kepentingan seluruh komunitas ekologis.    Oleh karena itu, keberhasilan dalam menerapkan strategi konservasi wilayah pesisir perlu didukung  penerapan cara pandang, nilai dan perilaku hidup berdasarkan prinsip ekosentrisme. Dengan demikian, gaya hidup yang kita lakukan semestinya selaras, serasi dengan alam, sehingga kesadaran pentingnya ramah lingkungan harus terus dikumandangkan diberbagai kesempatan, kegiatan dan secara merata di berbagai pelosok wilayah.

 

KESIMPULAN

Konservasi wilayah pesisir mencakup pemanfaatan, perlindungan, pelestarian, serta terjaminnya ekosistem yang berkesinambungan.  Konservasi wilayah pesisir di sini mengacu pada konsep pembangunan berkelanjutan. Pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini dan kebutuhan generasi mendatang.

Untuk melaksanakan strategi konservasi wilayah pesisir yang berkelanjutan, harus didukung komitmen dari stakeholder (pihak-pihak yang terkait) wilayah pesisir diiringi dengan penerapan etika lingkungan berdasarkan prinsip ekosentrisme.

UCAPAN TERIMAKASIH

 

            Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan Karya Ilmiah  ini dapat diselesaikan dengan baik. Dalam proses penulisan karya ilmiah ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1.    Rekan-rekan Pegawai di Bidang Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu, yang selalu mensuport kuliah ini dan yang senantiasa membantu dikala saya meninggalkan tugas.

2.    Rekan-rekan Kulia di PSDAL yang membantu saya dalam menyelesaikan tesis ini

3.     Ucapan tulus buat suami dan anak-anak tersayang  yang telah memberikan semangat dan dorongan hingga terselesainya karya ilmiah ini.

 

            Semoga Allah SWT memberikan pahala yang berlipat ganda atas segala kebaikan yang telah diberikan kepada saya dan semoga penulisan karya ilmiah ini bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang berkepentingan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Cincin-Sain B., and Robert W.B. 1998. Integrated Coastal and Ocean  Management. Concepts and Practices.  Island Press Washington, DC. Covello,California

Dahuri, R., 2000.  Analisis Kebijakan dan Program Penglolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.  Makalah disampaikan pada Pelatihan Menajemen Wilayah Pesisir.  Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB.  Bogor.

Dahuri, H.R., J. Rais, S.P. Ginting dan H.J. Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT. Prandya Paramita, Jakarta.

Dahuri, (2003 : 26-143)

Departemen Kelautan dan Perikanan, 2007. Program pengembangan Wilayah Pesisir di Indonesia, 2007. Jakarta.

Dinas Kelautan dan Perikanan, 2012. Statistik Perikanan Tangkap, 2012. Bengkulu.

Hermawan, M.2006.Keberlanjutan Perikanan Tangkap Skala Kecil (Kasus Perikanan Pantai di Serang dan Tegal. Disertai S3 Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor.

Fauzi,A. Dan S. Anna.2002.Evaluasi Status Keberlanjutan Pembangunan Perikanan : Aplikasi Pendekatan Rapfish (Studi Kasus Perairan DKI Jakarta). Jurnal Pesisir dan Lautan Vol.4 (3).pp: 43-55.

Fauzi dan Anna, 2005.

Hartrisari, H.H. 2002. Panduan Lokakarya Analisis Prospektif. Fakultas Teknologi Pertanian. Jurusan Teknik dan Teknologi Industri. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Munasinghe, M. 1993.  Environmental Economic and Sustainable Development.  The International Bank for Reconstruction and Development/THE WORD BANK. Washintong D.C. 20433. U.S.A.

Purba ed, 2002 : 18-20)

Rangkuti, F.1999. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta.

Supriharyono. 2000.  Pelestarian Dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis.

Wiratno et al, 2004 :144

 

 

 

 

Advertisements
 

13 Responses to “KONSERVASI WILAYAH PESISIR”

  1. maharessi Says:

    Reblogged this on ressiindo and commented:
    masalah lingkungan hidup adalah masalah bersama… Ayo jaga Lestari Pertiwi #maharessi

  2. […] Konservasi wilayah pesisir | jurnal lingkungan hidup […]

  3. BURSAMIN Says:

    BURSAMIN

    PSDAL – BENGKULU UNIVERSITY FORCES TO 18

    DISAGREE
    Conservation is a form of preservation. While the stakeholders have not done evenly and the system implemented is not yet right. Concerned with the conservation of coastal areas, the region is an area where tourism assets stakeholders should have the responsibility to empower the conservation of nature and the environment, not the other way profited unilateral destitute as a result society is limited by the lack of proper conditions. This needs to be further studied.

  4. monica sari sianturi Says:

    Benar sekali bahwa untuk menjaga atau melindungi wilayah sekitar pesisir itu adalah tugas kita bersama.
    Yang saya lihat sejauh ini masyarakat pesisir belum terlalu menjaga kelestarian ekosistem untuk itu perlu adanya penggalakan atau sosialisasi dari pihak pemerintah yang terkait dalam hal ini kepada masyarakat yang disekitar wilayah pesisir supaya keanekaragaman hayati dapat terjaga dengan baik.

    Sekian dan terimakasih.

  5. kerusakan wilayah pesisir tidak hanya berdampak pada kesejahteraan manusia, tapi juga keanekaragaman makhluk hidup di dalamnya,mari kita jaga kelesatarian hutan di wilayah pesisir

  6. Yahumri PSDAL Angkatan XVIII Says:

    Sepakat, perlu tindakan cepat dan akurat dalam penanganan konservasi wilayah pesisir akibat dari dampak climate change, global warming dan pencemaran lingkungan…

  7. Alexander Taufan PSDAL 18 Says:

    Tulisan yang menarik, dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami.

    mengenai konten, KONSERVASI, yang secara harafiah dari kata bahasa Inggris “CONSERVATION” berarti Melindungi dan melestarikan. Mengingat pentingnya Ekosistem wilayah pesisir bagi kehidupan manusia, maka sepantasnyalah kita tidak hanya memanfaatkan Sumber Daya Alam dan lingkungan, tetapi juga harus melindungi dan melestarikannya, agar tetap berkelanjutan (sustainable).

    regard, sir

    (ALEXANDER PSDAL angkatan 18)

  8. Assalammualaikum wr wb…..

    Setelah dikaji sebenarnya banyak kritik yang muncul terhadap keseriusan pemerintah selama ini dalam mengelola kawasan konservasi. Hal ini disebabkan karena berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang ada justru memberi legitimasi eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran, sementara upaya perlindungan dan konservasi bukanlah merupakan prioritas yang setara. Oleh karenanya ada kesan bahwa kebijakan dan peraturan yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan konservasi seolah aturan pelengkap, dan bukan memainkan peran sebagaimana misi sebenarnya.

    Wassalam…..!!

  9. KOMENTAR KE 2 :

    ” sebenarnya Bahwa Pengelolaan Pesisir Terpadu (PPT) kawasan pesisir dan laut tidak dapat dilaksanakan hanya oleh pemerintah tetapi memerlukan peran serta masyarakat dan pihak lain yang memanfaatkan sumberdayanya. agar bekerjasama satu sama lain demi satu tujuan yang sama”

    Wassalam…..!!!

  10. LITMAN PSDAL 18 Says:

    Konservasi wilayah pesisir menjadi tanggungjawab bersama,. Harus bersinerginya semua stakholder yang terlibat dalam konservasi tersebut.

  11. ” Benar Sekali ” perlu dukungan kita semua dan stake holder terkait. Artikel ini sudah mewakili apa yang harus kita lakukan. Mari kita sama-sama support dan segera beraksi. Tanpa aksi yang nyata program dan rencana yang ada tidak akan terlaksana.

  12. yeni herlina PSDAL18 Says:

    sementara program pelestarian alam terus digencarkan,tetapi dibalik itu bangunan-bangunan terus bertambah di daerah pesisir yang tentunya akan berdampak lingkungan alam dipesisir itu sendiri.

  13. ikhwan efendy Says:

    Perlunya dukungan segala sektor untuk menciptakan ekosistem wilayah pesisir berkelanjutan…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s